Diperbarui: 26 Agu
SUATU pagi bulan September yang dingin di Desa Freeville, di dekat kota Ithaca, New York bagian atas, saya berjumpa dengan Ben Anderson terakhir kali. Saya diundang oleh Cornell Southeast Asia Program (SEAP) untuk bicara soal pembantaian 1965. Pihak SEAP sebetulnya menyediakan hotel. Namun, saya memilih menghubungi Om Ben (begitu kami memanggilnya) dan meminta apakah saya boleh menumpang di rumahnya. Jawabannya sangat antusias,“Of course I will be delighted if you would like to stay at my old house. Ben Abel is very happy too, and probably we will talk and talk and talk.”
Ben Abel adalah kompanyon terdekat Ben Anderson. Dia adalah juga sahabat terdekat saya di Ithaca. Karena di sekitar Cornell itu banyak sekali nama Ben, orang kadang bingung untuk membedakannya. Benny anak angkatnya Ben Anderson juga dipanggil Ben. Ada Benny satu lagi yang mahasiswa. Kemudian ada Benny yang lain yang menjadi visiting scholar. Karena itu, keisengan pun muncul. Ben Anderson sering dipanggil Benson. Lalu Ben Abel dipanggil apa? Bensin. Tapi kemudian panggilan ini berubah. Ketika anak pertamanya lahir, dia kami panggil Benali –Ben bapaknya Ali.
Kunjungan singkat saya ke Ithaca itu ternyata tidak memberi kesempatan kepada saya untuk bicara banyak dengan Om Ben. Dia sibuk menyelesaikan manuskrip buku terbarunya. Saya sendiri sibuk dengan persiapan berbicara dan mengunjungi teman. Namun, pagi sebelum acara di SEAP saya sempat bicara agak lama di dapur rumahnya. Ini adalah tempat yang paling dikangeni oleh banyak orang yang mengenal Ben. Di sinilah pertukaran ide, informasi, lelucon, dan sekian banyak desas-desus itu berlangsung. Tentu sambil makan enak dan minum yang enak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












