top of page

Kemajemukan Banda

Kepulauan kaya rempah itu ibarat Indonesia kecil dalam soal keanekaragaman

loading_historia_white.gif
transparant.png

Seminar tentang Banda di Erasmus Huis foto: Randy Wirayudha/Historia

31 Jul 2017
2 menit membaca

Diperbarui: 1 Agu 2025

Sejak lama, Banda menjadi salah satu sentra penghasil rempah-rempah ternama dunia. Karena itu, tidak aneh jika kawasan kepulauan di timur Indonesia tersebut sudah menjadi rebutan sejumlah negara-negara kolonial seperti Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda.


Menurut sejarawan Wim Manuhuttu, dari temuan-temuan arkeologis, Banda diketahui sudah menjadi bagian besar dari jaringan perdagangan di kawasan Samudera Hindia. “Selain pedagang-pedagang Nusantara, banyak pedagang dari Cina, Arab, Persia datang dan menetap di sana,” ungkap Wim dalam acara seminar "Banda: Heritage of Indonesia" di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (31/7/2017).


Bahkan kata Wim, situasi masyarakat Banda sudah begitu teratur. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya desa-desayang tertata baik lengkap dengan perangkat-perangkatnya. “Dari temuan lukisan-lukisan lama, menunjukkan sudah ada permainan bola di sana. Tapi kami tidak tahu apakah ball game seperti sepakbola itu sudah ada aturannya atau tidak, karena dimainkan dengan dua bola,” ungkapnya.


Namun sejak terjadinya pembantaian oleh VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur milik Belanda) pada 1621, populasi masyarakat asli Banda kian berkurang. Hanya tinggal berkisar 13-15 ribu penduduk atau 15 persen saja dari keseluruhan penduduk Banda.


Semula banyak orang Banda yang dibawa pedagang-pedagang Belanda ke Batavia. Tapi akibatnya Belanda yang tidak mengerti soal Pala, tak bisa mengelola jenis rempah populer tersebut. “Akhirnya beberapa orang Banda dibawa kembali…” kata Wim.


Seiring waktu, percampuran antara pendatang yang menetap dari berbagai suku bangsa membuat identitas asli Banda perlahan menghilang. Dr Usman Thalib, dosen Universitas Pattimura juga mengakui, bahwa sampai sekarang orang-orang Banda asli terbilang langka.


“Orang-orang di Banda biasanya adalah percampuran keturunan lebih dari dua bangsa. Ini yang menjadikan Banda sangat pluralis dan diakui juga oleh Mohammad Hatta, salah satu tokoh bangsa yang pernah dibuang di Banda,” ujar Usman.


Maka wajarlah, kata Usman, jika Hatta pernah mengatakan: kalau mau melihat keanekaragaman Indonesia, lihatlah masyarakat Banda. Di sana, darah orang Cina, Arab, Bugis, Melayu, Jawa dan Eropa bersatu padu.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah was accused of being pro-American for allowing a Hollywood movie to be screened.
bg-gray.jpg
Djalimin was sentenced to 15 years in prison for killing a Dutch man who was about to rape her. A question posed by a member of the Indonesian House of Representatives to the government led to her release.
bg-gray.jpg
Bersama Henk Sneevliet, Adolf Baars mempelopori komunisme di Indonesia. Takdir keduanya setali tiga uang, berakhir tragis di tangan Nazi.
Kekaguman Salman Aristo Terhadap Hatta
Kekaguman Salman Aristo Terhadap Hatta
Adolf Hitler kagum pada permainan kabaddi. Mengapresiasi dengan sertifikat dan medali.
Adolf Hitler kagum pada permainan kabaddi. Mengapresiasi dengan sertifikat dan medali.
Setiap orang pernah mengalaminya: kekosongan yang meruntuhkan diri walau airmata berkabung telah kering terusap.
Setiap orang pernah mengalaminya: kekosongan yang meruntuhkan diri walau airmata berkabung telah kering terusap.
Nani Wijaya menari sejak SD, tampil di Istana Negara dan mancanegara. Mulai main film ketika duduk di bangku SMP.
Nani Wijaya menari sejak SD, tampil di Istana Negara dan mancanegara. Mulai main film ketika duduk di bangku SMP.
Tak ingin jadi kacang lupa kulitnya, Muthia Datau kembali ke dunia sepakbola yang membesarkan namanya.
Tak ingin jadi kacang lupa kulitnya, Muthia Datau kembali ke dunia sepakbola yang membesarkan namanya.
Kelompok bersenjata yang menentang Kesultanan. Mereka suka menculik aparat.
Kelompok bersenjata yang menentang Kesultanan. Mereka suka menculik aparat.
transparant.png
bottom of page