top of page

Hikayat Demang Lehman dari Kesultanan Banjar

Demang Lehman ditakuti karena taktik gerilyanya memporak-porandakan pos-pos pertahanan Belanda. Berujung tragis di tiang gantung musuhnya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Potret Demang Lehman. (Wikimedia Commons).

  • 3 Feb 2021
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 4 Mei

GENDERANG perang itu akhirnya ditabuh. Seluruh Banjarmasin dilanda kekacauan hebat pada 1859. Rakyat yang tersulut amarah sudah tidak bisa lagi menmaklumi sikap keterlaluan orang-orang Belanda. Setelah seenaknya melakukan monopoli perdagangan, mereka malah turut campur dalam proses pergantian takhta Kesultanan Banjar.


Mulanya kebencian rakyat ditujukan kepada Sultan Tamjid, pemimpin Banjar yang diangkat pemerintah Belanda. Selain dianggap boneka kolonial, perangai sang sultan juga tidak disenangi rakyat. Ia kerap menjalankan hal-hal yang dilarang oleh agama Islam. Namun pertentangan berubah menjadi keinginan mengusir para kolonial setelah keberadaan mereka semakin memberatkan kehidupan rakyat Banjarmasin.


Pucuk perlawanan rakyat dipegang oleh Pangeran Hidayatullah, satu-satunya pewaris takhta yang diakui rakyat. Ia berjuang bersama pahlawan besar Banjarmasin, Pangeran Antasari, dan sejumlah bangsawan serta pemuka agama. Sang pangeran juga didampingi salah seorang pengikutnya yang paling setia: Demang Lehman.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page