- 25 Jun 2019
- 3 menit membaca
Diperbarui: 31 Mei 2025
MOEHIDIN masih ingat bagaimana aksinya bersama Batalyon 22 Djaja Pangrerot Brigade Guntur Divisi Siliwangi di wilayah Batujajar, Cililin, dan Gunung Halu pada 1947-1949. Nyaris setiap minggu, mereka selalu mengganggu para prajurit KST (Korps Pasukan Khusus) pimpinan Kapten R.P.P. Westerling. Bentuk gangguan tersebut bisa lewat aksi penyangongan (penghadangan) atau bisa melalui penyerangan langsung ke markas musuh.
“Kami buat pasukan Baret Hijau (KST) tidak pernah tenang tidurnya,” ungkap veteran pejuang berusia 101 tahun itu.
Salah satu penyerangan yang tak terlupakan oleh Moehidin adalah saat mereka menyambangi para prajurit KST di kandangnya sendiri (Markas Batujajar, sekarang menjadi Pusdiklat Kopassus TNI AD). Masih segar dalam ingatannya, suatu malam pada Juli 1948, dia bersama kawan-kawannya yang dipimpin oleh Letnan Satu Udaka menyergap secara tiba-tiba pasukan lawan. Kontan, mereka yang tengah beristirahat di markasnya itu menjadi panik dan kacau.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












