Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pao An Tui yang Dibenci Kaum Republik
Kawasan pecinan di Pasar Sentral, kota Medan cukup tenang pada siang hari. Aktivitas para pekerja dan pedagang berjalan sebagaimana biasa. Namun memasuki waktu malam, keadaan berubah mencekam. Letusan tembakan acap kali menggema. Demikianlah suasana keamanan di distrik Tionghoa itu pada awal 1946. Menurut keterangan warga setempat yang dikutip Abdullah Hussain, Kepala Polisi Langsa yang sedang tugas di Medan, orang-orang Tionghoa di kawasan itu telah dipersenjatai oleh NICA. Mereka membentuk sebuah barisan sendiri yang diberi nama Pao An Tui (PAT). “Dari atas loteng rumahnyalah mereka melepaskan tembakan kepada pejuang-pejuang Indonesia yang menyusup masuk ke dalam kota pada waktu malam,” kenang Abdullah dalam Peristiwa Kemerdekaan di Aceh . Perbuatan pasukan PAT itu kontan bikin jengkel. Pemuda-pemuda Medan berang. Sekali waktu mereka mencari pemimpin PAT itu. Keesokan harinya, seorang pentolan PAT ditembak mati. Ketegangan antara pejuang Republik dengan PAT masih terus berlanjut. Mulai dari pusat kota merembet hingga ke pelosok di luar kota Medan. Bentrokan dan kontak senjata sering terjadi. Penguasa Pasar Tujuan semula pembentukan PAT adalah untuk menjaga keamanan basis masyarakat Tionghoa. Di Medan, toko-toko milik pedagang Tionghoa kerap kali dirampok oleh penjahat lokal sebagai ekses dari revolusi. Tetapi akhirnya, dalam setiap patroli yang dilakukan tentara Inggris atau Belanda, satuan PAT selalu dilibatkan. “Pasukan-pasukan ini dipakai dalam patroli-patroli Belanda untuk menggempur laskar dan TRI. Persenjataan dan perlengkapan lainnya dari pasukan ini jauh lebih baik dari laskar dan tentara,”tulis buku Perjuangan Semesta Rakyat Sumatera Utara yang diterbitkan Forum Komunikasi Ex Sub Teritorium VII Komando Sumatera. PAT memperoleh akses atas kawasan tertentu dengan menjalin koordinasi ke pihak tentara Belanda. Tiap daerah pendudukan yang dikuasai Belanda, PAT bertugas mengamankan kawasan pecinan didalamnya. Maka tak heran bila PAT punya kontrol atas pasar-pasar di daerah pendudukan dalam garis demarkasi. Pasukan PAT yang berpatroli memburu ekstremis di sekitar Medan, 1947. Sumber: ANRI. Menurut penelitian sejarawan LIPI Nasrul Hamdani dalam Komunitas Cina di Medan dalam Lintasan Tiga Kekuasaan 1930-1960 , PAT selalu menjaga ketat pasar-pasar dan tempat warga kota berinteraksi. Setiap pos di keramaian ini dijaga berlapis untuk mengantisipasi penyusup atau mata-mata Republik. Pasukan PAT penjaga pos didampingi penembak jitu Belanda yang membidik dari loteng-loteng pertokoan. Semua orang yang dicurigai diperiksa, perempuan maupun lelaki. PAT punya cara yang terbilang unik dalam menggeledah tubuh. Mereka yang punya bahu keras akan segera diringkus dan dicap sebagai ekstremis Republik. Operasi anti-spionase PAT menyimpulkan, bidang bahu yang mengeras terjadi karena pergesekan tali senapan yang disandang saat bergerilya. Penangkapan warga atas dasar kondisi otot bahu biasa dilakukan, meski awalnya melalui prosedur resmi. “Beberapa proses interogasi berujung pada kematian, dan untuk menghilangkan jenazah korban interogasi, satu daerah semak belukar di jalan Tempel dijadikan kuburan sekaligus tempat eksekusi penyusup dan pengacau,” tulis Nasrul. Aksi PAT Dari seratusan pemuda Tionghoa yang jago bela diri, personel PAT membengkak jadi seribuan orang. Jumlah sebanyak itu juga dimanfaatkan Belanda sebagai tenaga tambahan. PAT kadang dilibatkan dalam operasi militer Belanda ke pedalaman di luar garis demarkasi. Dalam operasi ke Deli Tua pada 10 mei 1946, misalnya. Tentara Belanda menyerbu dengan kekuatan tank, panser, puluhan truk pengangkut personel dan pasukan artileri. Serdadu PAT memainkan aksi penyusupan nya ke jantung pertahanan kubu Republik. Cara yang dilakoni PAT terbilang nekat dan berani. Mereka menyamarkan diri sebagai laskar rakyat yang mengendarai kendaraaan tempur Belanda. Seolah-olah telah berhasil merebut fasilitas tempur itu melalui suatu pertempuran. Kendaraan yang ditunggangi PAT dipasangi bendera putih berikut papan bertuliskan nama-nama pentolan laslar rakyat seperti Bedjo dan lain-lain. Penduduk setempat yang menyaksikan konvoi “pejuang gadungan” itu terpana dan memberikan sambutan. “Ketika warga mulai percaya, yang terjadi adalah penggeledahan warga,” tulis Nasrul. Ada kalanya mereka tergoda juga menjarah barang milik warga. PAT jadinya dibenci sekaligus ditakuti kaum Republik. Ketika melancarkan agresi militer yang pertama 21 Juli 1947, pasukan Brigade Z Belanda berhasil menjebol pertahanan Komando Medan Area (KMA) dalam sekejap. Dalam serbuan itu, PAT lagi-lagi turut serta. Sebagaimana taktik perang kota, mereka menyerang dari belakang lewat celah-celah pertokoan. “Kalau Belanda menyerbu bagai air bah, Poh An Tui menyerang bagai ular yang mematuk mangsanya dari atas pohon,” kenang Nukum Sanany, anggota Batalion VI Resimen II Divisi X Sumatera dalam Pasukan Merian Nukum Sanany yang disusun B. Wiwoho. Di kalangan PAT timbul penilaian yang keliru terhadap pejuang Indonesia. Mereka menilai semua barisan bersenjata Republik adalah pasukan penjahat yang suka menggarong harta benda masyarakat Tionghoa. Tindakan permusuhan sering diperlihatkan PAT tanpa pandang bulu. “Tetapi hal yang serupa ini memang sukar dielakkan, karena sumber dan partner mereka adalah musuh-musuh dari pemuda Indonesia itu,” tulis Biro Sejarah Prima dalam Medan Area Mengisi Proklamasi . “Sebaliknya, sebagai akibat kekeliruan penilaian pihak Tionghoa ini, lahir pulalah antipati yang besar terhadap mereka dalam kalangan bangsa Indonesia, sehingga PAT diidentikan dengan alat kolonialisme yang jahat.” Bagaimana akhir keberlangsungan PAT sebagai barisan pengawal kesohor di Sumatera Utara? (Bersambung).
- Nasi Sejak Dulu Kala
Saat itu pukul enam pagi. Penduduk Desa Rukam bergerak ke tempat upacara, duduk berkeliling di halaman menghadap batu sima dan kulumpang. Pagi itu, acara peresmian desa sebagai penerima augerah sima digelar. Beragam penganan sudah siap. Ada skul paripurna timan dan beragam lauk pauk. Semua dipersilakan mencicipi. Begitu Prasasti Rukam mengisahkan pesta rakyat yang terjadi ribuan tahun lalu (829 saka/907 M). Bukan cuma mencatat bagaimana jalannya upacara penetapan sima , prasasti itu juga menyebutkan beragam penganan yang disediakan ketika acara berlangsung. Yang paling menarik adalah penyebutan skul paripurna timan. " Skul paripurna atau nasi paripurna kalau di prasasti itu seperti nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya," jelas Titi Surti Nastiti, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, ketika ditemui di kantornya. Arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa menulis, beras merupakan bahan makanan utama di antara sumber nabati lainnya. Bahan ini merupakan sumber makanan pokok masyarakat Jawa Kuno. Padi muncul dalam sumber prasasti, kesusastraan, dan relief. Sawah dan padi disebutkan dalam teks Ramayana. Sistem pertanian sawah yang menghasilkan padi ada dalam relief cerita Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur dan relief Candi Minakjinggo di Trowulan. Tanaman padi pada relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur. (Wikipedia) Bulir-bulir padi juga ditemukan di situs permukiman yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 M. Bukti adanya aktivitas pertanian ini didapatkan dari Situs Liyangan, yang ada di lereng Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah. Begitu pun nasi. Selain dalam Prasasti Rukam, nasi yang disajikan bersama makanan lainnya dalam upacara sima muncul pula dalam Prasasti Panggumulan (824 Saka), Prasasti Sangguran (850 Saka), dan Prasasti Taji (823 Saka). Sementara prasasti juga menyebutkan nasi dalam berbagai variasi ketika menjadi menu utama dalam upacara makan bersama penetapan daerah perdikan. Riboet Darmosoetopo, ahli epigrafi UGM, dalam Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Abad IX-X TU menyebutkan beberapa jenis masakan dari nasi yang pernah disebut dalam prasasti. Di antaranya skul liwêt atau nasi yang ditanak dengan pangliwêtan, skul dinyun atau nasi yang ditanak dengan periuk, dan skul matiman atau nasi yang ditim. Produksi beras Karena menjadi makanan pokok, usaha untuk meningkatkan produksi padi pun sudah dilakukan sejak masa lalu. Prasasti dari masa Jawa Kuno memberikan petunjuknya. Paling tidak, kata Supratikno, upaya perluasan tanah sawah secara besar-besaran terjadi pada akahir abad ke-9 M. Ini sebagaimana yang terbaca dalam beberapa prasasti dari masa pemerintahan Kayuwangi (855-885 M). Dalam waktu yang relatif pendek padang rumput, kebun, tegalan, ladang ilalang, dan hutan beralih status menjadi sawah. “Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan tanah sawah atau sumber pangan pokok memang besar. Mungkinkah upaya semacam itu dilakukan karena jumlah penduduk semakin meningkat?” ujar dia. Persawahan dalam relief Candi Minakjinggo koleksi Museum Nasional. (Risa Herdahita Putri/Historia) Di luar itu, beras telah menjadi sumber ekonomi pertanian. Berdasarkan Prasasti Pihak Kamalagi atau Kuburan Candi dari 743 Saka (831 M), Prasasti Watukura I dari 824 Saka (903 M), disebutkan adanya lahan sawah, ladang, rawa, dan kebun yang menjadi sima. Artinya, menurut Titi , sebelum tanah-tanah itu diresmikan menjadi sima adalah tanah yang kena pajak. “Dengan adanya keterangan yang memberikan gambaran bahwa kebun juga dikenai pajak, maka dapat diartikan kebun telah memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi,” jelas Titi dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna: Abad VIII-XI Masehi . Dalam Prasasti Panggumulan (824 Saka) dikatakan juga adanya orang-orang yang menjual beras dari Desa Tunggalangan ke pasar di Desa Sindingan. Lalu dari berita Tiongkok masa Dinasti Sung juga diketahui kalau pada masa itu beras, bersama sejumlah komoditas lainnya, telah diekspor dari pelabuhan Jawa.
- Kisah Para Pertapa Perempuan
Arjuna singgah di sebuah pertapaan di tengah hutan dalam perjalanannya menuju Gunung Indrakila. Pertapaannya indah. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan adegan dari kisah Ramayana. Melihat Arjuna datang, dua orang pertapa perempuan ( kili ) menghampiri. Dari sikapnya, kedua kili itu seperti pernah dibesarkan di keraton. Rupanya mereka menganggap ringan sikap ingin melepaskan diri dari hal-hal duniawi, sehingga mau menyepi ke pertapaan. Kedua kili itu dirundung rasa ingin tahu, siapakah gerangan pemuda rupawan bagai dewa asmara yang kini tengah beristirahat di atas bale-bale itu? Pura-pura mereka menundukkan pandangan, bersikap malu-malu. Namun, mereka tak sanggup menyembunyikan perasaan mereka sesungguhnya. Mereka pun menduga si tamu tak lain adalah Arjuna. Arjuna pun segera menerangkan maksud kedatangannya. Dari kedua kili itu, dia tahu kalau pertapaan itu bernama Wanawati. Pendirinya bernama Mahayani, seorang perempuan berdarah ningrat dari kalangan keraton. Kedua kili kemudian mengantar Arjuna ke bagian dalam pertapaan, di mana Mahayani tinggal. Dari Mahayani, Arjuna mendapatkan pelajaran mengenai rajas , tamas , dan satva , yaitu pelajaran tentang pengendalian nafsu, keikhlasan, dan sifat-sifat lain yang selalu membelenggu manusia. Malam harinya, ketika semua sudah terlelap, seorang kili mendatangi bilik Arjuna. Kepada sang Dananjaya, dia menyatakan cinta. Kili itu mengaku, ketika masih hidup di keraton, dia sudah jatuh cinta dengan Arjuna. Kini perasaan itu masih berkobar. Dia bahkan rela terpergok dan dilaporkan kepada Mahayani. Namun, Arjuna menolak cintanya dan menasihati untuk mengendalikan hawa nafsu. Begitulah kehidupan pertapa perempuan dalam cerita Parthayajnya. Seseorang yang memutuskan menjadi pertapa harus rela meninggalkan segala kemewahan, nafsu duniawi dan hidup menyepi. Kehidupan yang demikian berat nyatanya juga menjadi pilihan bagi perempuan. Arjuna bersama Mahayani (tokoh bertudung kepala, depan) dan duakili (dua tokoh bertudung, belakang) dalam reliefParthayajna di dinding Candi Jago. (Risa Herdahita Putri/Historia Titi Surti Nastiti dalam Perempuan Jawa menerangkan, dalam pertapaan yang disebut tapowana atau pajaran umumnya dipimpin seorang mahaguru laki-laki. Dia biasanya membawahi seorang pertapa perempuan yang disebut ubwan. Tempatnya disebut Panubwanan. Di tingkat bawahnya ada pertapa laki-laki yang disebut manguyu. “Terakhir adalah pertapa laki-laki dan perempuan yang paling rendah tingkatannya yang punya sebutan macam-macam, mereka tinggal di lembah dalam bangunan yang disebut yasa atau rangkang,” jelas Titi. Gambaran pertapa perempuan Penggambaran keberadaan pertapa perempuan muncul dalam berbagai media: kesusastraan, relief, bahkan arca. Dalam Kakawin Sutasoma yang digubah Mpu Tantular pada abad ke-14 M menyebut pertapa perempuan dengan istilah kili dan walkali. Sementara Kakawin Arjunawijaya menyebutnya tapi. Teks Ramayana juga menyebut pendeta perempuan yang tinggal di hutan, berpakaian kulit kayu, dan hanya makan buah-buahan . Adapun dalam Kakawin Krsnayana disebutkan salah seorang dayang Rukmini yang telah berumur, pernah menjadi seorang kili . Sang dayang kemudian menuturkan pengalamannya ketika berkeliling mencari derma. Dalam perjalanannya, dia sempat melihat Keraton Dwarawati, tempat tinggal Kresna. Selama sepuluh hari dia dapat menikmati keindahan keraton itu dengan diantar seorang kawan. “Cara hidup seorang pertapa yang keras itu untuk beberapa hari ditinggalkannya," tulis Mpu Triguna pada masa Kadiri abad ke-12 M . Kemudian dalam KakawinSumanasantaka kata kili muncul pada awal kisah. Ketika pertapa Brahmin Trenawindu, murid Agastya, mengira seorang bidadari yang ditugasi menggoda tapanya sebagai seseorang yang ingin menjadi kili . Penggambaran lain juga muncul dalam relief kisah Parthayajnya di dinding Candi Jago, Malang. Melihat reliefnya, para kili itu mengenakan tata rambut yang biasa dikenakan seorang rohaniawan. “Bentuk tatanan di kepala itu lebih cocok bagi seorang perempuan,” tulis P.J. Zoetmulder, pakar sastra Jawa Kuno, dalam Kalangwan. Arjuna disambut dua kili dalam relief Parthayajna di dinding Candi Jago. (Risa Herdahita Putri/ Historia ). Sementara arca pertapa perempuan ditemukan di Kediri dari sekira abad ke-11 atau 12 M. Kini arca itu menjadi koleksi Museum Nasional, Jakarta. Arca perempuan itu digambarkan duduk bersila. Rambutnya terbungkus lilitan kain, sehingga tampak seperti gundukan besar di atas kepalanya. Bahu kanannya terbuka, kecuali itu dia memakai kain yang digunakan dengan melilitkannya di pundak dan tubuhnya. Sebelah tangannya tampak menyangga mangkuk di atas pahanya. Dewi Kili Suci Kata kili juga menjadi tak asing jika dihubungkan dengan kisah tradisi Dewi Kili Suci. Cerita rakyat ini menempatkannya sebagai putri mahkota Raja Airlangga, Sri Samgramawijaya Dharmaprasadottunggadewi yang menolak takhta dan lebih memilih menjadi pertapa. Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti menjelaskan, identifikasi Kili Suci dengan Sri Samgramawijaya Dharmaprasadottunggadewi hingga kini tidak didasarkan atas petunjuk yang tegas. Namun, memang benar kalau berdasarkan prasasti Samgramawijaya sekira tahun 959 Saka (1037 M) telah melepaskan haknya sebagai putri mahkota. Lalu pada 964 Saka (1042 M) Airlangga menempatkan anaknya di dalam tempat suci dharma gandhakuti di Kamban Sri. Itu meski tak jelas apakah anak yang dimaksud laki-laki atau perempuan. “Maka mungkin sekali tradisi Kili Suci itu berdasarkan fakta sejarah, atau kalau nanti ternyata anak Airlangga yang disebut dalam Prasasti Gandhakuti ternyata seorang lelaki, tradisi telah mencampur kedua fakta sejarah itu,” jelas Boechari. Boechari pun mengatakan bukan hal aneh jika seorang ayah pada masa lalu menempatkan putrinya ke dalam kabikuan. Dalam Prasasti Taji dari 823 Saka (901 M) diketahui kalau Rakryan I Watutihan pu Samgramadurandhara telah menempatkan anak perempuannya, Rake Sri Bharu dyah Dheta, istri Samgat Dmun pu Cintya ke dalam kabikuan i Dewasabha . Pada masa yang lebih modern, para pertapa perempuan itu masih bisa disaksikan oleh penjelajah asal Portugis, Tome Pires. Dalam Suma Oriental, dia mencatat ketika tiba di Jawa pada awal abad ke-16 M ada kurang lebih 50.000 pertapa di Jawa. Di antara mereka banyak pula yang perempuan. "Mereka tidak menikah dan tetap perawan," catat Pires. Para pertapa itu membangun rumah di tempat terpencil, seperti pegunungan dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya. Seperti juga pertapa laki-laki, mereka meminta makanan (derma) dengan berkah Dewata sebagai balasan. Beberapa orang lainnya memutuskan untuk menjadi pertapa setelah mereka kehilanga suami pertamanya. Mereka ini menolak membakar diri. Pires mencatat jumlah mereka konon lebih dari 100.000 perempuan. Mereka hidup dalam kesucian hingga mati.
- Qatar di Gelanggang Sepakbola
KENDATI dikucilkan saat datang ke Piala Asia 2019 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), tim Qatar mampu tampil cemerlang. Negeri itu dikucilkan gara-gara krisis diplomatik dengan negara-negara di Teluk Persia lain sejak 2017. Alhasil, Almouz Ali dan kawan-kawan berlaga nyaris tanpa dukungan suporter. Namun, Al-Annabi (julukan timnas Qatar) justru bikin geger. Untuk kali pertama, Qatar pulang dengan trofi Piala Asia. Skor kemenangan 3-1 di final kontra Jepang juga jadi satu-satunya momentum jebolnya gawang Qatar sepanjang turnamen. Prestasi itu menjadi pemanasan apik bagi Qatar jelang Piala Dunia 2022 di negeri sendiri. Dalam persepakbolaan Asia, nama Qatar memang kalah mentereng dibandingkan Arab Saudi, Iran, Korea Selatan, atau Jepang. Nama Qatar paling banter terdengar jika bersinggungan dengan sponsorship terhadap klub raksasa Spanyol Barcelona dan pemilik klub kaya Prancis, Paris Saint-Germain (PSG). Penyebab kekurangtenaran Qatar apalagi kalau bukan prestasi. Namun, itu bisa dimaklumi mengingat negeri itu telat mengenal sepakbola. Yang pasti, dengan menjuarai Piala Asia 2019, negeri kaya minyak dan gas alam yang merdeka pada 3 September 1971 itu berhasil membuktikan dirinya bukan “anak bawang” lagi. Mula Qatar Mengenal Sepakbola Jika tak ditemukan ladang minyak di Dukhan dan Doha, mungkin Qatar akan sangat telat mengenal sepakbola. Pasalnya, dari para ekspatriat Inggris dan India yang bekerja di perminyakan itulah sepakbola diperkenalkan ke Qatar, bermula pada 1948. Sebelumnya, masyarakat lokal hanya mengenal beragam olahraga tradisional, salah satunya balapan unta. Wartawan Inggris Anthony Haywood mengorek kisahnya dari Tom Clayton, mantan insinyur perminyakan British Petroleum (BP) yang ikut proyek eksplorasi minyak di Qatar pasca-Perang Dunia II. Clayton tiba di Qatar pada 1948 bersama sejumlah pekerja asal India yang didatangkan Iraq Petroleum Company (IPC), konsorsium perminyakan milik sejumlah perusahaan besar seperti Anglo-Iranian Oil Company (AIOC). AIOC pada 1954 berubah nama menjadi BP. “Awalnya yang bermain hanya para pekerja India dan beberapa insinyur produksi asal Inggris. Para insinyur itu juga yang mulanya mengajari aturan sepakbola kepada para pekerja India,” ujar Clayton kepada Haywood, dimuat di Daily Mail , 22 November 2018. Lama-kelamaan, orang-orang lokal yang turut dipekerjakan di kamp pengeboran minyak mulai tertarik sepakbola walau hanya sekadar menonton. “Kami tak pernah tahu olahraga semacam itu, namun masyarakat kami sangat menikmati permainan yang buat kami masih asing dan aneh itu,” kenang anggota Komite Olimpiade Qatar, Ibrahim al-Muhannadi. Sepakbola di Qatar mulanya digelar sederhana, dimainkan di lahan berpasir dengan karung-karung sebagai gawangnya. Seiring pesatnya perkembangan sepakbola yang mulai menular ke masyarakat lokal, klub-klub pun bermunculan. Ben Weinberg dalam Asia and the Future of Football menulis, klub tertua Qatar adalah Al-Najah Sports Club (kini Al-Ahli SC) yang lahir pada 1950. Kompetisi pertama di Qatar adalah turnamen Izz al-Din, yang diikuti sejumlah klub di bawah naungan perusahaan-perusahaan minyak di Qatar. Dukhan SC, klub jawara liga yang digagas Petroleum Development Qatar pada 1950-1951 (Foto: Daily Mail) Pada 1950-1951, Petroleum Development Qatar membuat kompetisi bertipe liga di mana juara pertamanya adalah Dukhan Sports Club. Naiknya animo masyarakat terhadap sepakbola kemudian melahirkan induk sepakbola, Qatar Football Association, pada 1960 QFA. Liga resmi Qatar mulai bergulir tiga tahun berselang. Pertandingan-pertandingannya berlangsung di Doha Sports Stadium, stadion pertama Qatar yang dibangun pada 1962 dan menjadi satu-satunya lapangan yang beralaskan rumput sebelum adanya Khalifa International Stadium pada 1975. Selesai dengan urusan liga, Qatar serius membangun timnas sejak 1969. Adalah Taha Toukhi, pelatih asal Mesir yang jadi pembesut pertamanya. Hingga kini, Qatar lebih sering menggunakan pelatih asing. Data RSSSF menyebut hanya empat pelatih lokal yang menangani timnas Qatar: Mohammed Daham (1988), Abdul Mallalah (1993), Saeed al-Misnad, Fahad Thani (2013-2014). Tampil di Peta Sepakbola Dunia QFA melamar ke FIFA pada awal 1970 dan diterima tahun itu juga. Qatar melakoni laga internasional resmi pertamanya di ajang Arabian Gulf Cup (kini Gulf Cup of Nations) kontra tuan rumah Bahrain, 27 Maret 1970. Qatar keok 1-2 di turnamen yang hanya diikuti empat negara itu (Bahrain, Kuwait, Qatar dan Arab Saudi). Di tingkat benua, Qatar pertamakali eksis di kualifikasi AFC Cup pada 1975, namun gagal lolos ke putaran final yang digelar 1976. Pun di kualifikasi Piala Dunia 1977, Qatar gagal lolos ke Piala Dunia 1978. Pun begitu, Qatar telah menegaskan identitas mereka di peta sepakbola dunia. Tim junior mereka bahkan pernah bikin kejutan di Piala Dunia Junior (kini Piala Dunia U-20) di Australia, 3-18 Oktober 1981. Setelah lolos dari Grup A, Qatar menyingkirkan Brasil 3-2 di perempatfinal dan Inggris 2-1 di semifinal. Sayang, kejutan Qatar terhenti di final kala Badr Bilal dkk. kalah 0-4 dari Jerman Barat. “Momen melawan Inggris tak diragukan lagi jadi momen terhebat dalam karier saya,” kenang Bilal yang mencetak gol kemenangan Qatar atas Inggris di semifinal. Timnas Qatar di final Piala Dunia Yunior 1981 kontra Jerman Barat (Foto: fifa.com) Prestasi itu berulang 11 tahun berselang di Olimpiade Barcelona 1992. Qatar, yang ditukangi pelatih legendaris Brasil Evaristo de Macedo, melaju sampai perempatfinal. Laju mereka baru berhenti setelah dikalahkan Polandia 0-2 di Camp Nou. Di tahun yang sama, Qatar untuk kali pertama juara Gulf Cup di negeri mereka sendiri. Prestasi itu mereka ulangi tahun 2004 dan 2014. Walau pelan, kemajuan sepakbola Qatar berjalan konstan. Penyebabnya, pemerintah Qatar punya perhatian besar di sektor olahraga. Terlebih, setelah Qatar National Vision 2030 dicetuskan pemerintah pada Oktober 2008. Selain banyak membangun infrastruktur sepakbola, Qatar membangun para atletnya secara serius lewat Aspire Academy, yang dibuat Emir Qatar lewat dekrit Nomor 16 Tahun 2004. Qatar juga terus menyempurnakan liganya dengan mendatangkan banyak pemain asing untuk diambil ilmunya. “Timnas yang bagus itu hasil dari liga profesional yang bagus. Liga yang bagus bahan bakunya ya dari akademi. Makanya akademi harus dijalankan secara profesional. Jangan melihat investasi akademi itu sebagai beban,” kata pengamat sepakbola Timo Scheunemann kepada Historia , Oktober 2018. Upaya serius Qatar akhirnya membuahkan hasil di AFC U-19 2014 di Myanmar. Kesuksesan itu tak lepas dari komposisi tim, yang berisi atlet-pelajar jebolan Aspire Academy. Untuk mengatasi kekurangan pemain mengingat kecilnya jumlah penduduk, Qatar belakangan mengisi timnasnya dengan pemain naturalisasi, yang juga juga bertujuan agar lebih kompetitif. “Satu-satunya cara Qatar bisa kompetitif adalah mengimpor pemain dan menaturalisasi mereka,” ungkap Jesse Fink dalam 15 Days of June: How Australia Became a Football Nation .
- Santapan Aneh Para Raja
Pada masa lalu di Jawa, tak semua orang bisa makan daging. Rakyat dan kalangan kerajaan memiliki perbedaan tingkat konsumsi daging. Sementara raja memiliki hak istimewa dalam menyantap daging bahkan makanan yang tidak biasa, seperti kambing yang belum keluar ekornya, penyu badawang, babi liar pulih, babi liar matinggantungan, dan anjing yang dikebiri. “Kadang kalau orang sekarang mikir itu makanan menggelikan. Tapi itu dulu dimakan. Misalnya asu buntungan, anjing yang tak punya buntut. Lalu cacing. Itu dibuat masakan,” kata Lien Dwiari Ratnawati, peminat kuliner, arkeolog, dan kepala Subdirektorat Warisan Budaya Tak Benda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam berbagai sumber teks kuno, makanan tak biasa bagi raja disebut rajamangsa. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, menjelaskan sebutan rajamangsa terdiri atas dua kata, yaitu raja dan mangsa . Kata raja mendapat serapan dari bahasa Sanskreta, rajya . Secara harfiah berarti raja, yang bekuasa, pemimpin. Adapun mangsa atau mansa juga dari bahasa Sanskreta, artinya daging, mangsa, makanan, pemakan daging, menghabiskan, melahap. “ Rajamangsa secara harfiah berarti makanan raja, makanan yang khusus disediakan untuk raja,” kata Dwi. Rajamangsa diperuntukkan bagi penguasa tertinggi kerajaan, baik di kerajaan pusat (maharaja) maupun di kerajaan bawahan (raja). Selain dalam kitab Purwadigama dan Siwasasana , kata rajamangsa juga ditemukan dalam prasasti. Transkripsi prasasti milik H. Kern (VG VII.32f dan VIIIa), ahli epigrafi Belanda, menyebut wangang amangana salwir ning rajamangsa, badawang baning, wedus gunting, asu tugel, karung pulih . “ Wedus gunting artinya kambing yang belum keluar ekornya; baning itu penyu, kura-kura; karung itu babi hutan, diberi sebutan karung pulih, kata pulih bisa jadi menunjuk pada babi dikebiri,” kata Dwi. Dalam transkripsi prasasti milik epigraf lainnya, A.B. Cohen Stuart, dengan kode CSt 7 disebutkan karung mati ring gantungan . Kemudian pada kumpulan transkripsi prasasti milik J.L. Brandes terdapat sebutan lain asu ser . Karung mati ring gantungan , kata Dwi, mungkin menunjuk pada babi yang ditangkap mati dalam jerat. Asu tugel artinya anjing yang dikebiri atau dengan sebutan asu ser. Kata ser mungkin artinya sama dengan sor, yang berarti dikebiri, yang ditandai dengan memotong ekornya ( asu buntung ). Dalam Prasasti Rukam (907 M), Prasasti Sarwwadharmma dari masa Singhasari (1269 M), dan Prasasti Gandhakuti (1043 M), juga disebut makanan yang hanya boleh disantap oleh raja: badawang, wedus gunting, karung pulih, asu tugel. Arkeolog Universitas Indonesia, Kresno Yulianto Sukardi, dalam makalahnya, “Sumber Daya Pangan Pada Masyarakat Jawa Kuno: Data Arkeologi-Sejarah Abad IX-X Masehi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV , menerjemahkan wedus gunting sebagai kambing muda yang belum keluar ekornya. Sedangkan karung pulih adalah babi hutan aduan. Kendati rajamangsa dikhususkan untuk raja, dalam beberapa kesempatan orang di luar lingkungan istana juga bisa mencicipi santapan itu. Mereka adalah penerima anugerah ( waranugraha ) dalam upacara sima. Arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa menulis, hak mengonsumsi makanan itu umumnya dijumpai pada prasasti yang memuat pemberian hak istimewa yang dikeluarkan sejak masa Mpu Sindok hingga masa Majapahit. “Anugerah berupa hak istimewa, dia dan keluarganya diperkenankan untuk menyantap menu khusus raja itu,” kata Dwi.
- Perjuangan Lasmidjah Berbuntut Pengusiran
BUS melaju dari Yogyakarta ke Trenggalek. Lasmidjah dan Sutono serta Parmin menumpang bus itu. Mereka bersandar di kursi untuk melepas lelah selepas menghadiri Konferensi Partindo tahun 1933. Setelah menempuh jarak hampir 300 km, mereka tiba di Trenggalek. Sejurus kemudian Lasmidjah melambaikan tangan, memanggil seorang pengemudi delman untuk mengantarnya ke rumah. Namun baru sampai halaman rumah, Lasmidjah dikejutkan oleh keberadaan anggota PID (Politieke Inlichtingen Dienst, Dinas Intelijen Politik) yang mengepung rumahnya. Lasmidjah dilarang masuk ke rumah dan langsung digiring ke kantor polisi. Runyam! Para polisi menginterogasi Lasmidjah tentang pertemuan politik di Yogyakarta. Wardi, ayah Lasmidjah, yang tak pernah tahu-menahu soal pergerakan, dipanggil bupati. “Anak tuan dokter mengganggu ketertiban umum. Ini sudah lama kami amati. Putri tuan harus segera pergi dari Trenggalek dalam 2x24 jam,” kata bupati. Mula jadi Nasionalis Lahir di Purworejo pada 14 April 1916, Lasmidjah berasal dari keluarga cukup berada. Ayahnya, Wardi, dokter Jawa asal desa Grabag, Kutoarjo. Ibunya bernama Ambarwati, putri priyayi Bojonegoro. Keluarga Lasmidjah melek baca. Meski ibunya tak pernah sekolah, dia kemudian belajar membaca dan punya banyak koleksi bacaan. Kakak Lasmidjah, Paran Alesmartani, merupakan murid Recht Hoge School di Batavia. Lewat Paran, Lasmidjah kenal bacaan sastrawan Rusia, seperti Leo Tolstoi, Anton Chekov, Nikolai Gogol, dan Dostoyevsky. Sementara lewat kakaknya yang lain, Bambang Sugeng, Lasmidjah mulai mengenal tokoh-tokoh nasionalis seperti Sukarno dan dr. Soetomo. “Pada usia antara 14 sampai 15 tahun aku mulai dikarbit dengan buku-buku dan pidato yang menggungah rasa,” kata Lasmidjah dalam memoarnya Perjalanan Tiga Zaman. Pada 1930, Lasmidjah mendirikan Kepanduan Bangsa Indonesia. Anggotanya anak-anak tetangga, teman-teman sekolah, dan adiknya, Wardiningsih. Dalam kepanduan ini Lasmidjah berlatih baris, senam, tali-temali, dan P3K. Tiap Sabtu sore mereka jalan ke desa sebelah untuk latihan. Kegiatan itu tak disukai PID, terutama ketika atribut merah putih digunakan sebagai dasi dan ornamen kepanduan. PID sempat mendatangi rumah Lasmidjah dan memperingatkan agar atribut tersebut tak digunakan lagi. Ketika menginjak tahun ke-6 di HIS, Lasmidjah pulang-balik Trenggalek-Blitar selama liburan. Lasmidjah mengikuti saudaranya, Suwardjo, yang tinggal di Blitar, namun memilih indekos. Waktu liburannya diisi dengan bekerja di perusahaan kontraktor dan mengikuti pertemuan-pertemuan dengan para nasionalis. Di Blitar, Lasmidjah berkenalan dengan tokoh pejuang seperti Nona Supeni (pada 1960-an menjadi duta besar keliling). Lasmidjah juga mengikuti dan membantu persiapan pertemuan besar Partai Bangsa Indonesia yang diketuai Sutopo. Irna Hadi Suwito dalam Kiprah Perempuan Indonesia dalam Satu Abad Kebangkitan Perempuan menulis, dalam pertemuan ini Lasmidjah sempat bertemu dengan dr. Sutomo, residen Surabaya Sudirman dan istrinya Siti Sundari (Sundari kemudian menjadi anggota Gemeente Raad Surabaya). Sekembalinya dari Blitar, Lasmidjah mengajak teman-temannya berkumpul di rumah untuk menyebarkan kabar dan materi ceramah dalam pertemuan kaum nasionalis. “Beberapa hari sejak aku memimpin rapat, ada reserse yang mengawasi rumah kami,” kata Lasmidjah. Pengawasan PID tidak membuat Lasmidjah gentar. Gerakan nasionalis terus diikutinya. Semasa sekolah di MULO Kediri, Lasmidjah ikut mendirikan dan mengajar di Sekolah Perguruan Rakyat di Trenggalek selama liburan. Bersama rekan-rekannya sesama guru, dia mendirikan Partindo cabang Trenggalek dan terpilih menjadi ketua. Anggotanya beragam, dari guru, buruh, tukang sate, tukang cukur, petani, hingga pengusaha kecil. Sebagai ketua Partindo cabang Trenggalek, Lasmidjah kian aktif. Selain sekolah di MULO Kediri, tiap libur dia mengajar di sekolah perguruan rakyat, dan tiap sore mengajar kursus politik di sana. Namun, keaktifannya membuat rumahnya lagi-lagi didatangi PID dan Lasmidjah dikeluarkan dari MULO Kediri. Alih-alih larut dalam kesedihan, Lasmidjah justru makin aktif dalam gerakan nasionalis. Ketika Pantindo mengadakan kongres pertamanya di Yogyakarta pada 1933, Lasmidjah hadir ditemani dua rekannya, Sutono dan Parmin. Di sana dia bertemu tokoh nasionalis seperti Sukarno yang baru keluar dari Penjara Banceuy dan tokoh Gerwani Nyonya Mudigdo. Ki-ka: Lasmidjah, Sukarno, Juanda, dan Leimena di Istana Negara. Dalam konferensi itulah Sukarno mencetuskan gagasan Marhaenisme. Gatut Saksono dalam Marhaenisme Bung Karno menyebut, konferensi ini memutuskan gagasan Sukarno yang berisi sembilan tesis marhaenisme sebagai azaz partai. “Pengalaman ini membuatku bersungguh-sungguh untuk terbiasa berbicara di depan umum dan juga mencoba hidup sesuai dengan ajaran marhaenisme,” kata Lasmidjah. Sepulang dari konferensi itulah Lasmidjah ditunggu PID di depan rumahnya. Tanpa sempat mengucap salam pada sang ibu, dia langsung dibawa ke kantor PID. Ayahnya diancam bila Lasmidjah tak pergi dari Trenggalek, uang pensiunnya akan dicabut. Ayahnya menahan marah lantaran sejak lama tak sepakat dengan tindak-tanduk putrinya akibat khawatir. Dua hari berselang, ia meninggalkan Trenggalek menuju rumah kakaknya, Paran, di Batavia. Lewat jendela kereta, dia amati pemandangan yang akrab dengannya. Sawah, pohon, sungai, sampai akhirnya semua pemandangan itu menjadi kabur. “Pelupuk mataku tak kuasa menahan tetesan air mata yang terus mengalir,” kata Lasmidjah.
- Teror Pao An Tui di Medan
Kalender baru saja memasuki tahun 1946. Pejuang Republik di kota Medan mendapat kejutan tahun baru: orang-orang Tionghoa mendirikan barisan milisi bersenjata. Pao An Tui namannya. “Para pejuang Indonesia kini mendapat musuh tambahan justru bukan orang yang asing dengan daerah Sumatra, melainkan mereka yang sudah mengenal lorong-lorong dengan segala gang-gang tikus termasuk liku-liku persembunyiannya,” kata Amran Zamzami, mantan veteran di front pertempuran Medan Area, dalam Jihad Akbar di Medan Area . Pembentukan Pao An Tui diizinkan oleh tentara Inggris yang bertugas di Medan untuk melucuti tentara Jepang. Nama resminya adalah Chinese Security Corps (CSC). Orang-orang Tionghoa yang tergabung di dalamnya lebih suka menamai diri Pao An Tui (PAT) yang berarti pasukan penjaga keamanan Tionghoa (保安). Beberapa catatan menguak sepak terjang PAT. Sebagaimana disebutkan Edisaputra dalam Bedjo Harimau Sumatera , tentara Inggris melatih sekompi Pao An Tui. Mereka dibekali dengan senjata modern otomatis. Kawasan utama yang diamankan PAT adalah Medan dan Belawan. Dalam Etnis Cina dalam Potret Pembaruan di Indonesia, Abdul Baqir Zein menulis PAT dibentuk oleh komandan pasukan Inggris, Brigjen Ted Kelly. Dia melatih dan mempersenjatai 110 pemuda Tionghoa. Seorang tokoh Tionghoa bernama Lim Seng ditunjuk sebagai komandan PAT. Selain pasukan yang solid, pasokan logistik untuk kebutuhan PAT juga terbilang royal. Untuk biaya operasional, PAT mendapat sokongan iuran dari tiap keluarga Tionghoa sebesar 5-7 gulden sebulan. Konsulat China juga turut menyumbang dana untuk kebutuhan sekira seribu personel PAT di Sumatra Timur, yang setiap bulannya menghabiskan 80.000 gulden. PAT tersebar di 14 daerah dengan konsentrasi utama di wilayah Medan, Labuhan, Titi Papan, dan Binjai. Sejarawan LIPI Nasrul Hamdani menguraikan lebih gamblang lagi bagaimana peta kekuatan PAT. Menurut Nasrul, personel PAT pimpinan Lim Seng sudah dilengkapi dengan perlengkapan dan persenjataan tempur yang memadai. Persenjataan otomatis berlaras panjang dari jenis tommyguns , owenguns , brenguns serta senjata tangan jenis pistol revolver untuk tiap pemimpin unit atau regu. Selain senjata sisa milik Inggris, PAT mendapat senjata yang diberikan Belanda atas perintah Mayjen D.C. Buurman van Vreeden, staf umum AD Belanda di Medan. Karena dipersenjatai, pemuda-pemuda Tionghoa PAT jadi suka bertingkah. Mereka doyan pamer kekuatan dengan senapan di tangan. Di tengah kota, PAT berlalu-lalang mengadakan patroli dan menjadi penjaga keamanan bagi kelompok etnisnya. “Banyaknya jumlah personel PAT yang menumpuk di Medan membuat patroli PAT terlihat sangat berlebihan. Dalam satu hari, ada dua sampai lima kali patroli dan kadang menggeledah. Tindakan ini kerap menuai protes warga Cina sendiri,” tulis Nasrul Hamdani dalam Komunitas Cina di Medan dalam Lintasan Tiga Kekuasaan 1930-1960. Di hari-hari selanjutnya, PAT dipergunakan Belanda sebagai kaki tangan dan mata-mata. Dalam beberapa pertempuran, PAT menjadi alat ampuh untuk mengacaukan gerakan pejuang Republik. Bagi Tentara Republik ataupun kelompok laskar, keberadaan PAT jelas bikin resah. Mereka acapkali muncul dan memukul di luar dugaan. Tak jarang misalnya, ketika berlangsung kontak senjata dengan Sekutu atau Belanda, tiba-tiba sebuah peluru menerjang pasukan Indonesia. Jatuhlah korban. Biasanya tembakan kejutan ini sumbernya datang dari bangunan atau toko-toko dan di saat pasukan Republik dalam keadaan terdesak. Menurut Teuku Alibasyah Talsya, veteran staf penerangan Divisi X, tembakan itu berasal dari senapan serdadu PAT. “Mereka berlindung di loteng-loteng rumah. Apabila pasukan Republik sedang bertempur berhadapan dengan tentera Belanda, mereka menembak dari belakang,” ujar Talsya dalam Modal Perjuangan Kemerdekaan: Perjuangan Kemerdekaan di Aceh 1947--1948. Senada dengan Talsya, Amran Zamzami menuturkan, bentrokan senjata antara para pemuda pejuang Republik dengan PAT sering terjadi. Pertempuran tidak hanya berlangsung di dalam kota secara sembunyi-sembunyi atau berhadapan dengan penembak gelap, tetapi juga merembet ke luar kota Medan. Di kawasan front Medan Area, PAT membantu Belanda melalui orang-orang mereka warga Tionghoa yang tinggal di sepanjang daerah pertokoan atau perkebunan yang mereka miliki, merentang dari Medan ke Binjai. “Maka kebencian rakyat pun kian meningkat,” kata Amran. Sampai-sampai lagu "Mariam Tomong" yang terkenal di masa revolusi itu diplesetkan liriknya oleh para pemuda yang ditujukan pada PAT. Hadong motor Chipirolet (Ada mobil chevrolet) BK na sepuluh dua (Nomor platnya dua belas) Hadong tembakan meleset (Ada tembakan meleset) Dari Poh An Thui agennya NICA (Dari Poh An Tui agennya NICA) Oh, mariam tomong da inang (Oh, meriam tomong ibunda) Oh, mariam tomong... (Oh, meriam tomong) Apa yang menyebabkan pasukan PAT bisa beringas begitu rupa? (Bersambung).
- Benarkah Khonghucu Memerintahkan Perayaan Tahun Baru Imlek?
DALAM surat edaran tertanggal 23 Januari 2019 yang belakangan viral, Forum Muslim Bogor menyeru agar “seluruh Umat Islam ... tidak menghadiri dan mengikuti” serangkaian perayaan tahun baru Imlek “yang dimulai di hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas [di bulan yang sama].”
- Feng Shui dari Makam sampai Nasib
PADA 1980, Denys Lombard mengunjungi tempat seorang pemahat nisan di Surabaya dan menyaksikan sebuah kompas Cina ( luopan ) yang masih baru dan diimpor dari Taiwan. Luopan biasa dipakai untuk menunjuk arah, sedangkan untuk ukuran dipakai penggaris khusus dengan panjang 43 sentimeter. Kedua alat ini dipakai dalam ilmu ruang Cina atau fengshui . “Teknik-teknik itu telah diperkenalkan di Jawa paling tidak sejak abad ke-17,” tulis Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya. Fengshui didasari gagasan kuno bahwa manusia harus hidup selaras dengan kosmos, khususnya aturan-aturan pembangunan rumah. Stephen Skinner dalam The Living Earth of Manual Feng Shui mencatat, eksistensinya berasal dari zaman Tao pada 1300 SM. Dalam Feng Shui: Chinese Vaastu for Better Living and Prosperity, Bhojraj Dwivedi menulis, awalnya fengshui digunakan untuk menentukan letak makam. Orang Tionghoa meyakini bahwa roh orangtua atau leluhur dapat mengalirkan chi yang dapat memberikan pengayoman, perlindungan, dan berkah kepada keturunannya. Itulah kenapa makam orang Tionghoa rata-rata bagus, bahkan mewah, dan berada di tempat yang nyaman. Biasanya, tanah-tanah untuk makam itu dimiliki Kongkoan atau dewan yang terdiri dari para mayor, kapten, dan letnan cina. “Tanah dengan fengshui baik biasanya dijual kepada anggota masyarakat yang berada, sedangkan yang sisanya diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu secara cuma-cuma,” tulis Myra Sidharta dalam pengantar buku Riwayat Semarang karya Liem Thian Joe. Dari makam, fengshui merambah ke rancangan rumah atau ruko dan kota. Sekarang engshui bahkan merambah sampai ke soal cinta, logo, dan peruntungan di tiap tahun.
- Pejabat Harus dapat Membuat Puisi
Setiap orang terdidik diharapkan dapat menulis puisi. Keahlian berpuisi merupakan bagian dari pendidikan umum yang harus diikuti oleh setiap pegawai istana pada masa lalu. Pakar kesusastraan Jawa Kuno, P.J. Zoetmulder menerangkan, pejabat istana yang ideal, apalagi seorang raja, pangeran, atau bangsawan bukan hanya harus dapat menikmati keindahan puisi dan membawakannya. Mereka juga harus dapat menulis puisi sendiri dan mengekspresikan perasaannya tanpa kesukaran secara spontan. Kedudukan penyair dan puisinya dalam kebudayaan Jawa Kuno, khususnya dalam kehidupan keraton, begitu terpandang. Hal itu pun digambarkan dalam berbagai kisah fiksi pada masa itu. “Tak mungkin membayangkan tokoh-tokoh utama dalam kisah-kisah fiksi epik yang justru dimaksudkan untuk menampilkan tokoh idaman, tidak sungguh terdidik dalam bidang puisi,” tulis Zoetmulder dalam Kalangwan. Misalnya, dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dari masa keemasan Majapahit, disebutkan seorang pangeran muda suka bergaul dengan para kawi agar dapat menjadikan mereka teladan dalam membuat syair ( pralapita). Ada pula tokoh Panji. Dalam penggambaran sastra kidung, dia begitu digilai perempuan. Bukan hanya karena daya tariknya yang tak tertahankan, melainkan juga karena Panji pandai menulis puisi dan menabuh gamelan. Lalu dalam suatu bagian panjang dari Kakawin Sumanasantaka menyajikan kisah sayembara Putri Indumati. Kisah yang sama, juga dijumpai dalam Raghuvamsa karangan Kalidasa. “Sampai di sini syair Jawa dan India berjalan paralel, tetapi yang tak disebut dalam versi India, ialah reaksi khas dari para pelamar yang ditolak,” jelas Zoetmulder. Raja Angga, misalnya, mencoba mencari pelipur lara dalam sebuah palambang yang terdiri atas dua bait yang ditulis pada pegangan takhtanya. Di sampingnya, Raja Awanti menyatakan cintanya kepada sang putri dengan menuangkannya ke dalam papan tulis dan kepandaiannya dalam menggerakan alat tulis berupa tanah yang lancip. “Dia dapat mengungkapkan cintanya dalam syair-syair yang demikian sempurna, sehingga sesuai dengan sebuah lambang,” kata Zoetmulder. Namun, ketika Raja Awanti juga ditolak, dia menyatakan rasa putus asanya dalam sebuah syair bhasa yang mengharukan. Itu ditulisnya pada sarung kerisnya. Raja lainnya, Pratipa pun kemudian mencatat tiga bait dari sebuah kakawin di atas sebuah pudak . Itu untuk sekadar menyalurkan rasa malunya ketika sang putri lewat tanpa tergerak sedikit pun. “Dengan mengubah cerita dari India itu sedemikian rupa, terbuktilah dengan terang, betapa kepandaian seorang pangeran sebagai seorang penyair dihargai dalam kehidupan keraton di Jawa pada zaman dulu,” jelas Zoetmulder. Tak hanya dalam karya fiksi, Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagama mengisahkan Hayam Wuruk yang melakukan perjalanan ke Lumajang sempat mencatat keindahan yang dilihatnya dalam bentuk syair bhasa dan kidung. Kemudian dalam epilognya di Bharatayuddha, Mpu Panuluh mengisahkan sedikit Raja Jayabhaya. Syair-syair sang raja begitu indah dan manis tanpa cacat. Dia seorang penyair yang tak ada tandingannya. Pantas dipilih sebagai guru dan sebuah sumber bagi inspirasi puitis. Adapun Mpu Monaguna, yang menggubah Sumanasantaka , juga menceritakan hal serupa pada akhir syairnya. Sri Baginda Warsajaya, pernah menjadi gurunya dalam seni puisi dan membimbingnya dengan penuh kesabaran seperti layaknya seorang raja. Ada juga Jayakatwang, pangeran Kadiri yang menyerang Singhasari. Menurut Pararaton , dia pernah menggubah sebuah kidung menjelang ajalnya dalam tawanan. Judulnya, Wukir Polaman. Apakah hasil karya mereka juga pantas ditempatkan dalam sastra Jawa Kuno? Menurut Zoetmulder ini masalah lain. Pasalnya, di antara syair-syair Jawa Kuno yang sampai pada masa kini tak ada satu pun yang menyebutkan seorang raja atau pangeran sebagai penciptanya. “Berlainan dengan sastra Jawa di kemudian hari, yaitu periode Surakarta (akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 M, red . ), yang dapat menunjukkan raja-raja di antara para penyairnya, seperti Pakubuwono III dan IV,” jelas Zoetmulder. Bukan cuma bagi para pangeran dan raja. Kemampuan dan pengalaman dalam aneka cabang kesenian juga sangat dihargai untuk dimiliki para dayang yang melayani seorang putri raja. Dalam Sumanasantaka diketahui mereka diberikan penghargaan sesuai dengan kemajuannya. Bila mereka sampai pada tingkat seorang kawi dan mahir dalam setiap bentuk kegiatan artistik, mereka dihadiahi sebuah cincin. Kendati begitu, penggambaran seorang kawi atau penyair tak selalu positif. Itu terkait cap ketidaksetiaan yang melekat dalam diri seorang penyair. Mpu Tanakung dalam Wrttasancaya mengisahkan seorang penyair dan kekasihnya yang terpisah sementara karena sang penyair berkelana di tengah hutan untuk mencari ilham. Namun di sisi lain penyair itu disindir, bahwa keindahan seorang perempuan yang menyebabkan dia tak setia dan memikatnya sehingga dia jauh dari istrinya yang sah.
- Sastrawan Peranakan yang Terlupakan
SEPASANG bocah sekolah bikin perkara kecil. Pulang kemalaman naik sepeda tanpa lampu, kedua bocah itu, Willem Tan (Candra Eko Mawarid) dan Johan Liem (Randi Anggara), iseng mengelabui politie agent Indo-Belanda dan Bugis dengan memberi nama dan alamat palsu. Namun keisengan itu justru menimbulkan masalah besar. Tan Tjo Lat (Derry Oktami) sang wijkmeester alias “bek”: atau pejabat kepala kampung nan pongah dan congkak memanfaatkan perkara itu demi mendapatkan promosi menjadi kapitan Tionghoa, jabatan tertinggi yang bisa dipegang orang Tionghoa di masa kolonial. Si bek bikin rekayasa dan hoax dengan mengaku bahwa dia menangkap dua pemuda yang dimaksud. Alih-alih berhasil mengambil hati Komisaris Polisi De Stijf (Aryo Bimo), si bek malah kena tulah. Ternyata yang dibawa ke kantor polisi bukan tersangka yang sebenarnya. Alhasil, sang bek dibui. Kisah itu menjadi inti pementasan teater bertajuk “Zonder Lentera” yang dimainkan Kelompok Pojok di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 26-27 Januari 2019. “Zonder Lentera” yang diangkat dari dari salah satu karya sastrawan peranakan Tionghoa Kwee Tek Hoay terbitan 1930, dipentaskan dalam rangka merayakan Imlek, 5 Februari 2019. Sekira tiga jam kisah komedi-tragedi yang mendominasi “Zonder Lentera” dihadirkan dengan apik oleh duet sutradara muda Brilliantika Tamimi Rutjita dan Yasya Arifa. Gelak tawa penonton acap mengiringi hampir semua 13 adegan yang dibawakan. Set panggung, properti, wardrobe , gaya dialog Melayu-Rendah,hingga iringan musik keroncong yang dimainkan live oleh tim pimpinan Didit Alamsyah, lumayan bisa membawa penonton ke suasana pecinan era 1930. Satu adegan dalam pementasan Zonder Lentera oleh Kelompok Pojok yang berpusar pada drama rekayasa sang wijkmeester Tan Tjo Lat (kanan) yang diperankan aktor langganan serial Azab Derry Oktami (Foto: Dok. Kelompok Pojok Ini merupakan kali kedua Kelompok Pojok mementaskan karya Kwee Tek Hoay. Pada 2018, mereka membawa novel Nonton Cap Go Me ke atas panggung. “Kami sudah lama menyukai karya-karya Tek Hoay. Dia tokoh hebat yang terlupakan. Lewat karya kini kita ingin memberitahu masyarakat bahwa kaum peranakan (Tionghoa) juga Indonesia,” ujar sang pemimpin produksi Iqbal Samudra kepada Historia. Kelompok Pojok jelas bukan satu-satunya grup teater yang pernah mementaskan novel-novel Tek Hoay. Sebelumnya, ada Teater Bejana, Kelompok Main Teater, Teater Koma, hingga grup legendaris Dardanella di masa lampau. Wartawan, Sastrawan & Agamawan Kwee Tek Hoay lahir pada 31 Juli 1886 di “Kota Hujan” Bogor sebagai anak bungsu dari pasutri Kwee Tjiam Hong dan Tan Ay Nio. Sejak kecil, buku sudah jadi kegemarannya sembari membantu bisnis tekstil ayahnya. Rasa penasarannya yang tinggi akan kesastraan membuatnya sering bolos sekolah. Tidak hanya bahasa Hokkian, Tek Hoay muda fasih berbahasa Melayu, Belanda, dan Inggris. “Bahasa Inggris dipelajarinya secara privat dari S. Maharaja, seorang India yang jadi gurunya di sekolah Tiong Hoa Hwee Koan, Bogor. Sedangkan bahasa Belanda dipelajarinya dari Lebberton dan Wotman, pengurus Loge Theosophie, Bogor,” ujar Jamal D. Rahman dalam 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh . Sedari masa sekolah pula Tek Hoay sudah gandrung mengirim tulisan novel ke berbagai media cetak seperti Sin Po , Ho Po , Li Po atau Bintang Betawi . Namanya di dunia jurnalistik mulai dikenal lewat sejumlah pecahan tulisan bertajuk “Pemandangan Perang Dunia I Tahun 1914-1918” yang dimuat di Sin Po . Setelah jadi pemimpin redaksi (pemred) Majalah Ho Po dan Koran Li Po di Bogor, Tek Hoay bertualang ke Jakarta dengan bergabung ke suratkabar Sin Po . Pada 1926, dia mendirikan tabloid mingguan Panorama . “Majalah itu dimanfaatkannya untuk menyuarakan pandangan politiknya yang kerap dianggap kontroversial oleh para pemimpin koran lain yang menjadi pesaingnya,” lanjut Jamal. Di dunia teater, Tek Hoay empat tahun (1926-1930) menakhodai grup drama Miss Intan. Dari dunia jurnalistik dan teater itulah Kwee Tek Hoay menambah khazanah pengetahuannya tentang kehidupan masyarakat akar bawah di berbagai wilayah Hindia-Belanda yang bermuara pada ditelurkannya banyak karya “merakyat” dengan bahasa Melayu-Rendah. Beberapa karya awal drama dan novelnya yang dikenal luas antara lain Allah jang Palsoe (1919) dan Boenga Roos dari Tjikembang (1927). Karya-karya itu beberapa kali dimainkan grup legendaris Dardanella dengan sejumlah seniman sohor: Miss Dja (Dewi Dja), Tan Tjeng Bok, hingga Andjas Asmara. Karya berjudul Boenga Roos dari Tjikembang bahkan pernah diangkat ke layar lebar. Leo Suryadinata dalam Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches mengungkapkan, novel Tek Hoay itu diangkat sineas The Teng Chun pada 1931 sebagai film bersuara pertama di Indonesia dengan judul yang sama. Selain tokoh di bidang jurnalistik dan sastra-budaya, Tek Hoay merupakan figur agamawan berpengaruh. Tiga buku agama dikeluarkannya: Buddha Gautama (1931-1933), Sembahjang , dan Meditatie (1932). Abdul Syukur dalam “Keterlibatan Etnis Tionghoa dan Agama Buddha: Sebelum dan Sesudah Reformasi 1998” yang dimuat dalam Setelah Air Mata Kering: Masyarakat Tionghoa Pasca-Peristiwa Mei 1998 menulis, Tek Hoay mendirikan organisasi tiga agama (Tridharma) Sam Kauw Hwee, yakni Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme pada 1934. Tujuannya, agar masyarakat peranakan Tionghoa lebih memahami ajaran agama mereka. Namun hidup Tek Hoay berakhir nahas. Pada 4 Juli 1952, rumahnya di Cicurug, Sukabumi dirampok. Tek Hoay tewas dalam perampokan dengan kekerasan itu. Sesuai wasiatnya semasa hidup, jenazahnya dikremasi. Ia jadi orang Tionghoa pertama yang jenazahnya diperabukan di Indonesia dan diikuti sebagian besar kaumnya hingga kini. Figur Terlupakan Selama lebih dari dua dasawarsa berkarya, Tek Hoay menghasilkan 115 novel. “Suatu prestasi (115 karya) yang sulit tertandingi oleh penulis Indonesia dari kurun kapanpun. Meminjam ungkapan Jakob Sumardjo (dalam 100 Tahun Kwee Tek Hoay ), ‘suatu fenomena yang luar biasa dalam sejarah sastra di Indonesia’,” kata Ibnu di kata pengantar buku Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia: Jilid 4. Namun, nama Tek Hoay tenggelam di dunia kesusastraan Indonesia. Menurut Ibnu, ada empat penyebab nama Tek Hoay tak tertera di buku-buku sejarah kesusastraan Indonesia. Pertama , orientasi karya hanya memasukkan karya-karya sastrawan yang sudah dibukukan saja ke dalam buku sejarah sastra. Kedua , media bahasa, di mana yang diakui hanya karya-karya dengan bahasa Melayu-Tinggi. Ketiga, muatan karya, di mana beberapa karya Tek Hoay secara politis menyerang pemerintah kolonial. Keempat , kuatnya diskriminasi, hanya penulis “asli Indonesia” alias bumiputera yang pantas disebut sastrawan Indonesia Padahal, karya-karya Tek Hoay juga “berbicara kebangsaan”. Tentu kebangsaan yang dimaksud adalah bangsa bernama Indonesia, yang terdiri dari beragam etnis dan di masa kolonial “dipersatukan” oleh bahasa Melayu-Rendah sebagai lingua-franca . Selain itu, keragaman yang hadir dalam karya-karya Tek Hoay sangat kaya. Yang terpenting, masalah-masalah yang diangkat dalam karya-karyanya masih sangat relevan hingga kini. Cap Go Me, misalnya, berkisah tentang pertentangan pandangan tradisional dan modern. Zonder Lentera mengangkat tentang pejabat yang merekayasa perkara dan menebar hoax demi menggapai kekuasaan. “Tahun ini sebagai pesta demokrasi (Pemilu dan Pilpres 2019) yang seharusnya jadi pesta menyenangkan, justru malah menjadi pesta hoax . Maka dari itu, Zonder Lentera , seperti menjadi cerminan dari zaman ini, di mana hoax menjadi masalah yang utama dalam pesta demokrasi,” tandas Iqbal Samudra.
- Salim Said: Kelemahan Kita Malas Membaca
Komunisme dan PKI masih gentayangan di negeri ini. Pada akhir 2018 lalu, aparat TNI, polisi, dan pemerintah setempat menggelar razia buku-buku yang diduga berisikan ajaran komunis dari dua toko buku di Pare, Kediri . Mengawali tahun 2019, publik kembali dihebohkan dengan berita penyitaan buku-buku sejarah terkait peristiwa 1965 yang menyingkap peran PKI terhadap sejumlah toko buku di kota Padang, Sumatera Barat. Aksi yang sama menyusul kemudian di Tarakan, Kalimantan Utara. Kabar terbaru , Jaksa Agung M. Prasetyo mengusulkan razia buku besar-besaran terhadap buku-buku yang dituding menyebarkan komunisme. Laku sepihak aparat ini - sebagaimana di era Orde baru - dilandasi kekhawatiran terhadap penyebaran ideologi komunis. Sepihak, karena tidak dilakukan telaah terhadap isi buku sebelum menggelar operasi razia atau penyitaan. Setelah dikritisi, nyatanya banyak dari buku itu merupakan buku sejarah kajian akademis ataupun reportase jurnalistik yang berkisah sejarah. Kendati demikian, aksi ini seolah jadi tradisi dari tahun ke tahun yang berpotensi menutup nalar kritis publik. Cukup beralasan mengingat minat dan kultur literasi masyarakat Indonesia masih terbilang rendah. Salim Said adalah salah satu penulis yang bukunya ikut dirazia di Padang. Historia melakukan korespondensi dengan Salim yang merupakan guru besar ilmu politik ini ketika isu razia buku mengemuka. Petikan wawacara termuat dalam artikel berjudul " Salim Said: Mereka Mestinya Baca Dulu " (21 Januari 2019). Berikut hasil wawancaranya dalam versi lengkap. *** Apakah anda mendengar berita tentang penyitaan buku-buku sejarah yang diduga mengandung ajaran komunis oleh aparat TNI baru-baru ini? Salah satu buku yang ikut disita adalah karya anda yang berjudul Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto. Ya. Mestinya kan mereka baca dulu. Atas dasar baca itu baru mereka bertindak. Bahwa memang ada kekeliruan. Karena mereka tidak baca inilah masalahnya. Kalau mereka baca sebelumnya, mereka bisa tahu yang mana perlu disita, mana yang tidak perlu disita. Bagaimana tanggapan anda? Saya tenang-tenang saja. Jadi saya serahkan saja itu, saya ga ikut-ikut campur. Itu urusan penerbitnya. Kan itu barang dagangan. Setelah saya selesai tulis, dicetak, diterbitkan, ia sudah jadi barang dagangan. Jadi kalau disita, itu barang dagangan yang disita. Saya tidak punya wewenang lagi. Tentang apa sebenarnya isi buku anda tersebut? Saya tidak perlu menjelaskan. Ya baca aja buku itu jelas kok. Buku saya itu bukan propaganda PKI. Jadi ya karena keliru aja, kurang waktu untuk membaca. Tapi itulah kelemahan kita. Malas membaca, nah terjadilah hal seperti itu. Buku saya itu sudah cetakan ke-4 jadi beredar luas di tengah masyarakat sejak beberapa tahun yang lalu. Penyitaan buku karya anda rasanya agak kontroversial, mengingat anda tercatat sebagai guru besar ilmu politik di Universitas Pertahanan – lembaga pendidikan yang alumni nya banyak berasal dari kalangan perwira TNI. Itu juga lucunya. Mestinya kan mereka selain membaca naskah – yang tidak mereka lakukan – mereka juga harus tahu penulisnya. Saya ini kan penasihat politik Kapolri, saya guru besar Universitas Pertahanan, mengajar di Sesko TNI AD, AL, dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Tapi mereka kan tidak mempelajari itu. Lihat di toko buku ada tulisan Gestapu 65, “Wah ini buku PKI. Ambil saja”. Keliru. Karena dia tidak punya informasi. Bertindak itu kan harus dengan dasar informasi. Baik informasi yang ditulis di buku itu dan siapa penulisnya. Begitu. Itulah kecerobohan. Apa saran anda agar kecerobohan yang sama tidak terulang lagi di masa mendatang? Mestinya pimpinan dari penyita itu mendidik bawahannya bagaimana cara menyita buku. Apakah itu tidak melarang Undang-Undang? Menurut yang saya dengar tidak boleh itu. Yang boleh melakukan itu penegak hukum dan ada dasarnya. Tidak bisa begitu saja datang ke toko buku lalu menyita buku. Mengetahui buku anda disita dari toko buku, anda marah? Saya tidak terlalu pikirkan soal itu, tidak tersinggung, tidak marah. Ya begitulah bangsa kita, bertindak tidak berdasarkan informasi yang cukup.






















