top of page

Soeharto Pernah Menolak Jadi Pejabat Presiden

Awalnya Soeharto enggan menjabat presiden. Setelah diangkat malah terlalu lama jadi presiden.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jenderal TNI Soeharto berpidato dalam Sidang Istimewa MPRS, 7 Maret 1967. (ANRI).

26 Mar 2015
2 menit membaca

Diperbarui: 7 Mar

SETELAH pidato pertanggungjawabannya yang berjudul Nawaksara ditolak, kekuasaan negara Presiden Sukarno ditarik Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Tak ada wakil presiden, Soeharto sebagai penerima Supersemar diangkat sebagai pejabat presiden. Namun Soeharto tak mau disebut pejabat presiden.


Dalam pertemuan di kediamannya di Jalan Haji Agus Salim Menteng, Jakarta Pusat, 11 Maret 1967 malam, Soeharto mengungkapkan alasannya. Pertemuan ini dihadiri para pendukungnya dari kalangan militer, organisasi politik, mahasiswa dan pemuda.


Jusuf Wanandi, aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), mengatakan, Soeharto tak mau menjadi pejabat presiden karena dia secara emosional merasa dekat dengan Sukarno, bapak pendiri bangsa yang mengangkat banyak pemimpin sipil dan militer.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page