- 10 Agu 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 18 Apr
PADA Oktober 1973, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro mengunjungi Pulau Buru atas perintah Soeharto. Ia datang bersama tim psikolog yang terdiri dari Fuad Hasan, Saparinah Sadli, dan Susmaliah Suwondo untuk mempelajari psikologi para tahanan. Kunjungan itu disertai pula oleh wartawan-wartawan senior dari berbagai media massa seperti Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Jacob Oetama, dan Nardi D.M.
Soemitro bertemu Pramoedya Ananta Toer dan menyampaikan bahwa Pram diizinkan lagi menulis. Hal itu ternyata disebabkan oleh tekanan dunia internasional, terlebih Pram merupakan sastrawan yang telah dikenal dunia.
“Soemitro mengatakan bahwa mulai saat itu saya boleh menulis kembali. Saya harus mencari sendiri kertasnya, dan saya dapatkan terutama dari gereja Katolik,” ujar Pram dalam Saya Terbakar Amarah Sendirian! hasil perbincangan dengan Andre Vithek dan Rossie Indira.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















