Hasil pencarian
9867 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Aljazair Merdeka
Sebuah panitia khusus didirikan untuk membantu perjuangan kemerdekaan Tunisia, Maroko, dan Aljazair.
- Persekutuan Rahasia Prawatasari-Ki Mas Tanu
Selama Maret 1703, kerusuhan kerap terjadi di Cianjur. Itu disebabkan oleh serangan laskar Haji Prawatasari yang selalu datang tiba-tiba dan langsung menghilang begitu saja. Bahkan bukan hanya di Cianjur, Bogor dan pinggiran Batavia pun mulai menjadi sasaran. Menurut Gunawan Yusuf dalam Sejarah Cianjur Bagian ke-5 , tentu saja kenyataan itu membuat VOC dan para penguasa lokal setempat menjadi tak nyaman. VOC bereaksi. Ekspedisi militer pun dibentuk. Pertengahan Maret, sekira 2.000 serdadu kompeni pimpinan Pieter Scorpoi bergerak dari Batavia ke Jampang Manggung. Namun sesampai di sana, mereka tak mendapat perlawanan berarti. “Penumpasan itu (pada akhirnya) membawa berita bahwa Prawatasari telah terbunuh,” ungkap Jan Breman dalam Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa . Tidak mendapatkan kepala Haji Prawatasari, Scorpoi tidak mau mengambil resiko. Dia lantas mengangkut 1.354 penduduk Jampang Manggung. Mereka rencananya akan dikirim ke Batavia dan mungkin akan dijadikan budak belian. Sepanjang perjalanan, penduduk Jampang Manggung diperlakukan secara tidak manusiawi. Mereka disiksa dan dibiarkan kelaparan hingga sebagian besar meninggal dan melarikan diri. “Di tengah perjalanan hanya ada tersisa 582 orang,”ungkap Yusuf. Dalam Priangan: de Preanger –Regentschappen onder het Nederlandsch bestuur tot 1811 , F. de Haan menyebut sisa dari tawanan itu kemudian ditempatkan pada wilayah sekitar Pantai Utara. Namun versi Yusuf, sisa orang-orang Jampang Manggung itu dipaksa untuk pindah ke Bayabang, suatu wilayah yang ada di Mande dan terletak di tepi Sungai Citarum. Kabar kematian Prawatasari terbukti kemudian hanya isapan jempol semata. Secara mengejutkan, pada 1704, dia kembali muncul bersama sekira 3.000 gerilyawan yang menjadi pengikutnya. Dengan kekuatan hampir satu resimen tersebut, Haji Prawatasari mengepung Sumedang dan nyaris mengahancurkan kota itu. “Dalam gerakan majunya ke Priangan, pengikutnya semakin bertambah…”ungkap Jan Breman. Hingga Agustus 1705, tercatat tiga kali pasukan Haji Prawatasari berhasil mengalahkan pasukan kompeni. * Kejayaan Haji Prawatasari dan pasukannya, tidak lepas dari kepiawaiannya memainkan trik-trik intelijen. Gunawan Yusuf menyebut, ia memiliki seorang informan di dalam tubuh tentara VOC bernama Ki Mas Tanuwidjaya. Siapakah dia? Dalam De Geschiedenis van Buitenzorg , CHF Riesz menyebut Ki Mas Tanu sebagai orang Sunda dari Sumedang yang berhasil membentuk "pasukan pekerja" dan mendapat perintah dari VOC untuk membuka hutan Pajajaran. Ia lantas mendirikan Kampung Baru yang kemudian menjadi cikal bakal Kabupaten Bogor sekarang. “Tanuwidjaya adalah penguasa Bogor versi VOC. Ia disebut "Luitenant der Javanen" (Letnan orang-orang Jawa dan merupakan letnan senior diantara teman-temannya,”tulis Gunawan Yusuf. Pada mulanya Ki Mas Tanu sangat loyal terhadap VOC. Sejarah mencatat, bersama seorang sersan Belanda bernama Scipio, ia pernah memimpin Ekspedisi Ciliwung. Ekspedisi itulah yang kemudian menjadikan kawasan-kawasan hutan sekitar bantaran sungai tersebut sebagai pemukiman penduduk sekarang. Kawasan-kawasan itu antara lain Depok, Pondok Cina dan Kedung Halang. Almarhum M.A. Salmun pernah menulis dalam Majalah Intisari edisi No.2 September 1963, bahwa yang dimaksud “Menak Ki Mas Tanu” dalam lirik lagu Ayang-Ayang Gung (sebuah lagu populer yang sering dihariringkeun oleh ibu-ibu Sunda saat meninabobokan anaknya) tak lain adalah Letnan VOC Ki Mas Tanuwidjaya . Secara akademis, memang belum ada penelitian resmi soal itu. Namun jika disimak hampir tiap bait lirik lagu tersebut, kita pantas ‘mencurigai’ pendapat itu mungkin saja benar adanya. Ayang-ayang gung Gung goong na rame Menak Ki Mas Tanu Nu jadi wadana Naha maneh kitu Tukang olo-olo Loba haru biru Rucah jeung kumpeni Niat jadi pangkat Kantun kagorengan Nganteur Kangjeng Dalem Lempa lempi lempong Ngadu pipi jeung nu ompong. Menurut Salmun, ‘penyair baheula’ menyindir Tanuwijaya dengan " lempa lempi lempong, ngadu pipi jeung nu ompong ". Artinya, Letnan VOC itu telah mengejar harapan kosong dan bermesraan dengan orang tidak bergigi. Yang dimaksud "orang tidak bergigi" adalah Prawatasari yang pada akhirnya kalah dalam perjuangan. Lantas mengapa “Si Anak Emas Kompeni” yang tadinya “niat jadi pangkat (ingin meraih jabatan) itu berbalik ‘mengkhianati’ majikannya dengan menjadi informan bagi Prawatasari? Gunawan Yusuf menyebut itu terjadi tidak lepas dari kecemberuan sekaligus ketidakpuasan lelaki Sunda itu kepada pihak VOC. Kendati seorang Letnan, secara de facto Ki Mas Tanu harus ‘tunduk’ kepada seorang Sersan Scipio yang seorang Belanda tulen. Namun soal pengkhianatan letnan Sunda itu, sempat disangkal oleh “kuncen Bandung” Haryoto Kunto. Haryoto menulis bahwa Ki Mas Tanu alih-alih pernah bersimpati kepada Prawatasari, ia justru dilukiskan sebagai anak muda yang ambisius dan setia kepada kompeni. Begitu setia-nya hingga dijuluki “Si Raja Tega”, karena kekejamannya kepada rakyat Priangan. “Kekejaman dan kelaliman Ki Mas Tanu diperlihatkannya ketika ia memimpin kerja rodi, susuk bendung babad jalan, membangun dan melakukan pengerasan jalan antara Bogor sampai Batavia,”tulis Kunto dalam Gung Goongna Rame ( Pikiran Rakyat , 19 Februari 1998). Pendapat Kunto itu sempat mendapat sangkalan pula dari sastrawan Sunda Aan Merdeka Permana. Dalam sebuah artikel berjudul Benarkah Ki Mas Tanu Pengkhianat? ( Pikiran Rakyat , 23 Februari 1998), Aan malah menggambarkan tokoh tersebut sebagai pahlawan, pionir penemuan kembali peninggalan warisan Sunda yakni Pajajaran. “Berdasarkan riset yang saya lakukan, Ki Mas Tanu berasal dari keluarga bangsawan Sumedanglarang yang notabene masih berkerabat dengan Kerajaan Pajajaran. Bahkan kita tahu Sumedanglarang dalam perkembangannya menjadi pengganti kerajaan Pajajaran,”tulis Aan. Siapa yang benar, tentunya harus dibuat riset yang lebih mendalam lagi mengenai soal tersebut. Namun yang jelas, sekitar 1705, persekutuan Haji Prawatasari dan Ki Mas Tanu terbongkar oleh telik sandi VOC. Akibatnya Wedana Bogor itu ditangkap VOC bersama sejumlah pengikutnya. “Dengan tuduhan perlawanan, para tersangka disuruh ke Batavia dan disekap untuk selanjutnya sesudah diadili Dewan Kehakiman (mereka) didera, dihajar (sampai) remuk redam, diselar dan (mendapat hukuman) dibuang ke Tanjung Harapan (Afrika Selatan) selama 50 .
- India dan China dalam Kemelut Perbatasan
SEJAK 5 Mei 2020, perbatasan India-China di area Line of Actual Control (LAC), garis demarkasi yang bersinggungan antara wilayah Ladakh (India) dan Tibet (China) sepanjang 3.500 kilometer, memanas. Militer kedua negara nyaris bentrok senjata. New Delhi maupun Beijing saling klaim wilayah tersebut dan saling gertak terkait. Tetapi belakangan tensi mulai mereda setelah dua jenderal masing-masing pihak bersua di Moldo, basis militer China di Sektor Chusul, Senin (22/6/2020). Militer India diwakili Komandan Korps ke-14 Angkatan Darat (AD) India Letjen Harinder Singh, dan diterima Komandan Distrik Militer Tibet Mayjen Liu Lin. Lewat pembicaraan maraton 11 jam, kedua pihak mencapai konsensus untuk menahan diri dan menghindari konflik terbuka. “Pembicaraan dilakukan dengan atmosfer yang positif dan konstruktif. Penarikan mundur pasukan di semua area yang berfriksi di timur Ladakh sudah disetujui dan akan segera dilakukan kedua pihak bersamaan,” sebut petugas militer India yang tak disebutkan namanya, dilansir Times of India , Selasa (23/6/2020). Tetapi bukan mustahil keduanya tak dapat menahan diri selamanya. Pasalnya, di level pengambil kebijakan, belum ada kesepakatan untuk mengikat perdamaian di perbatasan yang disengketakan. Hal ini terkait klaim China terhadap Lembah Galwan di salah satu area LAC. Terlebih, terdapat ketidakkompakan di pemerintahan India soal pertemuan trilateral yang dimediasi Rusia. Menteri Luar Negeri (Menlu) India Subrahmanyam Jaishankar bersedia bertemu Menlu China Wang Yi dengan mediator Menlu Rusia Sergey Lavrov di Moskwa. Tetapi Menteri Pertahanan (Menhan) India Rajnath Singh menolak duduk bersama dengan Menhan China Wei Fenghe. Krisis perbatasan India-China dipicu oleh pembangunan sebuah pos militer di Lembah Galwan oleh militer China pada 5 Mei di pesisir Danau Pangong dekat Pegunungan Himalaya. Pembangunan itu sebagai reaksi terhadap pembangunan infrastruktur jalan Darbuk-Shyok-Daulat Bel Oldi yang dibangun India. Pembangunan jalan di perbatasan yang dipermasalahkan China. (Twitter @IAmErAijaz ) Ketegangan terjadi ketika patroli militer India melabrak pos militer China itu. Konflik pun berkobar walau tak sekali pun meletupkan senjata. Kedua pasukan terlibat tawuran dengan tangan kosong, tongkat besi, hingga lempar-lemparan batu. Belasan prajurit di masing-masing pihak dilaporkan terluka. Tiga hari berselang, tawuran serupa terjadi di Nathu La Pass. Di pekan terakhir Mei, ribuan tentara China diklaim masuk dan melanggar perbatasan. Pada 15 Juni, terjadi tawuran kolosal di tepi Sungai Galwan. Sekitar 600 prajurit di masing-masing kubu tak hanya melempar batu, tapi juga menggunakan tongkat kawat berduri. Imbasnya 20 prajurit India tewas dan tiga luka-luka, sementara di pihak China satu tewas dan 43 lainnya terluka. Namun, tak satu pun peluru ditembakkan dalam tawuran itu. Bila ada satu letupan senjata, mungkin bakal mengobarkan perang berskala besar seperti yang dialami keduanya lebih dari setengah abad lampau. Konfrontasi Peking Kontra Delhi Pada Perang Sino-India 52 tahun lampau, insiden-insiden serupa pun terjadi. Situasi kian panas lantaran muncul Pemberontakan Tibet 1959 di mana India memberi suaka untuk Dalai Lama. Belum lagi, Perdana Menteri (PM) Jawaharlal Nehru bermain “dua kaki”. Di satu sisi ia masih didukung Amerika Serikat dan Inggris, di sisi lain ia mulai saling rangkul dengan pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev. Saat itu hubungan Soviet dan China sebagai dua kutub komunis sudah tak harmonis. Saling klaim wilayah antara keduanya berpangkal dari perbedaan titik pijak. India sejak masih jadi koloni Inggris terus berpegang pada Garis McMahon sebagai perbatasan wilayahnya. Garis McMahon –dinamakan dari Sekretaris British India Henry McMahon berdasarkan Konvensi Simla 1914– adalah garis demarkasi sepanjang 890 kilometer yang memisahkan wilayah timur laut India dengan Tibet. Sementara, China tak mengakui Garis McMahon. Pada 1959, PM Zhou Enlai mengklaim bahwa perbatasan mereka adalah garis LAC. Garis demarkasi sepanjang 4.056 kilometer itu mencaplok wilayah Aksai Chin yang termasuk bagian dari Kashmir dalam Garis McMahon. Setelah perundingan setingkat menteri pada 1960 deadlock , pada Mei 1961 militer China membangun pos di Sungai Chip Chap setelah menguasai Dehra Compass. India bereaksi, membangun lebih banyak pos di belakang garis perimeter pos milik China. Alhasil tentara India memotong jalur suplai pos China hingga militer China di Sungai Chip Chap terpaksa mundur. “Nehru menginginkan agresi dan kami takkan membiarkannya. Biasanya kami mencoba menahan diri tapi sepertinya kami tak bisa lagi mencegahnya. Jika dia ingin maju (melewati LAC), kami akan melakukan tindakan bersenjata. Anda menghunuskan senjata, kami juga menghunuskan senjata. Kita akan berhadapan dan beradu keberanian,” ujar pemimpin tertinggi China Mao Zedong soal insiden itu, dikutip John W. Garver dalam “China’s Decision for War with India in 1962” yang termuat di buku New Directions in the Study of China’s Foreign Policy. Masing-masing wilayah yang diklaim India dan China antara McMahon Line dan Line of Actual Control. ( cia.gov ). Konflik keduanya menjadi konfrontasi bersenjata dalam kurun Juni-September 1962 di sejumlah wilayah perbatasan. Walau pada 3 Oktober PM Zhou mengunjungi PM Nehru di Delhi untuk meredam ketegangan, konfrontasi di perbatasan tak jua berhenti. Yang terbesar adalah baku tembak di Yumtso La, perbatasan dekat Tibet, 10 Oktober, di mana sekitar 50 personil patroli India pimpinan Brigadier John Dalvi disergap 1000 personil Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) China. Meski pasukan Dalvi memberi perlawanan heroik, mereka kalah jumlah. Setengah dari pasukannya tewas. Di pihak TPR, 33 prajurit tewas. Meski PLA memberi penghormatan secara militer saat menguburkan 25 prajurit India, tetap saja konfrontasi itu dianggap sebagai tindakan yang memicu perang berskala besar. Perang Tak Berimbang Meski Nehru menetapkan “Forward Policy” atau kebijakan maju ke perbatasan, ia tak mengerahkan segenap kekuatan militernya. Nehru kadung yakin China takkan mau berperang. Toh kalaupun terpaksa perang, Nehru yakin bakal disokong penuh Amerika dan Inggris. Padahal, persiapan China bukan “kaleng-kaleng”. James Barnard Calvin dalam The China-India Border War mencatat, China menyiapkan setidaknya pasukan darat hingga 80 ribu personil. Sementara, India hanya punya dua divisi berisi 12 ribu personil di wilayah perbatasan. Pada pagi 20 Oktober 1962, Perang Sino-India pun dimulai. TPR menyerang dari dua front: di timur melalui Sungai Nam Chu dan di barat lewat Aksai Chin. Hanya dalam beberapa jam, perbatasan di Sungai Nam Chu yang dijaga satu batalyon tentara India dihancurkan tiga resimen TPR. Sementara, di front barat garnisun India di Lembah Galwan dan Danau Pangong dengan mudah ditaklukkan PLA yang mengerahkan “gelombang manusia” yang tak terbendung. Dalam dua hari, garis pertempuran TPR makin maju dan pasukan India terus-menerus terpukul mundur. Nehru lantas meminta bantuan Presiden Amerika John F. Kennedy untuk mengirim 12 skadron pesawat tempur. Namun, permintaan itu ditolak. Kennedy hanya bersedia mengerahkan Kapal Induk USS Kitty Hawk ke Teluk Benggala dan baru akan bertindak jika China keluar dari zona yang dipersengketakan untuk menginvasi India. Hingga akhir perang, sekitar empat ribu serdadu India ditawan China dan dipulangkan pasca-Perang Sino-India usai. ( Wikipedia ). Proposal Nehru untuk membeli pesawat dari Inggris dan Amerika pun ditolak. Dengan kesal Nehru pun berpaling pada Soviet yang berkenan menjual 12 jet tempur MiG-21. Namun jet-jet tempur anyar Soviet itu datang terlambat. Peking yang tujuan ofensifnya telah tercapai setelah menguasai Aksai Chin, mendeklarasikan gencatan senjata unilateral pada 19 November 1962. Delhi pun tak punya pilihan lain selain menyepakati gencatan senjata itu. Perang selama sebulan itu mengakibatkan sekira 1.300 personil India tewas, 1.600 hilang, seribu lainnya terluka, dan empat ribu ditawan. Sementara di pihak TPR, dua ribu personilnya tewas dan seribu luka-luka. “Mulai 21 November 1962, pasukan terdepan China akan menghentikan tembak-menembak di sepanjang perbatasan Sino-India. Mulai 1 Desember 1962, pasukan terdepan China akan mundur ke posisi 20 kilometer di belakang LAC,” demikian bunyi potongan deklarasi gencatan senjata PM Zhou. Delhi kemudian terpaksa mengakui LAC, di mana Aksai Chin merupakan bagian dari China secara de facto . Kendati begitu, sengketa perbatasan itu masih acap menimbulkan insiden hingga hari ini.
- Sukarno Menembus Hutan Bukit Barisan
Setelah memberitahu Inggit Garnasih istrinya, Sukarno berkeliling kota Padang untuk mencari Woworuntu. Kepada rekannya itu Sukarno hendak mencari bantuan tempat tinggal. Meski tak mudah, Sukarno akhirnya menemukan tempat tinggal Woworuntu dan segera mengetuk pintu rumahnya. Tuan rumah kaget begitu mendapati tamunya adalah Ir. Sukarno, kawan yang saat itu menjadi tokoh perjuangan kemerdekaan paling populer. “Dia memelukku. ‘Sukarno, saudaraku’,” kata Woworuntu berteriak sambil berlinang air mata saat menyambut tamunya, dikutip dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Pertemuan dua kawan yang lama tak jumpa itu begitu hangat. Tanpa disangka Sukarno, Woworuntu menawarkan apa yang diinginkan Sukarno. “Bawalah keluarga Bung Karno ke sini...bawalah ke sini dan anggaplah ini rumah Bung Karno sendiri,” kata Woworuntu yang berharap akan mendapat teman di rumahnya karena anak-istrinya telah dia ungsikan akibat suasana kota tak kondusif menyusul kedatangan tentara Jepang. Keluarga Sukarno pun tinggal di rumah Woworuntu dan menempati kamar Woworuntu. Tuan rumah sendiri pindah ke kamar lain. Pertemuan membahagiakan Sukarno dengan Woworuntu itu menjadi bayaran atas kepedihan Sukarno sekeluarga selama empat hari menjalani perjalanan sulit dari Bengkulu menuju Padang. Pemindahan tempat pembuangan Sukarno dari Bengkulu dilakukan pemerintah Hindia Belanda karena tak ingin tokoh perjuangan paling populer itu bekerjasama dengan Jepang yang sudah mulai masuk ke Sumatera. Dalam perjalanan itu Sukarno beserta Inggit, Sukarti anak angkatnya, dan Riwu pembantu setianya mesti melakukan perjalanan jauh menembus belantara Bukit Barisan dengan hanya membawa sedikit perbekalan. Mereka dibawa menuju Padang menjelang tengah malam 22 Februari 1942. Hanya empat polisi yang mengiringi perjalanan mereka. Mereka menyisir pantai barat Sumatra lewat Mukomuko. Ada 13 sungai yang mereka seberangi menggunakan rakit atau perahu milik penduduk sebelum mencapai Mukomuko. Begitu sampai di Mukomuko sore keesokan harinya, mereka amat kelelahan. “Di Desa Mukomuko mereka ditimbangterimakan kepada polisi dari Karesidenan Sumatera Barat,” kata Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang menjadi sahabat Sukarno, dalam otobiografinya Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Setelah beristirahat di sebuah rumah, perjalanan dilanjutkan pukul tiga dini hari. Perjalanan kali ini lebih berat bukan hanya karena polisi yang mengawal mereka dari Bengkulu telah diganti oleh polisi-polisi kaku dari Mukomuko, namun mobil pengangkut Sukarno sekeluarga telah dibawa kembali oleh polisi Bengkulu. “Maka rombongan Bung Karno berangkat ke arah Padang dengan menggunakan pedati yang ditarik sapi dari Muko-muko lewat Lunang dan Silaut, terus ke Painan,” sambung Hasjim yang mendengar kisahnya dari Ibu Inggit. Gerobak-sapi itu hanya diperuntukkan mengangkut beras dan logistik selama perjalanan. Hanya Sukarti yang diizinkan naik gerobak itu jika kelelahan. Praktis, semua mesti berjalan kaki menembus belantara untuk mencapai Padang yang berjarak sekira 300 kilometer. Meski kaget dan awalnya enggan meneruskan perjalanan, Inggit akhirnya terpaksa ikut. Akibat menyusuri hutan lebat dengan vegetasi rapat, kakinya sampai bengkak. Karena itulah ia terkadang menumpang gerobak logistik. Perjalanan berat itu akhirnya berakhir sementara menjelang magrib ketika mereka mencapai sebuah gubuk panggung kosong di tengah persawahan. Di sanalah mereka istirahat untuk menunggu pagi. “Kalaupun disuruh berjalan terus, tak seorang pun di antara kami yang masih sanggup berjalan. kami terlalu lelah. Dan kaki bengkak-bengkak oleh gigitan serangga. Sukarti tidak memakai topi, badannya terbakar oleh terik matahari,” kata Sukarno. Meski gubuk kosong itu kondisinya tak bagus, ia seakan surga bagi para anggota rombongan. Sebuah tikar yang ada langsung ditiduri Sukarno. Mereka akhirnya bisa istirahat meski kondisi sekitar yang menyeramkan. “Seekor ular menjalar melalui kaki. Cicak berkeliaran di atas atap. Bunyi binatang buas di malam hari di sekeliling tempat kami membikin badan jadi dingin. Tetangga kami adalah harimau, beruang, kucing hutan, rusa, babi hutan, dan monyet tak terhitung banyaknya,” kenang Sukarno. Teriakan monyet yang tak henti-henti membuat Sukarti ketakutan ketika bangun tengah malam. Baru setelah ditenangkan oleh sang ayah bahwa mereka dijaga 24 jam full oleh polisi-polisi bersenjata, Sukarti bisa tenang dan kembali tidur. Setelah bangun dan sholat serta sarapan, sereka kembali melanjutkan perjalanan di saat hari masih gelap. Itu dilakukan agar mereka bisa mencapai jarak sejauh mungkin ketika magrib tiba dan istirahat. Menjelang tengah hari bukan main senangnya mereka ketika mendapati sebuah sungai berair jernih. Tanpa melepas pakain, mereka langsung menceburkan diri ke sungai itu. Mereka lalu istirahat di sebuah gubuk yang mereka temukan tak jauh dari sungai. Banyaknya jejak harimau yang mereka lihat selama perjalanan tak begitu menakutkan karena langit terang. Namun tidak demikian ketika seekor siamang besar mendekati mereka. “Akan tetapi kami tidak diapa-apakan, hanya jantung kami yang memukul-mukul dada dengan keras,” sambung Sukarno. Dengan bekal ikan tangkapan dari sungai tadi, mereka lalu menjadikannya lauk. Nasi dan sayur mereka masak dari beras dan sayuran yang dibawa. Mereka pun makan siang. Perjalanan lalu mereka lanjutkan. Namun, di hari ketiga itu mereka semua telah kelelahan. Inggit bahkan sampai makan sambil berdiri akibat lelahnya dan khawatir jika duduk dia tak bisa kembali berdiri. Seorang polisi yang mengawal bahkan putus asa. “Di samping matahari yang membakar, haus, kehabisan tenaga dan gangguan binatang, para pengiring kami harus pula mengawal kami. Sekalipun kami adalah orang tawanan dan orang yang menawan, kami semua sama merasakan pahit-getirnya perjalanan,” kata Sukarno. Maka sambil berjalan, Sukarno mencoba mengajak ngobrol polisi pengawal untuk menaikkan kembali semangatnya dan memecah kebisuan perjalanan. “Saya berterimakasih kepada saudara-saudara, karena sudah memperlihatkan daerah pedalaman ini kepada saya,” kata Sukarno. Perkataan Sukarno langsung disambut seorang polisi dengan pertanyaan. Obrolan pun terjadi. Cerita-cerita yang dikeluarkan Sukarno menjadi hiburan bagi para polisi pengawal. Perjalanan kembali bergairah hingga ketika mereka beristirahat di satu tempat untuk menikmati air kelapa yang diambil oleh Riwu dari pohon yang ada. Perjalanan mereka tak seberat sebelumnya. Di hari keempat, mereka sudah keluar dari hutan dan masuk ke wilayah Mingangkabau. Dengan menumpang bus, mereka lalu mencapai Padang malam itu juga dan diinapkan di sebuah hotel sebelum akhirnya Sukarno sekeluarga menumpang di rumah Woworuntu.
- Intrik Kuasa di Kesultanan Yogyakarta
Selama dekade pertama abad ke-19, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat terus mendapat gangguan dari Belanda. Mereka selalu berusaha menancapkan pengaruhnya di lingkungan keraton, tetapi selalu ditentang oleh Sultan Hamengkubuwono II. Dia secara tegas menolak upaya Gubernur Jenderal H.W. Daendels menempatkan seorang regent di wilayah Kesultanan Yogyakarta. Tindakan lain HB II yang bertentangan dengan keinginan Belanda adalah pergantian wakil istana dari Patih Danuredja II yang dianggap pro-Belanda kepada Notodiningrat, keponakan HB II. Menurut Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik , pergantian itu dikhawatirkan akan mengancam posisi Belanda di Yogyakarta. Sikap HB II itu membuat Daendels marah. Dia lalu mengeluarkan perintah penyerbuan ke wilayah Yogyakarta. Begitu keraton dikuasai, sang gubernur jenderal menurunkan HB II dari takhtanya. Diceritakan Joko Darmawan dalam Mengenal Budaya Nasional Trah Raja-Raja Mataram di Tanah Jawa , demi mengisi kekosongan tersebut dipilihlah putra HB II, Raden Mas Surjo, pada Desember 1810 sebagai regent yang memimpin rakyat Yogyakarta. Dia mendapat gelar Sultan Raja. Daendels menilai Raden Mas Surjo dapat berkompromi dengan pihaknya. Dia juga sepakat untuk tidak mengusik aktivitas pemerintah Hindia Belanda di Yogyakarta. Namun belum genap setahun memangku jabatan, Sultan Raja harus rela menyerahkan kembali takhta keraton kepada ayahnya, Sultan HB II. Kembalinya jabatan sultan ke HB II itu merupakan buntut dari perjanjian antara Prancis dengan Inggris. Keduanya menyepakati penyerahan seluruh wilayah Nusantara dari Belanda ke tangan Inggris. Situasi perang di Eropa menjadi penyebab terbesar perpindahan kekuasaan tersebut. Gubernur Jenderal Inggris di India Sir Gilbert Eliot Murray lalu menunjuk Thomas Stanford Raffles sebagai Gubernur Jenderal. Raffles segera mengamankan seluruh wilayah bekas jajahan Belanda dan menancapkan pengaruh Inggris di dalamnya. Hal itu terlihat juga di Ngayogyakarta Hadiningrat. Setiba di Jawa Raffles langsung menurunkan HB III yang dianggap berpihak kepada Belanda. “Kendatipun demikian HB II diharuskan untuk menaati aturan-aturan yang dibuat pemerintah Inggris,” tulis Darmawan. Menggalang Bantuan Raden Mas Surjo yang kehilangan jabatannya kembali menjadi putra mahkota. Tetapi diam-diam dirinya mulai menggalang kekuatan untuk kembali bertakhta. Rupanya di dalam keraton sendiri banyak pejabat yang lebih senang berada di bawah perintah Mas Surjo ketimbang HB II. Dukungan juga tidak hanya datang dari elit keraton, tetapi para pemangku birokrasi di seluruh Yogyakarta. Salah satunya seorang Kapiten Tionghoa bernama Tan Jin Sing. Sebagai seorang kapiten, Tan Jin Sing memiliki koneksi yang cukup baik dengan pihak kolonial maupun bangsawan Jawa. Dia mengetahui intrik yang terjadi di dalam istana dan memutuskan mendukung Raden Mas Surjo mendapatkan kembali takhtanya. Dia pun memanfaatkan kedekatannya dengan pemerintah Inggris untuk membantu sang putra mahkota. “Pangeran Surjo yang sedang dalam keadaan terjepit, karena ayahnya telah melakukan pembersihan terhadap orang-orang yang setia kepadanya, sudah tentu menyambut dengan gembira tawaran Babah Djim Sing ini,” tulis Setiono. Kapiten Jin Sing melakukan usaha pendekatan terhadap Residen Yogyakarta John Crawfurd. Dia mencoba mendapat dukungan dari Raffles melalui sang residen. Menurut sejarawan Peter Carey dalam Orang Cina, Bandar Tol, Candu, dan Perang Jawa: Perubahan Persepsi tentang Cina 1755-1825 , Jin Sing sering mengadakan pertemuan rahasia dengan Crawfurd terkait dukungan terhadap Raden Mas Surjo tersebut. “Sebagai seorang teman, penerjemah, serta pembantu Putra Mahkota, ia juga bertindak sebagai salah seorang utusan rahasia Putra Mahkota dalam berbagai perundingan dengan Inggris,” tulis Carey. Hasilnya, disepakati sebuah perjanjian rahasia pada 12 Juni 1812, yang memberikan jaminan dari Inggris untuk Raden Surjo mengambil alih takhta kesultanan Yogyakarta. Maka pada 17 Juni 1812 tentara Inggris pimpinan Kolonel Gillespie dan Kapten Travers masuk ke Yogyakarta. Mereka melakukan pengepungan di kediaman Sultan HB II. Selama penyerbuan berlangsung, Tan Jin Sing memainkan peranan penting dengan memberikan informasi kepada pasukan Inggris. Dia juga menjamin perbekalan makanan serta keperluan perang untuk para penyerbu tersebut. Bahkan atas kuasanya, para bawahan dan orang-orang yang setia kepada Pangeran Surjo diberi perlindungan di daerah pemukiman Tionghoa. Pada 20 Juni 1812 keraton berhasil diduduki dan HB II bersedia menyerahkan takhtanya. Raden Mas Surjo kemudian didaulat menjadi pemimpin baru Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwono III. Oleh Inggris, HB II dibuang ke Penang dan akhirnya oleh Belanda dipindahkan ke Ambon, Maluku. “Sebagai imbalan atas pelayanannya, Sultan Ketiga yang baru diangkat itu –kemungkinan berada di bawah tekanan Inggris– mengangkat Tan Jin Sing sebagai bupati dengan gelar Raden Tumenggung Secodiningrat dan mendapat apanase sebanyak 1000 cacah (kepala keluarga),” tulis Carey. Keserakahan Inggris Harga yang harus dibayar HB III untuk memperoleh singgasana Yogyakarta rupanya tidaklah murah. Melalui perjanjian pada 1 Agustus 1812 Inggris menuntut banyak hal kepada HB III atas wilayah kekuasaan Kesultanan Yogyakarta. Di bidang ekonomi, HB III harus melepaskan hak atas penarikan pajak tol dari pelabuhan-pelabuhan, baik laut maupun sungai, serta pusat-pusat perdagangan. Sebagai gantinya, sultan akan memperoleh bayaran dari pemerintah Inggris setiap tahunnya. Di bidang lain, Inggris menuntut agar HB II melepas hak atas tanah-tanah di Kedu, Pacitan, Jipang, dan Grobogan. Inggris berencana mengelola pemerintahan di wilayah-wilayah tersebut. Kemudian di bidang militer, para pejabat istana tidak diperkenankan memiliki tentara pribadi kecuali dengan izin pemerintah Inggris. Pemerintah Inggris juga menegaskan bahwa HB III hanya berkuasa atas orang-orang Jawa saja, sementara orang-orang asing yang tinggal di Yogyakarta berada di bawah penguasaan Inggris. Sebagai bagian dari usaha penguasaan seluruh wilayah pulau Jawa, Inggris meminta agar sultan mengakui kedudukan tersebut. Selanjutnya, Kesultanan Yogyakarta dilarang melakukan hubungan diplomatik dengan kerajaan dan negara lain, baik di pulau Jawa ataupun di luar Jawa. “Demikianlah antara lain isi perjanjian yang pada hakekatnya telah mengebiri kedaulatan Kesultanan Yogyakarta sebagai sebuah negara,” tulis Setiono. Namun ternyata Sultan HB III hanya memerintah selama dua tahun saja. Dia secara tiba-tiba meninggal dunia pada 3 November 1814 dalam usia 43 tahun. Putranya, Pangeran Ibnu Jarot yang masih berusia 10 tahun ditunjuk menggantikan posisi ayahnya. Dia mendapat gelar Sultan Hamengkubuwono IV. Oleh Raffles, Paku Alam I ditunjuk sebagai wali raja muda ini.
- Martin Aleida, Sang Peliput Istana
Suatu hari yang tidak biasa terjadi di redaksi Harian Rakjat – suratkabar partisan milik PKI. Njoto, wakil ketua CC PKI (orang ketiga dalam partai) datang. Hari itu, Njotolah yang memimpin rapat redaksi. Sementara itu, wartawan muda bernama Nurlan duduk menyaksikan dari belakang. “Tiba-tiba, dia (Njoto) mengatakan yang akan menggantikan Anwar Dharma adalah Nurlan. Semua orang melihat ke belakang, kepada saya,” tutur Martin Aleida dalam dialog sejarah Historia “Kisah Wartawan Zaman Bung Karno”, 23 Juni 2020. Nurlan adalah nama kecil Martin Aleida. Ketika ditunjuk Njoto, usianya kala itu belum genap 22 tahun. Posisi baru yang akan dilakoninya cukup mentereng pada zamannya: menjadi wartawan Harian Ra’jat yang khusus bertugas di Istana Negara untuk meliput kegiatan Presiden Sukarno. “Saya tidak tahu mengapa saya dipilih,” kata Martin, “mungkin karena Sukarno suka dengan yang muda.“ Anak Njoto Awal 1965, Martin mulai bertugas meliput ke Istana. Jas dan dasi merupakan keharusan bagi wartawan Istana. Martin masih ingat jas coklatnya ditempah di penjahit Lioeng di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Wartawan muda kelahiran Tanjung Balai itu sempat grogi ketika menghadap Komandan Seksi 1 Tjakrabirawa Mayor Eli Ebram untuk mendapatkan kartu tanda pengenal. Dengan itulah, wartawan punya akses meliput ke Istana. Suatu pengalaman berkesan bagi Martin saat dirinya menjadi satu dari sedikit wartawan yang diundang Bung Karno dalam jamuan minum teh di Istana Merdeka. Pada pagi itu, Bung Karno hanya mengenakan kaos oblong dan sandal pantofel coklat namun tanpa peci. Sangat sederhana penampilan dari orang nomor Republik Indonesia itu. Pada saat itu, Martin dapat menyaksikan Sukarno dari jarak dekat. Cukup dekat untuk mengamati kuku jempol Sukarno yang panjangnya setengah milimeter. Tepat di sebelah Martin, ada seorang perwira muda perempuan dari Angkatan Laut yang mengajaknya berbincang. Saat berbincang, melintaslah Bung Karno. Dengan ramah Bung Karno menyapa. Dialog sejarah Historia "Kisah Wartawan Istana Zaman Bung Karno" antara Pemimpin Redaksi Historia Bonnie Triyana dan mantan wartawan Harian Rakjat Martin Aleida. “Hey, sudah kenal lama ya?” tanya Bung Karno sambil tersenyum. “Tidak Pak, dia nih yang terus menerus mengajak saya ngobrol,” jawab Martin. “Korannya apa?” kata Bung Karno. “ Harian Rakjat ,” jawab Martin agak gentar. Sukarno pun sumringah seraya berkata, “Wah… anaknya Pak Njoto yaa!” Orang-orang pun tertawa. Seakan-akan, Bung Karno memperkenalkan Martin dengan wartawan yang lain. Saat itu, tampak ajudan-ajudan utama Sukarno seperti Letkol (Pol) Sumirat, Letkol (Pol) Mangil Martowidjojo, dan Letkol (AL) Bambang Widjanarko. Meski bersua dengan wartawan, Bung Karno tidak sungkan membicarakan banyak hal. Mulai dari kegemarannya makan masakan Tionghoa di kawasan Glodok, hingga soal Musso, gembong PKI Madiun. Sebagaimana dituturkan Martin, Bung Karno menceritakan bahwa di lengan Musso ada cacat kena tikam pisau karena suka berkelahi. Sukarno tentu kenal baik dengan Musso sebab keduanya pernah tinggal di pondokan Haji Tjokroamnito di Surabaya. “Pembicaraan itu begitu encer dan menyenangkan,” kenang Martin. Sukarno yang Manusiawi Jauh dari kesan angkuh, di mata Martin, Bung Karno adalah pribadi yang sangat hangat kalau didekati. Memori Martin terngiang pada peristiwa peringatan dasawarsa Konferensi Asia Afrika pada April 1965. Saat itu di halaman Istana, Bung Karno sedang mengantar pemimpin Kamboja, Pangeran Norodom Sihannouk menuju mobilnya. Ketika Bung Karno naik kembali ke Istana, Martin telah menunggu di tangga atas sambil mengajukan tanya, apakah Pangeran Sihounuk akan datang kembali. Tanpa disangka-sangka, Bung Karno menanggapinya dengan antusias, “Oh iya, iya. Datang lagi ya,” katanya “Itu suatu keberanian yang hebat karena wartawan yang lain tidak ada yang melakukan itu,” ujar Martin. Bung Karno yang gagah ketika berpidato itupun bisa juga lelah. Martin menangkap momen itu ketika dalam suatu acara peresmian, Bung Karno menyampaikan pidato. Ketika selesai pidato, Bung Karno masih melihat orang-orang disekelilingnya masih berdiri. Barangkali karena sedang capek atau ada masalah, Bung Karno menghardik. “Kenapa masih berdiri semua? Seperti botol. Bubar!” seru Bung Karno. Martin juga punya pengalaman dalam suatu acara, Bung Karno tiba-tiba nyeletuk , apakah para wartawan sudah makan atau belum? Sukarno pun dengan senang hati mengajak wartawan makan bersama ala prasmanan. Barangkali menurut Martin, hanya di masa Sukarno-lah, wartawan bisa makan bersama presiden nyaris tak berjarak. Sukarno pun merupakan sosok terbuka tanpa kehilangan sisi-sisi manusiawinya. Ada suatu kebiasaan di Istana saban kali Bung Karno menyampaikan wejangannya yakni selalu menjadikan pertunjukan kesenian sebagai acara penutup. Dan di sanalah Bung Karno kerap larut dalam tarian lenso. Sekali wakti ada kejutan. Njoto yang menjadi menteri negara berdiri dari kursi dan bergabung dengan tim musik. Alat music selo yang dimainkan Njoto mengiringi penyanyi Titiek Puspa atau Lilis Suryani melagukan tembang kesukaan Sukarno. Bung Karno, dalam amatan Martin sangat senang dengan suasana seperti itu, ketika ada seorang menterinya yang punya kepekaan terhadap musik. Menurut Martin, di kalangan wartawan Istana termasuk fotografer tertanam komitmen untuk menjaga citra diri Bung Karno. Ada semacam kesepakatan tidak tertulis agar tidak menampilkan secara fisik penampilan Sukarno. Hal itu semata-mata bukan karena tekanan dari Istana melainkan rasa hormat terhadap sang presiden. “Bung Karno itu mengasyikan dan karena itulah kita hormat. Kita tidak mau mengatakan dia memakai kaos oblong saat menerima tamunya. Apalagi kalau dia difoto dalam keadaan botak, saya rasa tidak pernah,” kata Martin. Martin tidak lama menjadi wartawan Istana. Friksi internal partai maupun redaksi Harian Rakjat menyebabkan posisinya digantikan wartawan lain pada Juli atau Agustus 1965. Martin pun beralih sebagai wartawan harian Zaman Baru terbitan Lembaga Kebudayaan Rakjat (Lekra) yang masih berafilisasi dengan PKI. Pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965, semua organisasi yang berafiliasi dengan PKI dibubarkan. Martin Aleida hidup dalam pelarian dan menjadi buruan. Pada 1966, Martin tertangkap dalam Operasi Kalong, disiksa dan dipenjara selama setahun tanpa diketahui apa kesalahannya. Setelah bebas, dia kemudian menjadi wartawan Tempo dan dikenal sebagai penulis sejumlah kumpulan cerpen maupun novel. Martin termasuk sebagai penyintas tragedi 1965 yang baru saja menerbitkan memoarnya berjudul Romantisme Tahun Kekerasan .
- Tan Jin Sing, Sang Bupati Yogyakarta
Permulaan abad ke-19 perpecahan terjadi di Kesultanan Yogyakarta. Perselisihan antara Sri Sultan Hamengkubuwono II dengan pemerintah kolonial Inggris di bawah perintah Thomas Stanford Raffles berakhir dengan diturunkan sang sultan dari takhtanya. Raffles lalu mengangkat putra Hamengkubuwono II, Raden Mas Surjo, sebagai raja baru dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono III. Selama bertakhta (1810-1814), Sultan Hamengkubuwono III dianggap sebagai raja boneka. Dia banyak mengeluarkan kebijakan yang diyakini hanya menguntungkan kaum penjajah, terutama soal tingginya pungutan pajak dan keleluasaan orang Eropa di dalam kota. Namun di antara semua kebijakan, ada satu yang menjadi pemicu kemarahan rakyat, yakni pengangkatan kapiten Tionghoa Tan Jin Sing sebagai bupati Yogyakarta. Mengingat saat itu persaingan antara rakyat (baca: etnis Jawa) dengan orang-orang Tionghoa begitu besar di berbagai bidang. Ditambah jabatan bupati, banyak diminati bangsawan Jawa. “… Terdapat karier yang termasuk luar biasa dari seorang laki-laki yang memainkan peran sangat menentukan dan membantu menguatkan perasaan saling mencurigai dan tidak menenangkan antara kedua komunitas,” tulis Peter Carey dalam Orang Cina, Bandar Tol, Candu, dan Perang Jawa: Perubahan Persepsi Tentang Cina (1755-1825) . Siapakah Tan Jin Sing? Suksesor Sultan Diceritakan Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik , Tan Jin Sing lahir pada 1760 dari keluarga berbeda etnis. Ibunya, R.A. Patrawijaya, berasal dari keturunan Sunan Mataram Mangkurat Agung. Sementara ayahnya adalah seorang Tionghoa yang meninggal enam bulan sebelum kelahiran Tan Jin Sing. Namun sumber lain, T.S. Werdaya dalam Tan Jin Sing: Dari Kapitan Tionghoa Sampai Bupati Yogyakarta , menyebut bahwa Tan Jin Sing bukan dari keluarga beda etnis, melainkan keluarga priyayi Jawa. Ayahnya adalah Demang Kalibeber, dan ibunya R.A. Patrawijaya. Werdaya sendiri merupakan keturunan Tan Jin Sing yang membentuk trah Secodiningrat. Meski ada perbedaan dalam penyebutan asal-usul keluarga, kedua sumber sama-sama sepakat soal ayah angkat Tan Jin Sing bernama Oei Tek Liong. Olehnya Jin Sing diasuh dan dididik secara adat istiadat Tionghoa. Dia juga diajari bahasa kromo inggil dan tata cara budaya Jawa. Ketika Jin Sing berusia 10 tahun, Tek Liong menikah dengan Liam Lian Nio Jin Sing. Keluarga itu kemudian menetap di Magelang. Jin Sing diajarkan bahasa Belanda dan Inggris, serta budaya Eropa. “Demikianlah Jin Sing tumbuh menjadi seorang pemuda yang cakap dan pandai. Orang-orang Eropa yang hidup pada zaman itu menggambarkan Tan Jin Sing sebagai ‘seorang laki-laki yang benar-benar cerdas dan terampil’. Ia mampu memadukan ‘ketajaman seorang Tionghoa’ dengan pengetahuan lokal dan ‘kecerdikan orang Jawa’,” tulis Carey. Jin Sing lalu tinggal di Yogyakarta dan menikahi putri seorang kapiten Tionghoa bernama U Li. Pada 1803, dia menggantikan posisi mertuanya sebagai kapiten Tionghoa. Sebagaimana para pendahulunya, Jin Sing memegang peran menyewakan gerbang-gerbang tol di wilayah kesultanan untuk keperluan perdagangan. Dengan jabatannya itu, dia dapat mengembangkan kegiatan dagang milik pribadinya. Namun bukan itu keresahan utama para elit Jawa atas posisi Jin Sing. Sebagai kapiten Tionghoa, dia memiliki koneksi yang baik dengan pemerintah kolonial. Jin Sing bisa menjadi penghubung para bangsawan yang ingin bernegosiasi dengan pihak kolonial. Dan salah satu elit Jawa yang dekat dengan Jin Sing adalah putra mahkota Kesultanan Yogyakarta, Raden Mas Surjo. Menurut Peter Carey, Jin Sin dan Raden Mas Surjo berteman baik. Dia bertekad membantu Mas Surjo mengambil kembali tahta dari HB II. Kapiten Tionghoa ini lalu menerima titah sebagai utusan rahasia sang putra mahkota dalam berbagai perundingan dengan Inggris pada 1812. Perundingan tersebut memunculkan perjanjian antara Inggris dan Raden Mas Surjo. Pihak Inggris sepakat memberi jaminan untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan HB II ke Rade Mas Surjo. Pihak Inggris lalu melakukan penyerbuan ke kraton pada Juni 1812 dan menggulingkan takhta sultan. Raden Mas Surjo pun dinobatkan sebagai Sultan Hamengkubuwono III. Sebagai imbalan atas perannya, sultan mengangkat Tan Jin Sing sebagai bupati Yogyakarta dengan gelar Raden Tumenggung Secodiningrat. Di dalam buku Identitas dan Postkolonialitas di Indonesia karya Budi Susanto (ed), disebutkan bahwa Jin Sing diberi sebuah wilayah berpenduduk 1.000 kepala keluarga di bekas perkebunan merica dan nila milik VOC di Lowanu, sebelah timur Bagelen. Bekas kapiten Tionghoa itu juga diketahui menjadi seorang Muslim. Dia mengucap dua kalimat syhadat dan disunat sebagai bentuk pengakuan diri telah memeluk Islam. “Sayangnya, persoalannya tidak berhenti di situ saja. Perihal kehadiran seorang Tionghoa dalam jabatan tinggi birokrasi orang Jawa, walaupun hal itu lazim ditemukan di Jawa Timur dan di pantai utara, tetapi hal itu tidak ada sejarahnya di Yogyakarta. Oleh sebab itu, pengangkatan Tan Jin Sing/Secodiningrat itu membangkutkan kemarahan beberapa kelompok,” tulis Carey. Akhir Hidup yang Tragis “ Cina wurung, Londo durung, Jawa tanggung ” (bukan lagi Tionghoa, belum lagi menjadi orang Belanda, dan Jawa pun masih tanggung). Ungkapan tersebut begitu populer di antara rakyat Yogyakarta pada awal abad ke-19 untuk menggambarkan sosok Tan Jin Sing yang terkatung-katung di antara tiga dunia (Tionghoa, Eropa, dan Jawa). Kelompok elit Jawa yang paling vokal dalam menentang jabatan Jin Sing adalah Pangeran Notokusumo (Paku Alam I), saudara kandung HB II. Kegagalan menduduki takhta Kesultanan Yogyakarta membuat Notokusumo menyimpan dendam kepada bupati Yogyakarta ini. Bahkan menurut beberapa laporan pada Oktober 1812, Notokusumo berencana menghilangkan tanah pemukiman orang-orang Tionghoa dan membunuh Tan Jin Sing. Ancaman itu tentu membuat Jin Sing hidup dalam ketakutan. Ketakutan akan ancaman pembunuhan itu semakin hebat ketika pelindungnya (HB III), meninggal pada 3 November 1814. Jis Sing kehilangan koneksi utama di dalam Kesultanan Yogyakarta. Meski begitu dia tetap melanjutkan tugasnya sebagai bupati Yogyakarta. Menurut Peter Carey, Jis Sing sebenarnya tidak benar-benar kehilangan kedudukan di dalam birokrasi istana. Dia masih menjadi penghubung antara keraton dengan pihak kolonial selama HB IV bertakhta. Sebagian pejabat istana pun, khususnya istri HB III, masih senang kepadanya. “Meskipun demikian, hubungannya dengan orang di istana tetap saja renggang. Ia dinilai bersikap angkuh dan congkak oleh para pejabat istana sebab mendapat perlakuan khusus dan istimewa; suatu hal yang sesungguhnya tidak berhak untuk ia dapatkan menurut ketentuan adat istana,” tulis Carey. Bupati Yogyakarta itu sudah tidak mendapat tempat di antara bangsawan Jawa. Seorang pejabat tinggi Belanda Wouter Hendrik van Ijsseldijk mendapati kecemburuan mereka itu telah menghancurkan karir Jin Sing. Banyak pejabat istana yang menyatakan perasaan tidak senang secara terang-terangan atas kedudukan Jin Sing. Bahkan tidak hanya oleh para elit Jawa, mantan kapiten Tionghoa itu juga begitu dibenci oleh kelompok-kelompok masyarakat Tionghoa di Semarang dan Surakarta akibat kedudukannya di Yogyakarta. Penolakan itu membuat Jin Sing mengusahakan permohonan gelijkgestelde (disamakan) dengan kelompok Eropa. Nantinya dia tidak lagi ada di golongan Tionghoa maupun bumiputra, tetapi Eropa. Berdasarkan keputusan gubernur jenderal hal itu bisa saja dilakukan, sudah banyak kelompok elit bumiputra yang melakukannya. Namun tidak mudah memperolehnya, dan Jin Sing mendapat penolakan atas kedudukan tersebut. “Demikianlah, Tan Jin Sing alias Secodiningrat terpaksa harus menghabiskan sisa hari tuanya di dalam suatu kehidupan kultural yang aneh, tidak menyenangkan, dan terasing. Ia dengan penuh kehinaan ditolak oleh orang senegerinya; akibat penolakannya terhadap adat Tionghoa. Ia pun dicurigai begitu rupa oleh kebanyakan orang Jawa dari kalangan atas sebagai orang kaya baru yang penuh ambisi, serta membuat dirinya sendiri digunakan oleh orang Eropa yang membutuhkan jasanya sebagai informan politik,” ungkap Carey.
- Sultan Hamid II dan Polemik Gelar Pahlawan Nasional
Nama Sultan Hamid II atau Sultan Syarif Hamid Alkadrie dari Kesultanan Pontianak kini tengah ramai diperbincangkan. Musababnya, muncul perseteruan antara Kesultanan Pontianak dengan A.M. Hendropriyono yang bermula dari komentar Hendropriyono tentang Sultan Hamid II. Dalam sebuah video yang diunggah di saluran Youtube Agama Akal TV , Hendropriyono menyebut bahwa Sultan Hamid II adalah seorang pengkhianat, alih-alih seorang pahlawan. Ia juga menyebut bahwa Sultan Hamid bukanlah perancang lambang negara Garuda Pancasila. Sementara itu, pihak Kesultanan Pontianak yang kini tengah mengusahakan gelar Pahlawan Nasional bagi Sultan Hamid II geram. Kesultanan Pontianak kemudian melaporkan Hendropriyono ke Polda Kalimantan Barat terkait dugaan pencemaran nama baik. Polemik Sejarah Sultan Hamid II adalah sultan ke-7 (1945–1978) dari Kesultanan Qadriyah Pontianak. Lahir di Pontianak pada 12 Juli 1913 dari pasangan sultan ke-6 Syarif Muhammad Al-Qadrie dan Syecha Jamilah Syarwani. Hamid mendapat pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Lalu melanjutkan ke Hogeere Burger School (HBS) di Bandung dan HBS V di Malang. Kemudian sempat ke Technische Hooge School (THS) –sekarang Institut Teknologi Bandung– namun kemudian lebih memilih Akademi Militer Belanda (Koninklijke Militaire Academie) di Breda, Belanda. Lulus pada 1938, Hamid bergabung dengan Koninklijke Nederlandsche Indische Leger (KNIL) dan bertugas di Malang, Bandung, Balikpapan, dan beberapa tempat lainnya. Ia pernah ditahan Jepang selama 3,5 tahun di Jakarta. Pasca kemerdekaan, Hamid dilantik menjadi sultan ke-7 Kesultanan Qadriyah Pontianak pada 29 Oktober 1945. Kemudian pada 1946, ia naik pangkat menjadi mayor jend e ral dan menjadi ajudan istimewa Ratu Kerajaan Belanda, Wilhelmina. Anshari Dimyati, Direktur Eksekutif Yayasan Sultan Hamid II dalam webinar nasional “Sultan Hamid II, Pengkhianat atau Pahlawan?” pada 21 Juni 2020 menyebut Sultan Hamid II memiliki banyak peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah perundingan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Namun, ia menyayangkan, peran itu justru dinafikan karena Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terbentuk sejak penyerahan kedaulatan pada KMB itu tidak dilihat secara utuh sebagai mata rantai sejarah bentuk negara Indonesia. “Pertanyaannya kemudian hari ini, sejarawan-sejarawan yang menolak bahwa Sultan Hamid II itu berperan terhadap kedaulatan tersebut, apakah RIS ini, Republik Indonesia Serikat ini merupakan negara ilegal? Kan tidak,” kata Anshari. Jasa lain Hamid yang memunculkan kontroversi adalah rancangan logo elang rajawali Garuda Pancasila. Dalam sayembara merancang lambang negara , karyanya dipilih dan ditetapkan sebagai lambang negara RIS pada 11 Februari 1950. Gambarnya kemudian mengalami beberapa kali perbaikan dan jadilah Garuda Pancasila yang menjadi lambang negara Republik Indonesia sekarang. “Beliau sebagai perancang lambang negara itu tidak bisa dinafikan. Tidak dapat dibantah. Bertahun-tahun kami melakukan penelitian dan sudah diuji oleh banyak guru besar dan kemudian sudah diakui sebagai benda cagar budaya peringkat nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 2015,” ujar Anshari. Hamid ditangkap pada 5 April 1950 atas tuduhan berniat menyuruh Westerling dan Frans Najoan menyerbu Dewan Menteri RIS dan menembak mati tiga pejabat pemerintah. Hamid diadili dan pada 8 April 1953 Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara dipotong masa tahanan tiga tahun. Hamid dibebaskan pada 1958 dan tak lagi berpolitik. Namun, pada Maret 1962, ia kembali ditangkap dan dipenjara di Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun, Jawa Timur atas tuduhan makar dan membentuk VOC (Vrijwillige Ondergrondsche Corps). Hamid baru bebas pada 1966 setelah Sukarno lengser. Narasi terkait Westerling itu dibantah Anshari. Menurutnya, ada sentimen sejarah dari para peneliti dan pengkaji gelar pahlawan ditingkat pusat. Ia menjelaskan bahwa dakwaan primer Jaksa Agung Suprapto pada 1953 tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa Hamid terlibat Westerling. “Sultan Hamid II tidak terlibat Westerling. Apa buktinya? Kita lihat putusan Mahkamah Agung, baca betul-betul. Saya kira ini sentimen sejarah yang tidak bijak dibaca oleh orang-orang yang ada di tim peneliti dan pengkaji gelar di tingkat pusat atau TP2GP,” sebut Anshari. Politik Kepahlawanan Sejarawan J.J. Rizal lebih menyoroti mengenai kontroversi gelar Pahlawan Nasional yang sering terjadi Indonesia. Di mana persoalan gelar Pahlawan Nasional bukan hanya perihal sejarah, melainkan juga politik. Ia mencontohkan misalnya, pada 2004 muncul kontroversi kepahlawanan Sultan Hasanuddin setelah terbit buku biografi The Heritage of Arung Palaka yang ditulis oleh Leonard Y. Andaya. Dalam buku itu, digambarkan bahwa kejatuhan Sultan Hasanuddin dirayakan besar-besaran oleh masyarakat Bone karena dianggap sebagai kejatuhan seorang diktator. Padahal Sultan Hasanuddin telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada era Sukarno. Wacana kepahlawanan Sultan Hasanuddin pun menjadi polemik. Kemudian polemik terjadi pula pada 2007 tentang kepahlawanan Imam Bonjol setelah terbit cetak ulang buku Tuanku Rao yang ditulis oleh Mangaradja Onggang Parlindungan dan Greget Tuanku Rao dari Basyral Hamidy Harahap. Dari situ, muncul kritik keras terhadap kepahlawanan Imam Bonjol karena dianggap menggunakan kekerasan secara masif di Minangkabau dan Batak. Menurut Rizal, kekritisan terhadap sejarah itu muncul dan menimbulkan kontroversi terkait kepahlawanan tidak terlepas dari semangat Reformasi. “Saya pikir harus ditarik ke periode tahun 1998 di mana ada semangat besar untuk mengkritisi sejarah dari periode Orde Baru dan juga ada dorongan dari Pak Habibie sendiri untuk berdamai dengan sejarah,” kata Rizal. Ketika Orde Baru lengser, B . J . Habibie sebagai presiden baru memberikan Bintang Mahaputra kepada Sjafruddin Prawiranegara dan Mohammad Natsir. Padahal, dua tokoh Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) itu pada era Sukarno dan Soeharto dianggap sebagai pemberontak. Pasca Reformasi, narasi sejarah kedua tokoh tersebut memang berubah. Ada usaha-usaha untuk membersihkan nama baik dua tokoh tersebut. Hingga pada 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat Natsir sebagai Pahlawan Nasional. Sementara Sjafruddin ditunda karena ada kemungkinan kontroversi akan membesar. Sjafruddin baru ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2011. “Tapi yang paling menarik menurut saya bagaimanapun ada semangat lebih serius terkait pemberian gelar pahlawan. Ada peninjauan ulang terhadap latar belakang historis dari tokoh yang diajukan sebagai pahlawan,” kata Rizal. Undang-Undang No. 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan kemudian juga menghapus Undang-Undang No. 33 Prps Tahun 1964 yang mencantumkan kriteria “karet” bahwa calon Pahlawan Nasional tidak boleh melakukan perbuatan yang mencederai perjuangannya. Yang pada masa Orde Baru ditafsirkan sesuai dengan kepentingan penguasa. “Dan di masa Orde Baru juga dengan pasal kriteria karet itu, tokoh seperti Tan Malaka, Alimin yang kiri itu dimakzulkan. Jadi dihilangkan di dalam peta universe dari para pahlawan,” terang Rizal. Berubahnya narasi sejarah Natsir dan Sjafruddin, menurut Rizal, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang pertama, citra sejarah seperti apa yang ingin dihadirkan dan tengah menghadapi persoalan apa pemerintah saat itu. Lalu ada semangat berdamai dengan sejarah dan politik literasi dari para intelektual dan politisi. Kemudian, ada riset sejarah besar-besaran mengenai penjernihan narasi sejarah. Dan terakhir, ada penerbitan ulang karya-karya tokoh terkait secara stimulan dan orang bisa membaca kembali tentang tokoh tersebut. “Jadi kesimpulan saya adalah proses pemilihan pahlawan ini peristiwa politik. Lebih banyak urusan politik daripada urusan sejarah tapi bukan menafikan sama sekali urusan sejarah,” pungkas Rizal.
- Lima Dekade Lagu Anak-anak Indonesia
Abang tukang bakso mari-mari sini. Aku mau beli . Sepenggal lirik ini berasal dari lagu anak-anak berjudul “Abang Tukang Bakso”. Ia muncul pada dekade 1990-an. Liriknya pendek. Pilihan lemanya sederhana. Tapi lagu ini sangat populer dan punya pengaruh kuat pada perkembangan anak-anak. Raisye Soleh Haghia (34), pengajar Program Studi Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia, mengaku sering mendengar ibunya menyanyikan lagu itu ketika dia kecil. “Sekarang saya suka banget sama bakso,” kata Raisye. Raisye juga mencontohkan adanya ikatan kuat pada lagu anak-anak berjudul “Bangun Tidur” ciptaan Pak Kasur pada 1950-an. “Kalau kita telaah liriknya, lagu itu mengajarkan kebiasaan baik untuk anak-anak,” kata Raisye. Dia biasa menyanyikan lagu itu kepada anak-anaknya. Dan itu membantu menyampaikan apa yang dia inginkan dari anak-anaknya. Dua lagu anak tadi muncul pada rentang berbeda. Masing-masing punya latar belakang penciptaan berlainan. Kekuatan, tema, dan liriknya bertaut erat dengan kemampuan pencipta lagu, kondisi sosial, perkembangan teknologi, dan semangat zamannya. Perubahan kekuatan, lirik, dan tema pada lagu anak cenderung mengikuti pergeseran tonggak-tonggak zaman. Baca juga: Balonku dan Rahasia Penciptaan Lagu Anak-anak Pencipta lagu anak-anak dekade 1950-an berasal dari kalangan pendidik taman kanak-kanak. Mereka punya bekal pendidikan bagus dari masa kolonial. Pencipta lagu masa ini antara lain Pak Kasur (Soerjono), Ibu Sud (Saridjah Niung), dan Pak Dal (Daldjono Hadisudibyo). Lagu-lagu ciptaan mereka terdengar dan populer melalui siaran Radio Republik Indonesia dan majalah anak-anak. Masa ini anak-anak mengakrabi tema transportasi, cinta tanah air, dan penghargaan pada lingkungan (hewan dan alam). Pak Kasur menciptakan “Naik Delman”, “Tetap Merdeka”, dan “Kucingku”; Ibu Sud membuat “Naik Kereta Api”, “Berkibarlah Benderaku”, dan “Burung Ketilang”; sedangkan Pak Dal menyusun “Berlabuh” dan “Bintang Kecil”. Pengutamaan Kualitas Anak-anak mempelajari nada dan irama lagu-lagu itu dari RRI . Sedangkan untuk menghafalnya, mereka membaca liriknya secara berulang di majalah khusus anak-anak, seperti Si Kuntjung dan Kunang-Kunang . Si Kuntjung dan Kunang-Kunang punya rubrik khusus untuk nyanyian anak-anak. Tujuannya mengundang para pencipta lagu anak mengirim lagu ciptaannya agar bisa dinikmati secara luas. Undangan itu bersifat umum. Setiap orang boleh mengirim ciptaannya. J.A. Dungga dan L. Manik, penulis musik dan komponis andal, menyebut para pencipta lagu anak masa 1950-an memahami dasar cipta-mencipta yang baik. Sehingga mereka mampu “Membuat lagu-lagu yang berguna untuk anak-anak dan sekolah-sekolah umumnya,” catat Dungga dan Manik dalam “Lagu Anak-Anak” termuat di Musik Indonesia dan Beberapa Persoalannja . Dungga dan Manik juga mengajukan pentingnya lagu anak-anak gubahan baru. Artinya lagu itu harus sesuai dengan alam dan perasaan kemerdekaan. Bukan lagi alam dan perasaan warisan kolonial dan pendudukan Jepang. Dengan prinsip ini pulalah para pencipta lagu anak-anak mengalasi proses kreatifnya sehingga tema dan lirik lagu mereka pun tumbuh dengan tujuan kemerdekaan jiwa. Baca juga: Ibu Sud Bahagiakan Anak Indonesia Memasuki dekade 1960-an, api revolusi 1945 menyala kuat. Presiden Sukarno membawanya kemana-mana lewat pidatonya. Dia lalu berbicara tentang pembentukan karakter dan kepribadian bangsa melalui kesenian. Termasuk pula seni musik dan suara. Para pencipta lagu anak masa ini ikut nyala api itu bersama Sukarno. Kebanyakan pencipta lagu anak adalah juga penulis atau pengasuh rubrik anak di media massa. Pak Kasur, misalnya, tampil di rubrik “Taman Ria” dalam Mingguan Djaja pada 1964. Dia sering berpesan kepada anak-anak untuk menyayangi, mendoakan, dan mendukung Sukarno. “Anak-anakku, percayalah di bawah pimpinan Bapak Presiden, diiringi dengan paham dan yakin akan Pancasila, kerja giat rajin bekerja, anak-anakku akan menjadi Putera Negara yang maju dan karenanya menjadi pembantu Bapak Presiden yang paling dekat,” pesan Pak Kasur dalam Djaja , 6 Juni 1964. Meski hiruk-pikuk pembangunan karakter dan kepribadian bangsa memenuhi hari-hari awal 1960-an, lagu anak-anak relatif bersih dari jargon politik. Para pencipta lagu anak juga masih mengandalkan lagu-lagu ciptaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak. Secara umum, tak banyak perubahan tema dan lirik lagu. Tapi dari sisi aransemen musik, perubahannya cukup terasa. Band-band bocah dan remaja bermunculan pada dekade 1960-an. “Lebih-lebih daripada waktu yang sudah-sudah, dewasa ini –harus diakui–sementara anak-anak kita, terutama para remaja yang tengah menginjak masa akil-balig, telah keranjingan band,” ungkap Djaja , 16 Mei 1964. Baca juga: Liku-Liku Hidup Ibu Sud Band-band bocah dan remaja awalnya membawakan lagu-lagu orang-orang dewasa. Seiring pidato Sukarno tentang karakter dan kepribadian bangsa, mereka ditantang mengaransemen musik untuk lagu-lagu anak ciptaan Ibu Sud, Pak Kasur, dan Pak Dal. Sebagian mereka sedikit ragu melakukannya. “Susah,” kata seorang pemimpin band bocah dan remaja. Tapi anggota band bocah dan remaja lainnya yakin mereka mampu mengaransemen lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud, Pak Kasur, dan Pak Dal. Menurut mereka, lagu-lagu anak mempunyai nilai musikal tersendiri dan akan sedap didengar bukan saja oleh anak-anak, melainkan juga orang dewasa. Komersialisasi Lagu Anak Kekuatan, tema, dan lirik lagu-lagu anak belum banyak berubah pada dekade 1970-an. Sebagian besar masih berciri serupa dekade sebelumnya. “Masih bersifat sederhana, dalam arti bahwa yang dijadikan tema lagu anak-anak adalah sesuatu yang dekat dengan diri anak,” catat Djoko Marihandono dalam “Perkembangan Tematis Syair Lagu Anak-Anak”, Laporan Penelitian pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Tapi dekade ini menandai perubahan besar dalam teknologi dan motivasi penyebaran lagu anak-anak. Kaset dan pemutarnya membuat lagu anak-anak dapat dinikmati kapan saja. Anak-anak tak harus menunggu lagu diputar dalam siaran di RRI . Tercatat pula benih-benih komersialisasi lagu anak mulai tumbuh mengingat pasar kaset lagu anak-anak cukup besar. Penyanyi anak-anak juga perlahan bermunculan. Baca juga: Cerita dari Gulungan Pita Dalam dekade 1980-an, lagu anak-anak Indonesia memperoleh pengaruh dari pertautan kebudayaan lokal dan luar. Peningkatan pendapatan ekonomi sekelompok masyarakat menciptakan kebutuhan akan informasi yang lebih besar. Dari sini dongeng, legenda, dan cerita negeri Barat merasuk dalam lagu-lagu anak. “Beberapa tema cerita dari Barat karya penulis cerita anak Grimm, yang terkenal dengan cerita Cinderella , tampil dalam syair lagu anak-anak tahun 80-an,” tulis Djoko. Tema baru lagu anak-anak pada dekade 80-an juga meliputi mainan dan tempat wisata. Boom-boom Car, permainan tabrak-menabrak mobil,muncul pada awal 1980-an seiring pembukaan tempat wisata modern baru di kota-kota besar. Ini terekam dalam lagu “Boom-Boom Car” yang dinyanyikan Joan Tanamal. Bersama-sama gembira ke taman ria Naik boom-boom car Penurunan Kualitas Dekade 1990-an menjadi periode paling subur kelahiran lagu anak-anak. Temanya makin beragam dan pendengarnya terus meluas. Inilah masa puncak komersialisasi lagu anak-anak. Televisi swasta berlomba-lomba menayangkan acara lagu anak-anak. Kaset lagu anak-anak laku keras. Kuantitas lagu anak sangat tinggi, tapi kualitasnya justru memendek. Djoko menyebut sejumlah kelemahan mendasar lagu-lagu anak dekade 90-an. “Ketidakselarasan nada suara penyanyi dan instrumen, syair yang terlampau panjang, tidak rasional, mengajarkan percaya kekuatan lain di luar kekuasaan Tuhan, dan penonjolan anggota badan.” Untuk kelemahan terakhir, maksudnya ialah eksploitasi terhadap bagian tubuh. Simaklah lirik lagu berjudul “Bodong” berikut: Idih udelnya kelihatan Pakai bajunya kesempitan Malu dong malu dong Malu kalau pusarnya bodong Setelah mengalami perjalanan hampir lima dekade, anak-anak mulai mengalami krisis lagu anak pada dekade 2000-an. Masa ini kebanyakan anak-anak mulai fasih merapal lagu-lagu orang dewasa. Kalaupun ada lagu-lagu anak yang berkualitas baik, biasanya dipinjam dari dekade-dekade sebelumnya.
- Sukarno dan Bantuan Beras Indonesia untuk India
SETIDAKNYA ada dua pencapaian pemerintah Republik Indonesia di level internasional yang patut diperhitungkan pada paruh pertama tahun 1946. Pertama, pengakuan secara de facto kemerdekaan Indonesia oleh Mesir pada 23 Maret 1946, yang disusul negara-negara Arab lainnya. Kedua, bantuan beras Indonesia untuk India, negeri tetangga yang berjarak ribuan kilometer tapi punya ikatan sejarah dan kultural yang dalam dengan Indonesia. Sejak akhir 1945 Belanda mengadakan blokade atas laut Indonesia, dengan tujuan mengadang masuknya senjata ke Indonesia dan keluarnya komoditas dari Indonesia. Dampak blokade sangat berat untuk ekonomi dan perjuangan Indonesia. Berbagai upaya untuk menembus blokade Belanda itu dilakukan, salah satunya dengan menawarkan bantuan 500.000 ton beras untuk India yang tengah dihantam kelaparan berat.
- Berbagai Ekspresi Bung Karno Dalam Fotografi
Sosok Sukarno tak pernah habis dibahas. Perjuangan, pemikiran, dan warisannya sudah sering dibahas. Tapi ada yang sering luput dari pembahasan : sosoknya dalam foto. Banyak foto Sukarno yang menunjukkan mimik dan gestur menawan. Beberapa diantaranya sangat ikonik dalam dunia fotografi. Foto Sukarno saat mengecap pendidikan sekolah. ( Foto : Wikimedia Commons ) Bung Karno tampak dengan ekspresi serius ditengah pemuda Indonesia. ( Foto : geheugen.delpher.nl ) Salah satu potret Bung Karno dengan ekspresi khasnya. ( Foto : Wikimedia Commons ) Foto Bung Karno paling ikonik terlihat ketika dia berpidato di depan ribuan massa. Gestur tangan bertenaga, pakaian penuh wibawa, dan wajah serius menambah kekuatan kata-katanya. Semangat juang rakyat pun jadi terbakar. Di foto lain, suasana justru berkebalikan. Tenang, damai, dan hening. Seperti foto saat dia membacakan teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, 56. Wajahnya tampak tegang seperti menyimpan banyak perasaan. Ekspresi ikonik Bung Karno ketika membacakan teks kemerdekaan di Jakarta. ( Foto : Wikimedia Commons ) Salah satu ekspresi Bung Karno saat berorasi di tengah bangsa Indonesia. ( Foto : Wikimedia Commons ) Bung Karno saat bertemu dengan para pemuda bangsa Indonesia ( Foto : Wikimedia Commons ) Bung Karno dengan ekspersi khasnya yang berhasil terekam oleh kamera. ( Foto : Wikimedia Commons ) Tak semua foto Sukarno memperlihatkan keseriusan atau ketegangan. Foto lain menangkap mimik dan ekspresinya yang segar dan ceria. Ini biasanya tampak dalam foto yang memuat dia beserta sahabatnya, dari dalam dan luar negeri. Atau ketika dia rehat di sesela menunaikan ibadah haji. Bung Karno tampak tersenyum santai saat menunaikan ibadah Haji. ( Foto : Wikimedia Commons ) Sukarno tampak tersenyum saat memberikan pidato kenegaraan. ( Foto : https://geheugen.delpher.nl/ ) Di berbagai pameran fotografi, foto-foto Sukarno beberapa kali pernah dibahas. Tapi belum banyak yang serius mengungkap cerita apa yang ada di balik atau di sekeliling foto-foto itu. Foto Sukarno juga bagian dari sejarah. Masih banyak cerita yang tersimpan di dalamnya yang menjadi kenangan berharga akan semangat dan perjuangannya semasa hidup. Bung Karno tersenyum dan melambaikan tangan saat parade di Amerika Serikat. ( Foto : Wikimedia Commons )
- Kontestasi Narasi Historis di Balik Patung Edward Colston
SEMENJAK patung Edward Colston di Bristol, Inggris digulingkan oleh massa Black Lives Matter pada 7 Juni 2020, perdebatan tentang patut-tidaknya seorang pedagang budak diabadikan dalam monumen kota kembali mengemuka. Kesangsian akan kedermawanan Colston di Bristol sudah muncul sejak 1920-an, namun terus diabaikan. Baru pada 1990-an ketika sejarawan University of West England Profesor Madge Dresser berbicara tentang sosok Colston dan keterlibatannya dalam perdagangan budak, perdebatan kembali memanas. “Kalau orang kulit putih melihat patung Edward Colston dengan rasa hormat, orang-orang kulit hitam di Inggris, saya menduga melihatnya sebagai masa lalu yang menyakitkan,” kata sejarawan UGM Budiawan pada Historia. Budiawan menambahkan, dalam narasi sejarah resmi yang dominan di Inggris, Edward Colston digambarkan sebagai pebisnis galangan kapal yang menyumbangkan kekayaannya untuk yayasan filantropi. Dari sudut pandang orang kulit putih Inggris, namanya dikenang sebagai sosok dermawan. Namun ada sisi lain yang dilupakan orang kulit putih Inggris, bahwa Colston bukan hanya menjalankan bisnis galangan kapal tapi juga jual-beli budak. Dialah yang mengirimkan orang-orang Afrika ke Amerika sebagai budak. Baca juga: Robohnya Patung Edward Colston Si Tokoh Perbudakan dan Rasisme Keterlibatan Colston dalam perdagangan budak dimulai sejak dia bergabung dengan Royal African Company (RAC) pada 26 Maret 1680. Kariernya terus meningkat hingga menjadi wakil gubernur RAC pada 1689-90. Pertemuan-pertemuan perusahaan yang membahas barang yang diperlukan untuk membeli budak di Afrika, upah untuk kapten kapal, pengiriman kapal-kapal perusahaan, kualitas gula yang dikirim ke London dari India Barat, serta kondisi Afrika Barat dan Karibia terus dihadirinya. Jabatan penting di RAC itu melibatkan Colston secara langsung dalam pengiriman 19.000 hingga 84.000 orang Afrika yang terdiri atas anak-anak, perempuan, dan pria ke Amerika. Budak yang dibeli di Afrika Barat itu kemudian dicap dengan inisial perusahaan RAC sebelum dikirim. Mereka kemudian digiring ke kapal, berangkat menghadapi mimpi buruknya. Selain diikat ramai-ramai, para budak di kapal juga tidak diberi akses untuk menggunakan kakus sehingga ratusan budak terpaksa berbaring di atas kotoran mereka sendiri. Kondisi tak manusiawi itu menimbulkan keputusasaan dan penyakit. Diperkirakan ada 10 hingga 20 persen budak mati dalam perjalanan selama enam hingga delapan minggu ke Amerika entah karena penyakit, bunuh diri, atau bahkan dibunuh. Dari penderitaan yang menyakitkan itulah Colston memperoleh kekayaannya. Tetapi elit Victoria mengabaikan ini. Bagi mereka, Colston hanyalah seorang dermawan dan tokoh terhormat. Baca juga: Memaknai Perobohan Patung Sebagian dari kekayaan Colston yang diperoleh dari perdagangan budak ia sumbangkan untuk pembangunan kota Bristol, khususnya dalam bidang pendidikan. Namun, hubungan Colston dengan perdagangan budak membuat citranya sebagai dermawan menjadi kontroversial. Terlebih, kedermawanan Colston tidak menyasar orang-orang kulit hitam, yang makin mengukuhkan dugaan rasisme dan penindasan. Fakta historis itulah yang mendorong orang kulit hitam Inggris mengkritik pemujaan pada sosok Colston. Bagi mereka sanjungan tanpa mengindahkan fakta keterlibatan Colston dalam perdagangan budak menunjukkan perayaan kewarganegaraan yang tidak kritis. Penghargaan pada tokoh yang memperbudak leluhur suatu kelompok tidak hanya menghina, tetapi juga meminggirkan mereka dari rasa memiliki kota. Mereka melihatnya sebagai wujud ketidakadilan historis. “Jelas itu satu sisi gelap dalam sejarah kemanusiaan. Kalau kita sudah menggunakan perspektif hak asasi manusia, bagaimanapun perbudakan itu adalah sisi gelap dalam sejarah,” kata Budiawan. Keberadaan patung sebagai pengingat jasa Colston kemudian mendapat kecaman. Madge Dresser dalam tulisannya “Obliteration, contextualisation or ‘guerrilla memorialisation’? Edward Colston’s statue reconsidered” yang dimuat dalam buku kumpulan tulisan Slavery: Memory and Afterlives, menyebut pada 1998 citra Colston sebagai dermawan dipertanyakan dalam pameran besar pertama tentang Bristol dan perbudakan. Keesokan harinya, patung Colston dipulas dengan cat merah bertuliskan “F—k off slave trader”. Baca juga: Coreng Moreng Anugerah Nasional Vandalisme itu menyulut kemarahan penduduk Kota Bristol. Penduduk pro-Colston berargumen bahwa jasa Colston dalam pendirian banyak sekolah dan gereja merupakan bagian dari identitas kota. Ada banyak pengingat tentang keberadaan putra daerah Bristol yang banyak berjasa pada kotanya itu. Selain patung, ada nama jalan, gedung konser, dan dua sekolah di Bristol. Namun, banyak juga kelompok yang mempertanyakan kepatutan patung Colston. Dengan kondisi Bristol yang jauh berbeda dari dua abad lalu, yakni semakin banyak pendatang berpendidikan, orang-orang berpikiran bebas, dan penduduk asal Karibia dan Afrika, ide untuk meniadakan patung Colston mengemuka. Ray Sefia, satu-satunya anggota berkulit hitam di Dewan Bristol, mengatakan bahwa memiliki monumen publik untuk menghormati Colston sebenarnya tidak pantas, ibarat memiliki patung Hitler. Menurut Madge Dresser, polemik yang makin memanas ini di satu sisi mencerminkan perpecahan bersejarah antara faksi pendukung perbudakan dan anti-perbudakan pada dua abad sebelumnya. Baca juga: Perdebatan di Kongres Perempuan Perdebatan tentang patung Colston terus berlanjut hingga awal abad ke-21. Para seniman turut andil dalam upaya memprotes keberadaan patung Colston. Pada peringatan dua abad penghapusan perdagangan budak di Inggris tahun 2007, ditemukan tetesan darah di alas patung Edward Colston. Sebagian orang meyakini bahwa tetesan darah itu merupakan ulah Banksy. Tahun berikutnya, seniman Graeme Evelyn Morton mengajukan izin untuk memasang instalasi seni berjudul "The Two Coins". Instalasi itu rencananya berupa: Patung Colston dimasukkan ke kotak dan kemudian kotak itu dijadikan layar untuk pemutaran film tentang perbudakan. Namun, pemerintah Kota Bristol tak memberi izin pementasan ini. Dalam debat tahunan yang diselenggarakan Bristol Institute for Research in the Humanities and Arts pada Mei 2016, kontroversi seputar patung Colston kembali ditinjau. BBCRadio Bristol juga memantik pembicaraan dengan para pendengarnya seputar layak-tidaknya keberadaan patung Colston dan bagaimana mereka memaknai warisannya. “Jawabannya menggambarkan bagaimana masalah sosial saat ini membentuk persepsi orang tentang masa lalu,” tulis Olivette Otele dalam “Slavery and visual memory: what Britain can learn from France”. Baca juga: Monumen yang Ternoda Olivette menambahkan, ada masalah rasial dalam masyarakat Bristol yang diekspresikan lewat istilah "kita" yang sering bertentangan dengan "mereka". Dalam hal ini, ada anggapan bahwa "warga" Bristol tidak termasuk keturunan orang-orang yang diperbudak. Perdebatan ini kembali mengemuka setelah patung Edward Colston diceburkan ke sungai pelabuhan, 7 Juni lalu. Para pendemo yang menentang rasialisme dengan merobohkan patung jelas mempunyai cara pandang berbeda dengan narasi sejarah dominan atas tokoh yang dipatungkan. “Jadi mereka melihat Edward Colston punya sisi gelap, sebagai pedagang budak, sebagai pelaku kekerasan, dan penyebab penderitaan pada orang kulit hitam,” kata Budiawan. Perobohan patung kemudian bisa dimaknai sebagai puncak pertentangan wacana yang sudah lama berlangsung. Publik pun Inggris kembali terbelah, antara yang pro-penggulingan patung dan yang menganggapnya sebagai aksi kriminal. Perdana Menteri Boris Johnson merupakan penentang perobohan patung, sementara Walikota Bristol Marvin Rees, seperti dikabarkan BBC , tidak merasa "kehilangan" setelah patung kontroversial itu dibuang ke sungai pelabuhan oleh para pengunjuk rasa. Baca juga: Jalan Panjang Mewujudkan Monumen Nasional Empat hari setelah diceburkan, patung tersebut diangkat dan dirawat tim konservasi Dewan Kota Bristol. Rencananya patung tersebut akan disimpan di museum kota dan grafiti yang disemprotkan pada patung akan tetap dilestarikan sebagai pengingat akan adanya protes tentang keberadaan patung tersebut di jantung Kota Bristol. “Perobohan patung Edward Colston bisa diartikan sebagai upaya pembentukan wacana tandingan akan tokoh yang dipatungkan. Bila dalam narasi sejarah resmi yang dominan Edward Colston dianggap sebagai pahlawan, bagi para pendemo Black Lives Matter, Edward Colston adalah pedagang budak yang mencederai kemanusiaan,” kata Budiawan.





















