top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Intel Indonesia Mengejar Perampok Inggris

    POLISI dari Metropolitan Police Service berhasil menemukan tempat persembunyian para perampok di Leatherslade Farm. Mereka mendapatkan sidik jari pada botol kecap. Sidik jari itu milik Ronald Arthur Biggs, salah satu anggota perampokan kereta api pos Royal Mail dari Glasgow menuju London pada 8 Agustus 1963. Komplotan perampok itu berjumlah 15 orang. Dipimpin oleh Bruce Reynolds yang bertemu Biggs di penjara HM Prison Wandsworth. Mereka menggondol lebih dari £2,6 juta (sekarang setara dengan £53,5 juta). S alah satu perampokan terbesar di Inggris itu disebut The Great Train Robbery. Biggs ditangkap di London Selatan pada 4 September 1963. Pada 1964, sembilan dari 15 perampok termasuk Biggs dipenjara dengan hukuman tertinggi selama 30 tahun. Setelah 15 bulan di penjara HM Prison Wandsworth, Biggs melarikan diri pada 8 Juli 1965. Dia pergi ke Brussel kemudian ke Paris. Istri dan dua anaknya menyusul ke sana. Mereka kemudian pindah ke Australia. Menurut Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia , surat kabar di seluruh dunia memberitakan cerita tentang Ronald Biggs yang melarikan diri ke Australia, Rhodesia, atau Indonesia. Pada Maret 1970, Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) mendapat informasi adanya seorang pria dengan nama belakang Biggs tiba di Indonesia dari Australia. Satsus Intel pun dikerahkan untuk mengintai orang itu. “Setelah melakukan pengejaran selama tiga minggu, kemudian diketahui bahwa sang pria tersebut bukanlah Ronald Biggs tetapi Donald Biggs, seorang pendeta berusia 56 tahun asal Tennessee,” tulis Ken Conboy. Pada Oktober 1969, koresponden Reuters melaporkan keberadaan Biggs di Melbourne dan polisi tengah mendekatinya. Lima bulan kemudian, dia melarikan diri ke Brasil. Istri dan anaknya ditinggal di Australia. Mereka kemudian bercerai. Biggs memilih Brasil karena tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Inggris. Dia tinggal di Brasil sejak 1970. Butuh waktu lama untuk Inggris dan Brasil meratifikasi perjanjian ekstradisi pada 1997. Dua bulan kemudian, pemerintah Inggris secara resmi mengajukan permintaan kepada pemerintah Brasil untuk mengekstradisi Biggs. Biggs menyatakan tidak akan menentang ekstradisi. Namun, permintaan ekstradisi ditolak oleh Mahkamah Agung Brasil dan memberikan hak kepada Biggs untuk tinggal di Brasil selama sisa hidupnya. Akhirnya, Biggs memutuskan untuk kembali ke Inggris. Pada 7 Mei 2001, dia tiba di Inggris dan ditangkap untuk menjalani hukuman. Setelah beberapa kali permohonannya ditolak, Biggs akhirnya dibebaskan dengan alasan belas kasihan karena kesehatannya memburuk pada 6 Agustus 2009, dua hari sebelum ulang tahun yang ke-80. Biggs sempat menghadiri pemakaman pemimpin perampokan, Bruce Reynolds, pada Maret 2013. Tak lama kemudian, pada 18 Desember 2013, di usia 84, Biggs meninggal di tempat perawatannya, Carlton Court Care Home di Barnet, London utara. Kematiannya hanya beberapa jam sebelum penayangan perdana serial televisi BBC dua bagian, The Great Train Robbery , di mana Biggs diperankan oleh aktor Jack Gordon.

  • Tan Malaka dan Delapan Tokoh Indonesia Jadi Nama Jalan di Amsterdam

    PEMERINTAH Kota Amsterdam akan meresmikan penggunaan nama jalan-jalan di kawasan pemukiman Ijburg yang mengabadikan 27 nama tokoh antikolonial dari negara bekas koloni Belanda, sembilan di antaranya dari Indonesia. Selain sembilan nama tokoh, bakal ada satu nama jalan yang menggunakan nama Merdekastraat atau Jalan Merdeka. Wilayah Ijburg adalah kawasan pemukiman yang terletak di Ijmeer, pulau buatan sebelah tenggara Amsterdam itu, akan terpajang nama Tan Malaka ( Tan Malakastraat ), RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara ( Suwardistraat ), SK Trimurti ( Trimurtistraat ), Kapiten Pattimura ( Pattimurastraat ), Pangeran Diponegoro ( Diponegorostraat dan Diponegorohof ), Maria Ullfah ( Mariaulfahstraat ), Soekaesih ( Soekaesihstraat ), Roestam Effendi ( Roestam Effendistraat ), Lambertus Nicodemus Palar ( Palarstraat ).

  • Gila Baca Pendiri Bangsa

    SEWAKTU mendekam di Penjara Glodok, Mohammad Hatta menuliskan sepucuk surat. Surat bertanggal 20 April 1934 itu ditujukan kepada T.A. Murad, Ketua Dewan Pimpinan Pusat PNI Baru. Hatta menuturkan, “Aku bisa hidup di manapun, asal dengan buku.” Murad kemudian memuat “curhatan” Hatta yang sedang dihukum oleh pemerintah kolonial tersebut ke dalam suratkabar Daulat Ra’jat , 10 Mei 1934. “Buat banyak orang penjara itu tempat yang buruk, tempat yang tidak ada enak-enaknya, tidak ada yang baik. Tapi buat Bung Hatta, penjara adalah ruang semedi, ruang pertapaan di mana orang bisa memperkuat watak, memperkuat iman, terutama jalannya adalah dengan membaca,” ujar sejarawan J.J. Rizal dalam diskusi publik “Literasi Kita, Masa Depan Bangsa” di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, 31 Juli 2019.   Menggambarkan Hatta dengan buku, menurut Rizal ibarat gigi dengan gusi: dekat sekali. Bahkan, kata Rizal, istri pertama Hatta bukan berwujud manusia melainkan buku. Meski demikian, Hatta hanyalah satu dari sekian banyak tokoh bangsa dengan reputasi sebagai pecinta buku (bibliofil). Di awal abad 20, hampir seluruh pendiri bangsa punya cerita dengan buku. Abdul Rivai, dokter bumiputera pertama yang lulus dari Belanda, misalnya. Rivai dikirim belajar ke Belanda dan menuliskan pengalaman-pengalamannya dalam kumpulan artikel yang kemudian diterbitkan menjadi Student Indonesia . Di salah satu artikelnya yang ditulis pada 1901, Rivai mengatakan, “Karena aku membaca, maka aku bertanya siapakah kita?”. Membaca telah membuat Rivai mempertanyakan siapa dirinya, siapa kaumnya. Itulah untuk kali pertama, persoalan nasionalisme dikumandangkan oleh seorang bernama Abdul Rivai. Pertanyaan itulah yang pada 1912 dijawab oleh tiga serangkai: Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, dan Cipto Mangunkusumo dengan mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang mengusung nasionalisme Indonesia di tengah dominasi kolonialisme Belanda.   Ada lagi Kartini, namanya sohor sebagai pejuang emansipasi wanita. Kartini di sebuah desa kecil di Jepara, hidup dalam limpahan literasi. Pada 1903, Kartini menulis, “Aku benamkan diriku dalam membaca dan membaca.” Pernyataan itu kelak terekam dalam kumpulan suratnya yang dibukukan pada 1911 berjudul Habis Gelap, Terbitlah Terang .   Dari membaca, Kartini pun kian “melek” terhadap situasi sekitar. Apalagi pada zamannya, Kartini menyaksikan betapa minornya kedudukan perempuan dalam feodalisme masyarakat Jawa. Inilah yang mendorong Kartini menjadi kritis mempersoalkan konsep kesetaraan. Kelak, namanya tercatat dalam sejarah karena memperjuangkan ruang privat bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan. J.J. Rizal dalam diskusiLiterasi Kita, Masa Depan Bangsa di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, 31 Juli 2019. (Fernando Randy/Historia) Yang juga tidak kalah gandrung dengan buku tentu saja Sukarno. Di umurnya yang masih sangat belia (15 tahun), Sukarno memuaskan dahaga intelektualnya dengan memanfaatkan perpustakaan milik perkumpulan teosofi di Surabaya. Selain penerbitan, kelompok teosofi saat itu mempunyai koleksi bibliotik terbaik yang hanya bisa disaingi oleh organisasi seperti Muhammadiyah. Karena itu, pada 1916 Sukarno pernah menulis, “Buku mengenalkanku pada dunia dengan pikiran-pikiran terhebat dan aku ingin dunia tahu, aku dan bangsaku juga besar.” Melalui buku Sukarno melampaui imajinasi kebanyakan orang-orang sebangsanya. Kendati hidup di dunia kolonial, Sukarno telah membayangkan akan kemerdekaan bangsanya dan menjadi bangsa yang digdaya. Pendiri Sarekat Islam Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang juga gurunya Sukarno ini adalah seorang pembaca buku yang militan. Begitu militannya, bahkan dia pun tidak sungkan melahap buku-buku beraliran kiri. “Aku menemukan api Islam di dalam buku,” kata Tjokro.  Hasil pemikiran Tjokro tentang nilai-nilai sosialis dalam Islam melahirkan buku berjudul Islam dan Sosialisme pada 1924. Sementara itu, Tan Malaka adalah contoh seorang pembaca yang loyal sekaligus royal. Tan merupakan tipikal yang sedia mengalokasikan biaya kebutuhannya untuk belanja buku. Demi buku, Tan bahkan rela mengencangkan ikat pinggangnya kuat-kuat dengan mengurangi jatah makan. Ini terungkap dalam karya monumentalnya yang terbit pada 1943 berjudul Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika. ”Mengunjungi toko buku adalah pekerjaan yang tetap dan dengan giat saya jalankan,” kata Tan Malaka. “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.” Dalam Madilog , Tan menuturkan kegigihannya menyerap pengetahuan lintas ilmu bukan tanpa tujuan. Mulai dari buku bidang eksakta, ekonomi, politik, hingga sejarah dia pelajari. Semua buku-buku itu membantu Tan membebaskan diri dari sesat pikir atau semacam takhayul di tengah masyarakat kolonial yang dalam istilahnya disebut “logika mistika”. Belenggu pola pikir kolot inilah yang hendak diberantas Tan dari kaum sebangsanya pada zaman itu.   “Bangsa ini didirikan oleh mereka yang membaca. Bangsa ini basisnya adalah buku. Kalau kita ingin punya masa depan sebagai bangsa, kita tidak boleh kehilangan tradisi membaca....” ujar Rizal. Dari semua kisah para tokoh tersebut, barangkali hanya Hatta yang koleksi bukunya masih terjaga dengan baik. Keluarga besar Hatta memutuskan merawat secara swadaya buku-buku itu yang dinilai sebagai warisan paling berharga dari Bung Hatta - selain tentu saja pemikiran dan perjuangan Hatta bagi bangsa dan negara. Menurut Tan Sri Zulfikar Yusuf, salah satu cucu Bung Hatta, sebanyak 18.000 judul buku koleksi Hatta kini tersimpan di rumah peninggalan Hatta di Jalan Diponegoro 57, Jakarta Pusat.

  • Orang Eropa Asli Berkulit Gelap

    KEINGINTAHUAN yang besar akan asal usul manusia Eropa, telah mejadi alasan kuat Bryan Clifford Sykes untuk memperdalam ilmu genetika manusia. Profesor di Oxford University, Inggris, ini memiliki peran yang amat penting dalam mengungkap gambaran nenek moyang bangsa Eropa yang sejatinya berkulit gelap. Amat jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Dalam bukunya, The Seven Daughters of Eve: The Science That Reveals Our Genetic Ancestry , Bryan menjabarkan penelitiannya tentang Cheddar Man, sosok manusia modern permulaan yang hidup di Inggris. Manusia dari 10.000 tahun lalu inilah yang mewariskan gennya kepada 10 persen populasi masyarakat Eropa sekarang. “Tidak mudah melihat sosok yang hanya menyisakan tulang-belulangnya saja. Tetapi saya mulai dapat membayangkan struktur tubuh dan kulitnya dari konstuksi tengkorak yang ada ini,” tulis Bryan. Fosil Cheddar Man ditemukan pada 1903 di Gua Gough di Cheddar Gorge, Somerset, Inggris. Peneltian yang dilakukan Natural History Museum London dan University College London terhadap fosil tersebut menghasilkan sejumlah fakta yang mencengangkan: manusia Eropa bermata biru, bekulit gelap, dan berambut ikal hitam. Leluhur Cheddar Man berasal dari Afrika. Mereka kemudian bermigrasi ke Timur Tengah hingga sampai di barat Eropa. Dari sini mereka menyebar ke berbagai wilayah di dataran utama Eropa dan Britania Raya. Untuk membuktikan ikatan gen Cheddar Man di dalam tubuh manusia Eropa masa kini, para peneliti dari Oxford University dan Natural History Museum mengambil sampel DNA sang manusia purba lalu membandingkannya dengan masyarakat yang tinggal di Cheddar, Somerset, dekat tempat ditemukannya Cheddar Man. Hasil uji genetika yang ditulis oleh Mariette DiChristina, seorang jurnalis sains, di dalam majalah Popular Science Juni 1997, menyebut jika sampel DNA Cheddar Man yang diujikan itu cocok dengan gen sejumlah orang di Cheddar. Ada sebagian orang yang secara susunan genetika mirip dengan Cheddar Man. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Eropa, walau sudah berubah secara fisik, masih mewariskan genetika yang sama dengan manusia permulaan di sana. Analisis DNA Cheddar Man itu juga menguak fakta jika dahulu tak ada manusia yang memiliki varian genetika berkulit dan berambut terang seperti dominan penduduk Eropa sekarang. Bahkan manusia purba dari Inggris ini memiliki kedekatan dengan fosil manusia yang ditemukan di Spanyol, Luxemburg, dan Hongaria. Arkeolog Tom Both dalam situs resmi Natural History Museum, nhm.ac.uk , meyakini kalau manusia yang datang ke Eropa ribuan tahun lalu memiliki kemampuan beradaptasi yang cepat. Mereka dapat menyesuaikan kondisi iklim di Eropa, sehingga lambat laun warna kulitnya berubah menjadi terang. “Kulit pucat lebih baik dalam menyerap sinar UV dan membantu manusia mengindari kekurangan Vitamin D di daerah yang kurang sinar matahari,” ungkapnya. Berbagai penelitian telah membuktikan: manusia yang tinggal di daerah tropis dengan cahaya matahari berlimpah memiliki cara beradaptasinya sendiri, yakni memperbanyak lapisan melanin di kulit. Hal itulah yang membuat mereka memiliki ragam warna kulit. Sementara manusia yang hidup di daerah sub-tropis akan mengurangi lapisan melanin agar dapat menyerap cahaya matahari secara optimal. Kulit mereka pun akhirnya terlihat pucat dan lebih terang. Sementara perihal penduduk berkulit gelap yang kini tersebar di Eropa datang pada era yang terbilang baru. Jauh setelah Cheddar Man, dan manusia sezamannya beradaptasi dengan iklim Eropa. Melalui makalah, Menjadi Manusia Indonesia: Menafsir Ernst Mayr, Richard Leakey, dan Matt Ridley disajikan dalam acara “Kajian Sains Populer: Asal Usul Manusia Indonesia,” Ahmad Arif (penulis dan wartawan Kompas ) menyebut jika mereka kebanyakan datang dari Afrika dan Asia. “Menurut sensus penduduk Inggris tahun 2011, hanya 2 persen warga daerah asal Cheddar Man di Somerset yang mengaku berkulit hitam ( Black and Minority Ethnic ). Selebihnya mengaku sebagai White British atau kulit putih Inggris,” kata Ahmad.

  • Asal-Usul Bandit di Perdesaan

    HAMPARAN sawah hijau, pegunungan berselimut awan, sungai jernih mengalir, dan udara bersih. Suasana perdesaan begitu memikat. Orang kota datang ke desa untuk mencari kedamaian. Mereka menempatkan desa sebagai obat stres. Bayangan mereka, kehidupan di desa selalu serba tenang dan ajeg. Petani kelihatan bergembira dan harmonis.

  • Bertemu dalam Secangkir Jamu

    KEGEMARAN Albertina van Spreeuwenburg, perempuan campuran Indo-Eropa, pada jamu membuatnya jadi penyembuh tenar di Weleri, Jawa Tengah. Suami Albertina merupakan pemilik perkebunan. Bila ada pegawainya yang sakit, Albertina maju untuk menyembuhkan. Perkenalan Albertina pada jamu didapat dari ibunya yang seorang nyai. Persilangan budaya dari dalam rumah umum terjadi di masa kolonial lantaran adanya interaksi intensif orang Eropa dan pribumi, entah nyai ataupun babu, di dalamnya. Para nyai biasanya tetap melakukan kebiasaan mereka, entah mengenakan kebaya, mengunyah sirih, atau meminum jamu. Kebiasaan inimenular pada anak-anak mestizo mereka. Tingginya kebiasaan mengonsumsi jamu di rumah tangga Indies mendorong peneliti Eropa mempelajari jamu dan tanaman obat lokal. Mereka biasanya mendapat informasi dari perempuan Indo-Eropa, penjual jamu di pasar, atau dukun. Penggalian informasi tentang jamu dan tanaman obat makin dipermudah ketika dokter , ahli botani, atau apoteker kulit putih yang datang ke Hindia-Belanda melakukan kawin campur. Dari sinilah ilmu pengobatan modern dan lokal bertemu. Profesor Hans Pols dari Universitas Sydney dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation” menyebutkan, dokter Eropa yang baru tiba di Hindia menikahi wanita Indo-Eropa atau pribumi merupakan hal umum pada paruh pertama abad ke-19. Pernikahan campur ini diterima karena hampir semua orang Eropa yang tiba di koloni adalah lajang dan akan menghabiskan waktu lama di Hindia. Bentuk interaksi antarkelompok sosial dan etnis ini berpengaruh pada pengetahuan medis dan botani di Hindia-Belanda. Fenomena itu dapat dilihat pada kehidupan dr. CCW Mandt. Ahli kesehatan berkebangsaan Jerman yang menikahi perempuan mestizo dari Makassar itusangat tertarik pada jejamuan dan mempelajari khasiat tanaman lokal untuk masalah kesehatan sehari-hari. Selain dari istrinya, pengetahuan Mandt tentang obat tradisional diperoleh dari Albertina. Keduanya sering berdiskusi tentang khasiat tanaman Nusantara. Istri Mandt bahkan sering bertukar resep jamu dengan Albertina. Bermodal pengetahuan itu, Mandt lalu mendirikan spa tradisional. Kegemaran Albertina pada jamu menurun pada anaknya, Johanna Maria Carolina Verst e egh (setelah menikah dikenal sebagai Jans Kloppenburg-Verste e gh). Selain mendapat pengetahuan tentang jamu dari ibunya, Jans juga sering berdiskusi dengan Hendrik Freerk Tillema, pengusaha air mineral dan pemilik apotek di Semarang, untuk mendapat informasi yang lebih saintifik . Saking tertariknya pada jamu, pada 1907 Jans menulis buku Indische Planten en Haar Geneeskracht (Tanaman asli Hindia dan kekuatan penyembuhnya). Buku itu jadi pegangan rumah tangga orang kulit putih dan buku tentang jamu paling banyak disebut dalam catatan sejarah . Namun, Jans bukan orang kulit putih pertama yang menulis buku tetang jamu. Sebelumnya, ada Emelie van Gent de Telle, yang berasal dari keluarga pemilik perkebunan di Yogyakarta, yang menulis Boekoe Obat-Obat voor Orang Toewa dan Anak-Anak pada 1875. Setelah Emelie, pada 1885 Nyonya van Blokland dari Suabaya menulis tentang keampuhan pengobatan tradisional lewat buku Doekoen Djawa . Menurut Martina Safitry dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, hal itu menjadi bukti tingginya minat orang kulit putih pada khasiat jamu dan pengobatan tradisional Nusantara. Pada abad ke-19, hampir semua orang Indo-Eropa dan sebagain orang Eropa menggemari perawatan kesehatan oleh dukun perempuan, baik untuk sekadar pijat, membuatkan secangkir ramuan jamu, atau menyembuhkan penyakit ringan. Mereka menilai para perempuan tua ini punya ilmu perawatan kesehatan yang mumpuni. Mereka biasanya minta dicarikan tukang jamu atau tukang urut (dukun) pada babu dan jongosnya. Tak jarang pula mereka merekomendasikan perawatan tradisional ini pada pendatang baru Eropa. Pasien Eropa bahkan terkadang merekomendasikan dokter untuk berkonsultasi dengan ahli jamu atau dukun. Tapi usul itu sering bikin dokter Eropa jengkel, seperti yang disampaikan dokter ternama Cornelis Leendert van der Burg dalam bukunya The Physician in the Dutch East Indies . “Bahkan ada dokter yang tidak keberatan dengan pengobatan dari wanita ini (dukun/tukang jamu) untuk istri, anak-anak dan bahkan dirinya sendiri,” kata Van der Burg. Seiring menguatnya sekat rasial pada abad ke-20, ketidaksukaan pada pengobatan tradisional kian sering disuarakan orang kulit putih. Untuk menghindari identifikasi dengan penduduk pribumi, Komunitas Hindia menerapkan standar tinggi pada etiket berkomunikasi, berpakaian, dan etiket sosial Eropa lain. Buntutnya, para profesional Barat, termasuk dokter dan ahli botani, menjadi kurang tertarik pada obat herbal lokal. Mereka juga kurang menghargai pengetahuan pengobatan lokal dan mulai menyingkirkannya dengan ilmu pengetahuan Barat.

  • Serba Serbi Makanan Zaman Purba

    Manusia awalnya tak begitu repot memikirkan rasa daging atau sayuran yang dimakan. Cukup kunyah dan telan saja mentah-mentah. Tapi mereka tak terus-menerus begitu. Manusia purba akhirnya juga memasak. Richard Leakey dalam Asal Usul Manusia menjelaskan, Australopithecus , sebagai leluhur bersama manusia dan kera, hidup dengan makan tumbuhan. Ini terlihat dari struktur gigi mereka. Namun, bentuk grahamnya tak mirip kera. Mahkota giginya tak lancip tetapi rata. Bentuk ini cocok untuk menggiling makanan. “Jelas sudah bahwa 2-3 juta tahun yang lalu makanan manusia berubah jadi lebih alot, seperti buah-buahan keras dan kacang-kacangan,” tulis Leakey. Menjelang 2,5 juta tahun yang lalu, walau belum bisa dipastikan, muncul spesies manusia lainnya. Otaknya lebih besar. Giginya juga berubah. Itu mungkin disebabkan kebiasaan makan yang berubah, dari melulu tumbuhan menjadi kombinasi tumbuhan dan daging. “Perubahan struktur gigi Homo purba menunjukkan adanya kebiasaan makan daging, sebagaimana ditunjukkan juga oleh penyempurnaan teknologi perkakas batu,” tulis Leakey. Fosil kerbau purba di Sangiran. (Koleksi Museum Sangiran) Memasuki masa paleolitik, yaitu waktu manusia mulai menggunakan alat batu, mereka menggantungkan hidup pada hewan buruan. Menurut Teuku Jacob, pakar paleoantropologi ragawi Universitas Gadjah Mada dalam “Evolusi Makanan Manusia dari Paleonutrisi dan Paleoekonomi Menuju Gizi Futuristik” terbit di Pertemuan Ilmiah Arkeologi V , manusia purba berburu hewan kecil maupun besar untuk kemudian dimakan. Namun itu masih perdebatan. Ada juga ahli yang berpikir manusia awalnya hidup dengan memakan bangkai binatang buruan hewan lainnya. Jadi, mereka bukannya berburu. Salah satu yang meyakininya adalah Lewis Binford, arkeolog dari Amerika. Dia mengungkapnya pada 1981 dalam Bones: Ancient Men and Modern Myth. “Leluhur kita itu tidak romantis, melainkan pemakan sembarang yang umumnya lebih suka memulung bangkai hewan-hewan berkuku untuk mendapatkan sisa-sisa,” tulis Lewis. Bahkan, ketika sudah mulai makan daging, manusia kemudian berburu manusia lainnya. Diyakini Homo, memakan Australopithecus , saudara tuanya, sebagaimana mereka memangsa hewan lain jika bisa. Pasalnya, kedua spesies itu sempat hidup berdampingan. Tapi ini masih juga diperdebatkan. “Saya tidak ragu, tetapi penyebab kepunahan Australopithecus mungkin tak sedramatis itu,” tulis Leakey. Makin lama, manusia lebih banyak makan daging hewan. Lebih-lebih Homo neanderthalensis . Menurut Jacob, di lingkungan dia hidup kurang banyak tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan. Sementara, hewan besar seperti rusa, banteng, kerbau, gajah, kuda sungai, kambing, mungkin badak, beruang, begitu melimpah untuk diburu. Hewan lain seperti kura-kura, ikan, juga dimakan. Ada pula makanan yang berasal dari hewan seperti madu dan larva. “Kera dan monyet mungkin hanya kalau terpaksa saja dimakan, karena bentuknya menyerupai manusia,” tulis Jacob. The Man of Bicorp adalah gambar di dinding gua berusia 8000 tahun di dekat Valencia, Spanyol. Tergambar seseorang tengah mengumpulkan madu dari sarang lebah Ditemukannya api membuat makan daging menjadi lebih mudah. Homo erectus adalah spesies pertama manusia yang menggunakan api. Dia juga mungkin yang pertama mengumpulkan makanan sekaligus berburu. Karena mereka sudah kenal api, makanan pun lebih mudah dikunyah dan dicerna. Perubahan pola makan terjadi lagi ketika masuk periode lebih modern yang disebut mesolitik. Menurut Jacob penjinakan hewan mulai dikenal. Anjing mungkin yang pertama dipelihara. Lalu sapi, kuda, keledai, kambing, kerbau, babi, kucing, dan unggas.  Dengan kebiasaan beternak, makan daging hewan menjadi lebih dominan. “Beberapa kelompok telah memakai susu dalam dietnya,” tulis Jacob. Pada masa ini pula eksploitasi pantai dan laut mulai terjadi. Berbagai jenis kerang dan ketam, ikan, dan udang banyak dikonsumsi. Buktinya adalah tumpukan kulit kerang di beberapa situs yang luar biasa besar. Contohnya di Tamiang, Aceh. Hewan-hewan kecil juga menjadi makanan. Di Liang Toge, Flores ditemukan sisa-sisa kelelawar, tikus biasa dan tikus raksasa, monyet, landak, dan babi. “Berburu masih dilakukan dan tumbuhan tetap dimakan,” tulis Jacob. Pada masa Neolitik, manusia semakin banyak mengonsumsi tumbuhan. Ini didukung pertanian yang mulai berjalan. Mereka mulai rajin makan gandum dan beras. Bahan-bahan itu sudah pula dijadikan bubur, roti, nasi, bir, dan arak. Cara mengolah makanan juga makin beragam. Manusia tak lagi mengonsumsi makanan mentah. Tak juga cuma dibakar atau dipanaskan di atas batu. Mereka sudah mengenal cara merebus dan memanggang. Bahan makanan mereka awetkan dengan dijemur, disalai, diasinkan, dan dibumbui. Mereka pun mulai mencampur bahan-bahan makanan. “Waktu luang bertambah dengan penemuan api, penjinakan tumbuhan dan hewan, permukiman menjadi tetap, umur manusia memanjang,” tulis Jacob.

  • Letnan Jenderal Tujuh Hari

    MEMASUKI tahun 1950 APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) melakukan berbagai pembenahan. Salah satunya penggantian bentuk pangkat. Pangkat mayor, letnan kolonel, dan kolonel tidak lagi menggunakan simbol bintang tetapi bunga tanjung. Simbol bintang hanya digunakan untuk tingkat mayor jenderal, letnan jenderal, dan jenderal; saat itu pangkat brigadir jenderal belum diadakan. Selain soal pangkat, perubahan nama kesatuan pun dilakukan di tiap divisi. Brigade XII Divisi Siliwangi termasuk kesatuan yang harus memberlakukan peraturan baru tersebut. Kesatuan yang bertanggung jawab atas wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur itu berganti nama menjadi Brigade D/XV. “Sebagai pimpinan Brigade D ditunjuklah Mayor Sambas Atmadinata yang kemudian pangkatnya dinaikan menjadi letnan kolonel,” tulis buku Siliwangi dari Masa ke Masa Bag. II (1950-1965). Seiring dengan pembenahan itu, aksi pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia pimpinan S.M. Kartosoewirjo semakin merajalela di Jawa Barat. Guna menangani situasi tersebut, nyaris tiap minggu Letkol Sambas harus mempersiapkan pasukannya dan melakukan inspeksi keliling. Suatu hari, Letkol Sambas akan menginspeksi pasukan yang berada di tiga wilayah yang menjadi wewenangnya. Merasa belum punya tanda pangkat letkol, dia kemudian menyuruh ajudannya untuk membeli di Toko Beny, yang terletak di depan Sekolah Zeni Angkatan Darat Bogor. Singkat cerita, tanda pangkat bintang dua berkilauan pun dibeli dan langsung ditempelkan oleh Sambas di leher kamejanya, bukan di pundak. Dengan jip yang dikemudikan oleh seorang ajudan dan dikawal seorang penembak, selama seminggu Sambas berkeliling ke basis-basis pasukan yang berada di Bogor, Sukabumi, dan Cianjur. Mereka mengecek kesiagaan dan mencocokan info lapangan dari pos ke pos. Hari terakhir inspeksi, sampailah mereka di Istana Cipanas dan langsung memeriksa kesiapan satu seksi CPM (Corps Polisi Militer). Begitu memasuki gerbang Istana Cipanas, penjaga langsung memberi hormat. Dengan sikap percaya diri, Sambas lantas bertanya, “Apakah situasi aman?” “Siap! Aman Let!” jawab sang penjaga dalam nada bersemangat. Sambas tersenyum mendengar kata “Let” dari prajurit jaga. Dia memaafkan dan memaklumi jika prajurit itu belum mengetahui tanda pangkat APRI versi terbaru. Tapi tidak demikian dengan dua pengawalnya, mereka terlihat sangat kesal atas panggilan yang sungguh tidak “etis” itu. “Sialan!” Sambas mendengar seorang pengawalnya mengumpat. Memasuki halaman Istana, seluruh peleton CPM pun dibariskan. Kepada sang sersan yang mengomandani peleton itu, Sambas lagi-lagi bertanya, “Apakah situasi di Istana Cipanas terkendali?” Eh, lagi-lagi sersan itu menjawab persis sama dengan jawaban prajurit penjaga di pintu gerbang. “Siap, aman Let!” Sambas memutuskan untuk tidak marah atau menegur. Pikirnya, bisa jadi sosialisasi soal pangkat belum sampai ke seluruh pasukan. Jadi, dia merasa itu bukan salah para prajurit di bawah. Saat situasi tersebut, tiba-tiba ajudannya maju ke depan dan menegur si sersan. “Lihat-lihat dong! Beliau ini komandan brigade, bukan seorang letnan!” Keributan itu cepat dilerai oleh Sambas dan untuk mencegah timbulnya suasana tidak enak, mereka pun lalu beranjak melanjutkan perjalanan pulang ke Bogor. Saat di Puncak, barulah “kesalahpahaman” itu terpecahkan. Mendapat informasi dari seorang tentara lainnya, Sambas baru mafhum bahwa para prajurit di Istana Cipanas itu sama sekali tidak salah. Mengapa? Ternyata tanda pangkat yang dibelikan ajudannya dari Toko Beny adalah tanda pangkat seorang letnan jenderal! “Yang tidak tahu itu adalah kami. Toko Beny salah jual, ajudan saya salah beli. Mereka keliru karena baru pertama kali,” kenang Sambas dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid I  terbitan Markas Besar LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia). Kendati demikian Sambas merasa bersyukur. Kendati tidak sengaja, dia setidaknya pernah merasakan jadi seorang letnan jenderal. Walaupun hanya tujuh hari. *

  • Enam Istri Sunan Gunung Jati

    SUDAH lama pernikahan menjadi sarana penyebaran agama. Hal itu pernah dilakukan oleh Sunan Gunung Jati saat proses penyebaran Islam di wilayah Priangan. Sang wali tidak hanya memperistri satu orang saja, atau empat orang sesuai ajaran Islam, melainkan enam orang. Walau dalam waktu yang tidak bersamaan. Dalam buku  Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 , M.C. Ricklefs menjelaskan jika jalinan pernikahan menjadi salah satu cara efektif untuk menyebarkan ajaran Islam. "Sunan dan para penggantinya dianggap memainkan peranan penting dalam penyiaran agama Islam ... melalui penaklukan, perkawinan-perkawinan, ataupun melalui dakwah para bekas muridnya". Tidak dijelaskan siapa istri pertama, kedua, ketiga dan seterusnya dari Sunan Gunung Jati. Namun yang pasti pernikahan sang wali dilakukan dalam rentang waktu yang berbeda. Dalam sebuah naskah tasawuf tidak berjudul, yang kemudian diberi nama Naskah Kuningan: Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah-Sunan Gunung Jati , terjemahan Amman N. Wahju diketahui bahwa pernikahan Sunan Gunung Jati dilakukan setelah ia selesai berguru kepada seorang ahli qiro’at (membaca Al-Qur’an) bernama Pengeran Makdum, putra Raja Andalusia. Naskah Kuningan sendiri ditulis dalam huruf Arab Pegon, dan menggunakan bahasa Jawa Kuno dialek Cirebon dan Sunda. Menurut Amman, naskah babad tersebut berisi rangkaian tembang yang terdiri atas 21 pupuh, 170 saleh, dan 1.480 padan. Dalam naskah asli yang diterjemahkan oleh Amman tercantum waktu pembuatan naskah, yang jika dimasehikan menjadi 4 April 1880 M. Berikut nama-nama perempuan yang pernah menjadi istri Sunan Gunung Jati. Nyi Gedeng Babadan Usai selesai belajar, sang guru Pangeran Makdum menyuruh Sunan Gunung Jati untuk berjalan ke arah barat. Di sana ia harus menemui Gedeng Babadan alias Maulana Huda dan memperdalam agama Islam bersamanya. Selama proses belajar di barat, Pangeran Makdum meyakini Sunan Gunung Jati akan menemui jodohnya. “Maka Syekh Maulana Jati mengikuti petunjuk itu dan pergi ke arah barat, ke Banten,” tulis Amman. Setiba di Banten, Sunan Gunung Jati menemukan Maulana Huda sedang dirundung keresahan. Musibah kekeringan yang menimpa Banten selama beberapa waktu telah menghancurkan pertanian rakyat. Dalam Naskah Kuningan dikisahkan jika Sunan Gunung Jati membantu permasalahan kekeringan tersebut. Melihat tanahnya kembali subur, Maulana Huda sangat senang. Ia pun menerima pendatang itu dan bersedia mengajarinya. Dalam prosesnya Sunan Gunung Jati lalu dijodohkan dengan putri Maulana Huda, Nyi Gedeng Babadan. Namun sayang pernikahannya itu tidak menghasilkan keturunan. Naskah Kuningan meyakini bahwa Nyi Babadan adalah istri pertama Sunang Gunung Jati. Nyi Rara Jati Setelah kembali dari Banten, Sunan Gunung Jati mulai menyebarkan Islam di Cirebon dan sekitarnya. Ia kemudian bertemu dengan Syekh Datuk Kahfi, dikenal juga sebagai Syekh Nurjati, salah seorang penyebar Islam pertama di Cirebon. Keduanya saling belajar, dan sama-sama menyebarkan ajaran Islam di tatar Sunda. Sunan Gunung Jati dikenalkan oleh Syekh Nurjati kepada putrinya, Nyi Rara Api atau Nyi Rara Jati. Keduanya pun berjodoh. Dalam sebuah naskah ilmu tasawuf,  Naskah Mertasinga , diterbitkan dalam buku Sejarah Wali: Syekh Syarif Hidayatullah-Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga)  hasil terjemahan Amman N. Wahju, disebutkan jika pernikahannya itu dikaruniai dua orang putra, yakni Pangeran Jayakalana dan Pangeran Bratakalana. Di dalam  Naskah Mertasinga  terdapat sepenggal kisah kehidupan sang wali, termasuk ajarannya selama proses penyebaran Islam di Cirebon dan sekitarnya. Nyi Mas Pakungwati Pernikahan Sunan Gunung Jati selanjutnya dianggap sebagai perjodohan yang paling berpengaruh dalam penyebaran Islam di Cirebon dan Priangan. Penelitian yang dilakukan A. Sobana Hardjasaputra dan Tawalinuddin Haris dalam buku Cirebon dalam Lima Zaman: Abad ke-15 hingga Pertengahan Abad ke-20 menyebut jika tahun 1479 Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaannya kepada Sunan Gunung Jati. Saat itu, Sunan Gunung Jati telah resmi menikah dengan putri Pangeran Cakrabuana dari Nyai Mas Endang Geulis, yaitu Nyi Mas Pakungwati. Setelah mendapat kedudukan sebagai penguasa Cirebon, Sunan Gunung Jati segera merubah bentuk pemerintahannya menjadi kerajaan Islam. Perubahannya dilakukan untuk memperkuat kekuatan Islam di tanah Sunda dan menyebarkannya ke luar Cirebon. Selama pernikahannya dengan Nyi Mas Pakungwati juga Sunan Gunung Jati diangkat sebagai wali oleh Dewan Wali, menggantikan Sunan Ampel yang telah wafat. Tidak dijelaskan dengan pasti berapa putra dan putri yang diperoleh Sunan Gunung Jati pada pernikahannya ini tetapi banyak di antara mereka yang wafat sebelum meneruskan dakwah sang wali. Nyi Tepasari atau Rara Tepasan Perjodohannya kali ini banyak disebut sebagai proses legitimasi dan persebaran Islam ke wilayah yang lebih luas. Dalam Naskah Kuningan Sunan Gunung Jati menikah dengan putri Nyi Gedeng Tepasan, yang juga cucu dari Raja Majapahit Sri Angerehrah, Rara Tepasan. Naskah Kuningan tidak menjelaskan siapa sebenarnya tokoh bernama Sri Angerehrah ini. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa pada masa Sunan Gunung Jati bertemu dengan Rara Tepasan (akhir abad ke-15) kekuasaan di Majapahit dipegang oleh Raja Singhawikrama Wardhana. “Dari pernikahannya ini Sunan Gunung Jati dikaruniai dua orang anak, yakni Ratu Ayu dan Pangeran Pasarean, yang kelak menurunkan raja-raja Carbon di kemudian hari,” tulis Amman. Nyi Kawung Anten Asal usul Nyi Kawung Anten masih menjadi perdebatan. Sebagian peneliti menyebut jika istri Sunan Gunung Jati ini adalah adik Bupati Banten saat itu. Namun literatur lain menyebut jika ia adalah cucu raja Pakuan, adik dari Prabu Mandi Pethak atau Dipati Cangkuang. Dalam Naskah Kuningan dikisahkan pertemuan Sunan Gunung Jati dengan Nyi Kawung Anten terjadi dalam kondisi yang unik. Ketika sedang berjalan-jalan ke Pakuan, Sunan Gunung Jati menemukan sebuah istana yang terlihat telah ditinggalkan oleh penghuninya. Saat sedang menyusuri setiap ruang di dalam istana tersebut, Sunan Gunung Jati menemukan sosok perempuan. Singkat cerita mereka pun berjodoh. Dan dari pernikahannya ini terlahirlah Ratu Winahon dan Pangeran Sebakingkin. Kelak keturunan Sunan Gunung Jati ini menjadi bupati di Banten. Syarifah Baghdadi dan Ong Tien Nio   Dalam Babad Cirebon  dimuat dalam buku Jawa Barat dalam Lima Lembaga  karya Edi S. Ekadjati, diceritakan tiga tokoh penting dari Arab yang menyebarkan Islam di Cirebon, yakni Syarif Abdurrahman, Syarif Abdurrahim, dan Syarifah Baghdad. Mereka adalah saudara kandung, putra dan putri dari Sultan Baghdad. “Mereka diperintah untuk berlayar ke Pulau Jawa oleh sang ayah. Di Cirebon ketiganya berguru kepada Syekh Nurjati dan diperkenalkan dengan Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon,” tulis Bambang Setia Budi dalam Masjid Kuno Cirebon . Kedua putra Sultan Baghdad kemudian mendirikan masjid masing-masing sebagai basis penyebaran ajaran Islam mereka. Sementara itu saudara perempuan mereka, Syarifah Baghdadi, menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia pun turut membantu penyebaran agama Islam bersama saudara dan suaminya. Sementara itu, pernikahan Sunan Gunung Jati dengan putri keturunan Tiongkok, Ong Tien Nio tidak banyak terekam. Para peneliti lebih banyak meduga jika pernikahan itu terjadi saat pemerintah Cirebon melakukan hubungan dagang dengan orang-orang Tionghoa. Pertemuan keduanya terjadi di Tiongkok saat Sunan Gunung Jati melawat ke sana. Namun pernikahannya terjadi di Jawa. Untuk menjaga hubungan baik dengan mereka, sekaligus menyebarkan ajaran Islam di kalangan masyarakat asing tersebut, Sunan Gunung Jati menikahi Ong Tien Nio. Pengaruh Tiongkok sendiri sebenarnya sangat kental terasa di Cirebon. Banyak bangunan masjid yang dipenuhi oleh ornamen Tiongkok, seperti keramik, piring, dan kerajinan khas Tiongkok lainnya. Hal itu cukup memperkuat bukti adanya hubungan yang kuat antara Sunan Gunung Jati dengan etnis Tionghoa.*

  • Tragedi Dakota dalam Hari Bakti Angkatan Udara

    DENGAN khidmat, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Yuyu Sutisna memimpin upacara sederhana Hari Bakti TNI AU ke-72 di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta,Senin 29 Juli 2019. Di pagi buta itu, KSAU berpesan agar generasi penerus TNI AU meneladani para kadet yang melancarkan operasi pemboman atas Semarang, Salatiga, dan Ambarawa 72 tahun silam. “Nilai-nilai perjuangan yang merupakan warisan para pendahulu harus senantiasa diteladani dan diimplementasikan insan-insan Swa Bhuwana Paksa dari generasi ke generasi, sehingga seluruh prajurit TNI AU mengingat jati dirinya sebagai tentara yang mengabdi pada Ibu Pertiwi,” ujar KSAU. Pidato KSAU kemudian dilanjutkan dengan pementasan sosiodrama yang dilakoni para pereka ulang Djokjakarta 1945. Hari Bakti TNI AU, diungkapkan Irna H.N. Hadi Suwito dkk dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 , ditetapkan lewat SK KSAU Nomor Kep. 133/VII/1976 berdasarkan pada peristiwa gugurnya tokoh-tokoh AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia)dalam peristiwa jatuhnya pesawat angkut C-47 Dakota bernomor registrasi VT-CLA pada petang 29 Juli 1947. KSAU Marsekal Yuyu Sutisna dalam upacara peringatan Hari Bakti TNI AU di Lanud Adisutjipto. (tni.au.mil.id). Rabu Kelabu Rabu 30 Juli 1947 itu, sejumlah petinggi TNI memenuhi sebuah aula di Hotel Tugu, Yogyakarta dalam suasanakelabu. Di sanalah berbaring tiga jenazah perintis AURI: Komodor Muda Udara dr. Abdulrachman Saleh, Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, dan Opsir Muda Udara Adisumarmo Wiryokusumo. Selain KSAU Komodor Suryadi Suryadarma, turut hadir Panglima TNI Jenderal Sudirman memberi penghormatan terakhir dalam upacara militer itu. Ribuan masyarakat sipil yang terpukulturut memberi penghormatan. Masing-masing jenazah lalu dikebumikan sesuai permintaan keluarga.Jenazah Abdulrachman Saleh dan Adisutjipto dikuburkan di Kuncen, sementara Adisumarmo di Taman Makam Pahlawan Semaki. Suryadarma amat terpukul dan sedikit menyesal . Ia merasa gugurnya ketiga kolega beserta enam korban Dakota VT-CLA lain disebabkan oleh amuk Belanda yang dikejutkan oleh serangan udara kadet-kadet AURI pada pagi 29 Juli 1947. Akibatnya, pesawat Dakota VT-CLA itupun jadi salah satu tumbal pembalasan Belanda. Pesawat Dakota VT-CLA itu dibeli pemerintah RI sedianya untuk mengantar dua ton obat-obatan dari Singapura yang merupakan sumbangan Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia. Sebelum dibeli, pesawat itumilik Biju Patnaik, pengusaha India cum mantan pilot Royal Air Force (RAF/AU Inggris) yang bersimpati pada kemerdekaan Indonesia. VT-CLA sendiri merupakan nomor registrasi sipil Dakota itu dalam naungan Maskapai Kalingga Airlines, dan belum diganti meski sudah dibeli pemerintah RI. Pesawat dengan rute Singapura-Yogyakarta itu dipiloti penerbang veteran AU AustraliaAlexander Noel Constantine dan veteran AU InggrisRoy Lance Hazelhurst. Mengutip Adityawarman Suryadarma dalam biografi ayahnya, Bapak Angkatan Udara: Suryadi Suryadarma , rute penerbangan nonmiliter itu sudah mendapat izin terbang dari pemerintah Inggris dan NICA di Jakarta. Berdasarkan manifes otoritas bandara Singapura, pesawat itu ditumpangi sembilan orang. Selain tiga tokoh AURI dan dua penerbangnya, turut menumpang istri sang pilot, Beryl Constantine; Abdulgani Handonotjokro dari GKBI Tegal; Zainal Arifin dari Konsul Dagang RI di Malaya; dan teknisi Bhida Rom asal India. Dikuntit Sepasang Kittyhawk Dakota VT-CLA itu bertolak dari Singapura pukul 1 siang dengan muatan dua ton sumbangan obat-obatan. Penerbangan berjalanan aman. Namun sesampainyadi atas Kepulauan Bangka-Belitung, sepasang pesawat Curtiss P-40 “Kittyhawk” AU Belanda mulai tampak. Muncul dan menghilang,begitulahseterusnya dua Kittyhawk bermanuver untuk menguntit Dakotahingga tiba di angkasa Yogyakarta sekira pukul 4 sore. Saat runway Lanud Maguwo terlihat, pilot Constantine segera menurunkan roda pesawat sambil mengarahkan pesawat berputar sekali sebelum mendarat. Saat itulah tembakan dari senapan mesin kaliber 12,70 milimeter M2 Browning sepasang Kittyhawk dimuntahkan kedua pilotnya. “Dakota VT-CLA mengeluarkan asap; baling-baling sebelah kanan patah. Pesawat itu kehilangan keseimbangan dan tembakan masih gencar dilancarkan. Ketika menukik tajam, dari pintu pesawat tampak beberapa sosok tubuh terlempar ke luar. Pesawat miring hingga sayap kirinya melanggar pucuk pohon, kemudian jatuh melayang mem b entur tanggu l sawah,” ungkap Irna dkk b e r dasarkan kesaksian seorang bernama Soma Pawiro. Panglima TNI Jenderal Sudirman turut memberi penghormatan terakhir pada tiga tokoh AURI di Hotel Tugu. Dakota VT-CLA jatuh dan meledak di persawahan batas Desa Ngoto dan Desa Wojo, sekira tiga kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Warga langsung mendatangi lokasi. Meski mulanya dikira pesawat Belanda, pertolongan tetap diupayakan meski hari mulai gelap. Dengan obor dan tandu seadanya dari batang bambu, masyarakat mengevakuasi beberapa korban. Para personil AURI lantas berdatangan, termasuk kadet Suharnoko Harbani dan KSAU Suryadarma. Saat itulah warga insyaf bahwa itu pesawat republik. Selain Abdulgani, Beryl Constantine masih hidup dengan luka tembak di pipi saat dievakuasi. Namun, nyawanya tak tertolong saat dilarikan ke Rumahsakit Bethesda, tempat para korban mendapat penanganan. Para korban, utamanya para perintis AURI, lalu disemayamkan di Hotel Tugu untuk mendapatkan penghormatan terakhir secara militer. Mereka dimakamkan keesokan harinya. Peristiwa itu membuat Belanda mencari alasan untuk mengelak.“Menurut radio Yogya, dua pesawat Belanda menembak jatuh Dakota yang membawa bantuan medis dari Singapura. Namun jurubicara pemerintah Belanda di Den Haag membantah, berdasarkan komunike Belanda di Batavia, di mana pesawat Belanda hanya memberi tembakan peringatan namun Dakota itu jatuh karena menabrak sebuah pohon,” tulis Suratkabar Nieuwe Apeldoornsche Courant , 30 Juli 1947. Alasan itu jelas mengada-ada lantaran pada jenazahBeryl Constantine dan Adisumarmoterdapat luka tembak. Belanda lantas “meralat” pernyataannya bahwa memang benardua pilot Kittyhawk, Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens, melepas tembakan tapi lantaran mereka salah mengira pesawat itu sebagai pembom tukik Jepang Ki-49 “Helen”. Dua pilot AU Belanda, B.J. Ruesink dan W.E. Erkelens yang menembak jatuh Dakota VT-CLA. (Dienst voor Legercontacten Indonesie/nationaalarchief.nl) Alasan yang lebih mengada-ada itu –lantaran kedua pilot Belanda merupakan alumnus Skadron Nederlands East Indisch (NEI) yang berlatih di Canberra, Australia semasa Perang Dunia II;mustahil mereka tak mengenali bentuk pesawat Dakota yang merupakan andalan Sekutu–kembali direvisi Belanda. Menurutnya, pesawat mereka menembaki Dakota VT-CLA lantaran tak menggunakan insignia palang merah di badan pesawat. Dunia internasional kian mengecam Belanda, terlebih setelah keluar kesaksian Letkol Peter Ratcliffe , perwira Inggris utusan SEAC (South East Asia Command) yang sedang di Yogyakarta. Ratcliffe menyaksikan sendiri dua Kittyhawk Belanda itu menembaki Dakota meski D a kota sudah miring menjelang menghantam daratan. Ratcliffe ikut mendatangi RS Bethesda untuk melihat dua korban, Beryl Constantine dan Adisumarmo. Dalam kesaksiannya, kedua tubuh jenazahdipenuhi luka tembak. “Sebuah insiden paling pengecut dan brutal dan tindakan kebodohan yang pernah saya lihat,” kata Ratcliffe marah, dikutip tabloid AU Australia,  Pathfinder,  edisi 159, Juli 2011.

  • Nasib Tragis Sang Environmentalist

    DEMI merayakan natal bersama keluarganya, Francisco Alves Mendes Filho atau biasa disapa Chico Mendes pulang ke rumahnya di Xapuri, Acre, Brazil pada Oktober 1988. Aktivitasnya keliling Brazil mengkampanyekan kelestarian hutan untuk sesaat dia hentikan dulu. Namun, ada yang berbeda dari perayaan natal tahun 1988 itu. Saat pesta ulangtahunnya yang ke-44, 10 hari sebelum natal, Mendes melontarkan kalimat aneh. “Saya menganggap saya tak akan hidup sampai natal,” ujarnya sebagaimana dikutip Andrew Revkin dalam The Burning Season: The Murder of Chico Mendes and the Fight for the Amazon Rain Forest . Mendes, pria kelahiran Xapuri pada 15 Desember 1944, merupakan penduduk pedalaman belantara Amazon yang getol mengkampanyekan pelestarian hutannya. Hutan hujan terluas di dunia itu merupakan rumah bagi ribuan jenis tanaman dan hewan. “Dan di antara pohon paling ajaib dari semua adalah seringueiras –pohon karet. Kemampuan mereka menghasilkan lateks secara teratur menjadikannya setara dengan pabrik kecil secara biologis”kata Alon Tal dalam tulisannya di buku Speaking of Earth: Environmental of Speeches that Moved the World . Sebagaimana masyarakat di tempat tinggalnya, leluhur Mendes hidup dari menyadap karet alam. “Selama hampir dua abad mereka telah mengekstraksi karet dari pohon-pohon yang tumbuh di sana, untuk memasok nafsu konsumsi karet dunia yang berkembang. Hutan bagi mereka adalah tambang bahan mentah amat berharga,” sambung Tal. Sejak usia sembilan tahun, Mendes sudah diajak menyadap karet oleh ayahnya. Aktivitas itu membuatnya belajar banyak hal tentang karet, mulai dari memilih pohon hingga proses pengasapan sebelum lateks bisa dijual. Pada usia 11 tahun, Mendes bekerja penuh waktu sebagai menyadap karet. Kesehariannya di hutan membuatnya mengenal seluk-beluk hutan di sekitarnya pada usia 18 tahun. Namun, saat itu Mendes belum pernah mengenal dunia di luar hutan apalagi membaca koran. Maka sama seperti masyarakatnya, keluarganya tetap tak tahu bagaimana cara mengatasi utang yang terus menumpuk kepada baron-baron setempat akibat jatuhnya harga karet. Karet merupakan sandaran hidup tiap keluarga dan tumpuan utama perekenomian masyarakat. Begitu pentingnya arti karet bagi membuat mereka pantang merusak hutan. Keharmonisan hubungan manusia-alam itu akhirnya terusik oleh kedatangan perusahaan peternakan ( ranch ). Banyak pengusaha peternakan membabat hutan untuk dijadikan padang penggembalaan hewan ternak mereka setelah pemerintah berkeinginan menyediakan daging terjangkau bagi rakyatnya. Di tempat tinggal Mendes, peternakanFazenda Parana milik Darly Alves da Silva menjadi pemain kunci yang merusak keharmonisan masyarakat dan hutan mereka. “Tahun 1974 mereka membeli sebidang tanah pertama di Xapuri. Darli menjual tanah pertaniannya seluas 250 hektar di Umuarana dan membeli tanah seluas 2.100 hektar di sepanjang kiri-kanan jalan menurun yang membelok ke Xapuri. Di sinilah keluarga itu menciptakan peternakan Fazenda Parana. Padahal daerah itu tadinya adalah sebuah hutan perawan di dalam wilayah suatu seingalistas . Dengan membangun jalan, Lembah Acre, di antara pertengahan 1970-an dan akhir 1980-an telah berubah dari hutan menjadi padang rumput. Dalam proses itu semua, keluarga ini dikenal dengan reputasi pemakai cara kekerasan yang luar biasa,” kata Chico Mendes dalam tulisannya di buku Berjuang Menyelamatkan Hutan: Sebuah Kata Hati . Konflik antara masyarakat dan peternakan terus bermunculan. Dalam suasana itulah Mendes tumbuh tanpa tahu apapun cara untuk menyelesaikannya. Namun, pertemuannya dengan Euclides Fernando Tavora, perwira AD Brazil yang melarikan diri setelah terlibat dalam pemborontakan gagal pimpinan Luis Carlos Prestes pada 1934, mengubah semuanya. Tavora menjadikan Mendes anak didik, mengajarkan membaca, memperkenalkan koran, dan mengajaknya mendengarkan siaran radio. “Dia tak membuang waktu untuk memperkenalkannya pada dasar-dasar sosialis, prinsip-prinsip populis,” kata Alon Tal. Dunia di luar bukan hal asing lagi bagi Mendes sejak itu. Penyelesaian konflik dengan peternakan pun menjadi obsesi Mendes. Untuk itu, Mendes mengajarkan para pemuda di sekitarnya membaca dan menulis. “Pada 1975, Chico mendengar bahwa serikat buruh telah masuk wilayah Acre. Dengan kesadaran kelas yang baru didapat dan hasrat mudanya, ia secara alami cenderung untuk bergabung dengan mereka.” Seiring menguatnya kesadaran teman-temannya akan perlakuan tak adil yang diterima, Mendes mendirikan Rural Workers’ Union dan Rubber Tappers’ Union. Pada 1976, Serikat membuat aksi “standoff”. Sekira 70 orang, lelaki dan perempuan, berjalan menuju hutan untuk menggagalkan penebangan pohon oleh ratusan pekerja yang didukung beberapa pria bersenjata. Aksi itu mendapat dukungan para penyadap karet. Mereka bergandengan tangan membentuk dinding manusia yang menghalangi para penebang pohon (dinamakan empate ). “Itu adalah latihan spontan dalam perlawanan sipil, tetapi itu mengatur nada untuk aksi Mendes berikutnya: tanpa kekerasan, jauh lebih agresif dibanding protes sopan. Para demonstran hanya bertekad untuk menghentikan penebangan,” tulis Alon. Mendes kian aktif mengorganisir dukungan lokal Partai Buruh dalam menyuarakan National Campaign for the Defence and Development of the Amazon. Mereka lalu menuntut pemerintah membuat hutan “extractive reserve” untuk mendukung pelestarian alam sekaligus sumber mata pencarian penduduk. Untuk meluaskan dukungan, Mendes menginisiasi pertemuan nasional penyadap karet di Brasilia pada Oktober 1985. Para penyadap karet dari berbagai pelosok negeri menghadiri pertemuan perdana itu, yang mendiskusikan ancaman lingkungan tempat tinggal mereka dari pembangunan jalan dan perluasan peternakan, serta deforestasi.  Pertemuan itu berhasil menarik perhatian gerakan pecinta lingkungan internasional. Stephan Schwartzman, pecinta lingkungan asal AS, hadir dalam pertemuan itu bersama antropolog Mary Allegretti dan Tony Gross (perwakilan Oxfam). Menurut Margaret E Keck dalam “Social Equity and Environmental Politics in Brazil: Lssons from the Rubber Tappers of Acre”, “pertemuan ini juga menghasilkan pembentukan Dewan Penyadap Karet Nasional dan mulai merumuskan proposal extractive reserve s di Amazon. Hutan cadangan ini, yang dibuat di wilayah publik, akan menjamin penggunaan tanah penyadap karet.” Proposal extractive reserves itu lalu dibawa Serikat ke Sekretaris Lingkungan Hidup Brazil Paulo Nogueira Neto dan dibawa Schwartzman ke Washington. Mendes diundang Environemental Defense Fund and the National Wildlife Federation ke Washington untuk berbicara di depan Kongres AS, World Bank (WB), dan pertemuan tahunan Inter-American Development Bank (IDB) pada Maret 1987. WB dan IDB menyetujui pendanaan extractivereserves . Pemerintah Brazil pun membentuk instrumen hukum bagi pembentukan hutan cadangan itu. “Pada 30 Juni 1988, utusan lokal dari Ministry for Land Reform and Development (MIRAD) menjejakkan kakinya sambil berkata bahwa perkebunan karet Cachoeira tidak akan pernah diambil alih. Hanya 30 hari sesudah itu, suatu perintah untuk pembelian Cachoeira dikeluarkan. Sejak itu, hutan cadangan baru dinyatakan berdiri. Kemudian hutan cadangan lainnya di Sao Luis do Remanso dinyatakan berdiri. Kesemuanya berjumlah 40.000 hektar (150 mil persegi),” kata Mendes. Pada Juli 1987, PBB menganugerahi Mendes Global 500 Award, penghargaan bidang lingkungan yang diberikan kepada aktivis akar-rumput, organisasi lingkungan, dan tokoh masyarakat atas kontribusi mereka terhadap perlindungan lingkungan. Keberhasilan itu membuat Mendes dan rekan penyadap karet masuk dalam bidikan para tuan tanah pengusaha peternakan. Untuk menghancurkan gerakan yang menghalangi kepentingan bisnis mereka, para pengusaha memanfaatkan aparat keamanan dan aparat hukum Brazil yang korup. Perlawanan mereka makin gencar setelah berdirinya União Democrática Rural (UDR). “Di sini di Xapuri, kehadiran UDR mulai terasa. Sejak April 1988, ketika organisasi itu secara formal didirikan, jumlah penembak bayaran di Xapuri bertambah. Sejak itu pula jumlah pembunuhan dan usaha untuk itu meningkat. Orang-orang bersenjata itu dalam kenyataannya adalah sayap militer dari UDR, dan kami adalah target mereka. Tantangan besar lainnya ialah memobilisasi pendapat umum. Dengan begitu kami dapat semakin kuat mendorong pemerintah untuk mengambil alih lebih banyak hutan,” sambung Mendes. Mendes makin sering mendapat ancaman pembunuhan. Pada 29 November 1988, dia mengirim telegram berisi informasi adanya rapat perencanaan pembunuhan dirinya di Peternakan Fazenda Parana ke sejumlah pemangku kebijakan. Namun, pengaduan itu tak ditindaklanjuti. Desa tempat tinggal Mendes juga terus diawasi para pria bersenjata kaki-tangan Darly sejak beberapa bulan sebelum ulangtahun Mendes ke-44. Mereka menghilang begitu pesta itu berjalan lancar dengan banyak tamu. Masyarakat menganggap ketiadaan kaki-tangan Darly di sekitar desa adalah pertanda buruk. Ketika Mendes pulang untuk merayakan natal 1988, para pria bersenjata sudah tak tampak kendati sebetulnya tetap mengawasinya. Kamis 22 Desember malam, Mendes menghabiskan waktu dengan bermain domino bersama beberapa pengawalnya di dapur. Saat hendak menyiram teras belakang, tulis Alon Tal, “Mendes tidak pernah mencapai teras itu. Serentetan tembakan meletus yang membuatnya kembali ke dalam rumah dengan darah berkucuran.” Mendes tewas. Kematiannya menimbulkan kemarahan, terutama di kalangan para penyadap karet. Sementara, penggundulan hutan Amazon semakin menjadi. “Sembilan bulan setelah pembunuhan Chico Mendes, empate masih berjalan baik,” kata Revkin. Namun, korupnya aparat keamanan Brazil membuat pembunuhan Mendes tak pernah benar-benar diusut. Penyerahan diri Darci Alves, anak Darly yang mengaku jadi dalang pembunuhan itu, dan bahkan Darly tak banyak membantu pengungkapan kasus itu. “Chico Mendes merupakan aktivis pedesaan ke-90 yang dibunuh di Brazil tahun itu,” kata Anthony L. Hall dalam bukunya Sustaining Amazonia: Grassroots Action for Productive Conservation .

bottom of page