top of page

Gouw Ji Lu Luput dari Pembantaian Tangerang

Orang-orang Tionghoa di Tangerang menjadi sasaran amuk massa di masa revolusi. Seorang ahli bela diri diselamatkan karena dikenal dermawan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Gouw Ji Lu. (Repro Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia).

  • 14 Apr
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 9 Mei

BANJIR darah melanda Tangerang pada 3 Juni 1946. Orang-orang Tionghoa yang disebut Cina Benteng jadi sasaran amuk warga pribumi. Mereka dibantai tanpa pandang bulu, entah itu laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak. Rumah-rumah milik orang Tionghoa dijarah lalu dibakar. Orang-orang Tionghoa Tangerang mengenangnya sebagai “Peristiwa Dunia Kiamat”.


“Warga Indonesia membunuh sekitar 1.000 pria, wanita, dan anak-anak Tionghoa yang meninggalkan distrik Tangerang, sekitar 30 kilometer sebelah barat Batavia,” lansir Algemen Handelsblad, 5 Juni 1946.


Menurut laporan Palang Merah Tionghoa Jang Seng Ie di Jakarta, sebanyak 653 orang Tionghoa dibunuh di Tangerang dan sekitarnya, termasuk 136 wanita dan 36 anak-anak. Sebanyak 1.268 rumah dibakar dan 236 lainnya rusak.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page