top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • 21 November 1925: Dirgahayu, Poncke!

    HARI ini dalam sejarah, H.J.C. Princen berulang tahun. Dia lahir pada 21 November 1925 di Den Haag, Belanda. Jika dia masih ada di tengah kita, usia lelaki yang akrab dipanggil Poncke itu sudah mencapai angka 94. Namun nyatanya Poncke sudah pergi sejak 22 Februari 2002 dan sekarang jasadnya bersemayam di Taman Pemakaman Umum Pondok Kelapa, Jakarta Timur, tempat yang dia pilih sendiri untuk beristirahat panjang. Poncke sebenarnya sangat bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tahun 1949, Presiden Sukarno telah menganugerahinya Bintang Gerilya dan itu memberinya hak untuk dimakakamkan di tempat yang terhormat tersebut. Tapi sejak awal, Poncke telah menolaknya. “Papah pernah bilang ingin dimakamkan sebagai orang biasa saja dan tidak di TMP Kalibata yang dia bilang banyak koruptornya,” ungkap Wilanda Princen suatu hari kepada saya.

  • B.M. Diah Ditangkap Jepang Sebelum Pernikahan

    HARI pernikahan B.M. Diah dan Herawati Latip tinggal menghitung hari. Rencananya mereka akan menikah pada 18 Agustus 1942. Tiga hari menjelang pernikahan, kesibukan terlihat di kediaman dr. Latip, ayah Herawati. Selain tengah mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk pesta kecil yang akan diselenggarakan, orang-orang di rumah itu juga gempar karena calon pengantin pria “hilang”. “Padahal segala persiapan sudah jauh. Baju pengantin sudah jadi. Tukang rias pengantin sudah siap. Makanan sudah dipesan,” cerita Herawati dalam B.M. Diah Wartawan Serba Bisa karya Toeti Kakiailatu. Kabar penangkapan B.M. Diah tak hanya mengejutkan Herawati, tetapi juga keluarganya. Sebab, rencana pernikahan yang telah disiapkan sejak jauh-jauh hari terancam batal karena wartawan Asia Raya  itu dibawa Kempeitai  (polisi rahasia Jepang) beberapa hari menjelang pernikahannya.

  • Kisah Asmara Dua Perwarta

    SEKEMBALINYA dari Amerika Serikat untuk belajar ilmu jurnalistik di Bernard College, Columbia University, Siti Latifah Herawati Latip langsung meniti karier sebagai wartawan. Ia bekerja sebagai stringer (perantara) untuk wartawan Filipina yang ingin melakukan liputan di Hindia Belanda. "Wartawan itu Carlos Romulo yang beberapa tahu kemudian menjabat Menteri Luar Negeri negaranya,"  katanya dalam autobiografinya Kembara Tiada Berakhir. Ketika masa pendudukan Jepang, Herawati bekerja sebagai penyiar yang membacakan surat dari para tahanan perang di Radio Hosokyoku. Ia menerima pekerjaan ini setelah dibujuk sahabat ayahnya, dr. Latip, yang bernama Bahrum Rangkuty. Meski awalnya sempat menolak, Herawati mau menerima pekerjaan ini lantaran ada sisi kemanusiaan di dalamnya. Ia mulai bekerja pada April 1942 dan di sinilah ia bertemu Burhanudin Mohamad (B.M.) Diah yang kelak jadi suaminya.

  • Herawati Diah: Jurnalis Bisa Pengaruhi Pembaca

    SEJAK kecil, Siti Latifah Herawati Latip yang kemudian dikenal sebagai Herawati Diah lebih banyak bermain di luar. Main boneka merupakan hal menjemukan buatnya. Ia lebih suka memanjat pohon dan membaca buku, khususnya tentang suku Indian Amerika. Rambutnya juga dipotong pendek sehingga ia sering dijuluki “boy”. Herawati lahir di Belitung, 3 April 1917. Di sanalah ia menghabiskan sebagian masa kecilnya. Ayahnya, dokter Latip, bekerja sebagai tenaga medis pada perusahaan Belanda Biliton Maatschappij. Dokter Latip merupakan Jawa totok yang lahir dan besar di daerah Kadilangu, Demak. Sementara ibunda Herawati, Alimah, merupakan perempuan keturunan Aceh yang besar di Indramayu. Dokter Latip berharap Herawati kelak menjadi dokter dan memberinya nasihat bahwa dokter adalah profesi yang menjunjung tinggi kemanusiaan. “Tetapi saya tidak tertarik. Ngeri melihat darah,” kata Herawati dalam autobiografinya, Kembara Tiada Berakhir.

  • Herawati Diah Wartawati Brilian Penerus Jejak Sang Ibu

    LANTARAN diminta pihak sekolahnya untuk mengenakan pita oranye sebagai perayaan hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina, bocah Siti Latifah Herawati meminta pada ibunya, Siti Alimah, untuk disiapkan pita oranye. Betapa terkejutnya Herawati karena sang ibu justru melarangnya. Bagi Herawati, Ratu Wilhelmina ialah ratunya juga. Namun tidak bagi Alimah. “Mengapa?” tanya Herawati kecil, bersedih. “Karena kamu bukan orang Belanda,” kata Alimah. Alimah tak menjelaskan kalau oranye adalah warna Kerajaan Belanda. Alimah memang perempuan teguh pendirian, yang mendorong Herawati untuk terus belajar dan mengadopsi gaya hidup Barat. Hidup dalam tekanan kolonialisme membuatnya ingin melihat anak-anak dapat maju supaya sejajar dengan penjajah.

  • Polonia, Tanah Tuan Kebun Polandia di Medan

    SEBELUM pindah ke Kualanamu, Deliserdang, 11 tahun silam, Kota Medan punya bandar udara (bandara) bernama Polonia. Bandara Polonia terletak di Kecamatan Medan Polonia, sebelah selatan Kota Medan. Nama Polonia sendiri bukanlah lema dalam bahasa lokal, entah Melayu atau Batak, melainkan diserap dari satu nama negara di benua Eropa: Polandia. “Seorang berbangsa Polandia, ia membuka kebon tembako dilapangan terbang GIA sekarang dan kebon itu dinamakan ‘Polonia’. Sebab itulah nama tersebut melekat sampai sekarang,” demikian dilansir Mingguan Istimewa , 26 April 1959. Kampung Medan milik Kesultanan Deli kian menarik sejak pengusaha Belanda Jacobus Nienhuys menyulapnya jadi perkebunan tembakau. Begitu ekspor tembakau Deli laku keras di pasaran dunia, para pemodal Eropa dan Amerika kemudian berduyun-duyun ikut menanamkan modal ke Medan. Tidak terkecuali bagi Ludwik Baron Michalsky, seorang bangsawan rendahan asal Polandia, juga kepincut mendulang laba dari tembakau Deli di Medan.

  • Menelusuri London yang Tak Lazim

    SEBAGAI tujuan wisata, London adalah salah satu kota paling termashyur yang ingin dituju oleh para pelancong. Banyak situs-situs bersejarah di London yang masuk daftar wajib kunjung jika berkesempatan datang ke sana. Namun, ketika untuk kedua kalinya saya menjejakkan kaki di ibukota Inggris tersebut pada Juni 2015, sebagai seorang peminat sejarah kasual, saya berpikir ada baiknya juga mengunjungi situs sejarah alternatif. Jika dalam daftar wajib kunjung tempat-tempat seperti Big Ben atau Buckingham Palace ada di nomor satu atau dua, saya penasaran dengan tempat-tempat yang berada di nomor dua belas atau tiga belas. Ketika saya bilang ke resepsionis hotel bahwa hari itu saya akan pergi ke bangunan gereja bersejarah di London. Tanpa diduga, dia menggaruk-garuk kepala ketika saya mengatakan tempat yang akan saya kunjungi bukanlah Westminster Abbey. Memang ada banyak gereja dengan riwayat sejarah berabad-abad di ibukota Inggris tersebut, tapi saya lebih tertarik pada satu tempat yang belum tentu semua orang sadar dengan keberadaannya: Temple Church.

  • Repatriasi Harga Mati

    HARI masih pagi ketika Kapal Waterman tiba di Rotterdam, Belanda pada 6 September 1958. Kapal terakhir itu mengangkut ribuan orang Belanda dari Indonesia. Pemerintah Indonesia memulangkan (repatriasi) mereka sebagai buntut dari sengketa Irian Barat. Pada 29 November 1957, PBB gagal menyetujui resolusi yang menyerukan kepada Belanda supaya berunding dengan Indonesia soal Irian Barat. Irian Barat pun tetap di bawah kekuasaan Belanda. Sukarno menyatakan, jika mosi yang diajukan Indonesia di Sidang Umum PBB ditolak, pemerintah Indonesia akan mengambil “jalan lain yang akan mengejutkan dunia.”

  • Partono, Pilot Jadi Menteri

    PRESIDEN Sukarno beberapa kali melawat ke Jepang. Kunjungan terakhirnya pada Januari 1965 menghadapi masalah ketika akan kembali ke Indonesia. Petugas keamanan memberitahukan bahwa rute terbang melalui Okinawa, Hongkong, dan Manila, tidak aman. Setelah menerima laporan itu, Sukarno memanggil dan bertanya kepada Kapten Partono, pilot pesawat jet Garuda: apakah mampu untuk menerbangkan rombongan presiden secara nonstop melalui rute di luar peta penerbangan, yakni dari Tokyo langsung ke Biak di Irian Barat (Papua). “Kapten Partono menyatakan kesanggupannya untuk menerbangkan pesawat melalui rute yang panjang di barat daya Pasifik itu, walaupun penerbangan semacam itu, dengan membawa presiden, biasanya didahului dengan beberapa kali penerbangan penjajakan,” kata Ganis Harsono dalam Cakrawala Politik Era Sukarno . Saat itu, Ganis menjabat deputi menteri dan juru bicara Departemen Luar Negeri.

  • Keris yang Dikubur Bersama Pangeran Diponegoro

    PANGERAN Diponegoro memiliki banyak senjata pusaka berupa keris dan tombak. Sebagian besar pusakanya diberikan kepada putra dan putrinya, kecuali satu keris yang menyertainya ke liang lahad. Diponegoro memberikan keris Kiai Bromo Kedali (cundrik) dan tombak Kiai Rondan kepada Pangeran Diponegoro II; keris Kiai Habit (Abijoyo?) dan tombak Kiai Gagasono kepada Raden Mas Joned; keris Kiai Blabar dan tombak Kiai Mundingwangi kepada Raden Mas Raib. Keris Kiai Wreso Gemilar dan tombak Kiai Tejo diberikan kepada Raden Ayu Mertonegoro; keris Kiai Hatim dan tombak kiai Simo kepada Raden Ayu Joyokusumo; tombak Kiai Dipoyono kepada Rade Ajeng Impun; dan tombak Kiai Bandung kepada Raden Ajeng Munteng.

  • Di Balik Kutukan Keris Mpu Gandring

    KEN ANGROK dikutuk mati oleh Mpu Gandring. Maestro keris itu mengucap sumpah bahwa keris buatannya akan memutus hidup sang pendiri Singhasari dan tujuh turunannya. Begitulah Pararaton mengisahkan bagaimana Mpu Gadring, Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Angrok, Anusapati, hingga Tohjaya menemui ajalnya. Katuturanira Ken Anrok itu hanya memberikan penjelasan sederhana soal tragedi berdarah di keluarga Singhasari. Si penulis yang anonim hanya bilang kalau pembunuhan berantai terjadi akibat kutukan Mpu Gandring. Namun, di baliknya, menurut Dwi Cahyono, pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, pertumpahan darah di singgasana Singhasari bukan cuma persoalan balas dendam. Tragedi itu lebih menunjukkan perebutan pengaruh antara trah Ken Angrok dan trah Tunggul Ametung. Secara lebih luas, drama itu merupakan kelanjutan usaha wilayah timur Gunung Kawi, yaitu Tumapel-Singhasari memisahkan diri dari genggaman Kadiri.

  • Korban Keris Mpu Gandring

    SIAPA yang tak kenal dengan kisah keris Mpu Gandring? Keris ini dikutuk pembuatnya, Mpu Gandring, akan membawa malapetaka. Keris pencabut maut ini dikisahkan dalam kitab Pararaton atau Katuturanira Ken Anrok (gubahan tahun 1478 dan 1486 tanpa disebutkan penggubahnya). Di luar mitos soal magis keris Mpu Gandring, kisah ini menggambarkan suksesi berdarah yang mengiringi perjalanan kerajaan Singasari, yang didirikan Ken Angrok. Berikut ini para korban kutukan keris Mpu Gandring.

bottom of page