top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kartini dan Sekolah Bidan

    DALAM tur keliling Jawanya untuk memulai pendirian sekolah bagi kaum putri, Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda Jacques Hendrij Abendanon sempat mampir ke rumah Bupati Jepara Sosroningrat. Kunjungan Abendanon itu atas usulan penasihat pemerintah kolonial Christian Snouck Hurgronje. Menurut Hurgronje, putri Bupati Sosroningrat cukup terkenal karna berani melanggar feodalisme Jawa dan punya ide untuk menyediakan pendidikan bagi anak perempuan. Saran Hurgronje terbukti. Dalam pengantarnya di buku surat-surat Kartini, Door Duisternis tot Licht,  Abendanon mengaku perkenalan dan keramahan keluarga Sosroningrat membuatnya cukup tercengang. Pada kesempatan berikutnya, Abendanon mengundang Kartini dan keluarganya ke Batavia. Dalam sebuah pertemuan Kartini berbincang dengan direktur HBS untuk perempuan Van Loon. Hasilnya, Van Loon bersedia membantu Kartini bila ia hendak meneruskan pendidikan di sekolahnya.

  • Om Kacamata di Banda Neira

    SUATU sore di Teluk Neira, Maluku, tahun 1936, sekumpulan bocah laki-laki tengah sibuk bermain menikmati mentari senja. Des Alwi Abubakar, kala itu usianya belum genap 10 tahun, ada di antara mereka yang memanjakan diri berenang menembus ombak laut khas Banda. Kelak nama Des Alwi akan dikenal sebagai seorang sejarawan, advokat dan diplomat. Kesenangan bocah-bocah itu terganggu saat seorang penjaga pelabuhan memperingatkan akan datangnya kapal yang berlabuh ke arah mereka. Kapal putih berbendera Belanda tiba. Dua orang tidak dikenal, mengenakan stelan jas (krem) lengkap dengan sepatu putih, turun. “Tuan-tuan itu berwajah pucat,” kenang Des Alwi seperti diungkapkan dalam Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman . Dua orang itu kemudian mendekati Des dan kawan-kawan. Tuan yang tubuhnya lebih pendek menanyakan rumah Tjipto Mangoenkoesoemo, sementara tuan berkacamata hanya diam tersenyum. Berhubung rumah Tjipto jauh, Des menunjukkan rumah Iwa Koeseomasoemantri. Posisinya tepat di depan dermaga. Rupanya tuan-tuan pucat itu adalah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Mereka baru saja dipindah dari Boven Digul, sebuah tempat pembuangan orang-orang republik yang anti pemerintah kolonial Belanda. Bung Hata dan Bung Sjahrir akan bergabung dengan Tjipto dan Iwa yang sudah sejak 1928 dibuang ke Pulau Banda. Hari-hari mereka di pembuangan tidak sesepi yang dibayangkan. Des dan kawan-kawannya sering bermain di sekitar rumah Hatta-Sjahrir sehingga meramaikan kediaman besar itu. Bocah-bocah Banda ini cepat dekat dengan keduanya. Bung Sjahrir mendapat sapaan “Om Rir”, sedangkan Bung Hatta akrab disapa “Om Kacamata”. Sapaan Om Kacamata ada karena Bung Hatta tidak pernah melepas benda itu, kecuali ketika tidur. Anak-anak menilai Bung Hatta orang yang kaku, pendiam, dan sangat bertolak belakang dengan sifat kawannya Om Rir. Banyaknya koleksi buku juga membuat hari-hari Om Kacamata hanya diisi dengan membaca dan berdiskusi. Dari pertemuannya dengan Om Kacamata dan Om Rir, Des Alwi menerima pengetahuan yang begitu luas. Ia belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis, di samping berbagai pelajaran ilmu politik yang memang menjadi keahlian dua tokoh pendiri bangsa tersebut. Tak lupa, Des dan anak lain diajarkan tentang berhitung, sejarah, serta etika. Kedekatan itu belakangan membuat dua Bung akhrinya meminta izin kepada Raja Baadilla, tokoh Banda keturunan Arab, untuk menjadikan Des dan yang lainnya sebagai anak angkat. Raja Baadilla dan keluarga anak-anak pun setuju. Des, Does, Lily, Mimi, dan Ali resmi menjadi anak angkat Bung Hatta dan Bung Sjahrir. “Om Kacamata dan Om Rir membunuh rasa bosan yang mengigit dengan bermain gundu, sepakbola, mendaki gunung, memetik kembang anggrek, atau menikmati bulan putih di langit malam Banda.” Pada 31 Januari 1942, turun perintah untuk memulangkan dua Bung ke Jakarta. Pesawat kecil jenis Catalina disiapkan dekat Dermaga Neira. Sebelum berangkat, Bung Hatta mengajukan satu syarat kepada pemerintah Hindia Belanda: membawa serta anak angkatnya ke Jakarta. Permintaan itu dikabulkan. Namun menjelang keberangkatan, pesawat tidak mampu menahan berat semua penumpangnya. Akhirnya disepakati, Des tinggal dulu untuk menjaga peti-peti buku Bung Hatta yang belum sempat terangkut. Satu anak lagi yakni Does batal ikut karena orangtuanya keberatan. Tiga bulan kemudian, Des menyusul ke Jakarta. Ia lalu tinggal di kediaman Om Kacamata.*

  • Aksi Nommensen di Tanah Batak

    MALAPETAKA yang terjadi akibat epidemi kolera di Tanah Batak sungguh mengerikan. Saat itu, angka kematian pada anak-anak sangat tinggi. Kampung-kampung yang tercemar wabah terasa mencekam bahkan ada yang ditinggalkan penghuninya. Sebagian besar keluarga memiliki lebih banyak anak di kuburan daripada di rumah. Diperkirakan, tiga perempat dari populasi anak yang dilahirkan telah meninggal sebelum usia delapan tahun. Demikianlah catatan Ludwig Ingwer Nommensen dalam suratnya tertanggal 5 Juli 1875 yang menggambarkan situasi di kawasan Batak Toba, Tapanuli Utara. Nommensen adalah misionaris zending  utusan dari Seminari  Rheinische Missionsgesellschaft  (RMG) di Wupertal-Barmen, Jerman. Dia bertugas menjadikan Tanah Batak sebagai ladang penginjilan. Ketika Nommensen memulai pekabaran Injil, penyakit menular yang disebut rakyat setempat “ Begu Atuk”  tengah mewabah. Selain Nommensen, koleganya Peter Henrich Johannsen juga menyaksikan keadaaan yang sama pilu. Johannsen melaporkan sekira 20–30 orang meninggal setiap hari di Lembah Silindung. Orang tua yang depresi bahkan melakukan bunuh diri karena kehilangan anak-anak mereka. Apa yang sebenarnya terjadi di Tanah Batak? Krisis Kesehatan Menurut sejarawan Belanda Sita van Bemmelen yang meneliti surat-surat Nommensen, epidemi kolera 1875 mungkin sangat ganas tetapi penyakit lain juga datang silih berganti. Wabah disentri, tipus, dan cacar terjadi secara teratur dan sering mengamuk selama berbulan-bulan. Krisis kesehatan itu ternyata bertemali dengan gejolak agresi yang memasuki Tanah Batak Invasi pasukan Padri sekitar 1839 dan pendudukan tentara Belanda pada 1878, 1883, dan 1889 berdampak negatif terhadap situasi kesehatan. Hal ini dikarenakan persediaan makanan di kampung-kampung sering disita oleh musuh. Banyak orang mengalami demam terus menerus, mengurangi resistensi mereka terhadap penyakit. “Anak-anak remaja sangat rentan. Di samping penyakit yang disebutkan di atas, mereka juga meninggal karena campak, batuk rejan, dan cacar air,” tulis Sita dalam Christianity, Colonization, and Gender Relations in North Sumatra . Nommensen melihat langsung betapa buruknya tingkat kesehatan orang Batak. Pada 1866, di seluruh Lembah Silindung, ribuan anak sekarat karena cacar air. Banyak dari mereka yang sakit itu mencari pertolongan ke Huta Dame, kampung Kristen yang dibangun Nommensen. Sang misionaris menyadari Batakmission  yang dirintisnya mesti berpartisipasi dalam menghadapi krisis itu. Untuk itu, sekolah Kristen Batakmission  yang didirikannya beralihfungsi menjadi balai kesehatan. “Dia terbukti sebagai seorang diakon Kristen sejati dalam pelayanannya kepada orang sakit, mengorbankan waktu tidur yang sangat dibutuhkan untuk merawat mereka agar kembali sehat,” tulis Martin E. Lehman dalam Biographical Study of Inger Ludwig Nommensen 1834--1918: Pioneer Missionary to The Bataks Sumatra . Mengobati Orang Sakit Nommensen menggunakan terapi homeopati dalam pelayanan kesehatannya. Metode homeopati merupakan pengobatan alternatif yang menggunakan larutan dari bahan alam, baik berasal dari hewan maupun tumbuhan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Dalam surat-menyuratnya yang diterbitkan berkala RMG, Nommensen menjelaskan bagaimana cara mengatur distribusi obat homeopati  di wilayah Silindung. “Nommensen, yang sangat tertarik dalam perawatan kesehatan dan ahli dalam perawatan homeopati, melaporkan bahwa kematian yang tinggi juga disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang perawatan anak yang tepat dan perawatan orang sakit,” tulis Sita van Bemmelen. Perawatan ala Nommensen bukan tanpa hasil. Menurutnya angka kematian diantara kampung Kristen lebih rendah daripada populasi Batak tradisional. Perbandingan ini dapat ditilik dari catatan daftar kelahiran dan kematian. Yang menarik, pelayanan kesehatan juga telah memberikan dampak sosial perihal kemanusiaan. Orang-orang dari Toba ikut berdatangan ke Silindung lantaran daerah itu telah bebas dari praktik perbudakan. Dalam misi penginjilannya, Nommensen memang aktif menebus hatoban  (budak ) untuk disekolahkan. Ketika kolera mewabah pada 1870-an, Nommensen tetap menggiatkan pelayanan medis. Dalam bukunya Tuanku Rao Mangaraja Onggang Parlindungan Siregar mencatat, Nommensen ditemani Raja Pontas Lumbantobing –raja Batak pertama yang memeluk Kristen– berkelliling menjalankan sanitasi kontrol di Huta Dame dan Sait ni Huta. Di Toba dan Silindung, hanya dua kampung itu saja yang bebas dari wabah kolera. “Ribuan orang-orang Silindung, Humbang, dan Toba, mendadak datang kepada Pendeta Nommensen untuk mencari perlindungan terhadap kolera. Oleh Pendeta Nommensen tidak satu pun yang ditolak,” tulis Parlindungan Siregar. Epidemi kolera memberi ruang bagi para misionaris Batakmission  turut serta dalam aktifitas pelayanan kesehatan. Mereka merawat orang sakit, menyalurkan obat-obatan, dan mengajarkan pengetahuan kesehatan. Menurut Guru Besar Teologi Jan Sihar Aritonang, para misionaris mulai melihat bahwa pelayanan kesehatan adalah salah satu kegiatan terbesar mereka. Pelayanan ini sekaligus membendung pengaruh datu  (dukun Batak) yang oleh misionaris dianggap keliru, baik dari sudut pandang kedokteran maupun iman Kristen. “Untuk itu, di Seminari Pansur Napitu, dan sebelumnya di Sikola Mardalan-dalan (di Silindung), para siswa diberikan studi medis agar mereka dapat memberikan beberapa layanann kesehatan di tempat kerja mereka,” tulis Jan Sihar Aritonang dalam Mission School in Batakland, 1861—1940 . Begitu banyak orang-orang Batak yang merasakan manfaat dari pelayanan kesehatan. Dengan demikian, mereka bersedia pula dibaptis. Pada masa-masa gejolak epidemik kolera, Martin Lehman mencatat, cukup banyak tokoh berpengaruh, seperti raja-raja lokal maupun tetua adat yang berpindah keyakinan dari agama tradisional menjadi Kristen. Misi Kristen rintisan Nommensen kian maju dan meluas. Sekolah dan gereja semakin banyak menghimpun orang-orang Batak sebagai jemaat. Pada 1901, rumahsakit pertama di wilayah Batak Toba didirikan oleh Batakmission  di Pearaja, Silindung. Tanah Batak yang tadinya dilanda banyak wabah penyakit itu kini memulai abad baru menuju peradaban modern.*

  • Di Balik Lambatnya Kasus Covid-19 di Bali

    ALKISAH di dalam pewayangan, tersebutlah sebuah Kerajaan Amarta yang sedang mengadakan upacara selamatan. Kresna hendak menghadirinya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan pasukan raksasa, balatentara Durga. “Hey, kamu para tentara Durga hendak ke mana?” tanya Kresna. Rupanya para raksasa itu dalam perjalanan menuju Kerajaan Chedi. Orang-orang di kerajaan itu sudah lupa bersembahyang dan melakukan upacara. “Kami diperintahkan oleh Durga untuk menghancurkan kerajan itu dan membuat mereka sakit,” jawab raksasa. “Berapa kamu minta penduduk di sana untuk kamu buat sakit dan mati?” tanya Kresna lagi. “Hanya seribu,” jawab raksasa. Kresna lalu melanjutkan perjalanan ke timur, ke arah Amarta. Sementara pasukan raksasa juga berangkat untuk melaksanakan tugasnya. Selesai acara di Amarta, Kresna kembali ke kerajaannya. Para raksasa juga pulang setelah selesai menunaikan perintah Bhatari Durga. Mereka bertemu lagi di jalan. “Hey raksasa, mengapa kalian membunuh 5.000 orang? Katanya hanya 1.000?” tanya Kresna. “Sebenarnya kami tetap membunuh 1.000. Tetapi 4.000 lainnya mati karena lari ketakutan. Mereka mati karena tak mengikuti perintah dari raja,” jawab raksasa. Kisah itu dituturkan oleh dalang I Gede Wiratmaja Karang yang juga dosen Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar dan guru SMKN I Bangli, dalam diskusi “Eksistensi Wabah: Fakta Masa Lampau Hadir pada Masa Kini”, yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) melalui aplikasi Zoom di Jakarta, Selasa (21/4/2020). Di balik cerita itu, mungkin tersimpan jawaban mengapa kasus Covid-19 di Bali relatif lebih lambat dibandingkan wilayah lain. I Gede Wiratmaja Karang menjelaskan bagi orang Bali, ada empat guru utama ( catur guru ) yang harus dipatuhi, yaitu pendeta sebagai guru pengajian , pemerintah sebagai guru wisesa , apa yang termuat dalam kitab sebagai guru swadhyaya , dan orangtua sebagai guru rupaka . “Itu ( catur guru , red.) patuhi saja. Kita tetap waspada, tidak usah dibesar-besarkan, hadapi dengan tenang, ikuti aturan yang sudah ditetapkan pemerintah, pasti berhasil,” katanya. Selama hampir tiga bulan pandemik Covid-19, pada 21 April 2020 di Bali tercatat 150 orang postif, 42 orang sembuh, dan tiga orang meninggal dunia. Minimnya kasus Covid-19 di Bali bahkan sempat menjadi perhatian media asing. John Mcbeth memberitakannya lewat tulisan berjudul “Bali’s mysterious immunity to Covid-19” di asiatimes.com. “Dua kematian Covid-19 di pulau itu sejauh ini adalah orang asing, termasuk seorang perempuan Inggris dengan masalah kesehatan yang mendasarinya,” tulisnya. Sementara itu, per 21 April 2020 di seluruh Indonesia tercatat 7.135 orang positif, 842 orang sembuh, dan 616 orang meninggal dunia. Mcbeth menulis keheranannya melihat di Bali tak ada cerita luapan pasien di rumah sakit. Peningkatan jumlah yang tajam di krematorium atau bukti lainnya yang bisa menunjukkan merajalelanya virus ini di pulau itu juga tak tampak. Padahal dari 4,2 juta populasi di Pulau Dewata, ribuannya adalah warga negara asing. Lambatnya kasus Covid-19 di Bali pun disebut sebagai fenomena “kekebalan yang misterius” oleh media asing itu. Bagaimana cara orang Bali mempertahankan diri dari wabah penyakit menjadi menarik. Mengingat pulau itu adalah tujuan wisata dari seluruh dunia. Ditambah lagi, berdasarkan keterangan Mcbeth, jumlah kedatangan wisatawan Tiongkok ke Bali meningkat sebesar 3 persen pada Januari 2020. Itu adalah bulan yang sama ketika Wuhan menetapkan kebijakan lockdown.   Kepercayaan tentang Wabah I Gede Wiratmaja Karang menjelaskan bagaimana orang Bali pada masa lalu dan kini menyikapi dan melawan wabah. Wabah oleh orang Bali disebut dengan sasab atau grubug.   Istilah sasab  diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya terkunci dan tersembunyi. Jadi, penyakit yang ditimbulkan pun adalah penyakit yang tertutup. Pengobatannya juga sangat rahasia dan tertutup, susah untuk diselesaikan secara akal sehat. Ada banyak mitologi yang dipercayai orang Bali untuk menjelaskan awal mula terjadinya wabah penyakit. Di antaranya tertulis di dalam beberapa lontar yang diwarisi hingga kini. Salah satunya yang menjelaskan kalau wabah berjangkit akibat Durga turun ke bumi. Setelah 12 tahun berada di dunia, Siwa pun turun menyusulnya dalam wujud ugra -nya. Keduanya pun bertemu di dunia. Mereka lalu berkasih-kasihan. Saat keduanya bersenang-senang menghadap ke arah timur, ketika itulah terjadi grubug . “Saat keduanya menghadap timur, konon banyak orang yang sakit, biasanya muntah-muntah,” ujarnya. Lalu ketika menghadap selatan, penduduk sakit terkena virus. “Sakitnya kena sasab  dan merana,” katanya. Saat sepasang dewa itu menghadap ke barat, penduduk akan terkena muntaber. Ketika menghadap ke utara, penduduk akan sakit seluruh badannya atau disebut gering lumintu . “Kalau berada di tengah, biasanya penduduk sakit organ dalam, sakit telinga, hidung, dan tenggorokan yang diserang. Ini berdasarkan mitologi sakit di Bali,” jelasnya. Dalam lontar lain juga ada cerita kisah Dewi Sri yang turun ke bumi karena dikejar dua raksasa kembar. Konon, inilah yang kemudian menyebabkan wabah penyakit atau sasab.   “Jadi banyak mitologi zaman dulu yang terwarisi di Bali, terkait dengan sasab ,” ujarnya. Tradisi Pengobatan Sasab sudah dibicarakan oleh orang Bali Kuno sejak abad ke-11 berdasarkan Prasasti Pura Kehen yang tersimpan di Pura Kehen. Isinya menguraikan, kala itu di Desa Bangli merebak wabah penyakit yang disebut kegeringan  atau grubuh. Banyak penduduk meninggal dunia. “Karena banyak yang meninggal, desa di Bangli ini akhirnya di  lockdown oleh raja,” jelas I Gede Wiratmaja Karang. Sementara budaya pengobatannya, secara tradisional orang Bali mengenal dua kelompok lontar: kelompok usadha dan tutur. Tutur berisi tentang aksara gaib, anatomi tubuh manusia, falsafah sehat dan sakit, cara mendiagnosis penyakit. Sementara usadha berisi pengobatan, baik secara umum maupun dengan rajah atau benda bertuah. Orang yang menjalankan usadha disebut balian. Istilah ini dalam sebutan baliyan atau prabaliyan  disebut dalam beberapa prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Haji Jayapangus (1177–1181). “Dikeluarkan oleh Wangsa Warmadewa juga ada. Ini menandakan pada masa Bali Kuno sudah ada penanganan penyakit,” katanya. Dalam naskah keagamaan, seperti Rig-veda , ditemukan pula cara menangani penyakit. Di antaranya mengkonsumsi makanan sehat dan bernapas dengan baik. “Napas itu sumber kehidupan. Mengapa? Dalam hitungan orang Bali jantung adalah unsur utama kehidupan, selanjutnya napas, hati, usus, pankreas, empedu, dan diafragma, semua itu yang mengatur kehidupan manusia,” jelasnya.   Semua unsur dalam tubuh adalah simbol dari Tuhan, kehidupan, dan alam. Jadi, bagi orang Bali kalau sudah bisa menyeimbangkan alam kecil yang ada di tubuh dengan alam besar yang ada di dunia ini, kehidupan akan selalu berjalan aman dan bahagia. Tak akan sakit. Bagi orang Bali, pengobatan cara tradisional ini masih relevan dengan masa kini. Bahkan, banyak orang Bali menjadikannya pilihan pertama alih-alih mereka menjalani pengobatan medis modern. “Kita jangan berpandangan secara modern saja, karena banyak contoh tradisi yang sangat ampuh menghadapi permasalahan modern,” ujarnya. “Di Bali tradisi masih dijaga, masih dimanfaatkan, masih kami gunakan.” Pun dalam menangani penyakit, selain berobat ke seorang baliyan , pendeta atau dokter, biasanya orang Bali selalu mengiringi prosesnya dengan doa. “Manusia itu beragama karena takut mati dan sakit. Jadi pendekatan agama dan budaya sangat diperlukan dalam menangani pandemi sekarang,” katanya.*

  • Akhir Riwayat Freemason di Indonesia

    KEHADIRAN Freemason di Indonesia sudah melewati jalan yang panjang sejak loji mason pertama didirikan di Batavia pada 1762. Perkembangannya makin pesat sejak 1870 ketika loji-loji bermunculan di pusat-pusat komunitas Eropa di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Namun, seabad kemudian senjakala Freemason di Indonesia tiba bersamaan dengan pendudukan Jepang.

  • Kemarahan Sjahrir Kepada Sultan Hamid

    JAKARTA, 16 Januari 1962. Sejumlah tokoh nasional (Sutan Sjahrir, Sultan Hamid Alkadrie, Anak Agung Gde Agung, Mohamad Roem, Soebadio Sastosatomo dan Prawoto Mangkusasmito) ditangkap. Tuduhan yang membelit mereka: terlibat dalam komplotan yang merencanakan pembunuhan Presiden Sukarno. Awalnya mereka ditahan di Mess CPM, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Tiga hari kemudian Sjahrir bersama tahanan-tahanan lainnya dipindahkan ke wilayah selatan Jakarta (Jalan Daha, Kebayoran Baru). Tepat tiga bulan setelah penangkapannya, dia dipindahkan lagi. Kali ini lebih jauh: ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun. Di rumah tahanan yang terletak di Jalan Wilis itu mereka diperlakukan secara baik. Sjahrir dan Sultan Hamid masing-masing memiliki kamar yang lumayan besar. Anak Agung  dan Soebadio menempati kamar besar lain. Sementara Roem ditempatkan satu kamar bersama Prawoto.

  • Pesan Ratu Victoria Terkait Perang Aceh

    PERANG besar Aceh-Belanda memasuki babak baru. Setelah menuai malu pada perang pertama (awal 1873), Belanda datang dengan kekuatan lebih besar di tahun berikutnya. Sebanyak 60 buah kapal –terdiri dari kapal perang, kapal pengawal, dan kapal logistik– bersenjata lengkap diberangkatkan dari Batavia. Jenderal Van Swieten ditunjuk memimpin agresi kedua ini. Besarnya kekuatan Belanda nyatanya tidak menyurutkan perlawanan rakyat Aceh. Semangat juang mereka justru semakin merepotkan. Pertahanan rapat yang disiapkan di berbagai tempat juga menambah beban mereka untuk masuk ke Serambi Mekkah. Saling bertahan dan menyerang menghiasi rangkaian perang yang baru mereda pada 1910 itu. Di tengah persiapan perang yang semakin masif, sepucuk surat datang dari penguasa Britania Raya, Ratu Victoria (1819-1901). Dikisahkan Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad , surat itu dibuat secara pribadi oleh ratu untuk Sultan Aceh. Seorang perwira dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris yakni Kolonel Woolcombe diutus untuk menyampaikan pesan sang ratu tersebut. “Dalam pada itu semakin menarik perhatian persoalan di sekitar kedatangan sesuatu perutusan kepada pihak Aceh di saat-saat Belanda hendak memulai penyerangannya itu,” tulis Said. Berdasar penelitian Said, surat tersebut berisi anjuran dari Ratu Victoria agar Sultan Aceh menghentikan segala perlawanan yang menyebabkan perang besar di sekitar Malaka. Ia diminta tidak melawan dengan kekerasan dan memenuhi segala kemauan Belanda di negerinya. Dengan kata lain Aceh disarankan untuk menyerah. Namun Woolcombe tidak bisa segera menyampaikan surat dari ratunya itu. Ia dan kapal perang Inggris “Thalia” tertahan di Kuala Aceh karena belum mendapat izin berlabuh dari Belanda yang telah mengepung perairan Aceh. Belanda tidak ingin perwakilan Inggris itu menghentikan sementara penyerbuan mereka ke Aceh. Mengingat Belanda harus menjamin keselamatan orang Inggris setelah kedua negara itu terikat perjanjian politik. Karena tidak kunjung diberi kabar, Woolcombe berencana memberikan suratnya kepada pemerintah Belanda agar disampaikan ke Sultan Aceh. Namun melihat situasi panas keduanya, ia tidak yakin surat itu akan tiba di tangan sultan. Di lain pihak, militer Belanda tidak bisa membiarkan seorang perwira Inggris berkeliaran di Aceh. Namun keselamatan Woolcombe juga tidak bisa dijamin jika ia menemui penguasa Aceh bersama-sama perwakilan pemerintah Belanda. Berhari-hari dilanda kebuntuan di atas kapal, para wakil ratu Inggris akhirnya pulang dengan tangan kosong. “Demikianlah, hasilnya surat Ratu Victoria tidak dapat disampaikan, dan Kolonel Woolcombe pulang percuma ke negerinya,” tulis Said. Saling bertukar surat antara penguasa Aceh dengan Inggris itu bukan kali pertama terjadi. Dua abad yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juni 1602, seorang perwira AL kerajaan Inggris James Lancaster dikirim oleh Ratu Elizabeth I untuk memberikan sepucuk surat kepada penguasa Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah (berkuasa hingga 1604). Diketahui, surat tersebut menjadi penanda hubungan pertama Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Inggris. Dalam buku Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh , yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Kebudayaan, diceritakan bahwa melalui surat tersebut Kerajaan Inggris yang diwakili Lancaster dan rombongannya bermaksud melakukan hubungan dagang di wilayah perairan Malaka, melalui penguasa Aceh. “Mereka diterima di kraton Aceh dalam sebuah resepsi yang diadakan oleh Sultan Aceh untuk menyambut dan menghormati mereka secara kebesaran.” Setelah menerima surat dan penjelasan dari Lancaster tentang maksud kedatangannya, perwakilan Sultan Aceh mempersilahkan rombongan Ratu Inggris menemui sang sultan. Mereka disambut baik. Sebelum pulang, Sultan Aceh menitipkan surat balasan untuk Ratu Inggris sebagai bukti telah diterima hubungan diplomatik kedua negeri. Terbukanya jalan ke Aceh membuat kegiatan niaga Inggris di Malaka menjadi lancar. Inggris diharapkan menjadi sekutu terbaik Aceh. “Para penguasa Aceh tidak pernah ragu-ragu bahwa mereka membutuhkan seorang sekutu yang memiliki angkatan laut yang kuat jika mereka ingin berhasil mengusir Belanda,” tulis Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19.*

  • Radermacher, Pendiri Freemason di Hindia Belanda

    PADA usia 16 tahun, Jacob Cornelis Matthieu Radermacher, berlayar ke Hindia Belanda sebagai pedagang VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur). Ayahnya, Joan Cornelis Radermacher, seorang pejabat tinggi di Kerajaan Belanda, dan pamannya anggota dewan direksi VOC. Radermacher menikah dengan putri Hugo Verijssel, anggota Dewan Hindia. Suami kedua mertuanya adalah Reinier de Klerk, anggota Dewan Hindia yang kemudian menjadi gubernur jenderal. Posisi ini membuat kariernya naik dengan cepat hingga menjabat Pedagang Kepala ( Oppperkoopman ), salah satu jabatan tinggi dalam kepegawaian VOC.

  • Raja Nusantara Korban Wabah Penyakit

    WABAH penyakit tidak mengenal kasta. Siapa pun bisa terkena tanpa pandang bulu: laki-laki atau perempuan, tua atau muda. Termasuk mereka dari kelompok rakyat jelata hingga keluarga Istana. Keadaan demikian juga berlaku belakangan ini. Seluruh dunia tengah sibuk berjuang menghadapi wabah Covid-19 yang lebih dikenal sebagai Virus Corona. Wabah pandemik inipun menyasar kaum dari segala golongan. Di Inggris, putra mahkota kerajaan, Pangeran Charles sempat terinfeksi Virus Corona. Di Indonesia, sejumlah pejabat negara dinyatakan positif terjangkit virus yang sama. Mereka antara lain Menteri Perhubungan Budi Karya dan Wali Kota Bogor Bima Arya. Di masa silam, sejarah mencatat beberapa raja di Nusantara yang menjadi korban wabah penyakit. Kolera menjadi wabah yang paling banyak merenggut nyawa beberapa raja. Selain itu, wabah lain seperti cacar dan malaria turut pula menjadi penyebab raja lainnya mangkat. Siapa saja mereka? Sultan Alauddin Mahmud Syah Sultan Alauddin Mahmud Syah merupakan sultan Aceh terakhir sebelum invasi Belanda.  Sultan berkuasa pada periode 1870—1874. Pada masa pemerintahannya, Sultan menolak pengakuan kedaulatan Kerajaan Belanda dalam Traktat Sumatra yang ditandatangani Inggris dan Belanda pada 1871. Atas penolakan itu, Belanda menyatakan perang terhadap Kesultanan Aceh.    Pada 28 Januari 1874, Istana Sultan Aceh jatuh ke tangan serdadu Belanda pimpinan Letnan Jenderal (pensiunan) Jan van Swieten. Swieten menggantikan Jenderal Kohler yang tewas tertembak pejuang Aceh dalam ekspedisi pertama penaklukan Aceh. Sebanyak 8.500 serdadu tempur, 4.300 pelayan dan kuli, serta 1.500 pasukan cadangan dikerahkan Swieten untuk menyerang Istana. Sultan Mahmud Syah yang terdesak, menyingkir ke pegunungan Leungbata. Dalam pelariannya, Sultan mangkat pada hari itu juga akibat terjangkit wabah kolera. Namun menurut sejarawan Mohammad Said cukup alasan untuk menuduh bahwa Belanda telah sengaja menjadikan penyakit kolera itu sebagai "senjata" untuk membinasakan rakyat Aceh. “Satu dari alasan tersebut ialah bahwa penyakit itu sudah ketahuan menjalar kepada orang-orang selagi kapal (Belanda) masih di Priok,” tulis Said dalam Aceh Sepanjang Abad Jilid 2. Kendati demikian, orang Aceh tetap melanjutkan perjuangan. Perlawanan terhadap Belanda ini kemudian mengobarkan perang yang dikenal sebagai “Perang Atjeh” atau Atjeh Oorlog . Perang baru berakhir ketika Aceh telah ditaklukkan sepenuhnya pada 1904.      Si Singamangaraja XI Gelar lengkapnya bernama Raja Ompu Sohahuaon Sinambela. Dia merupakan Raja-Imam Batak ke-11 dari dinasti Si Singamangaraja. Tidak diketahui persis kapan Si Singamangaraja XI dinobatkan sebagai raja. Si Singamangaraja XI diperkirakan memegang tampuk kepemimpinan ketika kaum Paderi meninggalkan Tanah Batak pada 1830-an. Masa kekuasaan Si Singamangaraja XI beriringan dengan kehancuran total di seluruh roda kehidupan Tanah Batak pasca serangan pasukan Paderi. Si Singamangaraja XI mencoba membangun kembali pusat pemerintahannya yang luluh lantak. Dia membuka huta  (perkampungan) yang baru di pedalaman yang dinamai Huta Lumban Raja. Sayangnya, kolera masih mewabah di Tanah Batak pada era Si Singamangaraja XI. “Penyakit kolera bercokol terus di Tanah Batak sejak pembumihangusan tentara Padri. Banyaknya mayat yang tidak sempat dikuburkan menyebabkan berkembangnya penyakit di seluruh Tanah Batak,” tulis Tiurma Tobing dalam Raja Si Sisingamangaraja . Faktor usia ditambah fisik yang lemah menyebabkan Si Singamangaraja XI menjadi sangat rentan terserang kolera. Setelah lama menderita kolera, Si Singamangaraja XI wafat pada 1872. Trah kerajaan diteruskan oleh anaknya Patuan Bosar bergelar Si Singamangaraja XII yang kelak menjadi pahlawan nasional Indonesia. Sultan Syarif Hasyim Sultan Syarif Hasyim bergelar Yang Dipertuan Besar As-Sayyidi Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin. Dia adalah Sultan ke-11 dari Kesultanan Siak Sri Indrapura. Syarif Hasyim dinobatkan sebagai sultan pada 25 Oktober 1889 dan bertahta selama 19 tahun. Di bawah kepemimpinan Syarif Hasyim, Siak mencapai kemakmuran. Wilayah kekuasaan Siak terbentang dari Langkat sampai Jambi. Lambang kemegahan Siak di masa Syarif Hasyim terwujud dalam bangunan bernama Istana Asseraiyah Hasyimiah yang mencampurkan unsur Eropa, Moor, dan Melayu. Sultan juga berperan memodernisasi tatanan pemerintahan Kesultanan Siak dengan menerapkan sistem pemerintahan konstitusional. Pada masa pemerintahannya disusun Undang-Undang Kerajaan Siak yang dibukukan dalam Babul Qawa’ied ( Pintu Segala Pegangan ). Pada suatu hari di tahun 1908, Sultan beristirahat di salah satu rumahnya di Singapura. Dua jam kemudian, beliau meninggal dunia. Mengutip berita Pembrita Betawi , 2 April 1908, Taufik Rahzen dalam  Kronik Kebangkitan Indonesia: 1908-1912  menyebut bahwa Sultan Syarif Hasyim meninggal karena penyakit malaria yang dideritanya. Sultan Agung Sultan Agung sebagaimana dicatat sejarawan Merle Calvin Ricklefs merupakan penakluk terbesar di Tanah Jawa setelah era Majapahit. Dia menjadi sultan ketiga Kesultanan Mataram dan memerintah dari tahun 1613 sampai 1645. Sultan Agung menguasai sebagian besar wilayah Jawa, kecuali Batavia dan Banten. Pada 1640-an wabah penyakit merajalela di Jawa (Ricklefs tak menyebut secara khusus nama penyakit tersebut). Di saat yang sama, kesehatan Sultan Agung menurun. Dia jatuh sakit pada 1642. Tidak lama berselang, tepatnya tahun 1646, Sultan Agung meninggal dunia, kira-kira antara awal Februari dan awal April.   “Kematian Agung mungkin sekali disebabkan oleh salah satu wabah tersebut,” tulis Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern: 1200—2000 .  Mengenai wabah penyakit itu, sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1 , mengutip  Babad ing Sangkala  bahwa pada 1643–1644 di Mataram (Jawa) terjadi “epidemi beratus-ratus mati setiap hari”.  Pangeran Antasari Pangeran Antasari merupakan Sultan Banjar yang terkenal gigih menentang penjajahan Belanda. Pada 1859, Antasari memimpin perlawanan rakyat di Kalimantan Selatan dan Tengah yang dikenal sebagai Perang Banjar. Pada September 1862, Antasari bersiap untuk menyerang benteng Belanda di Montallat, Barito Utara.  Bala bantuan berupa peluru dan mesiu dari Kutai menambah kekuatan pasukan Antasari. Namun rencana ini mesti tertunda karena pasukan Antasari dilanda wabah cacar. Antasari sendiri meninggal dunia pada 11 Oktober 1862 di Bayan Begak. Dalam biografi Pangeran Antasari, M. Idwar Saleh mengutip laporan Belanda yang menyebutkan bahwa Pangeran Antasari telah meninggal karena cacar, pukul 09.00 pagi. Pangeran Antasari berwasiat kepada anak-anaknya untuk meneruskan perjuangan dengan pesan “ Haram manyarah ” atau pantang menyerah. Untuk mengenang jasanya, pemerintah Indonesia menetapkan Pangeran Antasari sebagai pahlawan nasional pada 1968. Wajahnya diabadikan dalam lembaran uang rupiah edisi 2009 bernilai Rp. 2.000. Raja Josephus Mbako II Merentang ke Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Pulau Flores. Tersebutlah nama Josephus Mbako II bergelar lengkap Raja Moang Ratu Don Jozef Ximenes da Silva. Dia merupakan raja Sikka yang memerintah dari 1898 hingga 1902. Kerajaan Sikka telah berdiri sejak tahun 1600-an dan dipimpin oleh seorang raja secara turun-temurun. Pada 1902, Josephus mengadakan perjalanan meninjau sebagian wilayahnya yang pernah melawan Sikka. Kampung-kampung yang dikunjungi terletak di Maumere Timur yang pada 1900 berpihak pada kerajaan lokal Kangae dibantu oleh Raja Larantuka, wilayah Flores Timur. Namun pada saat itu, wabah penyakit sedang merebak. “Malang bagi kunjungan raja kali ini, karena ia diserang penyakit perut, ternyata penyakit kolera ganas yang merenggut nyawa,” tulis Paulus Jepolus Gessing dalam Memori Perjuangan dan Pengabdian Moan Teka Iku . Raja Josephus Mbako II wafat pada 29 November 1902 akibat penyakit kolera. Dia digantikan oleh anaknya Nong Meak da Silva.*

  • VOC di Balik Penangkapan Sjahrir cs.

    AKHIR 1961. Rumor itu bertiup kencang di kalangan tentara. Adalah Organisasi Gerilya Hindia Belanda (NIGO) yang didesas-desuskan akan menumbangkan pemerintah. Bahkan kelompok bawah tanah yang disebut-sebut mendapat dukungan dari intelijen Belanda dan para perwira Amerika Serikat itu memiliki rencana untuk membunuh Presiden Sukarno pada 10 Desember 1962. “Mr. Subarjo, bekas Menteri Luar Negeri meneruskan 'dokumen rahasia' yang berisi nama orang-orang NIGO tersebut,” ungkap A.H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid V: Kenangan Masa Orde Lama. Persoalan NIGO itu kemudian ditindaklanjuti oleh Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) I. Sebagai penguasa wilayah (Jakarta), intel Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Kodam Jaya) kemudian dipersilakan untuk menyelidiki lebih dalam kasus tersebut. Ternyata hasilnya nihil. Laporan-laporan terkait aksi agen NIGO terbukti hanya isapan jempol semata.

  • Ketika Chairul Saleh Ogah Memijat Sukarno

    ZAKARIA RAIB, kepala Biro Industrialisasi di Departemen Perindustrian Dasar dan Pertambangan (Perdatam), pada suatu sore mengunjungi rumah sahabat sekaligus atasannya di Dep. Perdatam, Chairul Saleh. Sang tuan rumah terlihat lesu ketika Zakaria tiba. Zakaria pun langsung menanyakannya ke Johanna SM Saidah, istri Chairul. “Ia lagi dongkol, lagi dikibulin si Pingji (kuping siji),” kata Zus  Yo, sapaan akrab Johanna, menerangkan kepada Zakaria mengapa suaminya lesu, dikutip Irna HN Soewito dalam Chairul Saleh Tokoh Kontroversial . Pingji yang disebut Zus  Yo merupakan panggilan Chairul dan Yo untuk Subandrio, Wakil perdana menteri (Waperdam) I  sekaligus Menko Luar Negeri dan ketua Biro Pusat Intelijen. Hubungan Chairul dan Subandrio bak kucing dan tikus. Bukan rahasia bila di era Demokrasi Terpimpin para pejabat saling sikut untuk mengambil hati Presiden Sukarno. Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta berjuluk “Raja Mobil Indonesia” yang dekat dengan Sukarno maupun Chairul, tahu betul hal itu. Menurutnya, dalam otobiografi berjudul Pasang Surut Pengusaha Pejuang,  “Dalam masyarakat lingkungan Istana terdapat serigala dan ular yang saling mengincar mangsa untuk disergap ramai-ramai atau difitnah.” Fitnah itu pula yang sering dilontarkan Subandrio, yang dijuluki “Durno”, kepada Chairul. Menteri Penerangan di Kabinet Ali II Sudibyo menjadi saksinya. “Sangat saya sesalkan adalah sikap Subandrio yang menuduh Chairul Saleh sebagai orang yang termasuk dinasti ekonomi,” kata Sudibyo. Posisi Chairul yang “basah” dalam kabinet membuat banyak orang iri. Namun bukan itu saja penyebab ketidaksukaan Subandrio kepadanya. “Aidit dan Subandrio memang mencurigai Chairul Saleh, mereka berdua tidak senang melihat Chairul terlalu dekat dengan Jenderal Achmad Yani,” tulis Irna. Angkatan Darat merupakan lawan politik BPI-nya Subandrio. Sebelum Peristiwa 30 September meletus, Chairul sering berdebat sengit dengan Subandrio. Terlebih ketika isu “Dewan Jenderal” sudah memanasi perpolitikan nasional. Di suatu pagi, Subandrio bertamu ke rumah Chairul. Dia diterima lalu diajak sarapan bersama. Di meja makan itulah keduanya kembali berdebat panas. Sikap Subandrio yang sering menuduh lawan-lawan politiknya untuk mengambil hati Sukarno itulah yang membuat Soeharto meminta bantuan Hasjim Ning agar membujuk Sukarno supaya mau memberi kepercayaan kepada Soeharto untuk memulihkan keamaanan yang kacau pasca-G 30 S. “Aku datang menemui kau, karena aku ingin Bung Karno diselamatkan dari pengaruh-pengaruh cecunguk di sekelilingnya,” kata Hasjim pada Chairul. Ketika menemui presiden di Istana Bogor awal 1966, Hasjim, yang diutus Soeharto, terus terang mengutarakan kelicikan Subandrio. “Antara Bapak dan rakyat Bapak ada penyekatnya. Yaitu Subandrio. Di sekitar Subandrio ada lagi PKI. Apabila Bapak terus melindungi Subandrio dan PKI, rakyat akan kecewa kepada Bapak. Mereka akan berhadapan dengan Bapak akhirnya, karena Bapak ingin melindungi orang yang mereka benci.” Sikap Subandrio yang suka menjilat itulah yang membuat Chairul dongkol ketika didatangi Zakaria di rumahnya. “Gimana gue enggak dongkol. Udah capai-capai meyakinkan Babe (maksudnya Bung Karno) untuk lebih memperhatikan pembangunan ekonomi dan Babe setuju untuk ditimbang di sidang terbatas kabinet dan menggariskan kebijaksanaan, nyatanya pagi tadi Babe berbalik 180 derajat. Selidik punya selidik, ternyata tadi malam si Pingji datang ke istana, dengan alasan bahwa Babe sakit. Sambil memijit-mijit, si Pingji merubah pendirian Babe, yang kemudian menerima usulan si Pingji. Siapa yang enggak kesal dengan cara-cara ini,” kata Chairul menjelaskan pada Zakaria, dikutip Irna. Pernyataan Chairul membuat Zakaria tertawa. Sambil berkelakar, Zakaria lalu menanyakan kenapa Chairul tak meniru apa yang dilakukan Subandrio. “Gue bukan tipe tukang pijit seperti si Pingji,” kata Chairul.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page