top of page

Juru Bahasa Soeharto Ketinggalan di Italia

Kemacetan membuat juru bahasa Presiden Soeharto ketinggalan. Penerjemah dadakan dilanda kepanikan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Letkol Soeyono di belakang Presiden Soeharto dan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan di Bali. (Repro biografi Soeyono: Bukan Puntung Rokok).

7 Agu 2019
2 menit membaca

Diperbarui: 19 Mar

PRESIDEN Soeharto dianggap berhasil swasembada pangan. Dia pun diundang untuk berpidato dalam konferensi FAO (Badan Pangan dan Pertanian PBB) di Roma, Italia, pada 14 November 1985. Demi menjamin keamanan perjalanannya, intelijen sampai meminjam alat penangkal serangan rudal dari Israel yang dipasang dalam pesawat kepresidenan.


Dalam kesempatan itu, Soeharto menyumbangkan 100 ribu ton gabah kepada FAO untuk disalurkan kepada negara-negara yang dilanda kelaparan, terutama di Afrika. Setelah menghadiri konferensi itu, Soeharto berkunjung ke India.


Letkol Soeyono, ajudan Presiden Soeharto, dalam biografinya, Bukan Puntung Rokok, menceritakan bahwa dalam perjalanan pulang dari Italia, ada kejadian yang menegangkan, yaitu ditinggalnya juru bahasa yang biasa mendampingi presiden dalam pembicaraan empat mata. Kemacetan lalu lintas membuat juru bicara itu tidak bisa mencapai pangkalan pemberangkatan tepat waktu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page