Hasil pencarian
9876 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika Kapten Toni Mrlak “Ditumbalkan” dalam Perang Kemerdekaan Slovenia
KAPTEN Udara Toni Merlak, komandan Squadron Helikopter Gazelle AU Yugoslavia di Brnik, Ljubljana, Slovenia, segera menghentikan laju helikopter Gazelle SA 341 yang dipilotinya begitu mencapai Distrik Potrčeva. Helikopter AU Yugoslavia bernomor seri 664 itu pun melayang di atas flat-flat penduduk pada 27 Juni 1991 malam itu. Toni segera melambaikan tangannya begitu ibu mertuanya sudah terlihat keluar ke balkon dari flatnya di lantai delapan. Lambaian itu dibalas lambaian tangan oleh mertuanya. Menyapa anggota keluarga sesaat dari udara merupakan hal biasa yang dilakukan Toni ketika terbang di atas Potrčeva. “Toni selalu terbang agar kami bisa mendengarnya dan kami semua lari ke balkon,” kata Dragica Potočnjak, aktris sekaligus penulis yang merupakan ipar Toni, sebagaimana dikutip jurnalis Patricia Malicev dalam “Why did Toni Mrlak have to Die?” yang dimuat di old.delo.si. Malam itu, Toni mendapat tugas mengantar roti ke barak militer Vrhnika. Toni nekat menjalankan misi tersebut. Selain helinya tidak dipersenjatai, barak Vrhnika dikelilingi wilayah kantong-kantong pertahanan pasukan perjuangan kemerdekaan Slovenia. Padahal, 27 Juni itu merupakan hari pertama Perang 10 Hari atau Perang Kemerdekaan Slovenia.
- 27 Juni 1991: Perang 10 Hari Antar Slovenia Gapai Kemerdekaan
HARI ini, 27 Juni 1991. Kapten Toni Mrlak, pilot AU Yugoslavia asal negara bagian Slovenia sekaligus komandan satuan heli Gazelle di kota Brnik, akhirnya bisa santai. Sejak pagi dia melakukan tugas terbang mengantarkan Jenderal Marjan Vidmar, kepala Staf Umum Garnisun ke-14 Ljubljana, melakukan pengintaian udara di atas wilayah Slovenia. Waktu santainya itu dia pergunakan untuk mengobrol bareng Letnan Ljubomir Sandevski, rekannya sesama pilot, di kantin barak Sentvid. Namun saat mereka serius berbincang itulah sekira pukul 6.30 Letkol Miko Stamenkovic, komandan mereka, datang. Toni diperintahkan Stamenkovic membeli roti ke toko roti di Kodeljevo dan mengangkutnya ke barak militer Vrhnika di Slovenia. Dengan suka hati menerimanya Toni. Tak berapa lama kemudian, dia pun berangkat menerbangkan helikopter Gazelle SA 341 bernomor 664 ditemani teknisi Bojanče. Kendati tugas itu berbahaya, Toni menerimanya karena melihat ada peluang untuk mewujudkan cita-cita rahasianya lewat tugas itu. Dia bisa melarikan heli milik AU Yugoslavia untuk dijadikan heli Slovenia.
- Saat Pelantikan KSAD Diboikot
UPACARA pelantikan Kolonel Bambang Utoyo sebagai orang nomor satu di Angkatan Darat (KSAD) barangkali paling menyedihkan sepanjang sejarah TNI. Seremoni yang sedianya berlangsung di halaman Istana Merdeka secara kebesaran militer, dipindahkan ke aula Istana Negara. Batalion Kehormatan tidak tampak. Kumandang lagu “Indonesia Raya” bukan diiriingi oleh barisan musik militer, melainkan barisan musik dari pasukan pemadam kebakaran. “Pelantikan KSAD Bambang Utoyo diboikot,” demikian berita harian Pemandangan, 28 Juni 1956. Hari itu, 27 Juni 1955, Presiden Sukarno melantik Bambang Utoyo menjadi KSAD menggantikan Jenderal Mayor Bambang Sugeng. Tidak seperti pelantikan KSAD sebelum dan sesudahnya, pelantikan Bambang Utoyo berlangsung secara sederhana. Meski demikian, pelantikan Bambang Utoyo akhirnya rampung juga. Presiden Sukarno selaku panglima tertinggi mengangkat sumpah Bambang Utoyo secara Islam. Setelah itu, Bung Karno menanggalkan tanda pangkat kolonel pada pundak Bambang Utoyo dan menggantinya dengan pangkat jenderal mayor. Pada tangan kanan Bambang Utoyo, perban putih tampak di ujung menutupi luka cacat permanen semasa Perang Kemerdekaan.
- Luhut Tak Sempat Menjabat KSAD
RASA haru membuncah di raut wajah Luhut Binsar Panjaitan kala menyaksikan menantunya, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Tangisnya bahkan pecah saat merangkul dan menyematkan ucapan selamat kepada Maruli, yang tak lain suami dari Paulina br. Panjaitan –putri sulung Luhut Panjaitan. Boleh jadi itu adalah luapan kebahagian Luhut atas pencapaian karier militer yang ditorehkan sang mantu. Sebelum dilantik menjadi KSAD, Maruli menjabat sebagai panglima Kostrad. “Jadi kalau kita di keluarga, Pak Luhut dulu juga bercita-cita menjadi KSAD. Cuma ya, sekarang cukup menantunya sajalah,” kata Jenderal Maruli seraya tersenyum dalam keterangan persnya usai dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara, 29 November 2023. Semasa masih aktif di TNI, Luhut memang bercita-cita menjadi orang nomor satu di Angkatan Darat. Namun, harapan itu tak kesampaian. Padahal, Luhut disebut-sebut sebagai salah satu perwira militer terbaik yang pernah dimiliki TNI Angkatan Darat. Ketika lulus Akabri tahun 1970, Luhut menyandang predikat Adhi Makayasa (taruna terbaik).
- Pekik Sunyi dari Jalan Kenari
DERETAN kios pedagang peralatan listrik memanjang hingga 300 meter di Jalan Kenari Raya yang hanya muat dilalui dua mobil minibus. Mobil boks yang parkir berjejer di sisi kiri dan kanan mempersempit ruas jalan tembus yang memintas jarak dua jalan utama dari Salemba Raya ke arah Jalan Diponegoro. Menjelang sebuah tikungan di pengujung Jalan Kenari II, sebuah gedung tua masih berdiri tegak. Kecuali warna dan suasana sekitar, bentuk bangunan yang kini berfungsi sebagai Museum M.H. Thamrin itu dibiarkan seperti sediakala. Di halaman berlantai batu alam itu berdiri patung M.H. Thamrin. Pagar besi bercat hijau nyaris menutup rapat halaman, menyisakan sebuah celah masuk bagi motor. Pada sisi kiri dalam pagar terdapat pos keamanan, sementara di sisi kiri luar pagar terpajang sebuah memorabilia setinggi satu meter memuat keterangan sosok M.H. Thamrin. Sejak dipugar pada 1985, gedung yang menempati lahan seluas 3.000 meter persegi tersebut dikembangkan sebagai pusat dokumentasi perjuangan M.H. Thamrin. Menurut pengelola museum, gedung itu dibangun pada abad ke-19. Namun tak banyak catatan mengenai fungsi dan siapa pemilik awalnya. Riwayatnya baru diketahui sejak awal abad ke-20. Saat itu, gedung masih berfungsi sebagai rumah pemotongan hewan dan penyimpanan buah-buahan dari luar negeri. Pemiliknya seorang Belanda yang biasa dipanggil Meneer de Has. Dari tempat itu, De Has mendistribusikan daging dan buah ke pasar yang ada di Batavia. Karena itu, gerobak-gerobak kuda sering kali hilir mudik di tempat itu.
- Kentang dalam Karamnya Kapal Selam Jepang
PERTEMPURAN pasukan Amerika Serikat dan Jepang di Pasifik pada masa Perang Dunia II tak hanya melahirkan beragam kisah heroik, tetapi juga legenda yang menarik perhatian. Salah satu legenda yang banyak dibicarakan adalah peran kentang dalam karamnya kapal selam Jepang pada April 1943. Ketika itu, kapal perang Amerika Serikat, USS O’Bannon (DD-450) tengah berlayar kembali ke pangkalan setelah terlibat dalam kampanye militer di Kepulauan Solomon. Kapal itu berlayar di tengah malam dan bertemu kapal selam Jepang, RO-34. Menurut Glenn M. Hardin dan James W. Grace dalam “Depth Charges, Rods, and Spuds!”, termuat di majalah Naval History Volume 19, Nomor 3, Juni 2005, saat itu wilayah operasi kapal O’Bannon adalah The Slot, sebuah jalur yang sangat diperebutkan di tengah Kepulauan Solomon, tempat pasukan Angkatan Laut AS berjuang melawan Armada Gabungan Jepang untuk memperebutkan kendali.
- Menghitung Lelembut di Jawa
MOHON dimaafkan hamba hendak menghitung, makhluk halus di Nusa Jawa, yang menjadi penjaga setiap kota, para raja makhluk halus, besar kegunaannya, jika bisa mengingatnya satu per satu, mampu untuk menolak ilmu hitam, bisa dibuat membantu kesembuhan yang sakit karena guna-guna, pohon dan tanah yang angker akan jadi tawar. Begitulah bait pembuka dari 26 bait dari apa yang dinamakan Suluk Plencung. Suluk ini sudah lama tak dilantunkan. “Dituliskan pada era Sultan Agung. Suluk ini dilagukan dengan Sinom, itu berarti ditujukan kepada Sunan Giri, sebagai wali tertua,” ujar Herman Sinung Janutama, peneliti manuskrip kuno dari Yogyakarta.
- Mula Finalissima, Adu Kuat Jawara Copa América dan Piala Eropa
UCAPAN adalah doa. Begitu kata pepatah. Apa yang diucapkan pesepakbola muda Spanyol yang ikut mengantarkan negerinya menjuarai Piala Eropa, Lamine Yamal, untuk bersua idolanya, Lionel Messi, sangat mungkin terwujud di lapangan. Winger berusia 17 tahun yang meniti karier di klub FC Barcelona itu bakal adu kuat di ajang Finalissima setelah Messi cs. memastikan diri jadi kampiun Copa América. “Saya berharap Messi memenangkan Copa América dan saya memenangkan Euro agar saya bisa bermain melawannya di Finalissima,” tutur Yamal kepada RAC1, dilansir The Daily Star, Sabtu (13/7/2024) menjelang duel final Piala Eropa. Yamal tampil gemilang sepanjang Piala Eropa 2024. Ia turut menyumbang sebutir gol indah di semifinal kontra Prancis yang berkesudahan 2-1 untuk Spanyol pada 9 Juli 2024. Gol itu membuatnya, yang lahir di Esplugues de Llobregat pada 13 Juli 2007, mengukir rekor sebagai pencetak gol termuda di ajang Piala Eropa (16 tahun 362 hari), yang sebelumnya dipegang Johan Vonlanthen (18 tahun, 141 hari) saat mencetak gol penggembira untuk Swiss ketika kalah 1-3 dari Prancis pada 21 Juni 2004.
- Pendidikan Agama Diwajibkan hingga Pertempuran Laut Jawa
Bahder Djohan. (Wikimedia Commons). 1 Februari 1950: Pendidikan Agama Diwajibkan Semua sekolah pemerintah tertanggal 1 Februari 1950 diwajibkan memberikan pendidikan agama untuk peserta didik tingkat dasar dan lanjutan. Hal ini ditetapkan berdasarkan peraturan bersama antara Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, Bahder Johan dengan Menteri Agama Wahid Hasyim pada 20 Januari 1951. Peraturan bersama tersebut menyatakan bahwa pendidikan agama diajarkan selama dua jam dalam satu minggu. Untuk tingkat sekolah dasar, pendidikan agama dimulai pada kelas 4. Segala biaya untuk penyelenggaraan pendidikan agama ditanggung oleh Kementerian Agama. Bahan pengajaran dan kurikulum ditetapkan oleh Kementerian Agama sesudah disetujui oleh Kementrian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan.* Letnan Gubernur Jenderal H.J. van Mook (Nationaal Archief/Wikimedia Commons). 8 Februari 1930: Gerakan De Stuw Sejumlah intelektual Belanda yang progresif di Hindia Belanda mendirikan gerakan politik dan budaya yang dikenal dengan De Stuw (Gerakan Maju). De Stuw diambil dari nama majalah yang mereka terbitkan. Nama resminya adalah “Perkumpulan untuk mendukung pembangunan sosial dan politik Hindia Belanda”. Anggotanya tidak banyak dan semuanya berbangsa Belanda. Menurut Bernard Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indoenesia, perkumpulan ini dibentuk sebagai oposisi terhadap Vanderlandsche Club (Perserikatan Patriot). Vanderlandsche Club adalah organisasi politik konservatif di Hindia Belanda yang menginginkan penguatan kekuasaan Belanda atas seluruh Hindia. De Stuw mendapat dukungan dari kalangan bumiputra bangsa Indonesia sementara orang-orang Belanda kebanyakan menolaknya. Namun, beberapa anggota dari kelompok De Stuw di kemudian hari malah menjadi lawan kaum Republiken Indonesia. Mereka adalah tokoh-tokoh penting Belanda pada masa revolusi: Hubertus van Mook (menjabat Letnan Gubernur Jenderal), Jan Anne Jonkmann, dan Johann Logemann (keduanya menjadi Menteri Urusan Negeri Jajahan).* Gempa bumi di Ambon, Maluku tahun 1898. (KITLV). 17 Februari 1674: Gempa Bumi di Maluku Terjadi gempa bumi dahsyat di pantai utara Maluku. Gempa jenis tektonik tersebut memicu gelombang tsunami di Laut Banda. Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 80 meter. Dalam The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku yang disunting Kathryn A. Monk, Yance de Fretes, dan Gayatri Reksodiharjo-Lilley disebutkan, gelombang pasang mengakibatkan tanah longsor di desa Hila, Maluku Tengah dan menenggelamkan sebuah situs pasar 180 meter ke bawah permukaan laut. Sementara di Hitu, Pulau Ambon, terjangan tsunami menyapu seluruh desa. Sekira 2300 orang menjadi korban, termasuk istri dan dua anak dari Rumphius (Georg Eberhard Rumpf). Rumphius (1628–1702) adalah seorang naturalis kebangsaan Jerman yang bekerja untuk VOC. Bencana alam ini menjadi gempa tektonik pertama dan tsunami tertua yang berhasil tercatat dalam sejarah Nusantara.* Georg Eberhard Rumpf atau Rumphius. (Wikimedia Commons). 20 Februari 1927: Jong Indonesia Berdiri Di Bandung, sekumpulan elite terdidik pribumi Indonesia membentuk organisasi pemuda nasionalis bernama Jong Indonesia. Para pendirinya antara lain: KRT Josodiningrat, Jusupadi, Suwadji, Mohammad Tamsil, Soebagio Reksodipuro, Assaat, Rusmali, Sunario, Sartono, Iskak, Budiarto, dan Wirjono. Mereka adalah pelajar Indonesia yang baru pulang dari luar negeri, kebanyakan dari Belanda. Para pemuda ini mendapat gagasan kebangsaan yang kuat setelah bergabung dalam Algemenee Studi Club, kelompok diskusi yang dipimpin Sukarno. “Dalam aktivitasnya, Jong Indonesia mendirikan organisasi kepanduan, menerbitkan majalah, memajukan olahraga, menyelenggarakan rapat bersama dengan organisasi pemuda lainnya. Meski nama organisasi memakai kata berbahasa Belanda (jong), namun mereka memakai bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar,” tulis Ahmaddani G. Martha, Christanto Wibisono, dan Yozar Anwar dalam Pemuda Indonesia dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa. Jong Indonesia menjadi salah satu organisasi pemuda pemrakarsa Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928.* Pesawat RI-001 Seulawah. (Istimewa). 25 Februari 1947: Pembentukan Gasida Di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), para saudagar dan kaum kaya Aceh berkumpul. Mereka adalah Republiken yang bersepakat untuk mendukung pemerintah Indonesia. Untuk mewadahinya dibentuklah Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida). Gasida diketuai oleh H.M. Djoened Joesoef dan Tengku Daud Beureuh sebagai penasihatnya. Di dalam Gasida dibentuk pula sebuah Badan Penyokong Perjuangan. Gasida berperan penting dalam membiayai perjuangan revolusi, terutama pada saat Belanda melancarkan blokade ekonomi dan agresi militer kedua. Kelak dari kocek kelompok Gasida ini pula Indonesia memperoleh pesawat terbang pertama jenis Dakota C-47 yang dikenal sebagai RI-001 “Seulawah”.* Letnan Komandan Kareel Doorman. (Ministerie van Defensie/Wikimedia Commons). 27 Februari 1942: Pertempuran Laut Jawa Angkatan Laut Sekutu yang tergabung dalam American-British-Dutch-Australian Command (ABDACOM) terlibat pertempuran dengan Armada Jepang di Laut Jawa. Pasukan gabungan Sekutu mengemban misi mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda di Pulau Jawa dari invasi Jepang. Panglima Angkatan Laut Belanda Laksamana Muda Kareel Doorman memimpin kesatuan pemukul Sekutu. Penghadangan terhadap konvoi kapal Jepang terjadi di sebelah selatan Pulau Bawean, perairan Jawa Timur. Dalam pertempuran yang berlangsung dari sore hari hingga tengah malam itu, Angkatan Laut Sekutu mengalami kekalahan telak. Tentara Jepang unggul karena daya jangkau torpedo yang lebih jauh dan dibantu pesawat-pesawat pengintai. Kerugian Sekutu meliputi lima kapal penjelajah, tujuh kapal perusak, dan satu kapal tanker. Laksamana Muda Kareel Doorman turut tenggelam bersama kapal yang dipimpinnya, Hr. Ms. De Ruyter. Sementara Jepang hanya kehilangan beberapa kapal pengangkut. Pasukan Jepang setelah pertempuran itu mulai memasuki Jawa.* Majalah Historia Nomor 28, Tahun III, 2016
- Raja-raja Jawa dalam Lintasan Masa
BELUM lama ini, ketua umum partai besar yang baru terpilih secara aklamasi sekaligus seorang menteri menyinggung perihal “raja Jawa”. Katanya, bisa celaka kalau main-main dengan raja Jawa. Tentu saja publik bertanya-tanya. Tak terkecuali Megawati Sukarnoputri, ketua umum PDIP. Sayangnya, publik justru diminta menafsirkan sendiri-sendiri oleh seorang staf yang mewakili rezim. “Jawa” yang dimaksudkannya kemungkinan besar mengacu pada etnis, yakni orang-orang-orang yang mendiami Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sebab, masyarakat di Jawa bagian barat beretnis Sunda.
- Ketika Keraton Menjawab Panggilan Reformasi 1998
DEMONSTRASI besar-besaran mahasiswa dan berbagai elemen masyakarakat sipil sejak 4 Mei 1998 berikut bentrokan dengan aparat yang berujung kerusuhan, menjalar ke kota-kota besar tanah air, termasuk Yogyakarta. Bedanya, di Yogyakarta tak menimbulkan ekses kekerasan anti-Tionghoa seperti yang juga terjadi di Jakarta, Makassar, Medan, atau Solo. Etnis Tionghoa seketika jadi sasaran amuk massa hanya karena kesenjangan kehidupan ekonomi dengan kalangan bumiputera di banyak kota. Ada yang lewat penganiayaan, rudapaksa, ataupun pembunuhan. Di Yogyakarta, hal itu tak terjadi kendati ada beleid diskriminatif terhadap mereka, yakni Instruksi Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) No. K898/I/A/1975 tentang Larangan Kepemilikan Hak atas Tanah bagi Warga Nonpribumi. Menurut Samsu Rizal Panggabean dalam Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia, etnis Tionghoa tak mengalami kekerasan karena mereka sudah cukup lama berbaur dengan kalangan bumiputera sehingga mereka bisa beradaptasi dan mempertahankan gaya hidup sederhana dan jauh dari kehidupan yang eksklusif.
- Orang Jawa di Kaki Rajabasa
TATKALA Gunung Krakatau masih ada dan belum meletus, tersebutlah seorang pangeran bernama Singa Branta. Ia hidup di sekitar Gunung Rajabasa di Lampung Selatan yang –beribukota Kalianda– salah satu sisinya menghadap Selat Sunda tempat Gunung Krakatau. Java Bode, 23 Agustus 1856, menyebut Pangeran Singa Branta sebagai kepala marga di daerah Rajabasa. Daerah itu terkenal dengan gunung vulkaniknya, Gunung Rajabasa, yang punya kandungan belerang dan di kaki gunungnya dipenuhi rumah-rumah. Bersama Radin Inten II, yang disebut-sebut sumber Belanda sebagai kepala marga Negara Ratu, Pangeran Singa Branta dicap pihak Belanda sebagai “penghasut pemberontakan.” Sejak 1851, mereka sudah dianggap biang kerusuhan di Lampung. Sikap Singa Branta dan pengikutnya membuat daerah Rajabasa didatangi pasukan Batalyon Infanteri ke-1 tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Singa Branta dan pengikutnya bertahan di Benteng Bendulu yang terletak di lembah. Namun, Singa Branta akhirnya tertangkap lalu dibuang. Pembuangan orang sepertinya sangat umum di Hindia Belanda. Lebih dari 25 tahun setelah tertangkapnya Singa Branta, Gunung Krakatau meletus. Air lautnya mengancam daerah bawah Gunung Rajabasa.





















