top of page

Ben Anderson Lebih Dari Sekadar Indonesianis

Menguasai bahasa dari negeri yang ditelitinya. Manusia lintas batas: lahir di Tiongkok, tumbuh besar di Irlandia dan Inggris, mengajar di Amerika dan wafat di Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ben Anderson dalam sebuah acara di National University, Irlandia pada 2012. (Aengus McMahon).

2 Sep 2023
6 menit membaca

Diperbarui: 26 Agu

SUATU pagi bulan September yang dingin di Desa Freeville, di dekat kota Ithaca, New York bagian atas, saya berjumpa dengan Ben Anderson terakhir kali. Saya diundang oleh Cornell Southeast Asia Program (SEAP) untuk bicara soal pembantaian 1965. Pihak SEAP sebetulnya menyediakan hotel. Namun, saya memilih menghubungi Om Ben (begitu kami memanggilnya) dan meminta apakah saya boleh menumpang di rumahnya. Jawabannya sangat antusias,“Of course I will be delighted if you would like to stay at my old house. Ben Abel is very happy too, and probably we will talk and talk and talk.” 


Ben Abel adalah kompanyon terdekat Ben Anderson. Dia adalah juga sahabat terdekat saya di Ithaca. Karena di sekitar Cornell itu banyak sekali nama Ben, orang kadang bingung untuk membedakannya. Benny anak angkatnya Ben Anderson juga dipanggil Ben. Ada Benny satu lagi yang mahasiswa. Kemudian ada Benny yang lain yang menjadi visiting scholar. Karena itu, keisengan pun muncul. Ben Anderson sering dipanggil Benson. Lalu Ben Abel dipanggil apa? Bensin. Tapi kemudian panggilan ini berubah. Ketika anak pertamanya lahir, dia kami panggil Benali –Ben bapaknya Ali. 


Kunjungan singkat saya ke Ithaca itu ternyata tidak memberi kesempatan kepada saya untuk bicara banyak dengan Om Ben. Dia sibuk menyelesaikan manuskrip buku terbarunya. Saya sendiri sibuk dengan persiapan berbicara dan mengunjungi teman. Namun, pagi sebelum acara di SEAP saya sempat bicara agak lama di dapur rumahnya. Ini adalah tempat yang paling dikangeni oleh banyak orang yang mengenal Ben. Di sinilah pertukaran ide, informasi, lelucon, dan sekian banyak desas-desus itu berlangsung. Tentu sambil makan enak dan minum yang enak.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Cerita lama tentang feodalisme, priayi intelek dan misteri raibnya sebuah patung.
Cerita lama tentang feodalisme, priayi intelek dan misteri raibnya sebuah patung.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Kisah-kisah unik cabang menembak di Olimpiade. Dari menembak merpati sampai duel ala Koboi.
Kisah-kisah unik cabang menembak di Olimpiade. Dari menembak merpati sampai duel ala Koboi.
Mayoritas museum di Indonesia masih menampilkan sisi rekreasi.
Mayoritas museum di Indonesia masih menampilkan sisi rekreasi.
Satu lagi aktor senior meninggal dunia. Tak hanya maestro layar lebar, Deddy Sutomo juga sempat menjadi anggota parlemen.
Satu lagi aktor senior meninggal dunia. Tak hanya maestro layar lebar, Deddy Sutomo juga sempat menjadi anggota parlemen.
transparant.png
bottom of page