top of page

Hasil pencarian

9713 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Isaac de Saint-Martin, Tuan Tanah Pengumpul Naskah

    PADA Maret 1682, pasukan VOC berlayar menuju Banten. Mereka datang untuk membantu putra mahkota, Sultan Haji, yang berperang melawan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa. Pada saat itu, Sultan Haji sudah terkepung di dalam istananya. Para pendukung Sultan Ageng Tirtayasa telah berhasil merebut kembali kota. VOC bersedia membantu dengan syarat para budak dan pembelot yang melarikan diri dari Batavia dikembalikan sekalipun mereka telah masuk Islam, para perompak dihukum dan VOC diberi ganti rugi, tuntutan Banten terhadap Cirebon ditarik kembali, keterlibatan dalam masalah Mataram dihentikan, dan yang terpenting orang-orang Eropa saingan VOC diusir dari pelabuhan Banten. Dengan kata lain, menurut sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004 , VOC berjanji akan membantu putra mahkota apabila dia mau melepaskan kebijakan luar negeri Banten yang bebas dan melepaskan basis kemakmurannya. Karena posisinya semakin sulit, akhirnya sang pangeran terpaksa menerima semua persyaratan itu.

  • Kemacetan di Batavia Tempo Dulu

    BUNYI klakson mobil dan motor saling bersahutan saat melintasi ruas-ruas jalan di Jakarta yang padat saat jam pulang kerja. Kemacetan memang bukan hal baru bagi penduduk di Jakarta. Antrean panjang kendaraan kerap terlihat di jam-jam sibuk, seperti pagi hari saat orang-orang menuju kantor atau sekolah, dan sore hari saat mereka kembali ke rumah. Kondisi lalu lintas di Jakarta yang sempat lengang kala pembatasan aktivitas sebagai imbas penyebaran Covid-19, kini kembali padat. Kemacetan terlihat di sejumlah ruas jalan ibu kota. Berbagai upaya dilakukan guna mengurai kepadatan lalu lintas, mulai dari melakukan integrasi moda transportasi publik, memberlakukan aturan ganjil genap, hingga rencana menerapkan jalan berbayar atau electronic road pricing  (ERP). Pengendara yang melintasi kawasan ERP akan dikenai tarif. Sanksi juga akan diberlakukan bagi pengendara yang melanggar aturan tersebut.

  • Batavia dalam Litografi

    KARENA kebutuhan lokasi untuk perbaikan kapal-kapalnya, Kongsi Dagang Belanda (VOC) menyewa sebuah pulau dari Pangeran Jayakarta. Masyarakat sekitar menyebutnya Pulau Kapal. Orang Belanda menamainya Onrust yang berarti “Tak Pernah Beristirahat”. Onrust memang menjadi tempat yang sibuk. Bukan hanya untuk memperbaiki kapal, VOC sesekali membuat kapal-kapal kecil karena kekurangtersediaan bahan baku dan tenaga. Onrust juga jadi tempat transit bagi kapal-kapal VOC, yang kemudian membangun gudang-gudang penyimpanan.

  • Menonton Eksekusi Hukuman Mati di Batavia

    HUKUMAN mati tengah menjadi perbincangan masyarakat usai mantan Kepala Divisi Propam Polri, Ferdy Sambo divonis hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (13/2). Sambo dinyatakan bersalah dalam kasus pembunuhan berencana dan perintangan penyidikan terkait kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Berbeda dengan masa kini di mana eksekusi hukuman mati dilakukan secara tertutup, pada zaman Belanda pelaksanaan hukuman mati justru dilakukan di ruang terbuka dan dihadiri banyak orang. Lapangan Stadhuis (Balai Kota) di Batavia, yang kini dikenal dengan Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah, menjadi lokasi dilangsungkannya eksekusi hukuman mati. Menurut sejarawan Alwi Shahab dalam Batavia Kota Hantu , kala Jakarta masih bernama Batavia, hukum pancung alias tebas leher bukan sesuatu hal yang baru bagi para penduduknya selama dua setengah abad. “Tampaknya, pelaksanaan hukuman yang memisahkan leher dari badan ini menjadi hiburan dan ditonton banyak orang,” tulis Alwi.

  • Kala Penduduk Tionghoa di Batavia Dipimpin Wanita

    ISTILAH Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Bugis, hingga Kampung Bali, tak asing lagi bagi warga Jakarta. Beberapa wilayah di ibu kota masih dinamai sesuai istilah-istilah tersebut. Pada masa awal pendirian kota Batavia, penduduk menghuni wilayah yang telah ditentukan pemerintah kolonial. Oleh karena itu, permukiman penduduk dikenali berdasarkan kelompok atau etnis penghuninya. Kampung-kampung tersebut dipimpin oleh kepala yang memiliki wewenang mengatur berbagai hal, mulai dari administrasi, ekonomi, keamanan, hingga pembagian warisan, perkawinan, dan perceraian. Arsiparis cum sejarawan Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia  menyebut kepala permukiman oleh penguasa VOC diberi jabatan dengan pangkat kapitan atau letnan.

  • Flexing Masa VOC di Batavia

    GAYA hidup mewah pejabat negara dan keluarganya tengah menjadi sorotan masyarakat. Kebiasaan flexing itu telah mencederai kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan. Beberapa pejabat pun diperiksa bahkan dinonaktifkan. Ratusan tahun lalu, gaya hidup mewah dan pamer kekayaan hingga berlomba-lomba tampil glamor dilakukan para pejabat VOC dan masyarakat kelas atas di Batavia. Willard A. Hanna dalam Hikayat Jakarta menulis, Batavia mencapai puncak kemakmuran dan kejayaan kira-kira pada 1700. Kota yang dijuluki Queen of the East atau Ratu dari Timur itu melebarkan daerahnya sepanjang terusan Molenvliet baru ke arah daerah-daerah pedalaman yang dibangun dalam waktu singkat dengan rumah-rumah besar, taman-taman bagi golongan elite, dan permukiman-permukiman berkelompok yang lebih sederhana bagi orang Eropa, Indo, dan Asia.

  • Cara Penduduk Batavia Melindungi Diri dari Penyakit

    BATAVIA pernah termasyhur sebagai Koningin van het Oosten atau Ratu dari Timur karena keindahannya yang memesona para pelancong maupun penduduk kota pada abad ke-18. Namun, Batavia kemudiandijuluki Graf der Hollanders atau kuburan orang Belanda. Pengarang asal Amerika Serikat, Willard A. Hanna dalam Hikayat Jakarta menulis bahwa pada puncak kejayaannya, Batavia justru mengalami kemerosotan. “Batavia pada abad ke-17 memang bukan merupakan daerah yang sehat, tetapi pada abad ke-18 mulai kelihatan sebagai tempat menyimpan mayat atau tulang-tulang (rumah mayat),” tulis Hanna.

  • Ambisi Jan Pieterszoon Coen Membangun Koloni di Batavia

    SELAIN mendirikan berbagai bangunan dan infrastruktur, Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen menyadari bahwa Batavia yang ia bangun usai menghancurkan kota Jayakarta, juga memerlukan warga yang akan menghuni kota. Oleh karena itu, Coen mengajukan ide kolonisasi Eropa untuk Batavia. Peneliti dan akademisi Susan Blackburn menulis dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun, menurut Coen hal itu merupakan cara terbaik mendapatkan penduduk yang setia dan terampil serta dapat melakukan pekerjaan penting seperti akuntansi dan pembangunan kapal untuk VOC. Tak hanya itu, para penduduk Eropa di Batavia nantinya juga dapat bertindak sebagai garnisun lokal sehingga VOC dapat menghemat pengeluaran untuk pertahanan. Namun, gagasan Coen terkait koloni Eropa di Batavia tak menarik minat penduduk di Eropa. “Sedikit sekali orang Eropa yang ingin datang ke Batavia, sedangkan yang sudah ada di sana, mayoritas adalah ‘sampah masyarakat’ dalam pandangannya,” tulis Susan.

  • Batavia Selain Jakarta

    JAN Pieterszoon Coen dan pasukannya berhasil merebut kota Jayakarta pada 30 Mei 1619. Gubernur jenderal VOC ini segera membangun kota berbenteng yang kemudian dikenal dengan nama Batavia. Mulanya Coen ingin memberi nama Nieuw Hoorn untuk mengenang kota kelahirannya, Hoorn di Belanda. “Tetapi usul ini tidak digubris oleh para petinggi VOC di Amsterdam, yaitu De Heeren Seventien. Bahkan mereka lebih suka mengesahkan nama Batavia bagi kota yang baru didirikan Coen ini,” tulis Mona Lohanda, sejarawan dan arsiparis, dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Dalam buku Sedjarah Pemerintahan Kota Djakarta terbitan Kotapradja Djakarta Raya disebutkan nama Batavia telah diumumkan oleh Pieter Van Raay, pimpinan benteng, pada 12 Maret 1619. Nama Batavia dipakai untuk mengingatkan kepada Batavieren atau Bataven , yaitu orang-orang dari suku bangsa Jerman yang mula-mula menduduki dan menetap di Belanda. Mereka adalah nenek moyang bangsa Belanda. Pucuk pimpinan VOC di Belanda sudah sejak 31 Oktober 1617 memerintahkan gubernur jenderal dan Raad (dewan) agar tempat-tempat kedudukan VOC dinamai Batavia sebagai simbol dari bangsa Belanda.

  • Ketika Wabah Kusta Melanda Batavia

    PENDUDUK Batavia pada masa-masa awal kota ini berdiri abad ke-17 menghadapi beragam ancaman. Selain peperangan dengan penguasa-penguasa lokal dan kejahatan di luar tembok kota, mereka juga menghadapi ancaman yang tak kalah mengerikan, yaitu wabah penyakit, salah satunya kusta. Penyakit ini menyebar dengan cepat hingga memicu kepanikan di kalangan penduduk. Jumlah korban yang terus bertambah mendorong didirikannya sebuah rumah khusus tahun 1666 untuk memisahkan mereka dari penduduk yang sehat. Joan Nieuhofs, pegawai VOC yang bermukim di Batavia pada 1660-an, mencatat dalam bukunya Gedenkwaerdige zee en Lantreize door de Voornaemste Landschappen van West en Oostindien , rumah yang berada di sepanjang jalan Angke itu dinamai Lazarus Huis . Di sana, orang yang terjangkit penyakit kusta dirawat dengan makanan, minuman, dan obat-obatan untuk disembuhkan semampunya. “Rumah ini diawasi dan dikelola oleh beberapa patriot tua dan terhormat,” tulis Nieuhofs.

  • Ambisi van Goens Membangun Batavia Baru di Ceylon

    KEMBALINYA Rijcklof van Goens ke Hindia Timur setelah bertemu dengan Dewan Tujuhbelas atau Heeren Zeventien di Belanda pada 1650-an membuka kesempatan untuk mewujudkan visinya mengenai imperium VOC di Asia, yaitu mengusir Portugis dari Ceylon dan menguasai wilayah tersebut. Di hadapan para direktur VOC, van Goens menjelaskan dengan menguasai Ceylon, kompeni dapat memberlakukan kebijakan monopoli kayu manis yang menguntungkan VOC. Menurut Kerry Ward dalam Networks of Empire: Forced Migration in the Dutch East India Company , ambisi van Goens menguasai wilayah Ceylon juga didasarkan pada keinginannya membangun markas besar baru bagi VOC yang sebelumnya berpusat di Batavia. Melalui rencananya itu, van Goens ingin menjadikan Ceylon sebagai pusat perdagangan tandingan bagi Batavia.

  • Membaca Karya-karya Sontoloyo

    PADA 1975, diadakan pameran lukisan dalam rangka pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang baru berdiri. Gubernur Ali Sadikin yang meninjau kesiapan pameran, tiba-tiba berhenti di depan sebuah lukisan karya Srihadi Soedarsono. Lukisan Srihadi menampilkan sebuah air mancur yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Gedung-gedung itu juga dipenuhi tulisan Hitachi, Toshiba, Banzai, Toyota, Sony, Dai Nippon, hingga Bakero. Lukisan yang diberi judul “Air Mancar” dan dibuat pada tahun 1973 itu menampilkan wajah ibu kota yang semrawut.

bottom of page