- 4 Apr 2010
- 3 menit membaca
Diperbarui: 9 Des 2025
MULTATULI punya seorang "cucu", yang kelak meneruskan semangatnya, bernama Ernest Douwes Dekker –lebih dikenal dengan nama Danudirdja Setiabudi. Persisnya cucu dari Jan, kakak kandungnya. Nama Setiabudi diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah kota penting di Indonesia.
Setiabudi bernama asli Ernest Francois Eugene (EFE) Douwes Dekker. Ia lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 8 Oktober 1879, sebagai anak ketiga dari pasangan Auguste Henri Eduard Douwes Dekker dan Louisa Margaretha Neumann. Auguste seorang broker bursa efek dan agen bank, sedangkan Louisa putri seorang Jerman yang kawin dengan perempuan Jawa. Oleh orang-orang terdekatnya, ia biasa dipanggil Nes. Sedangkan rekan-rekan seperjuangan menyebutnya DD.
Ernest menempuh pendidikan dasar di Pasuruan, HBS di Surabaya, lalu sekolah elite Gymnasium Willem III di Batavia. Setelah lulus, ia bekerja di perkebunan kopi Soember Doeren di lereng selatan Gunung Semeru, Malang, Jawa Timur. Karena konflik dengan sang manajer, ia dimutasi ke perkebunan gula Padjarakan di Kraksaan dekat Probolinggo. Pada masa itu di Jawa selalu terjadi sengketa pembagian air irigasi antara pabrik gula dan para petani. Sikap Ernest bahwa Padjarakan telah merebut hak petani. Ia lalu mengundurkan diri.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















