top of page

Gombloh Berbagi BH

Kisah kepedulian Gombloh terhadap para penjaja seks. Tak sedikit karyanya terinspirasi dari lokalisasi.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 3 Des 2018
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 14 Jul 2025

MAKAM di Kompleks Permakaman Islam Tembok Gede, Surabaya itu kondisinya menyedihkan ketika Historia mengunjunginya, Jumat 9 November 2018. Keramik merah berundak tiga di tubuhnya kusam.


“Ya beginilah kondisinya, walau kompleks pemakaman ini di bawah Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Pemkot Surabaya. Dibersihkan kalau keluarga biasanya ziarah sebelum bulan puasa. Begitu juga kalau beberapa musisi lokal berziarah pas Hari Musik 9 Maret. Patung torso-nya saja di Taman Hiburan Rakyat hanya dijadikan jemuran sama masyarakat setempat,” terang Dhahana Adi Pungkas alias Ipung, penulis Surabaya Punya Cerita saat menemani Historia berziarah.


Kondisi itu mungkin sama buruknya dengan kehidupan para pekerja seks komersial (PSK). Mereka, para PSK, itulah yang mendapat perhatian besar dari “si pemilik” makam selama hidupnya. Ya, Gombloh, musisi legendaris tanah air, itu sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk membantu PSK dan wong cilik lain.


Gombloh dan Kehidupan Malam

Meski mayoritas masyarakat memandang jijik para PSK, musisi legendaris Gombloh justru sebaliknya. “Dia sangat peduli dan menganggap banyak PSK teman-temannya sendiri,” lanjut Ipung.


Musikus bernama asli Sudjarwoto Sumarsono itu tak suka membeda-bedakan kelas sosial meski namanya sohor di seluruh Indonesia. Gombloh yang lahir di Jombang pada 14 Juli 1948, datang dari keluarga kelas bawah. Ayahnya seorang pedagang ayam.


Gombloh memahami betul kehidupan di akar rumput. Selain gandrung bergaul dengan seniman di Balai Pemuda Surabaya, di masa mudanya Gombloh getol nongkrong di berbagai klab malam dan lokalisasi di Bangunrejo, Surabaya. “Ya sekadar menghabiskan malam, mendengar banyak curhat,” sambung Ipung.


Kedekatannya dengan PSK makin menumbuhkan jiwa sosial Gombloh. Pada medio 1979, Gombloh menyisihkan sebagian pendapatannya dari manggung di beberapa kafe, diskotek, dan pentas seni untuk membeli sejumlah BH alias bra. BH-BH itu lalu diberikannya pada para PSK Bangunrejo lantaran mayoritas mereka tak mampu membeli BH sehingga tak mengenakannya saat menjajakan diri.


“Setiap Gombloh manggung dan dapat honor, dia selalu menyisihkan. Sebagian buat beli rokok, sebagian untuk beli BH. Almarhum Sys NS juga pernah bilang bahwa dia beli BH sampai se-becak penuh. Jadi satu becak itu BH-nya dibagi-bagikan ke PSK. Gombloh merasa PSK juga manusia dan punya hak untuk melindungi organ tubuhnya,” tambah Ipung lagi.

Dhahana Adi Pungkas alias Ipung. (Randy Wirayudha/Historia.ID).
Dhahana Adi Pungkas alias Ipung. (Randy Wirayudha/Historia.ID).

Dalam kesempatan lain, Gombloh mendapat kabar ada seorang PSK di daerah Jarak yang sakit parah. Bersama Djoko Suud Sukahar rekannya, dia langsung mendatanginya. Gombloh pun menanyakan keluhan perempuan itu layaknya dokter dan menyuruh perempuan itu berobat ke dokter. “Biaya dokter ditanggung sepenuhnya oleh Gombloh,” kata Ipung dalam bukunya.


Tak heran ketika Gombloh meninggal dunia pada 9 Januari 1988 akibat sakit paru-paru, bukan hanya seniman yang merasa kehilangan tapi juga para PSK dan kalangan wong cilik lain. “Bisa dibilang peristiwa kematian Gombloh iring-iringannya salah satu yang terbesar di Surabaya setelah Bung Tomo, Dr. Sutomo, dan Purnomo Kasidi. Gombloh lebih dari sekadar musisi, dia milik rakyat Surabaya, milik bangsa Indonesia juga,” kata Ipung.


Dunia Malam Inpirasi Lagu Gombloh

Kehidupan dunia malam merupakan inspirasi bagi Gombloh dalam menulis lagu. Pada akhir 1970-an, Gombloh dan band The Lemon Tree’s Anno ’69 mulai bikin banyak lagu. Dari 1978-1979, mereka bahkan menelurkan album Nadia & Atmospheer dan Mawar Desa (1978) serta Kadar Bangsaku dan Kebyar-Kebyar (1979).


Mengutip Musisiku terbitan Republika dan Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI), beberapa lagu Gombloh menceritakan tentang berbagai kehidupan masyarakat arus bawah, termasuk PSK. Di antaranya, “Loni”, “Pelacur dan Pelacurku”, “Doa Seorang Pelacur”, “Poligami Poligami”.


“Murni memang kepedulian sosial. Dia memang seniman, musisi, tapi enggak ngartis. Gombloh merasa bukan siapa-siapa. Dia merasa bisa seperti ini juga berangkat dari masyarakat bawah. Otomatis jiwanya itu terbawa terus,” kata Ipung.


Namun, lagu-lagu Gombloh tak melulu soal keseharian. Lagu tentang kepedulian alamnya, “Berita Cuaca”, hingga kini masih kerap diperdengarkan. Beberapa tahun lalu lagu itu diaransemen ulang oleh band Boomerang.


Lagu tentang nasionalisme, “Kebyar-Kebyar”, tak kalah greget. Hingga kini, lagu tersebut acap diperdengarkan dalam beragam event yang terkait dengan bangsa, seperti di pertandingan sepakbola. “Dikasih judul “Kebyar-Kebyar” itu maksudnya lampu yang kebyar-kebyar. Di lokalisasi itu kan ada kafe Gombloh biasa menghabiskan malam. Di kafe itu lampunya gemerlapan begitu. Maksudnya di sini lampunya yang kebyar-kebyar,” lanjut Ipung.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Setiati Surasto memperjuangkan hak-hak buruh perempuan. Dia juga berkiprah dalam gerakan buruh internasional. Berakhir sebagai eksil.
bg-gray.jpg
Kapten Drury, veteran Invasi Jawa, menjadi satu-satunya orang Inggris yang dikebumikan di makam kuno Belanda di Kebun Raya Bogor.
bg-gray.jpg
Perceraian bibinya menorehkan duka dalam diri Maria Ullfah. Awal tekad keras membela hak kaum perempuan.
bg-gray.jpg
Jambi, a major oil-producing region in Indonesia, proved difficult for the Dutch Parachute and Red Elephant units to capture.
Armada Vasco da Gama memblokade Laut Merah. Sebuah kapal dagang yang membawa ratusan rombongan haji dicegat, dijarah, dan dibantai.
Armada Vasco da Gama memblokade Laut Merah. Sebuah kapal dagang yang membawa ratusan rombongan haji dicegat, dijarah, dan dibantai.
Pria kembar Belanda yang mengalami pendudukan Nazi nyaris kehilangan nyawa di Surabaya. Keduanya bagian dari Brigade Marinir Belanda yang terkenal kejam.
Pria kembar Belanda yang mengalami pendudukan Nazi nyaris kehilangan nyawa di Surabaya. Keduanya bagian dari Brigade Marinir Belanda yang terkenal kejam.
Upayanya untuk membuat hukuman mati lebih manusiawi justru menjadikan namanya sinonim dengan mesin jagal yang menjadi ikon salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Prancis.
Upayanya untuk membuat hukuman mati lebih manusiawi justru menjadikan namanya sinonim dengan mesin jagal yang menjadi ikon salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Prancis.
Chairil Anwar dan kawan-kawan membangun majalah sastra di tengah revolusi kemerdekaan. Setelah itu, penerbitan majalah sastra menggeliat dan beririsan dengan konflik ideologis.
Chairil Anwar dan kawan-kawan membangun majalah sastra di tengah revolusi kemerdekaan. Setelah itu, penerbitan majalah sastra menggeliat dan beririsan dengan konflik ideologis.
Mikel Arteta diusulkan dibikinkan patung seperti Arsène Wenger hingga Herbert Chapman. David Danskin si pendiri justru sekadar dihargai batu nisannya.
Mikel Arteta diusulkan dibikinkan patung seperti Arsène Wenger hingga Herbert Chapman. David Danskin si pendiri justru sekadar dihargai batu nisannya.
Pasang-surut nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS yang mencerminkan kondisi perekonomian tiap-tiap presiden yang menjabat.
Pasang-surut nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS yang mencerminkan kondisi perekonomian tiap-tiap presiden yang menjabat.
transparant.png
bottom of page