Hasil pencarian
9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika PNI Terbelah
KISRUH Partai Demokrat terus berlanjut. Setelah isu kudeta mencuat, kini Partai Demokrat bergumul dalam dualisme kepemimpinan. Agus Harimurti Yudhoyono masih tercatat sebagai ketua umum yang resmi. Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko terpilih sebagai ketua umum versi Kongres Luar Biasa yang diusung kader pecatan. Masing-masing kubu saling klaim sebagai pemegang mandat partai yang sah. Prahara yang dialami oleh Partai Demokrat pernah sejatinya melanda Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai berlambang banteng ini sempat menjadi simbol ideologi nasionalis setelah memenangkan pemilihan umum 1955. Namun pada awal 1960, PNI mulai goyah karena adanya konflik di tubuh partai. Pada 4 Agustus 1965, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PNI memecat beberapa anggota dewan pimpinan. Diantaranya ialah Osa Maliki, Sabilal Rasjad, Mh. Isnaeini, Karim Moh. Durjat, Hardi, Hadisubeno Sosrowedjojo, Umar Said, Sugeng Tirtosiswojo, dan Sutrisno. Mereka dipecat lantaran menentang “Deklarasi Marhaenis” yang menyisipkan unsur Marxisme dalam garis perjuangan PNI. Tudingan “Marhenis Gadungan” pun dilekatkan pada kelompok ini. “Keputusan pemecatan tersebut tidak ditaati (ditolak) oleh yang bersangkutan dan mereka menyatakan tidak ada manfaatnya rapat pleno DPP tanggal 4 Agustus itu,” kata Soenario, tokoh pendiri PNI dalam Banteng Segitiga . Sudah goyah, PNI makin goncang karena peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. PNI yang dipimpin Ali Sastroamidjojo dan Sekjen Surachmat menyatakan berdiri di belakang Presiden Sukarno dan politik Nasakom. Sementara itu, kader PNI yang dipecat pada 6 Oktober 1965 mendeklarasikan pembentukan DPP PNI baru dibawah kepemimpinan Osa Maliki dan Usep Ranuwidjaja sebagai sekjen. Dengan demikian, PNI terbagi dua faksi. PNI Ali-Surachman yang berstatus legal kemudian diplesetkan kelompok penandingnya menjadi PNI ASU. Di pihak lain, kubu tandingan yang lebih dikenal sebagai PNI Osa-Usep berstatus “riil murni”. Pertentangan keduanya sempat menyebabkan bentrokan di tingkat akar rumput. Paulus Widyanto mencatat, pendukung Ali-Surachman menyerang markas besar kelompok Osa-Usep di Jalan Sawah Lunto. Mereka melempari rumah tersebut dengan batu sehingga genting dan kaca jendela pecah. Perang pamflet antara kedua kelompok ini juga berkembang gencar. “Karena GMNI Osa-Usep ikut serta dalam aktivitas KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) maka eksistensinya diterima oleh barisan dan unsur-unsur lain dalam Orde Baru,” kata Paulus dalam “Osa Maliki dan Tragedi PNI” dimuat Prisma Edisi Khusus 20 Tahun, 1971-1991. Akibatnya, PNI Ali-Sartono jatuh sedangkan DPP PNI Osa-Usep naik pamornya. Pada April 1966, PNI menyelenggarakan Kongres Pemersatuan di Bandung. Waperdam urusan Keamanan dan Pertahanan merangkap Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto turut hadir. Soeharto memberikan wejangan agar PNI menghindari segala bentuk penyelewengan. Perhelatan itu akhirnya memenangkan kubu Osa-Usep dalam kepengurusan PNI yang didukung oleh militer dan KAMI Bandung. Menurut Manai Sophiaan dalam Kehormatan Bagi yang Berhak , Kongres Pemersatuan tersebut dipenuhi intrik dan ancaman dengan melibatkan unsur luar partai. Hal ini sekaligus mengingkari komitmen PNI terhadap Bung Karno sebagai pendiri PNI dan Bapak Marhaenisme. Namun, seperti diungkap Paulus Widiyanto, tugas Osa Maliki memimpin PNI cukup berat. Selain kesulitan dari kalangan internal yang tidak puas dengan hasil Kongres Bandung, tantangan juga datang dari pihak penguasa militer yang menginginkan PNI tampil secara tegar dalam barisan Orde Baru. Pada 11 Desember 1967, DPP PNI yang diwakili Hardi, Mh. Isnaeni, dan Gde Jaksa menghadap Soeharto. Mereka meminta Soeharto agar membantu PNI mempercepat proses konsolidasi dan kristalisasi partai. Soeharto memberikan jawaban mengambang. Dia mengatakan bahwa sikapnya terhadap PNI tergantung pada sikap Angkatan Darat. Selang tiga hari kemudian, pimpinan PNI menyambangi pejabat Panglima Angkatan Darat Letjen Maraden Panggabean. Mereka menanyakan sikap Angkatan Darat terhadap PNI. Jika PNI memang tidak diperlukan, maka partai ini segera dibubarkan. Panggabean menyatakan bahwa Angkatan Darat bersedia membantu PNI melakukan konsolidasi dan kristalisasi. Puncak kompromi ini mewujud dalam Pernyataan Kebulatan Tekad PNI pada 21 Desember 1967. Pernyataan itu, menurut Nazaruddin Sjamsuddin dalam PNI dan Kepolitikannya, 1963—1969 , menegaskan bahwa PNI tidak menghendaki lagi kepemimpinan politik Sukarno. Gelar Bapak Marhaenisme yang melekat pada Sukarno ditiadakan. PNI tidak lagi terikat dengan ajaran dan pemikiran politik Sukarno, khususnya terkait Nasakom. Sejak itu pula, kata Manai Sophiaan, PNI mencatat bagaimana massanya berbondong-bondong meninggalkan partainya. Dalam pemilihan umum 1971, partai yang bertanda gambar banteng dalam segitiga ini hanya kebagian 8 persen suara. Dari partai pemenang, PNI kemudian tenggelam dalam kebijakan fusi partai selama Orde Baru.*
- Kegagalan Cinta dalam Kisah Zaman Kuno
Cerita bermula ketika Panji Kudawaningpati, putra mahkota Kerajaan Jenggala, mengunjungi kepatihan. Ia jatuh cinta pada putri Patih Kudanawarsa. Panji pun menikahi Dewi Angreni, putri sang patih. Padahal, Panji sudah bertunangan dengan Sekartaji, putri Kerajaan Kediri. Panji tak mau menikah dengan perempuan lain karena sudah memperistri Angreni. Karenanya Raja Jenggala menyuruh Brajanata untuk membunuh Angreni agar perkawinan Panji dan Sekartaji dapat terlaksana. Panji sedih dan memutuskan berkelana. Panji mengubah namanya menjadi Klana Jayengsari. Dalam pengembaraan, dia melakukan berbagai penaklukkan. Dia mencari kematian lewat pertempuran agar bisa segera berkumpul dengan Angreni. Pada akhirnya Panji menikah dengan Sekartaji. Hyang Narada memberi tahu Panji bahwa Angreni dan Sekartaji merupakan satu jiwa. Kisah itu tersua dalam naskah Panji Angreni , salah satu versi dalam korpus cerita Panji. Versi cerita Panji yang lain misalnya Panji Jayalengkara , Panji Priyembada , Panji Dewakusuma , Panji Jayakesuma , Panji Angronakung , Panji Murdasmara , dan Panji Suryawisesa. Karsono H. Saputra dalam tesisnya di Universitas Indonesia berjudul “Aspek Kesastraan Serat Panji Angreni” menjelaskan, dalam perkembangannya, kisah Panji Angreni muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, versi teks terbitan Balai Pustaka pada 1936 berjudul Panji Gandroeng Angreni . Sedangkan versi lakon seni pertunjukan seperti Langen Beksa Panji Angreni karya Sal Murgiyanto pada 1973 untuk memperoleh gelar sarjana seni tari di Akademi Seni Tari Yogyakarta. “Pemunculan dengan berbagai bentuk menunjukkan bahwa teks Panji Angreni merupakan salah satu cerita yang digemari masyarakat Jawa,” tulis Karsono, pengajar program studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Selama mengembara, Panji memperistri putri-putri dari negeri-negeri taklukan. Menurut Karsono, biar punya banyak istri, Panji merupakan laki-laki yang setia. Petualangannya itu demi mencari kekasihnya, Angreni, yang menurut Batara Narada kelak akan menitis pada Angrenaswara, adik Raja Nusakancana. “Poligami lebih untuk menunjukkan sosok Panji sebagai lelanang ing jagad seperti Arjuna,” tulis Karsono. Panji memperlakukan istimewa putri-putri yang punya kemiripan dengan Angreni. Misalnya, Andayaprana, putri Bali, yang giginya sama dengan Angreni, Candrasari mirip bentuk matanya, dan Nawangwulan mirip rambutnya. “Bahkan perkawinannya dengan Sekartaji dan Angrenaswara berlangsung karena Panji Kudawaningpati (Jayengsari) tahu bahwa Sekartaji adalah juga Angreni dan Angrenaswara merupakan jelmaan Angreni,” tulis Karsono. Meski disebutkan berakhir bahagia, cerita cinta Panji dengan Angreni yang terhalang oleh kemauan ayahnya terpaksa harus menumbalkan Angreni. Selain Panji Angreni , masih banyak kisah cinta pada era Jawa Kuno yang tak berjalan mulus. Di antara sebabnya adalah keberadaan pihak ketiga. Rara Mendut dan Pranacitra Kisah Rara Mendut dan Pranacitra dalam Serat Pranacitra mengambil latar di Jawa pada masa Sultan Agung dari abad ke-17. Kisah ini digubah dalam bentuk tembang oleh Raden Ngabehi Ronggosutrasno, pujangga keraton masa Paku Buwono V, kira-kira menjelang abad ke-18. “Kisah Rara Mendut ini sangat populer,” kata Titi Surti Nastiti, arkeolog Pusat Arkeologi Nasional, dalam diskusi “Romansa dalam Peradaban Nusantara” yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional secara daring.eradaban Nusantara” yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional secara daring. Serat Pranacitra menceritakan kisah cinta Rara Mendut dan Pranacitra yang ditentang Tumenggung Wiraguna. Rara Mendut menolak menjadi selir Wiraguna. Ia melanjutkan hubungan dengan Pranacitra secara sembunyi-sembunyi. Ketika terkuak, mereka melarikan diri, dan ditangkap oleh orang suruhan Wiraguna. Wiraguna yang kesal membunuh Pranacitra. Rara Mendut dengan cepat mengambil keris Wiraguna lalu menghunuskan ke perutnya. Ia menyusul kekasihnya ke alam baka. Jayaprana dan Layonsari Kisah cinta Jayaprana dan Layonsari mengambil latar di Kalianget, Bali. Naskah tertuanya ditulis pada 1732. Alkisah, sebuah keluarga tinggal di Desa Kalianget. Dalam keluarga itu terdapat tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Suatu ketika, Desa Kalianget diserang wabah mematikan. Empat dari lima anggota keluarga itu meninggal karena wabah. Tinggal anak laki-laki bernama Jayaprana. Jayaprana kemudian menjadi abdi di istana. Raja menyukainya karena baik, sopan, dan rajin bekerja. Raja menganggapnya seperti anak sendiri. Ketika beranjak dewasa, Jayaprana diminta oleh raja untuk mencari istri. Ia sempat menolak tapi raja mendesak. Suatu hari, ketika berjalan-jalan di pasar dekat istana, Jayaprana terpukau oleh gadis penjual bunga anak Jero Bendesa. Nama gadis itu Layonsari. Jayaprana membawa surat dari raja ke rumah Jero Bendesa. Usai membaca surat dari raja, sang jero tak keberatan putrinya menikah dengan Jayaprana. Jayaprana dan Layonsari menikah. Namun, raja jatuh hati pada menantunya itu. Ia menyusun siasat untuk melenyapkan Jayaprana dan merebut istrinya. Raja memerintahkan Jayaprana pergi ke Teluk Terima untuk menyelidiki perahu yang hancur dan memberantas bajak laut. Di perjalanan, seorang prajurit, Sawunggaling menyerang Jayaprana. Namun, ia kalah karena ilmunya tak sebanding. Jayaprana bertanya kepada Sawunggaling mengapa menyerangnya. Ia menunjukkan surat dari raja. Jayaprana pun tahu bahwa raja berusaha menyingkirkannya karena jatuh cinta pada istrinya. Jayaprana merelakan nyawanya kepada Sawunggaling sebagai wujud kesetiaan pada raja yang telah merawatnya sejak kecil. Raja menyampaikan berita kematian Jayaprana kepada Layonsari. Ia sedih sekaligus marah lalu menghunuskan keris ke dadanya. Ia mati menyusul suaminya. Makam Jayaprana dan Layonsari diyakini terletak di Puncak Luhur Sari, Desa Sumber Klampok, Gerokgak, Buleleng, Bali. “Mungkin di-dharmakan ya, mereka tidak memakamkan,” ujar Titi. “Cerita Jayaprana dan Layonsari masih sering dipentaskan di Bali dalam bentuk dramatari.” Meski punya latar berbeda, kata Titi, cerita Rara Mendut dan Layonsari hampir sama. Bercerita tentang gadis yang sudah mempunyai kekasih, tetapi tak bisa bersatu karena gadis itu disukai penguasa wilayahnya. Penguasa itu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. “Romansa pada masa lalu tak selalu happy ending ,” kata Titi. “Pasalnya dua cerita terakhir berakhir dengan tragis.”
- Ragam Mata Uang Asing di Nusantara
Pada masa kurun niaga, para pedagang datang ke Nusantara membawa mata uang masing-masing untuk membeli rempah-rempah.
- Mumi-mumi Tertua yang Terjadi Secara Alami
Memumikan jenazah tersebar di dunia kuno. Praktik ini untuk menghormati orang mati dan mengekspresikan keyakinan agama tentang adanya akhirat. Tujuan mumifikasi untuk mengawetkan jenazah dengan mengeringkannya atau membubuhkan balsem pada sekujur tubuhnya. Bahan yang digunakan adalah bahan pengawet alami, seperti resin untuk mengeringkan daging dan organ. Mumifikasi paling terkenal dilakukan bangsa Mesir Kuno. Namun, peradaban di Lembah Sungai Nil itu bukanlah yang pertama kali memulai tradisi ini. Mumifikasi bisa juga terjadi secara alami karena paparan suhu dingin ekstrem, kondisi sangat kering, atau faktor lingkungan lain yang menghambat pembusukan. Mumi Spirit Cave Mumi tertua yang diketahui ditemukan di Amerika Utara. Ia tersembunyi di dalam gua Spirit Cave, terletak 21 km ke timur Fallon, Nevada, Amerika Serikat. Mumi Spirit Caveditemukan pada 1940 di kuburan dangkal. Ia contoh mumifikasi alami. Jasadnya terawetkan oleh udara kering dan udara yang dijernihkan di dalam gua. Dijelaskan Ancient Origins , mumi itu seorang lelaki berusia sekira 40 tahun ketika meninggal. Ia mengenakan sepatu mokasin. Tubuhnya dibungkus selimut kulit kelinci dan ditutupi tikar alang-alang. Awalnya, mumi itu diyakini berusia antara 1.500 dan 2.000 tahun. Penanggalan karbon pada 1990-an menunjukkan mumi itu dimakamkan sekira 10.600 tahun yang lalu. History melansir bahwa melalui analisis DNA yang dilakukan peneliti gabungan University of Cambridge dan University of Copenhagen dapat diketahui mumi Spirit Cave merupakan leluhur suku asli Amerika modern di Nevada, yakni Suku Fallon Paiute-Shoshone. Sisa kerangkanya dikembalikan ke suku asalnya pada 2016. Ia dikuburkan kembali dalam upacara pada 2018. Mumi Spirit Cave. (Wikipedia). Mumi Chinchorro Mumi tertua berikutnya berasal dari budaya Chinchorro di Amerika Selatan, di daerah Peru selatan dan Chili utara. Chinchorro merupakan budaya paling awal yang tercatat dengan sengaja membuat mumi. Mumifikasi di Peru Kuno adalah cara untuk menghormati, mengingat, dan tetap terhubung dengan orang mati. Seperti dijelaskan Livescience , prosesnyacukup rumit. Mereka mengangkat kulit dan organ orang mati, mengikis daging dari tulang, lalu memperkuat kerangka dengan alang-alang dan tanah liat. Mereka kemudian menempelkan kembali kulitnya, mengecat jenazah dengan warnah hitam atau merah, serta memasang wig dan masker tanah liat di kepalanya. Arthur C. Aufderheide dalam “Seven Chinchorro mummies and the prehistory of Northern Chile” yang terbit dalam American Journal of Physical Anthropology , menyebutkan bahwa mumifikasi Chinchorro bertahan lebih dari 4.000 tahun. Kerumitannya berkurang seiring waktu dan secara bertahap menghilang setelah 2.000 SM. “Mumifikasi buatan yang dikembangkan 3.000 tahun lebih awal dari teknik mumifikasi di Mesir. Tradisi ini berlangsung 4.000 tahun,” tulis Nuria Sanz dalam The Chinchorro Culture: a Comparative Perspective. The Archaeology of the Eearliest Human Mummifiction. Salah satu dari tujuh orang yang terawetkan secara alami adalah mumi tertua yang dilaporkan hingga saat ini. Usianya sekira 9.000 tahun atau kira-kira 6.979 SM. Mumi Gebelein, Mesir Hingga akhir periode pradinastik, orang Mesir menguburkan jenazah dengan menempatkannyadi kuburan dangkal, bersentuhan langsung dengan pasir, dan tertutup gundukan tanah. Pasir kering berfungsi sebagai pengawet. Ada s ejumlah k uburan dari periode awal ini yang jenazah nya masih dalam kondisi prima. Dua di antaranya , seorang pria dan wanita , disimpan di British Museum. Mumi Gebelein Man dan Gebelein Woman itu pertama kali ditemukan di Gebelein, Mesir, sekitar 100 tahun lalu. Penanggalan radiokarbon mengungkapkan kedua orang tersebut hidup antara 3.351 dan 3.017 SM, tak lama sebelum Mesir bersatu dan periode dinasti awal dimulai. Sebagaimana ditulis Smithsonianmag mumi Gebelein dimakamkan di kuburan dangkal. Tak ada perawatan khusus untuk mengawetkan tubuh mereka. Salinitas (keasinan) dan kekeringan di kawasan itu membuat jenazah mereka menjadi mumi secara alami. Tubuh mumi seorang pria Mesir pradinastik di British Museum. (Wikipedia) Ötzi Manusia Es Pada 1991, pejalan kaki menemukan sisa-sisa mumi beku Ötzi dengan pakaian dan peralatan di Pegunungan Alpen Ötztal, dekat perbatasan Italia-Austria. Jurnalis Austria, Karl Wendl, memberikan nama Ötzi, yang mengacu pada situs penemuannya. Ia diyakini hidup antara 3.350 dan 3.100 SM. “Sebelum Stonehenge atau piramida Giza dibangun,” tulis Livescience . Ötzi meninggal karena kehilangan darah akibat luka panah. Tubuhnya berada di selokan yang terlindung di kawasan gletser yang dingin. Salju menutupi tubuhnya yang terlindungi dari aliran gletser. Menurut laman resmi South Tyrol Museum of Archaeology , Ötzi hidup selama Zaman Tembaga, periode Neolitik akhir. Ia masih menggunakan perkakas batu, tetapi memiliki kapak tembaga yang inovatif dan sangat berharga. Pakaian dan peralatan Ötzi telah diperbaiki dengan susah payah. Muminya dipamerkan di Museum Arkeologi Tyrol Selatan di Bolzano, Italia, sejak 1998. Ia disimpan dalam sel dingin yang dirancang khusus. Pengunjung dapat melihatnya lewat jendela kecil. Ötzi di meja otopsi. (Wikipedia). Mumi Mesir yang Sakral Mumifikasi diketahui telah dipraktikkan pada tahap akhir periode prasejarah, khususnya pada peradaban Mesir Kuno. Sementara penggunaan resin dan pembungkus linen untuk jenazah diketahui mulai dilakukan sejak Hierakonpolis, yakni sekira 3.500 SM. Orang Mesir percaya bahwa tubuh manusia bagian dari jiwa. Karenanya penting menjaga tubuh tetap utuh untuk kehidupan setela h kematian. Sebagaimana disebutkan dalam Ancient Origins bahwa tubuh adalah penghubung ke esensi manusia yang pernah menghuninya. Seperti ditulis dalam, bagi masyarakat Mesir Kuno, pembalseman dianggap sebagai seni sakral. Pengetahuan tentang prosesnya hanya dimiliki oleh sedikit orang. Kebanyakan rahasia seni mungkin diteruskan secara lisan dari satu tempat pembalseman ke tempat pembalseman lainnya. Karenanya bukti tertulis proses mumifikasi sangat langka. Hingga saat ini hanya dua teks tentang mumifikasi yang berhasil diidentifikasi. Mumi Bersegel dari Dinasti Han Mumi Xin Zhui atau Lady of Dai ditemukan di Perbukitan Mawangdui, dekat kota Changsha, Cina. Menurut Dong Hoon Shin, dkk . dalam “Mummification in Korea and China: Mawangdui, Song, Ming and Joseon Dynasty Mummies” yang terbit d alam jurnal Hindawi BioMed Research International , Xin Zhui adalah istri Li Chang atau Marquis of Dai yang memerintah wilayah itu hampir 2.200 tahun yang lalu selama masa Dinasti Han. Ia wafat pada 168 SM. Berbeda dengan mumi Mesir Kuno yang diawetkan dengan mengeringkan tubuh dari semua cairan dan mengeringkan jaringan mereka dengan garam sebelum dibungkus dan dikuburkan. Di Cina, segel rapat pada peti mati bagian dalam bertanggung jawab atas mumifikasi. Itu baik dengan tanah liat kaolin atau campuran tanah kapur. Adat istiadat penguburan juga berperan penting dalam mumifikasi. Misalnya, pengepakan kain yang ketat di dalam peti mati. Seperti tubuh Xin Zhui yang kemungkinan besar terendam dalam beberapa jenis cairan asam yang menghambat pertumbuhan bakteri dan proses pembusukan. “Jejak merkuri ditemukan pada kulitnya, yang memiliki efek serupa,” sebut . Tubuhnya kemudian dibungkus erat dengan 20 lapis sutra. Ia lalu ditempatkan dalam serangkaian empat peti mati, yang semuanya bersarang satu sama lain. Masing-masing peti diisi dengan arang dan disegel rapat dengan tanah liat. “Arkeolog percaya bahwa ini mencegah air dan udara yang akan menyebabkan pembusukan,” lanjut laman itu. Alhasil, mayatnya masih terawat baik. Kulitnya lembut dan kenyal, rambut dan organnya utuh, kulit, persendian, dan ototnya masih lentur. Bahkan ada darah di pembuluh darahnya, kendati wajahnya sangat bengkak. Livescience menyebut bahwa mumifikasi adalah seni yang hilang. Kebanyakan masyarakat menganggapnya aneh , kuno , atau sisa dari waktu lampau. Tapi gema dari proses tersebut tetap dapat dilihat di rumah duka modern, di mana pembalseman orang mati berperan dalam menghormati orang yang dicintai.
- Minggu Berdarah di Kota Selma
PERINGATAN “Minggu Berdarah” di Kota Selma tahun ini tak seperti biasanya. Selain karena masih pagebluk COVID-19, peringatannya pada Minggu (7/3/2021) tak lagi dihadiri empat penyintas peristiwa 56 tahun lampau: Pendeta Joseph Lowery, Pendeta Cordy Tindell Vivian, serta dua aktivis HAM Bruce Boynton dan John Lewis. Keempatnya sudah tiada sejak 2020. Kendati peringatannya tak sesemarak tahun lalu, momen itu tetap diadakan secara virtual dengan penayangan reka ulangnya. Presiden Amerika Serikat Joe Biden hadir via video conference pada 7 Maret 2021 waktu setempat (8 Maret WIB). “Hal yang diwariskan dari aksi jalan kaki di Selma adalah, tidak ada yang bisa menghentikan setiap manusia bebas untuk mengerahkan kekuatan paling suci sebagai warga negara – mereka yang berani melakukan segalanya untuk mengambil kekuatan itu. Tanpa pengorbanan mereka yang melintasi Jembatan Edmund Pettus 56 tahun lalu, warga kulit hitam takkan bisa memberikan hak suaranya,” tutur Presiden Biden, dikutip The Atlanta Journal-Constitution , Senin (8/3/2021). Joseph Robinette Biden Jr. pada peringatan "Bloody Sunday" pada 2013. (Instagram @vp44). Dalam kesempatan itu, Biden mengungkapkan duka citanya yang mendalam atas wafatnya keempat pelaku sejarah di atas. Terutama Lewis, yang sempat ditemuinya menjelang hari kematiannya, 17 Juli 2020. “Dalam rangka mengenang John Lewis, juga mengenang banyak sosok pemberani dalam momen itu: saat ini pun kita harus berdiri tegak karena hak suara kita adalah hak yang harus dipertahankan. Suara kita adalah hak asasi kita. Tahun lalu mendiang Lewis meminta saya untuk fokus memulihkan dan menyatukan negeri ini. Dia bilang bahwa kita semua diciptakan sama; kita semua berhak untuk diperlakukan setara,” imbuhnya. John Lewis dan ketiga mendiang aktivis di atas merupakan tokoh penting dalam hari pertama “Minggu Berdarah” di Selma pada 7 Maret 1965. Hari yang bikin geger seantero negeri itusampai membuat Dr. Martin Luther King Jr.hingga bahkan Presiden Lyndon B. Johnson turut bereaksi. Aksi Jalan Kaki Selma-Montgomery Jembatan Edmund Pettus Bridge di atas Sungai Alabama di kota Selma yang jadi penghubung Rute 80 menuju Montgomery, ibukota Negara Bagian Alabama, masih berdiri gagah. Ia jadi saksi bisu ketika massa berkisar 600 orang diserang hampir seribu aparat Kepolisian Negara Bagian Alabama yang dibantu masyarakat sipil kulit putih pada Minggu pagi, 7 Maret 1965. Mengutip Robert A. Pratt dalam Selma’s Bloody Sunday: Protest, Voting Rights, and the Struggle for Racial Equality , aksi jalan kaki massal dari Selma menuju Montgomery itu diinisasi para aktivis HAM dari SNCC (Student Nonviolent Coordinating Committee), SCLC (Southern Christian Leadership Conference), DCVL (Dallas County Voters League) seperti Lewis, James Bevel, Hosea Williams, serta ibu dan anak: Amelia dan Bruce Boynton. Mereka menuntut dua hal, yakni investigasi adil terhadap pembunuhan aktivis Jimmie Lee Jackson oleh oknum kepolisian Alabama, dan hak memberi suara bagi warga kulit hitam. “Setelah pemakaman Jimmie Lee Jackson di Marion, dihelat sejumlah pertemuan di sebuah kapel di Selma. Pada Senin pagi, 1 Maret, King bahkan ikut memimpin aksi jalan kaki ke gedung pengadilan Selma dan bicara pada para pengikutnya: ‘Kita akan membawa protes (terhadap) undang-undang hak suara di jalanan Selma’,” tulis Pratt. Dua hari berselang, King kembali datang ke Selma untuk mengadakan rapat lagi dengan para aktivis SNCC, SLCC, dan DCVL yang selama ini punya beberapa perbedaan pandangan arah perjuangan. Diputuskan, King yang akan memimpin langsung aksi massal jalan kaki dari Selma ke Montgomery melalui Rute 80 sebagai puncak aksi protesnya. Gerakan itu tercium Gubernur Negara Bagian Alabama George Wallace. Ia melarang segala aksi dari warga kulit hitam yang berpotensi gangguan lalu lintas. “Gubernur Wallace menyatakan aksi itu akan jadi ancaman bagi keamanan dan ketertiban umum. Pada 6 Maret ia menyatakan: ‘Tidak boleh ada aksi jalan kaki antara Selma dan Montgomery.’Wallace juga memerintahkan Kepala Patroli Kepolisian AlabamaKolonel Al Lingo untuk: ‘lakukan tindakan apapun yang diperlukan untuk mencegah aksi itu!’” ungkap David J. Garrow dalam Protest at Selma: Martin Luther King, Jr., and the Voting Rights Act of 1965. Presiden Lyndon Baines Johnson (kanan) saat bertemu Dr. Martin Luther King Jr. (Lyndon B. Johnson Presidential Library). Sementara di Gedung Putih, Presiden Johnson memanggil King untuk membicarakan aksi itu. Johnson ingin King percaya bahwa dirinya masih berjuang untuk mencabut persyaratan untuk hak suarapemilih, di mana salah satunya adalah penghapusan uji buta huruf. Meski begitu, King tetap tak mendapat kepastian setelah pembicaraan satu setengah jam dengan Presiden Johnson. Pada Sabtu malam, 6 Maret, King memutuskan untuk batal memimpin aksi jalan kaki dari Selma ke Montgomery pada Minggu pagi, 7 Maret. Pratt mengungkap sejumlah versi soal alasannya. Salah satunya, King ternyata sudah punya komitmen untuk berkhotbah di Gereja Baptis Ebenezer dikota Atlanta setiap hari Minggu pertama di bulan Maret. Versi kedua, terkait keselamatan diri King, di mana ia didesak para aktivis SCLC untuk membatalkan memimpin aksi hari Minggu pagi karena adanya ancaman pembunuhan. “John Lewis punya versi sendiri soal absennya King. Bahwa King sejatinya masih ingin memimpin aksi itu, tetapi King ingin menundanya sampai Senin (8 Maret) karena masih harus datang ke Gereja Ebenezer. Lewis, Bevel, Williams, dan Andrew Young lalu berdiskusi di Kapel Brown untuk menentukan siapa yang akan memimpin aksi menggantikan King,” sambung Pratt. John Robert Lewis (kiri) saat aksi jalan kaki Selma-Montgomery dan dihadang pasukan polisi. (NMAAHC/ humanitiestexas.org ). Pada Sabtu malam, 6 Maret itu akhirnya dilakukan lempar koin bak pertandingan olahraga untuk menentukan pengganti King. Dari keempat calon, Williams yang menang dan akan memimpin aksi. Dia bakal ditemani Lewis sebagai wakilnya. Lantas pada Minggu, 7 Maret pukul empat pagi, empat serangkai itu mengumpulkan massa yang berjumlah hampir 600 orang dari berbagai kota, termasuk lusinan wartawan, serta tim dokter dan perawat Medical Committee of Human Rights yang datang dari New York. “Mereka memulai aksinya dengan berjalan kaki dalam dua kolom, dua jajar yang membentang sepanjang beberapa blok. Lewis mengenang: ‘Saya tak ingat berapa kali saya ikut aksi protes sepanjang hidup saya, tetapi ada sesuatu yang berbeda tentang aksi ini. Aksinya lebih disiplin, lebih damai, hampir seperti rombongan pemakaman. Massa juga merasa momen ini istimewa. Padahal tidak ada nama besar atau selebritas yang ikut, hanya sekadar warga biasa yang turun ke jalan-jalan kota Selma’,” tambah Pratt. M assa yang berjalan kaki dengan rapi dan damai itu tiba-tiba berhenti beberapa langkah sebelum menginjakkan kaki di Jembatan Edmund Pettus saat sudah memasuki siang. D i ujung jembatan ternyata sudah tampak lautan aparat berhelm biru. Tak satu pun dari aparat itu memajang wajah ramah. John Lewis yang turut jadi korban penganiayaan polisi. ( encyclopediaofalabama.org /Library of Congress). Sekitar 15 aparat sudah bersiap dengan kudanya dan ratusan yang lain dari Kepolisian Dallas County dan warga kulit putih yang dipersenjatai, juga sudah bersiap dengan tongkat polisi masing-masing. Dari kumpulan pagar hidup aparat itu, Komandan Kepolisian AlabamaMayor John Cloud mengeluarkanperingatan kepada massa. “Aksi ini melanggar hukum. Aksi berjalan kaki Anda bukanlah aksi yang kondusif terhadap ketertiban umum. Anda semua diperintahkan untuk membubarkan diri dan kembali ke gereja atau rumah Anda,” seru Cloud, dikutip Garrow. Hosea Williams, sang pemimpin aksi, mencoba untuk bernegosiasi dengan Cloud . Namun upayanya ditolak Cloud y an g menegaskan bahwa jika dalam dua menit massa tak membubarkan diri, kepolisian terpaksa melancarkan tindakan “yang diperlukan”. Kebrutalan polisi saat menyerang ratusan aktivis HAM kulit hitam pada "Bloody Sunday". (NMAAHC/NVRMI). Massa yang bergemingakhirnya memaksa Cloud memerintahkan anak buahnya bergerak: “Pasukan, maju!” Aparat pun sontak menyerang massa secara sporadis. Pentungan tongkat polisi yang mengayun serentak maupun terjangan anggota polisi berkuda langsung menerjang tanpa pandang bulu. Perempuan, seperti yang dialami Amelia Boynton dan Joanne Bland, turut jadi korban. “Hal terakhir yang saya lihat dari ingatan saya dari jembatan itu adalah, kuda polisi berlari menerjang seorang perempuan dan menginjaknya. Suara yang ditimbulkan kepalanya kala menghentak permukaan jalan sangat mengerikan. Anda bisa kabur dari polisi yang berjalan kaki tapi tidak dengan polisi yang berkuda,” kenang Bland, dikutip Pratt. Jurnalis New York Times Roy Reed , yang meliput peristiwa itu , mengenang nya. “Polisi berseragam dan berhelm biru serta putih menerjang dengan menghentakkan tongkat sekuat tenaga dan menembakkan gas air mata. Sekitar 10-20 aktivis di baris pertama yang tersapu serangan itu berteriak sambil melindungi kepala mereka. Polisi terus mendesak massa , tak peduli jeritan massa Negro diiringi sorakan dan tawa warga kulit putih yang menonton serangan itu , ” ujarnya . Kebrutalan polisi di Selma yang jadi kegegeran nasional. ( Selma’s Bloody Sunday / Protest at Selma ). Massa akhirnya mundur dan berhamburan kembali ke Selma. Dari sekitar 600 orang anggota massa aksi, 17 di antaranya kritis dan 50 lainnya luka-luka ringan setelah “pembantaian” itu. Lewis salah satu di antara korbannya.Ia mengalami retak pada tengkoraknya dan meninggalkan bekas luka yang tak pernah hilang di kepalanya hingga ia wafat pada Juli 2020. Kala berita serangan itu tersebar oleh media pada Senin pagi, 8 Maret, sejumlah politikus di Gedung Capitol (parlemen) berang. Sementara, Presiden Johnson mencoba mengonfirmasi kronologi kejadian yang dikenal sebagai “Bloody Sunday” (Minggu Berdarah) itu via sambungan telefon ke Jaksa Agung Nicholas Katzenbachserta Senator Negara Bagian Alabama Lister Hill. Sementara, King mengetahui kejadian itu dari pengacara SCLC Henry Arrington. King yang juga marah akhirnya bertolak ke Selma dan kembali mengorganisir dan memimpin aksi serupa pada Selasa, 9 Maret. King tetap memimpin aksi kendati Wakil Jaksa Agung John Doar dan mantan Gubernur Florida LeRoy Collins yang di utus Presiden Johnson datang ke Selma untuk meminta King menunda aksi. Dr. Martin Luther King Jr. memimpin aksi di Selma beberapa hari setelah "Bloody Sunday". (Library of Congress). King lalu mencoba kompromi. Collins yang menjadi “mediator”sudah mendapat kepastian dari aparat Alabamabahwa keselamatan King dan massa akan terjaminasalmerekamenggelar aksi dari Selma melalui rute lain. Maka pada 9 Maret, King memimpin massa melalui rute yang sudah disepakati dengan Collins: melewati Jembatan Edmund Pettus, lalu berceramah kepada massa, untuk kemudian balik kanan. Momen itu dikenal sebagai “Turnaround Tuesday” (Selasa Balik Kanan). Hingga 25 Maret 1965, aksi-aksi serupa terus terjadi. King masih memimpin massa di Selma. Hank Sanders masih ingat betul momen hari terakhir itu di mana King tak lelah menuntut hak asasi warga kulit hitam, terutama tentang hak memberi suara dalam pemilihan. “Saat Dr. King mengatakan: ‘Berapa lama lagi?’ dan kami semua menyahut serentak: ‘Tidak lama lagi!’ Saat itu saya berpikir memang tidak akan lama lagi. Tetapi hingga kini, lebih dari 50 tahun kemudian, kami masih harus memperjuangkan dan melindungi apa yang ditinggalkan dalam Undang-Undang Hak Suara dan kemudian mencoba menegakkannya,” tandas Sanders, sebagaimana disitat National Public Radio , Jumat (5/3/2021).
- Investasi Asing dalam Pengangkatan Muatan Kapal Tenggelam
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan pada Selasa (2/3/2021) bahwa investor asing dapat menanamkan modal dalam kegiatan pengangkatan benda berharga asal muatan kapal tenggelam (BMKT). Kegiatan ini menjadi salah satu dari 14 bidang usaha yang dibuka bagi investasi. Selain pengangkatan BMKT yang sesungguhnya peninggalan arkeologi bawah air, bidang usaha di ranah kebudayaan dan sejarah yang masuk daftar terbuka bagi investasi adalah penyelenggaraan museum pemerintah dan jasa pengoperasian wisata peninggalan sejarah dan purbakala, seperti candi, keraton, prasasti, petilasan, dan bangunan kuno. Ketiga kegiatan itu awalnya masuk dalam daftar 20 bidang usaha yang dilarang bagi investasi berdasarkan Perpres No. 44 Tahun 2016. Namun, Perpres No. 10 Tahun 2021 merevisinya sehingga hanya enam bidang usaha saja yang terlarang. Baca juga: Utamakan Nilai Ekonomi, Ancaman Bagi Situs Bersejarah Arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, Agni Sesaria Mochtar,menyayangkan jika keputusan itu akan direalisasikan. “Terlepas dari investor asing atau dalam negeri, yang salah menurut saya di sini adalah tinggalan budaya yang dianggap sebagai bisnis komersial,” kata Agni kepada Historia.id . Berdasarkan pengalaman, proses pengangkatan yang bertujuan komersial biasanya hanya berorientasi mengambil tinggalan arkeologi dari dasar laut sebanyak-banyaknya dan dalam waktu sesingkat-singkatnya. “Otomatis konteksnya sudah hilang. Banyak sekali informasi, pengetahuan, dan nilai-nilai yang hilang karena rusaknya konteks itu,” ujar Agni. Ratusan Titik Kapal Karam Indonesia menjadi pusat pertemuan global pada 1480–1650, yang oleh Anthony Reid, sejarawan Australia National University, disebut sebagai age of commerce. Dengan lautnya yang luas dan posisinya yang strategis, banyak kapal bermuatan barang berharga melintasi kepulauan Nusantara. Maka, t ak heran kalau di perairan Indonesia banyak peninggalan arkeologi bawah air. Agni Sesaria Mochtar mencatat jumlahnya dalam makalah berjudul “ In-Situ Preservation sebagai Strategi Pengelolaan Peninggalan Arkeologi Bawah Air Indonesia” dalam Kalpataru: Majalah Arkeologi Vol. 25 No. 1 (2016). Menurutnya, Litbang Oseanologi mencatat kurang lebih 463 titik kapal karam. Sementara Arsip Organisasi Arkeologi di Belanda mencatat sekira 245 kapal VOC karam . Arina Hukmu Adila dalam tesisnya di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang berjudul “Pengaturan Pengelolaan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam di Indonesia Berbasis Cultural Resource Management”, mendata pada 2008 ditemukan 463 titik kapal karam yang tersebar di perairan Indonesia. Dalam dokumen Road Map Pengelolaan BMKT disebutkan potensi ekonomi dari 463 titik BMKT diperkirakan mencapai Rp127,6triliun. Agni menjabarkan, titik-titik itu tersebar di perairan Selat Malaka, Selat Bangka, perairan Riau, Selat Gaspar, perairan Belitung, perairan Enggano, perairan Kepulauan Seribu-Selat Sunda, Pelabuhan Ratu, perairan Cilacap-JawaTengah, Laut Jawa yang meliputi perairan Karimun Jawa dan Pantai Jepara, Selat Madura-Pulau Kangean, Selat Karimata, Nusa Tenggara Barat-Timur, perairan Arafura, perairan Papua, perairan Morotai-Teluk Kao, perairan Halmahera Tidore-Bacan, perairan Ambon Buru, perairan Teluk Tomini dan perairan Sulawesi termasuk Selat Makassar. Baca juga: Melindungi Kenangan Kapal Perang Situs arkeologi bawah air tak hanya kapal karam. Bangkai pesawat dari masa Perang Dunia II juga tersebar di perairan Indonesia Timur, seperti Halmahera Utara dan Maluku Utara. Kapal karam biasanya memuat komoditas dagang. Berbagai barang muatan seperti keramik, logam mulia, perhiasan emas, hingga koin mata uang kuno menjadi incaran pemburu harta karun. Ratusan kapal karam di perairan Indonesia menjadi sasaran pencurian. Kasus fenomenal adalah pencurian muatan kapal VOC De Geldermalsen yang karam di perairan Bintan Timur tahun 1986 oleh Michael Hatcher, pemburu harta karun asal Australia. Hasil jarahannya dilelang di balai lelang Christie senilai $17 juta dolar. Kasus lain adalah pengangkatan kapal tenggelam di perairan Cirebon pada April 2004 sampai Agustus 2005 yang dilakukan PT. Paradigma Putra Sejahtera bekerja sama dengan Michael Hatcher. Sekira 271.381benda berharga berhasil dilelang pada 5 Mei 2010. Contoh temuan arkeologi bawah air dari kapal karam. ( Adnan Buyuk /Shutterstock). Demi Pendapatan Negara Pada 1989, pemerintah membentuk Panitia Nasional (PANNAS) BMKT. Panitia ini diketuai Menteri Kelautan dan Perikanan dengan anggota pejabat eselon satu dari kementerian atau lembaga terkait, termasuk dari Kemendikbud (dulu Kemenbudpar) dan Dirjen Kekayaan Negara.Tujuan panitia ini untuk mengontrol kegiatan pengangkatan yang dilaksanakan di perairan Indonesia. Baca juga: Kisah Kapal Pesiar Olympic, Titanic, dan Britannic Jose A. Lukito dalam “Peran Ditjen Kekayaan Negara Dalam Penanganan BMKT” di laman Dirjen Kekayaan Negara , menjelaskan bahwa PANNAS melakukan pengelolaan BMKT mulai dari izin survei, izin pengangkatan, pemilihan koleksi negara, penjualan selain koleksi negara, sampai sertifikasi dan pemindahtanganan BMKT baik ke pembeli dalam negeri maupun ke luar wilayah Indonesia jika dimiliki oleh pihak asing. “Karena dulu orientasinya masih komersial, orang-orang kebudayaan sering kalah suara. Istilah BMKT pun masih jadi perdebatan sampai sekarang antara Kemendikbud dan KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan),” kata Agni. Selama ini kegiatan pengangkatan muatan kapal karam dilakukan bersama antara pemerintah dan perusahaan. Keppres No. 25 Tahun 1992 mengatur bahwa benda berharga asal muatan kapal yang tenggelam harus dijual di muka umum dengan perantaraan Kantor Lelang Negara atau Balai Lelang Internasional setelah memperoleh persetujuan PANNAS.Hasil penjualannyadibagi dua antara pemerintah dan perusahaan. Baca juga: Tiga Kali Kapal Ini Celaka di Indonesia Menurut Ashadi Mufsi Batubara, Ketua Jurusan Arkeologi Universitas Jambi, dalam tulisannya “Perlindungan Cagar Budaya Bawah Air dalam Kajian Analisis Hukum” dalam Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 1 (2014),saat itu jelas bahwa benda cagar budaya bawah air masih dijadikan lahan pencarian keuntungan. “Masih dianggap sebagai harta karun menggiurkan bukan sebagai benda warisan budaya yang bernilai sejarah dan ilmu pengetahuan,” tulis Ashadi. Menteri Keuangan kemudian mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 184/PMK.06/2009 (PMK 184) yang mengatur tata cara penetapan status penggunaan dan penjualan benda berharga asal muatan kapal tenggelam. Benda berharga dari kapal karam diseleksi oleh Depbudpar untuk menentukan benda koleksi negara (BMN). Yang tak masuk BMN dapat dijual untuk meningkatkan penerimaan negara. “Jadi hanya BMKT berstatus nonkoleksi negara dan BMKT berstatus selain BMN yang dapat diberikan persetujuan penjualan oleh Menteri Keuangan berdasarkan permohonan dari Menteri Kelautan dan Perikanan,” tulis Jose. Baca juga: Kapal Angkatan Laut Australia Celaka di Selat Sunda Penjualan BMKT nonkoleksi negara dilakukan lewat lelang melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Apabila tiga kali lelang melalui KPKNL tak terjual, Menteri Kelautan dan Perikanan bisa melakukan penjualan lelang melalui balai lelang swasta atau internasional, penjualan nonlelang, atau penjualan dengan cara lain. Menurut Asyhadi, PMK 184 berpatokan pada UU No. 5 Tahun 1992 yang masih sedikit memperhatikan cagar budaya bawah air. Dalam UU itu, warga negara asing diperbolehkan memiliki atau menguasai benda cagar budaya. Syaratnya benda itu dikuasai secara turun-temurun, jumlahnya sudah banyak, dan sebagiannya telah dikuasai negara. UU itu juga melarang setiap orang membawa benda cagar budaya ke luar wilayah Indonesiatanpa izin pemerintah. “Dapat juga dilihat bahwa antara UUCagar Budaya, Keppres No. 25, dan Peraturan Menteri Keuangan justru terkesan tumpang tindih,” tulis Asyhadi. UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya kemudian dicabut dengan keluarnya UU Cagar Budaya tahun 2010. Dalam UU ini, benda muatan kapal karam dilindungi sebagai tinggalan budaya yang terlarang untuk dimiliki negara asing dan atau dibawa ke luar Indonesia. Pasal 14 ayat 1 menyebut bahwa warga negara dan/atau badan hukum asing tidak dapat memiliki dan/atau menguasai cagar budaya kecuali yang tinggal menetap di wilayah Indonesia. Lalu Pasal 68 ayat 1 menegaskan bahwa cagar budaya hanya bisa dibawa ke luar wilayah Indonesia untuk kepentingan penelitian, promosi, dan/atau pameran. Perlu Tenaga Ahli Berlisensi Terbitnya UU Cagar Budaya Tahun 2010 ditindaklanjuti dengan langkah moratorium. Sejak 11 November 2011 sampai 2014, PANNAS BMKT memberlakukan moratorium pemberian rekomendasi izin survei dan izin pengangkatan BMKT. Pada 2014 , kebijakan moratorium perizinan survei dan pengangkatan BMKT sempat dihentikan selama enam bulan. K embali diperpanjang sampai 21 Desember 2016. Dalam proses revisi Perpres No. 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal (Perpres Daftar Negatif Investasi/DNI), Menteri Kelautan dan Perikanan mengusulkan agar bidang usaha pengangkatan BMKT yang semula terbuka dengan syarat khusus menjadi tertutup bagi investasi. Alasannya barang-barang dari kapal tenggelam merupakan warisan peradaban dan kebudayaan Indonesia yang harus dijaga dan dirawat untuk keperluan ilmu pengetahuan. Baca juga: Enam Tragedi Kapal Selam Rusia Presiden JokoWidodo sempat mengeluarkan Perpres No.44 Tahun 2016 Tentang Daftar Negatif Investasi yang melarang investasi pengangkatan BMKT. Namun,Perpres No. 10 Tahun 2021 merevisinya sehingga investasi pengangkatan BMKT kembali terbuka termasuk bagi asing. “Aturan serupa pernah sempat dimoratorium dengan Permen KKP tahun 2016. Dari 2016 belum pernah dibatalkan moratoriumnya, baru sekarang ini ada wacana untuk mengizinkan lagi pengangkatan benda-benda arkeologi dari kapal tenggelam,” kata Agni. Kepala BKPM Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tak akan mempermudah perizinan investasi pengangkatan BMKT. Namun, pada praktiknya perlu ada kajian ahli terkait status benda tersebut, terutama apakah berstatus benda cagar budaya atau bukan. Baca juga: Kapal Perang Jerman Karam di Sukabumi? Agni menilai saat ini koordinasi antara dua kementerian, KKP dan Kemendikbud, sudah jauh lebih baik. KKP pun sudah berorientasi pada pelestarian. Pada 2018, sudah ditetapkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pengelolaan BMKT. Standar ini ditujukan bagi seluruh komponen termasuk pemerintah. SKKNI memiliki ruang lingkup meliputi perencanaan kegiatan, survei, pengangkatan, dan pemanfaatan baik di lokasi maupun di darat. “Mestinya orang-orang yang boleh menangani benda-benda arkeologi bawah air hanya yang mempunyai lisensi sesuai SKKNI tersebut, atau memang pakar di bidangnya. Termasuk di antaranya arkeolog, konservator, sampai kurator,” kata Agni.
- Senandung Masa Lalu dari Kaset Pita
Hari Musik Nasional jatuh tiap 9 Maret. Pemilihan berdasar pada kelahiran Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia yang berjudul Indonesia Raya . Walaupun baru ditetapkan pada 2013, musik di Nusantara sendiri sudah mengalun sejak lampau dengan berbagai medium pemutarnya. Salah satunya kaset. Foto berbagai jenis musik yang direkam dalam kaset. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kaset kali pertama dibuat oleh perusahaan Philips di Eropa pada 1963. Di Amerika Serikat, kaset disebut compact cassette. Memasuki dekade 1970-an, kaset semakin populer di industri musik dunia hingga akhirnya menyapa Indonesia. Baca juga: Cerita dari Gulungan Pita Sebelumnya, para musisi dalam negeri masih menggunakan piringan hitam sebagai media rekam untuk memperdengarkan musik mereka kepada para penikmat musik. Hingga dekade 1970-an, barulah piringan hitam mulai berganti menjadi kaset. Tampak ratusan kaset tersusun rapi di salah satu kios di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat. (Fernando Randy/ Historia.id ). Menurut Muhammad Mulyadi, sejarawan Universitas Padjajaran, dalam Industri Musik Nasional (Pop, Jazz, Rock 1960-1990) , perusahaan rekaman dalam negeri pertama kali menggunakan kaset pada 1973. Murah, praktis, dan bisa dibawa kemana saja menjadi alasan mengapa akhirnya kaset mulai meroket di kalangan musisi. Baca juga: Dari Gramofon hingga Music Streaming Bahkan, di puncak popularitasnya pada 1980 hingga 1990-an, industri kaset turut serta mendongkrak pemasukan negara. Miliaran rupiah masuk ke kas negera melalui stiker Pajak Pertambahan Nilai dari setiap keping kaset yang dijual. Berbagai jenis kaset yang tersisa saat ini. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu pedagang kaset yang tersisa di kawasan Jalan Surabaya, Jakarta Pusat. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tapi roda nasib berputar. Kaset yang tadinya populer, berangsur ditinggalkan. Era merekam dengan metode pita berganti dengan digital. Dekade 2000-an menandai akhir kaset setelah muncul era compact disc hingga platform musik digital. Baca juga: Asal-Usul Pemutar Musik Tapi sebenarnya kaset tidak sepenuhnya hilang dari peredaran. Masih banyak pedagang kaset di Jakarta seperti di Blok M, Jalan Surabaya, dan Jatinegara. Kebanyakan yang dijual adalah kaset lawas. Salah satu pedagangnya bernama Ridwan (47). “Saya amat menyukai musik sejak kecil,” kata Ridwan. Menurutnya, pembeli kaset bukan hanya kolektor berusia lanjut, melainkan juga anak-anak muda. “Mungkin karena mereka tidak mengalami masa kaset jadi penasaran dan akhirnya beli,” tambahnya. Ridwan salah satu penjual kaset di kawasan Blok M. (Fernando Randy/ Historia.id ). Ridwan saat menunjukan salah satu kaset favoritnya. (Fernando Randy/ Historia.id ). Ridwan membersihkan salah satu kaset miliknya menggunakan alat pemutar kaset dan tisu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Ketika Historia.id menyambangi tokonya di Blok M, tampak beberapa pembeli yang usianya beragam. Pemandangan serupa juga tampak di toko kaset milik Untung yang juga terletak di Blok M. Beberapa anak muda terlihat asyik mengobrol dengan pria asal Bogor tersebut sebelum membeli sebuah kaset Jazz. Baca juga: Mengalun Bersama Sejarah Jazz “Menurut saya keunikan kaset itu banyak. Dari cover albumnya yang bagus, kualitas suara karena itu pita, dan mungkin sensasinya saat kita memperbaiki pita itu saat kusut atau kotor,” katanya. Untung, salah satu penjual kaset terlama di kawasan Blok M. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pita yang saat ini mulai ditinggalkan oleh para musisi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu kaset yang diputar dikawasan Blok M. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pada akhirnya memang hanya semangat untuk mengkoleksilah yang membuat benda seperti kaset masih tetap ada hingga saat ini. Selain itu tentu keyakinan bahwa musik tidak akan pernah berhenti. Seperti keyakinan yang dikatakan oleh Untung. “Kenapa saya masih berdagang kaset hingga era saat ini, karena saya yakin kaset tidak pernah sepi peminat dan musik tidak akan pernah mati,” tutupnya. Berbagai album yang ada di kios milik Ridwan di Blok M. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu album milik para musisi senior Eros, Chrisye, dan Yockie yang masih direkam dalam pita kaset. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Terjebak di Plataran (2)
Eks Sersan J.A. Roubos masih ingat kejadian itu. Suatu pagi dia dan anak buahnya dari Peleton 2 Kompi ke-3 Batalyon I Resimen Infanteri ke-15 melakukan raid (penyerbuan mendadak) ke suatu basis gerilyawan Republik. Akibat aksi itu, kubu TNI menjadi kocar-kacir dan panik. Tanpa ampun pasukan Roubos terus memburu mereka dengan mengikuti jejak mundur para gerilyawan tersebut: merambah sawah-sawah yang padinya sudah setinggi kira-kira 50-70 cm. “Dalam gerakan pembersihan itu, Roubos mengaku berhasil menewaskan seorang Jepang dengan bayonet-nya. Ini jelas agak ganjil, karena di tubuh MA tak ada seorang pun eks tentara Jepang” kata sejarawan Moehkardi. Mantan dosen sejarah AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) itu mendengar langsung pengakuan tersebut dari rekaman wawancara Roubos dengan Kolonel C.A. Heshusius. Pada April 1977, Kepala Sectie Krijgsgeschiedenis Koninklijke Landmacht (Seksi Sejarah Perang Tentara Kerajaan Belanda) tersebut mengirimkan rekaman itu kepada Moehkardi. Menurut sumber Belanda tersebut, raid ke Tlatar (Plataran) merupakan salah satu bukti keberhasilan operasi pembersihan militer Belanda di Indonesia. Bahkan karena keberhasilan itu pula, pada 1950 Sersan Roubos diganjar oleh pemerintah Belanda dengan penghargaan bintang De Bronzen Leeuw. De Bronzen Leeuw merupakan bintang yang dianugerahkan oleh Kerajaan Belanda atas seseorang yang telah memperlihatkan keberaniannya dan kekuatan kepemimpinannya dalam suatu pertempuran yang menguntungkan pihak militer Belanda. Berdasarkan wawancara Heshusius yang dikutip oleh Moehkardi dalam bukunya Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945—1949 itu, disebutkan sebenarnya pasukan Belanda yang terlibat dalam raid di Plataran jumlahnya tidak memadai yakni 75 orang (setengah kompi). Jumlah itu masih dibagi menjadi 3 peleton tidak lengkap yang berisi masing-masing 25 prajurit. “Tiap peleton diperkuat dengan 3 Bren dan masing-masing memegang Sten, Karabein dan granat,” ungkap Moehkardi. Dalam serangan itu, Peleton II pimpinan Roubos menjadi ujung tombak dengan melakukan gerakan dari arah selatan. Sementara Peleton I berada di sayap kanan dan bergerak dari arah timur sedangkan Peleton III menyokong gerakan Peleton II dari belakang. Peleton III inilah yang kemudian melakukan gerakan meningkar lewat Karangbatu di utara terus ke timur dan menghabisi anak-anak MA. Saat bergerak ke Plataran itulah tetiba suara Bren menyalak dari kubu TNI dan sempat membuat gerakan pasukan Belanda terhenti. Namun anehnya, itu terjadi hanya sejenak. Rupanya suara senjata berat tersebut berasal dari Letnan Dua Utoyo Notodirjo. Utoyo yang melihat situasi sangat kacau berinsiatif mengambil Bren dari seorang kadet MA yang terluka lantas memberikan perlindungan kepada kawan-kawannya yang tengah melakukan gerakan mundur tak teratur. Namun malang saat menembakan senjata Bren itulah sebutir peluru menembus helm baja Utoyo hingga menyebabkan dia tewas seketika. Nasib serupa juga dialami V.C. Husein. Tidak sempat mundur dari Plataran, Husein justru bertemu dengan Roubos dan anak buahnya di tengah sawah. Maka terjadilah pertarungan jarak dekat dengan menggunakan bayonet yang berakhir dengan terbunuhnya Husein. Husein yang memiliki ciri fisik dan sikap seperti seorang serdadu Jepang rupanya dikira serdadu Jepang beneran oleh Roubos. Bisa jadi karena itulah, serdadu-serdadu Belanda (termasuk Roubos) yang mengepungnya memperlakukan jasad Husein begitu brutal: kepalanya dipenggal dan tak pernah ditemukan kembali. “Faktor dendam karena pernah dikalahkan Jepang pada 1942 menyebabkan serdadu-serdadu Belanda itu berlaku sadis terhadap Husein,” ungkap Moehkardi dalam suatu wawancara dengan saya pada 2017. Selain Utoyo dan Husein, ikut gugur juga beberapa alumni dan kadet MA lainnya yakni Letnan Dua Sukoco A, V.C. Soemartal, V.C. Sarsanto, V.C. Soeharsoyo, V.C. Soebijakto ditambah seorang prajurit TP (Tentara Pelajar) bernama Marwoto. Sementara V.C. Sutopo dan V.C. Sunarto B mengalami luka yang cukup parah. Insiden Plataran menjadi pelajaran terbaik bagi para alumni dan kadet MA bahwa suatu kesatuan pasukan tanpa adanya komando yang jelas hanya akan membinasakan pasukan tersebut. Dan memang saat terjadi peristiwa itu, semua kekuatan TNI yang berkumpul di sana memang sama sekali tak terkoordinasi karena niat mereka hanya singgah dan lewat saja. “Jadi begitu mereka panik, anak-anak MA langsung digiring ke killing ground (kawasan pembantaian),” ungkap Moehkardi. Sebaliknya bagi pihak militer Belanda sendiri, Insiden Plataran adalah “keuntungan yang tak disengaja”. Apa sebab? Karena seperti dikatakan oleh Daud Sinjal dalam Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi Yogya , pertempuran itu sebenarnya sama sekali tak pernah direncanakan. “Karena sasaran gerakan pembersihan Belanda semula adalah Kringinan yang disangka masih menjadi markas gerilya MA,”ungkap Daud. Hingga kini masyarakat Plataran selalu mengenang insiden tersebut. Mereka menghormati alumni dan kadet MA yang gugur sebagai para pahlawan yang pemberani terutama V.C. Husein. Secara turun temurun dikisahkan oleh orang-orang Plataran bagaimana saat menjelang detik-detik kematiannya yang tragis Husein mengamuk bak seekor banteng ketaton (terluka). Begitu berkesannya masyarakat Plataran terhadap sosok lelaki Sunda kelahiran Sukabumi tersebut hingga namanya diabadikan sebagai nama mata air di kampung itu.
- Loyalis Sukarno Bernama Idham Chalid
Menjelang dekade 1960-an, Indonesia dihadapkan dengan situasi politik yang tidak stabil. Berbagai perubahan tidak terduga terjadi di tubuh pemerintahan Sukarno. Presiden, melalui dekrit tahun 1959, mulai mengubah gaya kepemimpinannya. Dari semula mengadopsi sistem parlementer, menjadi suatu pola yang disebut Bung Karno sebagai Demokrasi Terpimpin. Perubahan itu tidak selamanya mendapat dukungan rakyat. Sejumlah tokoh bahkan menyuarakan secara gamblang ketidaksetujuannya akan penerapan Demokrasi Terpimpin di Indonesia. Seperti terjadi di tubuh Nadhlatul Ulama, yang sebagian besar tokohnya tidak suka dengan sistem baru pilihan Sukarno tersebut. Namun meski mayoritas tidak suka, di NU masih ada yang mendukung keputusan sang presiden. Idham Chalid salah satunya. “Kalau kedekatan dengan Bung Karno itu bisa dilihat dari berapa kali beliau dipercaya jadi Wakil Perdana Menteri. Bahkan dari cerita-cerita beliau, beliau adalah salah satu orang yang menggagas ide pengangkatan Bung Karno jadi presiden seumur hidup. Beliau yang memberikan usulan,” kata Grandy Ramadhan, cucu Idham Chalid, kepada Historia . Meski Grandy menyebut dukungan Idham kepada Sukarno merupakan bentuk kedekatan namun menurut sejarawan Greg Fealy dalam Ijtihad Politik Ulama: Sejarah Nadhlatul Ulama 1952-1967 , situasi politiklah yang memaksa Idham melakukan itu. Jika dia tidak mendukung Demokrasi Terpimpin justru akan membahayakan NU dan karir politiknya. Dia bisa saja tidak meniru retorika Sukarno, tetapi andai itu dilakukan posisi NU terancam dan disudutkan. Jika NU disudutkan maka tidak ada ormas Islam besar lagi yang masuk sistem politik. Hanya dengan NU umat Islam Indonesia bisa terwakili. Pada Agustus 1959, sebulan setelah Sukarno mengumumkan dekrit, Idham diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Tugas badan ini adalah memberikan pertimbangan kepada presiden dan pemerintah, yang kala itu keberadaannya lebih berpengaruh dibandingkan parlemen. Menurut Ahmad Muhajir dalam Idham Chalid: Guru Politik Orang NU , pengangkatan Idham menjadi anggota DPAS merupakan bukti kedekatannya dengan Sukarno. Dia bahkan menjadi pembela blak-blakan dari manifesto ideologis nasionalistik populis Sukarno. “Komunisme, seperti halnya anjing, adalah najis. Tapi Sukarnoisme tidaklah najis, karena dia bukan komunisme. Paling banter Sukarnoisme itu adalah seperti anjing laut dan sebagaimana Anda tahu anjing laut menurut Islam tidaklah najis,” kata Idham seperti dikutip H. Maulwi Saelan dalam Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66 . Menurut Muhajir, dalam segi kepemimpinan Idham memiliki sejumlah kesamaan dengan Sukarno. Keduanya, imbuh Muhajir, sama-sama memiliki kharisma yang mampu menggerakan massa. Jika Sukarno bisa membuat orang tergerak dengan kata-kata yang cerdas dan tajam, Idham mampu membuat siapa saja yang berhubungan dengannya merasa nyaman. Dia bahkan mendapat julukan ahli yahannu , istilah sehari-hari di kalangan pesantren yang berarti “mengatakan hal-hal yang menyenangkan orang, menyampaikan apa yang ingin mereka dengar”. Selain itu keduanya dikenal sebagai orator ulung. Sukarno dengan gaya berbicara yang tegas, berapi-api, mampu memainkan emosi para pendengarnya. Sementara Idham lebih kalem. Gaya pidatonya mendatangkan simpati. Dia tahu cara menghadapi emosi massa. Fealy mencatat bahwa kepribadian dan gaya kepemimpinan Idham begitu dekat. Dia ahli dalam berkomunikasi, punya banyak lelucon, dan sangat pandai membaca suasana hati para pendengarnya. Pidato-pidato Idham merupakan perpaduan dari khotbah keagamaan, dongeng, dan propaganda politik yang selalu disampaikan dengan penuh kerendahan hati. “Kalau mau dianalogikan dengan jurus pesilat: Sukarno menyerang dengan jurus yang keras dan gesit, Idham menyambut serangan dengan jurus lembut, namun mematikan,” ungkap Muhajir. Idham menjadi salah satu tokoh yang paling loyal terhadap Sukarno. Kesetiannya itu, kata Muhajir, ditunjukan saat peristiwa Gerakan 30 September. Ketika banyak pihak di NU mempertanyakan posisi Sukarno, Idham masih menaruh kepercayaan kepadanya. Dia mencoba meredam kecurigaan tokoh-tokoh NU. Namun ketika perubahan sudah tidak bisa lagi dibendung, Idham terpaksa meninggalkan Sukarno dan memilih mempertahankan kedudukan NU di dalam trasisi kekuasaan yang baru. Semasa pemerintahan Sukarno, Idham menempati beberapa jabatan penting, di antaranya: Wakil Perdana Menteri Kabinet Ali Sastroamidjojo (1956), Wakil Menteri Kabinet Djuanda (1957), anggota DPAS (1959), Wakil Ketua MPRS (1963-1966), Wakil Perdana Menteri Kedua Kabinet Dwikora (1966). Pada masa itu juga Idham memperoleh beberapa penghargaan dari presiden terkait dengan perjuangannya, yaitu Bintang Gerilya (1956) atas perjuangannya sewaktu bergerilya di Kalimantan, Bintang Maha Putra (1960), dan sejumlah penghargaan lainnya.
- Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey
KOTA Gotham di suatu malam. Harleen Quinzel alias Harley Quinn (diperankan Margot Robbie) keluar dari sebuah diskotek dengan setengah mabuk. Semalaman ia berpesta dengan tingkah polah konyol sehingga mengusik banyak tamu. Tapi toh semua orang tahu dia takkan tersentuh karena Harley adalah pacar supervillain yang disegani, Joker. Siapapun tak berani menegur, apalagi membalasnya. Namun, banyak orang, termasuk bos mafia pemilik diskotek Roman Sionis alias Black Mask (Ewan McGregor), tak tahu Harley dan Joker sudah putus. Lama-kelamaan, Harley tak tahan menyimpan rahasianya lantaran dianggap bukan cewek mandiri dan terus-menerus bergantung pada perlindungan Joker. Ia pun meng- update status hubungannya dengan Joker. Boom! Ia menyatakan putus dengan Joker dengan meledakkan sebuah pabrik cairan kimia. Pabrik cairan kimia dipilihnya karena dulu Harley dan Joker “jadian” setelah Harley tercebur ke tangki cairan kimia. Momen itu menandai perubahan Harley dari seorang psikiater menjadi penjahat nan seksi dan konyol. Baca juga: Menertawakan Kepedihan Hidup Bersama Joker Ledakan di sebuah pabrik kimia oleh Harley itu jadi adegan pembuka film Birds of Prey and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn garapan sineas Cathy Yan. Film superhero kedelapan waralaba DC Extended Universe ini merupakan spin-off dari film sebelumnya, Suicide Squad (2016). Alur cerita lantas beringsut ke adegan konsekuensi Harley atas aksinya tersebut. Semua figur penjahat yang sebelumnya segan padanya karena dia pacarnya Joker, kini berbondong-bondong memburunya untuk membalas beragam ulah Harley yang mereka terima. Harley Quinn diburu banyak penjahat saat sudah putus dari Joker (Warner Bros. Pictures) Harley pontang-panting memberi perlawanan lewat sejumlah aksi konyol. Saat dia mulai kepayahan, Sionis mencoba menolongnya sembari mengajukan satu syarat. Sionis bersedia memerintahkan semua penjahat berhenti memburu Harley asalkan Harley bersedia menjalani misi untuknya: mengambil berlian milik keluarga mafia Bertinelli yang sedang berada di tangan gadis penjambret Cassandra Cain (Ella Jay Basco). Harley yang tak punya pilihan pun bersedia. Ditemani Dinah Lance alias Black Canary (Jurnee Smollett), biduan cum sopir pribadi Sionis, Harley menjalankan misinya. Namun, misi itu ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, Harley juga mulai dikejar-kejar detektif Renee Montoya (Rosie Perez). Sebagaimana Harley, Renee juga sedang berjuang melepaskan diskriminasi gender di Kepolisian Kota Gotham. Perjuangan Renee dimulai dari penyelidikan terhadap Sionis yang kemudian berujung pada perburuannya terhadap Harley yang sedang dimanfaatkan Sionis. Pun ketika Harley dan Black Canary sudah menciduk Cassandra, usaha mereka untuk menuntaskan misi diusik The Huntress (Mary Elizabeth Winstead), cewek jagoan yang acap main hakim sendiri. Baca juga: Captain Marvel , Antara Nostalgia dan Isu Feminisme The Huntress punya dendam pribadi terhadap para pembunuh keluarganya dan perburuannya juga berujung pada aksi perkelahian kocak dengan Harley. Pasalnya, The Huntress selain memburu dendam juga mencari berlian milik mendiang keluarganya. The Huntress belakangan diketahui Harley bernama asli Helena Bertinelli. Seiring alur berjalan, Harley, Black Canary, Renee Montoya, dan The Huntress menyadari bahwa mereka sedang jadi target permainan “Black Mask” Sionis. Keempatnya kemudian bersatu melindungi Cassandra dari Black Mask dan algojonya yang terkenal sadis, Victor Zsasz (Chris Messina). Mau tahu kelanjutan cerita action yang dibumbui aksi-aksi konyol dan kocaknya? Baiknya Anda tonton sendiri Birds of Prey di aplikasi daring Mola TV . Emansipasi Perempuan Kendati Birds of Prey menyematkan genre superhero , toh ia tak laik ditonton anak-anak. Seperti halnya Suicide Squad , film yang rilis perdana secara khusus pada 25 Januari 2020 dan secara umum dua pekan berselang ini sarat adegan sadis, vulgar, dan bertabur kata-kata kasar. Bagi penonton dewasa, Birds of Prey jadi suguhan menarik dan berbeda dari film-film pahlawan super kebanyakan. Pasalnya, Birds of Prey jadi film pertama yang menjadikan karakter Harley Quinn sebagai tokoh utama, di mana sebelumnya sekadar figuran pendamping Joker. Selain itu, sang sineas juga menyisipkan banyak isu emansipasi perempuan di dalamnya. Secara sinematografi, Birds of Prey digarap secara komikal dan dikemas dengan efek visual CGI (computer-generated imagery) yang cukup halus. Efek suaranya yang diracik komposer Daniel Pemberton juga sangat dinamis saat mengiringi adegan-adegan sadis, konyol, maupun menegangkan. Film kian kaya dengan sisipan sederet soundtrack dari genre rap hingga house music yang dibuat untuk menyesuaikan dengan style karakter Harley. Baca juga: Feminisme dalam Enola Holmes Isu emansipasi dibawakan lima tokoh jagoan perempuan dalam Birds of Prey ( dccomics.com ) Hanya saja, saat dirilis perdana, Birds of Prey gagal menarik perhatian publik dalam dua bulan penayangannya. Padahal dari beraneka testimoni kritikus film, Birds of Prey termasuk film ber-genre superhero yang direkomendasikan. Sang sineas menduga, para penikmat film memang belum siap sepenuhnya menerima tokoh jagoan perempuan. “Saya tahu rumah produksi punya ekspektasi yang sangat tinggi, sebagaimana juga kami tim produksi. Sebenarnya di ruang publik juga ada ekspektasi tentang film dengan tokoh utama perempuan, dan yang paling membuat saya kecewa adalah, ide dari film ini mungkin sudah jadi bukti bahwa kita semua belum siap. Semua orang seperti terlalu cepat menghakimi pada hanya satu sudut pandang,” ujar Yan kepada The Hollywood Reporter , 3 April 2020. Asal-usul Harley Quinn Selain menonjolkan isu-isu emansipasi perempuan, film ini juga jadi yang pertama menampilkan kumpulan superhero “Birds of Prey” di layar lebar. Sebelumnya, kumpulan “Birds of Prey” yang mulanya eksis di serial komik pada 1 Juni 1996, sekadar muncul di live-action di layar kaca lewat drama seri Birds of Prey di stasiun televisi The WB (2002-2003). Jika di versi drama seri tokoh yang lebih ditonjolkan adalah The Huntress dan Batgirl, di versi layar lebar, Harley diplot Yan sebagai tokoh utamanya. Yan juga menyisipkan riwayat Dr. Harleen Frances Quinzel alias Harley Quinn yang sejak kecil sering dibuang ke rumah-rumah asuh hingga menjadi psikiater yang jatuh cinta kepada pasiennya di Rumahsakit Jiwa Arkham, Joker. Belum pernah ada film yang membuka masa lalu Harley, tokoh yang diciptakan penulis komik Paul Dini dibantu ilustrator Bruce Timm pada 1992. Tokoh Harley sendiri dimunculkan Dini dan Timm bukan di komik, melainkan di season 1, episode ke-22 serial kartun Batman: The Animated Series bertajuk “Joker’s Favor” yang ditayangkan perdana oleh Fox Kids , 11 September 1992. Di versi komik, karakter Harley baru eksis di komik The Batman Adventures nomor 12 yang terbit pada September 1993. Baca juga: Para Pemeran di Balik Topeng Batman Margot Robbie menjadi orang pertama yang memerankan Harley di versi layar lebar dan itu membuat karakter fiktif tersebut kian kondang. Sejatinya tokoh Harley sudah populer sejak kemunculannya di versi kartun. Penggambaran karakternya sebagai sosok villain tiada dua. “Otak, otot, dan rupawan –Bruce Wayne bukan karakter DC Comics satu-satunya yang punya kombinasi ketiganya. Seorang psikolog bergelar doktor, punya fisik luwes dan kuat, serta bercitra ‘ femme fatale ’, Harley Quinn tak diragukan lagi jadi simbol karakter perempuan yang kuat di DC Universe. Dalam waktu singkat, ia memicu efek drastis pada pop culture selama 20 tahun dari kemunculan pertamanya. Padahal eksistensinya di waralaba Batman (animasi, red. ) mulanya tak pernah dimaksudkan untuk berkelanjutan dan hanya sekali muncul,” tulis Emilee Owens dalam “It Is to Laugh: The History of Harley Quinn” yang termaktub di buku The Ascendance of Harley Quinn: Essays on DC’s Enigmatic Villain. Harley Quinn dalam seri kartun 1992 (kiri) dan versi komik tahun 1993 (DC Comics) Penciptaan karakter Harley Quinn dikisahkan Paul Dini bahwa ilhamnya didapatnya secara tak sengaja saat jatuh sakit pada suatu hari di tahun 1992. Seperti diceritakannya kepada Digital Spy , 12 September 2017, di tahun itu sejatinya Dini sudah tidak jadi komikus tetap DC Comics. Namun dia tetap diminta bantuan sebagai penulis lepas untuk naskah serial kartun Batman: The Animated Series. “Pada suatu hari saya sedang sakit dan saat beristirahat di rumah, saya menonton (opera sabun) Days of Our Lives di televisi. Saya melihat teman lama saya sewaktu kuliah, Arleen Sorkin, di tayangan itu. Dia memainkan karakter badut perempuan dalam sebuah adegan fantasi. Saya berkata dalam hati: ‘mungkin akan lucu jika saya menggunakan karakter dia untuk karakter tukang pukul perempuan yang memang sudah lama saya ingin buat,’” kenang Dini. Baca juga: Asal-Usul si Kocak Deadpool Karakter tukang pukul perempuan itu akhirnya diadaptasi Dini untuk dikreasikan demi menambah tokoh sidekick yang ingin ia tampilkan bersama Joker di serial kartun di atas. Untuk menamakan karakter itu, Dini mengambil inspirasi dari karakter badut lawas khas Italia yang populer sejak abad ke-16, Arlecchino alias Harlequin. Nama Harlequin lantas ia utak-utik menjadi Harleen Quinzel alias Harley Quinn. “Saya menamainya Harley Quinn karena saya pikir nama depan Harley akan jadi nama yang lucu dan menarik untuk sosok seorang gadis, dan banyak nama karakter dalam (waralaba) Batman yang punya nama dari racikan dan permainan kata-kata. Seperti E Nygma, misalnya. Jadi Harleen Quinzel saya rasa pas untuk karakter baru ciptaan saya itu,” lanjutnya. Sosok badut klasik Arlecchino alias Harlequin ( Masques et bouffons ) Bruce Timm yang jadi ilustratornya lalu lalu menyempurnakan pendeskripsian sosok Harley Quinn dengan mengenakannya kostum badut ketat berwarna merah kombinasi hitam dan putih. Namun ketika muncul di serial kartun tersebut, Harley Quinn belum dilengkapi dengan riwayat oleh Dini. Pun di versi komik The Batman Adventures nomor 12 setahun berselang. Setelah melihat sambutan publik yang positif terhadap karakter Harley Quinn, Dini mengimbuhi latar belakang Harley Quinn di komik The Batman Adventures: Mad Love yang terbit pada 14 Desember 1994. “Dia diperkenalkan sebagai Dr. Harleen Quinzel, psikiater baru di RSJ Arkham yang berencana menulis sebuah buku tentang para kriminal gila yang ditahan di sana. Dia menantang dirinya sendiri untuk menangani Joker, yang justru Harley jadi korban manipulasi Joker hingga jatuh cinta. Saat Joker melarikan diri, Harley ikut dengannya dan jadi pendamping Joker yang paling disayang,” sambung Owens. Baca juga: Wajah Joker dalam Lima Aktor Harley Quinn terus mengalami perubahan penampilan. Di komik Suicide Squad yang rilis pada November 2011, Harley tak lagi tampil dengan kostum badut merah-hitam-putih. Sosoknya berubah menjadi lebih seksi dengan rambut hitam dan merah, mengenakan tank-top dan celana ketat berwarna senada, serta berkulit putih susu sebagaimana warna kulit Joker. “Perubahan drastis pada kostumnya sempat bikin syok dan memicu kemarahan fans. Kostumnya jadi kontroversial karena sangat menonjolkan seksualitas. Walau karakternya tetap populer, butuh waktu lama bagi fans untuk bisa menerima perubahan desain baru itu,” ungkap Owens lagi. Kostum seksi Harley Quinn di versi komik 2011 (kiri) & film Suicide Squad yang diperankan Margot Robbie (DC Comics/Warner Bros. Pictures) Kostum itu juga jadi inspirasi bagi perubahan penampilan Harley lewat film Suicide Squad yang diperankan Margot Robbie. Tim produksi film mengadaptasi kostum versi 2011 itu dengan beberapa perubahan: rambutnya berubah jadi pirang, tank-top merah-hitam berubah jadi t-shirt putih bertuliskan “Daddy’s Little Monster” dan jaket sepinggang bertuliskan “Property of Joker”, serta celana ketat yang diubah dari merah-hitam menjadi merah-biru dengan stoking jaring hitam. “Saat melihat imej Harley Quinn dari film Suicide Squad , saya berpikir: ‘Wah. Dia terlihat sangat manis! Mulanya saya sempat khawatir. Tapi tidak, toh penampilannya tidak terlalu buruk,” ujar Timm dikutip Owens. Baca juga: Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran Kaum feminis tetap kecewa pada penggambaran Harley yang tetap menonjolkan seksualitasnya. Kendati begitu, sejak diperankan Margot Robbie, karakter Harley makin kondang. Bahkan sejak 2015 kala Suicide Squad baru dirilis trailer -nya, mainan action figure Harley laris di pasaran. “Dari deretan action figures seri ‘DC Super Hero Girls’ seperti Wonder Woman, Batgirl, atau Poison Ivy, mainan Harley Quinn paling laris di kalangan remaja. Diane Nelson, presiden DC Entertainment, dalam pernyataannya pada 2015 mengatakan: ‘DC Super Hero Girls merepresentasikan pemberdayaan dalam strategi jangka panjang kami terkait keragaman karakter perempuan. Saya senang dengan karakter Harley, kami bisa menawarkan role model yang lebih relate dengan para remaja perempuan’,” tandas Owens. Data Film: Judul: Birds of Prey and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn| Sutradara: Cathy Yan | Produser: Bryan Unkeless, Sue Kroll, Margot Robbie | Pemain: Margot Robbie, Mary Elizabeth Winstead, Jurnee Smollett, Rosie Perez, Ewan McGregor, Ella Jay Basco, Chris Messina | Produksi: DC Films, LuckyChap Entertainment, Kroll & Co. Entertainment, Clubhouse Pictures | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: Superhero | Durasi: 109 menit | Rilis: 7 Februari 2020, Mola TV Baca juga: Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah
- Miras dari Air Kali Ciliwung
PERPRES 10/2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal memancing perdebatan sengit. Pokok masalahnya bukan pada keseluruhan Perpres, melainkan pada lampiran Perpres. Lampiran menyebut pembukaan investasi minuman keras di beberapa wilayah dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat. Tapi lampiran itu akhirnya dicabut. Minuman keras (miras) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah negeri ini. Tiap daerah mempunyai miras khasnya. Polemik tentang miras juga bukan hal baru. Pada masa kolonial, seorang pejabat kolonial bernama J. Kats mengeluarkan buku tentang manfaat dan mudarat miras alkohol. “Mengeluarkan kitab ini ialah dengan dua maksud, pertama: akan memberi pemandangan yang ringkas tentang masalah minuman keras, terutama sekali dapat dipakai untuk Hindia Belanda... dan kedua: akan memberi keterangan bagi guru-guru bumiputera yang hendak memperkatakan perkara ini apa waktu dia mengajar,” tulis J. Kats dalam Bahaja Minoeman Keras serta Daja Oepaja Mendjaoehinja terbitan 1920. Meski banyak penentangan terhadap miras, produksi miras jalan terus. Di Batavia, pabrik miras berdiri di sekitar aliran Kali Ciliwung. Yusna Sasanti Dadtun dalam tesisnya di Universitas Gadjah Mada berjudul “Air Api di Mulut Ciliwung: Sistem Produksi dan Perdagangan Minuman Keras di Batavia 1873–1898”, menyebut alasan pendirian pabrik itu di tepian Ciliwung. “Karena kayu gelondongan yang digunakan sebagai bahan bakar pabrik dialirkan melalui Sungai Ciliwung dan para pemilik pabrik minuman keras mengambil kayu gelondongan tersebut dari sungai,” tulis Yusna. Memasuki masa kemerdekaan, pabrik minuman keras di Kali Ciliwung berkurang drastis. Sisanya direlokasi. Tapi beberapa pabrik minuman keras masih mengandalkan Kali Ciliwung sebagai sarana produksinya. Misalnya pabrik bir Budjana Yasa. Sebelum kemerdekaan, pabrik ini milik orang Jerman, lalu jatuh ke orang Belanda, kemudian dinasionalisasi jadi perusahaan negara pada 1950-an. Nama produknya Angker Bir. Budjana Djaja membuat bir menggunakan air Kali Ciliwung. “Yang serba bau dan warnanya kotor kekuning-kuningan itu. Terangnya air untuk bir itu disedot dari salah satu sudut kali Banjir Kanal Timur,” ungkap Djaja, 10 Oktober 1964. Tak banyak orang tahu tentang ini sehingga Djaja memastikannya langsung ke pabriknya. Pembuatannya memang menyedot air Kali Ciliwung. “Namun berkat alat-alat teknik yang serba modern, maka air kotor serba bau dari Kali Ciliwung itu dapat disterilkan dan dirobah menjadi air bersih,” terang Djaja menenangkan pembaca dan penikmat bir. Bahan baku bir tak hanya air. Ada juga mauch (sejenis kembang palawija Eropa), hop, gandum, beras, ragi, dan gula. Tiga pertama masih perlu impor, sedangkan tiga terakhir sudah terdapat di dalam negeri. Dua bahan terakhir, beras dan gula, tak digunakan dalam bir impor. Mauch dan hop memberikan rasa pahit kepada bir lokal. Baunya harum dan berkhasiat untuk memberi rangsangan pada urat syaraf tubuh. Pembuatan bir di pabrik Budjana dimulai dari penyortiran gandum. Lamanya 4–8 hari. Lalu gandum dimasukan ke oven. Pabrik itu bisa menghabiskan 1 ton gandum untuk 100 liter bir. Selanjutnya peragian gandum. Bersamaan dengan pemasakan bahan bir seperti air, mauch, dan hop. Bahan-bahan itu lalu dicampur dalam satu ketel sehingga berubah menjadi alkohol dan CO2. Setelah itu, pendinginan bahan-bahan bir dalam suhu minus 0 derajat celcius. Kemudian masuk tahap penyaringan. Tiga kali saringannya supaya bersih. Terakhir, bir dituang ke dalam botol yang sudah disterilkan. Bir ditutup dengan penutup impor. Semua proses tadi telah menggunakan mesin-mesin modern. “Tenaga manusia hanya mengawasi,” tulis Djaja. Dengan begitu, kualitas bir pun tetap terjaga dan kuantitasnya stabil. Bir buatan Budjana Yasa dijual di hotel-hotel, pusat belanja kelas atas, dan tempat wisata lainnya sesuai aturan daerah. Harganya di bawah bir impor. Tapi tetap mahal buat kebanyakan orang. “Biasanya orang yang tiap hari minum bir adalah orang-orang yang padat kantongnya,” terang Djaja . Selama masa ini, permintaan bir di Jakarta terus meningkat. Selain itu, muncul pula desakan untuk inovasi rasa bir. Riset pun dilakukan dengan menggunakan jagung sebagai pengganti beras. “Hasilnya sangat memuaskan karena jagung tidak mengurangi kualitas bir,” ungkap Djaja . Selain Angker, pabrik bir di Jakarta juga memproduksi bir hitam Tjap Srimpi yang mengandung karamel. Popularitas bir ini cukup luas dan sering muncul di iklan-iklan media massa. Pada masa Ali Sadikin menjabat gubernur DKI Jakarta, pabrik bir Budjana Yasa diambil alih oleh pemerintah daerah. Investasi pemerintah daerah di perusahaan bir ini masih bertahan hingga sekarang.*
- Terowongan Kuno di Bawah Bendungan
PROYEK Bendungan Tamblang di Buleleng, Bali yang masih berjalan kelak akan memenuhi kebutuhan irigasi. Pada masa lalu pernah ada pembuatan saluran irigasi di tempat yang sama. Terowongan air kuno itu ditemukan di bawah poros fondasi utama Bendungan Tamblang. Tim peneliti Balai Arkeologi Bali sudah meninjau terowongan kuno itu pada 8 Desember 2020. Peneliti mencatat terowongan itu memiliki lebar 70 sentimeter dan tinggi 170 sentimeter. Ada banyak ceruk kecil di dinding terowongan. Kemungkinan dulu digunakan sebagai tempat menaruh sumber penerangan selama proses pembangunan. Agaknya sedimen sudah masuk ke dalam lubang terowongan yang berada di tebing tepi Sungai Aya itu. Keberadaan terowongan air di proyek Bendungan Tamblang menambah penemuan sistem irigasi peninggalan masa Bali Kuno. Balai Arkeologi Bali memperkirakan terowongan kuno itu merupakan peninggalan abad 11. Mereka mengambil rujukan dari Goa Raksasa yang memiliki kemiripan dimensi. “Dari ukuran dan jejak teknik pengerjaannya mirip,” kata Kepala Balai Arkeologi Wilayah Kerja Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, I Gusti Ngurah Suarbhawa kepada Historia.id , Rabu, 3 Maret 2021. Goa Raksasa merupakan sebutan masyarakat setempat terhadap sebuah terowongan tua yang berada di Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Di dinding terowonganitu terdapat pahatan tahun pembuatannya, yakni tahun Saka 993 (1071). Kurun itu pula perkiraan pembuatan terowongan di Bendungan Tamblang. Pada masa itu Kerajaan Bali Kuno dipimpin oleh Anak Wungsu. Ia anak Raja Udayana dan adik dari Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Anak Wungsu memerintah pada 1049 hingga 1077. Penemuan terowongan kuno itu bukti kehendak raja untuk memenuhi kebutuhan pengairan. Ahli Terowongan Bali dikenal memilikisistem pengairan tradisional subaksejak berabad-abad lampau. Keterangan mengenai sistem irigasi itutermuat di sejumlah prasasti Bali Kuno. Berbagai prasasti menjelaskan tentang bangunan penimbun air untuk irigasi. Prasasti Dawan (1053) menyebu t: “Bila sampai dua malam kekurangan air sampai rusak bendungan hal ini harus dilaporkan kepada pejabat keumatan atau pengawas.” Sementara Prasasti Klungkung A (1072) menyebut: “Untuk keperluan perbaikan bendungan diperkenankan menebang kelapa, pinang, enau, bambu ( petung , ampel) dan berbagai jenis kayu.” Adapun sumber terkait terowongan air termuat dalam Prasasti Bebetin AI (896). Termaktub penjelasan adanya kelompok masyarakat yang berprofesi sebagai ahli terowongan. Profesi itu dalam bahasa Bali disebut undagi pangarung . Keterangan tentang undagi pangarung juga ada dalam Prasasti Batuan (1022) bersama dengan tukang kayu ( undagi kayu) dan tukang batu ( undagi watu ). Prasasti Batuan menjelaskan, ahli terowongan kena pajak pendapatan dari hasil profesinya, yakni sebanyak satu kupang tiap tahun. Keterangan itu menyiratkan bahwa ahli terowongan sebagai pekerja profesional mendapat upah dan punya peran penting dalam kehidupan masyarakat Bali Kuno. Namun, tidak selalu pekerjaan ahli terowongan berjalan sukses. Bila mengamati bentuknya, terowongan di lokasi proyek Bendungan Tamblang tak tuntas pembuatannya pada masa lampau. Kenapa? Terowongan kuno yang ditemukan di area proyek Bendungan Tamblang, Buleleng, Bali. (Dok. Balai Arkeologi Bali). Menembus Batuan Ahli terowongan bukan cuma soal kepandaian menggunakan peralatan. Mereka harus mendalami pengetahuan tentang tanah, geodesi, dan hidrologi. Mereka terampil mengukur tanah, membuat garis lurus dan belokan, termasuk pula susunan tingkatan perbedaan tinggi untuk memastikan ketenangan air saat mengalir. Para ahli terowongan juga harus mengatasi tantangan adanya batu besar di tengah pengerjaan. Jika memungkinkan mereka akan memecah batu. Tapi bila tak mungkin, tukang menggali bagian lain untuk membelokkan arah terowongan. Namun kedua hal itu tampaknya tetap menjadi kendala utama pembuatan terowongan kuno di lokasi proyek Bendungan Tamblang. I Gusti Ngurah Suarbhawa mengatakan, terowongan kuno itu belum rampung karena keterbatasan teknologi.“Kemungkinan pembuatan terowongan itu gagal karena kondisi bebatuan,” katanya.Kondisi alam juga berpengaruh. Struktur bebatuan di Bali hampir keseluruhan bermula dari sebaran formasi purba Buyan-Beratan atau kejadian geologi yang membentuk daratan Pulau Bali. Formasi Buyan-Beratan bertaut dengan aktivitas lempeng tektonik yang kemudian membentuk gunung api di Bali. Susunan geologi itu menghasilkan batuan tuff lapili. Problem pembuatan terowongan air di masa lalu memang terkait batuan material yang tersusun menjadi daratan. Tim ahli geologi menemukan formasi tuff lapili, lava andesit, dan batuan intrusi di area proyek Bendungan Tamblang. Ada pula penemuan singkapan bekuan lava yang cukup keras. “Itu yang menjadi masalah teknis (pembuatan terowongan). Tidak hanya zaman dahulu, tapi juga sekarang,” kata Ida Bagus Oka Agastya, selaku anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Bali. Dia menambahkan, intrusi menyebabkan pembuatan terowongan mengalami kebuntuan. Setelah 10 abad berlalu, kini di tempat yang sama tengah dibangun proyek Bendungan Tamblang. Proyek ini sudah dikerjakan sejak September 2019. “Bendungan Tamblang akan memenuhi kebutuhan irigasi untuk 588 hektare lahan pertanian,” kata Pejabat Pembuat Komitmen Bendungan Balai Wilayah Sungai Bali-Penida, I Gede Pancarasa. Bendungan Tamblang juga akan menyuplai kebutuhan air baku dan pembangkit listrik mikrohidro. Keberadaan terowongan kuno di bawah poros fondasi utama bendungan menjadi tantangan tersendiri. “Perlu solusi penanganan agar tidak menjadi sumber kebocoran (bendungan) dan keruntuhan terowongan,” ucapnya.





















