- 2 Feb 2024
- 5 menit membaca
Diperbarui: 18 Mei
ADA pemandangan tidak biasa di Pelabuhan III, Tanjung Priok, Jakarta pada siang tanggal 18 Juli 1959. Ratusan orang hadir demi menunggu seorang yang kembali menjejakkan kaki di Indonesia. Sosok itu ditunggu karena mencuri perhatian setelah wajah dan kisahnya muncul dalam pemberitaan luar negeri.
Nama orang yang ditunggu-tunggu itu adalah Petrus Jericho Lumakeki. Usianya 30 tahun dan kelihatan mencolok dengan tampang berengosan. Ia semakin menarik perhatian karena jaket yang dipakainya dihiasi aksara Tionghoa yang artinya “Kelana Dunia Indonesia”. Lumakeki turun dari kapal Tjiluwah sambil mendorong sepeda yang mengangkut gitarnya. Dua benda inilah yang setia menemaninya berkeliling dunia.
Pada 1950-an, para pengeliling dunia dari Indonesia mendapat sorotan. Sebelum Lumakeki, ada Saleh Kamah yang juga menggunakan sepeda dan Rudolf Lawalata yang berjalan kaki. Mimpinya sama, keliling dunia. Keduanya mendapat restu dari Presiden Sukarno pada awal tahun 1955, tetapi misi mereka gagal karena “tersangkut” di tengah jalan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















