top of page

Kisah Desersi di Front Karawang-Bekasi

Pada masa perang kemerdekaan, puluhan serdadu Inggris asal India membelot ke Indonesia di Karawang-Bekasi. Beberapa di antaranya tertangkap dalam peristiwa pembantaian Rawagede.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tentara India dari pasukan Inggris (Sekutu) di Karawang. (Imperial War Museums).

26 Feb 2016
3 menit membaca

Diperbarui: 21 Mei

SELAMA melakukan penelitian sejarah tentang era perang kemerdekaan di Indonesia, Dr. Stef Scagliola  hampir selalu mempertanyakan soal ada tidaknya para pembelot British India Army (BIA) dalam Insiden Rawagede 1947. Menurut Stef, soal ini penting karena menurut kesaksian seorang serdadu  yang terlibat dalam operasi militer di Rawagede, pasukannya pernah menahan sejumlah orang India dari kesatuan Inggris yang membelot ke kubu republik.


“Narasumber saya itu bersaksi bahwa salah satu prajurit India dari kesatuan Inggris tersebut meminta tentara Belanda untuk memperlakukannya sebagai tawanan perang,” ujar peniliti sejarah dari Erasmus University Rotterdam tersebut.


Kehadiran orang-orang India mantan tentara Inggris di Rawagede terkonfirmasi oleh beberapa pejuang yang pernah malang melintang di kawasan Rawagede, yakni Telan (90) dan Kastal (93). Menurut dua mantan anggota  MPHS (Markas Poesat Hizboellah Sabilillah) itu, ada sekitar lima atau enam orang India Muslim mantan tentara Inggris yang bergabung dengan kubu republik di Rawagede.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
transparant.png
bottom of page