- 24 Jun 2021
- 3 menit membaca
Diperbarui: 18 Apr
ALAM Pulau Buru memang keras ketika para tahanan politik (tapol) Orde Baru tiba pada akhir 1969. Suhu di siang hari amat tinggi, sedang malamnya dingin begitu menusuk tulang. Tanahnya didominasi savana yang sulit sekali ditanami. Jika hujan, jalanan berlumpur dan air genangan sukar meresap.
Bulan-bulan awal di Buru, kelaparan menjadi hal yang lumrah di dalam kamp. Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Pramoedya berkisah bahwa bertemu seekor kadal adalah berkah. Reptil ini menjadi sumber protein yang menyelamatkan mereka dari kekurangan gizi. Sebab, tanah Buru begitu tandus dan rendah mineral.
“Pengetahuan yang sangat terbatas dan sedikit tentang alam Buru Utara ini memang mengecilkan hati bagi mereka yang terdidik jadi petani dan mempunyai naluri petani,” tulis Pramoedya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















