Diperbarui: 24 Okt
TEUKU Raja Sabi sedang memancing ditemani seorang pengawal pada suatu hari. Si pengawal berdiri tidak jauh di dekatnya. Teuku ditemani pengawal karena ibunya, Cut Meutia, sedang tidak bisa menemaninya. Waktu itu, Cut Meutia baru sebulan menjanda setelah kematian Pang Nangroe, ayah tiri Raja Sabi. Ini adalah kedua kalinya Cut Meutia menjanda karena tentara Belanda.
Di tengah keasyikan memancing tadi, Teuku Raja dan pengawalnya dikejutkan sebuah suara. Suara itu bukan panggilan orangtua yang menyuruh anaknya pulang, tapi suara peringatan bahaya.
“'Kaphé datang!” bunyi peringatan yang diteriakkan dari sebuah pos jaga orang-orang Aceh untuk menandakan tentara Belanda mendekati mereka. Tak lama kemudian, suara tembakan terdengar. Raja Sabi langsung dipeluk pengawalnya lalu dibawa pergi lebih jauh ke dalam hutan menghindari bahaya. Sementara, sang ibu Cut Meutia terbunuh dalam perlawanannya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















