- 10 Des 2024
- 2 menit membaca
Diperbarui: 3 Jan
KEMUNCULAN kasus Sum Kuning –gadis penjual telur yang diperkosa sekelompok pemuda anak gedongan– yang sensitif bagi banyak pejabat Orde Baru, lalu kasus penyelundupan mobil mewah oleh pengusaha Robby Tjahyadi dkk., dan kematian Rene Conrad membuat kepolisian menjadi sibuk. Instansi yang dikepalai Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso yang dikenal antisuap dan antikorupsi itu pun berupaya berbuat maksimal.
Namun, langkah kepolisian terbentur tembok tinggi penguasa. Kasus-kasus tersebut melibatkan beberapa orang yang dekat dengan Cendana atau pejabat-pejabat penting di sekitar Cendana. Kapolri pun tak bisa berbuat banyak. Bahkan, sebelum kasus-kasus itu tuntas, pada Oktober 1971 Kapolri Hoegeng digantikan oleh pejabat lain dengan dalih “peremajaan”.
Istilah “peremajaan” tentu membuat wartawan terpantik untuk mempertanyakannya. Selain waktu penggantian Hoegeng tidak umum, yakni dilakukan di tengah yang bersangkutan dalam proses menangani kasus-kasus tadi, istilahnya pun tidak beres.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















