Hasil pencarian
9735 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jejak Sejarah di Selembar Kartu Pos
26 MARET 1873 perang Aceh meletus. Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah yang memimpin rakyat Aceh harus menghadapi keganasan sekira 3 ribu serdadu KNIL di bawah pimpinan Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler. Serangan Belanda sukses dipatahkan, bahkan berakibat fatal. Sang jenderal, Kohler, tewas terbunuh di peperangan pada 14 April 1873. Belanda memang akhirnya sukses menguasai Aceh pada 1904, ditandai penyerahan diri Sultan Muhammad Dawood, anak Sultan Muhammad Syah, kepada Belanda tahun 1903. Sebelum dia ditangkap, dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Tetapi kerugian besar baik dari sisi korban maupun materil akibat perang Aceh, harus pula ditanggung Belanda. Sebagai penghormatan bagi para prajuritnya yang meninggal selama perang, Belanda mendirikan Monument Atjeh (Monumen Aceh) di sekitar kompleks Taman Wilhelmina di Batavia. Saat Masjid Istiqlal dibangun pada 1951 dan memakan area taman, Monument Atjeh pun lebur jadi satu dengan tanah.
- Konco Pendiri Kopassus Kombatan Perang Dunia II
ANAK juragan dari Arnhem ini memlih jalan berbeda. Usai bersekolah di sekolah menengah Hogere Burger School (HBS), jiwa mudanya menuntunnya berpetualang ala film laga. Maka mendaftarlah dia ke Legion d’Estranger alias Legiun Asing Prancis di Afrika Utara. Dari rumah yang nyaman dia harus hidup di barak dan tempat latihan. Waktu bersantainya tergerus. Latihan keras dengan disiplin dan kekerasan jadi pengalaman hariannya. Semua itu dijalaninya agar siap ketika mendapat giliran jaga malam di bawah langit berbintang Afrika Utara. Hidupnya dilingkupi bahaya, apalagi ketika Perang Dunia pecah. “Dialah Légionnaire Michels, yang melindungi mundurnya Pasukan Ekspedisi Inggris dengan rentetan peluru dari senapan mesinnya. Dia adalah salah satu yang terakhir naik ke pesawat,” tulis Arnhemse Courant edisi 24 Maret 1949 tentang Robert Cornelis Michels yang bernama alias Bob (1917-1988). Ketika pasukannya mundur, Michiels sudah sekitar dua tahun bertugas di Legiun Asing Perancis. Sesampainya di Inggris, Michiels minta pindah kesatuan. Dia lalu ditempatkan di satuan perintis tentara Inggris. Namun, tak lama di London, Michiels kembali dikirim ke garis depan. Dia kembali bertempur, kini di Norwegia. Michiels lalu minta dipindahkan ke kesatuan tentara Belanda yang berada di Inggris. Setelah mengikuti latihan berat di pelatihan komando Achnacerry, Skotlandia, Michiels ditempatkan di Dutch Army No. 2 yang punya spesialisasi pasukan komando. Di kesatuan dengan baret berwarna merah dan lambang sayap tersebut, Michiels berpangkat kopral. Kopral Michels keahliannya tak hanya berkelahi dan memakai senjata api, tapi juga terjun payung dari pesawat. Terjun itu dialaminya juga saat dilibatkan dalam Operasi Market Garden –yang dilancarkan pasukan Sekutu untuk membebaskan Belanda yang diduduki Jerman-Nasi– pada suatu hari di bulan September 1944. “Awalnya dia ditempatkan di dekat Groningen, tetapi entah bagaimana posisinya di sana menjadi tidak aman, mereka memindahkannya ke tempat kami dekat pertanian kami,” aku Rudy Blatt dalam laporannya To Live You Fight: A War Diary . Rudy ketika itu berada di sekitar Drenthe, Belanda. Rudy merasa prihatin dengan Michiels yang dianggapnya tidak cocok untuk pekerjaan dengan kelicikan menguras mental. Arnhemse Courant tanggal 24 Maret 1949 menulis, di sekitar Veenhuizen dan Drenthe pada Oktober 1944 Michels berusaha melatih orang Belanda yang ikut perlawanan terhadap tentara Jerman di Belanda. Dia terlibat dalam penggerebakan di Rumah Tahanan di Assen. Beberapa anggota pasukan khsusus Belanda yang ikut Operasi Market Garden setelah 1945 dijadikan perwira, termasuk Bob Michels, Rudy Blatt, Raymond Paul Pierre Westerling, dan juga Rodes Barendrecht Visser yang kelak dikenal sebagai Idjon Djambi "sang pendiri Kopassus". Mereka menjadi letnan. Keempat prajurit pasukan khusus Belanda yang dilatih Inggris itu kemudian dikirim ke Indonesia. Di Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaannya itu, Rudy Blatt ditugaskan di bawah Kolonel Simon Hendrik Spoor selaku kepala Netherlands Forces Intelligence Service (NEFIS). Banyak informasi soal Indonesia mereka kumpulkan. Sementara, Visser bertugas melatih pasukan payung, dan Westerling melatih pasukan baret hijau Depot Special Troepen di Polonia, Jatinegara. Michiels sendiri ditugaskan di kesatuan infanteri biasa. Bob Michels pernah ditugaskan di Sumatra Selatan di bawah komando Kolonel Fritz Mollinger. Di daerah itu pula dia memetik “kemenangan” lantaran aksinya di Veenhuizen-Drenthe pada Oktober 1944 diapresiasi petinggi militer dan Kerajaan Belanda. Berdasarkan Koninklijk Besluit 4 November 1948, Letnan Satu Robert Cornelis Michels dianugerahi Bronzen Leeuwe atau Singa Perunggu. Sebuah upacara penganugerahan lantas diadakan di Palembang. Koran Het Dagblad edisi 14 Februari 1949 memberitakan, penghargaan untuk Michels itu disematkan oleh Komandan Tentara Teritorial Sumatera Selatan Kolonel Mollinger.*
- Hamka dan Patung Nabi Muhammad
SUATU hari Hamka benar-benar dibuat heran. Keberadaan patung Nabi Muhammad SAW di New York, di luar akal sehatnya. Dalam muhibahnya selama 4 bulan (25 Agustus–25 Desember 1952) di Amerika Serikat (AS) itu, Hamka banyak dibuat terkejut. Dan soal patung Nabi Muhammad SAW tersebut menjadi yang paling menohok baginya. Namun di lain pihak, hal itu membuatnya sadar bahwa pengetahuan tentang Islam di negeri Paman Sam saat itu masih sangat kecil. Ada rasa ironik dalam diri Hamka jika mengingat Sang Nabi yang berupaya menjauhkan umatnya dari patung-patung seperti itu sekarang malah dipatungkan. Di dalam memoarnya, 4 Bulan di Amerika , Hamka menelusuri keberadaan patung tersebut dan menghubungkannya dengan pemahaman tentang Islam di negara Barat, khususnya AS.
- The Godfather: Part II dan Seluk-Beluk Organisasi Mafia
DALAM satu hari pada tahun 1901, Vito Andolini (diperankan Oreste Baldini) diterpa musibah berlipat ganda di Kota Corleone, Pulau Sisilia, Italia. Bocah sembilan tahun itu terpaksa jadi anak yatim setelah ayahnya dibunuh bos mafia Don Ciccio. Saat hari pemakaman pun Vito mendapati kakaknya dan ibunya dibunuh oleh pelaku yang sama. Vito kecil pun diburu. Namun ia bisa menyelamatkan diri dibantu sahabat ayahnya, Tommasino (Mario Cotone). Vito akhirnya kabur hingga ke New York, Amerika Serikat. Dalam pemeriksaan imigrasi, petugas salah menyebut namanya: Vito Andolini menjadi Vito Corleone. Lantaran terinfeksi virus cacar, Vito terpaksa dikarantina tiga bulan di Pulau Ellis. Di kamar karantinanya, Vito duduk dengan anteng menghadap jendela. Dari kejauhan tampak Patung Liberty. Vito tak sabar mendambakan kehidupan barunya sebatang kara di kota yang sedang berkembang pesat itu.
- Francis Ford Coppola dan Trilogi The Godfather
NAMA Francis Ford Coppola diakui sebagai satu dari sedikit senias legendaris yang sejajar dengan Martin Scorsese, Steven Spielberg, James Cameron, Roman Polański, Spike Lee, ataupun Quentin Tarantino. Bukti sahihnya adalah raihan enam Piala Oscar (Academy Awards) dan enam Golden Globe. Tiga di antaranya ia menangkan di kategori sutradara terbaik lewat film-film epiknya, trilogi The Godfather (1972, 1974, 1990) dan Apocalypse Now (1979). Dalam rentang waktu hampir enam dekade, Coppola terlibat dalam 30 film epik, 26 di antaranya sebagai sutradara. Film merupakan hal familiar baginya. Sejak kecil ia tumbuh di lingkungan keluarga yang berkecimpung di dunia seni, baik seni peran maupun musik. Kala berbincang dalam program “Living Live” yang ditayangkan Mola TV , Jumat (22/1/2021) malam dengan dipandu sineas Rayya Makarim dan eks-Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal, Coppola berkisah bagaimana keluarganya yang imigran Italia sampai pada generasi kelima tetap dekat dengan industri film.
- Melihat Lebih Dekat Dunia Mafia Lewat The Godfather
DI TENGAH hingar bingar pesta pernikahan putrinya pada musim gugur 1945, Vito Corleone (diperankan Marlon Brando Jr.) masih disibukkan urusan dunia “hitam”. Seperti ketika Bonasera (Salvatore Corsitto) menghadapnya untuk memohon kepada bos mafia dari Keluarga Corleone itu agar mau membantunya menegakkan “keadilan” yang dialami putri Bonasera. Don Corleone memperingatkan bahwa jikalau ia mau membantu Bonasera, Bonasera kelak harus mau “berteman”. Artinya, Bonasera mesti loyal ketika nanti Don Corleone membutuhkan dirinya untuk urusan dunia gelap lain. Persyaratan itu dipenuhi Bonasera dengan mencium tangan sang godfather. Selebihnya, urusan itu diserahkan Don Corleone kepada tangan kanannya, Tom Hagen (Robert Duvall), yang akan mengatur tindakan di lapangan. Adegan itu jadi gambaran jelas bagaimana lika-liku di lingkaran keluarga mafia Italia. Deskripsi mendetail tentang segala hal yang berkaitan dengan hutang budi sebagai salah satu aktivitas dunia gelap itu diperlihatkan lebih dulu oleh sineas Francis Ford Coppola untuk mengawali film fiksi kriminal The Godfather .
- The Godfather: Part III dan Skandal Vatikan
KATEDRAL tua Santo Patricius, New York pada suatu hari di bulan November 1979. Para hadirin, baik kerabat maupun keluarga, begitu khusyuk menjalani upacara pelantikan Don Michael Corleone (diperankan Al Pacino) sebagai penerima gelar anggota kehormatan Ordo Santo Patricius. Sebuah medali penandanya kemudian dikalungkan di lehernya oleh seorang uskup. Penobatan itu lantas disambung dengan pesta meriah di kediamannya. Namun di tengah pesta itu, Michael diusik perkara yang membelit keponakannya, Vincenzo ‘Vincent’ Mancini-Corleone (Andy García), dengan bos mafia yang baru naik daun, Joey Zasa (Joe Mantegna). Karena tak kunjung damai, rekan senior Michael, Don Altobello (Eli Wallach), berjanji untuk membantunya mendamaikan suasana. Michael tentu berterimakasih karena ia sedang tak ingin diganggu masalah sang keponakan. Yang lebih penting, Michael berencana membawa organisasi keluarganya keluar dari dunia hitam. Lewat Yayasan Vito Andolini Corleone Foundation yang didirikannya, Michael ingin semua aktivitas keluarganya tak lagi bergulir di luar aturan legal.
- Skandal Perselingkuhan Propagandis Nazi Joseph Goebbels
PAUL Joseph Goebbels merupakan salah seorang tangan kanan Adolf Hitler. Bergabung dengan Nazi pada 1924, Goebbels diberi posisi kunci sebagai Menteri Penerangan dan Propaganda ketika Hitler menjabat Kanselir Jerman sejak tahun 1933 hingga 1945. Meski dekat dengan sang Führer, hubungan keduanya sempat merenggang akibat skandal perselingkuhan Goebbels dengan seorang aktris, Lida Baarová. Goebbels dan Baarová pertama kali bertemu di tahun 1936. Sejarawan Jerman, Peter Longerich menulis dalam Goebbels: A Biography, mereka bertemu ketika Goebbels tengah jalan-jalan sore di Schwanenwerder. “Menjadi suatu kebetulan karena ketika itu, Baarová yang merupakan kekasih dari aktor Gustav Fröhlich, baru saja pindah ke sebuah rumah yang berlokasi sangat dekat dengan kediaman Goebbels di Schwanenwerder,” tulis Longerich.
- Marie Antoinette, Ratu Prancis yang Mati Tragis
RATUSAN tahun sejak kematiannya, Marie Antoinette masih menjadi salah satu tokoh yang kerap diperbincangkan. Ratu Prancis itu memang dikenal memiliki paras cantik dan selera fesyen yang memukau.Akan tetapi pembahasan mengenai sosoknya lebih banyak dikaitkan dengan Revolusi Prancis yang berujung pada jatuhnya kekuasaan sang suami, Louis XVI, dan berujung keduanya dieksekusi mati. Lahir di Wina, Austria tahun 1755, Marie Antoinette masih begitu muda ketika mengetahui dia akan menikah dengan calon raja Prancis. Sejumlah sejarawan menyebut putri pasangan Kaisar Romawi Suci Francis I dan permaisuri Habsburg yang berkuasa, Maria Theresa, itu baru berumur 14 atau 15 tahun ketika dinikahkan dengan Pangeran Louis, cucu Raja Prancis Louis XV, yang juga masih remaja dan berusia sekitar 16 tahun pada 16 Mei 1770. Pernikahan itu dianggap sebagai pernikahan politis karena bertujuan untuk memperkuat hubungan Prancis dengan Habsburg.
- Marie Antoinette, Let Them Eat Cake, dan Revolusi Prancis
UNGKAPAN “ Let them eat cake ” yang dalam bahasa Indonesia berarti biarkan mereka makan kue merupakan kutipan paling terkenal yang dikaitkan dengan Ratu Marie Antoinette di tengah gejolak Revolusi Prancis pada akhir abad ke-18. Dikisahkan, kalimat tersebut diungkapkan sang ratu Prancis sebagai respons atas kondisi rakyatnya yang kelaparan karena kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga memicu terjadinya Perang Tepung di sejumlah wilayah Kerajaan Prancis pada 1775. Menurut Cynthia A. Bouton dalam The Flour War , ada beberapa faktor yang menyebabkan kerusuhan ini terjadi, di antaranya panen gandum yang buruk pada 1774 hingga memicu kenaikan harga kebutuhan pokok yang tak terelakkan, serta kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan yang diberlakukan pihak kerajaan terkait dengan aturan perdagangan biji-bijian.
- Akhir Tragis Sahabat Marie Antoinette
KEMARAHAN rakyat Prancis yang berujung pada gejolak revolusi tak hanya mengarah kepada Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette. Sejumlah bangsawan lain yang memiliki hubungan dekat dengan pasangan itu juga turut menjadi sasaran massa, salah satunya adalah Putri de Lamballe, teman dan pelayan yang setia kepada Marie Antoinette. Putri de Lamballe lahir di Turin, 8 September 1749, dengan nama Marie Thérèse de Savoie-Carignan, putri Pangeran Louis-Victor de Savoie-Carignan. Dia menikah dengan Louis-Alexandre-Stanislas de Bourbon, Pangeran de Lamballe, putra tunggal bangsawan Duc de Penthièvre. Keduanya masih belia saat pernikahan digelar pada 1767, Pangeran de Lamballe berusia 20 tahun, sedangkan sang pengantin wanita baru akan menginjak umur 18. Nahas, pernikahan ini tak berlangsung lama karena Pangeran de Lamballe meninggal dunia.
- Marie Antoinette dan Skandal Kalung Berlian yang Menyulut Revolusi Prancis (Bagian I)
GAYA hidup mewah Ratu Marie Antoinette sudah lama membuat geram masyarakat Prancis. Kemarahan terhadap monarki yang dipimpin oleh Raja Louis XVI semakin memuncak ketikaskandal penipuan menyeret nama ratu yang dijuluki Madame Deficit itu. Pemeran utama dalam skandal yang terjadi pada 1785 ini sesungguhnya bukan Marie Antoinette, tetapi nama sang ratu dicatut seorang wanita bernama Jeanne yang juga dikenal dengan Countess de La Motte-Valois untuk menipu Kardinal Louis de Rohan. Siapa sesungguhnya Countess de La Motte-Valois dan apa hubungannya dengan Marie Antoinette? Jeanne de Valois-Saint-Rémy merupakan anak dari keturunan tidak sah Raja Henri II (1547–1559). Meski mengaku bangsawan, keluarga Jeanne hidup dalam kemiskinan. Ia menikah dengan seorang perwira bernama Nicolas de la Motte pada 1780 dan menamakan diri mereka sebagai Count dan Countess de La Motte. Gaya hidup Jeanne tidak sejalan dengan kondisi keuangannya yang pas-pasan. Gelar bangsawan yang disandangnya menuntut wanita itu untuk selalu tampil modis dan menunjukkan kekayaannya demi menjaga status sosialnya.






















