- 16 Okt 2018
- 4 menit membaca
Diperbarui: 9 Mei
BEGITU pesawat RI-002 mendarat di Bandara Makati, Manila, para awak Misi Kina –misi udara menembus blokade ekonomi Belanda untuk menjual kina ke Filipina semasa Perang Kemerdekaan– merasa lega. Penerbangan “ilegal” yang dipiloti Kapten Bob Freeberg, veteran pilot AL AS yang menjadi pilot sipil di Maskapai Commercial Air Lines Incorporated (CALI), itu berhasil menembus blokade ekonomi Belanda.
Misi Kina yang dibuat KSAU Suryadarma untuk mencari tambahan dana guna membiayai perjuangan itu dipimpin Opsir Udara III Petit Muharto. “Dalam kondisi dikepung daerah Federal yang telah dikuasai Belanda, pada hakikatnya Djokjakarta sudah diblokade dengan rapat sehingga tidak mungkin lagi bisa mendatangkan obat-obatan, begitu juga upaya mencukupi kebutuhan sandang serta beragam keperluan hidup lainnya. Blokade tersebut hanya bisa ditembus lewat udara, dengan memanfaatkan sejumlah penerbang pemberani, yang berani nekad menerobos blokade,” tulis Julius Pour dalam Doorstoot naar Djokja.
Di Bandara Makati, para anggota Misi Kina bisa menarik nafas dalam-dalam. Terlebih, kedatangan mendadak mereka menarik perhatian orang-orang setempat. “Kapten Freeberg dan ‘para awak Jawa’-nya menjadi selebriti. Bukan hanya pers, tetapi para mahasiswa, dan asosiasi profesional termasuk bahkan Asosiasi Pengacara Wanita ingin mendengar apa sebenarnya revolusi Indonesia dari tangan pertama,” ujar Muharto sebagaimana dikutip Paul F. Gardner dalam Shared Hopes, Separate Fears: Fifty Years of US-Indonesian Relations.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















