top of page

Ketika Mataram Dilanda Kelaparan

Hampir dua tahun lamanya, penduduk Jawa harus menghadapi hari-hari tanpa makanan. Bencana alam dan peperangan menjadi pencetus semua itu terjadi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lukisan penyerangan pasukan Mataram ke Batavia (Wikimedia Commons)

25 Jan 2021
3 menit membaca

Diperbarui: 30 Apr

Gempa yang dahsyat, banyak gunung tinggi meletus sehingga banyak desa di sekelilingnya tertutup tanah dan batu-batu besar dari gunung. Sumber-sumber air dari Gunung Merapi meluap dan airnya mengalir deras, menggenangi tanah-tanah datar selama beberapa hari. Terjadi gerhana matahari, sampai segala-galanya tidak tampak. Turunlah hujan abu, dan berbagai penyakit melanda seluruh Mataram, mengakibatkan kematian manusia dan kebinasaan kerbau serta sapi dalam jumlah yang tidak terhingga…


Begitulah gambaran bencana alam di dalam Serat Kandha, yang terjadi di hampir seluruh Pulau Jawa, terutama wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram, pada pertengahan abad ke-17. Bencana itu sampai meluluhlantakkan tatanan kehidupan rakyat di sana.


Serat Kandha menyebut jika bencana terjadi secara bertubi-tubi. Musim kering yang panjang, hujan deras, gempa, banjir, hingga gunung meletus, berlangsung secara tiba-tiba. Rakyat dibuat kewalahan karena menghadapinya tanpa persiapan. Selama hampir dua tahun lamanya (1674-1676) mereka hidup dalam kekhawatiran. Khawatir jika rentetan kejadian itu menjadi pertanda kehancuran bagi rakyat Mataram.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
transparant.png
bottom of page