top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Belajar Berontak dari Bung Karno

Berjuang, apalagi untuk negara, adalah tantangan. Kalah dan menang adalah harga yang harus dibayar dari perjuangan itu sendiri.

Oleh :
16 Feb 2017

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Budiman Sudjatmiko. (Micha Rainer Pali/Historia).

  • Aryono
  • 16 Feb 2017
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 1 Agu

DIBESARKAN dari keluarga nasionalis, sejak kecil, Budiman Sudjatmiko sudah bersinggungan dengan nama Bung Karno. Ketika bersekolah, dia pun mulai mempelajari sosok dan pemikiran Bung Karno melalui buku maupun diskusi-diskusi.


Siapa tak kenal Sukarno? Kusno, nama kecilnya, lahir 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur. Setelah mendapat gemblengan dari guru politiknya, Tjokroaminoto, Sukarno muda mulai terlibat dalam dunia pergerakan. Namanya mencuat setelah mendirikan Partai Nasional Indonesia. Karena sikap politiknya, Sukarno berkali-kali keluar-masuk bui. Bersama Mohammad Hatta, dia dikenal dengan Bapak Proklamator. Lebih dari itu, dia adalah sosok pemersatu bangsa. Tak heran jika banyak orang mengidolakannya, termasuk Budiman Sudjatmiko.


Sempat menjadi ketua umum Partai Rakyat Demokratik, yang di masa Orde Baru dicap komunis, Budiman dikenal sebagai politisi muda Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.


Bagaimana pengalaman pertama mengenal sosok Sukarno?


Semasa kecil, adik kakek saya panggil Pak Karno meski nama aslinya Tumin. Sebab, dia sering menggendong saya untuk memperlihatkan foto Bung Karno. Saat masih kecil pula, bapak kasih lihat foto Bung Karno dengan anak-anaknya. Foto ini, lengkap dengan tanda tangan Bung Karno, didapat setelah bapak mengirim surat kepada Bung Karno dan dibalas dengan kiriman foto tersebut.


Baru ketika SD saya baca koleksi buku kakek dan bapak tentang tokoh Sukarno. Semasa SMP saya mempelajari tulisan dan pemikiran Bung Karno. Setelah itu saya sering berdiskusi dengan tokoh PNI lama dari Majenang, Jawa Tengah. Kami sering mendengarkan pidato-pidato Bung Karno.


Hal itu pula yang mendorong Anda masuk PDI-P?


Sepulang dari Inggris tahun 2004, saya bertemu Bu Mega di Bali. Dia menyapa saya, “Wah ini Budiman yang dulu memberontak.” Saya menjawab, “Bu Mega, saya belajar menjadi pemberontak yang revolusioner itu dari Bung Karno lho. Belajar pidato, mendirikan partai, bagaimana mengorganisir, bergaul dengan buruh dan tani, ya dari Bung Karno.”


Ditambah, secara garis keluarga, saya dibesarkan dari lingkungan nasionalis, dalam hal ini PNI di Banyumas dan Cilacap. Bapak dulu aktif di Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) di Purwokerto.


Apa yang menarik dari sosok Sukarno?


Sosok Sukarno menarik. Masa hidupnya adalah satu hal yang utuh. Semasa remaja, dengan bimbingan Tjokroaminoto, dia berinteraksi dengan kegiatan revolusioner dan usaha-usaha prorakyat. Di rumah Tjokro dia bergaul dengan Alimin, Muso, dan Kartosuwirjo –meski di kemudian hari menjadi lawan politiknya. Inilah yang membuatnya belajar dan membentuk pikiran-pikirannya.


Hal menarik lainnya: kepekaan sosial yang kemudian membawanya bertemu dengan sosok petani Marhaen.


Adakah ucapan-ucapan Sukarno yang melekat?


Perjuangan Indonesia bukan sekadar melawan asing, melainkan melawan penindasan manusia atas manusia, bukan sekadar bangsa atas bangsa. Maka, Bung Karno menginginkan kemerdekaan harus dinikmati seluruh rakyat, untuk kebaikan rakyat, bukan untuk segelintir orang. Namun faktanya, masih banyak yang belum menikmati kemerdekaan. Apa yang dicita-citakan Bung Karno belum selesai. Dan saya akan coba mewujudkannya, tentu dengan kondisi dan tantangan yang berbeda dari zaman Sukarno.


Apa kelemahan Sukarno?


Pertama, Bung Karno mewariskan pemikiran, namun terlambat dia kodifikasi, rumuskan menjadi doktrin utuh. Kedua, ketika menjadi presiden, dia tak pernah mengurusi partai. Dia hanya fokus mengurusi negara, berpikir mengelola negara. Bahkan terkesan Bung Karno meninggalkan PNI, partai yang didirikan dan dibesarkannya. Sehingga pemikirannya tentang kepartaian tak dapat diterjemahkan dengan baik oleh generasi penerusnya. Pemikirannya bisa dikatakan terputus.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Tedy Jusuf Jenderal Tionghoa

Tedy Jusuf Jenderal Tionghoa

Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
Mengakui Tan Malaka Sebagai Bapak Republik Indonesia

Mengakui Tan Malaka Sebagai Bapak Republik Indonesia

Tan Malaka pertama kali menggagas konsep negara Indonesia dalam risalah Naar de Republik Indonesia. Sejarawan mengusulkan agar negara memformalkan gelar Bapak Republik Indonesia kepada Tan Malaka.
Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Hubungan diplomatik Indonesia dan Belgia secara resmi sudah terjalin sejak 75 tahun silam. Namun, siapa nyana, kemerdekaan Belgia dari Belanda dipicu oleh Perang Jawa.
Prajurit Keraton Ikut PKI

Prajurit Keraton Ikut PKI

Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
Mengintip Kelamin Hitler

Mengintip Kelamin Hitler

Riset DNA menyingkap bahwa Adolf Hitler punya cacat bawaan pada alat kelaminnya. Tak ayal ia acap risih punya hubungan yang intim dengan perempuan.
bottom of page