- 10 menit yang lalu
- 6 menit membaca
DI dalam peradaban Mesir kuno, kepemimpinan tertinggi didominasi oleh laki-laki. Sebagai firaun, raja memiliki peran sebagai penghubung antara para dewa dan manusia. Ia memimpin pasukan kerajaan yang besar dan tangguh. Meski begitu, sejarah mencatat takhta tertinggi kerajaan Mesir kuno pernah beberapa kali dipimpin oleh perempuan. Salah satunya adalah Hatshepsut.
Hatshepsut adalah firaun perempuan yang berkuasa paling lama di Mesir, yakni sekitar 21 tahun (1479-1458 SM). Di bawah kepemimpinannya, Mesir mengalami kemajuan dan pembangunan yang pesat. Dia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu firaun paling sukses karena berhasil mempertahankan kedamaian dan kejayaan Mesir.
Semasa kekuasannya, dia memerintahkan sejumlah misi perdagangan yang sukses serta pembangunan berbagai monumen, kuil, dan tempat suci yang indah. Termasuk di antaranya empat obelisk raksasa di Kuil Amun di Karnak, serta berbagai karya seni yang memuji prestasi dan mengabadikan doa-doanya. Salah satu yang paling megah adalah kuil pemakamannya, Djeser-Djeseru (yang berarti “Yang Tersuci dari Yang Suci”), di kompleks Deir el-Bahri di tepi barat Sungai Nil, seberang kota Luxor, Mesir.
Namun, selama 3.000 tahun, Hatshepsut sempat hilang dari ingatan sejarah.

Ratu yang Menjadi Raja
Hatshepsut lahir sekitar tahun 1507 SM di sebuah taman istana dekat Sungai Nil. Sesuai tradisi, ibunya memilihkan nama untuk putrinya dan dengan lantang mengucapkan: “Hatshepsut”, yang berarti perempaun terkemuka.
“Dan ternyata itu benar dengan cara yang tidak pernah diduga siapa pun, bahkan ibu bayi itu sendiri. Hatshepsut akan mencapai hal yang tampaknya mustahil,” catat Ellen Galford dalam Hatshepsut: the Princess Who Became King.
Hatshepsut adalah putri sulung dari Firaun Thuthmose I dan permaisuri Ratu Ahmose. Thutmose I adalah seorang jenderal berpengaruh dan tidak memiliki darah bangsawan. Dia dipilih sebagai firaun karena pendahulunya, Amenhotep I, meninggal tanpa pewaris takhta. Pernikahannya dengan Ahmose, keturunan langsung dari darah bangsawan tinggi, bahkan kemungkinan putri raja, memperkuat hak hukum dan spiritual atas takhta Mesir.
Thutmose I memerintah selama sekitar 13 tahun hingga wafat. Mesir kembali menghadapi krisis suksesi. Untuk keluar dari kesulitan ini, Hatshepsut muda dinikahkan dengan Thutmose II, putra dari selir Mutnofret, yang mewarisi takhta.
Kehidupan Hatshepsut berubah setelah menikah dengan firaun baru yang merupakan saudara tirinya dan menjadi Ratu Mesir. Tapi, Hatshepsut tahu bahwa suaminya bisa menjadi firaun hanya karena status pernikahan dengan dirinya yang berdarah murni. Karena Thutmose II lemah secara fisik dan sering sakit-sakitan, Hatshepsut perlahan mengambil-alih banyak urusan administrasi negara.
Ketika Thutmose II wafat, Hatshepsut dihadapkan pada masalah suksesi seperti ayahnya. Hatshepsut hanya memiliki seorang putri bernama Neferure yang masih bayi. Iset, salah satu selir Thutmose II, memiliki seorang putra, Thutmose III, yang masih bocah.
Thutmose III dipilih sebagai firaun. Untuk melegitimasi kekuasaan, Thutmose III akan dinikahkan dengan Neferure yang masih bayi –tapi sayangnya mati muda. Selain itu, Hatshepsut sebagai anggota senior keluarga kerajaan bertindak sebagai wali raja.
Pada tahun-tahun awal, Hatshepsut menjalankan tugas administratif negara atas nama anak tiri sekaligus keponakannya. Namun lama-lama dia tidak puas dengan perannya di balik layar.
“Dia secara bertahap berupaya untuk mendapatkan peran yang lebih besar dalam memerintah negara, dan pada akhir tahun 1473 SM, pada tahun ketujuh Thutmose III menjadi firaun, Hatshepsut dinobatkan sebagai raja bersama Mesir,” catat Susanna Thomas dalam Hatshepsut: the First Woman Pharaoh.
Untuk memperkuat identitas barunya sebagai firaun, Hatshepsut melakukan ritual-ritual keagamaan yang hanya dapat dilakukan oleh seorang firaun.
Hatshepsut sering digambarkan di berbagai prasasti dan relief sebagai sosok firaun laki-laki yang mengenakan janggut dan nemes –kam penutup kepala bermotif garis-garis yang menjadi simbol ikonik para firaun di era Mesir Kuno. Dia juga dideskripsikan dengan kata ganti yang berbeda-beda; kadang disebut sebagai perempuan, kadang laki-laki.
Seiring waktu, penggambaran Hatshepsut semakin maskulin. Bahunya menjadi lebih lebar dan berotot, rahangnya tegas, dan tubuhnya seringkali dicat berwarna oranye atau merah, warna yang sering digunakan oleh para firaun laki-laki dan lekat dengan lambang kekuatan. Dalam relief yang menceritakan salah satu perayaan hari jadinya sebagai raja, Hatshepsut ditampilkan seutuhnya sebagai laki-laki yang sedang melakukan aktivitas fisik.
“Di Mesir, seorang raja selalu laki-laki, sehingga beberapa dokumen resmi mulai menyebut Hatshepsut sebagai ‘dia’ [laki-laki],” catat Ellen Galford.
Agar tak ada seorang pun meragukan klaimnya sebagai firaun, Hatshepsut merangkai cerita asal-usulnya sebagai anak dari Amun, raja dari para dewa. Dengan “status” ini, Hatshepsut dianggap memang ditakdirkan untuk menjadi firauan dan otomatis berkuasa penuh atas takhta.
Menurut Susanna Thomas, mulai dari tahun kedua puluh pemerintahannya, Hatshepsut memasukkan Thutmose III sebagai mitra setara dalam monumen dan prasastanya, di mana Thutmose III digambarkan berdiri di samping, bukan di belakangnya. Hatshepsut mungkin merasa dirinya sudah menua dan bakal segera meninggal, sehingga penting untuk memastikan mahkota beralih dengan lancar kepada penerusnya.
Hatshepsut wafat pada 1458 SM. Tubuhnya menjalani proses mumifikasi ritual selama tujuh puluh hari dan akhirnya dia dimakamkan di samping ayahnya di makamnya di Lembah Para Raja.
Thutmose III kemudian memerintah Mesir sendirian selama lebih dari 30 tahun. Dia adalah seorang pejuang hebat dan melakukan 17 kampanye militer di Suriah serta banyak lainnya di Nubia. Dia juga membangun dan memperbesar banyak kuil di seluruh Mesir dan Nubia. “Thutmose III diingat sebagai salah satu firaun terbesar di Mesir,” catat Susanna Thomas.

Warisan yang Dihancurkan
Saat kepemimpinan Thutmose III, monumen, patung, relief, maupun prasasti yang terkait Hatshepsut dihancurkan, dikubur, atau disembunyikan di balik dinding tinggi. Semuanya dilakukan agar Hatshepsut terhapus dari catatan sejarah. Bahkan, banyak pencapaian Hatshepsut yang diafiliasikan dengan firaun-firaun lain.
Selama 3.000 tahun, Hatshepsut hilang dari ingatan sejarah. Baru pada 1822, Jean-François Champollion (ahli bahasa dan sejarawan Prancis) dan para Egiptolog berhasil mendekode hieroglif di dinding kuil Deir al-Bahri. Penemuan ini membuktikan bahwa Mesir kuno pernah dipimpin oleh seorang firaun perempuan. Hingga akhirnya pada 2007, Dr. Zahi Hawass dan para arkeolog lainnya mengidentifikasi mumi yang ditemukan oleh Howard Carter (seorang arkeolog dan Egiptolog asal Inggris) pada 1903 sebagai Firaun Hatshepsut.
Beberapa tahun sebelumnya, dari 1922 hingga 1928, Herbert Winlock, kepala tim arkeologi Metropolitan Museum of Art yang bertugas meneliti reruntuhan peninggalan Hatshepsut di Deir el-Bahri, menemukan antara lain potongan-potongan bekas patung firaun perempuan yang dihancurkan secara brutal. Patung-patung ini tak lain merupakan wujud Hatshepsut, yang dihancurkan oleh Thutmose III.
“Sesekali kami menemukan kepala yang dapat dianggap tanpa banyak pertanyaan sebagai feminin, sementara patung-patung lain secara tidak meyakinkan bersifat maskulin. Penjelasannya terletak pada posisi Hatshepsut yang ambigu. Seorang perempuan tidak dapat menjadi penguasa Mesir, dan jika dia mencoba merebut posisi tersebut, dia harus menyembunyikan jenis kelaminnya dari generasi mendatang, bahkan jika dia tidak dapat menyembunyikannya dari orang-orang sezamannya," catat Herbert Winlock dalam Excavations at Deir El Bahri 1911-1931 (1942).
Kenapa Thutmose III memerintahkan penghancuran? Winlock berpendapat bahwa tindakan penghancuran ini sarat dengan kemarahan, bahkan bentuk balas dendam yang telah ditunggu-tunggu sejak lama. Namun penelitian yang lebih mutakhir mengungkap faktor lain.
Pada 1966 ahli Mesir Charles Nims menyimpulkan bahwa penghapusan sistematis nama dan citra Hatshepsut baru terjadi setelah tahun 42 jabatan Thutmose III, setidaknya 20 tahun setelah kematian Hatshepsut. Sejak itu ahli Mesir lain mulai mencari narasi lain.
Kalau Thutmose III membenci Hatshepsut, dia pasti akan melakukan penghancuran begitu menjadi firaun sendirian. Waktu 20 tahun terlalu lama untuk menyimpan dendam sebelum melakukan tindakan destruktif. Penghapusan juga dilakukan secara sporadis, dengan hanya sebagian kecil nama dan perwujudan Hatshepsut yang dihapus. Pun Thutmose III hanya menyerang representasi yang menunjukkan Hatshepsut sebagai raja. Dia membiarkan yang menunjukkan Hatshepsut sebagai putri, istri, dan ibu kerajaan tetap ada.
“Hal ini mungkin karena akhirnya dia memutuskan bahwa keberadaan seorang firaun perempuan bertentangan dengan Maat, dan bahwa eksistensi Hatshepsut sebagai firaun perempuan Mesir menjadi contoh yang berbahaya bagi perempuan kerajaan lainnya,” catat Susanna Thomas. Maat adalah konsep spiritual, filosofis, hukum, dan kosmis yang paling fundamental dalam budaya Mesir kuno.
Sebagian berteori bahwa Thutmose III ingin agar sejarah menuliskan bahwa takhta diturunkan langsung dari ayahnya tanpa ada "gangguan" dari seorang pemimpin perempuan. Namun, teori yang paling diyakini para Egiptolog adalah karena kekhawatirannya akan suksesi kekuasaan setelah dirinya wafat.
Thutmose III belajar dari kekacauan suksesi di masa lalunya, terutama dinamika dengan ibu tirinya, Hatshepsut. Menjelang akhir hayatnya, dia mengangkat Amenhotep II, putranya, menjadi firaun bersama (coregency). Dengan demikian menutup peluang bagi kerabat kerajaan lain atau keturunan dari garis Hatshepsut yang mungkin ingin mengklaim takhta. Pengangkatan ini juga memberikan kesempatan bagi Amenhotep II untuk belajar mengelola administrasi negara dan militer secara langsung di bawah bimbingannya.
“Setelah coregency ini berlangsung, perusakan monumen Hatshepsut sebagian besar berhenti. Jadi sepertinya penghancuran Hatshepsut hanya diperlukan ketika masa depan Amenhotep tidak pasti,” catat Egiptolog dan arkeolog Kara Cooney dalam bukunya The Woman Who Would Be King.
Thutmose III juga khawatir terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh perempuan yang memiliki kekuasaan dan pengaruh, khususnya Istri Dewa Amun, sebuah jabatan yang pernah dipegang oleh Hatshepsut dan Nefrure. Dia memberikan posisi itu kepada putrinya, Merytamen, yang masih muda dan setia kepadanya, dan setelah itu kepada ibu Amenhotep II, Merytre-Hatshepsut, yang tak memiliki darah kerajaan dan tampaknya tidak memiliki bakat atau ambisi.
Amenhotep II mengikuti jejak ayahnya. Dia tak pernah menamai atau menggambarkan salah satu istrinya, bahkan Istri Agung, sehingga menghilangkan ruang untuk otoritas mereka selama masa pemerintahannya. Tanpa gelar dan jabatan, perempuan-perempuan ini tidak memiliki posisi politik di istana. Hal yang sama dilakukan putra Amenhotep, Thutmose IV.
“Kedua raja ini lebih fokus pada ibu mereka dibanding istri mereka, kemungkinan karena seorang ibu jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menjadi terlalu ambisius untuk dirinya sendiri,” catat Kara Cooney.
Setelah Thutmose III, jabatan Istri Dewa Amun melemah. Dan setelah masa pemerintahan Thutmose IV, semua catatan tentang Istri Dewa Amun menghilang selama ratusan tahun.
“Pada akhirnya, pencapaian terbesar dan inovasi paling berani dari Hatshepsut adalah keberhasilannya menciptakan satu-satunya pemimpin perempuan yang benar-benar sukses di dunia kuno secara terencana dan penuh perhitungan. Sejarawan hampir tidak menemukan bukti kepemimpinan perempuan yang efektif, diakui secara formal, dan bertahan lama pada zaman kuno–baik di Mediterania, Timur Dekat, Afrika, Asia Tengah, maupun Dunia Baru,” catat Kara Cooney.
Hatshepsut membuktikan bahwa pemimpin perempuan juga memiliki kepintaran, kekuatan, dan pengaruh yang sama besarnya dengan laki-laki.*



















Komentar