top of page

Fetching Mr. Nas

A firsthand account from a Tjakrabirawa troop. From abortive fetching of General Nasution to his hellish days of torment under New Order.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Illustration of the capture of General AH Nasution by the Tjakrabirawa Regiment. (Betaria Sarulina/Historia.ID).

6 Sep 2022
18 menit membaca

THOSE three soldiers with red berets were standing menacingly. With guns in their hands, they battered the bedroom door of the Coordinating Minister of Defense and Security and Armed Forces Chief of Staff, General Abdul Haris Nasution. But the general, who was planned to be brought in front of President Sukarno that early morning, was nowhere to be seen.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page