top of page

Sejarah Indonesia

Kawan Setia Rakyat Indonesia

Kawan Setia Rakyat Indonesia

Pada nisannya, Raymond Kennedy, akademisi Amerika Serikat, disebut kawan setia rakyat Indonesia. Ia dan kontributor majalah Time-Life tewas dibunuh di Indonesia.

Oleh :
15 Oktober 2024

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Mobil membawa jenazah Raymond Kennedy dan Robert Doyle ke Taman Pemakaman Umum Pandu, Bandung, April 1950.

KUBURAN tua itu terpuruk di satu sudut Taman Pemakaman Umum Pandu, Bandung. Nisannya yang bercorak abu-abu terlihat kusam dengan baris tulisan bahasa Inggris yang samar berbunyi: “Mengenang Raymond Kennedy 1906-1950, akademisi Amerika, ilmuwan, humanis, kawan setia rakyat Indonesia sekaligus martir untuk kemerdekaan mereka.”


Ironisnya, tak banyak orang Indonesia tahu sosok Raymond Kennedy. Padahal di tempatnya berkiprah, Yale University, dia dikenal sebagai profesor terkemuka yangmenjadi perintis studi Asia Tenggara, terutama terkait dengan Indonesia.


Bermodalkan ketrampilan berbahasa Melayu yang sangat baik, dia menulis banyak hal tentang Indonesia di berbagai jurnal dan penerbitan. Salah satu karyanya yang legendaris adalah buku empat jilid berjudul Peoples and Cultures of Indonesia, diterbitkan tahun 1945. “Dia pun berperan dalam penyusunan data-data tentang Asia Tenggara untuk program Survey Lintas Budaya yang dijalankan Yale University saat itu,” tulis John Embree dalam tulisannya “Raymond Kennedy, 1906-1950”, dimuat The Far Eastern Quarterly, Vol. 10, No. 2 Februari 1951.



Karena keluasan wawasan Kennedy mengenai Asia Tenggara dan Indonesia, menjelang Perang Dunia II, Kantor Urusan Strategis (OSS) –cikal-bakal CIA– merekrut lelaki bersorot mata tajam itu. “Dia ditarik oleh Divisi Operasi Khusus OSS,” tulis Frances Gouda dan Thijs Brocades Zaalberg dalam Indonesia Merdeka Karena Amerika?.


Menurut Frances Gouda dan Thijs Brocades Zaalberg, ketertarikan OSS terhadap Kennedy bermula dari salah satu karyanya yakni The Ageless Indies. Dalam buku ini, secara lugas Kennedy mengupas habis berbagai praktik kolonialisme yang dilakukan Belanda di tanah Hindia. Namun entah kenapa, usai Perang Dunia II berakhir, Kennedy mundur dari dunia intelijen dan memilih melanjutkan kembali karier akademisnya di Yale University.


Dalam kasus konflik Indonesia-Belanda, Kennedy cenderung mendukung perjuangan orang-orang Indonesia. Menurut sejarawan AS Robert Shaffer, sikap itu diperlihatkan Kennedy saat dia mengkritik kebijakan politik AS yang dinilainya terlalu lunak kepada negara-negara Eropa yang kolonialis (laiknya Belanda). “Dia mengingatkan kebijakan seperti itu di masa depan bisa merugikan posisi AS secara ekonomi dan politik,” tulis Shaffer.


Di tengah kegundahan akan sikap politik AS tersebut, pada 1949 Kennedy memulai perjalanan penelitian 15 bulannya ke seluruh Asia Tenggara. Dia memfokuskan risetnya untuk mempelajari interaksi antara budaya Barat dan lokal. Setahun kemudian dia sampai di Bandung dan berniat pergi lewat jalan darat menuju Yogyakarta. Dalam perjalanan itu, ikut bersamanya Robert “Bob” Doyle, kontributor majalah Time-Life berusia 31 tahun. Bob, panggilan akrab Doyle, tengah menulis tentang kondisi para petani Jawa pascaperang.



Bob sosok menarik. Dia dikenal sebagai lelaki lembut dan murah senyum. Sebelum menjadi jurnalis, dia adalah seorang anggota militer berpangkat letnan.


“Lelaki kelahiran Chicago itu pernah berdinas sebagai perwira senior intelijen di Angkatan Laut AS pada era perang,” tulis The New York Times, 29 April 1950.


Doyle menjadi kontributor Time-Life sejak 1947. Dia pernah menulis sejumlah laporan mengenai Tiongkok, dari soal Jenderal Mao Tse-tung hingga Nasionalis Tiongkok. Di Indonesia, dia membuat esai foto mengenai RIS yang dimuat majalah Life.


Dalam editorialnya, majalah Life edisi 8 Mei 1950 menyebut Doyle tewas dalam tugas mengejar berita. “Kami mengatakan bahwa Robert Doyle tengah mengejar berita. Lebih dari itu: dia mengejar pemahaman, dan lebih baik daripada kebanyakan dari kita dalam usaha ini dia menemukan dan menyampaikan kepada pembacanya.”


Sama-sama pernah berkiprah di dunia intelijen, pada akhirnya Bob dan Kennedy harus bernasib sama: terbunuh di Pulau Jawa.*


Majalah Historia No. 34 Tahun III 2016

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
Neraka di Ghetto Cideng

Neraka di Ghetto Cideng

Jepang menyatakan Kamp Cideng sebagai ghetto “terlindungi”. Kenyataannya, hidup para interniran seperti di neraka.
S.K. Trimurti Menyalakan Api Kartini

S.K. Trimurti Menyalakan Api Kartini

S.K. Trimurti ikut membangun Gerwani, organisasi perempuan paling progresif. Namun, Trimurti mengundurkan diri ketika Gerwani mulai oleng ke kiri dan dia memilih suami daripada organisasi.
Pesta Panen dengan Ulos Sadum dan Tumtuman

Pesta Panen dengan Ulos Sadum dan Tumtuman

Kedua jenis ulos ini biasa digunakan dalam pesta sukacita orang Batak. Sadum untuk perempuan dan Tumtuman bagi laki-laki.
Hind Rajab dan Keheningan yang Memekakkan Telinga

Hind Rajab dan Keheningan yang Memekakkan Telinga

Film “The Voice of Hind Rajab” jadi antidot amnesia kisah bocah Gaza yang dibantai Israel dengan 335 peluru. PBB menyertakan tragedinya sebagai bagian dari genosida.
S.K. Trimurti Murid Politik Bung Karno

S.K. Trimurti Murid Politik Bung Karno

Sebagai murid, S.K. Trimurti tak selalu sejalan dengan guru politiknya. Dia menentang Sukarno kawin lagi dan menolak tawaran menteri. Namun, Sukarno tetap memujinya dan memberinya penghargaan.
bottom of page