top of page

Komisi Antialkohol Zaman Kolonial

Pemerintah membatasi peredaran minuman keras. Alasannya moral, juga ekonomi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pembuatan arak di pabrik Goan Soen di Djembatan Senti di Batavia, 1904. Foto KITLV.

11 Jul 2013
2 menit membaca

Diperbarui: 22 Des 2025

KECEMASAN akan meluasnya peredaran minuman keras juga dirasakan masyarakat di masa kolonial. Sejumlah organisasi politik angkat suara. Pemerintah Hindia Belanda pun bertindak, kendati melihatnya bukan semata alasan moral tapi juga ekonomi. Departemen Keuangan Hindia Belanda berambisi meningkatkan pungutan cukai impor minuman keras. Tak heran jika minuman keras ilegal atau arak gelap jadi sasaran pembasmian oleh pemerintah.


“Arak gelap dapat berarti arak yang dibuat secara tidak sah menurut ketentuan hukum,” tulis Kasijanto dalam penelitiannya Industri Rumah Tangga di Sekitar Pabrik: Penyulingan Arak di Beberapa Kota di Jawa sekitar 1870-1925, “dapat pula berarti arak selundupan, termasuk dalam hal ini arak yang digelapkan dari sebagian arak legal.”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page