top of page

Hutan Tak Lagi Perawan

Hutan terus menghadapi ancaman. Upaya pengaturan dan pengelolaan hutan, dari zaman VOC hingga kini, tak mampu menghambat laju deforestasi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Laszlo Szekely dan Madelon Lulofs berpose di depan hutan yang ditebangi untuk perkebunan di Deli Serdang, Sumatra Utara tahun 1927-1930. (KITLV).

  • 10 Jun 2024
  • 7 menit membaca

Diperbarui: 17 Jun

TAK lama setelah Batavia berdiri, beberapa pekerja Kongsi Dagang Belanda (VOC) menyusuri sungai untuk mencari kayu. Mereka mendapati kawasan di luar tembok Batavia (Ommelanden) masih diselimuti hutan lebat.


Kala itu, Batavia bergantung pada hasil hutan di Ommelanden untuk memenuhi kebutuhan makanan, bahan bakar, hingga bahan bangunan. Akibat bertambahnya penduduk, kebutuhan kayu meningkat. Hutan pun berkurang dengan cepat, lebih awal ketimbang tempat lain di Jawa.


“Sayangnya, kita tidak memiliki data kuantitatif tentang laju deforestasi di wilayah ini, tetapi jelas bahwa ekspansi ekonomi dan demografi dari Batavia ke pedalaman pada akhir abad ke-17 adalah faktor utama deforestasi,” tulis Bondan Kanumoyoso dalam “Beyond The City Wall: Socio-Economic Development in The Ommelanden Batavia, 1684–1740,” disertasi di Universitas Leiden, Belanda.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page