top of page

Keluarga Sam Ratulangi Makan Daun Pepaya Tiap Hari

Sudah terhukum sebagai tahanan politik, diperlakukan pula laiknya kambing. Sam Ratulangi dan keluarga pun melayangkan protes.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 16 Des 2019
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 30 Jun 2025

SAMUEL RATULANGI, tokoh Minahasa yang menjadi gubernur Sulawesi pertama adalah momok bagi pemerintah Belanda. Ratulangi tidak bersedia bekerja sama dengan pihak Belanda yang ingin menguasai wilayah Sulawesi. Selain itu, Ratulangi menghimpun dan melindungi semua kekuatan pro Republik yang tergabung dalam Pusat Keselamatan Rakyat. Akibatnya, pemerintah Belanda mencari cara membungkam Ratulangi.


Pada 5 April 1946, Sam Ratulangi bersama enam orang stafnya ditangkap oleh pasukan NICA. Mereka dijebloskan ke penjara Hoogepad, Makassar. Dua bulan kemudian, Ratulangi dan kawan-kawan dibawa ke tempat pengasingan yang mula-mula keberadaannya dirahasiakan.

Pada 18 Juni 1946, rombongan Ratulangi ternyata diberangkatkan ke Pulau Serui, Yapen, Papua. Disebutkan dalam buku Atlas Sejarah Indonesia: Gubernur Pertama di Indonesia, pihak Belanda di Serui memaklumatkan larangan kepada penduduk Serui untuk berbaur dengan para tahanan politik dari Makassar. Kehidupan di Serui kian dipersulit dengan perlakuan penguasa setempat yang intimidatif.


Menurut Maria Tambayong, istri Sam Ratulangi, setiap hari seorang polisi kolonial dengan menyandang bedil di punggung datang mengontrol para tahanan politik. Soal makanan pun jadi masalah. Di Serui, pasar hanya dibuka dua kali dalam sepekan. Seorang mandor ditugaskan untuk berbelanja bagi keluarga Ratulangi. Untuk tiga hari, keluarga Ratulangi yang terdiri dari lima orang menerima sepotong ikan kecil dan sebuntel besar daun kates (daun pepaya) yang sangat pahit.


“Ini adalah makanan kami untuk tiga hari. Semua ini sangat menjengkelkan saya,” tutur Maria Tambayong dalam manuskrip Mengenang 50 Tahun Wafatnya Dr. G.S.S.J. Ratulangie.

Sekali waktu, Maria meminta izin suaminya menghadap kepala pemerintah daerah (HPB) Serui. Sam Ratulangi awalnya menolak karena khawatir HPB akan berlaku tidak senonoh terhadap Maria. Ratulangi mengizinkan setelah istrinya didampingi dua rekan Ratulangi yang berbadan besar dan kekar.


Dihadapan HPB, Maria mengatakan bahwa oditur militer Belanda di Makassar telah menjanjikan perlakuan yang baik kepada keluarga tahanan politik. Janji itu menyatakan para tahanan politik beserta keluarganya akan diperlakukan sesuai dengan status sosial dan kedudukan mereka sebagai pejabat Republik. Dengan dasar tersebut, Maria melayangkan protes.


“Apakah tuan mengira kami kambing yang mau makan daun kates sebanyak itu,” katanya.


Mendengar itu, HPB berpikir sejenak. Barangkali karena tersadar, dia mengatakan setiap keluarga tahananan politik akan diberikan jatah 50 gulden sebulan yang bebas dibelanjakan. Selain itu, para keluarga tahanan akan menerima ransum seperti seorang pegawai.


Ternyata uang yang diterima dari HPB lebih dari cukup. Setiap bulan keluarga Ratulangi dapat menjamu penduduk sekitar dan keluarga tahanan lainnya. Sukacita semakin bertambah karena polisi kolonial yang berasal dari Sulawesi Utara – seperti halnya Ratulangi – bersikap bersahabat dengan keluarga Ratulangi. Kadang-kadang pada malam hari, mereka muncul di belakang dapur dengan memegang baki yang ditutup serbet putih berisi penganan, kue-kue atau buah-buahan.


“Pertolongan orang-orang ini sangat kami hargai,” kenang Maria.


Selama dua tahun dua bulan lamanya keluarga Ratulangi berada di Serui. Di sela-sela masa pengasingan itu, Sam Ratulangi tetap giat berjuang dengan mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) bersama Silas Papare. Pada 23 April 1948, Sam Ratulangi dibebaskan.


Pemerintah Belanda membawa Ratulangi ke Yogyakarta untuk bergabung dengan pemerintahan Presiden Sukarno. Tugas baru menanti Ratulangi sebagai penasihat pemerintah pusat dan anggota delegasi dalam perundingan dengan pemerintah Belanda.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
transparant.png
bottom of page