top of page

Bertemu dalam Secangkir Jamu

Kegemaran orang kulit putih pada jamu dan pengobatan tradisional muncul lewat relasi dengan kaum bumiputra. Terlindas sekat rasial.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Penjual jamu tradisional di kawasan Braga, Bandung Jawa Barat. Foto : Fernando Randy/Historia

  • 1 Agu 2019
  • 3 menit membaca

KEGEMARAN Albertina van Spreeuwenburg, perempuan campuran Indo-Eropa, pada jamu membuatnya jadi penyembuh tenar di Weleri, Jawa Tengah. Suami Albertina merupakan pemilik perkebunan. Bila ada pegawainya yang sakit, Albertina maju untuk menyembuhkan.


Perkenalan Albertina pada jamu didapat dari ibunya yang seorang nyai. Persilangan budaya dari dalam rumah umum terjadi di masa kolonial lantaran adanya interaksi intensif orang Eropa dan pribumi, entah nyai ataupun babu, di dalamnya. Para nyai biasanya tetap melakukan kebiasaan mereka, entah mengenakan kebaya, mengunyah sirih, atau meminum jamu. Kebiasaan inimenular pada anak-anak mestizo mereka.


Tingginya kebiasaan mengonsumsi jamu di rumah tangga Indies mendorong peneliti Eropa mempelajari jamu dan tanaman obat lokal. Mereka biasanya mendapat informasi dari perempuan Indo-Eropa, penjual jamu di pasar, atau dukun. Penggalian informasi tentang jamu dan tanaman obat makin dipermudah ketika dokter, ahli botani, atau apoteker kulit putih yang datang ke Hindia-Belanda melakukan kawin campur. Dari sinilah ilmu pengobatan modern dan lokal bertemu.


Profesor Hans Pols dari Universitas Sydney dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation” menyebutkan, dokter Eropa yang baru tiba di Hindia menikahi wanita Indo-Eropa atau pribumi merupakan hal umum pada paruh pertama abad ke-19. Pernikahan campur ini diterima karena hampir semua orang Eropa yang tiba di koloni adalah lajang dan akan menghabiskan waktu lama di Hindia. Bentuk interaksi antarkelompok sosial dan etnis ini berpengaruh pada pengetahuan medis dan botani di Hindia-Belanda.


Fenomena itu dapat dilihat pada kehidupan dr. CCW Mandt. Ahli kesehatan berkebangsaan Jerman yang menikahi perempuan mestizo dari Makassar itusangat tertarik pada jejamuan dan mempelajari khasiat tanaman lokal untuk masalah kesehatan sehari-hari. Selain dari istrinya, pengetahuan Mandt tentang obat tradisional diperoleh dari Albertina. Keduanya sering berdiskusi tentang khasiat tanaman Nusantara. Istri Mandt bahkan sering bertukar resep jamu dengan Albertina. Bermodal pengetahuan itu, Mandt lalu mendirikan spa tradisional.


Kegemaran Albertina pada jamu menurun pada anaknya, Johanna Maria Carolina Versteegh (setelah menikah dikenal sebagai Jans Kloppenburg-Versteegh). Selain mendapat pengetahuan tentang jamu dari ibunya, Jans juga sering berdiskusi dengan Hendrik Freerk Tillema, pengusaha air mineral dan pemilik apotek di Semarang, untuk mendapat informasi yang lebih saintifik. Saking tertariknya pada jamu, pada 1907 Jans menulis buku Indische Planten en Haar Geneeskracht (Tanaman asli Hindia dan kekuatan penyembuhnya). Buku itu jadi pegangan rumah tangga orang kulit putih dan buku tentang jamu paling banyak disebut dalam catatan sejarah.


Namun, Jans bukan orang kulit putih pertama yang menulis buku tetang jamu. Sebelumnya, ada Emelie van Gent de Telle, yang berasal dari keluarga pemilik perkebunan di Yogyakarta, yang menulis Boekoe Obat-Obat voor Orang Toewa dan Anak-Anak pada 1875. Setelah Emelie, pada 1885 Nyonya van Blokland dari Suabaya menulis tentang keampuhan pengobatan tradisional lewat buku Doekoen Djawa.


Menurut Martina Safitry dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, hal itu menjadi bukti tingginya minat orang kulit putih pada khasiat jamu dan pengobatan tradisional Nusantara. Pada abad ke-19, hampir semua orang Indo-Eropa dan sebagain orang Eropa menggemari perawatan kesehatan oleh dukun perempuan, baik untuk sekadar pijat, membuatkan secangkir ramuan jamu, atau menyembuhkan penyakit ringan. Mereka menilai para perempuan tua ini punya ilmu perawatan kesehatan yang mumpuni.


Mereka biasanya minta dicarikan tukang jamu atau tukang urut (dukun) pada babu dan jongosnya. Tak jarang pula mereka merekomendasikan perawatan tradisional ini pada pendatang baru Eropa. Pasien Eropa bahkan terkadang merekomendasikan dokter untuk berkonsultasi dengan ahli jamu atau dukun. Tapi usul itu sering bikin dokter Eropa jengkel, seperti yang disampaikan dokter ternama Cornelis Leendert van der Burg dalam bukunya The Physician in the Dutch East Indies.


“Bahkan ada dokter yang tidak keberatan dengan pengobatan dari wanita ini (dukun/tukang jamu) untuk istri, anak-anak dan bahkan dirinya sendiri,” kata Van der Burg.


Seiring menguatnya sekat rasial pada abad ke-20, ketidaksukaan pada pengobatan tradisional kian sering disuarakan orang kulit putih. Untuk menghindari identifikasi dengan penduduk pribumi, Komunitas Hindia menerapkan standar tinggi pada etiket berkomunikasi, berpakaian, dan etiket sosial Eropa lain. Buntutnya, para profesional Barat, termasuk dokter dan ahli botani, menjadi kurang tertarik pada obat herbal lokal. Mereka juga kurang menghargai pengetahuan pengobatan lokal dan mulai menyingkirkannya dengan ilmu pengetahuan Barat.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
The United States’ hydrogen bomb tests in the Eniwetok Atoll in the Pacific alarmed a member of the Indonesian House of Representatives, who urged the government to mobilize opposition on the international stage.
bg-gray.jpg
Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
bg-gray.jpg
Setelah Sutan Sjahrir dibebaskan, para pengikut Tan Malaka menyodorkan konsepsi untuk disetujui Sukarno. Hatta menyadari sedang terjadi kudeta.
bg-gray.jpg
Setelah diculik pengikut Tan Malaka, Sutan Sjahrir bikin perhitungan dengan penangkapan berantai. Adam Malik protes, Sayuti Melik pasrah digelandang ke bui.
Sebagai wartawan dan anggota parlemen Belanda, dia mengutuk agresi militer Belanda dan menganggapnya sebagai aksi edan dan sia-sia.
Sebagai wartawan dan anggota parlemen Belanda, dia mengutuk agresi militer Belanda dan menganggapnya sebagai aksi edan dan sia-sia.
Nama resminya Academy Award of Merit. Kenapa lebih populer disebut Piala Oscar?
Nama resminya Academy Award of Merit. Kenapa lebih populer disebut Piala Oscar?
Perjalanan Hamka ke Mekkah diliputi gelak tawa. Itu disebabkan prilaku para staf KBRI di Karachi yang mengaku terkena maag hingga tak menjalankan ibadah puasa.
Perjalanan Hamka ke Mekkah diliputi gelak tawa. Itu disebabkan prilaku para staf KBRI di Karachi yang mengaku terkena maag hingga tak menjalankan ibadah puasa.
Bermula dari hasrat untuk mengeruk laba dari niaga lada di Sumatera, Amerika beranjak lebih jauh ke dominasi politik-dagang di mana-mana.
Bermula dari hasrat untuk mengeruk laba dari niaga lada di Sumatera, Amerika beranjak lebih jauh ke dominasi politik-dagang di mana-mana.
Ada banyak cara memecahkan masalah kepadatan lalu-lintas ibukota. Salah satunya dengan menebeng.
Ada banyak cara memecahkan masalah kepadatan lalu-lintas ibukota. Salah satunya dengan menebeng.
Sebagai seorang pemimpin, Soeharto pernah menyampaikan beberapa pesan moral untuk para pejabat. Ada benarnya kendati dia pun kerap tak konsisten.
Sebagai seorang pemimpin, Soeharto pernah menyampaikan beberapa pesan moral untuk para pejabat. Ada benarnya kendati dia pun kerap tak konsisten.
transparant.png
bottom of page