top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Awal Mula Zebra Cross di Indonesia

Zebra cross hadir karena kendaraan makin padat. Keberadaannya semakin meluas jelang perhelatan Asian Games 1962 di Jakarta.

8 Agu 2018

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Pejalan kaki menyeberang lewat zebra cross. (smn bcc/unsplash).

  • 8 Agu 2018
  • 2 menit membaca

TAK ada lagi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di satu sudut Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta telah merobohkannya. JPO diganti pelican crossing, sejenis zebra cross dengan tombol dan lampu pengatur lalu-lintas. Ada empat petugas dinas perhubungan berjaga di sekitar pelican crossing untuk mengatur penyeberangan orang.


Pelican Crossing menandakan cara orang menyeberang di Jakarta telah masuk era baru. Orang menyeberang semakin perlu panduan petugas dan alat. Pada awal abad ke-20, orang bisa menyeberang dengan mudah tanpa panduan.


Jalanan masih lengang. Tak ada marka jalan dan zebra cross. Kendaraan paling banyak hilir-mudik di jalan adalah sado dan sepeda. Mobil tampak satu-dua saja. Trem melintas sesekali. Demikian tersua dalam album foto kartu pos Jakarta: Postcards of a Capital 1900-1950 karya Scott Merrillees.


Pertambahan kendaraan bermotor pada dekade 1930-an mengubah suasana jalan Batavia. Polisi mulai tampak di persimpangan jalan besar untuk mengatur lalu-lintas kendaraan. Pejalan kaki mesti lebih awas memperhatikan kanan-kiri jalan jika ingin menyeberang.


Belum ada lampu isyarat petunjuk lalu-lintas di Batavia pada dekade 1930-an. Kota Malang justru lebih dulu menggunakan lampu pengatur lalu lintas dibanding Batavia.


“Di tengah persimpangan diletakkan sebuah lentera sebesar sangkar burung dengan tiga rupa tanda satu di atas yang lain : ‘Stop’, ‘Awas’, dan ‘Djalan’ yang masing-masing menggunakan warna merah, kuning, dan hijau,” tulis Olivier Johannes dalam Kota di Jawa Tempo Doeloe.


Batavia hanya mengenal alat petunjuk lalu-lintas berupa tiang putar bertuliskan vrij (bebas atau isyarat berjalan bagi kendaraan) dan stop (berhenti). Polisi lalu-lintas memutarnya secara manual. Jika terbaca tanda stop, kendaraan harus berhenti untuk memberi pejalan kaki atau pengendara dari arah lain kesempatan menyeberang.


Masuk zaman kemerdekaan, jalan-jalan Jakarta kian penuh kendaraan. “Menurut catatan pertengahan tahun 1952 untuk seluruh Jakarta Raya terdapatlah sebanyak 26.444 kendaraan bermotor,” tulis Kementerian Penerangan dalam Kotapradja Djakarta Raja. Jumlah ini belum termasuk sepeda dan becak.


Pertambahan kendaraan menyulitkan pejalan kaki untuk menyeberang. Ada kisah dari seorang penulis bernama Buntarman tentang dua orang anak ingin menyeberang di Jakarta. Anak pertama pendatang baru di Jakarta, sedangkan anak kedua sudah beberapa lama tinggal.


“Di sini lalu-lintasnya sangat ramai. Lihatlah mobil dan kendaraan lainnya yang tak putus-putusnya bersimpang siur. Kata ayah, lalu-lintas di Jakarta kini lebih ramai daripada di waktu sebelum perang,” kata anak kedua kepada anak pertama, tulis Buntarman dalam Djakarta Kota Lambang Kemerdekaan, terbitan 1958.


Anak pertama menghitung telah ada 10 mobil melewatinya hanya dari satu arah. Belum terhitung becak dan sepeda. “Kedua anak itu harus menunggu satu-dua menit untuk dapat menyeberang jalan,” tulis Buntarman.


Kepadatan di jalan melahirkan cara baru pengaturan lalu-lintas. “Sedapat mungkin diatur sedemikian rupa, sehingga masing-masing kendaraan yang beraneka ragam macamnya, bermotor dan tidak bermotor, orang-orang jalan kaki, disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing,” tulis Kotapradja, 15 Maret 1953.


Pemerintah Kotapraja Jakarta menaruh alat petunjuk lalu-lintas di persimpangan ramai untuk kelancaran kendaraan dan menghindari kecelakaan. Pemerintah juga memperkenalkan zebra cross. “Tanda hitam-putih yang melintang di jalan bagi becak, sepeda dan orang jalan,” tulis Buntarman.


Pamor zebra cross sebagai rambu untuk memandu orang menyeberang meluas pada 1960-an. Saat itu Jakarta bersiap menjadi tuan rumah Asian Games pada 1962. Pemerintah melebarkan jalan utama seperti Jalan Sudirman dan Thamrin. Bersama itu pula pengecatan zebra cross berlangsung di persimpangan-persimpangan ramai sepanjang Jalan Sudirman dan Thamrin.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page