top of page

Ani Idrus, Wartawan Perempuan Lintas Zaman

Gemar menulis sejak belia, hingga menjadi tokoh pers Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 30 Nov 2019
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 21 Mei 2025

BEBERAPA waktu lalu, laman google menghiasi wajahnya dengan gambar sesosok perempuan. Dalam keterangannya, soosk itu merupakan Ani Idrus.


Penampilan sosok Ani jelas merupakan penghargaan google yang patut diapresiasi. Tak hanya memperkenalkan sosok pejuang perempuan asal Sumatra Barat itu kepada publik, upaya google juga seperti menampar kita, terutama kaum milenial, yang banyak melupakan –lebih parah, tidak kenal– jasanya.


Pada secarik kertas, Ani Idrus mencoba membuat karangan pendek tentang gadis-gadis di lingkungan Batavia. Ani lalu memasukkan kertas itu ke dalam amplop putih dan mengirimnya ke kantor pos. Iseng-iseng berhadiah, Ani mencoba mengirim tulisannya itu ke kantor redaksi Majalah Pandji Pustaka di Batavia.


Tak berapa lama kemudian, seorang tukang pos datang membawa Pandji Pustaka untuk Ani. Ani langsung buru-buru memeriksanya, halaman demi halaman sampai akhirnya melihat karangannya dimuat majalah itu pada pengujung 1930. Ani melompat girang bukan kepalang. Dipamerkannya tulisan itu pada ibu, ayah tiri, dan kakak-kakaknya. Keluarganya pun amat bangga, pasalnya Ani masih berusia 12 tahun dan masih duduk di Meisjeskopschool Medan.


Itulah momen pertama kali tulisan Ani dimuat di media cetak. Keberhasilan itu membuat Ani ketagihan untuk mencoba lagi. Ia pun berusaha mengirim tulisannya ke tempat lain. Ia tak peduli akan dimuat atau tidak, yang penting mencoba dulu dan bakat menulis tersalurkan.


Selain aktif menulis, Ani juga hobi bermain musik di Hawaiien Band bersama rekan-rekan sekolahnya. Ketika berusia 16 tahun, Ani mulai ikut dalam organisasi kepemudaan. Ia menjadi pengurus Indonesia Muda Medan dan anggota partai politik Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo).


Ani Idrus ketika menjadi wartawan di Medan. (Repro Ani Idrus: Tokoh Wartawati Indonesia).
Ani Idrus ketika menjadi wartawan di Medan. (Repro Ani Idrus: Tokoh Wartawati Indonesia).

Ani mendapat dukungan kuat dari orangtuaya. Ketika remaja, ia dibelikan sepeda oleh orang tuanya. Ia memang cukup beruntung lahir di keluarga berkecukupan. Ani lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat pada 25 November 1918. Ibunya bernama Siti Djalisah dan ayah kandungnya bernama Sidi Idrus. Sejak remaja, Ani tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, Misan.


Dengan sepeda dari ibu dan ayah tirinya itu, Ani pergi ke sana-kemari mengunjungi kantor suratkabar di Medan. Pada 1930-an, di Medan ada 3 surat kabar berbahasa Indonesia: Pewarta Deli, Sinar Deli, dan Pelita Andalas. Sementara terbitan berbahasa Belanda ada Deli Courant dan Sumatera Post.


Ani lebih dekat dengan para wartawan di suratkabar bebahasa Indonesia. Ia pun diperbantukan di Sinar Deli hingga menjadi wartawan. Ia juga menjadi kontributor di Pewarta Deli dan Pelita Andalas pimpinan Kasoema. Semangatnya untuk mendalami dunia jurnalistik membuatnya berkenalan dengan Hasan Noel Arifin, Arif Lubis, Hasbullah Parinduri (Matu Mona), Burhanuddin Muhammad Diah, dan Mohammad Said yang kelak jadi suaminya.


“Saya masih ingat bagaimana Ani Idrus sering datang ke kantor Pewarta Deli  di Jalan Masjid, Medan. Ini terjadi pada 1934. Saya heran kenapa ada anak gadis yang senang bertamu ke kantor kami. Tapi  saya kagum sesudah mengetahui Ani Idrus menjadi anggota keputrian Indonesia Muda,” kata Matu Mona seperti dikutip Tridah Bangun dalam Ani Idrus: Tokoh Wartawati Indonesia.


Selain menulis berita liputan, Ani juga menulis cerpen di sejumlah media dengan nama pena Lady Andy. Lewat cerpen-cerpennya Ani selalu menyampaikan bahwa perempuan harus mampu membela haknya dan jangan mau diperlakukan sewenang-wenang. Ia juga mendorong kaum peremuan untuk mengejar kemajuan dirinya.


Ketika Mohammad Said mendirikan minguan Seroean Kita pada 28 Juni 1939, Ani ikut menjadi kontributor. Mingguan ini merupakan terbitan politik untuk rakyat, seperti mingguan yang didirikan Mohammad Said sebelumnya, Penjedar.


Menurut SK Trimurti, wartawan sezaman yang kemudian menjadi menteri perburuhan, Ani merupakan pejuang perempuan yang tahan banting. Sebab, seperti dikisahkan Matu Mona, pemerintah kolonial senantiasa memadamkan semangat kebangsaan kaum nasionalis. Lebih jauh, pemerintah juga berkeinginan untuk memusnakhkan mereka yang mengkritik kebijakan pemerintah Hindia-Belanda.


Kiprah Ani dalam dunia jurnalistik terus berjalan hingga Indonesia merdeka. Bersama suaminya, Mohammad Said, Ani mendirikan harian Waspada pada1947. Bermula dari kolom perempuan di Waspada, ia kemudian mendirikan Dunia Wanita, terbitan yang dikhususkan untuk pembaca perempuan.


Kehadiran Ani dalam dunia jurnalistik menjadi hal yang langka di masanya. Angela Rose Romano dalam Politics and The Press in Indonesia: Understanding an Evolving Political Culture  menyebut bahwa Ani Idrus menjadi satu di antara sedikit perempuan yang memegang jabatan tinggi dalam manajemen keredaksian. Pada dekade 1990-an, dari 71 media massa yang ada hanya tiga yang dipimpin perempuan: Surabaya Post dipimpin Toety Aziz, Herawati Diah mempimpin Indonesia Observer yang didirikan bersama suaminya, BM Diah, dan Ani Idrus yang mendirikan Waspada juga Dunia Wanita. Ani bersama wartawan perempuan tersebut merupakan jurnalis senior yang sudah berjibaku sejak era kolonial.


“Waktu itu perempuan yang terjun di kalangan pers apalagi pers perjuangan sangat sedikit jumlahnya,” kata SK Trimurti.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
transparant.png
bottom of page