top of page

Hasil pencarian

9726 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Purnawarman Raja Tarumanagara yang Perkasa

    TARUMANAGARA hingga kini masih tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Masa kejayaannya terjadi di era Raja Purnawarman, yang bertakhta dari akhir abad ke-4 hingga pertengahan abad ke-5 Masehi. Namun, dari banyak temuan arkeologis hanya Purnawarman yang secara gamblang disebutkan namanya. Pada Prasasti Tugu memang terpahat nama lain, yakni Rajaresi, namun itu merupakan gelar bagi kakek Raja Purnawarman. “Bukti sejarah yang hingga sekarang sudah ditemukan, semuanya berhubungan dengan Purnawarman yang dapat diketahui bahwa ia berkuasa sekurang-kurangnya 22 tahun. Betapapun samar-samarnya, Purnawarman menyatakan bahwa ia mempunyai seorang kakek yang diberitakan dalam prasasti Tugu,” ungkap Ayatrohaedi dkk. dalam Kisah Tarumanagara dalam Naskah (Laporan Penelitian, 1988) .

  • Mesir di Tangan Mubarak

    “TURUN, turun. Turunkan Mubarak!” dan “rakyat harus mengakhiri kekuasaan rezim ini!” teriak massa yang marah di sekeliling masjid Al-Istiqama di Giza Square, Kairo, Mesir usai salat Jumat, 28 Januari lalu, sebagaimana dilaporkan BBC . Dalam hitungan menit, meriam air menghujani para demonstran. Diikuti bunyi dentuman keras ketika polisi menembakkan gas air mata. Orang-orang berlarian di sepanjang jalan, sambil menahan efek gas yang membuat mata mereka berair. “Biarkan dunia melihat apa yang terjadi di negeri ini,” teriak seorang laki-laki tua, ”kami tak akan berhenti… sampai pemerintahan ini tumbang.”

  • Utusan Mesir Terdampar di Singapura

    Mohamad Abdul Munim, konsul jenderal Mesir di Bombay, India, mengemban misi penting. Dia, bertindak atas nama Raja Farouk, membawa keputusan Liga Arab yang berisi anjuran kepada negara-negara anggota Liga Arab untuk mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Namun, perjalanannya nyaris hanya sampai Singapura. Dia tak memperoleh visa. Lalu dia mendengar Ktut Tantri ( Muriel Stuart Walker ), perempuan Skotlandia-Amerika yang membantu perjuangan Indonesia di masa revolusi, berada di Singapura. Pada suatu malam, dia mendatangi penginapannya.

  • Alamudi Mata-mata Belanda

    MESIR tercatat dalam sejarah sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Pemerintah Mesir mengutus Konsul Jenderal Mesir di Bombay, India, Muhammad Abdul Mun’im datang ke Yogyakarta. Pada 14 Maret 1947 bertepatan dengan ulang tahun ke-23 kemerdekaan Mesir, Mun’im menghadap Presiden Sukarno untuk menyampaikan dukungan pemerintah Mesir dan Liga Arab kepada kemerdekaan Indonesia. Indonesia kemudian mengirim delegasi yang dipimpin Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim untuk mengadakan kunjungan balasan ke Mesir. Anggota delegasi adalah Rasjidi, Mr. Nazir Pamoentjak, dan A.R. Baswedan, pemimpin Persatuan Arab Indonesia, yang kemudian menjabat wakil menteri penerangan, anggota BP KNIP, anggota parlemen dan konstituante, serta pahlawan nasional.

  • Kisah Begundal Revolusi Sosial di Langkat

    KESULTANAN di Sumatra Timur menemui ajal ketika lonceng revolusi sosial berdentang. Sekelompok massa yang menamakan diri volksfront (front rakyat) merangsek masuk ke istana-istana mengobrak-abrik, menghabisi, bahkan melecehkan keluarga kesultanan. Volksfront terdiri dari kumpulan partai-partai dan badan kelaskaran.    Sejumlah pentolan ditunjuk untuk memimpin revolusi sosial untuk menggulingkan kekuasaan sultan. Tama Ginting dari Partai Nasional Indonesia (PNI) memimpin front rakyat di Tanah Karo. Haris Fadhilah dari Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) di Asahan. Saragih Ras dari Barisan Harimau Liar di Simalungun. Usman Parinduri dari Partai Komunis Indonesia (PKI) di Langkat.  “Sekitar pukul empat pagi tanggal 4 Maret [1946], laskar rakyat menyerbu Istana Sultan [Tanjung Pura] dan menurunkan bendera kerajaan yang berwarna kuning menggantikannya dengan sang Dwi Warna. Istana diobrak-abrik. Lemari pakaian Sultan yang panjangnya hampir sepuluh meter diobrak-abrik oleh laskar dan masing-masing mengganti celana goni milik mereka dengan salah satu pakaian sultan,” tutur Bachtiar Siagian dalam memoarnya yang belum diterbitkan.  Bachtiar Siagian dikenal sebagai sutradara dan penulis skenario yang berafilisasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 1960-an. Pada saat terjadi revolusi sosial, dia menjabat sekretaris umum Volksfront Langkat. Dalam memoarnya, Bachtiar berkisah tentang bagaimana ia menyembunyikan Amir Hamzah, keponakan dan menantu Sultan Langkat sekaligus sastrawan-penyair yang karyanya dikagumi Bachtiar. Namun, upaya Bachtiar menyelamatkan Amir Hamzah kandas setelah terjadi peristiwa yang menggegerkan antara pimpinan volksfront dengan keluarga Kesultanan Langkat.   “Kejadian lain dipicu oleh perlakuan tidak senonoh Ketua Umum Volksfront yang sekaligus Ketua Umum Pesindo, Saudara Usman Parinduri, yang menggagahi putri sultan,” catat Bachtiar seperti disadur ulang Tempo , 15 Februari 2015.  Menurut sejarawan Anthony Reid dalam The Blood of The People: Revolutions and the End of Traditional Rule in Nortern Sumatra , selain kader PKI, Usman Parinduri adalah mantan anggota Kenkokutai , pasukan cadangan binaan tentara pendudukan Jepang. Bachtiar membenarkan bahwa Usman memang aktif dalam organisasi PKI, sedangkan pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang jahit. Usman telah beristri dan mempunyai dua anak. Secara pribadi, Bachtiar mengenang Usman sebagai kawan baik bilamana ia berkunjung ke Tanjung Pura. Itulah sebabnya, Bachtiar terkejut begitu mengetahui Usman melakukan perbuatan tidak senonoh kepada putri Sultan.  Bachtiar mencari Usman ke Markas Istimewa No. 2L di Simpang Jalan Bengkatan, Kampung Tambung Binjai, tak jauh dari Rumah Sakit Bengkatan. Di sana, dia mendapat laporan dari pengawal bahwa Usman telah berjam-jam “memeriksa” salah satu putri Sultan di salah satu kamar. Apa yang dilakukan Usman telah menyimpang dan mencemarkan tujuan revolusi. Untuk itu, Bachtiar melaporkannya kepada pengurus volksfront yang lain, seperti Haji Abdul Wahab, Alaudin Samah, dan Joembak.   Agung Meiranda dalam “Sejarah Revolusi Sosial di Langkat Tahun 1946” termuat di jurnal Seuneubok Lada  Vol. 8. No. 1, Januari–Juni 2021, menjelaskan, pada 6 Maret 1946, Sultan Langkat Mahmud Abdul Djalil bersama permaisuri Tengku Raudah, dan putra mahkota Tengku Musa diculik. Mereka dibawa ke markas PKI di Kantor Perkebunan Batang Serangan. Selang beberapa hari, keluarga Sultan Langkat dipindahkan ke Berastagi oleh Volksfront Langkat yang di antaranya Amar Hanafiah, Ibnu Jafar, dkk.  “ Volksfront Langkat juga ikut mengamankan tokoh-tokoh PKI yang terlibat di dalam kejadian revolusi sosial di Langkat karena telah berusaha mengambil keuntungan pribadi Kesultanan Langkat. Volksfront Langkat mengamankan tokoh seperti Arifin Asneri, Usman Parinduri, Marwan, dan Sanusi,” tulis Agung.  Budayawan Langkat Zainal Arifin dalam Langkat dalam Sejarah dan Perjuangan Kemerdekaan menyebut Usman Parinduri bersama rekannya Marwan sebagai pelaku pemerkosaan terhadap dua putri Sultan Mahmud. Tengku Zulkifli Kamil, keturunan bangsawan Langkat, mengatakan bahwa Marwan semula menginginkan adik bungsu Sultan, Tengku Maryam. Namun, Sultan tak berkenan.  “Sultan Langkat, yang diperkosa anaknya, kalau menurut cerita dari uwak-uwak saya, si Marwan itu minta adik Sultan Langkat, Tengku Maryam, yang paling kecil dari adik Sultan Langkat. Tapi, Sultan Langkat tak mengasih,” ungkap Tengku Zulkifli Kamil, anak dari Kepala Langkat Hulu Tengku Pangeran Kamil, dalam dokumenter 1946: Sumatra Timur produksi Lentera Timur.  Sementara itu, Usman Parinduri menaruh dendam pribadi terhadap Kesultanan Langkat. Ketika Usman kecil, menurut Bachtiar, ibunya diambil secara paksa dan dijadikan semacam gundik di Istana Tanjung Pura. Kemungkinan oleh Sultan Abdul Azis (bertakhta 1893–1927), ayah Sultan Mahmud.  Sidang Volksfront Langkat bermufakat untuk menghukum mati Usman dan Marwan. Namun, ada beberapa versi bagaimana mereka dieksekusi. Bachtiar menerangkan, sewaktu Marwan dan Usman hendak ditangkap, teman-temannya dari Barisan Harimau Liar berupaya melindunginya. Pasukan Ksatria Pesindo di bawah pimpinan Sahadi menggempur markas tempat Usman dan Marwan disembunyikan. Usman dan Marwan pun berhasil diringkus.  “Setelah diperiksa dihadapan pengadilan rakyat yang diketuai O.K.H Salamudin, Usman dijatuhi hukuman mati,” kata Bachtiar.  Cerita lain, menurut Zainal Arifin, Volksfront Langkat memberikan kesempatan kepada Arifin Asneri, salah satu pemimpin revolusi sosial di Langkat, apabila kesalahannya ingin dimaafkan, maka Arifin harus menembak mati pelaku perkosaan putri Sultan Langkat, yaitu Marwan dan Usman.    Arifin Asneri menyanggupi. Dalam suatu kesempatan, Arifin membujuk Usman dan Marwan pergi bersama ke Batang Sarangan. Dalam perjalanan di Tanjung Selamat, keduanya ditembak oleh Arifin. Marwan dan Usman menemui ajal sekaligus mengakhiri petualangan mereka dalam revolusi sosial di Langkat.*

  • Isaac de Saint-Martin, Tuan Tanah Pengumpul Naskah

    PADA Maret 1682, pasukan VOC berlayar menuju Banten. Mereka datang untuk membantu putra mahkota, Sultan Haji, yang berperang melawan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa. Pada saat itu, Sultan Haji sudah terkepung di dalam istananya. Para pendukung Sultan Ageng Tirtayasa telah berhasil merebut kembali kota. VOC bersedia membantu dengan syarat para budak dan pembelot yang melarikan diri dari Batavia dikembalikan sekalipun mereka telah masuk Islam, para perompak dihukum dan VOC diberi ganti rugi, tuntutan Banten terhadap Cirebon ditarik kembali, keterlibatan dalam masalah Mataram dihentikan, dan yang terpenting orang-orang Eropa saingan VOC diusir dari pelabuhan Banten. Dengan kata lain, menurut sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004 , VOC berjanji akan membantu putra mahkota apabila dia mau melepaskan kebijakan luar negeri Banten yang bebas dan melepaskan basis kemakmurannya. Karena posisinya semakin sulit, akhirnya sang pangeran terpaksa menerima semua persyaratan itu.

  • Kemacetan di Batavia Tempo Dulu

    BUNYI klakson mobil dan motor saling bersahutan saat melintasi ruas-ruas jalan di Jakarta yang padat saat jam pulang kerja. Kemacetan memang bukan hal baru bagi penduduk di Jakarta. Antrean panjang kendaraan kerap terlihat di jam-jam sibuk, seperti pagi hari saat orang-orang menuju kantor atau sekolah, dan sore hari saat mereka kembali ke rumah. Kondisi lalu lintas di Jakarta yang sempat lengang kala pembatasan aktivitas sebagai imbas penyebaran Covid-19, kini kembali padat. Kemacetan terlihat di sejumlah ruas jalan ibu kota. Berbagai upaya dilakukan guna mengurai kepadatan lalu lintas, mulai dari melakukan integrasi moda transportasi publik, memberlakukan aturan ganjil genap, hingga rencana menerapkan jalan berbayar atau electronic road pricing  (ERP). Pengendara yang melintasi kawasan ERP akan dikenai tarif. Sanksi juga akan diberlakukan bagi pengendara yang melanggar aturan tersebut.

  • Batavia dalam Litografi

    KARENA kebutuhan lokasi untuk perbaikan kapal-kapalnya, Kongsi Dagang Belanda (VOC) menyewa sebuah pulau dari Pangeran Jayakarta. Masyarakat sekitar menyebutnya Pulau Kapal. Orang Belanda menamainya Onrust yang berarti “Tak Pernah Beristirahat”. Onrust memang menjadi tempat yang sibuk. Bukan hanya untuk memperbaiki kapal, VOC sesekali membuat kapal-kapal kecil karena kekurangtersediaan bahan baku dan tenaga. Onrust juga jadi tempat transit bagi kapal-kapal VOC, yang kemudian membangun gudang-gudang penyimpanan.

  • Menonton Eksekusi Hukuman Mati di Batavia

    HUKUMAN mati tengah menjadi perbincangan masyarakat usai mantan Kepala Divisi Propam Polri, Ferdy Sambo divonis hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (13/2). Sambo dinyatakan bersalah dalam kasus pembunuhan berencana dan perintangan penyidikan terkait kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Berbeda dengan masa kini di mana eksekusi hukuman mati dilakukan secara tertutup, pada zaman Belanda pelaksanaan hukuman mati justru dilakukan di ruang terbuka dan dihadiri banyak orang. Lapangan Stadhuis (Balai Kota) di Batavia, yang kini dikenal dengan Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah, menjadi lokasi dilangsungkannya eksekusi hukuman mati. Menurut sejarawan Alwi Shahab dalam Batavia Kota Hantu , kala Jakarta masih bernama Batavia, hukum pancung alias tebas leher bukan sesuatu hal yang baru bagi para penduduknya selama dua setengah abad. “Tampaknya, pelaksanaan hukuman yang memisahkan leher dari badan ini menjadi hiburan dan ditonton banyak orang,” tulis Alwi.

  • Kala Penduduk Tionghoa di Batavia Dipimpin Wanita

    ISTILAH Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Bugis, hingga Kampung Bali, tak asing lagi bagi warga Jakarta. Beberapa wilayah di ibu kota masih dinamai sesuai istilah-istilah tersebut. Pada masa awal pendirian kota Batavia, penduduk menghuni wilayah yang telah ditentukan pemerintah kolonial. Oleh karena itu, permukiman penduduk dikenali berdasarkan kelompok atau etnis penghuninya. Kampung-kampung tersebut dipimpin oleh kepala yang memiliki wewenang mengatur berbagai hal, mulai dari administrasi, ekonomi, keamanan, hingga pembagian warisan, perkawinan, dan perceraian. Arsiparis cum sejarawan Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia  menyebut kepala permukiman oleh penguasa VOC diberi jabatan dengan pangkat kapitan atau letnan.

  • Flexing Masa VOC di Batavia

    GAYA hidup mewah pejabat negara dan keluarganya tengah menjadi sorotan masyarakat. Kebiasaan flexing itu telah mencederai kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan. Beberapa pejabat pun diperiksa bahkan dinonaktifkan. Ratusan tahun lalu, gaya hidup mewah dan pamer kekayaan hingga berlomba-lomba tampil glamor dilakukan para pejabat VOC dan masyarakat kelas atas di Batavia. Willard A. Hanna dalam Hikayat Jakarta menulis, Batavia mencapai puncak kemakmuran dan kejayaan kira-kira pada 1700. Kota yang dijuluki Queen of the East atau Ratu dari Timur itu melebarkan daerahnya sepanjang terusan Molenvliet baru ke arah daerah-daerah pedalaman yang dibangun dalam waktu singkat dengan rumah-rumah besar, taman-taman bagi golongan elite, dan permukiman-permukiman berkelompok yang lebih sederhana bagi orang Eropa, Indo, dan Asia.

  • Cara Penduduk Batavia Melindungi Diri dari Penyakit

    BATAVIA pernah termasyhur sebagai Koningin van het Oosten atau Ratu dari Timur karena keindahannya yang memesona para pelancong maupun penduduk kota pada abad ke-18. Namun, Batavia kemudiandijuluki Graf der Hollanders atau kuburan orang Belanda. Pengarang asal Amerika Serikat, Willard A. Hanna dalam Hikayat Jakarta menulis bahwa pada puncak kejayaannya, Batavia justru mengalami kemerosotan. “Batavia pada abad ke-17 memang bukan merupakan daerah yang sehat, tetapi pada abad ke-18 mulai kelihatan sebagai tempat menyimpan mayat atau tulang-tulang (rumah mayat),” tulis Hanna.

bottom of page