top of page

Batu Akik dari Zaman Purba

Manusia purba menjadikan batu akik sebagai perhiasan manik-manik untuk bekal kubur.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Cincin batu akik. Foto: Micha Rainer Pali/Historia.

21 Mar 2015
2 menit membaca

DEMAM batu akik melanda. Orang-orang membicarakan, mengenakan, dan saling menunjukkan batu akik mereka. Penjual sekaligus pengasah batu akik bermunculan di pinggir-pinggir jalan. Media tak henti memberitakan batu akik. Tren baru? Tidak.


Batu akik sebagai perhiasan sudah digunakan manusia purba pada zaman logam sekira 3000-2000 SM. Pada tingkat perundagian ini, menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia Volume 1, mereka membuat manik-manik (perhiasan kalung) dari bermacam-macam bahan dengan berbagai bentuk dan warna, antara lain batu akik (komalin), kaca dan tanahliat yang dibakar.


Mingguan Djaja, 1964, mencatat bahwa batu akik dan batu-batu lain yang dianggap menarik memainkan peran penting dalam kehidupan rohaniah manusia-manusia prasejarah. “Batu setengah mulia yang diasah sebagai manik sering dijumpai sebagai bekal kubur bagi manusia nirleka itu.”


Pada masa Hindu-Budha, batu akik juga menjadi salah satu benda yang dikuburkan dalam candi –berasal dari Candika, salah satu nama untuk Durga sebagai Dewi Maut. Menurut arkeolog R. Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, yang dikuburkan (cinandi) di situ bukanlah mayat atau pun jenazah, “melainkan bermacam-macam benda, seperti potongan-potongan berbagai jenis logam dan batu-batu akik, yang disertai dengan saji-sajian.”


Kerajaan-kerajaan Nusantara menjadikan batu akik sebagai salah satu komoditas perdagangan. Barang-barang yang diekspor kerajaan Aceh, menurut sejarawan Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636, antara lain perhiasan bebatuan seperti batu mulia, akik, batu ambar, dan hablur.


Batu akik menjadi perhiasan yang lazim bagi masyarakat Nusantara setidaknya sejak 1930-an. Hal ini diketahui dari naskah berbahasa Jawa, Kawruh Makelar Barang Kina, karya P. Rubadi Wangsadimeja, yang tinggal di Ambarawa. Naskah ini menceritakan berbagai kisah tentang benda-benda yang umum diperjualbelikan sekira 1930 di daerah Kedu, Jawa Tengah. Masing-masing cerita dilengkapi dengan gambar-gambar sebagai ilustrasi.


“Benda-benda seperti dhuwung atau keris, batu akik, dan kulit binatang yang dipercaya mengandung kekuatan magis, sangat digemari dan diburu oleh para peminat,” tulis T. E. Behrend dalam Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 3-A. "Para pedagang atau makelar sebagai orang yang menawarkan barang-barang tersebut, berupaya mendapatkannya dari masyarakat, untuk kemudian dijualnya kembali dengan harga yang sangat tinggi.” Naskah ini menunjukkan pada masa itu batu akik telah menjadi barang yang digemari masyarakat.


Dalam Lembaga Budi, terbit tahun 1940, Buya Hamka, menyinggung hobinya mengoleksi tongkat, sekaligus batu akik yang lagi tren. “Berapa banyaknya tongkat yang harganya sampai Rp200, seketika musim bertongkat! Berapa banyaknya cincin akik yang berharga beribu rupiah, seketika musim bercincin,” kata Hamka.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Nusantara memiliki pencapaian kebudayaan paling awal di banding negara lain, dari angka nol hingga tempat belajar bahasa Sanskerta.
Nusantara memiliki pencapaian kebudayaan paling awal di banding negara lain, dari angka nol hingga tempat belajar bahasa Sanskerta.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
 Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
transparant.png
bottom of page