top of page

Kolberg, Film Perang di Tengah Perang

Untuk mendongkrak moril rakyatnya di Perang Dunia II, Nazi-Jerman menggunakan sejarah untuk propaganda. Lahirlah film Kolberg.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Cuplikan film Kolberg. (Youtube @Gneisenau).

21 Jul 2020
6 menit membaca

Diperbarui: 30 Jan

MENGIRINGI derap kaki ribuan serdadu diikuti barisan milisi yang berparade di jalan-jalan, nyanyian itu membakar semangat rakyat di Kota Breslau, Prusia (kini Wrocław, Polandia) pada pagi 17 Maret 1813. Spirit ini yang tengah dimanfaatkan Jenderal August Neidhart von Gneisenau (diperankan Horst Caspar) saat menghadap Raja Prusia Friedrich Wilhelm III (Claus Clausen).


Und es zittern schon die Lose. (Dan dadu pun dikocok)

Und der Würfel fällt. (Dan dadunya jatuh)

Wer legt noch die Hände feig’in den Schoß? (Siapa yang berpangku tangan sebagai pengecut?)

Das Volk steht auf, Der Sturm bricht los!” (Bangkitlah rakyat, badai akan berlalu).


Begitu bunyi potongan nyanyian bertajuk “Das Volk Steht” (Kebangkitan Rakyat) yang menggema sampai ke ruangan istana tempat Raja Friedrich Wilhlem III. Sang raja tengah bimbang untuk menentukan arah dukungan dalam jalannya peperangan lantaran Grande Armée-nya Kaisar Napoléon Bonaparte babak belur di Rusia setahun sebelumnya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page