- 10 Jun 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 26 Mar
SELAMA dekade awal abad ke-20, seiring meningkatnya asimilasi Yahudi di Jerman, proporsi orang Yahudi yang menikah dengan non-Yahudi mencapai hampir 50 persen saat Nazi berkuasa. Jumlah ini membuat rezim yang dipimpin Adolf Hitler melakukan tekanan dengan propaganda, pengucilan sosial, hingga memiskinkan orang-orang Jerman yang menikah dengan orang Yahudi.
Menurut Nathan Stoltzfus dalam Hitler’s Compromises: Coercion and Consensus in Nazi Germany, orang Yahudi yang menikah dengan pria maupun wanita berdarah Jerman dipandang lebih berbahaya karena memberikan ancaman yang lebih besar bagi tujuan Nazi dibandingkan dengan orang-orang Yahudi lainnya. Bahkan, bagi sejumlah pemimpin Nazi, orang-orang Jerman yang terlibat dalam pernikahan campur dengan orang Yahudi juga sama berbahayanya hingga dipandang sebagai musuh negara.
“Goebbels berpikir bahwa perkawinan campur dapat menghancurkan karakter nasional, seperti yang ditulisnya pada Maret 1942, tak lama sebelum meminta persetujuan Hitler untuk mendeportasi semua orang Yahudi di Berlin,” tulis Stoltzfus. “Sementara itu, Himmler mengeluh bahwa melalui perkawinan campurlah orang-orang mengembangkan perasaan terhadap orang Yahudi.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















