- 23 Jul 2024
- 3 menit membaca
Diperbarui: 7 hari yang lalu
SUATU hari, perwira tinggi armada laut Kerajaan Perancis bernama Augustin de Beaulieu pergi ke Istana Sultan Iskandar Muda. Augustin berada di Bandar Aceh (kini Banda Aceh) sekitar tahun 1621 dengan tujuan ingin membeli lada langsung ke petani di Aceh. Perihal ini tentu harus ada restu dari Iskandar Muda yang sedang bertakhta di Aceh. Orang asing oleh sultan diharuskan membeli lada dengan harga yang berbeda dari yang dibeli raja. Harga yang ditetapkan pada orang asing adalah dua kali lipat dibanding harga normal dari petani.
”Pada hari Selasa 9 Maret, saya menghadap raja dengan membawa berbagai hadiah, karena tanpa hadiah sambutannva akan lain. Hadiah itu saya bawa cukup banyak, agar dia mau mengabulkan permohonan saya untuk membeli lada dari penduduk biasa,” kenang Augustin de Beaulieu dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis dari Abad XVI sampai dengan Abad XX yang disusun Bernard Dorleans.
Augustin yang tak bisa berbahasa Aceh tentu butuh seorang penerjemah agar upayanya membeli lada dengan harga murah bisa terlaksana. Beruntung dia kenal syahbandar Aceh dan bisa diajak sebagai penerjemahnya. Syahbandar itu kerap menemani Augustin dan dia adalah pintu masuknya ke raja.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















