top of page

Hasil pencarian

9723 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Heinrich Himmler, Arsitek Genosida Nazi

    MUSISI Ahmad Dhani membuat lagu dan video klip “Prabowo Hatta: We Will Rock You” sebagai dukungan kepada calon presiden Prabowo Subianto. Selain Dhani, video klip tersebut dibintangi finalis Indonesian Idol: Nowela, Husein, dan Virzha. Dalam akun resmi facebook , Prabowo berterimakasih dan menyatakan “video ini semakin menambah semangat juang kami.” Namun, yang mengejutkan, dalam video itu Dhani memakain baju mirip petinggi Nazi-Jerman: Heinrich Himmler. Entah apa yang ada dalam benak Dhani ketika memilih dan memakai baju itu?

  • Ketika Arsitek Belanda Masuk Islam

    PESULAP sohor Deddy Corbuzier mengumumkan telah memeluk agama Islam pada 21 Juni 2019. Sebelumnya dia penganut Katolik. Dia berkeputusan pindah agama setelah mempelajari Islam selama hampir setahun. Kabar itu memperoleh beragam tanggapan dari khalayak. Tanggapan itu mirip dengan sikap orang-orang pada masa kolonial terhadap seorang Eropa yang masuk agama Islam. Tidak banyak orang Eropa masuk Islam di Hindia Belanda. Dua nama dapat menjadi contoh dari yang sedikit itu: Snouck Hurgronje dan Charles Prosper (C.P.) Wolff Schoemaker.

  • Demonstrasi Buruh Sritex Terbesar

    PT Sri Rejeki Isman Tbk. (Sritex) dan tiga anak perusahaannya ( PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya) dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang pada 24 Oktober 2024. Perusahaan Sritex yang didirikan oleh Loo Kie Hian atau H.M. Lukminto   berawal dari UD Sri Redjeki, sebuah kios di pasar Klewer yang berdagang tekstil sejak tahun 1966. Pada 1980, UD Sri Redjeki berubah menjadi PT Sritex yang berkantor pusat di Sukoharjo, Jawa Tengah. Melalui kerja keras Lukminto, Sritex akhirnya memiliki pabrik pertama yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 2 Maret 1992.

  • Ada Sritex di Mata Kanan Wiji Thukul

    "Darah sudah kau teteskan/ dari bibirku/ Luka sudah kau bilurkan/ ke sekujur tubuhku/ Cahaya sudah kau rampas/ dari biji mataku"   PUISI yang termuat dalam antologi tunggal Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru, itu berjudul “Derita Sudah Naik Seleher”.  Puisi 17 baris dan bertitimangsa November 1996 itu berkait erat dengan bulan-bulan pemogokan buruh di PT Sri Rejeki Isman atau lebih akrab dengan Sritex. Pabrik yang berlokasi di Sukoharjo, Jawa Tengah ini hanya berjarak lebih kurang 20-an kilometer dari kampung Wiji Thukul di Sorogenen, Solo. Di sanalah, Thukul mendirikan Sanggar Suka Banjir. Baca kembali puisi itu: Cahaya sudah kau rampas/dari biji mataku .

  • Sukarno Sebagai Seorang Arsitek

    KISAH-kisah Sukarno dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia barangkali sudah banyak diulas. Nama besar sebagai proklamator dan presiden pertama Indonesia juga sudah tak diragukan lagi. Namun, yang tak banyak menjadi sorotan, bagaimana jejak Bung Karno sebagai seorang arsitek. Dalam seri diskusi daring yang diadakan Historia.ID untuk memperingati Bulan Bung Karno, Selasa, 2 Juni 2020, arsitek Yuke Ardhiati memaparkan beberapa karya-karya arsitektur Sukarno yang dibuat ketika masih menjadi mahasiswa hingga setelah menjabat sebagai presiden. Gagasan serta konsep arsitektur Sukarno juga bisa ditemui dalam banyak bangunan di Indonesia.

  • Arsitek Indonesia Pertama yang Sejajar Eropa

    TAK gampang bagi seseorang menyandang sebutan arsitek. Harus kuliah di jurusan arsitektur lalu, setelah lulus, magang enam bulan hingga satu tahun di biro arsitek. Yang terpenting lagi, tak putus membuat karya rancang bangun. “Arsitek adalah profesi. Seorang lulusan sekolah arsitektur di perguruan tinggi tidak otomatis disebut arsitek. Ia harus berpraktik merancang bangunan baru bisa disebut arsitek,” ujar Tjahjono Raharjo, ahli tata ruang Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, kepada Historia . Namun, di masa lalu, ada seorang arsitek yang tak menempuh sekolah formal jurusan arsitek tetapi diakui sebagai arsitek bumiputera pertama. Dia adalah Mas Aboekassan Atmodirono.

  • Setelah Multatuli Mudik

    TAK begitu sulit menemukan bangunan tempat Multatuli alias Eduard Douwes Dekker pernah tinggal di Brussel, Belgia. Ia terletak pada sebuah sudut dari jalan bersimpang lima, tepat di seberang gereja katedral. Pintu masuk ke dalam gedung terimpit di antara dua kafe dan toko roti. Sebuah plakat peringatan terpasang di atas pintu, ditulis dalam dua bahasa: Belanda dan Prancis. “Pada September–Oktober 1859 Multatuli (Edward Douwes Dekker) menulis adikaryanya Max Havelaar di penginapan “Au Prince Belge” yang sampai 1876, dengan alamat Bergstraat No 80, berada di bangunan ini.” Demikian bunyi plakat tersebut. Dalam secarik surat bertitimangsa 22 September 1859 yang ditujukan kepada istrinya, Everdine Huberte van Wijnbergen, Multatuli menyebutkan bahwa dia sedang menulis sebuah naskah buku di losmen tersebut. Pada 13 Oktober tahun yang sama, buku tersebut selesai ditulis. Namun ada dua versi lain tentang berapa lama naskah Max Havelaar ditulis: mulai dua minggu sampai tiga bulan.

  • When Telenovela Stars Visited Indonesia

    ANDITYA Restu Aji still remembers what happened a quarter of a century ago. That afternoon, her mother picked her up after school at Marsudarini Elementary School in Yogyakarta. Their plan to go home suddenly changed after the mother of one of Anditya's friends invited them to the town square. “Let's go to the Post Office and BNI (Yogyakarta Kilometer Zero Point). Paulina is being paraded to Alun-Alun Lor (the North Square)!” she said to Anditya's mother enthusiastically, as recounted by Anditya to Historia.ID . The people of Yogyakarta flocked to the town square that day. They wanted to see Gabriela “Gaby” Spanic. Gaby's name skyrocketed in the Indonesian public eye after her success starring in the Mexican telenovela La Usurpadora , which aired on TPI in 1999. Gaby Spanic, as reported by Bali Post  on April 2, 2000, held a fan meeting and a parade around the city of Yogyakarta on April 2-3, 2000, which coincided with Sunday and Monday. Her visit on the second day was crowded because school children also welcomed her.

  • Lebaran Afdol dengan Dodol

    MEMASUKI Ramadan, Syarifah Hairiyah alias Ibu Yuyun sibuk memenuhi pesanan. "Pesanan bisa meningkat hingga lima kali lipat dari hari biasa," ujarnya. Mendapatkan keahlian secara turun-temurun, Yuyun memulai usaha dodol Betawi di Pejaten Timur, Jakarta Selatan, sejak 1980. Sindhunata dalam Burung-burung Bundaran HI  menulis dodol Betawi bukan sekadar campuran gula Jawa dan ketan. Di baliknya terkandung makna gotong royong, rukun kampung, dan minal aidin walfaizin .

  • Seruan Sukarno di Hari Lebaran

    HARI Raya Idul Fitri tahun 1962 jatuh pada 8 Maret. Saat itu Presiden Sukarno merayakannya dengan menggelar salat Id berjemaah di lapangan antara Istana Merdeka dan Istana Negara. Usai kegiatan tersebut, ribuan massa masih tetap berkumpul. Tidak hanya rakyat biasa,  berbagai duta besar negara asing juga turut hadir. Tidak ketinggalan juru warta yang bertugas meliput. Mereka semua ingin mendengar amanat Bung Karno. Tradisi pada hari lebaran di Indonesia identik dengan saling bermaafan. Begitu pula dengan Bung Karno. Dia memulai pidatonya dengan permohonan maaf. Katanya, “Kepada siapapun saja yang saya kenal dan yang mengenal kepada saya. Minta dimaafi kesalahan-kesalahan saya, yang saya ketahui dan yang saya tidak ketahui."

  • Lebaran dan Natalan Terakhir Bersama Wiji Thukul

    FAJAR Merah terduduk di sebuah lahan berumput. Meski badannya menghadap ke kamera yang dipasang Yuda Kurniawan sang sutradara, matanya seringkali melengos ke kanan-kiri. Butuh satu helaan nafas panjang baginya sebelum bisa menjawab satu pertanyaan sulit yang dilontarkan Yuda.  “Sejauh apa aku mengenal bapakku? Gimana ya,” cetus Fajar berupaya menjawab pertanyaan tentang Wiji Thukul ayahnya. Scene ini jadi salah satu inti cerita dokumenter Nyanyian Akar Rumput karya Yuda Kurniawan, yang diputar sejumlah bioskop mulai 16 Januari 2020. Kegagapan Fajar menggambarkan Wiji Thukul bisa dimaklumi lantaran sang ayah tak bisa berperan sebagai ayah sebagaimana umumnya di sebuah keluarga akibat aktivitasnya sebagai aktivis HAM di masa Orde Baru yang anti-kritik. Fajar baru berusia lima tahun kala Wiji Thukul jadi korban penghilangan paksa pasca-Tragedi Mei 1998.

  • Berlebaran di Tahanan

    LEBARAN tahun 1966. Mia Bustam, perempuan pelukis Lekra yang jadi tahanan politik (tapol) 1965, sibuk bukan kepalang begitu gerbang Vredeburg dibuka. Besek-besek mengalir deras tak henti-henti. Ada yang berisi lontong, ketupat, jadah, gula, dan makanan tahan lama seperti serundeng dan abon. Besek-besek itu merupakan bingkisan lebaran yang dikirim keluarga kepada para tapol. Bingkisan itu menjadi satu-satunya tali penghubung antara keluarga dan tapol di hari raya lantaran bertemu para tapol tak diperbolehkan.

bottom of page