top of page

Hasil pencarian

9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Memuja Dewi Cinta Mesopotamia

    Ishtar atau Inanna adalah salah satu dewi paling populer dari jajaran dewa-dewi Peradaban Mesopotamia. Ia merupakan dewi cinta paling awal di dunia kuno yang sering kali dipandang raja-raja Mesopotamia sebagai jalan legitimasi status mereka. Ishtar adalah nama yang diberikan oleh bangsa Akkadia, salah satu bangsa yang mendiami kawasan Mesopotamia. Sementara bangsa Sumeria yang juga mendiami kawasan itu memanggilnya dengan Inanna.  Selain dipercaya sebagai dewi cinta dan kesuburan, Ishtar atau Inanna di beberapa daerah juga dianggap sebagai pelindung para pekerja seks. Di sisi lain, ia juga dianggap sebagai dewi perang. “Ada penggambaran Ishtar atau Inanna sebagai seorang pejuang dalam pertempuran membawa tawanan,” tulisLouise Pryke, dosen Bahasa dan Sastra Israel Kuno di Macquarie University, Australia, sekaligus peraih gelar Ph.D Sejarah Timur Dekat Kuno dari University of Sydney,dalam “Friday essay: the legend of Ishtar, first goddess of love and war” di laman The Conversation .  Baca juga:  Di Balik Kematian Cleopatra Citra Ishtar atau Inanna itu kemudian berpengaruh pada lahirnya dewi cinta paling terkenal di dunia, yakni Aphrodite, dewi cinta dan kecantikan dari Yunani. “Dalam tradisi modern, Aphrodite membentuk citra pahlawan super Wonder Woman, dan citra Aphrodite sendiri dipengaruhi oleh Ishtar,” tulis Pryke. Baik Ishtar maupun Wonder Woman, lanjut Pryke, sama-sama merepresentasikan pejuang di medan perang. Mereka digambarkan mengenakan gelang dan tiara dan mengacungkan senjata tali. Di sisi lain menunjukkan cinta, kesetiaan, dan komitmen yang kuat terhadap keadilan. “Di zaman modern, cinta dikatakan menaklukkan segalanya dan di dunia kuno Ishtar mewujudkan hal itu,” catat Pryke. Simbol Persatuan Bangsa Mesopotamia yang berarti “tanah di antara sungai-sungai” dalam bahasa Yunani Kuno, merupakan pusat peradaban paling awal di dunia. Kawasan ini merupakan lahan subur yang berada di antara dua aliran sungai besar, Sungai Eufrat dan Tigris. Yang menghuni adalah orang-orang Sumeria, Akkadia, Babilonia, dan Asiria. Kini, kira-kira wilayahnya sama dengan Irak modern, sebagian Iran, Suriah, Kuwait, dan Turki.  Sebagai dewi Mesopotamia yang paling terkenal, Ishtar dihormati di seluruh jangkauan geografis Timur Dekat Kuno yang luas selama ribuan tahun. Dia bukan sekadar dewi cinta, tapi juga dewi kesuburan, perang, dan bintang senja dan pagi: bintang Venus. Kultus Ishtar atau Inanna yang berkembang dan menyebar ke seluruh wilayah Timur Dekat Kuno dimulai sejak munculnya Kekaisaran Akkadia yang didirikan oleh Sargon, raja dari Akkadia.  Baca juga:  Mumi Berlidah Emas dari Mesir Mengutip History , Sargon memperluas kerajaannya melalui serangkaian serangan militer hingga menaklukkan seluruh Sumeria. Ia tidak hanya menyatukan Sumeria dan Akkadia, tetapi memperluas kerajaannya hingga ke Suriah, Fenisia, Kanaan, Anatolia, bahkan hingga Siprus. Dengan gelar Sargon Agung, ia lalu membentuk Kekaisaran Akkadia (2234–2154 SM), kerajaan multikultural pertama di dunia dengan pemerintah terpusat. Sejarawan Jennette Adair dalam tesisnya di University of South Africa berjudul "Certain Aspects of the Goddess in the Ancient Near East (10.000–330 BCE)" menjelaskan, bersama dengan pembentukan Kekaisaran Akkadia, bahasa tertulis Sumeria digunakan. Sementara Akkadia menjadi bahasa resmi.  “Oleh karena itu Dewi Inanna dikenal dengan nama Akkadia-nya, Ishtar,” tulis Adair.  Baca juga:  Di Balik Kutukan Makam Firaun Menurut Adair, bagi Sargon, Inanna dan Ishtar adalah landasan teologis yang dapat menstabilkan persatuan Kerajaan Sumeria dan Akkadia. “Raja-raja Akkadia percaya mereka adalah kekasih Ishtar dan kesuksesan mereka dikaitkan dengan sang dewi,” lanjut Adair.  Selama masa pemerintahan Sargon, di mana pun pengaruhnya ada, maka peran Ishtar akan menonjol. Ketika pengaruh Ishtar menyebar lebih jauh ke Barat, menyebar ke negara lain, namanya terus diubah agar sesuai dengan bahasa budayanya. Misalnya,Ashtarte atau Ashart yang dikenal oleh budaya Fenisia dan Astoreth pada orang-orang Kanaan. Setelah Kekaisaran Akkadia, timbulah Dinasti Ur III (2100–2000 SM). Selama periode ini terjadikebangkitan budaya, sastra, dan bahasa Sumeria.  Lalu selama era Babilonia berikutnya (1750 SM), nyanyi-nyanyian dan mitos kembali ditulis dalam bahasa Akkadia. Peran Inanna pun tetap sama, walaupun ia dikenal dengan nama Ishtar.  Gerbang Ishtar di sisi utara kota Babilonia yang dibangun pada sekira 575 SM atas perintah Raja Nebukadnezar II. (Focus and Blur/Shutterstock). Kedudukan Perempuan Pada masa kekuasaan Babilonia, khususnya setelah pembentukan Kekaisaran Babilonia Lama di bawah Hammurabi (1750 SM), ideologi agama berubah signifikan. Dewi agung dibayangi oleh sosok dewa tertinggi.  “Ini yang akan mengubah paradigma umum kesadaran dalam teologi dan ideologi di kawasan Timur Dekat Kuno,” jelas Adair. Alasan perubahan ini sebenarnya sulit untuk didefinisikan. Namun, ini adalah proses bertahap yang dimulai menjelang akhir Zaman Perunggu.  “Pada akhir milenium ke-2 SM, kosmos didominasi oleh dewa laki-laki, dengan hanya Ishtar yang mempertahankan posisi kekuasaannya,” lanjut Adair.  Baca juga:  Melihat Kehidupan Orang Romawi Lewat Lubang Jamban Adair menduga, perubahan itu mungkin cerminan status sosial perempuan yang mulai menurun. Kekuatan perempuan dalam masyarakat berkurang. Demikian pula dengan peran mereka dalam agama.  Dengan munculnya negara-bangsa melawan negara kota yang lebih kecil, ada kebutuhan bagi pahlawan atau raja untuk memimpin dan melindungi. Ini juga merusak peran publik dan sosial perempuan. Maka, dunia pada akhir milenium ke-2 pun tak lagi memandang dewi sebagai pelindung terkuat kehidupan manusia. Penduduk desa, kota, dan negara merasa bahwa dewa laki-laki akan lebih kuat dan lebih mampu melindungi mereka dan tanah mereka.  “Hal ini khususnya terjadi pada periode Asiria (934–608 SM), status perempuan baik dalam peran pribadi maupun publik menurun,” kata Adair.  Namun Ishtar, dengan semua versi namanya, tidak pernah kehilangan pengaruh. “Kita dapat melihat bagaimana kepercayaan orang Kanaan, Fenisia, dan Israel mencerminkan dewi ibu,” lanjutnya. "Burney Relief" diyakini mewakili Ishtar dari sekira abad ke-19 atau ke-18 SM. Sepasang singa terlihat di kakinya. (Wikipedia). Di Luar Peran Domestik Perempuan Begitulah Ishtar,  di Mesopotamia  disembah s elama lebih dari 3.500 tahun dalam berbagai perannya. Sebagai dewi cinta, Ishtar tak hanya dihubungkan dengan cinta romantis, tetapi juga cinta keluarga, cinta antarmasyarakat, dan cinta seksual.  Sementara di medan perang, Ishtar adalah dewi cinta yang menakutkan. Pemujanya percaya kalau sang dewi memiliki kekuatan untuk menentukan nasib dan memastikan kemenangan dalam peperangan.   “Kecantikannya adalah subyek puisi cinta, dan amarahnya diibaratkan badai yang merusak,” kata Pryke. “Tetapi dalam kapasitasnya untuk membentuk takdir dan keberuntungan, dua citra itu berada di dua sisi dari mata uang yang sama.” Baca juga:  Mengintip Isi Dapur Firaun Ishtar digambarkan sebagai sosok yang baik dan peduli. Namun, ada keganasan yang kejam dalam kepribadiannya. Ishtar digambarkan dengan sifat pengasuh. Namun, ia bisa jadi liar dan sering menyebabkan kekacauan sosial. “Ini adalah paradoks sifatnya yang menggabungkan dasar-dasar keteraturan dan ketidakteraturan,” lanjut Pryke.  Rivkah Harris dalam “Inanna-Ishtar as Paradox and a Coincidence of Opposites” yang terbit dalam History of Religions (1991) mencatat kendati Inanna-Ishtar adalah seorang istri dan ibu, keduanya tidak memiliki arti penting dalam mitologinya. Doa, himne, mitos yang dikenal mengumandangkannya sebagai dewi di arena publik yang punya kuasa dan ketenaran.  “Dia tidak terlibat dalam kegiatan feminin seperti menenun dan mengasuh anak. Peran dewi pejuang menempatkannya di luar wilayah domestik perempuan,” jelas Harris. Baca juga:  Ketika Firaun Keliling Dunia Berkali-kali teks menekankan kehausan darahnya, kecintaannya pada perang dan pembantaian. Kisah-kisah tentangnya berbunyi: “Pertempuran adalah pesta untuknya”, “Dia mencuci alat dengan darah pertempuran”, “Dia membuka pintu pertempuran”, dan lain sebagainya.  Pada saat yang sama, kasih sayang Inanna-Ishtar untuk raja-raja Mesopotamia berulang kali dicatat. Itu seperti: “Dia (Ishtar) memelukmu dengan baik (seperti anak kecil)”, “Dalam dadanya yang penuh kasih dia memelukmu dan melindungi seluruh sosokmu”. Secara khusus, singa selalu dikaitkan dengan Ishtar. “Dia adalah satu-satunya dewi yang memiliki julukan singa ( labbatu ) dengan keganasan dan kekuatannya yang mengamuk itu memang julukan yang pas,” tulis Harris.

  • Demam Kebal Peluru di Front Bandung

    MENJELANG revolusi bergulir di Front Bandung, tersebutlah seorang “kiai sakti” bernama Abdulhamid di Ciamis. Rumor mengatakan dia memiliki sebuah “sumur keramat” yang airnya bisa membuat seseorang kebal terhadap senjata tajam dan peluru. Maka berduyun-duyunlah para pemuda yang tengah mengidap demam kebal peluru datang untuk menemuinya. “Konon setiap hari dia bisa menerima pasien hingga jumlah ratusan orang,” ungkap Odoy Soedarja, anggota intelijen Divisi Siliwangi pada era 1946-1949. Soal kiai Ciamis itu sempat dibahas oleh sejarawan John R.W. Smail dalam bukunya, Bandung in the Early Revolution 1945-1946. Menurut Smail, begitu besarnya reputasi sang kiai hingga banyak pemuda (sebagian dari kalangan terpelajar) dan orang dewasa rela menempuh jarak 250 mil perjalanan pulang-pergi dengan kereta api hanya untuk menemuinya.

  • Tionghoa Priangan dalam Pusaran Revolusi

    YUSUP Soepardi (96) masih ingat ketika suatu hari dia menyaksikan para lelaki muda Tionghoa di Cianjur tetiba bersenjata. Mereka ditugaskan oleh militer Belanda untuk menjaga berbagai fasilitas ekonomi terutama pabrik-pabrik yang banyak bertebaran di berbagai perkebunan. Memang orang-orang Tionghoa itu bukan satu-satunya kelompok yang dipersenjatai militer Belanda. Menurut Yusup, ada unit-unit lain yang terdiri dari orang-orang Sunda dan Jawa yang tergabung dalam OW (Onderneming Wacht) dan CP (Civiele Politie). “Mereka memiliki tugas yang sama dan kerap bekerjasama menghadapi pejuang-pejuang Republik,” ungkap mantan anggota telik sandi dari lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) Cianjur itu. Lantas siapakah orang-orang Tionghoa bersenjata itu? Yusup masih mengingat bahwa mereka menamakan diri sebagai Pao An Tui (Badan Pelindung Keselamatan). Sejarah mencatat organ keamanan masyarakat Tionghoa yang didirikan pada 28 Agustus 1947 tersebut memang memilih jalan berlawanan dengan pemerintah Republik dan secara tegas memihak Belanda. “Orang-orang Tionghoa yang menjadi korban 'masa bersiap' membentuk Pao An Tui dengan dalih untuk membela diri dari gangguan orang-orang Republik,” ujar Sulardi, penulis buku  Pao An Tui 1947-1949, Tentara Cina Jakarta . Kelompok etnis Tionghoa di Priangan memang ada dalam situasi dilematis saat peperangan mulai melanda kawasan barat Jawa. Menurut sejarawan John R.W. Smail, bisa dikatakan mereka merupakan “kambing hitam revolusi” yang dianggap pragmatis dan tega berkhianat terhadap perjuangan kaum Republik. Hal itu terlihat saat kaum Republik menjalankan aksi pemboikotan terhadap orang-orang Eropa, Indo dan kaum yang dianggap identik pro Belanda. Alih-alih mendukung aksi tersebut, para pedagang Tionghoa justru masih menjalankan transaksi dan memasok kebutuhan pokok orang-orang yang dicap sebagai “begundal penjajah” tersebut. Maka tak heran jika pasca proklamasi Republik Indonesia (RI), mereka menjadi sasaran amuk. Smail menyebut bahwa di Bandung sendiri kerusakan terparah akibat amuk kaum Republik terjadi di distrik Tionghoa yang terletak di sebelah barat alun-alun. “Ada memang di antara mereka yang berupaya menyelamatkan toko-tokonya dengan menyuap beberapa kelompok pemuda, namun itu hanya sementara. Selanjutnya mereka tetap menjadi korban anarki yang merajalela,” ungkap Smail dalam Bandung in the Early Revolution 1945-1946 . Berdasarkan situasi seperti itu, adalah wajar jika orang-orang Tionghoa pada akhirnya bersikap defensif. Sebagai kaum pedagang, mereka kerap menjalankan pilihan-pilihan pragmatis dan lebih cenderung melancarkan aksi “cari selamat” guna melanjutkan hidup mereka. Namun tidak seluruhnya orang-orang Tionghoa memilih jalan itu. Sebagian dari mereka yang sudah merasa menjadi bagian dari Indonesia justru ikut bahu- membahu bersama kaum Republik baik sebagai pemasok logistik, informan, tenaga kesehatan bahkan kaum pemanggul senjata. “Di wilayah Tegalega, dulu saya mengenal seorang Tionghoa bernama Akew. Dia pemilik toko yang kerap melindungi pejuang-pejuang kita yang sedang menyelundup ke kota,” ungkap Odoy Soedarja, anggota intelijen Divisi Siliwangi pada era 1946—1949. Tidak cukup melindungi keselamatan para pejuang Republik, Akew juga merupakan pemasok utama logistik ke markas-markas  pejuang di sekitar Bandung. Tak jarang dia pun memberikan informasi-informasi penting terkait pergerakan tentara Belanda di Bandung. Nasib Akew pada akhirnya berakhir buruk. Karena pengaduan seorang tetangganya, dia kemudian diciduk oleh serdadu Belanda dan tak pernah diketahui keberadaannya hingga kini. Informasi yang didapat Soedarja, Akew dibuang ke Nusakambangan dan meninggal sebagai tawanan Republik di pulau dekat Cilacap itu. Soedarja pun mengenal seorang petugas perempuan Palang Merah bernama Oting (Oey Tiong Li). Gadis Peranakan Tionghoa itu terbilang aktif merawat dan mengobati para pejuang yang terluka di front Padalarang. “Seingat saya dia tergabung dengan lasykar KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi),” ujar lelaki yang lahir pada 1924 itu. Keberadaan orang Tionghoa dalam unit-unit lasykar kaum Republik juga saya temukan dalam dokumen-dokumen Dewan Harian Cabang Angkatan 45 Kabupaten Cianjur. Dalam suatu dokumen berjudul “Beberapa Catatan Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1942—1949” terbuhul seorang pejuang dari etnis Tionghoa bernama Muji Raharjo alias Asen. Disebutkan Asen yang lahir pada 20 Januari 1928 itu sudah terlibat dalam perjuangan kaum Republik sejak 1945. Dia ikut melucuti tentara Jepang yang bermarkas di Cipanas dan Pacet. Dalam aksi pelucutan itu, Asen berhasil merampas sepucuk pistol Jepang (Nambu) dan dua pucuk senjata doble loop. “Tahun 1945-1949, Asen ikut berjuang melawan Belanda dengan bergabung bersama unit lasykar Pesindo (Pemoeda Sosialis Indonesia) cabang Cipanas-Pacet pimpinan seorang Sunda bernama Adang Somadihardja,” demikian menurut dokumen tersebut. Selain ditugaskan untuk mencari senjata, Asen pun harus membentuk jaringan logistik di antara orang-orang Tionghoa pro-Republik. Bersama rekan Tionghoa lainnya seperti Gwan, Wik Hok dan Okih, Asen juga memasok kebutuhan untuk Tentara Keamanan Rakjat (TKR) dan lasykar-lasykar lain seperti BBRI dan Hizbullah. Bermodalkan sebuah gunto ( pedang Jepang), Asen kadang ikut melakukan penyerangan terhadap posisi-posisi tentara Belanda di Cipanas dan Pacet. Hingga masa tuanya, gunto itu masih dirawatnya sebagai kenang-kenangan. “Pedang itu tak mungkin saya berikan kepada siapa pun, kecuali jika Gedung Juang Kabupaten Cianjur akan membuat museum, saya bersedia menyerahkannya,” ujar lelaki Tionghoa yang sudah wafat sejak tahun 2000 tersebut.*

  • Cara Sinshe Melawan Flu Spanyol

    PANDEMI Covid-19 belum berakhir. Keberadaannya masih mengancam hidup warga dunia. Tercatat sudah lebih dari 100 juta orang terjangkit, dengan angka kematian mencapai dua juta jiwa, di seluruh dunia. Indonesia sendiri menempati urutan teratas negara dengan kasus positif terbesar di Asia Tenggara. Dalam sehari, lonjakan kasus di negara kepulauan ini bisa mencapai ribuan kasus, yang tersebar di seluruh wilayah. Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah dalam mencegah kenaikan kasus Covid-19 di Tanah Air. Mulai dari pemberlakuan jam malam, pembatasan kegiatan, anjuran untuk tetap tinggal di rumah, hingga edukasi tentang pentingnya penggunaan masker. Terbaru, pemerintah telah menyiapkan vaksin, yang rencananya akan diberikan kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Vaksin produksi Sinovac tersebut telah melalui uji klinis, dan memperoleh izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta fatwa halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Presiden RI Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksin itu. Diberitakan laman Presiden Republik Indonesia , presiden bersama sejumlah penerima awal vaksin lainnya menerima suntikan dosis vaksin Covid-19 di Istana Merdeka, Jakarta (13/01/2021). “Tentunya saya berharap, nanti seluruh masyarakat, seluruh rakyat, bersedia divaksin karena ini adalah upaya kita untuk bebas dari pendemi. Mengenai waktunya kapan semuanya harus bersabar karena akan diatur dan dilakukan secara bertahap. Tapi yang pasti vaksin ini gratis,” ujar Presiden Jokowi. Di masa lalu, saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda, pemerintah kolonial pun pernah dihadapkan dengan permasalahan pandemi yang menjangkit seluruh negeri. Pandemi terbesar terjadi di awal abad ke-20, ketika pandemi flu Spanyol menebar teror di Tanah Air. Pemerintah Hindia Belanda berjibaku menekan jatuhnya korban jiwa akibat virus tersebut. Mereka mengupayakan segala bentuk penanganan dan pengetahuan kesehatan dari negeri mereka agar pandemi cepat berlalu. Warga Eropa dan Bumiputera benar-benar bertumpu pada pemerintah Hindia Belanda. Sementara masyarakat Tionghoa, sebagai salah satu golongan asing terbesar di Hindia Belanda kala itu, tidak sepenuhnya menggantungkan nasib pada pengetahuan kesehatan pemerintah kolonial. Mereka jelas ikut terdampak pandemi flu Spanyol, tetapi tidak seperti pemerintah Hindia Belanda dengan pengobatan ala baratnya, masyarakat dari daratan Timur itu memiliki metode kesehatan tersendiri dalam menghadapi pandemi yang menjangkit tempat bernaung mereka. Tidak digunakannya cara pengobatan Barat oleh masyarakat Tionghoa merupakan salah satu bentuk ketidakpercayaan mereka terhadap pemerintah kolonial. Seperti diceritakan sejarawan Ravando Lie dalam acara Dialog Sejarah Historia.ID , “Riwayat Pandemi dari Masa ke Masa”, Kamis (24/09/2020), pemerintah Hindia Belanda telah gagal menangani pandemi flu Spanyol. Mereka terlalu menganggap enteng virus tersebut dengan menyebutnya bukan penyakit berbahaya, dan kerap menyamakannya dengan influenza biasa. “Kasus di Indonesia menurut saya agak sedikit memprihatinkan. Pada pelaksanaannya tak ada strategi awal apapun oleh pemerintah kolonial,” kata Ravando. Kenyataannya teror flu Spanyol yang menjangkiti seluruh negeri keberadaannya tak terkontrol. Koran Sin Po  memberitakan bagaimana pandemi telah menghilangkan nyawa 100 kuli Tionghoa dan 60 polisi di Medan, Sumatra Utara. Begitu pula kasus tewasnya puluhan orang Tionghoa di Pare, Jawa Tengah akibat keganasan virus tersebut. Itu terjadi lantaran pemerintah Belanda tidak menyiapkan tenaga medis yang cukup di setiap daerah. Di Pare sendiri hanya tersedia seorang dokter saja. Sementara tiap harinya ribuan orang datang untuk berobat. Kondisi itu membuat masyarakat memutuskan untuk mencari pertolongan kepada sinshe (dokter pengobatan Tionghoa). Sedang lainnya hanya bergantung pada kemanjuran obat-obatan tradisional. “Kompleksnya permasalahan tersebut membuat penduduk yang tidak tahu harus melakukan apa, memilih untuk melakukan pengobatan alternatif, mulai dari menggunakan ramuan tradisional, sampai melakukan berbagai ritual keagamaan,” ujar Ravando dalam Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919 . Menurut Hans Pols dalam East Asia Science, Technology and Society , sebagaimana dikutip Ravando, orang-orang Tionghoa telah memainkan peran penting di dunia kesehatan Hindia Belanda sejak 1880-an. Mereka menjual banyak obat-obatan herbal hasil racikan dari resep leluhur mereka. Di samping beragam herbal dari luar negeri, termasuk dataran Tiongkok, dan obat-obatan dari dunia Barat. Obat-obatan alternatif itu menjadi pilihan penting dalam menghadapi amukan flu Spanyol, baik bagi penduduk Tionghoa maupun Bumiputera. Apalagi tarif dokter dan rumah sakit tidak bisa dijangkau oleh kebanyakan orang. Sehingga menggunakan herbal racikan para sinshe  atau pergi ke dukun menjadi opsi terbaik saat itu yang bisa dipilih masyarakat. Para sinshe  di berbagai daerah juga mulai bermunculan, memberikan resep-resep hasil racikannya kepada masyarakat. Misalnya, dalam surat kabar Tjhoen Tjhioe , seorang sinshe terkemuka dari Wonogiri, Phoa Tjong Kwan membagikan resep dan langkah untuk mengobati pasien flu Spanyol. Untuk demam tinggi, dia menganjurkan meminum air perasan labu putih dengan campuran garam. Sementara untuk batuk, pasien bisa menggunkan campuran kecap manis dan perasan jeruk nipis. Di Madiun, ada seorang sinshe yang oleh masyarakat dikenal sebagai ahli mengobati segala penyakit, bernama Tan Bing In. Bagi penduduk Madiun, obat racikan Tan Bing In lebih mujarab mengobati demam ketimbang aspirin tablet. Kemudian di Bogor dan Batavia, dikenal sinshe Tan Tik Sioe dari Tulungagung yang dengan murah hati membagikan resep obat manjur menghadapi flu Spanyol. Segala resep yang dia bagikan dapat diperoleh secara cuma-cuma, tidak hanya bagi orang Tionghoa tetapi juga bumiputra. “Berbagai surat kabar silih berganti mempublikasikan obat-obatan tradisional yang dipercaya dapat mengobati influenza. Di saat negara dilanda kebingungan terkait tindakan yang harus diambil guna menghadapi flu Spanyol, berbagai kalangan berupaya menemukan obat-obatannya sendiri,” ujar Ravando.*

  • Ahmad Yani dalam Seragam PETA

    MELETUSNYA Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar pada 14 Februari 1945 mengubah situasi di semua daidan alias batalyon. Hampir semua perwira muda PETA berpangkat shodancho  (komandan kompi, red. ) ke atas dicurigai Jepang. Ahmad Yani dan Sarwo Edhie dua di antaranya. Pemberontakan para serdadu PETA di Daidan  Blitar pimpinan Shodancho  Supriyadi 76 tahun lampau memang akhirnya kandas. Sejumlah pelakunya ditangkap hingga dieksekusi. Beberapa di antaranya dinyatakan hilang secara misterius, termasuk Supriyadi. Ketika peristiwa itu meletus hingga dinetralisir Jepang, nyaris semua daidan  di Jawa Tengah dan Jawa Barat belum mengetahuinya. Jepang menerapkan isolasi agar satu daidan  dengan daidan  lainnya yang tersebar dari Jakarta hingga Jawa Timur tak saling berhubungan. Maka pemberontakan PETA di Blitar, Cimahi, dan Cilacap pun tak terdengar daidan-daidan  di kota-kota lain. Hanya beberapa perwira muda PETA yang menginsyafinya lewat sejumlah gelagat aneh Jepang di markas-markas mereka. “Pada saat pemberontakan PETA Blitar meletus, seluruh Daidan dijaga, dikonsinyir oleh Jepang selama dua hari. Kepada para perwira diajukan pertanyaan-pertanyaan oleh Jepang dalam usahanya menjaga sikap anggota-anggota PETA,” tulis tim Dinas Sejarah Militer dalam Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro . Ahmad Yani dan Sarwo Edhie juga termasuk di antara perwira PETA yang ditanyai. Keduanya akhirnya dimutasi dari Prembun ke Bogor, markas PETA tempat awal mereka ditempa satu setengah tahun sebelumnya. Memutasi beberapa perwira PETA menjadi salah satu langkah preventif Jepang agar peristiwa serupa tak terulang. “Yani, Sarwo Edhie dan Sudarmadji kembali (ditempatkan) ke Bogor dan diwajibkan belajar bahasa Jepang lagi. Belakangan mereka sadari sebenarnya ketiganya termasuk orang-orang yang dicurigai Jepang. Karena perkembangan itu seluruh satuan PETA dilucuti dan Yani dan kawan-kawannya mendapat tugas untuk menjaga asrama-asrama PETA (Bogor) tanpa peluru,” kata Amelia Yani mengisahkan pengalaman ayahnya, mendiang pahlawan revolusi Jenderal Ahmad Yani, semasa berseragam PETA dalam Profil Seorang Prajurit TNI. Kisah Lucu Ahmad Yani di Markas PETA Kala Jepang masuk Indonesia pada 1942, hidup Ahmad Yani ikut berubah. Ia yang sebelumnya baru menyelesaikan pendidikan topografi di Topografische Dienst di Malang, tak bisa melanjutkan sekolahnya lagi di AMS B (Algemeene Middelbare School, afdeling  B) di Batavia. Maka setelah pulang kampung ke Purworejo, Ahmad Yani tak punya pilihan selain melanjutkan pendidikannya ke institusi-institusi yang didirikan Jepang. Jawa Boei Gyugun Kanbu Renseitai , semacam sekolah pendidikan militer di Magelang, jadi pilihannya pada pertengahan 1943. Sekolah itu juga dimasuki Sarwo Edhie dan Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, putra tunggal Raden Adjeng Kartini. Di sana, pemuda Yani mendapat pelatihan fisik dan latihan yang bersifat akademik. Mengetik dengan mesin tik salah satunya. Demi melancarkan keterampilannya di mesin tik, Yani kursus mengetik di sanggar ARTI di Purworejo. Di sini pula Yani berkenalan dengan Yayuk Ruliyah Sutodiwiryo, perempuan yang kemudian dinikahinya. Diorama pendidikan perwira PETA di Museum PETA Bogor (Randy Wirayudha/Historia) Dari Renseitai , Ahmad Yani didaftarkan untuk ditempa lagi sebagai calon perwira berpangkat shodancho di Bogor pada Oktober 1943 bersama sekira 100 jebolan Renseitai Magelang, termasuk Sarwo Edhie. Di Bogor, Yani berkenalan dengan banyak pemuda yang kelak jadi petinggi TNI di masa perjuangan, seperti Zulkifli Lubis yang datang dari Renseitai Cimahi. “Selama pendidikan shodancho berjalan, regu bapak dinilai oleh pelatih Jepang maupun kawan-kawannya lebih maju daripada yang lain. Sebagai bekas Renseitai dan regunya dinilai cukup baik, regu Yani tak lagi ikut merangkak dalam latihan fisik tetapi lebih sering jadi pembantu pelatih. Biasanya memerankan kelompok musuh dan saat menunggu latihan serangan kepada kelompok Yani, dipakai untuk mencari kopi. Saat siswa menyerbu, regu Yani sudah menghabiskan kopi mereka semua,” sambung Amelia. Anekdot lain datang dari kerapnya Yani memanfaatkan “reputasinya” sebagai salah satu calon perwira terbaik dari penilaian Jepang dengan sejumlah aksi akal-akalan demi mengisi perutnya. Aksi itu dilakukannya karena jatah makan di markas selalu dibatasi Jepang. “Biasanya pada malam hari, apabila dapur sudah dikunci, Yani gemar mencuri roti yang besar dan keras, namanya roche brood , yang ditaruh di bakul bambu di ujung dapur, jauh dari pintu. Untuk mengambilnya harus pakai galah. Yani selalu berhasil mengambilnya tetapi tak pernah tertangkap atau ketahuan,” ujar mantan duta besar RI untuk Bosnia dan Herzegovina tersebut. Parade Serdadu PETA didikan Jepang (Randy Wirayudha-Historia/Repro Koleksi Museum PETA Bogor) Yani dikenal kawan-kawan seasramanya sebagai orang yang langganan kelayapan ke luar markas tanpa izin Jepang. Itu dilakukan Yani dengan lompat pagar. Sebagai imbalan tutup mulut buat kawan-kawannya, Yani selalu membawakan “buah tangan” berupa singkong atau pisang goreng. Yani dan kawan-kawannya baru kena batunya tepat sehari sebelum dilantik untuk kelulusan pendidikan mereka. Kisahnya berawal dari hilangnya arloji milik Tresno, kawan Yani. Kejadian yang dianggap memalukan itu berujung pada hukuman berjaga semalam suntuk bagi seluruh peleton. Untuk menanggulangi serangan kantuk, Yani dan kawan-kawannya mengakalinya saat sedang tidak diawasi serdadu Jepang. Dalam kurun waktu tertentu, setiap kawannya akan bergantian bergantian untuk terjaga agar yang lain bisa tidur. Akal-akalan itu akhirnya terpergok gegara kecerobohan Yani. “Tiba giliran Yani kira-kira pukul tiga pagi. Yani sambil tiarap di pinggir tempat tidurnya, menungging mengintip dari celah bawah pintu, kalau-kalau melihat ada kaki (serdadu) Jepang lewat. Celakanya saat pengawas Jepang lewat, Yani ternyata tak memberi aba-aba apapun. Tentu saja mereka harus mengulangi hukuman berat, saling menempeleng satu sama lain. Setelah pengawas pergi, seluruh peleton menggerutu: ‘ Sopo sing jogo mau (siapa yang giliran jaga tadi)?’ Yani menjawab: ‘Aku! Tapi turu (tapi tidur)!’” lanjut Amelia. Pelantikan para perwira PETA di Lapangan Gambir (Randy Wirayudha-Historia/Repro Koleksi Museum PETA Bogor) Keesokannya, mereka tetap dilantik di Lapangan Gambir dan resmi menyandang pangkat shodancho . Shodancho Yani kemudian ditempatkan ke Daidan Prembun (Kebumen), membuatnya bisa dekat lagi dengan kekasihnya, Yayuk, di Purworejo. Keduanya kemudian menikah pada 5 Desember 1944. “Tentu saja Yani tidak melapor karena ada peraturan bahwa seorang shodancho dalam kurun waktu tertentu belum boleh menikah. Oleh karenanya pada 6 Desember subuh Yani sudah harus meninggalkan pengantin barunya,” tambah mantan politikus Partai Hanura tersebut. Namun, kehidupan Shodancho Yani di Daidan Prembun justru lebih memprihatinkan ketimbang saat masih di asrama PETA Bogor. Situasi Jepang yang makin pelik di Perang Pasifik berimbas pada minimnya jatah makanan layak bagi para perwira PETA. “Keadaan ekonomi juga merosot terus. Tentara PETA di Prembun mulai hanya memakai baju sobek-sobek. Hem (kemeja) putih di dalamnya tinggal kerahnya saja. Makan pagi biasanya berupa bubur lem atau kanji. Hanya makan siang dan malam mereka mendapat nasi. Sekali-sekali mereka mendapat jatah ayam goreng. Supaya ayam goreng Yani tidak dicuri temannya, biasanya diidoni disik (diludahi dulu) supaya tak ada yang tega mencurinya,” tandas Amelia.

  • Orang Tionghoa Indonesia di Tengah Pandemi Flu Spanyol

    TAHUN 1918, pandemi influenza membuat gempar dunia. Jutaan orang meninggal dunia setelah diserang flu tersebut. Belum diketahui secara pasti dari mana wabah ini bermula. Ada yang menyebut berasal dari Amerika, ada yang menyebut dari Swedia dan Rusia, ada pula yang menduga virus dibawa buruh Tiongkok dan Vietnam. Media Spanyol yang secara besar-besaran memberitakan wabah ini kemudian membuat wabah ini dikenal sebagai Flu Spanyol. Flu Spanyol menyerang hampir ke seluruh pelosok dunia. Hindia Belanda tak luput darinya. Menurut Priyanto Wibowo dkk dalam Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda , wabah di Hindia Belanda menyebar dari Cina melalui Hongkong dan Singapura lewat kapal-kapal dari Cina yang diduga membawa orang-orang yang sudah terpapar virus. Meski telah mendapat peringatan-peringatan, pemerintah Hindia Belanda ternyata abai. Pada Juli 1918, rumah sakit di Batavia mulai melaporkan adanya pasien-pasien influenza. “Pada akhir November 1918, Pemerintah Hindia Belanda telah menerima laporan bahwa penyakit itu telah melanda Jawa Tengah dan memasuki wilayah Jawa Barat,” tulis Priyanto dkk. Dalam waktu singkat, wabah tersebut kemudian dilaporkan telah menjangkiti Surabaya, Banjarmasin, hingga Buleleng. Wabah terus menyebar, korban terus berjatuhan. Arakan-arakan Sementara sistem kesehatan tak memadahi, orang-orang dirundung bingung. Penduduk Tionghoa di beberapa daerah, menurut Ravando Lie dalam Perang Melwan Influenza, Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial, 1918-1919,  memilih melakukan ritual tolak bala dengan mengarak toapekong . Di Karawang, misalnya, penduduk Tionghoa mengarak barongsai, liong, dan patung dewa-dewa dengan diiringi tetabuhan selama beberapa hari. “Tampaknya perarakan ini adalah yang pertama kali diadakan di wilayah Indonesia kolonial dengan tujuan spesifik untuk mengusir Flu Spanyol,” tulis Ravando. Sepenelusuran Ravando, ritual-ritual lain juga dilakukan penduduk Tionghoa di berbagai kota. Di Bandung, penduduk mengadakan upacara meminta keselamatan ( Ping An ) disertai arak-arakan toapekong . Sementara, di Sukabumi seorang Tionghoa menyerukan ke perkampungan Tionghoa agar melaksanakan sembahyang hioto  serentak. Arak-arakan toapekong  juga dilakukan di Tulungagung dan Medan. Di Medan, pertunjukan wayang tiotjiee  bahkan digelar tiga hari tiga malam. Namun, arak-arakan tersebut hampir diwarnai bentrokan dengan penduduk bumiputra. Jika di Medan bentrokan dapat dihindari, tidak demikian dengan arak-arakan toapekong  di Kudus. Menurut Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik, saat itu penduduk Tionghoa Kudus khawatir wabah semakin menjadi-jadi. Mereka lalu mengadakan arak-arakan toapekong yang justru berakhir dengan kerusuhan. “Peristiwa kerusuhan ini diawali dengan perkelahian antara sejumlah pemuda Tionghoa yang sedang melakukan prosesi arak-arakan gotong Tepekong dengan sekelompok pemuda SI (Sarekat Islam, red. ),” tulis Benny. Sentimen anti-Tionghoa meluas. Puncak kerusuhan pun terjadi pada Kamis malam, 31 Oktober 1918. Permukiman dan toko milik Tionghoa dijarah dan dibakar. Ribuan orang Tionghoa mengungsi ke Semarang. Peristiwa ini dikenal sebagai “Peristiwa Peroesoehan di Koedoes.” Peranan Sin Po Dalam kekacauan karena pandemi itu, pers memiliki peranan penting. Suratkabar Tionghoa Sin Po  menjadi salah satu media yang banyak berontribusi. Menurut Ravando, Sin Po  merupakan suratkabar modern yang mengedepankan rasionalitas. Sin Po  seringkali menepis kabar bohong maupun menanggapi tindakan-tindakan takhayul yang tak berpengaruh pada ganasnya pandemi. Menanggapi arak-arakan toapekong yang disebut dapat mengusir pandemi, misalnya, seperti dikutip Ravando, Sin Po, 11 November 1918 menulis, “Orang jang bisa berpikir sedikit pandjang tentoe aken mengarti bagimana tida bergoenanja diboewang oeang boeat itoe oeroesan.” Sin Po  juga mengkritik tindakan-tindakan yang memperburuk pandemi. Di Surabaya, pemerintah daerah malah mengadakan pesta Oranjedag paling meriah sejak puluhan tahun sebelumnya. Ada pula pertandingan sepakbola di Petak Sinkian, Batavia dan di Surabaya yang dapat mempercepat penularan virus. Sin Po  juga memperingatkan Keraton Solo untuk tidak mengadakan Sekaten demi menekan angka penularan. Kabar bohong tumbuh subur di masa pandemi. Di Purwokerto, seorang bernama Prawadrana mengaku didatangi Nyi Loro Kidul lalu mempromosikan siapa yang ingin ditolong harus datang ke rumahnya dengan memberi sedekah 50 sen. Orang Tionghoa di Tasikmalaya mengatakan bahwa mereka dilindungi oleh Kwan Sing Tee Koen (Kwan Kong) sehingga terbebas dari Flu Spanyol. Sementara di Tulungagung, potret Tan Tik Soe yang diklaim sebagai titisan dewa dan bisa menyebuhkan penyakit, dijual. Semua dibantah Sin Po. “Menurut Sin Po  tidakan tersebut merupakan sebuah lelucon yang menunjukan kebodohan dan ketidakrasionalan manusia. Satu-satunya cara untuk bisa sembuh dari suatu penyakit adalah dengan berobat ke dokter dan mengkonsumsi obat-obatan Tionghoa maupun Eropa,” jelas Ravando. Obat Tradisional Pergi ke dokter dan mengkonsumsi obat-obatan Eropa menjadi pilihan paling masuk akal. Namun, Kirsty Walker dalam “The Influenza Pandemic of 1918 in Southeast Asia” yang termuat dalam Histories of Health in Southeast Asia, menyebut bahwa sebagian besar penduduk Hindia Belanda tidak bisa mendapat akses obat-obatan Barat. Mereka kemudian datang ke dukun atau mengkonsumsi ramuan tradisional. Selain tidak bisa diakses rakyat miskin, rumahsakit dan obat-obatan Barat juga kurang dipercaya oleh masyarakat. Orang justru lebih memilih pengobatan tradisional Tionghoa sebagai alternatif. Pengobatan tradisional Tionghoa telah dikenal sejak 2000 tahun silam. Menurut Peter Boomgaard dalam “The Development of Colonial Health Care in Java; An exploratory Introduction” yang termuat dalam Health Care in Java, pengobatan tradisional Tionghoa juga telah memberi pengaruh pada pengobatan tradisional di Nusantara. Sementara dokter-dokter bumiputra juga membuat racikan obat influenza, sinshe-sinshe  di berbagai kota tak mau ketinggalan. Ravando mencatat, Phoa Tjong Kwan, shinse terkemuka di Wonogiri, mempublikasikan resep dan bagaimana cara mengobati pasien Flu Spanyol. Di Madiun, obat racikan Tan Bing In dianggap manjur menurunkan panas Flu Spanyol yang semakin mengganas menjangkiti ratusan orang Tionghoa dan bumiputra. Di Batavia dan Bogor, resep Tan Tik Sio dari Tulungagung tersebar luas untuk para penderita Flu Spanyol. Sementara sinshe  ternama, Yap Goan Thay, membuat racikan obat influenza dari daun-daun berkhasiat yang direbus dengan campuran gula atau gula batu. “Di tengah kekalutan masyarakat akibat pandemi Flu Spanyol, tidak bisa dipungkiri bahwa obat-obatan tradisional tersebut menjadi jalan keluar khususnya bagi masayarakat yang kurang mampu atau yang masih asing dengan metode pengobatan Barat,” tulis Ravando. Ravando melanjutkan, ramuan tradisonal menjadi jalan keluar dari diskriminasi yang sering diterima ketika mereka mencoba berobat ke rumahsakit atau poliklinik yang dikelola orang Belanda. Namun, obat-obat tersebut tentu tidak lagi ampuh jika gejala Flu Spanyol yang ganas itu sudah menunjukkan beragam komplikasi.*

  • Lika-liku Perayaan Imlek di Indonesia.

    Perayaan Imlek di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak orang-orang Tionghoa bermigrasi ke Nusantara.

  • Kala Perempuan Memberi Pelajaran Tuan Perkebunan

    LARI dari rumah karena menolak dinikahkan dengan lelaki yang tak menarik hatinya membuat Marijem, ibu kandung “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia” Sudjojono, berpikir untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam pencarian itulah suatu ketika kala sedang istirahat dia bertemu seorang pria yang menawarinya pekerjaan. Dia diminta mengikuti pria itu dan menurutinya. Marijem menyimak dengan seksama begitu pria tersebut memberi penjelasan bahwa dia dan beberapa orang lain akan dipekerjakan sebagai buruh perkebunan di Deli, Sumatera Utara. Mereka akan dipekerjakan selama minimal lima tahun. Meski diberi waktu untuk menimbang sebelum mengambil keputusan, Marijem pilih menyetujuinya. “Pikirnya, kalau aku tinggal di kota ini tanpa tahu  lor-kidul  dan tidak kenal orang, hidupku akan tidak menentu. Lebih baik aku terima kontrak itu, meski tempatnya jauh. Setidaknya aku akan selalu mempunyai uang,” tulis Mia Bustam, menantu Marijem, menggambarkan alasan Marijem menerima kontrak jadi buruh perkebunan, dalam Sudjojono dan Aku . Kendati harus berjuang seharian penuh melintasi jalan tanah berbatu dari pelabuhan menuju lokasi perkebunan, Marijem dan rombongan buruh baru itu akhirnya tiba di tempat kerja mereka pada tahun-tahun awal abad ke-20 itu. Tugas mereka mulai dari menanam benih karet hingga merawat. Pekerjaan itu tak terlalu sulit bagi Marijem yang di kampungnya, Jawa Tengah, rutin membantu ibunya me- ngangsu  air. Maka dalam tempo tak terlalu lama, Marijem sudah diangkat menjadi kepala regu buruh perempuan. Tugasnya adalah berkeliling memeriksa bibit-bibit yang telah ditanam, mengatasi bila ada hama, dan mengamankan dari tanaman liar. Sebagaimana banyak perempuan buruh di perkebunan Deli, kesulitan yang dialami Marijem justru datang dari para tuan Belanda, entah yang menjadi atasan langsung atau yang lebih tinggi jabatannya. Banyak dari para tuan itu gemar melecehkan para perempuan buruh. Laiknya budak, para buruh tak memiliki hak untuk menolak perintah majikan kulit putih. Apabila mereka dipanggil tuan saat jam kerja, hampir dipastikan mereka diminta untuk memuaskan nafsu si tuan. Para tuan tak peduli perempuan yang dipanggil sudah bersuami atau belum. Para perempuan buruh umumnya tidak berani melawan. Selain secara legal, yang diatur lewat Koeli Ordonantie, mereka diwajibkan patuh pada perintah perusahaan, mereka juga mesti siap menanggung siksaan bila kedapatan melawan, yang diatur dalam Poenale Sanctie  (sanksi pidana). Penyiksaan menjadi hal jamak di perkebunan Deli. J. Van den Brand, pengacara di Medan, bahkan sampai menuliskan penyiksaan yang dilihatnya ke dalam buku berjudul De Millioenen uit Deli . Penyiksaan itu dilihatnya ketika sedang mengunjungi rumah seorang pemilik kebun. Tanpa sengaja dia mendengar suara kesakitan seorang perempuan dari halaman depan. Rasa penasaran menuntunnya mendatangi sumber suara. Ketika mendapati sumber suara, dia kaget suara itu ternyata berasal dari seorang gadis yang tengah disiksa dengan disalib dalam keadaan tanpa busana. “Bagi saya pemukulan terhadap wanita itu sudah mengerikan, dan tentunya dalam kasus ini, di mana pantatnya menunjukkan keadaan yang kotor, dekil, bernanah, dan berdarah. Tuan Kooreman mungkin berpikir hal seperti itu adalah hal paling umum di dunia, tampak mengerikan bagi saya dan orang lain,” tulis Van den Brand. Pelecehan juga didapati Marijem dan kawan-kawannya di kebun mereka. Meski mayoritas kawan-kawannya diam tak berani melawan, tidak demikian dengan Marijem. Dia memutuskan melawan. Kawan-kawannya di regunya lalu diajaknya untuk membalas kelakuan asusila  opseter  (pengawas) Belanda mereka yang kerap melecehkan. Tempat untuk aksi pembalasan pun ditetapkan, yakni lokasi yang jauh dari kantor dan barak-barak buruh. Suatu ketika, mereka mendapati momen yang tepat. Mereka segera bersembunyi di balik semak-semak sambil menunggu si pengawas lewat. Begitu si pengawas tiba, mereka langsung menyergapnya. Setelah si pengawas kerempeng itu dirubuhkan, Marijem dan kawan-kawannya langsung mengelitikinya di hampir semua bagian tubuhnya, tak terkecuali di bagian kemaluannya. Pengawas itu hanya bisa kegelian sambil berteriak-teriak memaki dan minta aksi itu dihentikan bahkan berteriak minta tolong. Marijem dan kawan-kawannya tak mempedulikannya. Mereka terus mengelitiki pengawas keparat itu. Beberapa kawan Marijem bahkan sampai menekan kaki dan tangan mereka kuat-kuat sambil menertawakan dan mengumpat pengawas nahas itu. Begitu si pengawas sudah lemas, mereka langsung melepaskannya dan meninggalkannya dengan perasaan puas. “Hari-hari berikutnya tidak terjadi apa-apa atas srikandi-srikandi kebun itu. Rupanya si opseter  Belanda itu malu untuk melaporkan mereka pada bosnya. Bayangkan, dia, seorang tuan kulit putih, dihina oleh perempuan-perempuan Inlander  jelek berkulit coklat! Marijem dan kawan-kawan masih sering terkikik-kikik kalau mereka ingat perbuatan mereka yang sebenarnya luar biasa nekad itu. Dan yang terpenting bagi mereka, opseter  itu selanjutnya menjaga mulutnya apabila berpapasan dengan para buruh perempuan, juga tidak pernah lagi mengganggu mereka,” tulis Mia.*

  • Punahnya Kesultanan Banjar

    Setelah meletusnya Perang Banjar (1859--1905), serangan demi serangan terus dilancarkan rakyat tanpa henti. Para pemimpin Banjar silih berganti memimpin penyerangan pos-pos pertahanan Belanda di seluruh wilayah Banjarmasin. Pemerintah kolonial dibuat kewalahan dalam menghadapi gempuran yang tiada habis tersebut. Kegigihan rakyat akhirnya membuat Belanda lelah. Mereka segera mengupayakan cara diplomasi. Perang Banjar sendiri masih mencatatkan diri sebagai perang terbesar di Kalimantan Selatan, bahkan seluruh Kalimantan, pada abad ke-19. Kerusakan yang ditimbulkannya begitu masif. Korban jiwa tak terhitung besarnya. Perang juga meliputi wilayah yang amat luas. Hampir tak ada tempat yang terhindar dari api peperangan. Kerugian akibat perang tidak hanya dirasakan rakyat Banjar, tetapi juga pihak Kolonial. Perang telah membuat keuangan mereka terpuruk. Pemerintah pusat di Batavia juga sudah tidak banyak memberikan bantuan, mengingat sebelum Perang Banjar mereka harus menghadapi pemberontakan di Jawa. Maka untuk menghindari kerugian yang lebih jauh, Belanda mencoba menerapkan cara-cara non militer. Menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid 4, langkah pertama yang dilakukan pemerintah kolonial dalam menerapkan taktik baru tersebut adalah mendatangkan serdadu-serdadu Belanda dari Jawa di bawah pimpinan Kolonel Andresen. Dia ditugasi merebut Martapura untuk kemudian membuka jalan menuju Pengaron, lokasi tambang batu arang Orange Nassau . Selain mencari infromasi mengenai sebab terjadinya perlawanan rakyat. Namun itu bukan pekerjaan mudah. Adresen yang hanya membawa 100 orang dijegal oleh kurang lebih 6000 laskar Pangeran Antasari. Bahkan kapal perang miliknya dibuat kandas oleh suatu serangan besar. “Sebab itu pada mulanya Andresen tidak berani menggunakan kekerasan, dan mengutamakan taktik politik yang lebih hemat dan menguntungkan,” terang Idwar Saleh dalam Pangeran Antasari . Pada Juni 1859, usaha Andresen menduduki Martapura berbuah hasil. Sultan Tamjidillah yang telah lama dibenci rakyatnya sendiri karena dianggap boneka Belanda memutuskan turun takhta. Kekosongan pun terjadi di Kesultanan Banjar. Andresen sementara mengambil alih pemerintahan kota sampai pejabat pusat memilih pemimpin baru. Setelah menerima kekuasaan, Andresen mempelajari surat-menyurat di dalam istana. Dia mendapati fakta bahwa Pangeran Hidayat yang selama ini dianggap dalang di balik penyerangan terhadap Belanda ternyata sama sekali tidak terlibat. Upaya pemberontakan sepenuhnya direncanakan oleh Pangeran Antasari dan Pangeran Aminollah. Dia terhindar dari tuduhan ikut campur dalam persiapan perang terhadap Belanda. “Karena itulah Kolonel Andresen selaku komisaris berkuasa penuh pemerintah Hindia Belanda memberi kesempatan kepada Pangeran Hidayat untuk menjadi Sultan agar wibawanya bisa digunakan untuk menentramkan rakyat yang telah bangkit melawan Belanda,” ungkap Idwar. Andresen berusaha menjalin hubungan baik dengan Pangeran Hidayat. Dia beberapa kali meminta sang pangeran datang menemuinya di Banjarmasin. Tapi tak pernah dipenuhi. Diceritakan dalam Republik Indonesia: Kalimantan, terbitan Kementerian Penerangan, Pangeran Hidayat khawatir jika dia mendapat pengkhianatan dari pemerintah Belanda, seperti yang dialami Prabu Anom. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Andresen mengirim 20 orang utusan ke hadapan Pangeran Hidayat di Amuntai. Mereka menyampaikan jika HIndia Belanda bersedia menyerahkan Kesultanan Banjar kepadanya, asalkan dia bersedia kembali dan tinggal di Banjarmasin. Namun melihat besarnya perlawanan rakyat, serta pengaruh pasukan Pangeran Antasari, Pangeran Hidayat menolak syarat itu. Dia tidak ingin terpengaruh siasat Belanda terhadap kekuasaannya. Rupanya pemerintah pusat di Batavia tidak terlalu senang dengan siasat Andresen. Cara-cara yang dia gunakan terlalu lemah. Pemerintah pusat menghendaki keputusan yang cepat. Akhirnya pada November 1859, Andresen dipindahkan ke tempat lain. Sebagai gantinya, bertugaslah F.N. Nieuwenhuizen, yang secara penuh mengendalikan pemerintahan di Banjarmasin. “Nieuwenhuizen mengadakan pertemuan dengan Pangeran dan Alim Ulama di Martapura untuk membicarakan sumpah dan kutuk yang mengancam runtuhnya kerajaan Banjarmasin, sebagai yang tersebut dalam surat wasiat almarhum Sultan Adam, yang akhirnya diputuskan bahwa segala kutuk dan sumpah itu dianggap tidak terjadi sebab semuanya bertentangan dengan agama Islam,” tulis buku terbitan Kementerian Penerangan RI itu. Nieuwenhuizen lalu meminta pemerintah pusat menerbitkan surat berisi ulitmatum kepada Pangeran Hidayat agar dirinya menyerahkan diri. Jika menolak, Kesultanan Banjarmasin akan diambil alih dan dihapuskan. Namun pemerintah Batavia sendiri telah memutuskan jika penghapusan Kesultanan Banjarmasin akan dilakukan meski tidak ada respon dari Pangeran Hidayat. Maka pada Desember 1859, melalui surat putusan pemerintah Belanda di Batavia, Kesultanan Banjarmasin secara resmi dihapus dan pemerintahan di kota itu seluruhnya dikendalikan Nieuwenhuizen. Setelah merampas seluruh hak Kesultanan Banjarmasin, pihak kolonial mengadakan pengepungan dan pembersihan pasukan-pasukan Banjar pimpinan Demang Lehman, Pangeran Antaludin, dan Pangeran Aminullah. Mereka juga tak henti-hentinya mengirim serdadu-serdadu-nya ke semua wilayah yang dianggap masih berpotensi melakukan pemberontakan. Pada Juni 1860, pihak Hindia Belanda mengumumkan penghapusan Kesultanan Banjarmasin secara luas ke seluruh Kalimantan Selatan. Maka punahlah salah satu kesultanan terbesar di Kalimantan itu. Kesultanan Banjarmasin pada akhirnya dibagi oleh Hindia Nelanda menjadi tiga afdeling , yakni Kuwin, Martapura, dan Amuntai. Masing-masing dibagi ke dalam beberapa distrik, yang dikepalai oleh perutusan dari  Batavia.

  • Sudut Ring Leon Spinks

    LONCENG terakhir di ring kehidupan Leon Spinks Jr. sudah berbunyi. Pertarungannya melawan kanker prostat yang dideritanya sejak 2019 berakhir di sebuah rumahsakit di Henderson, Nevada, Amerika Serikat, Jumat (5/2/2021) malam waktu setempat. Legenda tinju kelas berat dunia itu wafat di usia 67 tahun. Pengumuman meninggalnya Spinks baru disampaikan sang istri, Brenda Glur Spinks, pada Sabtu (6/2/2021) pagi. Sejumlah tokoh tinju dunia pun melayangkan ungkapan duka cita terhadap satu dari lima petinju yang pernah mengalahkan petinju legendaris Muhammad Ali itu. Salah satunya Bob Arum, promotor gaek yang mengenang kemenangan Spinks atas Ali dalam pertarungan yang diatur Arum. “Itu salah satu hal yang paling tidak bisa dipercaya, di mana Ali setuju melawan dia karena jika Anda melihat pertarungannya, dia (Spinks) bahkan bukan penantang gelar. Dia hanya lawan biasa yang kemudian menemukan caranya sendiri untuk menang,” kenang Arum sebagaimana disitat The Guardian , Minggu (7/2/2021). Sebelum namanya meroket gegara mengalahkan Ali, Spinks hanyalah petinju muda yang sedang mencari arah dalam karier tinjunya. Pertarungan melawan Ali pun berlangsung Spinks baru setahun sejak dia menginjak level profesional. Bocah Korban Perundungan Spinks Jr. yang lahir pada 11 Juli 1953 di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat merupakan anak sulung dari delapan bersaudara pasangan Kay dan Leon Spinks Sr. Sejak kecil, Spinks dan tujuh saudaranya terbiasa hidup miskin setelah ayah dan ibunya bercerai. Sang ibu membesarkan Spinks dan adik-adiknya sebagai ibu tunggal dengan penghasilan USD135 dolar per pekan. Spinks kecil acap jadi sasaran perundungan teman-teman sekolahnya karena punya kelemahan pada fisiknya karena mengidap tekanan darah rendah dan asma. Bahkan, Spinks juga kerap dirundung anak perempuan tomboy bernama Booby di sekolahnya. “Setiap hari dia (Booby) memukuli saya. Tetapi ketika dia sedang mem- bully saya, tak seorang pun berani ikut-ikutan karena semuanya juga takut padanya,” ujar Spinks. Leon Spinks Jr. (kanan) bersama ibunya, Kay (tengah) dan adiknya Michael Spinks ( Ebony , edisi Mei 1978) Maka untuk membekali putra sulungnya itu, sang ibu memasukkan Spinks dan adiknya, Michael Spinks, ke sasana tinju Capri Recreation Center. Lantaran semakin tertarik pada tinju, Spinks menseriusinya hingga memutuskan untuk putus sekolah kala duduk di kelas 10 (setara SMP). Sebagai pendidikan alternatif, Spinks memilih mendaftarkan diri ke Korps Marinir Amerika Serikat pada 1973. Keputusan itu diambilnya juga karena ingin menjauhkan diri dari perang antar-geng dan narkoba di lingkungan tempat tinggalnya. “Saya masuk Marinir untuk menghindari diri dari narkoba. Saya masuk di hari ulang tahun saya. Saya tak pernah menyangka betapa beruntungnya saya (masuk Marinir). Saya menikmati masa tugas dan itu adalah hal terbaik yang bisa dilakukan seorang anak muda saat itu,” imbuhnya. Dari Kamp Marinir ke Pentas Dunia Menukil laman resmi Kementerian Pertahanan Amerika , 18 Agustus 2020, disebutkan Spinks masuk Marinir di Marine Corps Recruit Depot di San Diego pada medio 1973. Dia kemudian menjalani pendidikan dasar selama 13 pekan. Masuk ke kesatuan Peleton 3090, ia lulus dengan pangkat prajurit dua pada Desember 1973 dan kemudian ditempatkan di tim tinju All-Marine di Markas USMC Lejeune, North Carolina. Di Kamp Lejeune, Spinks diasuh J. C. Davies, pelatih berkulit hitam pertama di tim All-Marine. Hanya dalam 15 detik melihat Spinks saat sparring , Davis sudah yakin Spinks kelak bakal jadi petinju besar. “Leon melakukan (pukulan) kombinasi itu –boom, boom– dan lawan sparring -nya pun tersungkur. Saat saya melihat catatan waktunya, saya pun berkata kepada pelatih lain, ‘Sial! Kita punya seorang juara di sini’,” kenang Davis sebagaimana ditulis laman Kemenhan Amerika itu. Leon Spinks Jr. (baris atas, keempat dari kanan) di kesatuan Peleton 3090 Korps Marinir Amerika Serikat. ( defense.gov ). Dari kamp Marinir itu juga karier tinju amatir Spinks meroket. Tak hanya tiga kali menenangkan gelar kelas berat-ringan AAU (Amateur Athletic Union) sepanjang 1974-1976, Spinks juga masuk tim tinju Amerika untuk Olimpiade Montréal 1976. Di olimpiade itu, Spinks merebut medali emas kelas berat-ringan, bersamaan dengan sang adik Michael Spinks di kelas menengah. Selepas olimpiade, Spinks keluar dari Korps Marinir dengan pangkat kopral. Sejak 1973, Spinks bersiap masuk ke tinju profesional dengan catatan 178 kali menang, di mana 133 di antaranya menang KO, dan tujuh kali kalah. Catatan itu membuatnya percaya diri untuk menjalani debut profesionalnya di kelas berat pada 15 Januari 1977. Pertarungan perdana melawan Bob Smith di Las Vegas itu pun ia menangi dengan KO. Spinks lalu melakoni satu tahun pertamanya di level pro dengan lima kemenangan lagi dan satu hasil imbang. Namun sepanjang tahun pertama itu, publik mulai melihatnya sebagai petinju muda Afro-Amerika yang berambisi mengikuti jejak Ali. Spinks menolak anggapan itu karena ia lebih mengidolakan karakter petinju fiktif Rocky Balboa dari serial film Rocky yang diperankan Sylvester Stallone. Selain sering menyetel lagu-lagu dari soundtrack film itu saat tidur hingga latihan, Spinks juga mengikuti rutinitas Rocky yang gemar mengonsumsi telur mentah. “Saya tahu apapun yang saya lakukan, orang-orang berpikir saya ingin mengikuti Ali. Namun saya ingin melakukan hal yang berbeda, sesuatu yang bisa jadi dedikasi saya untuk generasi muda lain,” sambung Spinks. Kolase pertarungan Leon Spinks vs Muhammad Ali jilid I. ( Ebony , Mei 1978/ wbcboxing.com ). Tetapi secara kebetulan nasib lantas mempertemukannya dengan Ali pada akhir 1977. Ali sedang membutuhkan pertarungan pemanasan untuk pertarungan keempatnya melawan Ken Norton, salah satu musuh bebuyutannya, guna mempertahankan gelar kelas berat versi WBA dan WBC. Bob Arum, promotor kondang Top Rank yang menaungi Ali, lalu meminta tangan kanannya, Butch Lewis, untuk mencarikan lawan. Dia menemukan Spinks. Pertarungan pun kemudian diatur di Hotel Hilton, Las Vegas, 15 Februari 1978. Spinks menerima mencoba peruntungan itu. Dia tak peduli meski hanya akan mendapat USD320 ribu, berbanding USD3,5 juta yang akan dikantongi Ali. Ali yang memandang remeh Spinks, sama sekali tak melakoni persiapan serius. Hasilnya, di atas ring Ali kewalahan meladeni Spinks yang 11 tahun lebih muda darinya. Jab-jab cepat yang dilancarkan Spinks, sebagaimana arahan pelatihnya, bikin Ali kerap mati kutu dan terpojok ke sisi-sisi tali ring. Pertarungan sengit itu pun berjalan hingga menghabiskan 15 ronde. Dilaporkan suratkabar The New York Times , 16 Februari 1978, Spinks diputuskan sebagai pemenangnya lewat split decision . Dua juri, Lou Tabat dan Harold Buck, memberi angka 145-140 dan 144-141 untuk Spinks. Hanya juri Art Lurie yang memberi angka 143-142 untuk Ali. Gelar dunia kelas berat WBA dan WBC pun berpindah dari pinggang Ali ke pinggang Spinks. “Jika saya kehilangan gelar, saya senang kalah dari seorang pria sejati,” ujar Ali yang sportif menyanjung Spinks. Rematch atau pertarungan Leon Spinks vs Muhammad Ali jilid II. ( boxrec.com / ringtv.com ). Ali langsung menghampiri Arum, bersikeras agar Arum segera mengatur rematch kontra Spinks. Sementara Spinks yang mulai jumawa, tak keberatan melawan Ali lagi kendati kemudian ia harus rela gelar WBC-nya dicabut dewan tinju WBC. Pasalnya dengan menerima pertarungan ulang melawan Ali, Spinks dianggap mangkir dari pertarungan wajib mempertahankan gelar melawan Ken Norton. Spinks kemudian meneken kontrak pertarungan ulang yang nilainya jauh lebih besar, 5 juta dolar, karena sebagai juara bertahan WBA. Situasi jelang pertarungan kembali justru berbalik 180 derajat dibandingkan pertarungan pertamanya. Spinks hidup foya-foya, di sisi lain Ali lebih serius mempersiapkan diri. Hasilnya terlihat jelas ketika laga jilid II dihelat di Superdome, New Orleans, 15 September 1978. Ali yang berusia 36 tahun mampu bertarung sebagaimana di usia 20-an. Menari di atas ring ke sana-ke mari untuk melontarkan sengatan-sengatan jab yang jadi bumerang bagi Spinks. Meski Spinks bertahan hingga 15 ronde, kali ini dia kalah unanimous decision alias angka mutlak untuk Ali. Gelar WBA kembali ke pangkuan Ali. “Rencana (strategi) Ali sederhana. Melayangkan jab-jab, melepaskan pukulan kanan dan merangkul. Saat Spinks goyah, Ali melepaskan hook kiri, lalu merangkul lagi. Sangat efektif membatasi perlawanan Spinks. Dan Ali terus menari di atas ring. Dia merangkul kemudian menari, berputar ke kiri dan ke kanan. Ali sudah merencanakan itu semua,” tulis jurnalis Pat Putnam dalam laporannya di majalah Sports Illustrated , 25 September 1978. Di masa senja Leon Spinks mulai mengidap berbagai penyakit dari penyusutan otak hingga kanker prostat. ( wbcboxing.com / defense.gov ). Keinginan Spinks untuk menantang Ali lewat pertarungan jilid III kandas lantaran Ali memutuskan pensiun –walau dua tahun kemudian Ali comeback ke atas ring. Sejak saat itu, karier Spinks tak pernah pulih kendati dia mencoba beralih ke kelas jelajah sekalipun. Spinks lantas memutuskan gantung sarung tinju pasca-kekalahan di pertarungan terakhir profesionalnya melawan Fred Houpe, 4 Desember 1995. Spinks memilih menepi dari dunia tinju meski sesekali datang ke Kamp Marinir Lejeune sebagai motivator. Jejaknya di dunia tinju kemudian diikuti dua putranya, Cory Spinks dan Leon Calvin Spinks. Efek kariernya semasa muda mulai dirasakan Spinks menggerogoti kesehatannya pada 2012. Di tahun itu ia didiagnosa penyusutan otak sebagai akumulasi dampak pukulan di kepalanya. Spinks juga menderita masalah pencernaan pada 2011 hingga naik meja operasi. Kondisinya kesehatannya diperparah dengan kanker prostat pada 2019 hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

  • Cinta dan Kebahagiaan Sejati dalam Kamasutra

    Kamasutra karya penulis India, Vatsyayana, banyak dipahami sebagai teks yang berisi tentang seksual belaka. Lebih dari itu, karya ini memuat cara mencapai kesempurnaan kama , yakni salah satu dari empat tujuan hidup manusia ( Catur Purusa ) dalam Hinduisme.  Riley Winters dalam “The Kama Sutra: Setting the Record Straight” terbit di Ancient Origins   menjelaskan kama   dalam arti kata yang paling umum dapat merujuk pada kasih sayang, cinta, rangsangan estetika, atau keinginan. “Tidak selalu berhubungan dengan seksualitas,” jelasnya. Kamasutra menjadi karya yang memiliki pengaruh luar biasa dalam kesusastraan umum dan kehidupan artistik India. Ia menjadi dasar bagi banyak tulisan India pada periode berikutnya mengenai cinta. Termasuk di antaranya puisi cinta sanskerta. K.M Panikkar, sejarawan India, dalam kata pengantar buku Kamasutra yang diterjemahkan dari The Kamasutra of Vatsyayana, menjelaskan, pengaruh Vatsyayana tak hanya terbatas pada bagian tertentu India. Pengaruhnya merambah dari Kashmir sampai Tanjung Comorin dan dari Bengal sampai Gujarat. “Pengaruh itu juga menyebar di manapun peradaban India menyebar. Di Kamboja misalnya, Vatsyayana dikutip langsung namanya sebagai sebuah otoritas dalam ilmu cinta,” jelas Panikkar. Namun, pengaruh ajaran Kamasutra paling terlihat di dalam   seni pahat. Contohnya bisa ditemukan pada relief-relief di beberapa candi dan kuil terkenal di India.   Era Kemakmuran Budaya Menurut pakar sejarah gender dan seksualitas, Ruth Vanita dalam “Vatsyayana’s Kamasutra ”,   yang terbit di Same-Sex Love in India , tampaknya Vatsyayana adalah seorang sarjana Brahman yang tinggal di Kota Pataliputra (kini Patna). Ia hidup pada sekira abad ke-4 M, yakni pada masa pemerintahan raja-raja Gupta.  “Ini adalah periode kemakmuran materi dan budaya yang luar biasa untuk wilayah itu,” tulis Vanita.   Sementara itu, Panikkar memperkirakan Kamasutra ditulis antara abad pertama dan ke-4 M. Perkiraannya berdasarkan adanya kiasan yang dipakai Vatsyayana tentang kejadian yang berkaitan dengan Raja Kuntala yang berkuasa pada abad pertama Masehi. Adapun Kalisada, penyair dan penulis sandiwara klasik India yang hidup pada akhir abad ke-4 hingga awal abad ke-5, menunjukkan pengetahuannya yang sangat mendalam mengenai Kamasutra. “Meskipun sulit menentukan tanggal yang pasti untuk karya itu, sangat jelas bahwa Vatsyayana hidup pada suatu masa setelah pemerintahan Kuntala Satakarni dan sebelum Kalisada, mugkin sebelum abad ke-4 M,” jelas Panikkar.  Seks Simbol Penciptaan Dunia Pandangan masyarakat Hindu tentang seks berbeda secara fundamental dari pandangan dunia modern. Seks tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang normal dan perlu. Namun hampir merupakan sesuatu yang sakral.  Seks merupakan persekutuan antara Purusha (materi) dan Prakriti (energi). Itu disimbolkan lewat persekutuan antara Siva dan Shakti- nya, Parvati yang kemudian menciptakan dunia. Simbol Siva merupakan alat kelamin laki-laki dan simbol Shakti- nya adalah alat kelamin perempuan. Untuk alasan inilah setiap aspek kedewaan dalam Hinduisme digambarkan dengan seorang pasangan perempuan ( shakti ).  “Seks dianggap sebagai simbol penciptaan dan simbolisme religius masyarakat Hindu memperlihatkan hal itu pada semua level,” jelasnya.  Ajaran Hindu memandang segala sesuatu dalam aspek dua oposisi biner. Itu bahwa alam mewujudkan prinsip laki-laki dan perempuan. Maithuna atau tindakan bersetubuh menggambarkan secara simbolis doktrin religius yang menjadi dasar dalam Hinduisme.   “Persatuan antara laki-laki dan perempuan dipandang sebagai simbol penciptaan bukan kemunduran moral. Tidak hanya ada dalam pemujaan Tantris Hindu, melainkan dalam perkembangan tertentu Buddhisme,” jelas Panikkar.  Salah satu bagian dari relief dinding di Candi Khajuraho di India. Pengaruh Vatsyayana bisa terlihat dalam pose tokoh-tokoh di dalam relief. (Wikipedia) Kama, Satu dari Tujuan Hidup Kendati begitu menganggap teks Kamasutra sebagai buku panduan ritual yang berkaitan dengan seks Tantra merupakan kesalahpahaman dalam pandangan budaya non-timur. Itu kata Riley Winters.  Tantra, dalam istilah yang paling sederhana adalah keadaan yang mengacu pada penguasaan diri. Dalam budaya Barat kerap dikaitkan dengan penguasaan diri yang tinggi dalam ritual seksual.  Sementara kata Winters, Kamasutra sama sekali tidak berhubungan dengan ritual atau praktik Tantra. Pun bukan doktrin sakral dari ritual seksual.  Kesalahpahaman umum adalah bahwa ketujuh bab Kamasutra mengajarkan tentang hubungan seksual. Padahal hanya satu bab yang berbicara tentang posisi seksual. Sementara masing-masing bab menjelaskan bentuk kesenangan yang berbeda. Dengan itu seseorang dapat mencapai kama .  “Secara sederhana, fokus teks bukanlah tindakan fisik dalam bercinta, tetapi lebih pada pencapaian cinta dan kesenangan dalam hubungan dan kehidupan,” tulis Winters.  Dalam Hinduisme, kama merupakan satu dari empat hal utama yang menjadi tujuan kehidupan ( Catur Purusa ). Empat dasar dan tujuan hidup manusia di dalam Catur Purusa , yaitu dharma (sifat religius), artha (kekayaan materi), kama (cinta, hasrat, kenikmatan, kesenangan hidup), dan moksa ( puncak kelepasan dan kebahagiaan sejati ). Kama, artha dan dharma merupakan tiga unsur tunggal. Ketiganya harus dipegang teguh jika ingin mencapai moksa .  “Teks itu mencontohkan bagaimana hasrat dapat membantu melepaskan seluruh kekuatan pribadi seseorang. Ini lebih dimaksudkan sebagai pedoman untuk hidup yang bajik,” jelas Winters.  Dibandingkan itu, kama di dalam konsep modern sudah banyak berubah. Kata Panikkar, dalam penelitian modern kama sering disamakan dengan hasrat, nafsu, atau cinta fisik. Karenanya Kamasutra umumnya dipandang sebagai buku yang bergelut tentang hal erotis atau sesuatu yang tak pantas untuk dikaji serius.  “Ini [ Kamasutra ] jauh dari hal semacam itu,” tegas Panikkar.    Pengaruh Kamasutra Pengaruh Kamasutra paling mencolok terlihat di dalamseni pahat. Contohnya bisa ditemukan sebagai relief dinding Candi Konark, Khajuraho, Belur, Halebid, dan candi-candi terkenal lainnya dari abad pertengahan.  Bagi orang Barat, karya ini awalnya hanya sebatas pada keingintahuan mengapa di candi Hindu yang terkenal harus menampilkan relief adegan seks pada dindingnya. “Ini bukan merupakan ciri khas semata-mata dari candi-candi abad pertengahan,” kata Panikkar.  Menurut Pa nikkar , sebuah studi cermat terhadap arca-arca di Konark, Khajuraho, dan candi terkenal lainnya memperlihatkan betapa seniman telah mengikuti teks Kamasutra . “Pengaruh Vatsyayana dalam seni pahat ini bisa dilihat dalam perilaku dan pose tokoh-tokoh di dalam relief,” jelasnya.  Panikkarmencatat, di Nagarjunikonda terdapat banyak ukiran kayu yang menggambarkan adegan percintaan. Nagarjunikonda adalah pusat arsitektur dan seni pahat Buddha yang paling terkenal. Ukiran-ukiran yang ada di sana kemudian diidentifikasikan sebagai versi seni pahat dari teks karya Vatsyayana.  “Pada dinding-dinding kuil Jain juga ditemukan ukiran perempuan telanjang,” lanjut Panikkar. Dengan melihat itu, menurut Panikkar tak mungkin jika para pendiri candi bermaksud merusak moral atau hanya sekadar ingin memanjakan selera suatu masyarakat yang moralnya merosot. “Jelas sekali mereka mengekspresikan aspek fundamental dari kepercayaan religius India,” tegasnya. Bagaimanapun Kamasutra ditulis atas kehendak Yang Maha Kuasa untuk kepentingan dunia oleh Vatsyayana. Itu sembari dirinya menjalani kehidupan sebagai seorang siswa keagamaan yang seluruh hidupnya terikat di dalam proses merenungi Dewa. Setidaknya demikianlah kata sang penulis pada bagian akhir karyanya.

  • Kisah Hubungan Banjar dengan Bangsa Eropa

    Suatu hari pada abad ke-17. Sebuah kapal asing tiba-tiba muncul di wilayah perairan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bentuknya tampak asing bagi penduduk di sana. Begitu kapal merapat, para pedagang mengenalinya sebagai kapal milik maskapai dagang Belanda (VOC). Sejarah mencatat, peristiwa itu menjadi awal masuknya VOC dalam masalah-malasaj yang terjadi di Kesultanan Banjar. Mulanya kapal pimpinan Gillis Michiel itu diterima dengan baik oleh penguasa Banjar, Sultan Suriansyah. Mereka diberi izin merapatkan kapal ke dermaga dan berinteraksi dengan penduduk Banjar. Namun lama-kelamaan orang-orang Belanda ini malah berbuat onar. Sultan pun tidak tinggal diam. Dia lalu memerintahkan pasukannya menumpas habis para pendatang tersebut. Gagal dengan percobaan pertama, Belanda kembali mengirim pasukannya ke Banjarmasin. Mereka bersikeras mengadakan hubungan dagang dengan Kesultanan Banjar yang terkenal akan pala dan lada berkualitas baik. Dua kali mencoba, dua kali pula pemerintah Kolonial mengalami kegagalan. Sultan belum merasa perlu menjalin hubungan dengan Belanda. Perdagangan dengan saudagar Timur Tengah masih menguntungkan bagi negerinya. Pada 1612, pertempuran besar meletus di Banjarmasin. Pasukan dari Kerajaan Mataram melakukan serangan mendadak ke wilayah kekuasaan Sultan Suriansyah. Penyebabnya, sang sultan melanggar janji pembayaran upeti kepada penguasa di sana. Menurut Idwar Saleh, dkk dalam Sejarah Daerah Kalimantan Selatan , huru-hara tersebut langsung dimanfaatkan Belanda untuk melakukan pembalasan atas pembantaian sebelumnya. Akibatnya kota dapat diduduki tentara Belanda. Sultan pun terpaksa mengungsi ke Kayu Tangi Martapura dan mendirikan pemerintahan di tempat itu. “Di pertengahan abad ke-17, akibat perebutan kekuasaan, ibukota terpisah menjadi dua, yang Banjarmasin di bawah Sultan Agung, dan di Martapura di bawah Panembahan Ratu,” ungkap Saleh, dkk. Setelah Sultan Suriansyah wafat, putranya Sultan Rachmatullah menduduki takhta. Dia berhasil membawa kemajuan bagi Kesultanan Banjar. Jalur perdagangan sudah semakin terbuka, siapa pun bisa membeli rempah dari negerinya. Hubungan dengan Belanda juga mulai membaik. Tetapi pada 1630, kerusuhan lagi-lagi terjadi di Banjarmasin. Kali ini dilakukan oleh rakyat Banjar sendiri. Mereka merasa tidak puas dengan keberadaan orang-orang Belanda di kota tersebut yang kerap menyulitkan penduduk. Tiga tahun berselang, kota dapat dibangun kembali. Kondisinya jauh lebih tentram setelah banyak bangsa Belanda yang pergi ke Batavia. Sebagaimana diceritakan dalam Republik Indonesia: Kalimantan , terbitan Kementerian Penerangan, Pelabuhan Banjarmasin pun semakin ramai didatangi. Kapal-kapal bangsa asing penuh sesak merapat di sana. Pedagang Inggris dan Portugis mulai secara terang-terangan melakukan kegiatan dagang. Sementara kehadiran para pedagang Belanda hampir tidak ada. “Rupanya telah menjadi tabiat atau memang sudah menjadi adat kebiasaan bangsa Belanda yang selalu iri hati dalam persaiangan dagang yang banyak menderita kekalahan, tiba-tiba Kompeni Belanda mengirim enam buah kapal perang ke Banjarmasin untuk memusnahkan semua kapal dagang asing yang berada di Pelabuhan Banjarmasin,” tulis buku tersebut.  Setelah menciptakan kegemparan, Belanda mengadakan perjanjian dagang dengan Sultan Rachmatullah, dengan ketentuan bahwa penjualan rempah-rempah hanya boleh dilakukan melalui VOC. Jika melanggar, hukuman berat menanti. Setelah perjanjian ditandatangani, pada 1636, VOC mendirikan kantor dagang di Banjarmasin. Praktis semua rakyat harus menjual hasil buminya kepada mereka. Harga juga sudah ditentukan. Nilainya amat memberatkan. Kembalinya para penjajah itu membuat kemalangan bagi rakyat Banjar. Kondisi semacam itu tidak didiamkan saja oleh rakyat Banjar. Kemarahan mereka sudah memuncak. Pada 1638, pemberontakan meletus di pusat Banjarmasin. Seluruh harta benda milik orang-orang Belanda dibakar, termasuk kapal yang bersandar di Kotawaringin. Para pegawai dan serdadu dihabisi. Total ada 64 orang Belanda yang tewas. VOC yang murka segera menghimpun kekuatan. Tetapi saat hendak melancarkan serangan ke dalam kota, mereka seketika mengubah taktiknya.VOC hanya menyiagakan kapal-kapal mereka di lautan. Tujuannya adalah menyergap dan merampas perahu-perahu Banjar yang membawa muatan dagangan. Akibat memanasnya hubungan kedua kubu, perjanjian dagang pun dibatalkan. Inggris yang mengetahui hal itu segera mendekatkan diri. Di bawah pimpinan Sultan Mustainullah, Kesultanan Banjar sepakat menjalin kerja sama dengan Inggris. Tidak lama, Belanda kembali ke Banjarmasin. Diberikannya kesepakat baru, yang salah satu isinya tidak akan melakukan pembalasan atau tuntutan atas peristiwa pemberontakan yang lalu. Belanda juga akan memberikan harga pembelian yang lebih pantas. Sultan setuju dan hubungan dengan Belanda terjalin lagi. Inggris yang juga menjalin hubungan dagang dengan Banjar mendirikan sebuah benteng dan kantor dagang di sepanjang sungai di Martapura. Inggris berusaha memantau pergerakan kapal yang masuk ke Martapura. Di bawah kuasa Sultan Saidillah, Inggris mendapat keleluasaan memonopoli perdagangan lada. Namun ketika Sultan Saidillah digantikan Sultan Tahlilullah, huru-hara terhadap Inggris mulai terjadi. Menurut Vera Damayanti dalam “Identifikasi Struktur dan Perubahan Lanskap Kota Banjarmasin di Masa Kesultanan” dimuat Jurnal Arsitektur Lanskap Vol. 5, Oktober 2019, kantor dagang dan benteng Inggris itu dibinasakan sultan dan rakyat Martapura pada 1707. “Melihat keadaan yang demikian itu, kompeni Belanda sangat bergembira dan dengan demikian Belanda tidak usah mendirikan kantor dagangnya lagi di Banjarmasin untuk mengganti kepunyaan bangsa Inggris sebab mereka yakin bahwa sesudah rusaknya urusan dagang bangsa Inggris, tentu Sultan akan mengirimkan dagangannya ke Batavia, jadi cukuplah menunggu di Batavia saja,” jelas Kementerian Penerangan. Benar saja, sultan segera memutus kontrak dagang dengan Inggris dan menjadikan Belanda satu-satunya mitra dagang mereka. Belanda secara leluasa memonopoli perdagangan rempah di Banjarmasin. Keadaan itu bertahan hingga memasuki abad ke-19. Berakhir ketika Perang Banjar pecah pada 1859.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page