top of page

Itaewon dari Masa ke Masa

Itaewon berkembang dari “desa orang asing” menjadi “zona internasional”. Disebut sebagai pintu gerbang menuju dunia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Salah satu kawasan di Itaewon, Seoul, Korea Selatan saat malam. (Jongsu Pyeon/Wikimedia Commons).

  • 2 Nov 2022
  • 3 menit membaca

Tak ada yang menyangka festival Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10/2022) malam, berubah menjadi tragedi. Pesta Halloween yang kembali digelar setelah dua tahun tidak diadakan akibat pandemi Covid-19 itu ramai didatangi pengunjung, tak hanya warga lokal tetapi juga wisatawan dari berbagai negara.


Ribuan orang mengunjungi Itaewon, salah satu distrik paling sibuk di Seoul, untuk merayakan pesta Halloween. Mereka berkumpul di restoran dan bar. Saat malam makin larut, kawasan Itaewon makin ramai didatangi pengunjung hingga menyebabkan kepadatan. Di salah satu jalan sempit para pengunjung berdesakan yang mengakibatkan banyak orang kesulitan bernapas hingga jatuh dan terinjak. Insiden itu menyebabkan 154 orang tewas dan beberapa orang terluka menjalani perawatan intensif di rumah sakit.


Itaewon yang terletak di wilayah Yongsan-gu merupakan salah satu distrik yang populer di Seoul, ibu kota Korea Selatan. Kawasan yang dipenuhi beragam restoran, bar, dan pertokoan ini kerap menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai festival. Oleh karena itu, Itaewon masuk dalam daftar wajib dikunjungi para pelancong yang berwisata ke Seoul.



Sebagai kawasan wisata, Itaewon menjadi tempat bertemu orang-orang dari berbagai negara dan latar belakang. Itaewon telah menjadi tujuan para pelancong sejak zaman dulu. Korea Magazine terbitan Korean Culture and Information Service tahun 2015 menyebut nama Itaewon berasal dari tempat penginapan bagi para pelancong yang sudah ada sejak zaman Goryeo (918–1392).


Setelah Jepang menginvasi Korea di bawah pimpinan Toyotomi Hideyoshi pada 1592–1598, Itaewon disebut “Itain” yang berarti “desa orang asing”, karena tentara Jepang di tempatkan di sana. Ketika perang berakhir tahun 1598, beberapa tentara Jepang menetap di sana.


Pesta Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10/2022) malam, yang menelan ratusan korban jiwa. (Youtube Watchers Club/Wikimedia Commons).
Pesta Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10/2022) malam, yang menelan ratusan korban jiwa. (Youtube Watchers Club/Wikimedia Commons).

Sementara itu, Song Doyoung dalam Migration and Diversity in Asian Contexts menulis, nama Itaewon mulai muncul dalam catatan sejarah pada abad ke-16 sebagai titik penghubung Seoul dengan wilayah selatan Korea. Pada akhir abad ke-19, wilayah Itaewon pernah diduduki tentara Cina kemudian dikuasai tentara Jepang hingga tahun 1945. Pada masa pendudukannya, Jepang mendirikan markas militer di daerah Yongsan.


Wilayah Itaewon juga pernah menjadi rumah bagi sejumlah orang Amerika setelah Perang Dunia II dan Perang Korea (1950–1953) karena di wilayah tersebut terdapat pangkalan militer Amerika Serikat. Jieheerah Yun dalam Globalizing Seoul The City’s Cultural and Urban Change menyebut penggunaan awal daerah Yongsan –termasuk wilayah Itaewon– sebagai pangkalan militer karena lokasinya dekat dengan dermaga sungai. Selain itu, di masa perang, militer cenderung menggunakan kembali infrastruktur yang sudah ada.



Terletak tepat di pinggiran kamp tentara, Itaewon menjadi distrik komersial yang mendukung berbagai kebutuhan pasukan Amerika. Sejak 1950-an, toko dan klub di Itaewon telah berfungsi sebagai tempat rekreasi bagi personel militer Amerika. Di sisi lain, Itaewon pun menjadi gerbang masuknya budaya Amerika dan negara asing lainnya yang diperkenalkan kepada penduduk Korea Selatan.


Seiring berjalannya waktu, distrik Itaewon tak hanya didominasi budaya Amerika. Wilayah itu berkembang menjadi melting pot, yang tak hanya dikenal sebagai pusat pariwisata, tetapi juga pusat pertukaran budaya. Menurut Doyoung, globalisasi menjadi salah satu faktor yang memungkinkan pertukaran budaya terjadi di wilayah Itaewon.


Masjid Pusat Seoul (Seoul Central Mosque) di Itaewon, Seoul, Korea Selatan. (Brandon Butler/Wikimedia Commons).
Masjid Pusat Seoul (Seoul Central Mosque) di Itaewon, Seoul, Korea Selatan. (Brandon Butler/Wikimedia Commons).

Popularitas Itaewon sebagai pusat pariwisata kian meningkat setelah diselenggarakannya Asian Games 1986 dan Olimpiade Seoul 1988. Secara khusus turis dari Barat dan Jepang mulai sering mengunjungi Itaewon di mana mereka dapat berbelanja tanpa khawatir terkendala bahasa karena bahasa utama di jalan-jalan Itaewon adalah bahasa Inggris dan Jepang.


Gelombang kedatangan pekerja migran dari Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh ke Korea Selatan sejak awal 1990-an turut memberi warna baru bagi Itaewon. Wilayah itu juga menjadi tujuan wisata populer bagi wisatawan muslim terlebih di Itaewon terdapat Masjid Pusat Seoul (Seoul Central Mosque) yang dibangun pada 1976. Meningkatnya jumlah pengunjung muslim berdampak pada berdirinya restoran-restoran halal di Itaewon. Restoran yang menyediakan makanan halal pertama kali di Seoul pada awal 1990-an berada di distrik Itaewon.



Setelah lebih dari tiga dekade Itaewon didominasi budaya Amerika, kawasan itu kini menjelma menjadi semacam “zona internasional” yang beragam secara budaya dan terbuka bagi orang asing di Korea Selatan.


Jieheerah Yun dalam A Foreign Country in Seoul: Itaewon’s Multicultural Streets menulis, perkembangan yang beragam dalam lingkup komersial di distrik Itaewon membuat pemerintah Metropolitan Seoul menetapkan wilayah itu sebagai Zona Wisata Khusus pada 1997. Reputasi Itaewon sebagai pusat hiburan yang trendi dan kosmopolitan menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Tak heran Itaewon kerap disebut sebagai “pintu gerbang menuju dunia”.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo tak hanya berotak encer dalam pelajaran, wawasan dunia dan kesadaran kebangsaannya tumbuh berkat Jules Verne, Multatuli, hingga Sun Yat-sen.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah terpikat sosialisme pada pandangan pertama. Sutan Sjahrir jadi comblangnya.
bg-gray.jpg
Buyut Ahmad Subardjo berasal dari keluarga terpandang di Aceh yang terlibat persaingan kekuasaan. Dia memilih merantau ke Jawa dan menjadi pemuka agama Islam. Anaknya mengikuti jejaknya.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah berada di dalam pusaran kontroversi penyusunan RUU Perkawinan. Berbuah manis walau penuh kompromi.
Lilik Sudjio menggarap film pahlawan super, komedi, hingga mistik. Sutradara terbaik yang kurang dilirik.
Lilik Sudjio menggarap film pahlawan super, komedi, hingga mistik. Sutradara terbaik yang kurang dilirik.
Abu Maraheel bukan sekadar ikon dan legenda olahraga Palestina. Nyawa sang Olimpian tak tertolong setelah Israel memblokade Rafah.
Abu Maraheel bukan sekadar ikon dan legenda olahraga Palestina. Nyawa sang Olimpian tak tertolong setelah Israel memblokade Rafah.
Dagelan politik dalam pusaran zaman. Oase yang membuat bangsa tertawa geli, tak melulu nyeri.
Dagelan politik dalam pusaran zaman. Oase yang membuat bangsa tertawa geli, tak melulu nyeri.
Lahir dari buah pikiran Betty Uber, Uber Cup jadi pasangan abadi Thomas Cup sebagai kejuaraan yang paling sarat gengsi.
Lahir dari buah pikiran Betty Uber, Uber Cup jadi pasangan abadi Thomas Cup sebagai kejuaraan yang paling sarat gengsi.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Wangi Camelia mengundang selera untuk meminumnya.
Wangi Camelia mengundang selera untuk meminumnya.
transparant.png
bottom of page