Hasil pencarian
9796 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jurus Roem Menolak Sukarno
Pada 1967, upaya Mohamad Roem menghilangkan kenangan pahitnya bersama Sukarno terancam gagal. Pembicaraan dengan calon besannya (Mas Suryo) tentang tamu undangan di acara pernikahan putrinya malah membuka luka lama bagi Roem. Belum juga genap setahun terbebas dari tahanan, dia harus kembali berurusan dengan sosok si pemberi trauma. Peristiwa penangkapan beberapa tokoh oleh Sukarno, termasuk Roem, pada 1962 akibat perbedaan pandangan politik masih begitu membekas di ingatan Roem. Diceritakan di dalam bukunya Bunga Rampai dari Sejarah , dia hampir mendekam di penjara selama empat tahun sebelum akhirnya bebas pada 1966. Meski sudah berusaha memaafkan perbuatan Sukarno di masa lalu, Roem tetap menyimpan sedikit rasa tidak suka. Pembicaraan tentang siapa saja yang akan diundang di acara sakral itu awalnya berjalan menyenangkan bagi Roem. Dia dan Mas Suryo saling memberi rekomendasi tamu undangan yang sama-sama dikehendaki. Sampai kemudian mantan Menteri Luar Negeri Kabinet Natsir ini dihadapkan dengan satu nama: “Mas Karno”. “Bagi saya akan sulit sekali untuk tidak mengundang Mas Karno. Mas Roem tahu hubungan saya sekeluarga selama ini dengan Mas Karno. Dalam politik kami sudah jauh terpisah. Malah waktu akhir ini semakakin jauh, dan sering saya memperingatkan dia. Di samping itu hubungan sudah seperti hubungan famili. Dalam keadaam dia seperti sekarang ini, mungkin dia akan sakit hati kalau tidak saya undang. Saya harap dengan sangat Mas Roem mempunyai pengertian untuk kesulitan saya ini. Mungkin dia tidak akan datang. Bagi saya sudah cukup kalau saya menyampaikan undangan,” ujar Mas Suryo coba membujuk Roem. Roem awalnya tidak tahu menahu siapa sosok yang disebut oleh calon besannya ini. Tidak sedikitpun dia mengira Mas Karno ini adalah seseorang yang dikenalnya. “Siapa Mas Karno?” tanya Roem. Mas Suryo agak keherananan mendengar pertanyaan Roem. “Mas Karno, Presiden Sukarno,” jawabnya. Roem terdiam. Tak disangka dia akan mendengar nama itu dari mulut calon besannya. Roem mengaku sudah tidak memiliki kebencian terhadap Sukarno, tetapi baginya agak sulit untuk menghormati Sukarno sebagai tamu di rumah sendiri. Dia pun merasa tidak memiliki kedekatan secara khusus dengan Presiden RI yang pertama itu. Karenanya bukan sebuah kewajiban untuk memberi undangan kepadanya. “Kalau Mas Suryo minta agar penulis (Roem) mempunyai pengertian terhadap dirinya, penulis dapat minta pengertian bagi perasaan penulis. Tapi pengertian diadu dengan pengertian rasa-rasanya tidak sedap,” ucap Roem. Demi mencegah pertemuan yang tidak diinginkan tersebut, Roem berusaha membujuk si calon besan agar membatalkan niatnya mengundang Sukarno. Mas Suryo sebetulnya sudah menjelaskan bahwa Sukarno belum tentu bisa hadir di acara pernikahan tersebut, tetapi Roem tidak ingin mengambil resiko. Di satu sisi Roem tidak menginginkan kehadiran Sukarno, tetapi dia juga tidak bisa asal menolak. Dia harus tetap menjaga kesan baik di depan bakal besannya ini. Agar tidak terkesan memaksa, Roem membujuk dengan memberikan gambaran kepada bakal besannya sisi buruk jika seorang presiden datang ke acara pernikahan itu. Sebagai seorang diplomat ulung tidak ada yang meragukan kemampuan berbicara Roem. Kali ini pun dia mampu memanfaatkan kemampuan itu dengan sebaik mungkin. “Semua perhatian dan semua mata orang ditujukan kepada Sukarno. Dan Sukarno memang seorang yang sedap dilihat dan senang dilihat, ditambah dengan kemampuannya untuk menarik perhatian. Apakah Mas Suryo akan senang, pada waktu putra Mas Suryo menjadi mempelai yang ganteng, semua tamu pada melihat orang lain? Saya juga tidak akan menerima, kalau anak saya tidak dipandang yang paling cantik dan paling menarik pada saat yang berbahagia itu,” tegas Roem. “Mas Suryo, menurut kepercayaan orang Jawa jadi pengantin itu sama dengan jadi raja. Karena itu pengantin boleh memakai kembang melati, yang biasanya menjadi prerogatip raja. Sukarno pada saat ini masih semacam raja. Biarlah pada saat-saat itu anak-anak kita saja yang jadi raja,” lanjutnya. Pernyataan itu dikeluarkan dengan sedikit emosi dari dalam diri Roem. Dia benar-benar ingin meyakinkan Mas Suryo bahwa persoalan mengundang Sukarno ini bukan perkara mudah baginya. Mendengar hal itu Mas Suryo menyutujuinya. Undangan untuk Sukarno batal diberikan. Roem merasa senang, setidaknya dia bisa memberi alasan yang dapat diterima oleh si bakal besan dan menghindari kesan buruk.
- Sukarno Ingin Patung Terbang
Kecintaannya terhadap seni dan arsitektur menjadi sisi lain Sukarno yang banyak dikisahkan oleh para seniman. Ia gandrung mengoleksi lukisan dan memiliki ketertarikan pada patung. Edhi Sunarso, pematung kesayangannya, pernah dibikin pusing karena harus bikin patung yang terlihat seolah-olah terbang. Pasca Pemilu 1955, Sukarno banyak diundang ke luar negeri. Dalam kunjungannya, ia melihat ikon-ikon yang bisa dibanggakan negara-negara terkemuka. Iapun pulang dengan obsesi baru, membuat monumen-monumen megah sebagai ikon negeri. Yuke Ardhiati, arsitek sekaligus penulis buku Sukarno Sang Arsitek , menyebut sejak itu visi arsitektur Sukarno lebih internasionalis dan abadi. “Beliau maunya arsitektur modern dan semua konstruksinya harus tahan cakaran zaman dengan beton. Jadi konsep keabadian itu sudah menjadi obsesi beliau,” ujar Yuke dalam dialog sejarah daring Historia bertajuk “Bung Karno Sang Arsitek” , Selasa, 2 Juni 2020. Pematung Andalan Edhi Sunarso lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 2 Juli 1932. Sejak umur belasan tahun, ia bergabung sebagai pejuang revolusi dan tak sempat menyelesaikan pendidikan sekolah dasar. Bakat seninya ditemukan oleh seniman rakyat Hendra Gunawan. Ia kemudian menjadi anggota Sanggar Pelukis Rakyat yang dipimpin oleh Hendra dan Affandi. Kepiawaiannya dalam seni patung membuatnya dilirik Sukarno. Ia kemudian ditantang untuk membangun monumen-monumen di Jakarta yang menjadi obsesi Bung Besar. Kepada Edhi, Sukarno minta proyek tersebut harus jalan jika tidak mau diberikan kepada seniman luar negeri. Berbagai monumen pun dibuat. Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Monumen Pembebasan Irian Barat, hingga Patung Dirgantara yang kini lebih populer sebagai Patung Pancoran. Patung yang disebut terakhir ternyata membuat kewalahan sang seniman. “Beliau mau itu (patung) yang bisa seperti terbang, ya dibikin bentuk seperti itu. Itu cukup rumit teorinya,” kata Yuke. Patung Dirgantara dibangun di tempat strategis yang merupakan pintu gerbang Jakarta Selatan dari lapangan terbang Internasional Halim Perdanakusuma. Lokasi ini berdekatan dengan Markas Besar Angkatan Udara Republik Indonesia. Pendiriannya dimaksudkan agar menjadi ikon dunia penerbangan atau kedirgantaraan Indonesia. “Waktu itu saya sedang mengerjakan Monumen Dirgantara. Saya sudah mengumpulkan banyak desain, tetapi tak ada satu pun yang memuaskan Bung Karno,” kata Edhi dalam Tuan Tanah Kawin Muda: Hubungan Seni Rupa-Lekra 1950-1965. Bung Karno pun berkata kepadanya, “Ed, kita ini tidak bisa membuat pesawat terbang, apalagi pesawat tempur. Tetapi waktu zaman revolusi, kita tetap berani menerbangkannya. Jadi, buatlah patung yang bisa menonjolkan semangat keberanian itu. Itulah yang kita punyai. Apa yang kita punya? Kita punya semangat. Kita punya Gatutkaca!” Sukarno kemudian berdiri dengan pose seperti tokoh Gatutkaca di hadapan Edhi, “Cepat Ed! Segera kamu buat sketnya. Seperti ini! Seperti ini!” kata Bung Karno. Maka, Patung Dirgantara simbol penerbangan itu bukanlah pesawat, melainkan seorang manusia yang hendak terbang. Padestalnya yang dikerjakan oleh Ir. Sutami dibuat melengkung untuk mendukung kesan terbang itu. Tak Sempat Lihat Ketika Sukarno lengser, Patung Dirgantara belum jadi. Pengerjaannya memang sempat terhenti karena geger peristiwa 30 September 1965. Namun, Edhi tetap bertekad menyelesaikan patung “manusia terbang” itu. “Dengan spirit yang sepenuhnya mencintai Sukarno, pembangunan patung terus dilangsungkan, sedikit-sedikit, sampai akhirnya merenggut biaya Rp16 juta,” sebut Agus Dermawan T dalam Dari Lorong-Lorong Istana Presiden . Dari biaya Rp16 juta tersebut, ternyata Rp6 juta merupakan uang dari studio Edhi sendiri. Sukarno sendiri sempat menjanjikan akan melunasi kekurangan biaya jika nanti keluar dari Wisma Yaso. “Dengan uangku send i ri, nanti. Negara tidak punya uang. Istana Presiden tidak pernah punya duit!” kata Presiden seperti dikutip Agus. Namun, tampaknya janji itu tak pernah terwujud. Bung Karno tak sempat membayar utang dan bahkan tak boleh melihat patung itu oleh rezim Orde Baru. Patung Dirgantara ternyata menjadi patung terakhir yang dipesan Sukarno dan ia tak pernah melihat si “manusia terbang”. Ia keburu lengser, sakit, dan meninggal ketika patung tengah diselesaikan. “Yang paling menyedihkan, jenazah Bung Karno melintas di bawah patung Monumen Dirgantara yang sedang saya selesaikan. Dan kebetulan saya sedang bekerja di sana,” kata Edhi kepada Agus.
- Kekerasan Rasial Tulsa 1921
DICK Rowland, pemuda berkulit hitam, masuk ke dalam lift Gedung Drexel di Third and Main, Tulsa, Oklahoma. Di lift itu sudah ada Sarah Pages, perempuan kulit putih yang merupakan operator lift. Sejurus kemudian, Rowland meraih lengan Sarah yang membuatnya terkejut dan berteriak. "Ketika dia meraih lenganku, aku menjerit dan dia melarikan diri,” kata Sarah seperti dikabarkan Tulsa Daily World 2 Juni 1921 dalam artikel "Story of Attack on Woman Denied". Pertemuan Rowland dan Sarah itu menjadi awal rangkaian peristiwa yang kini disebut Pembantaian Ras di Tulsa (Tulsa Race Massacre). Insiden Sarah-Rowland di dalam lift terjadi pada pada Senin pagi, 30 Mei 1921. Polisi Tulsa menangkap Rowland keesokan harinya untuk dimintai keterangan. Rowland kemudian didakwa menyerang perempuan dan kasusnya dibawa ke pengadilan. Kabar begitu cepat berembus. Lewat artikel berjudul “Nab Negro for Attacking Girl in Elevator”, koran TheTulsa Tribune edisi31 Mei 1921 siang mengabarkan insiden Sarah-Rowland sebagai serangan lelaki kulit hitam pada perempuan kulit putih. The Tulsa Tribune bahkan mengeluarkan editorial “To Lynch Negro Tonight”. Padahal, seperti dikabarkan Tulsa Daily World yang mengutip keterangan Kepala Detektif di Departemen Kepolisian Tulsa James Patton, satu-satunya serangan yang dilakukan Rowland terhadap Sarah ialah meraih lengannya. Detektif Patton juga menerima keterangan yang sama dari Rowland. Berita penuh bumbu yang dimuat Tulsa Tribune membangkitkan sentimen rasial orang kulit putih. Orang kulit hitam khawatir akan adanya penjatuhan hukuman mati tanpa pengadilan. Insiden ini memicu konfrontasi antara orang kulit hitam dan putih. Sejarawan Rachael Hill dalam “Tulsa Massacre 1921”, dimuat dalam San Francisco State University History Student Journal , Volume XVIII, menyebut orang kulit hitam Tulsa punya banyak alasan untuk percaya bahwa Rowland akan dihukum mati setelah ditangkap. Dalam Laporan Akhir-nya, Komisi Oklahoma mencatat adanya rasisme yang kuat dan kekerasan pada kulit hitam yang dianggap lazim atau disetujui secara sosial. Di awal abad ke-20, orang kulit hitam Amerika kerap menyaksikan kaumnya dihukuman mati tanpa pengadilan. Kondisi ini terus terjadi dan dianggap sebagai "hukum tidak tertulis" yang memungkinkan untuk membunuh orang tanpa tuduhan di bawah sumpah, tanpa diadili oleh juri, tanpa kesempatan untuk membela diri, dan tanpa hak mengajukan banding. Sepanjang tahun 1921, ada 59 orang Afro-Amerika yang dijatuhi hukuman gantung. Dua dekade sebelumnya, lebih dari tiga ribu orang kulit hitam Amerika dihukum mati. Pada 1919, tercatat ada 75 hukuman mati tanpa pengadilan. Sepanjang musim panas di tahun yang sama, kekerasan rasial meletus. Ada lebih dari 25 konflik bersenjata di seluruh negara bagian dan semua aksi kekerasan massa terhadap orang Afro-Amerika dipimpin orang kulit putih. Insiden-insiden tersebut dipicu rasialisme yang mengakar. Maka ketika Rowland diperiksa, komunitas Afro-Amerika langsung khawatir akan ada nyawa kulit hitam melayang karena tuduhan palsu. Kekhawatiran itu mendorong dua kelompok massa (kulit hitam dan putih) berkumpul di sekitar gedung pengadilan ketika Rowland diadili. Beberapa di antaranya membawa senjata meski aparat kepolisian berjaga di sekitar gedung pengadilan. Meski tuduhan itu kemudian dibatalkan karena janggal sejak awal, menjelang petang, kericuhan mulai terjadi ketika sebuah tembakan dilepaskan. Orang Afro-Amerika yang kalah jumlah kemudian mundur ke Distrik Greenwood yang dikenal sebagai Black Wall Street, sebuah daerah kulit hitam yang makmur. Kerusuhan pun terjadi sepanjang Selasa malam. Pemerintah setempat gagal mengambil tindakan untuk mengendalikan situasi. "Jika fakta-fakta dalam pemberitaan sesuai dengan yang diceritakan polisi, saya tidak berpikir akan ada kerusuhan apa pun," kata Kepala Detektif Patton. Sejak tengah malam 1 Juni 1921 hingga dini hari, Greenwood dijarah dan dibakar oleh perusuh kulit putih. Mereka menembaki penduduk Afro-Amerika, membakar rumah-rumah dan toko, bahkan fasilitas umum seperti gereja, sekolah, rumahsakit dan perpustakaan di distrik Greenwood. Sebagaimana diinformasikan Tulsa History , para pejabat sipil ikut berpartisipasi dalam kekerasan ini dengan memberikan senjata api, amuisi, bahkan pesawat pribadi pada pria-pria kulit putih. Beberapa dari mereka bahkan secara langsung ikut dalam aksi kekerasan rasial itu. Menjelang fajar, Greenwood, Tulsa hancur. Gubernur Robertson menyatakan darurat militer pada 1 Juni pukul 11:30. Selain mengirim petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api, pemerintah juga mengirim pasukan Garda Nasional ke Tulsa. Penangkapan massal dilakukan pada hampir semua penduduk kulit hitam Greenwood. Lebih dari enam ribu orang kulit hitam ditahan di Convention Hall dan Fairgrounds selama delapan hari. Mereka kemudian dipindah ke bagian lain kota. Sementara, pencurian, perusakan, dan perampasan harta benda pribadi orang kulit hitam yang tertinggal di rumah dan tempat bisnis terus terjadi. Tulsa History memperkirakan ada 100-300 orang terbunuh selama pembantaian. Kekerasan berakhir setelah 24 jam. Tiga puluh lima blok kota luluh lantak. Lebih dari 800 orang dirawat karena cedera. Pada 3 Juni 1921, status darurat militer Tulsa dicabut pukul 17:00. Jaksa Agung Amerika Serikat Daugherty memerintahkan penyelidikan atas kerusuhan tersebut. Gubernur Oklahoma Robertson langsung meneruskannya kepada Jaksa Agung Oklahoma Freeling untuk melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti. Namun, tak satu pun dari pelaku tindak kriminal itu dituntut atau dihukum baik oleh pemerintah kota, kabupaten, negara bagian, atau federal. Bahkan setelah pemulihan ketertiban, orang-orang kulit hitam yang ditangkap hanya bisa dibebaskan atas jaminan dari orang kulit putih. Meski pada akhirnya jumlah populasi Afrio-Amerika di Tulsa turun, mereka yang tersisa berjuang sekuat tenaga untuk melindungi rumah, bisnis, dan komunitasnya. Pemerintah tak ikut andil dalam pemulihan. Semua diserahkan pada korban, yakni penduduk Afro-Amerika. Para pejabat publik bahkan terkesan menghalangi upaya pemulihan para korban dengan menolak beberapa tawaran bantuan dari luar. Bantuan signifikan yang diterima para korban datang dari Palang Merah Amerika pimpinan Maurice Willows, yang tetap di Tulsa selama beberapa bulan setelah pembantaian itu. Warga kulit putih yang simpatik juga membantu memberikan tempat tinggal kepada para korban yang kehilangan rumah. Suratkabar Chicago Tribune juga menyalurkan bantuan $1000 pada para korban untuk membantu pemulihan para tunawisma pembantaian. Malam pertumpahan darah dan penghancuran 1921 di Greenwood disebut Rachael sebagai penindasan struktural. Peristiwa ini juga dikenal sebagai kekerasan rasial terburuk dalam sejarah Amerika.
- Haji Terganggu Pandemi
Menteri Agama Fachrul Razi mengumumkan pembatalan keberangkatan jemaah haji 1441 H/2020 M karena tidak ada kepastian dari Arab Saudi terkait akses yang sudah dibuka. Hal itu membuat pihaknya tak punya cukup waktu untuk melakukan berbagai persiapan, baik pelayanan maupun perlindungan jemaah. Dalam jumpa pers yang disiarkan langsung melalui Youtube pada Selasa, 2 Juni 2020, Fachrul Razi juga menyebut situasi pandemi yang belum reda membuat Arab Saudi tak bisa memastikan terbukanya akses haji hingga kini. Hal itu mengingatkan pada kondisi di masa lalu ketika ibadah haji berulang kali terganggu akibat merebaknya pandemi. "Haji beberapa kali terganggu, dihentikan, Makkah ditutup, Jeddah pernah dibuat pos khusus, dipagari betul, yang masuk dipastikan dulu," kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah dalam seminar daring lewat aplikasi zoom tentang "Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia" yang diselenggarakan Museum Nasional beberapa waktu lalu. Sejarawan abad pertengahan, Badruddin Mahmud al-‘Ayni menulis tentang wabah yang menyerang Makkah dalam ‘Iqd al-juman fi Tarikh ahl al-zaman . Dikutip sejarawan Amerika Serikat, Michael Walters Dols, dalam The Black Death in the Middle East , bahwa al-‘Ayni mencatat pada 1348–1349 wabah Maut Hitam menyerang Makkah. Epidemi itu mungkin dibawa oleh lalu lintas haji. Akibatnya sejumlah besar jemaah haji menjadi korban. "Ibn Abi Hajalah (dalam Daf’ al-niqmah , red. ) mencatat bahwa banyak siswa dan penduduk di Makkah juga binasa," kata Oman. Kondisi itu menjadi perbincangan para cendekiawan muslim pada masanya. Pasalnya, Nabi Muhammad Saw. menjanjikan bahwa tak akan ada wabah yang bisa masuk ke kota suci Makkah dan Madinah. "Merupakan keajaiban wabah itu tak sampai ke Madinah. Maka mereka pun percaya kalau wabah menjangkit Makkah karena ada pelanggaran dengan keberadaan orang-orang kafir," kata Oman. Menurut Oman, interpretasi itu berdasarkan penyebutan wabah penyakit dalam bahasa Arab, yakni tha’un, yang arti harfiahnya adalah jin. Ada beberapa hadis yang menyebut wabah penyakit ( tha’un ) tak akan bisa memasuki Madinah. Sampai abad ke-14, Madinah tak tersentuh wabah, sedangkan Makkah terjangkit. “Tapi sekarang kita tahu di Madinah juga ada yang positif (Covid-19, red . ). Jadi, ini perlunya reinterpretasi teks keagamaan,” kata Oman. “Apa berarti hadis Nabi keliru? Saya percaya tidak, yang belum sampai itu penafsiran kitanya.” Terganggunya haji akibat pandemi juga dicatat oleh Muhammad al-Manjibi al-Hambali atau Muhammad bin Muhammad al-Manjibi, ulama Suriah Utara abad ke-14. Ia menjadi saksi saat wabah Maut Hitam merebak di wilayahnya pada Rajab 775 H (1373), lalu meningkat menjelang akhir Syawal, Zulkaidah, Zulhijah, kemudian menurun pada Muharam tahun berikutnya. "Berapa bulan itu coba? Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, Zulhijah, Muharam," kata Oman. "Bayangkan haji terganggu." Oman menyebut pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kegiatan haji pun menjadi salah satu penyebab merebaknya pandemi. "Bukan hajinya tapi aktivitas haji sebagai kebudayaan," ujar Oman. Selain Maut Hitam, wabah kolera juga merenggut nyawa ribuan jemaah haji dalam beberapa tahun sepanjang abad ke-19. Menurut sejarawan F.E. Peters dalam The Hajj: The Muslim Pilgrimage to Mecca and the Holy Places , kendati sudah lama ada di India, kolera tak dilaporkan merebak keluar anak benua. Sampai pada 1817 dan 1823 kolera muncul di pelabuhan-pelabuhan pulau di sekitar Samudera Hindia. "Dimulai di India pada 1817," tulis Peters, "penyakit ini menyebar ke seluruh dunia." Pada 1831, kolera merebak pertama kali di Makkah. Sejak saat itu hingga abad ke-20, kolera hampir selalu muncul di kota suci umat Islam itu. Peters menyebut epidemi kolera tahun 1865 dibawa jemaah haji dari Jawa dan Singapura. Sepertiga di antaranya tewas selama haji. Tercatat wabah telah membunuh 15.000 dari 90.000 jemaah. Kolera lalu menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Amerika Serikat dan Eropa, dengan dua juta kematian. Kolera tersebar melalui kapal-kapal yang membawa jemaah haji ke Terusan Suez. Saat itu mereka melaporkan kepada pihak berwenang setempat bahwa tidak ada penularan penyakit. Padahal, sejak meninggalkan Jeddah pada bulan Mei, lebih dari 100 mayat dibuang ke laut. Pada Juni, kolera mengamuk di Alexandria. Sebanyak 60.000 orang Mesir meninggal dalam tiga bulan. “Pada bulan yang sama kolera mencapai Marseilles, Prancis, kemudian sebagian besar kota di Eropa. Pada November 1865, kolera dilaporkan berjangkit di New York,” tulis Peters. Menurut Ken Chitwood dalam "Hajj Cancellation Wouldn’t be the First-Plague, War and Politics Disrupted Pilgrimages Long Before Coronavirus" yang termuat di The Conversation , wabah kolera di kota suci Makkah dan Madinah pada 1858 sampai memaksa ribuan orang Mesir melarikan diri ke perbatasan Mesir di Laut Merah, di mana mereka dikarantina sebelum diizinkan kembali. Kolera menjadi “ancaman abadi” untuk sebagian besar abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ancaman itu sering mengganggu pelaksanaan haji. "Bahkan, dengan begitu banyak wabah dalam runtutan kejadian yang begitu cepat, haji sering terputus sepanjang pertengahan abad ke-19," tulis Chitwood. Oman menduga transimisi wabah kolera di Asia Tenggara terjadi melalui jemaah haji. Karenanya pada masa itu haji dianggap sebagai kegiatan yang membahayakan. "Karena memang sangat fatal," kata Oman. "Dari kerumunan penularan terjadi. Persebaran wabah ini sangat terkait aktivitas keagamaan."
- Jejak Filantropi Orang Indonesia
BERBAGI itu menyenangkan. Selama masa pandemi Covid-19 dan ekonomi sulit ini, orang menggelar banyak kegiatan berbagi secara sukarela (filantropi). Dari konser penggalangan dana sampai lelang barang. Semangat berbagi muncul dari beragam alasan dan pihak. Bisa karena alasan kemanusiaan atau keagamaan; dilakukan oleh pemerintah atau masyarakat.
- Sukarno dan Jenggot Fidel Castro
Selain Asia dan Afrika, Presiden Sukarno juga menjalin persahabatan dengan pemimpin negara-negara Amerika Latin. Pergaulan terjalin lantaran kesamaan pandangan anti kolonialisme dan imperialisme. Tidak melulu soal politik, Sukarno juga mengagumi cara berpenampilan salah satu pemimpin negara Amerika Latin yaitu Juan Peron dari Argentina. Menurut Guntur, putra sulung Bung Karno, Presiden Argentina Juan Peron adalah pemimpin dari Amerika Lartin yang paling parlente di mata Sukarno. Juan Peron memang populer bagi masyarakat Argentina. Dia menjadi presiden Argentina untuk tiga periode masa jabatan (1946—1952, 1952—1955, dan 1973—1974). Juan Peron yang berlatar belakang militer ini dikenal tampan dan berpenampilan rapi –sepertinya halnya Sukarno. Bila Juan Peron dijunjung dengan selera penampilannya yang bagus, maka berbanding terbalik dengan Fidel Castro. “Kalau yang paling ‘brengsek’ cara berpakaiannya adalah Sang ‘Maximo Lider De La Revolution De Cuba’ atau ‘Pemimpin Besar Revolusi Kuba’ Fidel Castro,” ujar Guntur dalam Bung Karno & Kesayangannya . Dalam artian, Fidel Castro sama sekali tidak peduli perkara penampilan. Hubungan diplomatik Indonesia dan Kuba telah berjalin sejak para pemimpinnya saling mengunjungi. Pada 1959, Ernesto “Che” Guevara, sahabat dan orang kepercayaan Fidel Castro berkunjung ke Indonesia sebagai wakil resmi pemerintah Kuba. Setahun berselang tepatnya 13 Mei 1960 , giliran Sukarno yang melawat ke negeri Kuba. Fidel Castro sendiri menyambut langsung Sukarno di Bandara Havana. Sukarno disambut merah. Warga Kuba berdiri di sepanjang jalan membentangkan poster bertuliskan " Viva Presiden Soekarno ". Seperti dituturkan kepada Guntur, Sukarno pernah hendak berkirim surat pribadi atau ngobrol santai dengan Fidel Castro dan juga Che Guevara. Bukan soal yang berat-berat, yang ingin diutarakan Sukarno hanyalah agar mereka mencukur kumis dan jenggotnya yang tebal. Sukarno sejatinya perhatian dengan sahabat revolusionernya dari Kuba itu. Menurut Sukarno, tanpa kumis dan jenggot, Fidel Castro dan Che Guevara akan terlihat lebih tampan. Amat disayangkan kalau ketampanan wajah mereka harus tersembunyi dibelakang kumis dan brewok nan lebat. Khususnya pada sosok Fidel Castro, yang menurut Sukarno gagah dan ganteng itu. “Justru karena karena dia itu berkumis dan brewokan maka kegagahan dan kegantengan wajahnya jadi tertutup dan inilah yang membuat dia nggak laku-laku sama wanita alias jadi bujang tua terus!” celoteh Guntur. Sukarno pada akhirnya mengurungkan niatnya mewejangi Fidel dan Che soal penampilan. Rupanya Bung Besar khawatir juga Fidel dan Che yang tempramenmya terkenal panas akan tersinggung. Selain itu, Bung Karno tidak mau merusak identitas nasional Kuba serta citra revolusionernya yang dilambangkan dengan kumis dan brewok tebal tadi. Kumis dan brewok bagi masyarakat Kuba ibarat sudah merupakan ciri khas sepertinya halnya peci hitam bagi orang Indonesia.
- Saat Ketua Masyumi Berhaji
Dampak pandemi Covid-19 kembali dirasakan masyarakat Indonesia. Kali ini pemerintah pusat, melalui Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan membatalkan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun ini. Keputusan tersebut diambil setelah melihat situasi di tanah air maupun di Arab Saudi. Keputusan Kemenag itu dituangkan dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 494 Tahun 2020 tentang pembatalan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun 1441 Hijriah. Dikutip laman Kompas , Fachrul menegaskan bahwa pembatalan ibdah haji tahun ini berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali. “Pihak Arab Saudi tak kunjung membuka akses bagi jemaah haji dari negara mana pun. Akibatnya, pemerintah tidak mungkin lagi memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan, utamanya dalam pelayanan dan perlindungan jemaah,” ungkap Menteri Agama Fachrul dalam konferensi pers virtual. Menurut Menag, pembatalan ibadah haji itu merupakan suatu keputusan yang sulit. Di satu sisi pemerintah terus berupaya agar penyelenggaraan haji tahun ini tetap berjalan, tetapi di sisi lain pemerintah harus bertanggung jawab atas keselamatan warganya dari risiko penyebaran Covid-19 yang tak kunjung membaik. “Keputusan yang pahit ini kita yakini paling tepat dan paling maslahat bagi jamaah dan petugas kita semua,” lanjut Fachrul. Soal keberangkatan ibadah haji, tokoh Masyumi Mohammad Natsir memiliki pengalaman yang tidak biasa. Bukan karena batal berangkat seperti keadaan saat ini, tetapi karena kepergiannya ke tanah suci mendapat iring-iringan yang begitu besar, melibatkan hampir ribuan orang simpatisan Masyumi dan kerabat Natsir. Dilepas Ribuan Orang Kabar keberangkatan Ketua Umum Masyumi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji segera mencuri perhatian banyak kaum Muslimin, khususnya aktivis Masyumi, di seluruh penjuru Tanah Air. Banyak aktivis Masyumi yang mengagendakan pelepasan Natsir secara langsung. Mereka berbondong-bondong datang ke tempat keberangkatan Natsir guna mendoakan keselamatan dan kelancaran perjalanannya. Diberitakan Suara Masyumi No.19 Tahun XI, 10 Juli 1956, seperti dikutip Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natisr: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan , sejak pukul 02.00 dini hari rumah Natsir telah dipenuhi oleh kerabat dan kawan-kawan yang hendak melepas tokoh Masyumi itu pada pagi harinya. Syahdan, saat acara pelepasan itu, seorang pria tua yang ada di dalam rombongan mendekati Natsir seraya berkata: “Anak Natsir. Kalau anak hanya akan pergi ke Eropa, dan lain-lain, saya tidak akan datang tengah malam ini. Akan tetapi karena anak hendak menuju tanah suci, menunaikan rukun Islam, saya tidak bisa memejamkan mata tinggal di rumah. Hati kecil saya memanggil: pergilah turut mengantarkannya”. Orang tua itu, kata Lukman, datang bersama kurang lebih 10.000 keluarga Masyumi dan Muslimat (onderbouw perempuan Masyumi). Kebanyakan dari mereka telah berdiam di lapangan terbang Kemayoran sejak malam harinya. Tidak hanya dari Jakarta, rombongan itu juga datang dari Bogor, Banten, dan daerah sekitarnya. Sementara para aktivis Masyumi yang tidak bisa melepas secara langsung memberikan doa di daerahnya masing-masing. “Di dalam rombongan Natsir, terdapat juga Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Pangeran Moh. Noor,” tulis Lukman. Sebelumnya, anggota pimpinan pusat dan anggota parlemen dari Fraksi Masyumi, K.H.M. Isa Anshary telah lebih dahulu tiba di Arab Saudi. Bersama kawan-kawannya dari Persatuan Islam A. Hassan, E. Abdurrahman, dan Tamar Djaja, Isa Anshary akan menunaikan ibadah haji. Natsir akan menyusul setelahnya. Kedua tokoh Masyumi ini nantinya akan berangkat ke Mesir untuk melihat keadaan umat Islam di sana, sebelum pulang ke tanah air. “Diharapkan semua gembong-gembong Masyumi ini telah berada kembali di Indonesia pada akhir bulan Agustus,” tulis Suara Masyumi seperti dikutip Lukman. Sebelum memenuhi kewajiban menunaikan ibadah haji di Mekah, Arab Saudi, Natsir terlebih dahulu menghadiri Muktamar Alam Islami ketiga di Damaskus, Suriah. Kegiatan itu dihadiri oleh delegasi dari negara-negara Islam, kecuali Mesir. Muktamar itu, kata Natsir, tidak hanya membahas soal negara-negara Arab saja, tetapi juga soal-soal kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk nasib mereka yang hidup di daerah jajahan atau sedang dalam perjuangan melepas penjajahan.
- Atmosfer Semu Pemain Keduabelas
APA jadinya pertandingan sepakbola tanpa atmosfer penonton? Bukan hanya manajemen tim yang rugi karena tiada pendapatan dari tiket, namun juga berpengaruh pada soal emosional dan mentalpemain di lapangan. Perkara inilah yang harus dikompromikan demi berjalannya lagi kompetisi sepakbola seluruh dunia. Yeyen Tumena, bek Timnas Indonesia periode 1995-2007 cum asisten pelatih timnas 2013, mengutarakan, bisa saja kompetisi digulirkan tanpa penontonseiring “The New Normal” di masa pandemi corona ini. Namun feel -nya akan sangat lain jika permainantak diiringi emosi penonton. “Korea, misalnya, sudah bisa jalan kompetisinya tanpa penonton. Tetapi sepakbola itu kan bukan hanya permainan teknik dan taktik,” tutur Yeyen dalam obrolan live “Bolatoria” yang dihelat Historia.id dan Bolalob.com di Facebook dan Youtube pada 15 Mei lalu.“Saya tidak bisa bayangkan kalau sepakbola tanpa penonton. Itu yang sulit kita terima. Ketika pertandingan itu tidak boleh ada penonton, ada yang hilang dari sepakbola. Karena sepakbola itu ada antusias, ada support , nyanyian, euforia, itu yang membuat sepakbola itu sangat menarik,” sambungnya. Sebagaimana diberitakan, Korea Selatan dengan K-League -nya jadi salah satu kompetisi yang melanjutkan musim ini di saat corona masih merajalela di berbagai belahan dunia. Untuk mengisi kekosongan euforia dan emosi dari “ pemain keduabelas ” itu, tribun-tribun stadion di Kore a diisi fans palsu dengan beragam cara . Klub K-League FC Seoul menggunakan sejumlah boneka seks sebagai pengganti pemain keduabelas mereka yang berujung denda (Foto: Yonhap) Salah satunya, trik yang digunakan klub FC Seoul dengan menggunakan boneka-boneka seks. Manajemen FC Seoul menganggap,penggunaan manekin-manekin yang aslinya sebagai alat pemuas syahwat itu akan lebih menarik ketimbang memajang papan-papan atau spanduk bergambar penonton biasasebagaimana yang diterapkan klub-klub K-League lain. Namun, kebijakan itu dianggap tak pantas dan melukai kaum perempuan. Alhasil, sebagaimana dikutip dari LA Times , 20 Mei 2020, FC Seoul didenda 100 juta won oleh komite disiplin K-League. “Kami meminta maaf sedalam-dalamnya terkait situasi ini. Kami aka meninjau prosedur-prosedur internal kami untuk memastikan hal ini tak terjadi lagi,” kata perwakilanFC Seoul. Sementara, di Bundesliga (liga Jerman)yang jadi kompetisi Eropa paling awal yang melakoni kick-off lagi, beberapa klub menggunakan cara konvensional dengan memajang gambar-gambar fansdi kursi penonton. Borussia Dortmundmemilih mengosongkan semua kursi namun menayangkan kerumunan fansnya di videotron di setiap sisi tribun Signal Iduna Park. Cara kreatif AGF Aarhus, klub Superligaen Denmark yang menghadirkan suporter via video conference Zoom (Foto: agf.dk ) Cara konvensional serupa tampaknya bakal ditiru liga-liga top Eropa lainyang akan menyusul menggulirkan kembali kompetisi 2019/2020: La Liga Spanyol pada 11 Juni, Premier League Inggris 17 Juni, dan Serie A Italia 20 Juni. Namun, tidak demikian dengan Superligaen Denmark. Sepertinya tiada yang lebih unik dan canggih dari cara yang ditempuh Superligaenyang sudah kembali berjalan pada akhir Mei lalu. Untuk menyiasati atmosfer semu akibat ketiadaan penonton, liga Denmarkmenghadirkan para fansnya secara live via platform konferensi video Zoom . Trik itu dianggap bisa membuat suasana lebih hidup ketimbang menghadirkan fans palsu. Beragam reaksi dari ribuan penonton bisa tetap dirasakan pemain lewat Zoom yang ditampilkan sejumlah videotron di tepi lapangan. Mural Kontroversial Arsenal Perkara pseudo fans sebetulnya bukan barang baru. Arsenal FC tercatat sebagai tim pertama yang melakoninya, 28 tahun lampau. Tentu musababnya bukan karena wabah atau pandemi, melainkan karena markasnya, Stadion Highbury, tengah direnovasi pada permulaan Premier League musim 1992/1993. Saat itu, tribun yang ditutup untuk renovasi hanya tribun belakang gawang sebelah utara sementaratribun barat, timur, dan belakang gawang sebelah selatan tetap dibuka. Diungkapkan Joshua Robinson dan Jonathan Clegg dalam The Club: How the English Premier League Became the Wildest, Richest, Most Disruptive Force in Sports , tribun utara itu mulai dipermak pada Agustus 1992 dan baru selesai pada Juli 1993. Untuk menutup tribun yang tengah dikonstruksi sepanjang musim, manajemen menutupnya dengan mural kerumuman delapan ribu suporter berbahan vinyl yang memakan dana 150 ribu poundsterling. “Musim pembuka Premier League 1992/1993 akan disiarkan secara langsung oleh televisi dan Highbury dirasa tak boleh terlihat berantakan di hadapan semua kamera. Wakil ketua klub David Dein dan direktur Ken Friar mencetuskan ide menghadirkan delapan ribu wajah suporter dalam bentuk poster setinggi 35 kaki dan lebarnya menutupi konstruksi,” tulis Robinson dan Clegg. Sektor North Bank atau tribun utara Stadio Highbury yang tengah dibongkar ditutupi poster (Foto: Twitter @EastStandArt) Beberapa pemain merasa aneh dengan keputusan itu. Tampil di hadapan penonton dari benda mati tentutanpa reaksi jika mereka mencetak gol. “Tetapi setidaknya saya tidak disoraki dengan ejekan saat berbuat kesalahan,” kata bek Lee Dixon, dikutip Robinson dan Clegg. Pilar pertahanan Arsenal lainn, Steve Bould, malah menganggap poster yang menutupi tribun utara itu seolah merupakan pembawa sial. Pasalnya, di laga kandang pertama pada 15 Agustus 1992,Arsenal keok 2-4 saat menjamu Norwich City. “Mural di tribun (utara) itu terasa aneh –semua wajah bisu yang terlukis menatap permainan Anda. Pertandingan pertama kami sempat unggul 2-0, tetapi pada akhirnya kalah 4-2 dan buat saya itu imbas dari tampil di depan mural aneh itu,” paparnya, disitat The Sun , 24 Mei 2020. Pendapat berbeda keluar dari mulut penyerang gaek Alan Smith. “Orang-orang menganggap ada kutukan pada mural itu. Butuh enam laga sampai akhirnya kami bisa mencetak gol ke gawang yang berada di sisi mural itu lewat gol sundulan Ian Wright saat melawan Manchester City (28 September). Jadi yang jelas mural itu bukan kutukan, namun memang sangat janggal rasanya tak merasakan sorakan dukungan yang nyata dari tribun itu,” ujar Smith, dikutip Jon Spurling dalam Highbury: The Story of Arsenal In N.5. “Walau begitu saya merasa adanya mural di sana lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Setidaknya mural itu memberi suasana lebih intim. Memang performa kami di musim itu tidak maksimal, namun bukan berarti gara-gara ketiadaan penonton di tribun utara itu,” sambungnya. Sayangnya poster/mural itu mengundang kontroversi karena meniadakan gambar suporter berkulit hitam (Foto: Twitter @classicsshirts) Atmosfer semu yang dirasakan pemain dari mural di tribun utara itu bukan soal utama yang menjadikannya kontroversial. Yang paling dipermasalahkan adalah keragaman sosok penonton di mural itu. Padahal, Arsenal dikenal sebagai salah satu klub kosmopolitan dan banyak pemain lokal maupun asingnya berkulit hitam. “Mural Highbury itu sungguh kontroversial dan merupakan suatu hal yang memalukan bagi fans Arsenal. Absennya wajah-wajah berkulit hitam di mural itu merupakan kegagalan dalam merefleksikan basis fans klub yang sebenarnya,” ungkap Paul Brown dalam Savage Enthusiasm: A History of Football Fans . “Fans setia mereka bukan merasa tergantikan tapi justru merasa seperti diusir dari pertandingan. Sebuah survei fans yang dirilis Desember 1992 menyatakan, sebagian besar fans menganggap klub menghilangkan hak mereka untuk eksis, mengeksploitasi, dan membuang fans,” tambahnya. S ebagai salah satu petinggi klub , David Dein akibatnya mendapat protes langsung dari salah satu pemain kulit hitam Arsenal . “Kevin Campbell datang pada saya dan mengatakan: ‘Tuan Dein, tidak ada sama sekali saudara-saudara (berkulit hitam) saya di mural itu . ’ Saya kaget dan baru menyadari bahwa dia benar. Dengan bodohnya kami tidak menyadari itu sebelumnya. Saat itu juga kami langsung memperbaikinya,” tandas Dein.
- Sejarah Salad nan Sehat
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
- Batik ala Bung Karno
SUDAH rahasia umum apabila Presiden Sukarno bukan hanya cakap dalam berpolitik melainkan pula mumpuni dalam soal seni. Bakat seninya sudah tampak sejak kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB). Hampir semua bidang seni menjadi perhatian khusus Sukarno. Mulai dari seni dua dimensi seperti lukisan, batik, hingga seni tiga dimensi seperti patung dan karya arsitektur. Soal batik, Sukarno pernah melontarkan gagasan soal batik Indonesia. Bung Besar menginginkan batik yang menampilkan nilai seni budaya sebagai jati diri bangsa sekaligus menyuarakan pesan persatuan Indonesia; sehingga batik di kemudian hari tidak lagi dikenal sebagai batik dari daerah penghasil batik tetapi batik yang mencerminkan persatuan Indonesia. "Bung Karno memerintahkan kepada Go Tik Swan untuk menemukan batik Indonesia," kata Yuke Ardhiati, arsitek sekaligus pengajar di Universitas Pancasila, dalam diskusi virtual bertema "Bung Karno Sang Arsitek" yang dihelat Historia.id , Selasa, 2 Juni 2020. Go Tik Swan atau Panembahan Hardjoanagoro semula adalah penari yang kemudian menjadi pengusaha batik di Surakarta. Go Tik Swan sebagai sampul buku Indonesia dan Sang Empu . Batik Indonesia Kedekatan Sukarno dengan Go Tik Swan tidak dibina dalam semalam. Perkenalan itu dimulai saat Dies Natalis Universitas Indonesia yang ke-5, jatuh pada 9 Februari 1955. Kala itu, Go Tik Swan bersama-sama mahasiswa lainnya mengadakan pementasan tari Gambir Anom di Istana Negara. Tari Gambir Anom adalah sebuah repertoar tari gaya Surakarta yang bertema gandrung (asmara). Sukarno yang hadir pada malam itu menonton pertunjukan hingga rampung dan terkesan kepada Go Tik Swan. Sejak itulah, keduanya akrab dan Bung Besar kerap meminta bantuan Go Tik Swan untuk melayani tamu-tamu negara yang berkunjung di Istana Merdeka. Semakin lama Sukarno paham bahwa Go Tik Swan adalah keturunan keluarga pengusaha sekaligus pembatik. Rustopo dalam bukunya Menjadi Jawa: orang-orang Tionghoa dan kebudayaan Jawa di Surakarta 1895-1998 , menerangkan bahwa Go Tik Swan adalah keturunan dari Tjan Sie Ing yaitu seorang pemuka Tionghoa sejak zaman Pakubuwana IX dan X yang mendapat pangkat Luitenant der Chinezen van Surakarta oleh pemerintah kolonial Belanda. Maka, ketika Sukarno meminta Go Tik Swan untuk membuat batik Indonesia, ia bukan sembarang pilih orang. Sukarno menginginkan batik baru yang bukan batik Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Lasem, atau Cirebon. "Ketika mendengar permintaan itu, Pak Go Tik Swan sempat panas dingin. Beliau akhirnya mencari ke beberapa daerah," ungkap Yuke yang menulis buku Bung Karno Sang Arsitek. Pemuda Tionghoa kelahiran 11 Mei 1931 ini pun melakukan penelitian ke seantero sentra-sentra batik. Dari Surakarta, ia menuju sentra batik di Palmerah, Jakarta, lalu ziarah ke makam Luar Batang. Kemudian ia meneruskan ke utara dan ke timur menuju Cirebon dengan berkunjung ke sentra batik milik Haji Madmil dan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Go Tik Swan meneruskan perjalanan ke Pekalongan, lalu terus ke Demak dan ziarah ke makam Sunan Kalijaga. Ia melanjutkan perjalanan hingga Tuban dan menyepi di makam Sunan Bonang lalu kembali ke Surakarta. Upaya "laku" ini ternyata belum mendapatkan hasil. Go Tik Swan bahkan sempat ke Bali bersama Tjan Tjoe Sim, ahli sastra Jawa, ke rumah pelukis Walter Spies. Ia masih buntu. Hingga suatu ketika Go Tik Swan menerima wahyu. Batik karya Go Tik Swan yang dibuat tahun 1964, koleksi Iwan Tirta. ( dgi.or.id ) Menurut Wenda Widyo Saksono dalam skripsi berjudul Peranan Go Tik Swan Hardjonagoro dalam Mengembangkan Batik di Surakarta 1955-1964 , pada suatu malam, ketika Go Tik Swan duduk sendirian di bagian depan rumah (pendapa) yang setengah terbuka, dari jauh kelihatan bulan bergerak menuju kehadapannya. Bulan itu semakin dekat, semakin besar, sinarnya semakin terang. Sampai di hadapannya sinar bulan itu pecah dan hilang masuk ke dalam tubuh Go Tik Swan. Setelah peristiwa itu, Go Tik Swan sudah memiliki "wujud" batik Indonesia sesuai permintaaan Sukarno dan mulai memproduksinya di Kratonan 101. "Akhirnya Go Tik Swan menemukan bahwa batik Indonesia adalah perpaduan batik klasik dan batik pasisiran. Perpaduannya lewat warna. Batik klasik warnanya cokelat hitam dan kebiruan, sedang batik pasisiran kaya warna. Sejak itu, semua anak dan istri Bung Karno dibikinkan batik Indonesia oleh Go Tik Swan," ujar Yuke. Di sini nyata terlihat Sukarno sebagai pemberi ide atau penggagas mampu menggugah seorang seniman seperti Go Tik Swan untuk membuat karya, dalam hal ini batik, dengan napas keindonesiaan. "Batik Indonesia yang digagas Sukarno ini sangat indah. Batik ini bisa dibuat lagi oleh pembatik masa kini," pungkas Yuke.
- Akar Sejarah Yogurt
Kata ‘yogurt’ berasal dari bahasa Turki, bermakna ‘yang akan dibekukan atau digumpalkan’. Berkembang ke seantero jagad karena dipandang sebagai makanan sehat.
- Suara Angklung dari Timur
DI bawah guyuran hujan, ratusan pelajar dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas adu kebolehan di atas panggung. Mereka berusaha tampil atraktif dan penuh semangat dalam memainkan angklung. Berlompatan di atas panggung, atau melompat sambil memukulkan dua kentongan bambu sehingga menghasilkan tampilan unik. Bukan hanya permainan musik yang rancak. Mereka juga beradu menebak dan menembang gending (lagu) asli Banyuwangi seperti Thong-thong Bolong, Padang Ulan, Mak Ucuk, Pethetan, Bang Cilang-Cilung, Peteg-peteg Suku, dan Untring-untring. Tak ketinggalan pula jogedan dan celotehan-celotehan lucu yang mengocok perut penonton. Para penonton pun senang dan tertawa menyaksikan aksi para peserta Festival Angklung Caruk Pelajar di Gesibu, Banyuwangi, awal 2018. Angklung caruk adalah salah satu kesenian khas yang tumbuh di masyarakat Banyuwangi. “Caruk” artinya bertemu. Sekurang-kurangnya dua kelompok saling caruk untuk bertanding memainkan angklung. Mereka juga memiliki suporter untuk memberi dukungan jagoannya dan menjatuhkan mental lawan. Festival Angklung Caruk merupakan salah satu acara yang masuk dalam agenda wisata tahunan Banyuwangi Festival. Setelah angklung caruk, beberapa bulan kemudian giliran Festival Angklung Paglak digelar di hamparan hijau Bandara Banyuwangi. Dalam festival ini, para pemusik berusaha menghasilkan alunan musik yang terbaik. Mereka unjuk kemahiran memainkan angklung di atas paglak atau menara bambu. Semakin kencang pukulannya, menara bambu ikut bergoyang kian kencang. Inilah ciri khas kesenian ini. ”Angklung paglak adalah salah satu kesenian tertua di Banyuwangi. Ini kearifan lokal warga yang luar biasa. Kita ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan masa lalu, tapi masa depan,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di laman Pemkab Banyuwangi. Ekspresi Pak Tani Banyak orang mengenal angklung berasal dari daerah Jawa Barat. Alat musik bambu yang kini terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO ini lekat dengan orang Sunda. Namun, angklung ternyata juga berkembang di ujung timur Jawa. Jika angklung Sunda dijinjing dan digoyang untuk memainkannya, angklung Banyuwangi harus diletakkan atau disangga dengan perut dan dimainkan dengan cara dipukul. Ukurannya juga lebih besar dan terdiri dari dua angklung yang berpasangan. Penyangganya berukir naga atau kepala Gatotkaca. Tak diketahui sejak kapan angklung muncul, baik di tatar Sunda maupun Banyuwangi. Alat musik bambu memang telah digunakan dalam berbagai kebudayaan Nusantara pra-Hindu. Berkembang di berbagai daerah dan menemukan bentuknya sendiri. Paul Arthur Wolbers dalam “Gandrung and Angklung from Banyuwangi: Remnants of a Past Shared with Bali” di jurnal Asian Music Vol. 18 No. 1 tahun 1986 menyebut instrumen bambu di Banyuwangi awalnya berbentuk seperti kentongan yang dipasang pada paglak . Kentongan ini digunakan sebagai alat komunikasi antardesa serta untuk mengusir harimau dan hantu. Bambu sebagai alat musik tampaknya kemudian digunakan dalam upacara panen padi. Perkusi bambu menjadi pengiring ritual sekaligus hiburan bagi para petani. Sedangkan dari bentuknya, Wolbers menyebut angklung Banyuwangi memiliki hubungan dengan gamelan angklung dari Bali. “Beberapa xilofon bambu ada di Jawa, tapi tak ada yang mendekati bentuk keseluruhan dari angklung Banyuwangi. Satu-satunya instrumen yang terlihat mirip adalah grantang langka dari Bali,” sebut Wolbers. Grantang pernah memainkan peran dalam angklung gamelan Bali yang dapat dibandingkan dengan orkestra angklung dari Banyuwangi. Kemunculan kesenian angklung tak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Osing saat musim panen. Alat musik dari bambu dimainkan di atas paglak sebagai undangan dari pemilik sawah kepada warga agar ikut membantu sekaligus menghibur para petani. Selain itu, alunan musik angklung juga berguna untuk mengusir burung. Menurut Budhisantoso dkk dalam Pola Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Using di Kabupaten Banyuwangi Propinsi Jawa Timur , masyarakat Osing menyebut tradisi saat panen itu sebagai upacara “ngampung”. Para petani yang mampu biasanya nanggap kesenian “angklung sawahan” atau istilah yang lebih populer angklung paglak. “Kesenian ‘angklung sawahan’ ini dipertunjukkan di lokasi sawah yang sedang panen sehingga menambah suasana gembira dan semangat kerja bagi pemanen,” tulis Budhisantoso dkk. Ragam Angklung Dari permainan yang sederhana, angklung berkembang menjadi sebuah kesenian yang bisa digunakan untuk mengiringi sebuah tarian. Di Desa Kemiren, terdapat dua jenis kesenian angklung, yakni angklung pelangi sutra dan angklung caruk. Angklung pelangi sutra menampilkan tarian yang dibawakan beberapa orang dan diselingi lawakan –juga sandiwara bila diminta. Sedangkan angklung caruk mempertandingkan kebolehan para pemain dari sekurang-kurangnya dua kelompok seni. Dalam angklung caruk juga disajikan tarian seperti tari jangeran, tari gandrungan, cakilan, hingga kuntulan. Menurut Wolbers, latar belakang angklung caruk dapat ditemukan dalam beberapa tradisi yang telah punah. Salah satunya adalah tarian tarung menggunakan tongkat rotan yang dimainkan selama musim kemarau di beberapa daerah di Jawa Timur. Permainan ini diiringi oleh sekolompok pemusik. Di dekat Banyuwangi, pernah pula terdapat gitikan , hiburan yang menampilkan dua lelaki berusaha saling memukul dengan cambuk panjang terbuat dari serat daun kelapa. Pertunjukan itu diiringi oleh dua angklung yang repertoar musiknya sama dengan gandrung . “Kebiasaan lain yang mungkin telah berkontribusi pada angklung caruk ditemukan dalam apa yang Pigeaud sebut prang desa , ‘perang desa’," sebut Paul Arthur Wolbers dalam “Account of Angklung Caruk July 28, 1985” di jurnal Indonesia April 1987. Ayu Sutarto dalam makalahnya pada acara Jelajah Budaya berjudul “Sekilas tentang Masyarakat Using” menyebut angklung caruk berasal dari kesenian legong Bali. “Kecepatan irama musik dan lagu-lagu yang dimainkannya sangat dipengaruhi oleh nuansa musik angklung ritmis dari Bali. Namun dalam kesenian ini terdapat juga perpaduan antara nada dan gamelan slendro dari Jawa yang melahirkan kreativitas estetik,” tulis Ayu. Namun, Ayu memasukkan angklung caruk sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai “angklung daerah” yang bisa dipakai untuk mengiringi gending (lagu) dan tari. Jenis angklung daerah adalah angklung paglak, angklung caruk, angklung tetak, angklung dwi laras, dan angklung Blambangan. Angklung tetak merupakan pengembangan dari angklung paglak, dengan perubahan pada bahan instrumen dan nada. Angklung dwi laras merupakan pengembangan dari angklung tetak. Disebut angklung dwi laras karena angklung jenis ini menggabungkan komposisi dua nada, yaitu laras pelog dan laras slendro. Sementara angklung Blambangan merupakan pengembangan terakhir angklung di Banyuwangi. Ada beberapa gending yang biasa dimainkan dalam angklung daerah. Antara lain Jaran Ucul, Tetak-tetak, Gelang Alit, Mak Ucuk, Sing Duwe Rupo, Congoatang, Ulan Andung-andung, Mata Walangan, Ngetaki, Selendang Sutera, dan Padhang Ulan. Angklung dan Genjer-genjer Ada varian kesenian angklung yang pernah berkembang pada 1950-an. Ia disebut angklung modern tapi lebih dikenal sebagai genjer-genjer. Nama ini bukan hanya merujuk pada judul lagu Genjer-genjer. Melainkan digunakan sebagai sebutan untuk setiap gubahan dari sebuah kelompok angklung bernama Sri Muda. Bahkan Sri Muda sebagai kelompok musik pun sering disebut sebagai Genjer-genjer. Dalam Lekra Tak Membakar Buku, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan menyebut, Sri Muda merupakan kelompok angklung modern yang populer pada 1950-an hingga 1960-an. Ia bermula dari organisasi yang bergerak di bidang khusus angklung caruk yang dibentuk tahun 1954 dengan nama Sri Tanjung. Dari Sri Tanjung, lahir konsepsi musik angklung baru. Kematangan revolusioner Sri Tanjung kian meluas dan membumi. Mereka mendorong para pemuda untuk menggunakan angklung sebagai senjata dalam bermusik. “Sri Tanjung pun lebur menjadi Sri Muda (Seni Rakyat Indonesia Pemuda). Lagu-lagu yang dibawakannya, terutama ciptaan Arief (Muhammad Arief, pencipta lagu Genjer-genjer, -red ), masih disukai. Bukan saja karena iramanya yang khas, tapi juga isinya progresif,” sebut Rhoma dan Muhidin. Lagu Genjer-genjer menjadi yang paling populer. Dari situlah Genjer-genjer bergeser menjadi sebutan konsepsi angklung modern Sri Muda dan sebutan untuk Sri Mudanya sendiri. Pada 1960-an berkembang pula tarian padangulan atau kadang disebut tari angklung. Diciptakan dari kebiasaan masyarakat Banyuwangi, terutama yang berdiam di sekitar pantai, beramai-ramai keluar rumah dan berjalan-jalan di pantai bila bulan purnama. Gerak dasar tarian banyak mengambil unsur pada pertunjukan gandrung, baik dari penari gandrung maupun pemajunya. Ditarikan anak laki-laki dan perempuan dengan perpasangan. Jumlah pasangan tidak terbatas. Menurut buku Ensiklopedi Tari Indonesia , t arian padangulan dipopulerkan tahun 1964. Semula digarap Wim Arimaya, seorang penari di daerah itu. Pada mulanya banyak mengambil unsur-unsur gerak tarian Melayu. Lalu disempurnakan hingga mencapai bentuknya sekarang oleh seniman-seniman tari muda, antara lain Sumitro Hadi. Setelah 1965, stigma negatif membuat redup dunia perkembangan kesenian angklung di Banyuwangi. Namun perlahan ia kembali muncul dan populer sebagai hiburan atau tontonan pada acara hajatan seperti perkawinan, khitanan, atau perayaan lainnya. Kini, lebih dari setengah abad setelah masa kejayaan angklung modern, berbagai festival angklung diadakan di Banyuwangi. Dari Fertival Angklung Caruk Pelajar hingga Festival Angklung Paglak yang dimainkan di atas menara bambu paglak diadakan untuk membangkitkan kembali tradisi angklung dari timur ini. Angklung paglak khas Banyuwangi yang telah mendarah daging nantinya juga melahirkan kesenian musik lokal semacam Kendang Kempul.





















