top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Kala Dubes Amerika Nyaris Digebuk Jenderal Moersjid

Diberitakan dekat dengan CIA, Dubes AS Marshall Green nyaris digebuk Jenderal Moersjid

31 Agu 2023

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Mayor Jenderal TNI Moersjid dan Duta Besar AS Marshall Green. Ilustrasi foto: Tazkya Wibowo/Historia.

Pada 1968, Duta Besar Amerika Serikat Marshall Green bersiap-siap mengakhiri tugasnya di Indonesia. Tugas baru menantinya sebagai asisten Menteri Luar Negeri AS urusan Asia Timur dan Pasifik. Untuk itulah Green sering wara-wiri ke Filipina, yang menjadi salah satu negara sekutu Amerika di kawasan Asia-Pasifik.


Suatu ketika di Manila International Airport, kira-kira bulan Oktober atau November 1969, Green bersua dengan Mayor Jenderal TNI Moersjid, duta besar Indonesia untuk Filipina, di sebuah jamuan. Green tentu mengenal Moersjid. Setidak-tidaknya Green tahu bahwa Moersjid sebelumnya seorang pejabat tinggi di Markas Besar Angkatan Darat. Semasa Green awal bertugas di Indonesia tahun 1965, Moersjid menjabat sebagai Deputi I Menteri/Panglima Angkatan Darat. Dengan kata lain, Moersjid adalah wakil Jenderal Ahmad Yani yang membidangi urusan operasi dan intelijen.   


Dalam pertemuan itu, Green melakukan provokasi. Dalam bahasa Inggris dia bertanya kepada Moersjid, “Bagaimana kabar Si Bung? (How’s the Bung doing?). “Si Bung” yang dimaksud adalah Presiden Sukarno yang sudah lengser dari kekuasaan. Kedudukan Sukarno kian melemah setelah Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Pada 1968, Sukarno sudah diberhentikan MPRS sebagai presiden dan digantikan oleh Jenderal Soeharto. Pada 1969, Sukarno bahkan harus menjalani masa-masa tahanan rumah di Wisma Yaso.



Ditanya begitu, amarah Moersjid tentu saja terpantik hingga terjadi cekcok mulut. Moersjid bahkan hampir saja menggebuk Green saat itu. Ribut-ribut yang nyaris berujung baku hantam antara Green dan Moersjid terdengar sampai Jakarta. Akibat insiden itu, Moersjid dipanggil pulang dan dibebastugaskan dari posnya di Manila.


“Hanya saya dan Green yang terlibat, kok Jakarta langsung mencopot saya? Jelas, Green lebih dipercaya dan lebih kuasa, ini kan tai kucing namanya,” kata Moersjid seperti termuat dalam obituari Kompas, 25 Agustus 2008.


Menurut Siddharta Moersjid, putra ke-4 Moersjid, pertanyaan Green itu bernada melecehkan. Green tentunya lebih tahu apa yang terjadi di Indonesia. Sebagai duta besar Amerika terakhir yang bertugas di masa kepresidenan Sukarno, Green menyaksikan peralihan kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto. Termasuk pula berita Sukarno yang harus meninggalkan istana kepresidenan di Jakarta.



Pada hari-hari genting setelah G30S, Green melalui Kedutaan Amerika menyalurkan bantuan perangkat komunikasi kepada Angkatan Darat. Tujuannya untuk melindungi Jenderal Nasution dan Soeharto. Green juga disinyalir punya hubungan khusus dengan jaringan dinas intelijen Amerika (CIA) di Indonesia. Ketika Sukarno lengser, Nasution menjabat ketua MPRS yang menunjuk Soeharto sebagai presiden pengganti Sukarno. Green dalam berbagai pesan telegram juga rutin melaporkan kepada pemerintahnya tentang operasi penumpasan dan pembunuhan massal kaum komunis di Indonesia. Itulah sebabnya pertanyaan basa-basi Green disambut Moersjid dengan emosi.


“Apa yang terjadi tahun 1969, pada saat Bung Karno dalam tanda kutip seperti dilecehkan oleh Marshall Green, itu membuat ayah saya emosional,” tutur Siddharta kepada Historia. “Dia sangat marah. Kemarahannya itu menyebabkan dia dipanggil pulang.”


Kepulangan Moersjid ke Indonesia ternyata berbuntut panjang. Dia harus menandatangani surat penahanan yang disodorkan Kepala Staf Angkatan Darat Letjen Umar Wirahadikusumah. Selama empat tahun, Moersjid mendekam dalam tahanan tanpa proses pengadilan.



Siddharta mengenang ayahnya itu sebagai sosok tentara tulen. Posturnya yang kekar dengan tinggi badan 185 cm. Andai Moersjid lepas kendali saat insiden dengan Green di Manila, hal yang buruk tentu saja bisa terjadi kepada duta besar Amerika itu.    

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (3-End)

A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (3-End)

Tan Tjeng Bok was known as an actor for three eras. He was once the highest-paid artist, but his life ended in sorrow. He was buried in the Petamburan Public Cemetery.
Membuka Tirai Panggung Olimpiade Musim Dingin

Membuka Tirai Panggung Olimpiade Musim Dingin

Singapura menyusul Filipina, Thailand, Malaysia, dan Timor-Leste ikut Olimpiade Musim Dingin. Indonesia kapan?
Sultan Alaudin Sulit Dikalahkan Belanda

Sultan Alaudin Sulit Dikalahkan Belanda

Dengan membuat kerajaannya terbuka sehingga kuat, Sultan Alauddin sulit ditaklukkan Belanda.
Senandung Nada di Lokananta

Senandung Nada di Lokananta

Studio musik pertama dan terbesar di Indonesia yang merekam suara-suara bernilai baik dari segi artistik. Lokananta tetap eksis sebagai saksi perkembangan musik Indonesia.
Demam Telenovela di Indonesia

Demam Telenovela di Indonesia

Bermula dari sandiwara radio di Kuba, revolusi membuka jalan alih wahana radionovela menjadi telenovela. Sinema Amerika Latin ini menyebar ke berbagai negara termasuk membanjiri layar kaca Indonesia.
bottom of page