- 4 jam yang lalu
- 3 menit membaca
TAK terhitung jumlah demonstasi yang pernah dia kuatkan. Lewat lagu ciptaannya, “Darah Juang”.
Johnsony Maharsak Lumban Tobing alias John Tobing, sang pencipta “Darah Juang”, juga ikut serta dalam membela petani yang dirugikan karena proyek Kedungombo. Tak hanya demo, dia juga pernah mengunjungi para petani ke desa-desa. Termasuk pergi ke Cilacap, demi para petani Blangguan yang lahan bertahan hidup mereka diambil alih tentara untuk latihan perang.
Dia juga sering melihat anak-anak yang perut (juga otaknya) kurang gizi. Dia tahu tidak enaknya kemiskinan itu. Semua kondisi memilukan itu menginspirasi John untuk mengabadikannya lewat lagu. John lalu mewujudkannya.
“Sebuah siang, di teras sekretariat KM UGM di Pelem Kecut, Gejayan, John menggenjreng gitarnya,” terang Lilik HS dalam “John Tobing, Darah Juang dan Tali Perekat Zaman” di indoprogress.com.
Hasilnya, sebuah melodi lagu pun terbentuk. Namun, liriknya belum ada. John lalu mengajak kawan-kawannya sesama mahasiswa untuk membuat liriknya.
Kala itu John masih mahasiswa di Jurusan Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) itu. Dia angkatan 1986. Di Jurusan Filsafat dia berkawan dengan Web Warouw dan Andi Munajat. Di Jurusan MIPA dia berkawan dengan Dadang Yuliantoro, yang pandai menulis. Menurut Puthut EA dalam Menanam Padi di Langit, merekalah yang ikut membuat syair untuk lagu hasil genjrengan John di Pelem Kecut tadi. Bunyinya:
Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur, Tuhan
Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami mengabdi
Padamu kami berjanji
Setelahnya, lagu tersebut beredar di kalangan mahasiswa. Kian waktu kian populer.
“Lagu ini bukan lagu asing di Fakultas Filsafat UGM,” catat Puthut EA.
Jelang diadakannya kongres Front Kedaulatan Mahasiswa Yogyakarta (FKMY), lagu tersebut dinyanyikan bersama-sama. Namun, belakangan FKMY terpecah menjadi Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta (SMY) dan Dewan Mahasiswa dan Pemuda Yogyakarta (DPMY). SMY yang dikonsolidasikan Andi Munadjat lalu bertransformasi menjadi Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Sempat ada usulan untuk menjuduli lagu tadi “Hymne FKMY” dan “Hymne Darah Juang”, namun kebanyakan orang menjudulinya “Darah Juang” saja.
John yang pada 1994 termasuk senior di kampus, memilih segera lulus. Pada 1995 dia berhasil menjadi sarjana filsafat setelah kuliah 9 tahun. Lilik HS menulis, John lalu ke Pekanbaru dan merintis karier di majalah Parhorasan Nusantara yang berumur pendek. Setelahnya dia bekerja di perusahaan kontraktor milik keluarganya di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Ketika itu, John sudah tampil necis dan tidak lagi berambut gondrong, pakai jins dekil dan sandal jepit lagi.
“Saya menjauhkan diri dari gerakan, tapi saya terus mengikuti gerakan,” aku John kepada Lilik HS.
Setelah kawan-kawan seperjuangannya menjadi korban dan ditangkapi pasca-Peristiwa 27 Juli 1996, John berangkat ke Jakarta. John ikut mengatur tempat evakuasi bagi kawan-kawannya di daerah Kalijodo yang dikejar-kejar oleh aparat. Begitulah kerjanya sebelum Presiden Soeharto mengundurkan diri.
John sendiri bukanlah dari keluarga petani yang sulit. Menurut Lilik HS, ayahnya, Mangara Lumbantobing, adalah seorang hakim.
John lahir di Binjai, Sumatra Utara pada 1 Desember 1966. John bersekolah SD dan SMP di Lampung sebelum lanjut ke SMA Santo Thomas Yogyakarta. John tak lulus SMA di Yogyakarta. Dia berhasil lulus SMA di Banjarmasin. Namun kemudian dia kembali ke Yogyakarta, untuk berkuliah di Filsafat UGM.
Putra Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga itu sejak kecil suka musik. Sedari kecil dia sudah mendengarkan God Bless, Queen, Led Zeppelin, Deep Purple dan Uriah Heep. Dia terkesan oleh lagu “Setan Tertawa” yang dirilis God Bless pada 1975, ketika John masih bocah.
“Darah Juang” bukan satu-satunya lagu ciptaan John. Setidaknya ada sekar 200 lagu yang dibuatnya sepanjang hidup. John mengarang lagu “Doa” waktu ada seorang mahasiswa menjadi korban Santa Cruz karena John geram dengan peristiwa itu. John yang humanis itu kini telah pergi. Pada 25 Februari 2026, John mangkat di Rumahsakit Bathesda Yogyakarta. Selamat jalan, Pejuang!*










Komentar