top of page

Kolonel Latief Waktu Perang Dunia II

Abdul Latief pernah jadi milisi KNIL melawan Jepang. Dia juga pernah ditahan bersama pendiri TNI.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 9 Sep 2023
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 7 Apr 2025

SETELAH Negeri Belanda diduduki tentara Jerman pada Mei 1940, tentara Kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) merekrut lebih banyak tentara daripada tahun-tahun sebelumnya. Tak hanya pemuda desa di Jawa yang miskin, anak-anak sekolah pun direkrut pula.


Anak laki-laki dari Mas Sjamsuri Hardjokusumo yang seharusnya belajar di sekolah menengah pun kena wajib militer. Padahal ketika direkrut di tahun 1941, umurnya belum genap 16 tahun.


“Tahun 1941-1942 pada saat Perang Dunia II pemerintah Belanda mengadakan wajib milisi, para pegawai negeri atau pelajar dimasukan wajib militer untuk menghadapi serangan tentara Jepang. Pada waktu itu saya sebagai pelajar juga terkena wajib militer itu,” kenang Abdul Latief Mas Sjamsuri Hardjokusumo dalam riwayat hidup yang dibuatnya pada 1993 di Penjara Cipinang. “Kemudian dilatih di Magetan, Madiun dan kalau tidak salah komandan pendidikan adalah Kapten Soemarno, sedangkan komandan peleton saya Sersan Mayor Moorman.”


Kapten Soemarno, menurut catatan Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950, merupakan Raden Soemarno yang kelahiran 15 Mei 1893. Dia kakak kelas Raden Oerip Soemohardjo di kursus calon perwira pribumi di Sekolah Militer KNIL di Jatinegara. Sama seperti Oerip, Soemarno sempat pensiun namun waktu Perang Dunia II dipanggil kembali untuk berdinas di KNIL.


Selama 6 bulan, Latief dilatih di bawah komando Kapten Soemarno. “Setelah selesai latihan dan karena keadaan perang lebih gawat, maka asrama pendidikan (yang) berada 2 KM di luar kota itu dipindahkan di batas pinggir kota Magetan; di sebuah pasar sekaligus membuat lubang-lubang pertahanan. Tidak lama kemudian semua pasukan dipindahkan ke Soreang, Ciwidey Bandung, Jawa Barat, untuk membuat pertahanan di sana, yang ditempatkan di sebuah sekolah,” ingat Abdul Latief, yang ditempatkan di bawah komando Kapten Bosh, seorang Indo, selama di Ciwidey.


Pada 1942, KNIL semakin tak berdaya menghadapi tentara Jepang yang bergerak sangat cepat. Padahal, KNIL punya personel lebih banyak.


“Belanda terutama militernya tidak mempunyai konsepsi tentang dimensi-dimensi perang modern, melawan musuh dengan industri dan angkatan perang modern. Pimpinan tidak untuk berperang dalam rangka persekutuan mereka hanya siap untuk satu peperangan kolonial,” catat Onghokham dalam Runtuhnya Hindia Belanda.


Namun, kondisi riil itu tak pernah diberitahukan kepada para wajib militer KNIL. Semua ditutupi dengan rapat.


“Kita tidak pernah diberitahu tentang keadaan perang itu sampai di mana. Kita pernah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pesawat terbang Belanda dikejar-kejar oleh pesawat pemburu Jepang dan pasukan kita tidak melihat dengan asyiknya tanpa mengerti apa yang telah terjadi,” aku Abdul Latief.


Kejadian yang terasa aneh kemudian dialami Latief. Tentu dialami pula oleh para wamil selain dirinya.


“Beberapa hari kemudian tahu-tahu kita mendengar bahwa tentara Belanda telah menyerah. Bersamaan dengan itu terjadi pemberontakan dan Belanda menyatakan itu adalah perampokan ke toko-toko Cina di Soreang. Entah bagaimana senjata kita yang sudah dilucuti itu tiba-tiba diambil kembali dan kita disuruh mengadakan patroli pengamanan. Itu terjadi atas perintah siapa saya tidak tahu,” sambung Latief yang kemudian menjadi tawanan perang.


Ketika ditawan ini, Latief bertemu perwira pribumi yang juga ditawan, yakni Oerip Soemohardjo. Ketika kebanyakan KNIL Jawa atau pribumi lain kemudian dibebaskan, Oerip dan Latief termasuk di dalamnya. Namun sebelum dibebaskan, Latief remaja diberikan tontonan tak mendidik oleh tentara-tentara Jepang yang menjadi guru jenderal Orde Baru ini.


“Kurang dua hari dari kepulangan kami, terjadilah pelarian serdadu KNIL Belanda sebanyak 12 orang dan akhirnya ditangkap. Setelah mereka dihajar habis-habisan pada pagi harinya diarak keliling kamp tawanan kita dengan tambang (tali) kapal dan terus dibawa ke lapangan dan dijajarkan,” aku Latief.


Mereka kemudian dieksekusi mati. Latief sendiri setelah bebas kembali ke Jawa Timur. Bukan ke rumah ayahnya, tapi ke rumah kakeknya yang menjadi kepala sekolah di Mojokerto. Sepanjang zaman pendudukan Jepang, Latief tak sekolah lagi. Dia  hanya bekerja di kehutanan lalu ikut pelatihan pemuda hingga 1945.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
transparant.png
bottom of page