- 20 Mei 2021
- 3 menit membaca
Diperbarui: 16 Apr
DE OOST (The East) kini tengah diperbincangkan khalayak di Belanda dan Indonesia. Drama perang besutan sutradara Jim Taihuttu itu dianggap telah kembali menorehkan luka lama tentang kejahatan perang militer Belanda selama era Perang Kemerdekaan Indonesia (1946-1949).
Aksi boikot terhadap film itu bahkan telah diserukan oleh para veteran Belanda dan keluarganya. Salah satunya adalah Palmyra Westerling, putra dari tokoh antagonis dalam De Oost (Kapten R.P.P. Westerling) yang secara resmi telah membuat sepucuk surat terbuka di media sosial. “[Mengimbau kepada] seluruh pembaca surat saya dan saudara sebangsa untuk tidak mendukung fim fantasi ini,” ungkap Palmyra.
De Oost sendiri berkisah tentang pengalaman seorang serdadu bernama Johan de Vries selama bertugas di wilayah timur (Indonesia). Sebelum bergabung dengan Korps Pasukan Khusus (KST) pimpinan Westerling, sang prajurit muda itu dikisahkan merupakan anggota dari kesatuan militer Belanda yang memiliki tanda pengenal “sepatu yang menganga”. Apakah simbol tersebut hanya fiksi belaka?
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















