Hasil pencarian
9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Umat Protestan dalam Cengkeraman VOC
SEBUAH kapal terdampar di Singapura. Kapal itu baru saja dirompak. Salah seorang penumpangnya seorang pastor Katolik dari Sarekat Jesuit, sebuah sekte dalam agama Katolik, bernama Aegidius de Abreu, seorang Portugis. Dia dibawa orang-orang Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) ke penjara di Batavia. Di tempat ini, dia sebermula bebas mengunjungi penganut Katolik lain di penjara.
- Alkisah Bocah Nazi dan Piyama Yahudi
PESTA di rumah Bruno (diperankan Asa Butterfield) di Berlin pada suatu malam berlangsung meriah. Dari railing lantai dua, bocah berusia delapan tahun itu bersama kakaknya, Gretel (Amber Beattie), melihat raut wajah bahagia para tamu ayahnya bergaun mewah, berjas pesta, atau berseragam militer. Namun di antara para tamu itu, Nathalie (Sheila Hancock), nenek Bruno, kedapatan menampakkan wajah bermuram durja. Dari pantulan cermin besar di lantai bawah, sang nenek terlihat melambaikan tangannya ke arah Bruno yang langsung berbalas senyum. Itu jadi lambaian tangan dan pertemuan terakhir sang nenek dengan Bruno. Pasalnya, keesokan harinya Bruno sekeluarga ikut ayahnya yang pindah tugas ke luar Berlin. Dari ibunya, Elsa (Vera Farmiga), Bruno mendapat penjelasan bahwa kepindahan mereka untuk mendukung pekerjaan penting ayahnya yang mengabdi pada negara. Bruno, bocah polos yang belum paham apa pekerjaan sang ayah, hanya bisa menuruti. Ralf (David Thewlis), ayah Bruno, merupakan perwira SS (Schutzstaffel/Paramiliter Nazi) berpangkat obersturmbannführer (setara letnan kolonel). Ia baru mendapat promosi jadi komandan sebuah kamp. Ralf (kanan) perwira Nazi ayah Bruno yang dipromosikan menjadi komandan kamp konsentrasi. (IMDb). Kisah keluarga Ralf itu jadi prolog yang disajikan sutradara Mark Herman dalam drama tragedi bertajuk The Boy in the Striped Pyjamas . Bertema holocaust, The Boy in the Striped Pyjamas diangkat dari novel berjudul serupa karya John Boyne. Adegan lantas beralih ke adegan Bruno tiba di rumah barunya. Selain banyak penjaga, di lingkungan anyar itu Bruno bahkan bertemu sesosok orang tua di dapur mengenakan baju lusuh bergaris-garis yang dianggapnya sebagai piyama. Sosok yang ia kenal bernama Pavel (David Hayman) itu sempat merawat lutut Bruno kala terluka pasca-terjatuh dari ayunan. Baca juga: Kisah Dramatis Atlet Kulit Hitam di Pentas Olahraga Era Nazi Di rumah baru itu pula Brono tak bersekolah dengan mendatangi sebuah kelas, melainkan dengan homeschooling dengan guru yang didatangkan ayahnya. Sang guru, Tuan Liszt (Jim Norton), mengajarkan banyak hal berbeda. Liszt meremehkan cita-cita Bruno yang ingin jadi penjelajah lantaran saat itu umumnya anak seperti Bruno sudah mesti belajar situasi negerinya. Bruno tak tertarik pada ajaran-ajaran antisemit Tuan Liszt. Ia jadi sering bosan. Pada suatu hari, Bruno menemukan sebuah pintu di samping rumahnya yang menghubungkan ke taman belakang. Naluri penjelajahnya terlecut. Dari sebuah jendela yang terbuka di gudang taman belakang, Bruno menjelajahi hutan sampai tiba kakinya terhenti di depan jejeran kawat berduri. Sosok Shmuel (kanan) bocah Yahudi berpiyama yang menjalin pertemanan dengan anak komandan kamp konsentrasi. ( miramax.com ). Bruno menafsirkan tempat itu sebagai areal pertanian. Namun anehnya, semua orang di tempat itu, termasuk seorang bocah seusianya, mengenakan piyama bergaris-garis yang sama dengan milik Pavel. Bruno yang tak punya teman, dengan polos berkenalan lalu berteman dengan bocah bernama Shmuel (Jack Scanlon) itu. Hampir setiap hari Bruno menyelinapkan makanan untuk Shmuel. Suatu hari, Bruno membulatkan tekadnya untuk membantu Shmuel mencari ayahnya yang hilang beberapa hari sebelumnya setelah digiring sejumlah penjaga ke sebuah tempat. Misi penjelajahan Bruno pun dimulai. Seperti apa petualangan Bruno bersama Shmuel dan bagaimana akhirnya? Baiknya Anda saksikan sendiri The Boy in the Striped Pyjamas . Kendati sudah dirilis sejak 26 November 2008, saat ini masih bisa ditonton di Mola TV . Holocaust dari Mata Dua Bocah Selain meminjam tembang lawas “Smile When You Say Goodybe” ciptaan Harry Parr-Davies, film juga diiringi music score sejumlah karya orkestra garapan komposer James Horner untuk membuat penonton bisa masuk ke suasana tahun 1940 ketika rezim Nazi di Jerman tengah berada di masa puncaknya. Horner mengiringinya dengan scoring bertema ceria kala Bruno masih tinggal di kota besar seperti Berlin, bergeser ke “ bittersweet ” ketika Bruno pindah ke rumah besar dekat kamp konsentrasi yang menyimpan cerita pahit. Seiring denga n nya, untuk menyokong cerita yang diadaptasi dari novel karya Boyne, Herman yang merangkap penulis skenario dibantu editor Michael Ellis meracik tone film menjadi suram saat Bruno dan keluarganya pindah dari Berlin. Dalam sebuah wawancara yang dimuat What’s On Live , 26 Mei 2015, Boyne memberi kebebasan pada Herman untuk memberi beberapa perubahan dari novel ke filmnya. “Sebelum diproduksi saya bertemu Mark dan kami membicarakan tentang penggarapannya. Dia punya ide bagus tentang bagaimana mengalihwahanakannya dan saya sendiri senang untuk memberinya kebebasan. Kemudian saya juga cukup terlibat dalam proyek filmnya dan senang dengan hasil yang dibawakan Mark,” ujar Boyne. Baca juga: Kisah Intel Israel Mengejar Gembong Nazi Terakhir Novel The Boy in the Striped Pyjamas karya novelis Irlandia John Boyne. ( johnboyne.com ). Beberapa perbedaan dihadirkan Herman lewat improvisasinya. Antara lain tentang pertemuan keluarga Bruno dengan Führer Adolf Hitler yang akhirnya membuahkan promosi sang ayah. Bruno dengan lidah cadelnya melafalkan führer menjadi “Fury”. Herman meniadakan kisah ini dalam filmnya. Kisah tentang Bruno melafalkan kamp konsentrasi Auschwitz menjadi “Out-With” di novel juga ditiadakan Herman demi meniadakan penyebutan tempat jahanam yang memakan banyak nyawa Yahudi itu. Tim produksi beralasan, mereka tak ingin terlalu dalam menjejali horor holocaust pada anak-anak dan generasi muda yang jadi target filmnya. Bagi produser David Heyman, mereka ingin menggambarkan holocaust tetap dari mata seorang bocah. Oleh karena itu Herman dan Heyman tak banyak mengedukasi apalagi sampai mengarahkan para aktor ciliknya soal pengetahuan holocaust karena belum pantas untuk disajikan pada usia mereka. “Mark memutuskan untuk tidak mengedukasi mereka (para aktor cilik) terlalu banyak. Terhadap Asa (Butterfield, pemeran Bruno), itu menjadi proses penggalian pengetahuan pada banyak tingkatan. Saya pikir sebagai aktor, dia sudah mencari tahu sendiri tentang pentingnya dan relevansi keterlibatannya dalam film ini. Di film ini pengalaman dan pengetahuan mereka berkembang. Mereka menjadi lebih dewasa setelah memulai keterlibatannya,” ungkap Heyman kepada indielondon.co.uk. Baca juga: Heydrich, Jagal Nazi Berhati Besi Tetap saja kritik menghampiri mereka, terutama tentang bagian akhir film. Itu lantaran Herman merangkum kisah di novel hanya dalam satu momen. Ditambah, Bruno menyisipkan plot twist yang seolah menawarkan simpati bagi keluarga Bruno yang notabene anak pelaku holocaust. “Situasi ambigu itulah yang memang saya inginkan. Saya senang faktanya penonton terpaku pada ambiguitas itu. Apa kita harus kasihan padanya (ayah Bruno)? Apakah dia korban? Atau dia pantas mendapatkannya? Saya senang penonton mempertanyakan pada diri sendiri tentang apa yang mereka rasakan,” kata Herman sebagaimana dinukil RTÉ , 11 September 2008. Kolase adegan tragis di kamp konsentrasi Nazi. ( miramax.com ). Bagi Herman, itu sekadar inspirasi dari novel Boyne yang dibacanya. Boyne juga menciptakan cerita dan karakter-karakternya berupa fiksi yang terinspirasi dari beberapa hal nyata. Karakter-karakter keluarga Bruno contohnya. Realitasnya, memang ada seorang komandan kamp konsentrasi Auschwitz yang bertugas dengan membawa serta keluarganya. “Saya tahu komandan dari Auschwitz yang menyertakan keluarganya untuk tinggal di sana dan dia punya lima anak. Tetapi saya tidak mendasarkan karakter Bruno dari salah satu dari lima anak itu. Juga dengan karakter Shmuel. Ia hanya representasi dari anak-anak di kamp konsentrasi,” sambung Boyne. Baca juga: Adolf Eichmann, Perwira Nazi Spesialis Yahudi Faktanya, di kamp Auschwitz sempat ada ratusan anak laki-laki yang dijadikan pekerja paksa sebelum dihabisi di kamar gas. Henry Gonshak yang meriset sejumlah arsip kamp konsentrasi Nazi menyatakan dalam Hollywood and the Holocaust bahwa tercatat ada 619 anak laki-laki di Auschwitz. Namun tak satupun dari mereka yang berusia sembilan tahun ke bawah karena dianggap para penjaga belum cukup usia untuk dipaksa bekerja. Lazimnya, anak-anak seusia Shmuel di novel Boyne langsung digiring ke kamar gas setelah tiba di Auschwitz. Dari banyak catatan tentang Auschwitz itulah Boyne menjadikannya inspirasi untuk membuat kisahnya. Sementara, karakter keluarga Bruno diraciknya dari kisah keluarga Obersturmbannführer Rudolf Höss, komandan Auschwitz yang tinggal di sebuah vila besar dekat kamp Auschwitz I. Semua pelayan kamp itu adalah para tahanan kamp. Keluarga Obersturmbannführer Rudolf Franz Ferdinand Höss, komandan kamp konsentrasi Auschwitz. (IFZ). John W. Primomo dalam Architect of Death at Auschwitz: A Biography of Rudolf Hoss menyingkap, Höss membawa serta keluarganya ketika mendapat promosi menjadi komandan Auschwitz pada 1 Mei 1940. Selain sang istri, Hedwig Hensel, turut pula keempat anaknya: Klaus (10), Heidetraut (8), Inge-Brigitt (6), dan Hans-Jurgen (3). Adapun anak kelimanya, Annegret, baru lahir pada 1943 seiring masa tugas Höss. “Keluarga saya, tentunya, diberi kebutuhan dengan baik di Auschwitz. Semua keinginan istri dan anak-anak dipenuhi. Istri saya juga punya surga bunga di tamannya. Para tahanan (kamp) tak melewatkan kesempatan berbuat baik dengan membawakan anak-anak saya: kura-kura, kucing, kadal, semua hewan yang menarik perhatian,” ungkap Höss dalam catatan hariannya yang dikutip Primomo. Kepada anak-anaknya yang mulai bertanya tentang para pelayan dari kamp, Höss hanya menjelaskan: “Mereka bukan orang-orang biasa. Mereka tahanan.” Sementara para tahanan disiksa hingga dihilangkan paksa di kamar-kamar gas, Höss dan keluarganya hidup nyaman di vila besar itu hingga tiga tahun setengah. Saat Perang Dunia II berakhir, Höss mengasingkan diri dari keluarganya dan menyamar menjadi personil Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman). Sementara keluarganya selamat, Höss tertangkap setelah penyamarannya terbongkar pada 11 Maret 1946. Sebulan berselang Höss diajukan ke Supreme National Tribunal di Polandia dan divonis hukuman mati. Hidup Höss lantas berakhir di tiang gantung pada 2 April 1947. Eksekusinya dilakoni tepat di sebelah ruang kremasi Auschwitz I. Data Film: Judul: The Boy in the Striped Pyjamas | Sutradara: Mark Herman | Produser: David Heyman | Pemain: Asa Butterfield, Vera Farmiga, David Thewlis, Jack Scanlon, Amber Beattie, David Hayman, Sheila Hancock, Jim Norton, Rupert Friend | Produksi: BBC Films, Heyday Films, Miramax Films | Distributor: Miramax Films | Genre: Drama Holocaust | Durasi: 94 Menit | Rilis: 26 November 2008, 2020 (Mola TV) Baca juga: Josef Mengele Dokter Keji Nazi
- Mimpi Merdeka Raden Ajeng Kaida
PADA bulan Oktober 1912, seorang wanita muda di keraton Paku Alam Yogyakarta memulai surat pertamanya kepada sahabat pena baru di Belanda. Raden Ajeng Kaida berumur delapan belas tahun dan terus berkomunikasi dengan teman barunya dari Belanda, Kaatje, selama kurang lebih empat tahun. Surat-suratnya, yang sekarang disimpan dalam arsip di Amsterdam, memberikan pengetahuan yang menarik tentang harapan Kaida untuk masa depannya. Surat-surat itu juga menunjukkan bahwa dia harus menghadapi banyak kekecewaan, karena tradisi priayi terkadang lebih kuat daripada mimpinya sendiri.
- Natal Berdarah di Laut Tengah
TAK ada hal aneh pada sore 22 Desember 1963 yang diingat Paul Sant Cassia, profesor antropologi di University of Malta, yang saat itu berusia sembilan tahun. Pada hari itu, kata Paul, ayahnya berangkat ke pabrik tempatnya bekerja seperti biasa. Ayahnya tetap bertahan bekerja di pabrik itu sebagai satu-satunya warga Siprus berdarah Turki karena begitu mencintai pekerjaannya. Semua berjalan seperti biasa hingga selepas pukul 10 malam Paul mendapati berita terjadinya kerusuhan di dekat pabrik tempat ayahnya bekerja. “Pada tanggal 22 Desember malam perkelahian terjadi sekitar pukul 10.00 malam di pusat kota. Empat orang tewas dan banyak lainnya luka-luka. Perkelahian terjadi di dekat pabrik dan saya dan saudara laki-laki khawatir ayah akan terlibat ketika dia melakukan inspeksi di halaman pabrik. Kami meneleponnya dan memberi tahu dia bahwa ada masalah. Kami menyuruhnya pulang karena dia mungkin akan cedera jika orang Siprus Yunani mengidentifikasinya sebagai orang Siprus Turki,” kata Paul dalam bukunya, Bodies of Evidence: Burial, Memory and the Recovery of Missing in Cyprus . Kala itu ketegangan antara warga Siprus berdarah Turki dan warga berdarah Yunani tengah memuncak. Akibatnya, ibukota Nikosia dibagi menjadi wilayah untuk warga Siprus Turki di utara dan wilayah untuk warga Siprus Yunani. Masing-masing komunitas saling mencurigai. Warga berdarah Turki mencurigai warga berdarah Yunani sebagai pendukung Enosis atau ideologi nasionalis yang mengupayakan integrasi Siprus dengan Yunani. Pemilihan Polycarpos Goergadjis, mantan jagal EOKA semasa perjuangan kemerdekaan Siprus dari Inggris yang terlibat dalam pembunuhan terhadap kalangan sipil, sebagai menteri dalam negeri dianggap salah satu langkah strategisnya. Sebaliknya, warga berdarah Yunani menuduh warga Turki ingin menguasai Siprus dan selalu mengkhawatirkan masuknya militer Turki ke Siprus. Saling ketidakpercayaan itu muncul dikarenakan beberapa faktor. Antara lain, penerapan pajak terpisah antara warga Siprus Yunani dan Siprus Turki. Bentuk Republik Siprus yang bukan negara kesatuan, melainkan komunal dengan sebagian di antaranya federasi komunal, menurut Andrew Borowiec dalam Cyprus: A Troubled Island , berandil pada kedaulatan terletak di tangan komunitas. Konstitusi nyaris tak berarti. “Faktor lain yang mendorong masyarakat ke arah konfrontasi langsung adalah banyaknya jumlah warga Siprus Turki yang menjadi pegawai negeri. Komunitas Yunani merasa bahwa rasio yang ditetapkan terlalu baik dan banyak warga Turki sebetulnya tak memenuhi syarat untuk pekerjaan yang mereka pegang,” tulis Borowiec. Ketegangan makin meningkat sejak Presiden Makarios III menghapus delapan ketentuan dasar dalam Perjanjian Kemerdekaan 1960 yang menjamin hak-hak warga Siprus Turki pada November 1963. "Tujuannya adalah untuk mengurangi (status dan peran, red .) warga Siprus Turki menjadi status minoritas belaka, yang sepenuhnya tunduk pada kendali orang Siprus Yunani, sebelum kehancuran atau pengusiran mereka dari pulau itu," tulis sejarawan John L. Oakes dalam “Cyprus–The Shame of Christmas 1963”, dimuat di cyprusscene.com . Makarios lalu, pada awal Desember, mengajukan usulan perbaikan 13 aturan yang menjadi sumber persengketaan, antara lain penghapusan aturan pemilihan anggota legislatif berdasarkan kuota etnis. Warga berdarah Turki menganggap usulan Makarios itu sebagai upaya untuk mengurangi partisipasi mereka dalam menjalankan negara. Pada 16 Desember, komunitas Turki, yang dimotori Menteri Pertahanan Osan Orek dan Ketua Turkish Communal Chamber Rauf Denktash, menolak rencana Makarios. Suasana makin tegang. Di tengah suasa tegang antar-etnis itu, pada dini hari 22 Desember, sekelompok polisi Siprus, berdarah Yunani, mengadakan razia di dekat red - light district ibukota. Mereka menghentikan sebuah taksi berisi seorang pemuda berdarah Turki dan seorang perempuan rekannya. Aparat meminta pemuda tersebut menunjukkan identitas, namun ditolak. Aparat lalu menembak mati kedua penumpang taksi tersebut. Sontak warga berdarah Turki yang ada di pasar Turki, tak jauh dari lokasi kejadian, datang. Mereka melawan para polisi tadi sehingga beberapa di antara aparat terluka. “Meskipun pembunuhan tersebut mungkin tidak dimotivasi oleh politik atau persaingan antaretnis, pembunuhan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai ancaman bagi masyarakat Siprus berbahasa Turki secara keseluruhan,” kata buku yang dieditori Jon Celame dan Esther Charesworth, Divided Cities: Belfast, Beirut, Jerussalem, Mostar, and Nicosia . Paginya, warga berdarah Turki segera berkumpul. Mereka menganggap kejadian pada dini hari sebagai bagian dari Enosis. Malamnya, bentrokan berdarah pun pecah di Nicosia. Pasukan-pasukan paramiliter Turki maupun Yunani saling serang. Otoritas Yunani kemudian memutus saluran telepon dan telegraf ke areal permukiman Turki. Tak lama kemudian, aparat kepolisian Siprus Yunani menguasai bandara Nicosia. "Ketika orang Siprus Turki keberatan dengan amandemen Konstitusi, Makarios menjalankan rencananya, dan serangan Siprus Yunani dimulai pada bulan Desember 1963," sambung Oakes. Esoknya, 23 Desember, pertempuran meluas. Kendati pada siangnya Presiden Makarios dan pemimpin Komunitas Turki sepakat melancarkan gencatan senjata, kondisi di lapangan terlanjur membara. Pertempuran telah mencapai beberapa daerah di luar Nicosia hingga Kota pelabuhan Larnaca. Pada hari itulah milisi Yunani yang dipimpin Nicos Sampson, mantan kombatan EOKA yang terlibat dalam pembunuhan terhadap warga sipil saat perjuangan melawan Inggris, menyerbu Omorphita di pinggiran Nicosia. Mereka langsung membunuhi orang-orang berdarah Turki. “Tampaknya tanpa pandang bulu, termasuk wanita dan anak-anak,” tulis Borowiec. Menurut Oakes, yang mengutip Letnan Jenderal George Karayiannis dari Milisi Siprus Yunani, serangan oleh warga Siprus Yunani telah direncanakan sejak jauh hari, bukan spontanitas. Serangan itu berpijak pada rencana "Akritas", cetak-biru untuk pemusnahan Siprus Turki dan aneksasi pulau itu oleh Yunani. “Setiap Siprus Yunani bersenjata memburu mereka (penduduk berdarah Turki, red.). Dalam waktu satu bulan setelah serangan gencar pada 21 Desember 1963, ratusan warga Siprus Turki terbunuh, terluka, atau cacat. Daerah Turki di pulau itu dikepung dengan tujuan untuk membuat penduduk kelaparan sampai mati sehingga mereka tidak bisa lagi menentang kemauan politik ‘Yunani,’” demikian catatan UN Security Council dalam Documents Officiels , Volume 3. Kondisi kacau tersebut membuat Komisaris Tinggi Inggris di Siprus Sir Arthur Clark segera terbang ke negeri pulau di Laut Tengah itu dari cuti berobatnya di Inggris. Begitu tiba Arthur langsung “disuguhi” pemandangan mengerikan berupa tiga petani Turki tewas disandarkan di depan gerbang depannya. Di Rumahsakit Umum Nicosia, setidaknya tiga pasien berdarah Turki tewas ditembak. Keesokannya, 24 Desember, para milisi Yunani menyerang desa Mathiatis Ayios Vasilios. Sekira 59 warga berdarah Turki dibunuh malamnya. Pada awal 1964, Palang Merah Internasional bersama pasukan Inggris berhasil menemukan 21 jasad warga Turki yang dibunuh dan dipendam dalam lubang yang sama. Pertempuran masih berlangsung pada 24 Desember malam ketika Arthur bersama Mayjen Peter Young (komandan pasukan Inggris), Presiden Makarios dan pemimpin perwakilan Turki merundingkan gencatan senjata. Meski gencatan senjata berhasil dilaksanakan saat Natal, pertempuran kembali pecah hari berikutnya. “Di Omorphita pada 27 Desember, 550 orang disandera dan ditahan di sekolah Kykkos, tempat mereka bergabung dengan 150 sandera asal Kumsal. 550 di antaranya dibebaskan pada 31 Desember 1963,” tulis Paul Cassia. Namun, pertempuran berangsur mereda setelah pasukan gencatan senjata gabungan di bawah Mayjen Peter Young, yang dibentuk pada 24 Desember malam, dapat menguasai keadaan dan menegakkan hukum hingga pasukan perdamaian PBB tiba tahun berikutnya. Kota Nicosia dibagi menjadi dua, dengan utara diperuntukkan bagi warga berdarah Turki, berdasarkan garis yang dibuat pada rapat 24 Desember malam. Selain menyebabkan puluhan ribu warga dari kedua etnis mengungsi dan beberapa ribu di antaranya tak pernah kembali ke rumah mereka, “Natal Berdarah” itu merusak 270 masjid dan menewaskan lebih dari 300 warga Siprus Turki serta lebih dari 150 warga Siprus Yunani. “Tidak masuk akal untuk mengklaim, seperti yang dilakukan oleh orang Siprus Yunani, bahwa semua korban jiwa disebabkan oleh pertempuran antara orang-orang bersenjata dari kedua belah pihak. Pada Malam Natal, banyak orang Siprus Turki diserang dan dibunuh secara brutal di rumah mereka di pinggiran kota, termasuk istri dan anak-anak seorang dokter yang diduga oleh sekelompok pria yang terdiri dari 40 orang, banyak yang memakai sepatu bot tentara dan mantel besar. Meskipun Siprus Turki melawan sebisa mungkin dan membunuh beberapa milisi, tidak ada pembantaian terhadap warga sipil Siprus Yunani," demikian diberitakan The Guardian edisi 31 Desember 1963. Ayah Paul Cassia merupakan satu di antara yang jadi korban tewas dalam peristiwa yang dikenal sebagai "Natal Berdarah" itu. Dia tak pernah terlihat lagi sejak terakhir kali ditelepon Paul dan kakaknya. “Ayah saya menghilang pada 1963. Dia adalah salah satu orang pertama yang dinyatakan hilang. Saya tidak menemukan apa yang terjadi sampai beberapa minggu kemudian. Seorang teman ayah saya, yang juga seorang Siprus Yunani, memberi tahu saya apa yang telah terjadi. Tak lama setelah kami berbicara dengan ayah, sekelompok pasukan EOKA pergi ke pabrik dan bertanya apakah ada warga Siprus Turki yang bekerja di sana. Pemilik pabrik berkata bahwa hanya ada satu, tetapi dia baru saja pergi. Orang-orang EOKA pergi ke atap pabrik dan menembak ayah saya. Kami pergi ke pabrik untuk mengkonfrontasi tentang ayah saya, tetapi mereka mengatakan bahwa yang mereka tahu hanyalah bahwa dia menghilang saat bertugas,” sambung Paul.*
- Ketika Hatta Merayakan Natal di Jerman
JERMAN, Pekan Natal 1921. Seluruh daratan telah memutih. Jalanan dan atap-atap bangunan tampak ditutupi oleh lapisan salju. Asap pun mulai membumbung dari rumah-rumah. Di tengah udara menggigit itu Mohammad Hatta dan Dahlan Abdullah berjalan. Menyusuri jalan utama dengan pakaian musim dinginnya. Meski telah tiga bulan di Eropa, keduanya tetap belum terbiasa dengan udara di sana. Terlebih Natal tahun itu menjadi perayaan musim dingin pertama mereka di Benua Biru. Kedatangannya ke Jerman bukan sebagai warga koloni Hindia Belanda. Melainkan pelajar dari Belanda. Kala itu Hatta sedang menempuh pendidikan Ekonomi di Handels Hogeschool, Belanda. Pada Desember 1921, ia mendapat jatah libur tahunan, menyambut Natal dan Tahun Baru, selama lebih dari tiga minggu. Kesempatan tersebut ia manfaatkan untuk mengenal negeri-negeri di Eropa. Lalu atas usulan Dahlan, keduanya sepakat berkeliling Jerman dan Eropa Tengah. Mereka berencana menghabiskan waktu seminggu di sana. Hatta memulai perjalannya pada 20 Desember, dengan perkiraan kembali ke Belanda tanggal 27 Desember. Ia berangkat dengan kereta api dari Den Haag menuju Hamburg. Turun di stasiun, Hatta lalu berkeliling ke Berlin, Praha, Wina, dan Munchen. Di masing-masing tempat ditentukan bahwa keduanya akan menetap selama satu atau dua hari. “Di masa itu aku melihat perbedaan nilai uang yang hebat. Uang Gulden Belanda berbanding dengan Mark Jerman seperti 1 dan 100. Sebelum Perang Dunia I perbandingannya 10 dan 6. Satu Mark nilainya 60 sen Belanda. Jerman mulai dipukul inflasi. Uang Austria inflasinya lebih hebat lagi,” ujar Hatta. Pengalaman itu ia bagikan dalam otobiografinya, Memoir . Di Jerman, Hatta menemui kenalannya, Tuan Le Febvre, bekas residen di Sumatra Barat yang tinggal di Hamburg setelah pensiun. Sedangkan Dahlan juga mempunyai kenalan di sana, namanya Usman Idris. Kawannya itu berasal dari Bukittinggi. Ia datang ke Nederland setelah PD I, sekira tahun 1919, dan memilih menetap di Jerman setelah kesulitan bertahan hidup di Belanda. Berkat itu, Usman Idris menjadi teman berkeliling Hatta di Jerman. Selama pergi melancong itu, Hatta menyewa kamar pada Frau Jachnik di Papendamm. Di rumah tersebut terdapat empat kamar dan ditinggali oleh empat orang anggota keluarga. Dua di antaranya disewakan kepada Hatta. Setiap pagi, mereka mendapat sarapan gratis. Menurutnya, biaya hidup di Jerman murah sekali jika dibandingkan dengan Belanda. “Keluarga itu mempunyai seorang anak laki-laki kecil, berumur kira-kira 4 tahun,” ujar Hatta. “Mereka gembira sekali dan sangat berterima kasih, waktu malam sebelum Natal kami bawakan bagi mereka kue Natal dan untuk anaknya sebuah mainan, pasangan kereta api yang dapat berjalan sendiri atas lingkaran relnya. Supaya dapat berjalan berkeliling pernya diputar dulu.” Pada perayaan Natal, 25-26 Desember, Hatta banyak menghabiskan waktu di kediaman Le Febvre. Dan berkat keramahan si tuan rumah yang menahan mereka untuk kembali terlalu cepat ke Belanda, rencana berlibur seminggu di Eropa Tengah terpaksa diubah. Hatta dan Dahlan memutuskan menetap lebih lama di Jerman. Setidaknya sampai pergantian tahun. Le Febvre meminta Hatta melihat suasana Natal di Jerman, yang mungkin tidak akan ditemukan di Nederland. “Lihatlah cara rakyat Jerman merayakan hari-hari Natal dan Tahun Baru. Lucu sekali, sekalipun mereka dalam kesusahan dan kesukaran hidup,” kata Le Febvre. Dalam kunjungannya ke Jerman itu Hatta tidak lupa mengunjungi sebuah toko buku bernama Otto Meissner. Kecintaannya terhadap buku membuatnya memborong banyak sekali judul dari berbagai penulis terkenal. Ditambah lagi harganya yang amat murah. Bagi orang Jerman mungkin akan terasa mahal, namun berhubung Hatta memakai gulden , harga sudah bukan jadi persoalannya. Sebanyak lebih dari 10 buku ia beli dari sana dan dengan bantuan Universitas Hamburg, buku-buku itu dikirim ke alamat tempat tinggalnya di Rotterdam. “Selama di Hamburg masih sempat kami pada suatu malam bersama-sama dengan Dr. Eichele dan Usman Idris melihat opera. Sebelum menonton kami makam malam dahulu pada sebuah restoran. Dahlan Abdullah, Dr. Eichele, dan Usman Idris memesan bir untuk minum, aku pesan air es. Setelah selesai makan dan membayar harganya, aku ditertawakan oleh Dahlan Abdullah, bahwa minumanku air es lebih mahal harganya dari bir. Teman yang dua lainnya ikut tertawa,” kata Hatta.*
- Ketika Hatta Mulai Mengenal Tuhan
BANGUNAN rumah itu mudah dikenali. Bentuknya agak lain dari bangunan di sekitarnya. Bilik dan atap didominasi bahan kayu tegap, dengan langgar yang cukup luas. Lebih istimewa lagi, alunan ayat suci Al-Qur’an tiap waktu terdengar dari sana. Orang-orang kerap berkumpul, duduk mendengarkan ceramah seorang alim di tempat itu. Suaranya amat menenangkan. Isi ceramahnya begitu mencerahkan. Di tempat bernama Batuhampar itulah Mohammad Hatta belajar tentang ilmu agama. Hatta terlahir di keluarga dengan latar belakang Islam yang kuat. Dari sisi ayah, banyak kerabat yang fokus mendalami agama Islam. Bahkan kampung Batuhampar, Patakumbuh, Sumatra Barat terkenal sebagai pusat pendidikan Islam, yang santrinya datang dari seluruh Sumatra, Kalimantan, hingga Melayu. Kakek Hatta juga merupakan salah satu ulama terkenal di sana. Oleh keluarganya Hatta sering diajak berkunjung ke Batuhampar. Dalam setahun setidaknya dia berkunjung sebanyak dua kali. Bukan sekedar untuk bermain, tetapi juga berziarah ke makam leluhur keluarga ayahnya. Di sana Hatta tinggal di kediaman pamannya, Haji Arsad, seorang ulama terkemuka bergelar Syekh Batuhampar. “Beliau sangat sayang padaku. Air mukanya yang jernih selalu, yang mencerminkan jiwa yang murni. Kata-katanya yang selalu mendidik ke jurusan berbuat baik. Ramah-tamahnya kepada segala orang dengan sifat yang pemurah kepada fakir miskin dan orang-orang yang datang mengaji dan berziarah dari jauh. Wajah dan tabiat beliat itu tepat benar dengan kedudukan beliau sebagai ulama besar dan ahli tarikat,” ujar Hatta menggambarkan sosok yang amat dihormatinya tersebut. Ayah Gaekku Arsad, begitu Hatta biasa menyapanya, masih satu kerabat dengan ayah Hatta. Diceritakan dalam otobiografinya Memoir , Ayah Gaekku Arsad usianya sudah lebih dari 50 tahun. Perawakannya tegap dan berisi, dengan jubah dan sorban yang tidak pernah lepas dari tubuhnya. Bagi Hatta, pamannya itu memiliki pribadi yang amat terpuji. Berkat dia jugalah Hatta mengenal cara hidup dan bergaul secara Islam. Sebagai ahli tarikat, Ayah Gaekku Arsad paham bahwa anak-anak seusia Hatta tidak boleh dibebani dengan ajaran agama yang sulit. Ia pun mesti berhati-hati dalam menyampaikannya. Tetapi bagi Hatta, Syekh Arsad pandai dalam menanam paham agama Islam. Dalam setiap pertemuan yang singkat, dia bisa menanamkan pokok uraian secara baik dan mudah dimaknai. “Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, Tuhan seru sekalian alam. Allah menjadikan segala yang ada di alam dan di langit. Allah memberi kita rezeki. Sebab itu kita harus berterima kasih pada Allah. Balas kasih Allah pada kita itu dengan mengasihi orang lain. Dan Allah nanti membalas pula budi kita itu dengan melimpah. Dan teori yang diajarkannya itu kulihat dipraktikannya dengan perbuatan,” kata Hatta. Pada suatu kunjungan ke Batuhampar, Hatta pernah bertanya kepada pamannya itu tentang penggambaran Tuhan yang didengarnya dari Haji Ismail –seorang sahabat Ayah Gaekku dari Matur. Haji Ismail menggambarkan Tuhan layaknya manusia. Tetapi memiliki perbedaan yang amat kentara: sempurna dalam segala-galanya. Wajah Tuhan, kata Haji Ismail, tiada tandingannya di dunia ini. Rambut, kumis, dan jenggotnya putih tidak bercela-cela. Pandangannya tajam tapi menenangkan. Tuhan memiliki pendamping, yakni malaikat. Tugasnya turun ke bumi dan mencatat segala hal yang terjadi. “Sungguh pun berambut putih, Allah tidak pernah tua, tidak berubah-ubah tetap seperti itu selama-lamanya,” ucap Haji Ismail. Dengan penuh semangat Hatta menceritakan apa yang didengarnya itu. “Benarkah Allah besemayam di langit yang ke tujuh di atas satu singgasana yang indah sekali, dilingkungi oleh malaikat dan bidadari?” tanya Hatta dengan mata berbinar. Mendengar hal itu Ayah Gaekku hanya tersenyum. Dia lalu meyakinkan Hatta bahwa semua yang didengarnya salah besar. Menurutnya, Haji Ismail telah keliru membuat gambaran Tuhan. Itu hanya karang-karangan manusia saja, tidak ada kebenaran sama sekali di dalamnya. Kuasa Tuhan, kata Ayah Gaekku, jauh lebih besar dari apa yang bisa dibayangkan manusia. “Kita manusia dan segala yang hidup di atas dunia adalah baru. Alam, matahari, bulan, dan bintang semuanya baru. Semuanya buatan Tuhan. Segala yang terjadi ada yang menjadikannya. Ada awal dan akhirnya. Tuhan yang menjadikan tidak baru, ada selama-lamanya, tunggal, tidak dijadikan. Allah yang ada selama-lamanya itu mengetahui semuanya dan mendengar semuanya. Allah Maha Besar dan Maha Kuasa,” terang Ayah Gaekku. “Allah yang tunggal tidak dapat serupa atau sama dengan yang dijadikannya. Kalau serupa dan sama, itu tidak tunggal lagi. Oleh karena itu Allah adalah zat yang tidak serupa dengan yang baru. Tidak dapat digambarkan dengan rupa manusia, tidak dapat dikatakan dengan bentuk dan rupa yang ada di dunia ini. Yang kita tahu hanya Allah ada, sebab dibuktikan oleh yang dijadikannya,” lanjutnya. Hatta hanya diam mendengarkan. Sesekali dia mengangguk. Banyak sekali pengetahuan yang didapatnya hari itu. Ayah Gaekku kemudian menutup kisahnya dengan menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kisah Tuhan dan segala ciptaannya. Namun hampir tidak ada satupun ayat yang dimengerti Hatta. Itu karena dia tidak bisa bahasa Arab.*
- Kontroversi Iringi Sejarah Arsenal
KURSI kepelatihan Arsenal yang diduduki Mikel Arteta makin panas jelang Boxing Day. Sejak dimulainya musim 2020-2021, The Gunners (julukan Arsenal) sudah terbelit beberapa kontroversi. Dua di antaranya adalah dicoretnya nama bintang Mesut Özil dari skuad utama yang berbuntut drama, dan deretan hasil merah di laga-laga Liga Inggris dan Carabao Cup (EFL). Di bawah Arteta, klub yang bermarkas di Emirates Stadium itu hanya mampu menang empat kali dalam 14 laga terakhirnya. Arsenal juga kalah 1-4 dari Manchester City di perempatfinal Carabao Cup, Selasa (23/12/2020). Fans Arsenal pun mulai menuntut Arteta dipecat, yang berbuntut manajemen klub mencari penggantinya. Kemarahan fans mulai mencuat setelah Arsenal keok 0-1 dari klub cilik Burnley pada 14 Desember 2020. Ditambah hasil imbang 1-1 saat menjamu Southampton tiga hari berikutnya dan ditundukkan Everton 1-2 pada 20 Desember, Arsenal pun terjun bebas ke posisi 15 klasemen Liga Inggris atau berjarak dua spot dari zona degradasi. Meski didera tekanan, Arteta masih mendapat dukungan dari beberapa koleganya. Antara lain dari pelatih Manchester City Josep ‘Pep’ Guardiola, di mana Arteta jadi asistennya ketika Pep membesut Manchester City pada 2016-2019. “Semua orang tahu bahwa pelatih dinilai berdasarkan hasil. Namun saya pernah bekerja bersamanya di periode paling sukses di klub kami sepanjang sejarah. Kami takkan punya kesuksesan begitu besar tanpa dia. Saya tahu program-programnya dan apa yang direncanakannya. Anda hanya mesti bersabar. Dia pelatih hebat dengan etos kerja luar biasa dan memprioritaskan kepentingan klub di antara keputusan-keputusannya,” tutur Pep, dikutip Football London , Kamis (24/12/2020). Pelatih Mikel Arteta Amatriain yang tengah tertekan akibat sederetan rapor merah Arsenal FC ( arsenal.com ) The Daily Mail Senin (21/12/2020) memberitakan bahwa manajemen klub sudah menyiapkan rencana finansialnya. Jika Arsenal akhirnya terdegradasi, para punggawanya yang memilih bertahan bakal disunat gajinya 25 persen. Apabila Arsenal terperosok di bawah komando Arteta nanti, catatan sejarahnya sebagai klub terlama di kasta teratas liga Inggris akan berakhir. Drama dan kontroversi yang mengitari Arsenal juga pernah terjadi ketika klub itu promosi untuk kali kedua ke kasta teratas pada 101 tahun lampau. Kontroversi Promosi Arsenal sendiri didirikan para buruh pabrik amunisi pada 1886 dengan nama Dial Square. Setelah David Danskin, petinggi pabrik senjata Royal Arsenal, membelinya pada 1888, nama klub diubah jadi Royal Arsenal. Sedikit demi sedikit Arsenal mulai merajai beberapa turnamen lokal. Setelah berganti nama lagi jadi Woolwich Arsenal, Arsenal resmi menjadi anggota Football Association (FA) dan langsung ikut turnamen FA Cup musim 1889-1890. Meski begitu, baru pada 1893 Arsenal bisa ikut kompetisi The Football League (pendahulu Premier League/Liga Inggris, red .) di divisi dua. Mengutip Phil Soar dalam The Official Illustrated History of Arsenal , klub asal London Utara itu pertamakali promosi ke First Division pada musim 1903-1904. Tetapi di musim 1912-1913, Arsenal terjerembab lagi ke Second Division dan bahkan nyaris bangkrut. Klub Woolwich Arsenal pada tahun 1895 ( arsenal.com ) Pasca-Perang Dunia I, ketika The Football League hendak menggelar musim 1919, rapat tahunan pengelola liga ingin menambah jumlah peserta First Division dari 20 klub menjadi 22 klub. “Ketika liga berjalan lagi pada 1919, entah bagaimana Arsenal dipromosikan meski Barnsley dan Wolves (Wolverhampton Wanderers, red. ) finis di atasnya di Second Division. Lalu Tottenham Hotspur yang sebelumnya di urutan terakhir First Division tetap terdegradasi walau peserta First Division ditambah dari 20 menjadi 22 klub. Hanya Chelsea yang finis satu posisi di atas Spurs yang selamat,” tulis Anton Rippon dalam Arsenal: The Story of a Football Club in 101 Lives . Suara miring terkait pengaruh tekanan dan suap pun menghampiri Arsenal. Sejumlah tuduhan itu menyasar pada Sir Henry Norris, bos klub Arsenal, dan John McKenna, pemilik Liverpool, yang diketahui punya agenda terselubung karena Liverpool terlibat skandal 1915. Skandal 1915 merupakan skandal pengaturan skor yang melibatkan Manchester United dan Liverpool di musim 1914-1915. Penanganan kasusnya baru selesai pada 1919. Penyelesaiannya pun dilakukan di ranah internal sehingga belum sempat terbongkar ke publik. “Pada rapat tahunan, McKenna mendukung klaim Arsenal terhadap Spurs dengan alasan masa keanggotaan Arsenal lebih lama sebagai klub asal selatan pertama yang bergabung ke The Football League. Tetapi anehnya, Wolves sebagai salah satu pendiri liga pada 1888 dan finis satu posisi di atas Arsenal malah tak dipromosikan,” ujar Rippon mengomentari alasan kontradiktif itu. “Permainan di bawah meja” untuk mempromosikan Arsenal ke First Division kendati hanya finis urutan kelima di Second Division nyatanya memang ada. Isu suap itu kencang berhembus jelang pemungutan suara untuk menentukan satu tim terakhir yang akan menemani Derby County sebagai juara Second Division dan Preston North End sebagai runner up . Dalam pemungutan suara itu, para anggota wajib memilih siapa yang lebih berhak untuk dipromosikan antara Spurs (urutan 20 First Division), Barnsley (urutan ketiga Second Division), Wolves (urutan keempat Second Division), dan Arsenal (urutan kelima Second Division). Sir Henry George Norris (tengah) Ketua Klub Arsenal periode 1910-1929 ( arsenal.com ) Hasil voting mencengangkan banyak pihak. Arsenal menang dengan 18 suara. Sementara Spurs hanya delapan, Barnsley lima, Wolves empat, sementara enam suara sisanya abstain. Isu suap yang bertebaran saat itu mengarah pada Norris dan McKenna. McKenna sudah lebih dulu “dipegang” Norris. Norris menuai balas budi dari McKenna karena tak melanjutkan tuntutan degradasi pada Liverpool dan Manchester United sebagai hukuman atas skandal pengaturan skor musim 1914-1915. Alhasil, hukuman hanya menyasar pada para pemain, bukan klub. Norris juga memengaruhi beberapa petinggi klub lain di keanggotaan rapat bahwa Arsenal sebagai “senior” di wilayah Midlands dan selatan siap keluar dari liga dan mengajak beberapa tim dari dua wilayah itu untuk keluar dari The Football League jika tak mendapat dukungan untuk promosi ke First Division. Jadilah Arsenal mendapat suara terbanyak dalam voting. Arsenal pun melenggang ke First Division musim 1919. Sejak saat itu, Arsenal tak pernah lagi jatuh ke kasta kedua hingga memegang rekor klub terlama yang bertahan di kasta teratas hingga kini. Meski begitu, lanjut Rippon, fakta itu jadi faktor yang melahirkan kesumat dan rivalitas sengit di antara Arsenal dan Spurs sebagai sesama klub asal London Utara sampai sekarang.
- Merayakan Hari Ibu Bersama Para Perempuan Hebat
Sejarah Indonesia tak melulu menyorot lelaki sebagai tokoh penggerak perjalanan bangsa. Perempuan pun kerap disorot dan punya peran penting di dalamnya. Karena itulah, 22 Desember diperingati sebagai hari Ibu. Yang dimaksud di sini bukan ibu sebagai ibu rumah tangga atau seorang perempuan yang telah punya anak, melainkan untuk perempuan secara luas dengan beragam peran dan pekerjaan. Tanpa pula memandang status hubungannya: sudah menikah atau belum, sudah punya anak atau belum. Sosok para perempuan hebat dalam sejarah bangsa Indonesia. ( Foto : Fernando Randy ) Penentuan Hari Ibu diambil dari peristiwa Kongres Perempuan Indonesia yang pertama pada 22–25 Desember 1928. Bertempat di Yogyakarta, kongres ini diinisiasi oleh organisasi perempuan seperti Wanita Oetomo, Aisyah, Poetri Indonesia, bagian perempuan di dalam Sarekat Islam, dan lain sebagainya. Penetapan Hari Ibu diresmikan pada Kongres Perempuan Indonesia ketiga pada 1938 di Bandung. Kongres Perempuan Indonesia menuntut perubahan bagi kedudukan kaum perempuan. Kala itu perempuan Indonesia menjadi pihak yang ditindas dan dibawahkan oleh berbagai macam struktur sosial yang mengekang. Oleh sebab itu, Kongres Perempuan mengangkat masalah-masalah keseharian perempuan dalam hubungan sosialnya seperti perkawinan anak-anak, nasib anak yatim piatu dan janda, pendidikan perempuan, dan praktik kawin paksa. Najwa Shihab yang dikenal kerap membuat perubahan dalam dunia pers Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Atlet muda di cabang berkuda Charlotte Ramadhan saat beraksi pada perhelatan liga berkuda di Pulomas. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tarmi, mulai menghidupi tujuh anak dan lima cucunya dengan berdagang di Cilincing Jakarta Utara. (Fernando Randy/ Historia.id ). Sudah 92 kali Hari Ibu diperingati. Selama itu pula, perempuan Indonesia tak berhenti berjuang memperoleh kedudukan yang adil dan setara dalam masyarakat. Sebab pandangan bahwa perempuan sebagai makhluk kelas dua dan berada di bawah kuasa lelaki belum sepenuhnya hilang seperti masa kolonialisme. Meski praktiknya tak sepenuhnya sama dengan masa lalu, pola-pola demikian tetap mengada hingga hari ini. Beberapa nama bisa disebut sebagai tokoh-tokoh perempuan masa kini. Tentu saja nama ini bisa jauh lebih banyak daripada yang bisa disebut. Ini juga tak mewakili perempuan secara keseluruhan. Tetapi hanya sedikit contoh untuk menunjukkan ketokohan perempuan dalam berbagai bidang yang sangat luas. Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika dan Martha Christina Tiahahu para perempuan hebat dalam sejarah Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Yohana Uli, yang bekerja dan berkarya di bidang videografi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maria Dininta, saat membuat kalung untuk di jual dan mengasuh putrinya, Kiani di rumah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Mira Lesmana yang terus berkarya di bidang sinema Indonesia. ( Foto : Fernando Randy/Historia.id ) Dari dunia pers, orang mengenal Najwa Shihab yang kerap membuat perubahan. Dari dunia film, ada Mira Lesmana yang selalu memukau dalam karya-karya filmnya. Dari dunia videografi, muncul Yohana Uli yang bekerja di salah satu situs berita. Ada pula Maria Dinita yang mampu berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja kantoran dan penggiat Usaha Kecil Mikro Gelang Tangan. Lalu ada sosok Emilia Nova yang terus mengukir prestasi di arena olahraga. Itu semua membuktikan bahwa Indonesia sudah dipenuhi oleh para perempuan hebat. Memperingati Hari Ibu berarti memantapkan jejak sejarah perjuangan kaum perempuan untuk mendapatkan posisi yang adil dan setara di negeri ini. Meutia Hatta, sosok perempuan hebat di Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Shanaz Haque sosok yang aktif dalam berbagi ilmu di berbagai kesempatan. (Fernando Randy/ Historia.id ). Emilia Nova atlet atletik Indonesia yang sudah menuai berbagai prestasi di ajang internasional. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Hikayat Amat Boyan dan Pasukan Cap Kampak
Amat Boyan, raja bandit kota Medan itu akhirnya babak belur. Petarung kelas jalanan ini dibikin bonyok oleh Sibarani, mantan petinju yang menjadi inspektur umum Markas Pengawal Pesindo. Sesuai kesepakatan, siapa yang kalah menjadi pengikut yang menang. Amat Boyan pun menjadi pion Pesindo. Pada 1 Desember 1945, Ketua Pesindo Sarwono Sastro Sutardjo mendirikan unit pasukan khusus. Kelompok bersenjata ini diberi nama yang cukup sangar “Pasukan Cap Kampak”. Sudah pasti pembentukan pasukan itu, berhubungan dengan tumbuh suburnya barisan kelaskaran di kota Medan pasca kemerdekaan. “Diantara anggotanya terdapatlah nama-nama Amat Boyan, Maliki, dan Jahja Aceh yang kemudian menjadi terkenal karena keburukannya, maupun karena perjuangannya,” tulis Biro Sejarah Prima dalam Medan Area Mengisi Proklamasi . Residivis Bengis Nama aslinya ialah Amat. Mengapa dia terkenal dengan panggilan Amat Boyan akan dijelaskan kemudian. Reputasi Amat sebagai seorang pelaku kriminal telah malang melintang sejak zaman pendudukan Jepang. Merampoki rumah-rumah orang Jepang adalah aksi yang membawanya meringkuk dalam penjara di Pematang Siantar. Seniman karikaturis Augustin Sibarani yang menghabiskan masa remajanya di kota Pematang Siantar mengisahkan sosok Amat Boyan sebagai seorang residivis yang licin. Di sudut-sudut lapo tuak, orang-orang membincangkan tentang dua orang kriminal kelas kakap bernama Amat Boyan dan Paulus yang melarikan diri dari penjara Pematang Siantar. Mereka meloloskan diri dengan cara mematahkan terali penjara, kemudian menghilang. “Amat Boyan sangat tersohor dan dipercaya memiliki kekuatan gaib, begitu kata orang. Dia kurus kering, tapi tangannya kuat bagai besi,” tutur Augustin Sibarani dalam Karikatur dan Politik . Meski jadi buronan dalam kota Pematang Siantar, Amat Boyan dapat kabur sampai ke muara Sungai Asahan. Dia bersembunyi di sebuah pulau kecil yang dikelilingi buaya. Polisi mengejarnya ke sana. Amat Boyan ternyata menghilang ke tempat lain. Menurut Sibarani, kejagoan dan kebrutalan Amat Boyan (juga Paulus) kerap dipergunjingkan khalayak. Namun rumor yang beredar di masyarakat lebih sering dibesar-besarkan. Sebagian orang menyalahkan kealpaan para petugas penjara, terutama sang sipir. Kepala penjara pun dianggap lemah. “Malah ada yang menyindir, bahwa ia sebenarnya telah disihir oleh si bandit Amat Boyan, yang mempunyai ilmu hitam dan dianggap bergaul dengan setan,” kata Sibarani. Menebar Onar Begitu berita proklamasi bergema di kota Medan, Amat Boyan ikut ambil bagian. Bukan memanggul senjata menghadang kedatangan Pasukan Sekutu, melainkan menyasar kaum berduit yang berjaya sedari zaman kolonial. Di ibu kota Sumatra Utara itu, Amat Boyan telah membentuk jaringan preman dan bandit untuk melakoni aksi kriminal. Sejak November 1945, pencurian dan perampokan rumah dan toko-toko milik orang Tionghoa marak terjadi di Medan. Pelakunya adalah kelompok preman kampung yang mengambil kesempatan atas nama revolusi. Menurut sejarawan Nasrul Hamdani dalam Komunitas Cina di Medan dalam Lintasan Tiga Kekuasaan 1930-1960, para penyamun yang selalu meresahkan warga Tionghoa ini dipimpin oleh Amat, preman dari kampung Boyan. Dari kampung Boyan yang terletak di Jalan Amaliun itulah nama besar Amat Boyan terukir. Kiprah premanisme Amat Boyan kemudian mempertemukannya dengan barisan Laskar Pesindo yang tertarik merekrutnya. Setelah kemampuannya di ujicoba dalam duel tarung bebas satu lawan satu, Amat Boyan menjadi ujung tombak Pesindo. Sarwono, pemimpin Pesindo melibatkan Amat Boyan dalam kesatuan bersenjata bernama Pasukan Cap Kampak. Menurut Anthony Reid dalam The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra , Sarwono memakai penjahat terkenal seperti Amat Boyan untuk memperluas pengaruhnya. Tetapi Amat Boyan tetaplah Amat Boyan yang tidak berhenti berbuat ulah. Setelah diberi kesempatan, Amat Boyan seperti senjata makan tuan bagi Sarwono dan Markas Pengawal Pesindo. Akhir Petualangan Dengan mengumpulkan Amat Boyan bersama konco-konconya sesama perampok, Sarwono semula bermaksud menjadikannya sebagai barisan penggempur. Namun dalam kenyataannya, Amat Boyan kembali menjalankan pekerjaan lamanya. Tindakannya dalam Pasukan Cap Kampak acap kali menyeleweng dari garis kebijakan Pesindo . “Oleh Amat Boyan, pasukan ini dijadikan perkumpulan gangster, merampoki rumah-rumah orang Tionghoa, melakukan perkosaan, sehingga perbuatan Amat Boyan ini, kota Medan tidak aman,” tulis Iman Marah, pemimpin Pesindo Bukit Tinggi dalam risalah tidak berjudul yang disita Arsip Kejaksaan Agung Belanda ( ARA ), No.267 sebagaimana dikutip Anthony Reid. Pasukan Cap Kampak menyikat apa saja yang mereka perlukan, terutama dari orang-orang Tionghoa yang berada dan sebagian kecil orang India. Benny Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik menyebut Pasukan Cap Kampak pimpinan Amat Boyan sebagai kelompok kriminal paling berbahaya bagi komunitas Tionghoa di Medan. Perampokan, penggedoran, hingga pemerkosaan yang mereka lakukan menyebabkan orang-orang Tionghoa mengungsi. Petaka yang melanda kaum Tionghoa memicu mereka membentuk barisan pengawal bernama Pao An Tui. Keberadaan Pao An Tui sendiri menimbulkan ketegangan dengan pejuang Republik lantaran mereka berkolaborasi dengan Sekutu dan Belanda. Permusuhan antara Pao An Tui dengan Tentara Republik maupun laskar kerap kali berujung bentrokan. Semua itu pada dasarnya semakin memupuk kebencian terhadap orang Tionghoa. Pada Februari 1946, Pasukan Cap Kampak jatuh sepenuhnya ke tangan Amat Boyan. Sarwono akhirnya kehilangan kontrol atas pasukan yang dibentuknya itu. Tidak hanya merugikan citra Pesindo, aksi Amat Boyan juga merusak nama baik pemerintah Indonesia. Dalam sebuah rapat khusus di Kaban Jahe, Tanah Karo, Markas Pengawal Pesindo sepakat untuk mengakhiri aksi Amat Boyan. Biro Sejarah Prima mencatat, dalam minggu terakhir bulan April 1946, Pesindo bersama Tentara Republik menggempur pasukan Amat Boyan di dekat kota Brastagi. Dalam pertempuran, Amat Boyan mati terbunuh. Maka selesailah riwayat Amat Boyan dan Pasukan Cap Kampak-nya yang menimbulkan noda dalam revolusi di utara Sumatera.
- CIA Kecewa pada PRRI
KAPTEN Sebastian Tanamas bermarkas di Parit Surau. Pasukannya berada di bawah Sub Komando Daerah Riau (SKDR) yang memiliki daerah operasi di Riau Daratan. Pada 31 Mei 1958, kurir datang dari markas SKDR di Lintau, Tanah Datar, membawa perintah agar dia menghadiri rapat perwira.
- Tonggak-tonggak Gerakan Perempuan Indonesia
Dewi Sartika dari Bandung, Kartini dari Jepara, Rohana Kudus dari Kotogadang, Rahmah El-Yunusiyah dari Padang Panjang, R. Ayu Lasminingrat dari Garut hingga R. Siti Jenab dari Cianjur. Inilah deretan nama perempuan pejuang generasi awal dalam sejarah Indonesia modern yang muncul pada abad ke-19. Tokoh-tokoh itu berfokus pada masalah pendidikan, posisi perempuan di keluarga hingga keterampilan perempuan. Meski berasal dari kelas bangsawan, menurut sejarawan Ita Fatia Nadia dalam Dialog Sejarah “Melampaui Maskulinitas: Narasi Perempuan dalam Sejarah Indonesia” di saluran Youtube dan Facebook Historia , Selasa, 22 Desember 2020, mereka juga memiliki perhatian terhadap lingkungan di luar kelas sosial mereka. Namun, perjuangan perempuan Indonesia tak berhenti pada nama-nama itu. Organisasi Perempuan Bermunculan Sejak awal abad ke-20, berbagai organisasi juga mengisi daftar panjang perjuangan perempuan. Perjuangan juga tak datang dari kota-kota besar semata, melainkan juga dari kota kecil di daerah. Putri Mahardika (1912), Keutamaan Isteri (1913), Kerajinan Amai Setia (1914), Pawiyatan Wanito (1915), Wanito Hado (1915), Putri Budi Sedjati (1915), Pengasih Ibu Kepada Anak Turunan atau PIKAT Minahasa (1917), Wanita Katolik (1917), Wanito Susilo (1918), Aisyiyah dan Fatimiah (1920) merupakan di antara organisasi-organisasi itu. Menurut Ita, organisasi-organisasi itu menjadi bagian dalam sejarah gerakan perempuan Indonesia karena selain memiliki lembaga dan anggota, juga menerbitkan suratkabar sebagai media kampanye isu-isu yang mereka angkat. “Suratkabar itu menjadi bagian dari kampanye mereka tentang bagaimana kondisi perempuan pada sekitar periode itu,” jelas Ita. Putri Mahardika, misalnya, memiliki suratkabar Wanito Sworo yang dipimpin oleh Siti Sundari. Isinya melalui Wanito Sworo mereka menyuarakan isu bagaimana perempuan mandiri dan menentukan nasibnya sendiri, anti poligami, hingga anti kejahatan-kejahatan gender. Selain Wanito Sworo , ada surat kabar Al Sjarq yang diterbitkan oleh Sarekat Kaum Ibu sejak 1914. Pada tahun yang sama, terbit pula Soeara Perempoean di Padang dan Perempoean Bergerak di Medan. Sementara PIKAT di Minahasa menerbitkan suratkabar dengan nama yang sama sejak berdiri pada 1917. Kampanye-kampanye mengenai hak-hak perempuan kemudian mendorong dibukanya Algemene Middlebare School (AMS) untuk perempuan oleh pemerintah kolonial pada 1919. Namun, saat itu hanya perempuan dari kalangan ningrat saja yang boleh bersekolah. Baru pada 1922 Taman Siswa berdiri dan membuka sekolah untuk laki-laki maupun perempuan umum. Pada 1926, kaum perempuan di Semarang aktif dalam menentang rendahnya upah buruh. Mereka terlibat dalam pemberontakan melawan pemerintah kolonial dan sebagian aggotanya turut dibuang ke Boven Digul, Papua. Mereka dikenang sebagai pahlawan perintis kemerdekaan. Dari Daerah ke Nasional Seiring dengannya, organisasi-organisasi kedaerahan mulai membentuk sayap organisasi bagi perempuan. Berbagai organisasi daerah ini pada 1927 bergabung dalam Indonesia Muda (IM) yang anggotanya lelaki maupun perempuan. Pada 1928, IM melahirkan Sumpah Pemuda. Kongres Perempuan Indonesia ke-1, 22-25 Desember 1928, menjadi cacatan penting dalam gerakan perempuan Indonesia. Dalam kongres ini, berbagai organisasi perempuan melakukan konsolidasi pemikiran dan merumuskan semangat perjuangan nasional. “Jadi bagaimana menyatukan pemikiran-pemikiran dari perempuan di Nusantara. Kemudian peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan. Perbaikan gizi karena tingginya tingkat kematian ibu dan anak. Kesehatan ibu. Kemudian melarang pernikahan dini,” ungkap Ita. Ita menegaskan, saat itu yang menjadikan gerakan perempuan cukup kuat ialah ideologinya jelas. “Saya mau mengatakan, bedanya organisasi perempuan dengan LSM perempuan sekarang ini, mereka jelas platform politiknya. Platform politik adalah ideologinya, gagasan ideologinya apa, lokasi politik yang mereka perjuangkan apa,” imbuhnya. Kongres tersebut kemudian melahirkan Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPII). PPII menyatakan diri sebagai bagian dari perjuangan nasional melawan penjajahan. Organisasi perempuan lain yang cukup radikal adalah Perempuan Isteri Sedar yang berdiri pada 1930. Organisasi yan dipimpin Soewarni Pringgodigdo ini bertujuan menentang kolonialisme, menolak poligami, dan memperjuangkan hak serta kedudukan perempuan di semua kelas sosial. Ita menambahkan, Perempuan Isteri Sedar memang terpengaruh oleh Marxisme. Perempuan Isteri Sedar pada 1931 turut hadir dalam Kongres Perempuan Asia di Lahore. Maria Ulffah, yang kelak menjadi menteri perempuan pertama Indonesia, juga mencatatkan sejarah penting. Ia mendirikan Isteri Indonesia pada 1932. Tujuannya antara lain mendorong perempuan masuk dalam Dewan Kota, anti poligami, anti kolonial, perbaikan upah buruh perempuan, dan pendidikan nasional. Pasca-kemerdekaan, berbagai organisasi perempuan bermunculan. Pada Juli 1950, Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) didirikan dari gabungan 500 aktivis perempuan dan enam organisasi perempuan: Rukun Putri Indonesia (Rupindo), Persatuan Wanita Sedar, Isteri Sedar, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwindo), Wanita Madura, dan Perjuangan Putri Republik Indonesia. Gerwis yang cukup radikal dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) tergabung dalam Women’s International Democratic Federation (WIDF) yang berpusat di Berlin. Kongres pertama Gerwis kemudian memutuskan penggantian nama organisasi menjadi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Gerwani kemudian menjadi organisasi perempuan kuat sejak 1950-an hingga 1965. Era Orde Baru Pasca-Peristiwa G30S, Gerwani difitnah turut menyiksa para jenderal dengan keji di Lubang Buaya. Organisasi ini lalu dilarang dan dikutuki. Anggotanya ditangkap, disiksa, diperkosa dan dihilangkan paksa. Tahun 1965 menjadi titik balik perjuangan perempuan Indonesia. Akibat G30S, wajah sejarah gerakan perempuan Indonesia berubah drastis. Ketika rezim militer berkuasa, narasi sejarah perempuan dikembalikan pada kontruksi patriarki. Perempuan ditempatkan kembali ke ranah domestik dan sejarah panjang perjuangannya seakan dihapus begitu saja. Aktivis perempuan Tunggal Pawestri menyebut bahwa pasca-1965, perempuan Indonesia dibayang-bayangi oleh stigma dan stereotype yang dikonstruksikan Orde Baru. “Jadi teman-teman perempuan yang beraktifitas di luar wilayah domestik akhirnya dicap sebagai perempuan liar, perempuan sundal,” kata Tunggal. Meski demikian, Tunggal menyebut bahwa beberapa kelompok studi gender mulai bermunculan di kampus-kampus pada 1980-an. Yogyakarta menjadi salah satu kota yang subur bagi kelompok-kelompok ini. Dari kelompk-kelompok studi itu lahirlah organisasi perempuan seperti Kalyanamitra, yang lahir pada 28 Maret 1985. Pada 1990-an awal, muncul pula Kelompok Solidaritas Perempuan. Menurut Tunggal, ada pula organisasi-organisasi perempuan di berbagai daerah yang belum tercatat. Namun, organisasi-organisasi perempuan itu masih dihantui oleh stigma “Gerwani”. Alhasil, aktivitas-aktivitas akar rumput terkait ketimpangan gender maupun advokasi-advokasi untuk korban kekerasan seksual masih menjadi tantangan berat. Di ujung kekuasaan Orde Baru, gerakan-gerakan perempuan kembali tumbuh. Mereka turut andil dalam Reformasi seperti yang dilakukan Suara Ibu Peduli dengan turun ke jalan. “Dan banyak juga kelompok perempuan yang sebenarnya selain menyuarakan isu-isu khusus soal perempuan tapi juga menyuarakan isu anti Orde Baru dan juga isu anti militerisme. Nah itu jadi semacam dua musuh bersama, Orba dan militerisme pada saat Reformasi,” jelas Tunggal. Meski demikian, Reformasi belum memberi tempat yang cukup bagi sejarah gerakan perempuan. Peran perempuan dalam penggulingan Orde Baru kurang mendapat sorotan dibanding gerakan mahasiswa. Pasca-Reformasi, gerakan perempuan tetap berjalan. Koalisi Perempuan Indonesia lahir dari gabungan aktivis-aktivis dan berbagai organisasi perempuan. Selain itu, lanjut Tunggal, beberapa organisasi seperti Perempuan Mahardika, Kapal Perempuan, Sapa Institute, Serikat Petani Pasundan berkontribusi pada wacana demokrasi dan kebangsaan. Namun, peran mereka lagi-lagi terpinggirkan dari sejarah Indonesia. “Karena persoalan ideologis, patriarki yang sudah mendarah daging di semua level, maka perempuan jadi luput atau dihilangkan dari narasi besar sejarah Indonesia. Ini yang sampai sekarang masih menjadi persoalan,” terang Tunggal.
- Gerakan Perlawanan Orang Kristen terhadap Kolonialisme
LELAKI tua itu berjalan tertatih-tatih. Usianya 60 tahun. Dia singgah dari satu desa ke desa, hinggap dari satu kota ke kota lainnya di Jawa Timur. Misinya mengabarkan injil kepada penduduk. Dia melakukan tugas itu tanpa menerima bantuan keuangan dari siapapun. Hingga membuat zending (penyebar agama Kristen Protestan) Belanda sempat kagum.





















