- 5 jam yang lalu
- 3 menit membaca
BANJIR darah melanda Tangerang pada 3 Juni 1946. Orang-orang Tionghoa yang disebut Cina Benteng jadi sasaran amuk warga pribumi. Mereka dibantai tanpa pandang bulu, entah itu laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak. Rumah-rumah milik orang Tionghoa dijarah lalu dibakar. Orang-orang Tionghoa Tangerang mengenangnya sebagai “Peristiwa Dunia Kiamat”.
“Warga Indonesia membunuh sekitar 1.000 pria, wanita, dan anak-anak Tionghoa yang meninggalkan distrik Tangerang, sekitar 30 kilometer sebelah barat Batavia,” lansir Algemen Handelsblad, 5 Juni 1946.
Menurut laporan Palang Merah Tionghoa Jang Seng Ie di Jakarta, sebanyak 653 orang Tionghoa dibunuh di Tangerang dan sekitarnya, termasuk 136 wanita dan 36 anak-anak. Sebanyak 1.268 rumah dibakar dan 236 lainnya rusak. Akibatnya, ribuan orang Tionghoa mengungsi ke Jakarta yang saat itu dikuasai tentara NICA-Belanda. Diperkirakan 25.000 orang pengungsi Tionghoa melarikan diri dari Tangerang. Demi mencari selamat, mereka nekat menyeberangi Sungai Cisadane yang berarus deras.
Koran-koran berbahasa Belanda memberitakan peristiwa pembantaian Tangerang dilakukan oleh ektremis Indonesia. Pembunuhan disebut telah direncanakan sebagai balasan atas sejumlah orang Tionghoa, yang disebut "CINA-NICA", bekerja sebagai mata-mata bagi Belanda. Pembantaian juga meliputi berbagai tindakan kekerasan, pembunuhan, dibakar hidup-hidup, mutilasi, hingga pemerkosaan. Dalam waktu beberapa hari sejak peristiwa terjadi, media-media Belanda mengumumkan sebanyak 3000 orang Tionghoa kehilangan nyawaya dalam pembantaian di Tangerang.
“Pemimpin yang bertanggung jawan adalah Haji Sjafei, seorang fanatik agama yang menurut geng-geng Banten memiliki kekuatan magis. Haji Sjafei berada di bawah kekuasaan yang disebut pemerintahan rakyat, yang memegang kendali penuh di wilayah Banten dan praktis tidak dikendalikan oleh pemerintahan Sjahrir. Para bandit telah menghancurkan jembatan dan jalan, sehingga mustahil bagi warga Tionghoa yang ketakutan untuk mencapai daerah yang aman,” demikian diwartakan harian Graafschapper, 7 Juni 1946.
Namun, menurut sejarawan Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik, ada perkiraan bahwa peristiwa Tangerang telah direncanakan NICA untuk memperluas daerah kekuasaannya. Beberapa waktu sebelumnya, sekelompok pasukan Republik yang membawa rombongan tawanan dan interniran Sekutu, disergap oleh satu kompi serdadu NICA. Intelijen NICA kemudian menyebarkan kecurigaan dan hasutan bahwa orang Tionghoa yang berkhianat atas terjadinya penyergapan tersebut.
“Memang orang Tionghoa yang pada waktu itu menjadi sasaran untuk melemparkan perasaan tidak senang, sekali ini tepat ditempatkan di titik sasaran provokasi Belanda. Pembunuhan besar-besaran pun terjadi,” ulas Benny.
Dari sekian banyak orang Tionghoa yang jadi korban, seorang jago bela diri asal Hokkian bernama Gouw Ji Lu luput dari pembantaian. Selain ahli bela diri, Gouw Ji Lu juga seorang praktisi Taoisme. Namun, Gouw Ji Lu selamat bukan karena keahlian bela diri, melainkan oleh pribadinya yang dikenal dermawan.
“Ketika tahun 1946 pecah kerusuhan rasialis di daerah Tangerang di mana banyak warga Tionghoa yang menjadi korban, Gouw Ji Lu dan keluarganya justru dikawal oleh orang-orang yang pernah dibantunya hingga ia dan keluarganya terselamatkan,” catat Alex Cheung, Charly Huang, dan Erwin Tan dalam Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia.
Dalam kesehariannya Gouw Ji Lu dikenal suka membantu orang. Ia sering membawa orang kelaparan yang ditemuinya ke rumahnya untuk diberi makanan. Setelah orang-orang yang diajak ke rumahnya itu cukup kuat kondisinya, Gouw Ji Lu menanyakan apakah mereka berminat bekerja di sawah garapannya. Hal ini sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang tersebut.
Gouw Ji Lu memiliki lima orang anak, tiga perempuan dan dua laki-laki. Salah satu anak laki-lakinya bernama Gouw Pit Soen adalah ayah dari pendekar wanita Gouw The Moi. Menurut Gouw The Moi, kakeknya memang memiliki kesaktian di luar akal sehat. Meski sederhana, pada dekade 1950-an, Gouw Ji Lu tetap dikenal sebagai Tionghoa dermawan di Tangerang. Di masa tuanya, Gouw Ji Lu disebut wafat dengan wajah cerah berseri-seri, tidak tampak seperti orang yang meninggal.*



















Komentar