top of page

Hasil pencarian

9738 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Istri Jenderal Minta Panser

    HATI Likas Tarigan ketar-ketir begitu mendengar sejumlah jenderal teras TNI AD di jajaran Staf Umum AD (SUAD) menghilang pada 1 Oktober 1965.  Pasalnya, suami Likas yakni Mayor Jenderal TNI Djamin Gintings yang termasuk perwira tinggi SUAD  (menjabat Asisten II/Operasi dan Latihan Menpangad) juga saat itu tak jelas keberadaannya . Berita dari radio dan televisi memberikan kabar simpang siur, salah satunya adalah bahwa para jenderal itu diculik oleh pasukan yang menamakan dirinya Gerakan 30 Septebmer. “Aku bertanya dalam hati, di mana suamiku kini berada? Hubungan telepon terputus di mana-mana,” kenang Likas dalam Perempuan Tegar dari Sibolangit: Biografi Likas Tarigan Jamin Gintings karya Hilda Unu Senduk. Djamin Gintings ketika itu sedang kunjungan kerja mendampingi rombongan Menteri Luar Negeri Soebandrio di Medan. Untuk memastikan suaminya aman, Likas bergegas ke lapangan terbang Kemayoran. Tujuannya adalah menitipkan sepucuk surat kepada pilot pesawat terbang yang menuju Medan. Isi surat itu singkat saja: “Apa kabar Abang di sana? Kami sehat dan selamat di sini. Selamatkanlah dirimu.” Di Bandara Kemayoran ada satu pesawat yang siap lepas landas. Tanpa pikir panjang, Likas nekat mengejar pesawat ke landasan pacu. Seorang tentara yang mengenalinya turun dari pesawat. Kepada prajurit itulah Likas menitipkan suratnya. Kendati demikian, batin Likas belum cukup tenang. Selanjutnya dia menghubungi Mayor Jenderal TNI Pranoto Reksosamudra, Asisten III/Personalia Menpangad. Pranoto coba menenangkan istri koleganya itu. Kata Pranoto, “Sepanjang pengetahuan saya, Jamin tidak mendapat bahaya. Tapi saya tidak tahu di mana dia berada. Sudahlah, Ibu tenang saja di rumah.” Likas masih belum puas sebelum mendengar kabar suaminya selamat. Kali ini dia menelepon Brigadir Jenderal TNI Josep Muskita yang menjabat wakil Asisten II, wakilnya Djamin Gintings. Dalam sambungan telepon itu terjadilah percakapan antara keduanya. “Pak, saya minta panser,”  kata Likas tegas. “Untuk apa, Bu,” tanya Muskita heran. “Saya mau ke rumah Bapak Soebandrio,” jawab Likas. “Ibu tahu, Soebandrio itu siapa?” ujar Muskita. “Dia kan Menteri Luar Negeri.” Likas mulai tidak sabar dengan tanya jawab yang sedang berlangsung. “Ibu mau apa ke sana?” sanggah Muskita penuh khawatir. “Saya mau menanyakan suami saya. Ke mana ditaruhnya suami saya. Siapkan panser,” perintah Likas. Muskita coba membujuk. “Belum pulang saja Bapak itu, Bu,” katanya. Likas tetap kekeh. Pantang menyerah dia  menghadapi anak buah suaminya yang satu itu. “Justru itulah yang akan saya tanyakan. Saya mau ke rumah Bapak Soebandrio menanyakan suami saya. Siapkan panser, Pak,” ujar Likas mengulangi permintaannya. Muskita bingung. Tapi supaya menentramkan suasana, dia janji mengupayakan panser yang diminta. Likas sendiri tdak tahu persis mau diapakan nanti panser tersebut. Namun yang pasti, dengan kendaraan lapis baja itu, dia ingin menyelamatkan suaminya. Sembari menanti, Likas makin tidak sabar. “Tiba-tiba telepon berdering. Dari suamiku! Puji Tuhan, suamiku selamat,” seru Likas. Secara singkat, Djamin mengabarkan bahwa dirinya berhasil pulang kembali ke Jakarta. Djamin telah lebih dahulu menelepon Muskita. Dari Muskita, Djamin kemudian mengetahui istrinya meminta panser. Tentu saja panser yang diminta tidak akan dikirim. Karena sekalipun istri jenderal tertinggi, bukan porsinya mengeluarkan perintah mengerahkan persenjataan berat. Setiba di Jakarta, Djamin singgah sebentar di rumahnya melepas rindu kepada anak dan istri tercinta. Kemudian sebuah panser menjemput Djamin untuk membawanya ke Markas Besar AD. Di sana, rencana disiapkan untuk menghancurkan Gerakan 30 September. Setelah hari-hari operasi penumpasan, Djamin Gintings diangkat sebagai Inspektur Jenderal AD.

  • Dokter Jerman Populerkan Pengobatan Tradisional Negeri Jajahan

    TAK lama setelah tiba di Hindia-Belanda pada 1823 untuk menjalani tugas di Semarang, Friedrich August Carl Waitz baru menyadari ketiadaan bahan-bahan obat yang biasa dia gunakan di Eropa. Dokter asal Jerman itu pun baru menyadari ada penyakit yang baru ia temui di negeri tropis, seperti disentri dan frambusia. Alhasil, ia kelimpungan dan kehilangan kepercayaan diri pada kemampuan medisnya. Menurut Profesor Hans Pols dari Universitas Sydney dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation”, di tahun itu banyak ahli kesehatan Eropa yang mengeluh tentang kondisi medis di Hindia-Belanda. Para dokter kulit putih itu meragukan kemampuan medis mereka karena temuan lapangan berbeda dari yang biasa mereka temui di Eropa. Obat-obatan yang sudah dikirimkan dari Eropa pun tak bisa maksimal lantaran kehilangan khasiat akibat menempuh perjalanan jauh dan penyimpanan yang kurang apik. Para dokter kulit putih, termasuk Waitz, sendiri memprotes penggunaan zat penenang yang berlebihan. Akibatnya, banyak penduduk kulit putih terbiasa mengobati sendiri gangguan kesehatan mereka dan cenderung kurang mengandalkan dokter Eropa. Banyak penduduk kulit putih yang tinggal di pedalaman dan jauh dari akses medis modern memilih berobat ke dukun dan belajar tentang jejamuan. Kala itu, Hindia-Belanda belum punya cukup dokter untuk menjangkau wilayah pedalaman. Untuk mengatasinya, pemerintah mendatangkan banyak dokter dari Eropa. Namun, kenyataan di lapangan justru membuat banyak dokter Eropa mengalami kendala sebagaimana Waitz. Waitz sendiri kemudian mencari cara untuk mengatasi keresahannya dengan meneliti khasiat tanaman obat untuk dijadikan bahan alternatif yang punya efektivitas setara bahan obat yang dikirim dari Eropa. Lantaran sumber yang mudah dijangkau, Waitz tak perlu meninggalkan Semarang untuk mengumpulkan informasi seputar jamu. Mula-mula, ia mengumpulkan informasi dari orang yang biasa ditemuinya sehari-hari, mulai jongos di rumah, tukang jamu, orang di pasar, Tionghoa pemilik toko herbal, sampai ke istri yang dinikahinya dua tahun setelah tiba di Hindia. Pengetahuan umum yang didapat dari mereka itu kemudian diteliti lebih lanjut oleh Waitz menggunakan banyak metode dan ujicoba langsung untuk menemukan tumbuhan mana yang berpotensi manjur. Waitz lalu menjajal pengobatan herbal yang biasa digunakan di Jawa kepada pasiennya maupun dirinya sendiri. Percobaannya menggunakan jamu sebagai obat modern yang mahal itu kemudian dia bukukan dengan judul Practische Waarnemingen Over Eenige Javaansche Geneesmiddelen (Observasi praktis pada pengobatan Jawa). Dalam penyusunan buku itu, menurut Liesbeth Hesselink dalam Healers on the Colonial Market menjelaskan, Waitz juga meneliti cara para dukun menyembuhkan, baik dengan menyaksikan langsung atau mendengarkan dari orang lain. Waitz mencatat, dukun mula-mula menebak penyakit pasien berdasar gejala. Bila penyakit sudah ketemu, dukun itu akan membalurkan obat herbal sambil mengucap mantra dan meresepkan jamu untuk diminum. Meski Waitz punya kritik pada keahlian para dukun, ia tetap menghargai kemampuan mereka. Waitz memilih kata dokter untuk menyebut dukun dan memberi gambaran yang amat hati-hati tentang metode penyembuhan tradisional.  Waitz tidak memasukkan unsur magis dalam bukunya sehingga para dokter di Hindia-Belanda menjadikannya pegangan ilmiah tentang tanaman obat lokal. Prestasi ini membuat Waitz jadi dokter ternama pada abad ke-19. Sebelum Waitz, beberapa ahli botani juga sudah meneliti tentang tanaman obat. Misalnya, dokter pribadi JP Coen bernama Jacobus Bontius. Ia merupakan dokter lulusan Leiden yang datang ke Batavia pada 1627. Bontius selalu menyarankan Coen untuk rajin minum ramuan obat. Contoh lain ialah Georgius Everhardus Rumphius, yang menyusun enam volume Herbarium Amboinense . Karya Rumphius yang memperkenalkan tanaman obat dan jamu pada dunia medis Barat itu jadi buku babon bagi peneliti Eropa hingga abad ke-20.

  • Pulau Liur Naga di Sumatra

    Pulau itu menjulang di Laut Lambri. Jaraknya satu hari satu malam jika berlayar ke arah barat dari Pulau Sumatra. Di sekitarnya ombak menggelora. Mega berarak. Pada setiap musim semi beberapa ekor naga suka datang ke sana, bermain-main. Kalau sudah begitu, air liurnya banyak tertinggal di pulau. Karenanya orang menyebutnya sebagai Pulau Liur Naga. Fei Xin, seorang personel militer yang ikut berlayar bersama Cheng Ho dalam buku  Catatan Umum Perjalanan di Lautan  ( Xingcha Shenglan ) menjelaskan ketika masih segar, air liur naga bentuknya seperti lemak. Warnanya hitam dan kuning. Baunya amis. Tapi nanti, bentuknya akan berubah menjadi gumpalan padat. Penduduk asli di sekitar Pulau Liur Naga suka berperahu ke sana untuk mengumpulkan dan membawa pulang gumpalan liur naga itu. Bila menghadapi ombak yang dahsyat, sering terbalik perahunya. Orang pun terjatuh ke dalam laut. Mereka terpaksa berenang ke darat dengan satu tangan memegang pinggiran perahu yang terbalik dan satu tangan lain mengayun dalam air. Mereka rela bersusah-payah memungutnya karena rupanya liur itu begitu berharga di pasaran. Kalau dijual di pasar Sumatra, satu tahil liur naga bisa dihargai 12 uang emas setempat. Sementara satu kati liur naga akan dibayar dengan uang emas 192 biji, sama dengan 490.000 (ada yang menulis 9.000) uang kepengan Tiongkok. “Artinya tidak murah,” ujar Fei Xin. Pulau Liur Naga merupakan terjemahan dari bahasa Mandarin,  Long Xian Yu  dalam karya Fei Xin dari tahun 1436. Ceritanya mirip dengan kisah dari catatan yang lebih tua karya Chao Ju-kua, petugas urusan perdagangan luar negeri di Fukien. Kisahnya dibuat pada abad ke-13. Chao Ju-kua menulis kalau di Laut Barat  Ta-shi  ada naga dalam jumlah besar. Ketika seekor naga berbaring di atas batu, ludahnya mengapung di atas air, kelamaan berubah menjadi keras. “Para nelayan mengumpulkannya sebagai zat yang paling berharga,” catatnya. Rupanya catatan Chao Ju-kua mengutip buku yang lebih kuno milik Chou Ch’u-fei berjudul Ling-wai-tai-ta  (1178).  Kendati sejak lama disebut berasal dari naga, Fei Xin dalam catatannya menjelaskan, zat berharga itu bisa juga ditemukan dari dalam perut ikan besar. “Ukuran ikannya sebesar  peck  Tiongkok dan berbau amis. Jika dibakar baunya murni dan enak,” catatnya. Sampai penemuan fotografi bawah laut, hampir tidak diketahui seperti apa rupa paus di lingkungan alaminya. W. P. Groeneveldt dalam  Nusantara dalam Catatan Tiongkok menerjemahkannya sebagai ambergrisyang kini umumnya dikenal sebagai muntahan ikan paus.  Asal usul ambergris kala itu sepertinya masih membingungkan orang Tiongkok. Tempat, yang katanya, banyak ditemukan ambergris kenyataannya juga masih begitu asing bagi para pelayarnya. Menurut Groeneveldt, pantai barat Sumatra tak pernah dijelaskan dalam literatur geografi negara itu.  “Sepertinya tak ada perdagangan atau kontak dengan wilayah itu. Ketika wilayah ini (barat Sumatra, red .) dijelaskan, seringkali disamakan dengan Persia, atau mayoritas dengan Arabia,” tulisnya. Namun, Groeneveldt berpendapat, pulau di mana banyak ditemukan air liur naga itu pastilah Pulau We, pulau vulkanik kecil di barat laut Pulau Sumatra. Kalau bukan, berarti pulau lain yang lebih kecil, yang ada di sekitar wilayah itu. Sementara, Yuanzhi Kong, peneliti dari Fakultas Bahasa Timur Universitas Peking (Kota Beijing) mengindentifikasi, pulau yang dimaksud adalah Pulau Breueh (Pulau Bras), pulau kecil di sebelah barat Pulau We. Wilayah itu kemungkinan memang cukup banyak menghasilkan ambergris. Berdasarkan catatan resmi Dinasti Ming,  Ming Shi  ( Sejarah Dinasti Ming ), pada 1433, negeri bernama Sumatra membawa upeti berupa darah naga. Sumatra yang dimaksud nampaknya merujuk pada nama ibukota atau permukiman utama di pesisir. Bukannya nama yang digunakan untuk menyebut seluruh pulau seperti sekarang. Letaknya di sebelah barat Melaka. Setelah beberapa kali berganti penguasa, Sumatra masih mengirim upeti, tetapi lebih beragam. Ambergris masih menjadi salah satunya. Ambergris Sejarawan Arizona State University, Karl H. Dannenfeldt dalam “Ambergris: The Search for Its Origin’ terbit di  The University of Chicago Press Journals, menjelaskan ambergris pertama kali diperkenalkan ke dalam obat-obatan, masakan, dan parfum oleh orang-orang Arab. Mereka menyebutnya dengan istilah  anbar . Kisah asal usul versi mereka juga tak kalah mitologis. Karya paling berpengaruh yang menyebut ambergris kebanyakan dihasilkan oleh dokter. Misalnya, Ibn Sina (Avienna) pada sekira 1037 mengira kalau ambergris berasal dari air mancur di laut. Lalu tabib abad ke-11 Yuhanna ibn Sarabi (Serapion the Younger), menyatakan bahwa ambergris adalah jamur yang dihasilkan di laut, sama seperti jamur yang terbentuk di darat. Jamur itu lalu terdampar di pantai oleh badai. Pun Ibnu Rusyd (Averroes), seorang filsuf dan pemikir dari Andalusia pada sekira 1198. Dia melaporkan bahwa ambergris adalah spesies kapur barus yang muncul dari air mancur di laut.  Berbagai spekulasi itu akhirnya diadaptasi ke dalam kisah fiksi. Dalam salah satu kisah  Seribu Satu Malam  yang terkenal,  Sinbad Sang Pelaut  diceritakan bagaimana Sinbad terdampar di sebuah pulau. Dia menemukan mata air ambergris mentah yang mengalir seperti lilin atau permen karet ke laut. Aliran ini yang kemudian tertelan oleh monster-monster dari laut dalam.  Ambergris kemudian membakar perut paus. Lalu mereka memuntahkannya. Muntahan itu kemudian membeku di permukaan laut. Ombak melemparkannya ke darat, di mana ia dikumpulkan dan dijual.  “Ambergris yang tidak mengalir ke laut membeku di tepi sungai dan menghiasi seluruh lembah dengan aroma seperti kesturi,” lanjut kisah itu.  Kini diketahui kalau air liur monster laut itu sesungguhnya adalah hasil sekresi saluran pencernaan paus sperma. Meski tak lagi dihubungkan dengan makhluk mitologis, nilainya tetap tak berubah. Harganya tetap melambung. Di situs penjualan Alibaba misalnya, kini ambergris harganya mencapai 23.000 dolar AS atau 326,5 juta rupiah per kilonya.

  • Intel Indonesia Mengejar Perampok Inggris

    POLISI dari Metropolitan Police Service berhasil menemukan tempat persembunyian para perampok di Leatherslade Farm. Mereka mendapatkan sidik jari pada botol kecap. Sidik jari itu milik Ronald Arthur Biggs, salah satu anggota perampokan kereta api pos Royal Mail dari Glasgow menuju London pada 8 Agustus 1963. Komplotan perampok itu berjumlah 15 orang. Dipimpin oleh Bruce Reynolds yang bertemu Biggs di penjara HM Prison Wandsworth. Mereka menggondol lebih dari £2,6 juta (sekarang setara dengan £53,5 juta). S alah satu perampokan terbesar di Inggris itu disebut The Great Train Robbery. Biggs ditangkap di London Selatan pada 4 September 1963. Pada 1964, sembilan dari 15 perampok termasuk Biggs dipenjara dengan hukuman tertinggi selama 30 tahun. Setelah 15 bulan di penjara HM Prison Wandsworth, Biggs melarikan diri pada 8 Juli 1965. Dia pergi ke Brussel kemudian ke Paris. Istri dan dua anaknya menyusul ke sana. Mereka kemudian pindah ke Australia. Menurut Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia , surat kabar di seluruh dunia memberitakan cerita tentang Ronald Biggs yang melarikan diri ke Australia, Rhodesia, atau Indonesia. Pada Maret 1970, Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) mendapat informasi adanya seorang pria dengan nama belakang Biggs tiba di Indonesia dari Australia. Satsus Intel pun dikerahkan untuk mengintai orang itu. “Setelah melakukan pengejaran selama tiga minggu, kemudian diketahui bahwa sang pria tersebut bukanlah Ronald Biggs tetapi Donald Biggs, seorang pendeta berusia 56 tahun asal Tennessee,” tulis Ken Conboy. Pada Oktober 1969, koresponden Reuters melaporkan keberadaan Biggs di Melbourne dan polisi tengah mendekatinya. Lima bulan kemudian, dia melarikan diri ke Brasil. Istri dan anaknya ditinggal di Australia. Mereka kemudian bercerai. Biggs memilih Brasil karena tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Inggris. Dia tinggal di Brasil sejak 1970. Butuh waktu lama untuk Inggris dan Brasil meratifikasi perjanjian ekstradisi pada 1997. Dua bulan kemudian, pemerintah Inggris secara resmi mengajukan permintaan kepada pemerintah Brasil untuk mengekstradisi Biggs. Biggs menyatakan tidak akan menentang ekstradisi. Namun, permintaan ekstradisi ditolak oleh Mahkamah Agung Brasil dan memberikan hak kepada Biggs untuk tinggal di Brasil selama sisa hidupnya. Akhirnya, Biggs memutuskan untuk kembali ke Inggris. Pada 7 Mei 2001, dia tiba di Inggris dan ditangkap untuk menjalani hukuman. Setelah beberapa kali permohonannya ditolak, Biggs akhirnya dibebaskan dengan alasan belas kasihan karena kesehatannya memburuk pada 6 Agustus 2009, dua hari sebelum ulang tahun yang ke-80. Biggs sempat menghadiri pemakaman pemimpin perampokan, Bruce Reynolds, pada Maret 2013. Tak lama kemudian, pada 18 Desember 2013, di usia 84, Biggs meninggal di tempat perawatannya, Carlton Court Care Home di Barnet, London utara. Kematiannya hanya beberapa jam sebelum penayangan perdana serial televisi BBC dua bagian, The Great Train Robbery , di mana Biggs diperankan oleh aktor Jack Gordon.

  • Tan Malaka dan Delapan Tokoh Indonesia Jadi Nama Jalan di Amsterdam

    PEMERINTAH Kota Amsterdam akan meresmikan penggunaan nama jalan-jalan di kawasan pemukiman Ijburg yang mengabadikan 27 nama tokoh antikolonial dari negara bekas koloni Belanda, sembilan di antaranya dari Indonesia. Selain sembilan nama tokoh, bakal ada satu nama jalan yang menggunakan nama Merdekastraat atau Jalan Merdeka. Wilayah Ijburg adalah kawasan pemukiman yang terletak di Ijmeer, pulau buatan sebelah tenggara Amsterdam itu, akan terpajang nama Tan Malaka ( Tan Malakastraat ), RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara ( Suwardistraat ), SK Trimurti ( Trimurtistraat ), Kapiten Pattimura ( Pattimurastraat ), Pangeran Diponegoro ( Diponegorostraat dan Diponegorohof ), Maria Ullfah ( Mariaulfahstraat ), Soekaesih ( Soekaesihstraat ), Roestam Effendi ( Roestam Effendistraat ), Lambertus Nicodemus Palar ( Palarstraat ).

  • Gila Baca Pendiri Bangsa

    SEWAKTU mendekam di Penjara Glodok, Mohammad Hatta menuliskan sepucuk surat. Surat bertanggal 20 April 1934 itu ditujukan kepada T.A. Murad, Ketua Dewan Pimpinan Pusat PNI Baru. Hatta menuturkan, “Aku bisa hidup di manapun, asal dengan buku.” Murad kemudian memuat “curhatan” Hatta yang sedang dihukum oleh pemerintah kolonial tersebut ke dalam suratkabar Daulat Ra’jat , 10 Mei 1934. “Buat banyak orang penjara itu tempat yang buruk, tempat yang tidak ada enak-enaknya, tidak ada yang baik. Tapi buat Bung Hatta, penjara adalah ruang semedi, ruang pertapaan di mana orang bisa memperkuat watak, memperkuat iman, terutama jalannya adalah dengan membaca,” ujar sejarawan J.J. Rizal dalam diskusi publik “Literasi Kita, Masa Depan Bangsa” di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, 31 Juli 2019.   Menggambarkan Hatta dengan buku, menurut Rizal ibarat gigi dengan gusi: dekat sekali. Bahkan, kata Rizal, istri pertama Hatta bukan berwujud manusia melainkan buku. Meski demikian, Hatta hanyalah satu dari sekian banyak tokoh bangsa dengan reputasi sebagai pecinta buku (bibliofil). Di awal abad 20, hampir seluruh pendiri bangsa punya cerita dengan buku. Abdul Rivai, dokter bumiputera pertama yang lulus dari Belanda, misalnya. Rivai dikirim belajar ke Belanda dan menuliskan pengalaman-pengalamannya dalam kumpulan artikel yang kemudian diterbitkan menjadi Student Indonesia . Di salah satu artikelnya yang ditulis pada 1901, Rivai mengatakan, “Karena aku membaca, maka aku bertanya siapakah kita?”. Membaca telah membuat Rivai mempertanyakan siapa dirinya, siapa kaumnya. Itulah untuk kali pertama, persoalan nasionalisme dikumandangkan oleh seorang bernama Abdul Rivai. Pertanyaan itulah yang pada 1912 dijawab oleh tiga serangkai: Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, dan Cipto Mangunkusumo dengan mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang mengusung nasionalisme Indonesia di tengah dominasi kolonialisme Belanda.   Ada lagi Kartini, namanya sohor sebagai pejuang emansipasi wanita. Kartini di sebuah desa kecil di Jepara, hidup dalam limpahan literasi. Pada 1903, Kartini menulis, “Aku benamkan diriku dalam membaca dan membaca.” Pernyataan itu kelak terekam dalam kumpulan suratnya yang dibukukan pada 1911 berjudul Habis Gelap, Terbitlah Terang .   Dari membaca, Kartini pun kian “melek” terhadap situasi sekitar. Apalagi pada zamannya, Kartini menyaksikan betapa minornya kedudukan perempuan dalam feodalisme masyarakat Jawa. Inilah yang mendorong Kartini menjadi kritis mempersoalkan konsep kesetaraan. Kelak, namanya tercatat dalam sejarah karena memperjuangkan ruang privat bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan. J.J. Rizal dalam diskusiLiterasi Kita, Masa Depan Bangsa di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, 31 Juli 2019. (Fernando Randy/Historia) Yang juga tidak kalah gandrung dengan buku tentu saja Sukarno. Di umurnya yang masih sangat belia (15 tahun), Sukarno memuaskan dahaga intelektualnya dengan memanfaatkan perpustakaan milik perkumpulan teosofi di Surabaya. Selain penerbitan, kelompok teosofi saat itu mempunyai koleksi bibliotik terbaik yang hanya bisa disaingi oleh organisasi seperti Muhammadiyah. Karena itu, pada 1916 Sukarno pernah menulis, “Buku mengenalkanku pada dunia dengan pikiran-pikiran terhebat dan aku ingin dunia tahu, aku dan bangsaku juga besar.” Melalui buku Sukarno melampaui imajinasi kebanyakan orang-orang sebangsanya. Kendati hidup di dunia kolonial, Sukarno telah membayangkan akan kemerdekaan bangsanya dan menjadi bangsa yang digdaya. Pendiri Sarekat Islam Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang juga gurunya Sukarno ini adalah seorang pembaca buku yang militan. Begitu militannya, bahkan dia pun tidak sungkan melahap buku-buku beraliran kiri. “Aku menemukan api Islam di dalam buku,” kata Tjokro.  Hasil pemikiran Tjokro tentang nilai-nilai sosialis dalam Islam melahirkan buku berjudul Islam dan Sosialisme pada 1924. Sementara itu, Tan Malaka adalah contoh seorang pembaca yang loyal sekaligus royal. Tan merupakan tipikal yang sedia mengalokasikan biaya kebutuhannya untuk belanja buku. Demi buku, Tan bahkan rela mengencangkan ikat pinggangnya kuat-kuat dengan mengurangi jatah makan. Ini terungkap dalam karya monumentalnya yang terbit pada 1943 berjudul Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika. ”Mengunjungi toko buku adalah pekerjaan yang tetap dan dengan giat saya jalankan,” kata Tan Malaka. “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.” Dalam Madilog , Tan menuturkan kegigihannya menyerap pengetahuan lintas ilmu bukan tanpa tujuan. Mulai dari buku bidang eksakta, ekonomi, politik, hingga sejarah dia pelajari. Semua buku-buku itu membantu Tan membebaskan diri dari sesat pikir atau semacam takhayul di tengah masyarakat kolonial yang dalam istilahnya disebut “logika mistika”. Belenggu pola pikir kolot inilah yang hendak diberantas Tan dari kaum sebangsanya pada zaman itu.   “Bangsa ini didirikan oleh mereka yang membaca. Bangsa ini basisnya adalah buku. Kalau kita ingin punya masa depan sebagai bangsa, kita tidak boleh kehilangan tradisi membaca....” ujar Rizal. Dari semua kisah para tokoh tersebut, barangkali hanya Hatta yang koleksi bukunya masih terjaga dengan baik. Keluarga besar Hatta memutuskan merawat secara swadaya buku-buku itu yang dinilai sebagai warisan paling berharga dari Bung Hatta - selain tentu saja pemikiran dan perjuangan Hatta bagi bangsa dan negara. Menurut Tan Sri Zulfikar Yusuf, salah satu cucu Bung Hatta, sebanyak 18.000 judul buku koleksi Hatta kini tersimpan di rumah peninggalan Hatta di Jalan Diponegoro 57, Jakarta Pusat.

  • Orang Eropa Asli Berkulit Gelap

    KEINGINTAHUAN yang besar akan asal usul manusia Eropa, telah mejadi alasan kuat Bryan Clifford Sykes untuk memperdalam ilmu genetika manusia. Profesor di Oxford University, Inggris, ini memiliki peran yang amat penting dalam mengungkap gambaran nenek moyang bangsa Eropa yang sejatinya berkulit gelap. Amat jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Dalam bukunya, The Seven Daughters of Eve: The Science That Reveals Our Genetic Ancestry , Bryan menjabarkan penelitiannya tentang Cheddar Man, sosok manusia modern permulaan yang hidup di Inggris. Manusia dari 10.000 tahun lalu inilah yang mewariskan gennya kepada 10 persen populasi masyarakat Eropa sekarang. “Tidak mudah melihat sosok yang hanya menyisakan tulang-belulangnya saja. Tetapi saya mulai dapat membayangkan struktur tubuh dan kulitnya dari konstuksi tengkorak yang ada ini,” tulis Bryan. Fosil Cheddar Man ditemukan pada 1903 di Gua Gough di Cheddar Gorge, Somerset, Inggris. Peneltian yang dilakukan Natural History Museum London dan University College London terhadap fosil tersebut menghasilkan sejumlah fakta yang mencengangkan: manusia Eropa bermata biru, bekulit gelap, dan berambut ikal hitam. Leluhur Cheddar Man berasal dari Afrika. Mereka kemudian bermigrasi ke Timur Tengah hingga sampai di barat Eropa. Dari sini mereka menyebar ke berbagai wilayah di dataran utama Eropa dan Britania Raya. Untuk membuktikan ikatan gen Cheddar Man di dalam tubuh manusia Eropa masa kini, para peneliti dari Oxford University dan Natural History Museum mengambil sampel DNA sang manusia purba lalu membandingkannya dengan masyarakat yang tinggal di Cheddar, Somerset, dekat tempat ditemukannya Cheddar Man. Hasil uji genetika yang ditulis oleh Mariette DiChristina, seorang jurnalis sains, di dalam majalah Popular Science Juni 1997, menyebut jika sampel DNA Cheddar Man yang diujikan itu cocok dengan gen sejumlah orang di Cheddar. Ada sebagian orang yang secara susunan genetika mirip dengan Cheddar Man. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Eropa, walau sudah berubah secara fisik, masih mewariskan genetika yang sama dengan manusia permulaan di sana. Analisis DNA Cheddar Man itu juga menguak fakta jika dahulu tak ada manusia yang memiliki varian genetika berkulit dan berambut terang seperti dominan penduduk Eropa sekarang. Bahkan manusia purba dari Inggris ini memiliki kedekatan dengan fosil manusia yang ditemukan di Spanyol, Luxemburg, dan Hongaria. Arkeolog Tom Both dalam situs resmi Natural History Museum, nhm.ac.uk , meyakini kalau manusia yang datang ke Eropa ribuan tahun lalu memiliki kemampuan beradaptasi yang cepat. Mereka dapat menyesuaikan kondisi iklim di Eropa, sehingga lambat laun warna kulitnya berubah menjadi terang. “Kulit pucat lebih baik dalam menyerap sinar UV dan membantu manusia mengindari kekurangan Vitamin D di daerah yang kurang sinar matahari,” ungkapnya. Berbagai penelitian telah membuktikan: manusia yang tinggal di daerah tropis dengan cahaya matahari berlimpah memiliki cara beradaptasinya sendiri, yakni memperbanyak lapisan melanin di kulit. Hal itulah yang membuat mereka memiliki ragam warna kulit. Sementara manusia yang hidup di daerah sub-tropis akan mengurangi lapisan melanin agar dapat menyerap cahaya matahari secara optimal. Kulit mereka pun akhirnya terlihat pucat dan lebih terang. Sementara perihal penduduk berkulit gelap yang kini tersebar di Eropa datang pada era yang terbilang baru. Jauh setelah Cheddar Man, dan manusia sezamannya beradaptasi dengan iklim Eropa. Melalui makalah, Menjadi Manusia Indonesia: Menafsir Ernst Mayr, Richard Leakey, dan Matt Ridley disajikan dalam acara “Kajian Sains Populer: Asal Usul Manusia Indonesia,” Ahmad Arif (penulis dan wartawan Kompas ) menyebut jika mereka kebanyakan datang dari Afrika dan Asia. “Menurut sensus penduduk Inggris tahun 2011, hanya 2 persen warga daerah asal Cheddar Man di Somerset yang mengaku berkulit hitam ( Black and Minority Ethnic ). Selebihnya mengaku sebagai White British atau kulit putih Inggris,” kata Ahmad.

  • Asal-Usul Bandit di Perdesaan

    HAMPARAN sawah hijau, pegunungan berselimut awan, sungai jernih mengalir, dan udara bersih. Suasana perdesaan begitu memikat. Orang kota datang ke desa untuk mencari kedamaian. Mereka menempatkan desa sebagai obat stres. Bayangan mereka, kehidupan di desa selalu serba tenang dan ajeg. Petani kelihatan bergembira dan harmonis.

  • Bertemu dalam Secangkir Jamu

    KEGEMARAN Albertina van Spreeuwenburg, perempuan campuran Indo-Eropa, pada jamu membuatnya jadi penyembuh tenar di Weleri, Jawa Tengah. Suami Albertina merupakan pemilik perkebunan. Bila ada pegawainya yang sakit, Albertina maju untuk menyembuhkan. Perkenalan Albertina pada jamu didapat dari ibunya yang seorang nyai. Persilangan budaya dari dalam rumah umum terjadi di masa kolonial lantaran adanya interaksi intensif orang Eropa dan pribumi, entah nyai ataupun babu, di dalamnya. Para nyai biasanya tetap melakukan kebiasaan mereka, entah mengenakan kebaya, mengunyah sirih, atau meminum jamu. Kebiasaan inimenular pada anak-anak mestizo mereka. Tingginya kebiasaan mengonsumsi jamu di rumah tangga Indies mendorong peneliti Eropa mempelajari jamu dan tanaman obat lokal. Mereka biasanya mendapat informasi dari perempuan Indo-Eropa, penjual jamu di pasar, atau dukun. Penggalian informasi tentang jamu dan tanaman obat makin dipermudah ketika dokter , ahli botani, atau apoteker kulit putih yang datang ke Hindia-Belanda melakukan kawin campur. Dari sinilah ilmu pengobatan modern dan lokal bertemu. Profesor Hans Pols dari Universitas Sydney dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation” menyebutkan, dokter Eropa yang baru tiba di Hindia menikahi wanita Indo-Eropa atau pribumi merupakan hal umum pada paruh pertama abad ke-19. Pernikahan campur ini diterima karena hampir semua orang Eropa yang tiba di koloni adalah lajang dan akan menghabiskan waktu lama di Hindia. Bentuk interaksi antarkelompok sosial dan etnis ini berpengaruh pada pengetahuan medis dan botani di Hindia-Belanda. Fenomena itu dapat dilihat pada kehidupan dr. CCW Mandt. Ahli kesehatan berkebangsaan Jerman yang menikahi perempuan mestizo dari Makassar itusangat tertarik pada jejamuan dan mempelajari khasiat tanaman lokal untuk masalah kesehatan sehari-hari. Selain dari istrinya, pengetahuan Mandt tentang obat tradisional diperoleh dari Albertina. Keduanya sering berdiskusi tentang khasiat tanaman Nusantara. Istri Mandt bahkan sering bertukar resep jamu dengan Albertina. Bermodal pengetahuan itu, Mandt lalu mendirikan spa tradisional. Kegemaran Albertina pada jamu menurun pada anaknya, Johanna Maria Carolina Verst e egh (setelah menikah dikenal sebagai Jans Kloppenburg-Verste e gh). Selain mendapat pengetahuan tentang jamu dari ibunya, Jans juga sering berdiskusi dengan Hendrik Freerk Tillema, pengusaha air mineral dan pemilik apotek di Semarang, untuk mendapat informasi yang lebih saintifik . Saking tertariknya pada jamu, pada 1907 Jans menulis buku Indische Planten en Haar Geneeskracht (Tanaman asli Hindia dan kekuatan penyembuhnya). Buku itu jadi pegangan rumah tangga orang kulit putih dan buku tentang jamu paling banyak disebut dalam catatan sejarah . Namun, Jans bukan orang kulit putih pertama yang menulis buku tetang jamu. Sebelumnya, ada Emelie van Gent de Telle, yang berasal dari keluarga pemilik perkebunan di Yogyakarta, yang menulis Boekoe Obat-Obat voor Orang Toewa dan Anak-Anak pada 1875. Setelah Emelie, pada 1885 Nyonya van Blokland dari Suabaya menulis tentang keampuhan pengobatan tradisional lewat buku Doekoen Djawa . Menurut Martina Safitry dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, hal itu menjadi bukti tingginya minat orang kulit putih pada khasiat jamu dan pengobatan tradisional Nusantara. Pada abad ke-19, hampir semua orang Indo-Eropa dan sebagain orang Eropa menggemari perawatan kesehatan oleh dukun perempuan, baik untuk sekadar pijat, membuatkan secangkir ramuan jamu, atau menyembuhkan penyakit ringan. Mereka menilai para perempuan tua ini punya ilmu perawatan kesehatan yang mumpuni. Mereka biasanya minta dicarikan tukang jamu atau tukang urut (dukun) pada babu dan jongosnya. Tak jarang pula mereka merekomendasikan perawatan tradisional ini pada pendatang baru Eropa. Pasien Eropa bahkan terkadang merekomendasikan dokter untuk berkonsultasi dengan ahli jamu atau dukun. Tapi usul itu sering bikin dokter Eropa jengkel, seperti yang disampaikan dokter ternama Cornelis Leendert van der Burg dalam bukunya The Physician in the Dutch East Indies . “Bahkan ada dokter yang tidak keberatan dengan pengobatan dari wanita ini (dukun/tukang jamu) untuk istri, anak-anak dan bahkan dirinya sendiri,” kata Van der Burg. Seiring menguatnya sekat rasial pada abad ke-20, ketidaksukaan pada pengobatan tradisional kian sering disuarakan orang kulit putih. Untuk menghindari identifikasi dengan penduduk pribumi, Komunitas Hindia menerapkan standar tinggi pada etiket berkomunikasi, berpakaian, dan etiket sosial Eropa lain. Buntutnya, para profesional Barat, termasuk dokter dan ahli botani, menjadi kurang tertarik pada obat herbal lokal. Mereka juga kurang menghargai pengetahuan pengobatan lokal dan mulai menyingkirkannya dengan ilmu pengetahuan Barat.

  • Serba Serbi Makanan Zaman Purba

    Manusia awalnya tak begitu repot memikirkan rasa daging atau sayuran yang dimakan. Cukup kunyah dan telan saja mentah-mentah. Tapi mereka tak terus-menerus begitu. Manusia purba akhirnya juga memasak. Richard Leakey dalam Asal Usul Manusia menjelaskan, Australopithecus , sebagai leluhur bersama manusia dan kera, hidup dengan makan tumbuhan. Ini terlihat dari struktur gigi mereka. Namun, bentuk grahamnya tak mirip kera. Mahkota giginya tak lancip tetapi rata. Bentuk ini cocok untuk menggiling makanan. “Jelas sudah bahwa 2-3 juta tahun yang lalu makanan manusia berubah jadi lebih alot, seperti buah-buahan keras dan kacang-kacangan,” tulis Leakey. Menjelang 2,5 juta tahun yang lalu, walau belum bisa dipastikan, muncul spesies manusia lainnya. Otaknya lebih besar. Giginya juga berubah. Itu mungkin disebabkan kebiasaan makan yang berubah, dari melulu tumbuhan menjadi kombinasi tumbuhan dan daging. “Perubahan struktur gigi Homo purba menunjukkan adanya kebiasaan makan daging, sebagaimana ditunjukkan juga oleh penyempurnaan teknologi perkakas batu,” tulis Leakey. Fosil kerbau purba di Sangiran. (Koleksi Museum Sangiran) Memasuki masa paleolitik, yaitu waktu manusia mulai menggunakan alat batu, mereka menggantungkan hidup pada hewan buruan. Menurut Teuku Jacob, pakar paleoantropologi ragawi Universitas Gadjah Mada dalam “Evolusi Makanan Manusia dari Paleonutrisi dan Paleoekonomi Menuju Gizi Futuristik” terbit di Pertemuan Ilmiah Arkeologi V , manusia purba berburu hewan kecil maupun besar untuk kemudian dimakan. Namun itu masih perdebatan. Ada juga ahli yang berpikir manusia awalnya hidup dengan memakan bangkai binatang buruan hewan lainnya. Jadi, mereka bukannya berburu. Salah satu yang meyakininya adalah Lewis Binford, arkeolog dari Amerika. Dia mengungkapnya pada 1981 dalam Bones: Ancient Men and Modern Myth. “Leluhur kita itu tidak romantis, melainkan pemakan sembarang yang umumnya lebih suka memulung bangkai hewan-hewan berkuku untuk mendapatkan sisa-sisa,” tulis Lewis. Bahkan, ketika sudah mulai makan daging, manusia kemudian berburu manusia lainnya. Diyakini Homo, memakan Australopithecus , saudara tuanya, sebagaimana mereka memangsa hewan lain jika bisa. Pasalnya, kedua spesies itu sempat hidup berdampingan. Tapi ini masih juga diperdebatkan. “Saya tidak ragu, tetapi penyebab kepunahan Australopithecus mungkin tak sedramatis itu,” tulis Leakey. Makin lama, manusia lebih banyak makan daging hewan. Lebih-lebih Homo neanderthalensis . Menurut Jacob, di lingkungan dia hidup kurang banyak tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan. Sementara, hewan besar seperti rusa, banteng, kerbau, gajah, kuda sungai, kambing, mungkin badak, beruang, begitu melimpah untuk diburu. Hewan lain seperti kura-kura, ikan, juga dimakan. Ada pula makanan yang berasal dari hewan seperti madu dan larva. “Kera dan monyet mungkin hanya kalau terpaksa saja dimakan, karena bentuknya menyerupai manusia,” tulis Jacob. The Man of Bicorp adalah gambar di dinding gua berusia 8000 tahun di dekat Valencia, Spanyol. Tergambar seseorang tengah mengumpulkan madu dari sarang lebah Ditemukannya api membuat makan daging menjadi lebih mudah. Homo erectus adalah spesies pertama manusia yang menggunakan api. Dia juga mungkin yang pertama mengumpulkan makanan sekaligus berburu. Karena mereka sudah kenal api, makanan pun lebih mudah dikunyah dan dicerna. Perubahan pola makan terjadi lagi ketika masuk periode lebih modern yang disebut mesolitik. Menurut Jacob penjinakan hewan mulai dikenal. Anjing mungkin yang pertama dipelihara. Lalu sapi, kuda, keledai, kambing, kerbau, babi, kucing, dan unggas.  Dengan kebiasaan beternak, makan daging hewan menjadi lebih dominan. “Beberapa kelompok telah memakai susu dalam dietnya,” tulis Jacob. Pada masa ini pula eksploitasi pantai dan laut mulai terjadi. Berbagai jenis kerang dan ketam, ikan, dan udang banyak dikonsumsi. Buktinya adalah tumpukan kulit kerang di beberapa situs yang luar biasa besar. Contohnya di Tamiang, Aceh. Hewan-hewan kecil juga menjadi makanan. Di Liang Toge, Flores ditemukan sisa-sisa kelelawar, tikus biasa dan tikus raksasa, monyet, landak, dan babi. “Berburu masih dilakukan dan tumbuhan tetap dimakan,” tulis Jacob. Pada masa Neolitik, manusia semakin banyak mengonsumsi tumbuhan. Ini didukung pertanian yang mulai berjalan. Mereka mulai rajin makan gandum dan beras. Bahan-bahan itu sudah pula dijadikan bubur, roti, nasi, bir, dan arak. Cara mengolah makanan juga makin beragam. Manusia tak lagi mengonsumsi makanan mentah. Tak juga cuma dibakar atau dipanaskan di atas batu. Mereka sudah mengenal cara merebus dan memanggang. Bahan makanan mereka awetkan dengan dijemur, disalai, diasinkan, dan dibumbui. Mereka pun mulai mencampur bahan-bahan makanan. “Waktu luang bertambah dengan penemuan api, penjinakan tumbuhan dan hewan, permukiman menjadi tetap, umur manusia memanjang,” tulis Jacob.

  • Letnan Jenderal Tujuh Hari

    MEMASUKI tahun 1950 APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) melakukan berbagai pembenahan. Salah satunya penggantian bentuk pangkat. Pangkat mayor, letnan kolonel, dan kolonel tidak lagi menggunakan simbol bintang tetapi bunga tanjung. Simbol bintang hanya digunakan untuk tingkat mayor jenderal, letnan jenderal, dan jenderal; saat itu pangkat brigadir jenderal belum diadakan. Selain soal pangkat, perubahan nama kesatuan pun dilakukan di tiap divisi. Brigade XII Divisi Siliwangi termasuk kesatuan yang harus memberlakukan peraturan baru tersebut. Kesatuan yang bertanggung jawab atas wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur itu berganti nama menjadi Brigade D/XV. “Sebagai pimpinan Brigade D ditunjuklah Mayor Sambas Atmadinata yang kemudian pangkatnya dinaikan menjadi letnan kolonel,” tulis buku Siliwangi dari Masa ke Masa Bag. II (1950-1965). Seiring dengan pembenahan itu, aksi pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia pimpinan S.M. Kartosoewirjo semakin merajalela di Jawa Barat. Guna menangani situasi tersebut, nyaris tiap minggu Letkol Sambas harus mempersiapkan pasukannya dan melakukan inspeksi keliling. Suatu hari, Letkol Sambas akan menginspeksi pasukan yang berada di tiga wilayah yang menjadi wewenangnya. Merasa belum punya tanda pangkat letkol, dia kemudian menyuruh ajudannya untuk membeli di Toko Beny, yang terletak di depan Sekolah Zeni Angkatan Darat Bogor. Singkat cerita, tanda pangkat bintang dua berkilauan pun dibeli dan langsung ditempelkan oleh Sambas di leher kamejanya, bukan di pundak. Dengan jip yang dikemudikan oleh seorang ajudan dan dikawal seorang penembak, selama seminggu Sambas berkeliling ke basis-basis pasukan yang berada di Bogor, Sukabumi, dan Cianjur. Mereka mengecek kesiagaan dan mencocokan info lapangan dari pos ke pos. Hari terakhir inspeksi, sampailah mereka di Istana Cipanas dan langsung memeriksa kesiapan satu seksi CPM (Corps Polisi Militer). Begitu memasuki gerbang Istana Cipanas, penjaga langsung memberi hormat. Dengan sikap percaya diri, Sambas lantas bertanya, “Apakah situasi aman?” “Siap! Aman Let!” jawab sang penjaga dalam nada bersemangat. Sambas tersenyum mendengar kata “Let” dari prajurit jaga. Dia memaafkan dan memaklumi jika prajurit itu belum mengetahui tanda pangkat APRI versi terbaru. Tapi tidak demikian dengan dua pengawalnya, mereka terlihat sangat kesal atas panggilan yang sungguh tidak “etis” itu. “Sialan!” Sambas mendengar seorang pengawalnya mengumpat. Memasuki halaman Istana, seluruh peleton CPM pun dibariskan. Kepada sang sersan yang mengomandani peleton itu, Sambas lagi-lagi bertanya, “Apakah situasi di Istana Cipanas terkendali?” Eh, lagi-lagi sersan itu menjawab persis sama dengan jawaban prajurit penjaga di pintu gerbang. “Siap, aman Let!” Sambas memutuskan untuk tidak marah atau menegur. Pikirnya, bisa jadi sosialisasi soal pangkat belum sampai ke seluruh pasukan. Jadi, dia merasa itu bukan salah para prajurit di bawah. Saat situasi tersebut, tiba-tiba ajudannya maju ke depan dan menegur si sersan. “Lihat-lihat dong! Beliau ini komandan brigade, bukan seorang letnan!” Keributan itu cepat dilerai oleh Sambas dan untuk mencegah timbulnya suasana tidak enak, mereka pun lalu beranjak melanjutkan perjalanan pulang ke Bogor. Saat di Puncak, barulah “kesalahpahaman” itu terpecahkan. Mendapat informasi dari seorang tentara lainnya, Sambas baru mafhum bahwa para prajurit di Istana Cipanas itu sama sekali tidak salah. Mengapa? Ternyata tanda pangkat yang dibelikan ajudannya dari Toko Beny adalah tanda pangkat seorang letnan jenderal! “Yang tidak tahu itu adalah kami. Toko Beny salah jual, ajudan saya salah beli. Mereka keliru karena baru pertama kali,” kenang Sambas dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid I  terbitan Markas Besar LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia). Kendati demikian Sambas merasa bersyukur. Kendati tidak sengaja, dia setidaknya pernah merasakan jadi seorang letnan jenderal. Walaupun hanya tujuh hari. *

bottom of page